Penderita Gout Arthritis
Seledri (Apium graveolens L) sebagai Antihiperurisemia pada Penderita Gout Arthritis
Eka Lestari1, Evi Kurniawaty2, Riyan Wahyudo3
1Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2Dosen, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
3Dosen, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Gout arthritis merupakan penyakit asam urat yang sering terjadi, ditandai dengan nyeri secara berulang yang sering terjadi pada sendi metatarsophalangeal- 1 (MTP-1)akibat penumpukan kristal monosodium urat (MSU) yang disebabkan oleh tingginya kadar asam urat di dalam darah (hiperurisemia). Beberapa faktor resiko dapat menimbulkan gout arthritis, seperti usia, mengonsumsi purin dan alkohol yang berlebihan, obesitas, kurang aktivitas fisik, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, obat-obatan seperti diuretik dan gangguan fungsi ginjal. Manajemen pengobatan gout arthritis terdiri dari edukasi tentang diet, lifestyle, pengobatan farmakologis dan non farmakologis. Banyak penelitian yang telah mengembangkan pemanfaatan seledri sebagai terapi alternative tradisional. Seledri merupakan tanaman yang mudah didapat, murah and mudah pengaplikasiannya yang memiliki banyak manfaat seperti antipiretik, antihipertensi, antiseptik, obat penenang dan antirematik. Kandungan senyawa-senyawa dari rebusan seledri seperti flavonoid, 3-n butylphthalide (3nB), apigenin, apiin, tannin, dan saponin dipercaya sebagai antihiperurisemia alami dengan menghambat xantin oksidase yang berperan dalam pembentukan asam urat, sebagai diuretik terhadap purin, mencegah inflamasi, menurunkan kejang otot, dan tidak menimbulkan efek samping.
Kata kunci: antihiperurisemia, gout arthritis, rebusan seledri.
Celery (Apium graveolens L) as Antihiperurisemia in Patient with Arthritis Gout
Abstract
Arthritis gout is a common disease of uric acid, characterized with repeated pain of metatarshophalangeal-1 (MTP-1) do to the accumulation of Monosodium uric crystal (MSU) caused by high level of uric acid concentration in blood (hyperurisemia). Some risk factors can cause gout arthritis, such as age, excessive purine and alcohol consumption, obesity, less physical activity, high blood pressure, heart disease, diuretics drugs and impaired renal function.Management of gout arthritis treatment consists of education about diet, lifestyle, pharmacological and non pharmacological treatment. Celery is a plant easy to get, cheap and easy application that has many benefits such as antipiretic, antihypertension, antiseptic, sedative drug and antirheumatic. The contents of stew celery compounds such as flavonoid, 3-n butylphthalide (3nB), apigenin, apiin, tannin, dan saponin is belived as natural anti hyperurisemia that inhibit xantin oxidase involved in uric acid formation, as diuretic of purine, prevent inflammation, reduced muscle spasm and not caused side effect.
Keyword: antihyperurisemia, arthritis gout, stew celery.
Korespondensi: Eka Lestari, alamat Jl. Abdul Muis IX No.45, HP: 082186277868, e-mail: [email protected].
