Kerusakan Gambaran Histologi Jaringan Usus Halus Tikus Jantan (Rattus norvegicus) Galur Sprague dawley
Pengaruh Pemberian Minyak Jelantah Terhadap Perbedaan Rerata Kerusakan Gambaran Histologi Jaringan Usus Halus Tikus Jantan (Rattus norvegicus)
Galur Sprague dawley
Arif Sigit Ananto1, Anggraeni Janar Wulan2, Oktafany3
1Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2Bagian Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
3Bagian Pendidikan Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Minyak jelantah adalah minyak goreng yang telah dipanaskan berulang kali. Pemanasan minyak goreng akan menyebabkan pembentukan senyawa radikal bebas. Radikal bebas dapat menyebabkan terjadinya reaksi stres oksidatif pada berbagai sel dalam tubuh. Usus halus merupakan salah satu organ yang mudah mengalami stres oksidatif akibat radikal bebas.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian minyak jelantah terhadap perbedaan rerata kerusakan gambaran histologi jaringan usus halus. Metode penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus putih galur Sprague dawley yang dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok 1 (K) tikus tidak diberikan perlakuan, sedangkan pada kelompok 2 (P1), kelompok 3 (P2), kelompok 4 (P3) dan kelompok 5 (P4) masing-masing diberikan minyak jelantah yang telah digoreng sebanyak 1x, 4x, 8x dan 12x penggorengan dengan dosis 1,5 ml/hari secara oral selama 28 hari. Gambaran kerusakan pada usus halus terdiri dari infiltrasi PMN dan kerusakan epitel. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji statistik Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan uji statistik Mann-Whitney. Berdasarkan uji Kruskal-Wallis diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05), sedangkan dengan uji Mann-Whitney untuk melihat perbedaan antara 2 kelompok percobaan didapatkan nilai p<0,05 (K-P2 0,008; K-P3 0,009; K-P40,009; P1-P2 0,017; P1-P3 0,009; P1-P4 0,009; P2-P3 0,026; P2-P4 0,08; P3-P4 0,009) yang artinya terdapat perbedaan rerata kerusakan yang bermakna antara 2 kelompok percobaan, kecuali antara kelompok K dengan kelompok P1 dengan nilai p=0,197 (p>0,05). Pemberian minyak jelantah mempunyai pengaruh secara bermakna terhadap perbedaan rerata kerusakan gambaran histologi jaringan usus halus.
Kata kunci: Minyak jelantah, radikal bebas, stres oksidatif, usus halus
The Effects of Waste Cooking Oil Administration Toward Average Difference of Damage in Male Rats Intestine Histology (Rattus Norvegicus) Strain
Sprague Dawley
Abstract
Wasted cooking oil is cooking oil that have cooked several times. Cooking oil that have cooked cause formation of free radical. Free radical can cause oxydative stress reaction on cells in body. Intestine is one of the organs that can easily affected by oxydative stress caused by free radical.The aim of this research is to know effect of giving wasted cooking oil toward average difference of damage histology view of intestine tissue. This research use 30 mices Sprague dawley strain that divided in 5 groups. Group 1 (K) without stimulation, but in group 2 (P1), group 3 (P2), group 4 (P3) and group 5 (P4) each group given wasted cooking oil which has been fried as much 1x, 4x, 8x and 12x cooked with dosage 1,5 ml/day orally for 28 days. The view of histopathologic in intestine tissue consist of PMN infiltration and destruction of epithel. The datum has analyzed with Kruskal-Wallis and continued with Mann-Whitney. Kruskal-Wallis test has resulted in p value of 0,000 while Mann-Whitney test to see the difference between two groups out of all experimental group resulted in p <0.05 (K-P2 0,008; K-P3 0,009; K-P40,009; P1-P2 0,017; P1-P3 0,009; P1-P4 0,009; P2-P3 0,026; P2-P4 0,08; P3-P4 0,009) which means that there was average difference of male rats intestine histophatology between two groups except between group K and group P1 with value p = 0,197 (p> 0,05). Giving wasted cooking oil has a significant effect toward average difference of damage histology view of intestine tissue.
