JURNAL ILMIAH
MANUNTUNG
NO. 1
VOL. 1
HAL. 1-99 SAMARINDA
MEI 2015
ISSN. 2443-115X
JURNAL ILMIAH MANUNTUNG
DITERBITKAN OLEH :
AKADEMI FARMASI SAMARINDA
JURNAL ILMIAH MANUNTUNG
PEMBINA:
Supomo, S.Si., M.Si.,. Apt
(Direktur Akademi Farmasi Samarinda)
PENANGGUNG JAWAB:
Hayatus Sa’adah, S.F., M.Sc., Apt
KETUA EDITOR:
Husnul Warnida, S.Si., M.Si., Apt
EDITOR AHLI:
Prof. Dr. Nurfina Aznam, SU., Apt (UNY)
Prof. Agung Endro Nugroho, M.Si., PhD., Apt (UGM)
Prof. Dr. Jansen Silalahi, M.App,Sc., Apt (USU)
Prof. Enos Tangke Arung, PhD (UNMUL)
Irawan Wijaya Kusuma, PhD (UNMUL)
EDITOR PELAKSANA:
Yullia Sukawaty, S.Far., M.Sc., Apt
Eka Siswanto, S.Farm., M.Sc., Apt
Henny Nurhasnawati, S.Si., M.Si.
Yulistia Budianti S., M.Farm., Apt
Anita Apriliana, S.Farm., M.Farm., Apt
Risa Supriningrum, S.Si., MM.
ADMINISTRASI:
Fitri Handayani, S.Si., M.Si., Apt
DISTRIBUTOR:
Heri Wijaya, S.Farm., M.Si., Apt
Sapri, S.Si
JURNAL ILMIAH MANUNTUNG
Sains Farmasi Dan Kesehatan
DAFTAR ISI
No
Judul
Halaman
1. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN KECOMBRANG (Etlingeraelatior (Jack) R.M.Sm) TERHADAP Salmonella typhi
Eko Kusumawati, Risa Supriningrum , Reza Rozadi ... 1 - 7 2. STUDI FARMAKOVIGILANSPENGOBATAN ASMA PADA PASIEN RAWAT
INAP DI SUATU RUMAH SAKIT DI BOJONEGORO
Amelia Lorensia, Ratna Ayu Amalia ... 8 - 18 3. HUBUNGAN LINGKUNGAN FISIK DAN TINDAKAN PSN DENGAN PENYAKIT
DEMAM BERDARAH DENGUE DI WILAYAH BUFFER KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS II SAMARINDA
Andi Anwar, Adi... 19 - 24 4. PENETAPAN KADAR ASAM LEMAK BEBAS DAN BILANGAN PEROKSIDA
PADA MINYAK GORENG YANG DIGUNAKAN PEDAGANG GORENGAN DI JL. A.W SJAHRANIE SAMARINDA
Henny Nurhasnawati, Risa Supriningrum, Nana Caesariana... 25 - 30 5. FORMULASI GELHAND SANITIZER DARI KITOSAN DENGAN BASIS NATRIUM
KARBOKSIMETIL SELULOSA
Supomo, Yullia Sukawaty, Fedri Baysar ... 31 - 37 6. HUBUNGAN KERJASAMA DAN IMBALAN DENGAN KINERJA PEMEGANG
PROGRAM PENANGGULANGAN PENYAKIT DI KOTA BALIKPAPAN
Ratno Adrianto... 38 - 41 7. EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) MENURUNKAN
KADAR GULA DARAH MENCIT DIABETES
Ambali Azwar Siregar , Urip Harahap , Mardianto ... 42 - 46 8. OPTIMASI FORMULA EKSTRAK JAHE MERAH (Zingiber officinale) DENGAN
METODE KEMPA LANGSUNG MENGGUNAKAN ANALISIS SIMPLEX LATTICE DESIGN