Pendahuluan
Gout arthritis atau penyakit asam urat merupakan penyakit yang sering terjadi dan telah menduduki urutan ketiga setelah artrosis dan rematoid arthritis. 1 Gout arthritis adalah penyakit yang di tandai dengan nyeri secara berulang pada sendi akibat dari tingginya kadar asam urat di dalam darah.2 Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit asam urat menyebabkan penyakit ini menjadi akut ataupun kronis dan kebiasaan sering mengonsumsi makanan tinggi purin seperti hati, ginjal atau jeroan merupakan salah satu penyebab penyakit ini .3
World Health Organization (WHO) menyatakan sekitar 335 juta orang di dunia ini mengalami penyakit gout.1 Berdasarkan riskesdas hasil diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia menyatakan bahwa prevalensi hiperurisemia adalah 11,9% dan berdasarkan gejala adalah sebesar 24,7%.3 Pada saat ini prevalensi gout arthritis terus bertambah seiring dengan meningkatnya taraf hidup dan sudah cenderung memasuki usia produktif yaitu sekitar 34% terjadi pada usia <34 tahun.4 Penatalaksanaan gout arthritis dapat dilakukan dengan menggunakan terapi farmakologis yaitu dengan menggunakan obat- obatan seperti OAINS, kolkisin, dan
Penderita Gout Arthritis
kortikosteroid. Selain itu juga dapat dengan menggunakan terapi non-farmakologis atau dengan obat-obatan tradisional yang dapat menurunkan kadar asam urat di tubuh seperti tanaman seledri. Saat ini banyak penelitian yang telah mengembangkan pemanfaatan seledri sebagai terapi alternative tradisional.
Selain mudah didapat, harga terjangkau, aman, sangat mudah dalam pengaplikasiannya, tanaman seledri juga dapat diigunakan dalam bidang kesehatan yaitu sebagai antihipertensi, antipiretik, antiseptik, obat penenang, rematik, memperbaiki fungsi darah yang terganggu dan sebagainya.Tanaman seledri dapat digunakan sebagai terapi pengganti atau terapi pelengkap dalam menurunkan kadar asam urat pada penderita gout dalam jangka panjang dan tidak menimbukkan efek samping yang berbahaya3
Isi
Gout arthritis merupakan penyakit inflamasi yang di tandai dengan penumpukan kristal monosodium urat (MSU) di dalam sendi akibat dari tingginya asam urat di dalam darah.
Pada gout arthritis terjadi gangguan metabolisme berupa hiperurisemia yang didefinisikan sebagai peningkatan kadar asam urat >7,0 mg/dl pada laki-laki dan >6,0 mg/dl pada perempuan. Pada keadaan normal terjadi keseimbangan antara produksi (10%) dan ekskresi (90%) asam urat didalam tubuh.
Konsentrasi asam urat didalam darah dipengaruhi oleh intake purin, biosintesis asam urat didalam tubuh dan kemampuan ginjal dalam mengekskresikan asam urat. Apabila terjadi kelainan seperti kelebihan pembentukan (overproduction) atau penurunan ekskresi (underexcretion) ataupun keduanya maka kadar asam urat akan meningkat di dalam darah yang disebut sebagai hiperurisemia.2,4,6
Table 1. Penyebab kelebihan produksi (overproduction) dan penurunnan ekskresi (underexcretion) asam urat pada gout arthritis 7
Kelebihan Produksi Penurunan Ekskresi
• Makanan tinggi purin, seperti tiram, kerang,hati, ikan teri
• Alcohol
• Keurangan enzim, seperti fosforibosil-transferase hipoksantin guanin, phosphoribosy (pirofosfat)
• Keganasan
• Obesitas
• Psoriasis
• Peningkatan regenerasi sel
• Penyakit pada ginjal
• Intoksikasi
• Medikamento-sa (obat-obatan), seperti diuretik, siklosporin, aspirin dosis rendah, pirazinamid, niasin, etambutol)
• Asidosis metabolik, seperti ketoasidosis dan asidosis laktat
Asam urat merupakan hasil metabolisme purin yang terdiri dari beberapa komponen yaitu karbon, nitrogen, oksigen dan hydrogen dengan rumus kimia C5H4N4O3. Purin adalah produk katabolisme asam nukleat yang pemecahannya terjadi di semua sel, berbeda
dengan asam urat yaitu hanya di hasilkan pada jaringan yang mengandung xhantine oxidase terutama di hepar dan usus kecil. umumnya asam urat di ekskresikan di ginjal (70%) dan gastrointestinal (30%)8.