Keywords: Free radical, intestine, oxydative stress, wasted cooking oil
Korespondensi: Arif Sigit Ananto, Alamat Wonosri Ngombol 54172 Purworejo Jawa Tengah, HP: 085789629229, e-mail: [email protected]
Pendahuluan
Konsumsi minyak goreng di Indonesia tahun 2011 sampai 2015 pada umumnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2011 konsumsi minyak goreng sebesar 232,03 kkal/kapita/hari, ditahun 2015 meningkat
menjadi 23,46 kkal/kapita/hari menjadi 255,49 kkal/kapita/hari.1 Minyak goreng termasuk salah satu bahan lemak, baik dari lemak nabati maupun dari lemak hewani.
Minyak goreng bermanfaat dalam penghantaran panas, menambah rasa gurih
Kerusakan Gambaran Histologi Jaringan Usus Halus Tikus Jantan (Rattus norvegicus) Galur Sprague dawley
pada makanan, serta mampu menambah nilai gizi dan nutrisi pada makanan.2
Harga minyak goreng setiap tahunnya cenderung mengalami perubahan. Ditahun 2013 Indeks Harga Konsumen (IHK) dari minyak dan lemak sebesar 99,29 Rp/kapita/bulan, tahun 2014 sebesar 107,87 Rp/kapita/bulan dan terakhir di tahun 2015 berubah menjadi 108,78 Rp/kapita/bulan.1 Hal tersebut dapat meningkatkan penggunaan minyak berulang terutama oleh para penjual gorengan untuk mengurangi pengeluaran.
Dengan meningkatnya produksi dan konsumsi minyak goreng, pemakaian minyak berulang kian hari kian meningkat.3
Proses pemanasan minyak goreng sampai berulang dapat menyebabkan rusaknya asam-asam lemak tak jenuh yang terkandung didalam minyak. Kerusakan tersebut dapat ditunjukkan dengan adanya perubahan warna coklat, kenaikan viskositas, peningkatan kandungan asam lemak bebas dan kenaikan indeks peroksida atau radikal bebas. Hal tersebut dapat menimbulkan citarasa yang kurang baik pada makanan.2
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan terdapatnya kenaikan kadar asam lemak bebas terbesar yaitu pada minyak goreng yang telah digunakan sebanyak 4 kali penggorengan, hal tersebut terjadi karena minyak goreng telah mengalami proses pemanasan yang berulang dengan suhu
>100OC serta terjadi reaksi autooksidasi, thermal oksidasi, dan thermal polimerasi sehingga terbentuk hidroperoksida.2 Hidroperoksida adalah senyawa yang tidak stabil dan dengan cepat terurai menjadi radikal bebas atau lipid peroksida.4
Meningkatnya indeks peroksida atau radikal bebas dapat mempengaruhi aktivitas antioksida di dalam minyak. Asam lemak akan berubah bentuk dari cis isomer menjadi trans dan juga akan mengalami degradasi menjadi toksik aldehid.5,6 Lipid peroksida menyebabkan gangguan pada fungsi membran, inaktivasi reseptor atau enzim pada membran dan merusak permeabilitas ion, sehingga dapat menyebabkan ruptur membran. Oleh karena itu, lipid peroksida telah terlibat dalam proses patogenesis pada beberapa jenis penyakit.5,7
Salah satu peranan lipid peroksida dalam proses patogenesis penyakit adalah pada intestinum tenue atau usus halus.5 Usus
halus merupakan tempat akhir berlangsungnya pencernaan, absorpsi nutrien dan sekresi endokrin. Peristiwa pencernaan minyak jelantah pun dilakukan pada bagian tersebut melalui sel-sel epitel pelapisnya.8 Pada penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan sel monolayer yaitu sel yang mirip dengan sel usus halus, yang diinduksi oleh lipid peroksida dapat menyebabkan perubahan pada sel tersebut.9 Selain itu, peningkatan radikal bebas dapat meningkatkan kerusakan jaringan yang terjadi pada usus halus sehingga dapat mengganggu proses penyerapan nutrisi makanan.10
Hasil dari metabolisme lipid peroksida adalah Malondialdehid (MDA) dan 4- Hydroxynonenal (4HNE). Senyawa ini mengubah membran seluler sehingga menarik grup polar menjadi molekul fosfolipid di dalam lipid bilayer, jalur internal lipid ini menyebabkan membran menjadi lebih hidrofobik dan lebih permeabel. 4- Hydroxynonenal juga menunjukkan pengaruhnya dalam merusak fungsi membran selama stress oksidatif berlangsung.10 Kerusakan yang terjadi memberikan gambaran deskuamasi pada vili-vili usus halus sehingga memicu terjadinya penyakit malabsorbsi dan maldigesti pada intestinal.11,12
Oleh karena itu, berdasarkan kajian pustaka yang telah dilakukan maka peneliti akan melakukan percobaan tentang pengaruh minyak jelantah terhadap gambaran histopatologi jaringan usus halus pada tikus (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley.
Metode
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan penelitian post test only control group design. Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari Komite Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
dengan nomer
1171/UN26.18/PP.05.02.00/2018.
Jumlah hewan coba yang digunakan sesuai dengan rumus Federer yaitu berjumlah 5 ekor (n≥4,75) pada tiap kelompok dan jumlah kelompok yang digunakan sebanyak 5 kelompok sehingga pada penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria
Kerusakan Gambaran Histologi Jaringan Usus Halus Tikus Jantan (Rattus norvegicus) Galur Sprague dawley
inklusi sampel dalam penelitian ini yaitu tikus sehat (tidak tampak penampakan rambut rontok, kusam, botak dan bergerak aktif) dan memiliki berat 200-250 gram. Kriteria eksklusi sampel dalam penelitian ini yaitu tikus yang sakit (keluarnya eksudat yang abnormal dari lubang anus, mata dan genital, penampakan rambut kusam, rontok atau botak, aktivitas kurang atau tidak aktif) dan mengalami penurunan berat badan 10% dari masa adaptasi.
Hewan coba dibagi menjadi 5 kelompok secara random, yaitu kelompok 1 (K) tikus tidak diberikan perlakuan, sedangkan pada kelompok 2 (P1), kelompok 3 (P2), kelompok 4 (P3) dan kelompok 5 (P4) masing-masing diberikan minyak jelantah yang telah digoreng sebanyak 1x, 4x, 8x dan 12x penggorengan.
Minyak jelantah yang digunakan oleh peneliti yaitu minyak yang sudah digunakan untuk menggoreng tahu sebanyak 1x, 4x, 8x dan 12x. Dosis yang diberikan kepada hewan coba sebanyak 1,5ml/hewan coba/hari.
Pemberian perlakuan ini diberikan selama 28 hari.14
Tikus dipelihara ke dalam 5 kandang dan diadaptasi selama satu minggu sebelum dilakukan perlakukan. Selama masa adaptasi tikus diberi makan pelet dan minum secara ad
libitum. Berat badan tikus ditimbang sebelum dilakukan percobaan.
Pada akhir penelitian tikus dianastesi dengan menggunakan ketamine-xylazine dengan dosis 75-100 mg/kg + 5-10 mg/kg secara intraperitoneal dengan durasi selama 10-30 menit. Setelah itu akan dilakukan dislokasi servikal untuk menterminasikan tikus.
Pembedahan pada tikus dilakukan untuk mengambil bagian usus halus tikus dan dibuat sediaan mikroskopis. Pembuatan sediaan mikroskopis dengan menggunakan blok parrafin dan pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE).
Pengamatan sediaan dilakukan pada 5 lapang pandang disetiap sampel masing- masing kelompok. Pembacaan preparat ini dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi FK Unila dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400x.