Gambar 1. Struktur asam urat9 Sintesis asam urat dimulai ketika sumber
gugus ribose yaitu 5 fosfat yang disintesis dengan ATP (adenosinfosfat) menjadi 5-
phosphoribosyl- 1-pirophosphat (PRPP). PRPP bereaksi dengan glutamin membentuk fosforibosilamin yang dikatalisis oleh PRPP
Penderita Gout Arthritis
glutamil amidotranferase, suatu enzim yang dihambat oleh produk nukleotida inosine monophosphat (IMP), adenine monophosphat (AMP) dan guanine monophosphat (GMP).
Kemudian terbentuklah nukleotida purin pertama yang dibentuk dari gugus glisin yaitu Inosine monophosphat (IMP) yang mengandung basa hypoxanthine. Inosine monophosphat berfungsi sebagai titik cabang dari nukleotida adenin dan guanin. IMP bersama GTP (Guanosine triphosphate) melalui
penambahan sebuah gugus amino aspartat ke karbon enam cincin purin dalam reaksi akan menghasilkan Adenosine monophospat (AMP), sedangkan IMP bersama ATP melalui pemindahan satu gugus amino dari amino glutamin ke karbon dua cincin purin akan menghasilkan Guanosine monophosphat (GMP). Adenosine monophosphate mengalami deaminasi menjadi inosin, kemudian IMP defosforilasi menjadi inosin.
Gambar 2. Metabolisme asam urat9 Di ginjal asam urat akan mengalami
beberapa tahap yaitu dari plasma kapiler asam urat masuk ke glomerulus dan mengalami filtrasi di glomerulus, sekitar 98-100% akan direabsorbsi pada tubulus proksimal, selanjutnya disekresikan kedalam lumen distal tubulus proksimal dan direabsorbsi kembali pada tubulus distal. Asam urat akan diekskresikan kedalam urine sekitar 6% - 12%
dari jumlah filtrasi urat di glomerulus dan di direabsorbsi lagi di tubuli proksimal. rendahnya PH urin di traktus urinarius menjadikan urat diekskresikan dalam bentuk asam urat9.
Gout arthritis dibagi menjadi dua yaitu gout primer dan gout sekunder. gout primer umumnya terjadi pada 90% kasus, penyebabnya belum diketahui dengan jelas,
namun diduga karena terjadi gangguan proses metabolisme di tubuh yang berhubungan dengan obesitas, hipertensi, dislipidemia, dan diabetes mellitus. Gout primer sering terjadi pada laki-laki usia >30tahun. Sedangkan pada gout sekunder terjadi hanya 10% kasus yang dialami oleh wanita menopause akibat gangguan hormon.8 Terdapat beberapa faktor resiko yang dapat menimbulkan gout arthritis yaitu usia, mengonsumsi purin dan alkohol yang berlebihan, obesitas, kurang aktivitas fisik, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, obat-obatan seperti diuretik dan gangguan fungsi ginjal.4 Beberapa makanan tinggi purin yang berkaitan dengan peningkatan asam urat adalah seperti daging, makanan laut ataupun sayuran.10 (Table 2).
Penderita Gout Arthritis
Tabel 2. Makanan tinggi purin
Jenis Contoh
Daging Daging sapi, babi dan domba Organ dalam Limpa, hati, paru, jantung
Ikan Tuna, sarden, ikan merah, herring, halibut Seafood Kerang, udang, lobster
Minuman Bir, anggur
Sayuran Kacang-kacangan, kembang kol, asparagus, bayam lentil Secara klinis, hiperuriasemia memiliki
peran penting karena berperan menimbulkan gout arthtritis, nefropati, topi, dan nefrolithiasis. Apabila terbentuk kristal-kristal monosodium urat (MSU) monohidrat pada sendi dan jaringan sekitarnya maka dapat menimbulkan masalah. Kristal tersebut berbentuk seperti jarum yang menimbulkan reaksi peradangan sehingga dapat menyebabkan rasa nyeri hebat yang sering menyertai gout.4
Monosodium urat (MSU) dengan konsentrasi tinggi pada plasma yaitu >7,0 mg/dl akan membentuk kristal.7 Kristal monosodium urat merupakan pro inflamatori yang dapat memicu, mempertahankan, dan memperparah respon inflamasi. Kristal MSU pada sendi akan mengaktifkan sel endotel synovial yang kemudian diikuti dengan pengaktifan sel mast dan monosit darah.
kemudian sel neutrofil akan memfagositosis MSU. Terdapat 2 fase pathogenesis gout arthritis yaitu fase inisial dan fase amplifikasi.