Infiltrasi PMN dan kondisi epitel dinilai menggunakan skoring Ulrike.15 Skoring tersebut didasarkan atas ditemukannya sel PMN pada lapisan mukosa, submukosa dan transmural usus halus. Keadaan epitel yang dinilai berupa erosi epitel, epitel yang mengalami kriptitis dan abses kripta.
Tabel 1. Skoring Kerusakan Usus Halus Skor Infitrasi sel radang PMN Kerusakan Epitel
0 Tidak ada infiltrasi Tidak mengaami perubahan
1 Pada mukosa Terjadi erosi
2 Pada submukosa Terjadi kriptitis 3 Pada transmural Terjadi abses kripta Normalitas data diuji dengan
menggunakan uji Shapiro-Wilk karena jumlah sampel ≤50. Varian data dari uji tersebut didapatkan data yang tidak terdistribusi normal maka dilakukan transformasi data, apabila setelah dilakukan transformasi masih didapatkan varian data yang tidak terdistribusi normal maka digunakan uji non parametrik Kruskal-walls, hipotesis dapat dikatakan diterima ketika nilai p<0,05. Selanjutnya untuk
mengetahui perbedaan antara 2 kelompok maka dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney.
Hasil
Data yang diperoleh dari rerata kerusakan disetiap sampel masing-masing kelompok diuji secara statistik dengan uji normalitas Shapiro-Wilk. Hasil uji normalitas terdapat pada tabel 2.
Kerusakan Gambaran Histologi Jaringan Usus Halus Tikus Jantan (Rattus norvegicus) Galur Sprague dawley Tabel 2. Uji Normalitas
Kelompok Perlakuan Shapiro-Wilk Satistik df Sig.
Kerusakan
K 0,881 5 0,314
P1 0,961 5 0,814
P2 0,658 5 0,003
P3 0,944 5 0,692
P4 0,979 5 0,928
Data dikatakan normal apabila nilai p>0,05. Pada Tabel 2, didapatkan nilai p pada kelompok 1 (K), kelompok 2 (P1), kelompok 4 (P3) dan kelompok 5 (P4) sudah memenuhi syarat data normal. Namun pada data kelompok 3 (P2) nilai p yang didapatkan
sebesar 0,003 sehingga dapat disimpulkan bahwa sebaran semua data tidak terdistribusi normal oeh karena itu perlu dilakukan transformasi data. Hasil transformasi data terdapat pada Tabel 3.
Tabel 3. Uji Saphiro-Wilk Setelah Data Dinormalkan Kelompok Perlakuan Saphiro-Wilk
Satistik Df Sig.
Log_kerusakan
K 1,000 3 1,000 P1 0,913 5 0,500 P2 0,687 5 0,007 P3 0,943 5 0,684 P4 0,967 5 0,855 Hasil uji Shapiro-Wilk setelah data
dinormalkan didapatkan nilai p=1,000 pada kelompok 1 (K), p=0,500 pada kelompok 2 (P1), p=0,684 pada kelompok 4 (P3), p=0,855 pada kelompok 5 (P4) namun nilai p pada kelompok 3 (P2) hanya 0,007 sehingga syarat
data terdistribusi normal tidak terpenuhi. Oleh karena data tidak terdistribusi normal maka untuk uji hipotesis tidak bisa menggunakan uji One-way ANOVA sehingga menggunakan uji alternatifnya yaitu uji Kruskal-Wallis.
Tabel 4. Hasil Uji Kruskal-Wallis Chi-Square df Asymp.Sig Kerusakan 21,653 4 0,000 Hipotesis penelitian ini diterima apabila
nilai p pada hasil uji Kruskal-Wallis <0,05. Pada tabel 4 didapatkan nilai p=0,000 dimananilai tersebut <0,05 sehingga hasil sesuai dengan hipotesis. Kesimpulan dari hasil uji Kruskall- Wallis ini adalah terdapat perbedaan rerata
kerusakan gambaran histologi jaringan usus halus tikus jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley. Untuk mengetahui perbedaan antara 2 kelompok maka dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney.
Tabel 5. Uji Mann-Whitney
Kelompok K P1 P2 P3 P4
K - 0,197 0,008 0,009 0,009 P1 0,197 - 0,017 0,009 0,009 P2 0,008 0,017 - 0,026 0,008 P3 0,009 0,009 0,026 - 0,009 P4 0,009 0,009 0,008 0,009 - Uji Mann-Whitney pada Tabel 5 untuk
melihat perbedaan rerata kerusakan antara 2 kelompok. Perbedaan dikatakan bermakna apabila nilai p<0,05. Berdasarkan tabel 5
gambaran histologi jaringan usus halus antara 2 kelompok percobaan (K-P2 0,008; K-P3 0,009; K-P40,009; P1-P2 0,017; P1-P3 0,009;
P1-P4 0,009; P2-P3 0,026; P2-P4 0,08; P3-P4
Kerusakan Gambaran Histologi Jaringan Usus Halus Tikus Jantan (Rattus norvegicus) Galur Sprague dawley
kelompok 2 (P1) dengan nilai p=0,197 (p>0,05).
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata kerusakan gambaran histologi jaringan usus halus tikus jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley terhadap pemberian minyak goreng dengan pengulangan penggorengan yang berbeda. Kerusakan histologi yang ditemukan berupa adanya infiltrasi sel radang PMN pada bagian epitel, mukosa, submukosa hingga transmural usus halus. Selain itu pada beberapa lapang pandang dari semua sampel juga didapatkan adanya abses kripta.
Kerusakan histologi jaringan usus halus meningkat seiring dengan peningkatan frekuensi pengulangan penggorengan minyak yang diberikan. Pemakaian minyak 1x penggorengan belum memberikan pengaruh terhadap perbedaan rerata kerusakan dari gambaran histologi usus halus karena minyak belum mengalami kerusakan dan belum menghasilkan peroksida.15 Kamisah dkk.
(2012) menjelaskan bahwa, minyak dengan 1x penggorengan masih aman untuk digunakan karena belum mengalami perubahan pada pemeriksaan asam lemak bebas dan nilai peroksida minyak dengan 1x penggorengan hampir sama dengan minyak yang tidak dilakukan penggorengan.16 Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mustika (2015), bahwa pada kelompok tikus dengan pemberian minyak curah tanpa pengulangan penggorengan menunjukkan tidak adanya deskuamasi vili-vili usus halus.11
Pada kelompok yang diberikan minyak yang telah di goreng 4x, 8x dan 12x menunjukkan adanya perbedaan rerata kerusakan dari gambaran histologi usus halus dibandingkan kelompok kontrol. Hal ini disebabkan karena semakin meningkat frekuensi penggorengan maka akan meningkatkan asam lemak bebas, radikal bebas dan nilai peroksida pada minyak jelantah.15,17 Nilai asam lemak bebas pada minyak dengan 4x penggorengan meningkat secara signifikan bila dibandingkan dengan kontrol dan minyak dengan 1x penggorengan.
Hal ini terjadi karena sudah terjadinya proses hidrolisis, oksidasi dan polimerasi yang berulang.18,19 Proses tersebut nantinya akan memberikan efek kerusakan pada sel yang
terpapar dengan minyak.20 Hasil pengamatan ini sesuai dengan Mustika (2015), telah memberikan minyak jelantah pada tikus Sprague dawley dengan penggorengan minyak sebanyak 3x, 6x dan 9x menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna dibandingkan dengan kelompok yang diberikan minyak curah tanpa pengulangan penggorengan dan tampak adanya peningkatan deskuamasi pada vili usus halus.11
Kerusakan usus halus dapat terjadi akibat kandungan hidroperoksida atau radikal bebas pada minyak yang telah digunakan secara berulang.5,6 Menurut Kumar dan Robbins (2007), terdapat tiga reaksi yang paling relevan dengan terjadinya kerusakan usus halus akibat radikal bebas, yaitu reaksi ikatan silang protein, fragmentasi DNA dan peroksidasi lipid membran. Reaksi ikatan silang protein dicetuskan oleh radikal bebas dengan perantara sulfhidril yang menyebabkan peningkatan kecepatan degradasi atau hilangnya aktivitas enzimatik.