Pada fase inisial terjadi pada tahap gout akut, kristal MSU di fagositosis oleh makrofag dan fibroblast synovial yang menyekresi sitokin yaitu IL-1B, IL6, dan TNFα sehingga menyebabkan vasodilatasi dan aktivasi sel endotelial vaskuler, peningkatan permeabilitas protein plasma dan akumulasi neutrofil. Pada tahap amplifikasi IL-B berinteraksi dengan komplek IL-1 R-MyD88 menyebabkan aktivasi endothelial vaskuler dan sekresi sitokin kembali sehingga terjadi pengaktifan sel-sel inflamasi lainnya kembali11. Pengenalan fagositosis kristal monosodium urat diperantarai oleh Toll-like receptor (TLR) 2 dan TLR 4, kedua reseptor tersebut beserta TLR protein penyadur MyD88. Selanjutnya proses pengenalan TLR 2 dan 4 akan mengaktifkan faktor transkripsi nuclear factor-kB dan menghasilkan berbagai macam faktor inflamasi. Proses inflamasi merupakan suatu tahap yang penting pada gout arthritis yaitu melibatkan kontribusi neutrofil melalui faktor
kemotaktik yakni sitokin dan kemokin yang berperan pada adhesi endotel dan proses transmigrasi. Sejumlah faktor yang diketahui berperan dalam proses gout artritis adalah IL- 1α, IL-8, CXCL1, dan granulocyte stimulating- colony factor12.
Manifestasi Klinis Gout Arthtritis 4,7,8 a. Asimptomatis (Tanpa Gejala)
Pada tahap ini terjadi penumpukan asam urat di dalam tubuh yang bersifat silent yakni belum menunjukkan gejala klinis yang menyertai. Penderita dapat menurunkan kadar asam urat dengan mengontrol konsumsi makanan yang menjadi faktor resiko meningkatnya kadar asam urat dan dan mengubah gaya hidup.
b. Fase Akut
Pada tahap ini ditandai dengan munculnya gejala secara tiba-tiba yaitu berdenyut- denyut atau nyeri hebat seperti ditusuk jarum yang bersifat monoartikular, eritema, terasa panas, dan bengkak pada satu atau beberapa persendian. Pada 50% serangan pertama terjadi pada metatarsophalangeal- 1 (MTP-1) yang biasa disebut dengan podagra. Seiring dengan bertambahnya waktu serangan mungkin bersifat poliartikular dan menyerang ankles, knee, wrist, dan sendi-sendi pada tangan. Gejala ini biasanya dirasakan pada malam hari dan dapat berkurang dalam beberapa hari namun dapat kambuh kembali dengan interval waktu yang tidak menentu.
Serangan susulan tersebut dapat berlangsung lebih lama dari sebelumnya dan dapat menjadi gout kronis. namun pada beberapa penderita lainnya tidak menunjukkan kekambuhan kembali.
c. Interkritikal
Pada tahap ini terjadi periode interkritik asimptomatik namun pada pemeriksaan aspirasi sendi ditemukan kristal urat. Hal ini menunjukkan bahwa proses peradangan tetap berlanjut, walaupun tanpa keluhan.