Fragmentasi DNA terjadi karena reaksi dari radikal bebas dengan timin yang ada di DNA mitokondria dan nuklear yang mengakibatkan rusaknya untai tunggal. Peroksidasi lipid membran menghasilkan interaksi peroksida dengan radikal lemak yang tidak stabil dan reaktif sehingga terjadi reaksi autokatalitik.21
Infiltrasi sel radang pada usus halus dicetuskan oleh adanya kematian sel akibat peroksidasi membran lipid, denaturasi protein dan saluran ion serta penghancuran rantai DNA.22 Kematian sel tersebut memberikan rangsangan terhadap sistem inflamasi sebagai sinyal adanya kerusakan pada jaringan. Sinyal inflamasi yang sudah dirangsang akan mengaktifkan sistem imun adaptif. Respon inflamasi dicetuskan oleh adanya molekul High Mobility Group Box 1 (HMGB1). Molekul HMGB1 adalah protein nukleus yang ada di semua sel normal dan berkaitan dengan kromatin yang akan mengatur proses transkripsi gen. Molekul ini dapat ditemukan jika sel mengalami nekrosis. Adanya HMGB1 yang keluar dai sel maka akan menginduksi proses inflamasi. Molekul HMGB1 akan menstimulasi Toll Like Receptor (TLR) sehingga akan teraktivasi sel dendritik. Sinyal tersebut akan merangsang sel dendritik untuk mengenali antigen, kemudian antigen dikenali oleh sel dendritik dan dihidrolisis menjadi
Kerusakan Gambaran Histologi Jaringan Usus Halus Tikus Jantan (Rattus norvegicus) Galur Sprague dawley
peptida agar dikenali oleh molekul Major Histocompatibility Complex (MHC). Sel radang akan teraktivasi akibat adanya ikatan antara molekul MHC dan antigen.23
Abses kripta merupakan daerah nekrotik sentral yang berisi sel radang PMN, disertai suatu zona yang dikelilingi pembuluh darah yang mengalami penyempitan dan proliferasi fibroblastik. Abses-abses ini menempati lapisan lamina propia dari usus halus, yang selanjutnya akan bersatu membentuk ulserasi kecil yang akhirnya tampak sebagai daerah gundul yang luas pada usus halus.24 Agen kimia dari hidroperoksida yang berlebihan akan mengganggu permeabilitas membran, homeostasis osmotik dan integritas dari enzim atau kofaktor sehingga mengakibatkan kematian sel yang memicu infiltrasi sel radang dan pembentukan abses. Sel yang mati akan diganti oleh benda mielin yang akan difagositosis oleh sel lain atau mengalami degradasi menjadi asam lemak. Asam lemak ini akan mengikat garam kalsium, mengakibatkan sel mati nantinya akan mengalami proses kalsifikasi distrofik.25 Simpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian minyak jelantah terhadap perbedaan rerata kerusakan gambaran histologi jaringan usus halus tikus jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley.
Daftar Pustaka
1. Sabarella, Wieta BK, Sri W, Megawaty M, Sehusman, Yani S. Buletin Konsumsi Pangan. Pusat Data Dan Sistem Informasi Pertanian. 2016;7(1):13.
2. Ketaren. Minyak dan Lemak Pangan.
Jakarta: Universitas Indonesia Press;
2008.
3. Hambali E, Siti M, Armansyah T, Abdul WP, dan Roy HR. Teknologi Bioenergi.
Jakarta: AgroMedia Pustaka; 2007.
4. Ayu A, Farida R dan Saifudin Z. Pengaruh penggunaan berulang minyak goreng terhadap peningkatan kadar asam lemak bebas dengan metode alkalimetri. Cerata journal Of Pharmacy Science.
2015;6(6):1-7.
5. Leong XF, Ng CY, Jaarin K dan Mustafa MR. Effects of repeated heating of
cooking oils on antioxidant content and endothelial function.Austin Journal of Pharmacology and Therapeutics.