Penderita mengalami serangan kembali
Penderita Gout Arthritis
(kambuh) secara berulang-ulang dengan interval waktu yang tidak menentu namun kebanyakan dalam waktu kurang dari 1 tahun jika tidak diobati.
d. Fase Kronik
Pada tahap ini sudah terbentuk tofi atau penumpukan masa asam urat di beberapa jaringan lunak tubuh yaitu jaringan poliartikular seperti Bursa olekranon, tendon achilles, permukaan ekstensor lengan bawah, bursa infrapatelar, dan heliks telinga merupakan tempat yang paling sering terdapat tofus. Penumpukan tersebut terjadi akibat akibat insolubilitas relatif asam urat dan dapat dicetuskan oleh cidera kecil seperti pemakaian sepatu yang tidak sesuai ukuran kaki selain terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi purin, obat- obat, stress dan faktor lainnya.
Gout arthritis didiagnosis berdasarkan beberapa kriteria menurut The American Rheumatism Association (ACR) yaitu sebagai berikut:478
1. ditemukannya kristal urat di cairan sendi dan/atau tofus.
2. adanya tofus yang terbukti mengandung kristal urat berdasarkan pemeriksaan mikroskopis dengan sinar terpolarisasi dan kimiawi.
3. terdapat 6 dari 12 kriteria berikut ini berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratories, dan radiologis:
a. Lebih dari 1 kali mengalami serangan akut arthritis.
b. Terjadi peradangan maksimal pada hari pertama.
c. Terjadi peradangan maksimal selama sehari.
d. Serangan arthritis mono artikular.
e. Sendi yang terkena berwana kemerahan.
f. Sendi metatarsopalangeal pertama (ibu jari kaki) terasa sakit atau membengkak.
g. Serangan unilateral (satu sisi) pada sendi metatarsopalangeal tersasa nyeri dan membengkak.
h. Serangan unilateral pada sendi tarsal (jari kaki) MTP1.
i. Tophus (deposit besar dan tidak teratur dari natrium urat) terletak di kartilago artikular (tulang rawan sendi) dan kapsula sendi.
j. Hiperurisemia (kadar asam urat dalam darah >7,5 mg/dl).
k. Pembengkakan sendi yang terjadi secara asimetris (satu sisi saja)
l. Serangan arthtritis aku berhenti secara menyeluruh.
Terdapat beberapa diagnosis banding gout arthtritis yakni arthritis septik, psoriasis, calcium pyrophosphate deposition disease (CPPD), dan artritis rematik7. Diagnosis pasti gout arthtritis membuktikan adanya kristal asam urat dalam cairan sinovia/bursa atau tophus4.
Secara umum penanganan gout arthritis bertujuan untuk menghilangkan gejala, memepertahankan fungsi sendi, mencegah komplikasi terjadi dengan cara sendi yang terserang harus diistirahatkan dan terapi obat dilaksanakan secepat mungkin untuk meningkatkan respon tubuh yang cepat dan sempurna. Penatalaksanaan utama pada gout artritis meliputi edukasi pasien tentang diet, lifestyle, medikamentosa berdasarkan kondisi obyektif penderita, dan perawatan komorbiditas. Lifestyle yang dianjurkan antara lain menurunkan berat badan, olahraga ringan, menghindari merokok, dan konsumsi air yang cukup mengkonsumsi makanan sehat terutama diet tinggi protein dan rendah karbohidrat harus dihindari4,7 Penanganan gout arthritis dapat dilakukan dengan cara terapi farmakologis atau non farmakologis. Terdapat tiga pilihan terapi farmakologis untuk gout artritis, yaitu OAINS, kolkisin, kortikosteroid yang memiliki efek masing-masing. OAINS (Obat Anti Inflamasi Non Steroid) secara dapat mengontrol nyeri inflamasi dan rasa nyeri pada penderita gout arthritis namun memiliki efek samping seperti iritasi pada sistem gastroinstestinal, ulserasi pada perut dan usus, dan bahkan pendarahan pada usus. Kolkisin berguna untuk penanganan pada gout akut yang dapat menghilangkan nyeri dalam waktu 48jam pertama dengan mencegah fagositosis kristal neutrofil namun memiliki efeksamping seperti diare dan nausea. Kortikosteroid digunakan sebagai pengobatan gout untuk penderita yang tidak biasa menggunakan OAINS namun steroid memiliki efeksamping berupa penipisan tulang, susah menyembuhkan luka dan juga penurunan pertahanan tubuh terhadap infeksi 2,3.
Pemberian terapi farmakologis seperti diatas secara terus dapat menimbulkan
Penderita Gout Arthritis
banyak fek samping, ketergantungan dan mengganggu kerja beberapa organ pada tubuh lanjut usia. Sehingga penanganan gout arthtritis dapat dilakukan secara nonfarmakologis atau pengobatan tradisional dengan memanfaatkan fungsinya sebagai penurun kadar asam urat di dalam tubuh dalam jangka waktu panjang dan tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya, salah satunya adalah daun seledri. Selain karena murah dan mudah didapat seledri juga mudah dalam pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari, seledri sangat mendukung untuk digunakan sebagai pengobatan alternative tradisional dalam menurunkan kadar asam urat di dalam tubuh.3
Beberapa penelitian telah berhasil membuktikan bahwa beberapa tanaman obat alami dapat menurunkan kadar asam urat pada keadaan hiperurisemia seperti rebusan seledri yang memiliki kemampuan dalam menurunkan kadar asam urat di dalam tubuh. Tanaman seledri mengandung flavonoid, saponin, tannin 1%, minyak asiri, apiin, apigenin, graveobioside A, graveobioside B, kolin, asparagines, zat pait, dan vitamin A. Flavonoid dan epigenin merupakan senyawa yang dapat menghambat pembentukan asam urat dan senyawa apiin memiliki sifat diuretik yang menambah volume urin sehingga purin dapat di keluarkan bersama dengan urin. 5 Senyawa flavonoid yang terkandung dalam seledri termasuk turunan golongan flavon dan flavonol.,.
Struktur flavonoid telah dilaporkan memiliki aktivitas sebagai inhibitor xantin oksidase disebabkan karena adanya gugus hidroksil (gugus-OH) pada C-5 dan C-7 dan ikatan rangkap antara C-2 dan C-3. Ikatan rangkap flavonoid memungkinkan untuk terjadinya reaksi adisi (oksidasi oleh xantin oksidase).
Sedangkan ikatan rangkap pada atom C-2 dengan C-3 akan mengakibatkan posisi ring B co-planar terhadap ring A sehingga lebih memudahkan dalam berinteraksi dengan enzim xantin oksidase. Flavonoid mampu menghambat enzim xantin oksidase karena adanya kemiripan struktur antara flavonoid dengan xantin (substrat)6.