2015;3(2):1-7.
6. Guillen MD, dan Patricia SUPS. Aldehydes contained in edible oils of a very different nature after prolonged heating at frying temperature: presence of toxic oxygenated α,β unsaturated aldehydes.
Food Chem. 2012;131(3).
7. Naito Y, Suematsu M, Yoshikawa T. Free radical and lipid peroxidation. Free Radical Biology in Digestive Diseases.
2011;29(1):1-11.
8. Mescher AL. Histologi Dasar Junqueira:
teks & atlas. Jakarta: EGC; 2011.
9. Yara S, Jean CL, Jean F¸ Ois B, Edgard D, Devendra A, dkk. Iron-Ascorbate- Mediated Lipid Peroxidation Causes Epigenetic Changes in the Antioxidant Defense in Intestinal Epithelial Cells:
Impact on Inflammation. PLoS ONE.
2013;8(5):1-11.
10. KwiecienS, Jasnos K, Magierowski M, Sliwowski Z, Pajdo R, dan Jagiellonian P.
Review article lipid peroxidation, reactive oxygen species and antioxidative factors in the pathogenesis of gastric mucosal lesions and mechanism of protection against oxidative stress - induced gastric injury. J Of Physiology and Pharmacology.
2014;65(5):613-22.
11. Mustika. Pengaruh Pemberian Minyak Jelantah Terhadap Gambaran Histopatologi Usus dan Pankreas Tikus Putih (Rattus Norvegicus). Aceh:
Universitas Syah Kuala; 2015.
12. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Ke-5. Jakarta:
Interna Publisher; 2009.
13. Shastry CS, Patel NA, Joshi H, dan Aswathanarayana BJ. Evaluation of effect of reused edible oils on vital organs of wistar rats. NUJHS. 2011;1(4):10-5.
14. Zhou Z, Yuyang W, Yumei J, Yongjia D, Padraig S, Paul P, dkk. Deep-fried oil consumption in rats impairs glycerolipid metabolism, gut histology and microbiota structure. 2016;15(86):1-11.
15. Ilmi IMB, Khomsan A, Marliyati SA.
Kualitas minyak goreng dan produk gorengan selama penggorengan dirumah
Kerusakan Gambaran Histologi Jaringan Usus Halus Tikus Jantan (Rattus norvegicus) Galur Sprague dawley
tangga Indonesia, Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan. 2015;4(2):61-5.
16. Kamisah Y, Shamil S, Nabillah MJ, Kong SY, Hamizah NAS, Qodriyah HMS, dkk.
Deep-fried Keropok lekors Increase Oxidative Instability in cooking oils.
Malaysia J Medical Science.
2012;19(4):57-62.
17. Ayu DF, Hamzah FH. Evaluasi sifat fisik- kimia minyak goreng yang digunakan oleh pedagang makanan jajanan di Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru. Sagu.
2010;9(1):4-14.
18. Goswani G, Bora R, Rathore MS.
Oxidation of cooking oils due to frying and human health; New Delhi. India.
India: International Conference of Science, Technology and Management;
2015.
19. Kumar S, Negi S. Transformation of waste cooking oil into C-18 fatty acids using a novel lipase produced by penicillium
chrysogenum through solid state fermentation. 3 Biotech. 2014;5:847-51.
20. Choe E, Min DB. Chemistry of deep-fat frying oils. Journal of food science.
2007;69:574-8.
21. Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Buku ajar patologi. Edisi Ke-7. Jakarta: EGC;
2007.
22. Zweier JL, Talukder MAH. The role of oxidants and free radicals in reperfusion injury. Lipid in Health and Disease.
2006;70:181-90.
23. Rock KL, Kono H. The inflammatory response to cell death. National Institute of Health. 2011;3:99-126.
24. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Ke-5. Jakarta:
Interna Publisher; 2009.
25. King TC. Pathology. Philadelphia: Elsvier's Intergrated; 2007.