Selain itu, penelitian lain menyebutkan bahwa seledri juga mengandung 3-n butylphthalide (3nB) yang dapat menghambat kerja enzim xantin oksidase sebagai katalisis purin menjadi asam urat, sehingga penghambatan enzim tersebut dapat
menurunkan kadar asam urat dengan mengurangi produksinya yang berlebihan.6 Epigenin yang terkandung didalam seledri juga memiliki fungsi biologis didalam tubuh terutama pada gout arthritis yaitu sebagai anti inflamatori yang telah dilaporkan menjadi penghambat angiogenesis yang poten melalui efek penghambatan sitokin inflamasi IL-6/ jalur STAT3. Selain itu juga berfungsi sebagai anti- mutagenic, anti karsinogenik, antiviral, free- radical scavenging properties 13. Epigenin dan apiin juga berfungsi sebagai penurun kadar asam urat. 3
Peneliti lain menyebutkan bahwa didalam seledri terdapat juga alkaloid, tannin dan saponin. Alkaloid mampu menghambat sintesis dan pelepasan leukotrien sehingga menekan dan mengurangi frekuensi serangan akut dan menghilangkan rasa nyeri. Senyawa tannin diketahui mampu mengikat radikal bebas selama perubahan purin menjadi asam urat. Sedangkan senyawa saponin bekerja dengan cara mengurangi aktivitas enzim xantin oksidase dalam serum. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa pemberian seduhan seledri yang mengandung flavonoid , 3-n butilphthalide (3nB), epigenin, apiin, alkaloid, tannin, dan saponin memberikan pengaruh secara signifikan terhadap penurunan kadar asam urat pada penderita gout arthtritis3,5,6,13,14. Selain itu seledri juga berfungsi untuk mengurangi kejang otot, menenangkan saraf dan mengurangi peradangan.15
Ringkasan
Gout Arthtritis merupakan penyakit yang di tandai dengan nyeri secara berulang pada sendi akibat dari tingginya kadar asam urat dalam darah dengan kadar asam urat >7,0 mg/dl pada laki-laki dan >6,0 mg/dl pada perempuan sehingga menimbulkan penumpukan kristal monosodium urat (MSU) di dalam sendi. Pada keadaan normal terjadi keseimbangan produksi dan ekskresi asam urat, apabila terjadi kelainan seperti kelebihan produksi, penurunan ekskresi atau keduanya dapat menyebabkan peningkatan asam urat dalam darah yang disebut dengan hiperurisemia. Asam urat merupakan hasil metabolisme purin yang dihasilkan pada jaringan yang mengandung xantin oxidase terutama pada hepar dan usus kecil yang umumnya diekskresi di ginjal (70%) dan
Penderita Gout Arthritis
gastrointestinal (30%). Gout arthritis dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti usia, mengonsumsi purin dan alkohol yang berlebihan, obesitas, kurang aktivitas fisik, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, obat- obatan seperti diuretik dan gangguan fungsi ginjal. Beberapa makanan dengan tinggi purin seperti limpa, hati, paru, tuna, sarden, kacang- kacangan, kembang kol dan sebagainya.
Manifestasi klinis gout arthtritis terdiri dari beberapa tahap yakni tahap asimptomatis (tanpa gejala), tahap akut yang ditandai dengan munculnya gejala secara tiba-tiba yakni nyeri hebat seperti tertusuk jarum dengan pembengkakan yang berwarna merah bersifat monoartikular terjadi pada malam hari yang hilang timbul, tahap interkritikal yang berifat asimptomatis namun pada pemeriksaan aspirasi sendi ditemukan kristal MSU, dan tahap kronik yang ditandai dengan terbentuknya tofi atau penumpukan asam urat pada beberapa jaringan lunak tubuh.
Penatalaksanaan utama pada gout artritis meliputi edukasi pasien tentang diet, lifestyle, medikamentosa berdasarkan kondisi obyektif penderita, dan perawatan komorbiditas Penatalaksanaan gout arthritis dapat dengan menggunakan terapi farmakologis maupun non-farmakologis. Terapi non-farmakologis yaitu dengan obat-obatan tradisional yang dapat menurunkan kadar asam urat di tubuh seperti tanaman seledri.
Saat ini banyak penelitian yang telah mengembangkan pemanfaatan Seledri sebagai terapi alternative tradisional yang dapat diigunakan dalam bidang kesehatan yaitu sebagai antihipertensi, antipiretik, antiseptik, obat penenang, rematik, memperbaiki fungsi darah yang terganggu dan sebagainya.
Beberapa penelitian telah berhasil membuktikan bahwa rebusan seledri memiliki kemampuan dalam menurunkan kadar asam urat di dalam tubuh. Tanaman seledri mengandung flavonoid, saponin, tannin 1%, minyak asiri, apiin, apigenin, graveobioside A, graveobioside B, kolin, asparagines, zat pait, dan vitamin A. Beberapa kandungan seledri yang memiliki pengaruh dalam penurunan asam urat yakni flavonoid, epigenin, apiin. 3-n butylphthalide (3nB), Alkaloid, tannin dan saponin. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa pemberian seduhan seledri yang mengandung flavonoid , 3-n butilphthalide (3nB), epigenin, apiin, alkaloid, tannin, dan
saponin memberikan pengaruh secara signifikan terhadap penurunan kadar asam urat pada penderita gout arthtritis.
Simpulan
Berdasarkan analisis diatas menurut hasil uji beberapa penelitian dengan melihat pengaruh rebusan seledri terhadap kadar asam urat membuktikan bahwa rebusan daun seledri memiliki efektivitas dan potensi sebagai antihiperurisemia pada penderita gout arthtritis dan dapat dijadikan sebagai terapi alternatif tradisional untuk menurunkan kadar asam. Senyawa-senyawa yang terkandung didalam seledri dapat memberikan manfaat dalam menurunkan gejala dan kadar asam urat dengan kemampuannya dalam menghambat faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya gout arthritis. Terapi dengan menggunakan daun selederi di sertai dengan perubahan gaya hidup dan diet yang sesuai dapat memberikan hasil penyembuhan yang lebih cepat dan lebih baik.
Daftar Pustaka
1. Bobaya P. Hubungan tingkat stres dengan kejadian gout artritis di puskesmas tobelo kecamatan tobelo kabupaten halmahera utara. E-journal Keperawatan.
2016;4(1):7-12.
2. Widya S dan Semarang H.Pengaruh rebusan daun sirsak untuk menurunkan nyeri gout. E-Journal Stikes. 2014;7(5):12- 7.
3. Prasetya I. Pengaruh pemberian air rebusan seledri (Apium graveolens L) terhadap kadar asam urat pada penderita gout di wilayah kerja puskesmas Rasau Jaya [disertasi]. Pontianak: Universitas Tanjungpura; 2015.
4. FM Sholihah. Gout arthritis. J Majority.
2014;3(7):39-45.
5. Wati SA. Pengaruh pemberian air rebusan seledri terhadap kadar asam urat pada penderita arhtritis gout di kelurahan Prawirodirjan Yogyakarta [disertasi].
Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah; 2012.
6. Deviandra R, Safitri F, Handaja D. Kadar asam urat pada tikus putih jantan strain wistar (Rattus norvegicus) hiperurisemia.
E-Journal UMM. 2013;9(2):75-81.
Penderita Gout Arthritis
7. Widyanto FW. Artritis gout dan perkembangannya. E-journal UMM.
2009;10(2):145-52.
8. Dianati NA. Gout and hyperuricemia. J Majority. 2015;4(3):82-9.
9. Nasrul E, Sofitri S. Hiperurisemia pada Pra Diabetes. Jurnal Kesehatan Andalas.
2012;1(2):86-91.
10. Rymal E, Rizzolo D. Gout: a comprehensive review. Journal of The American Academy of Physician Assistants. 2014;27(9):26-31.
11. Saigal R, Agrawal A. Pathogenesis and Clinical Management of Gouty Arthritis.
Journal of The Association of Physician of India. 2015;63(12):56-63.
12. Busso N, So A. Mechanisms of inflammation in gout. Arthritis Research and Therapy. 2010;12(2):1-12.
13. Sukohar A, Ria A. Seledri (Apium graveolens L ) sebagai agen kemopreventif bagi kanker celery (apium graveolens L).
Majority. 2016;5(2):95-100.
14. Rakanita Y, Hastuti L, Mulyani S.
Efektivitas antihiperurisemia ekstrak etanol daun seledri (EEDS) pada tikus induksi kalium oksanat. Journal of Tropical Pharmacy and chemistry. 2017;4(1):1-6.
15. El-rahman HSMA., Elhak NAMA. Xanthine Oxidase Inhibitory Activity and Antigout of Celery Leek Parsley and Molokhia.
Advances in Biochemistry. 2015;3(4):40- 50.