Hayatus Sa`adah... 47 - 51 9. ANALISA COST OF ILLNESS AKIBAT PENGGUNAAN NSAIDS DI SEBUAH
APOTEK DI KOTA MEDAN, INDONESIA
Hari RonaldoTanjung, Azmi Sarriff, Urip Harahap... 52 - 56 10. LAYANAN PESAN SINGKAT PENGINGAT MENINGKATKAN KEPATUHAN
MINUM OBAT PASIEN DIABETES MELITUS DI RSUD ULIN BANJARMASIN
Riza Alfian ... 57 - 61 11. HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM
OBAT PASIEN HIPERTENSI LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI CUKA KABUPATEN TANAH LAUT
Yugo Susanto ... 62 - 67 12. UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMU GIRING (Curcuma
heyneana VAL.) TERHADAP PERTUMBUHAN ESCHERICHIA COLI SECARA IN VITRO
Aditya Maulana Perdana Putra, Rustifah, Muhammad Arsyad ... 68–74 13. IDENTIFIKASI DAN PENETAPAN KADAR RHODAMIN B PADA KUE
BERWARNA MERAH DI PASAR ANTASARI KOTA BANJARMASIN
14. IDENTIFIKASI DAN PENETAPAN KADAR RHODAMIN B DALAM
KERUPUK BERWARNA MERAH YANG BEREDAR DI PASAR ANTASARI KOTA BANJARMASIN
Eka Kumalasari ... 85 - 89 15. KARAKTERISTIK EKSTRAK AIR DAUN PUGUNTANO (Curangafel-terrae(Lour.)
Merr.) YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTELMINTIK
Popi Patilaya, Dadang Irfan Husori ... 90 - 93 16. STABILITAS DAN AKTIVITAS GEL EKSTRAK BULBUS BAWANG TIWAI
(Eleutherineamericana (Mill.) Urb.) SEBAGAI ANTI ACNE
KATA PENGANTAR
Assalam
u’alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh
Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, pada tahun 2015 ini
Akademi Farmasi Samarinda telah memiliki Jurnal Ilmiah Manuntung yang merupakan
edisi pertama dengan ISSN: 2443-115X Vol. 1 No. 1 sebagai wadah penghimpunan karya
ilmiah untuk para peneliti Indonesia. Jurnal Ilmiah Manuntung menerima naskah ilmiah
hasil penelitian dan review hasil-hasil penelitian dalam bidang ilmu
terkait dengan
Kesehatan yaitu, Ilmu Farmasi, Kedokteran, Ilmu Kimia (Kimia Organik Sintetis, Kimia
Organik Bahan Alam, Biokimia, Kimia Analisis, Kimia Fisis), Ilmu Biologi
(Mikrobiologi, Kultur Jaringan, Botani dan hewan yang terkait dengan produk farmasi),
keperawatan, Kebidanan, Analis Kesehatan, Gizi dan Kesehatan Masyarakat.
Semoga Jurnal Ilmiah Manuntung menjadi wadah ilmiah kesehatan yang ke depannya
menjadi media publikasi yang bertaraf nasional.
Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh
Samarinda, Mei 2015
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 1-7, 2015 Eko Kusumawati
Akademi Farmasi Samarinda 1
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN
KECOMBRANG Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm
TERHADAP Salmonella typhi
Submitted : 23 Maret 2015 Edited : 10 Mei 2015 Accepted : 20 Mei 2015
Eko Kusumawati
1, Risa Supriningrum
2, & Reza Rozadi
21
Program Studi Biologi FMIPA Universitas Mulawarman Samarinda 2
Akademi Farmasi Samarinda E-mail : [email protected]
ABSTRACT
Research Test Antibacterial Activity of Ethanol Extracts of Leaves kecombrang against Salmonella typhi aims to determine the antibacterial activity of ethanol extract of leaves kecombrang against Salmonella typhi. The extract used is kecombrang leaf extract prepared by maceration using ethanol 95%, extracts obtained test chemical classes of compounds to determine the content of the active compound. Antibacterial activity test conducted at five concentrations of the extract is 20%, 40%, 60%, 80%, and 100%. Inhibition zone measurement results are then analyzed using One Way ANOVA with SPSS 20 to determine whether there is a difference at each concentration. The results showed kecombrang leaf ethanol extract 20%, 40%, 60%, 80%, and 100% produce inhibition zone diameter 3.9 mm; 6.5 mm; 6.75 mm; 7:45 mm; and 9:28 mm, 0 mm for the negative control and positive control 32.61 mm. The test results show the class of secondary metabolites kecombrang leaf ethanol extract contains tannin, saponin, and flavonoids. Of statistical tests concluded there were significant differences of treatment results in inhibition of the respective concentrations of ethanol extracts of leaves kecombrang
K eywords : kecombrang (Etlingera elatior), identification secondary metabolites, antibacterial
PENDAHULUAN
Kecombrang merupakan salah satu jenis rempah-rempah yang sejak lama dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia sebagai obat-obatan berkaitan dengan khasiatnya, yaitu sebagai penghilang bau badan dan bau mulut1. Bagian yang biasa digunakan dari tanaman ini adalah bunga, daun dan batangnya. Beberapa penelitian menunjukkan bunga dan daun kecombrang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri gram positif maupun gram negatif2. Ningtyas3 melakukan penelitian tentang uji antioksidan dan antibakteri ekstrak air daun kecombrang (Etlingera elatior) sebagai pengawet alami terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Dari hasil penelitiannya ekstrak air daun kecombrang memiliki beberapa senyawa yang di asumsikan memiliki keterkaitan dengan kemampuan antibakteri dari ekstrak tersebut, yaitu golongan fenolik, golongan alkohol, golongan monoterpen dan aromatik. Konsentrasi yang digunakan yaitu, 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Setelah dilakukan penelitian, diketahui bahwa ekstrak air daun kecombrang dapat
menghambat bakteri E. coli pada konsentrasi 100% dan S. aureus pada konsentrasi 20%.
Bahan antibakteri diartikan sebagai bahan yang mengganggu pertumbuhan dan metabolisme bakteri, sehingga bahan tersebut dapat menghambat pertumbuhan atau bahkan membunuh bakteri4. Menurut David Stout, berdasarkan cara kerjanya antibakteri dibedakan menjadi dua yaitu bakteriostatik dan bakteriosida. Antibakteri bakteriostatik bekerja menghambat perbanyakan populasi bakteri dan tidak mematikan, sedangkan bakteriosida bekerja membunuh bakteri. Bakteriostatik dapat bertindak sebagai bakteriosida dalam konsentrasi tinggi. Kadar minimal yang dibutuhkan untuk menghambat bakteri atau membunuhnya, masing-masing dikenal sebagai Kadar Hambat Tumbuh Minimal (KHTM) dan Kadar Bunuh Minimal (KBM).
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 1-7, 2015 Eko Kusumawati
2 Akademi Farmasi Samarinda
Kirby & Bauer). Metode ini digunakan untuk menentukan aktivitas agen mikroba. Piringan yang berisi agen anti mikroba diletakkan di media Agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media Agar tersebut. Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media Agar.
Berdasarkan uraian di atas, dalam rangka pengembangan obat tradisional yang memiliki aktivitas antibakteri, maka peneliti tertarik
melakukan penelitian tentang uji aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun kecombrang (Etlingera elation)dengan menggunakan bakteri uji Salmonella typhi dengan menggunakan etanol 95% sebagai larutan penyari. Etanol dipertimbangkan sebagai penyari karena lebih selektif, kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol 20% ke atas, netral, absorbsinya baik, dan panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit5.
METODE PENELITIAN Objek Penelitian
Objek penelitian adalah daun kecombrang yang akan dibuat dalam bentuk ekstrak dengan konsentrasi 20 %, 40 %, 60 %, 80 % dan 100% selanjutnya diujikan terhadap bakteri Salmonella typhi menggunakan media Mueller Hinton Agar (MHA).
Sampel dan Teknik Sampling
Daun kecombrang diperoleh dari daerah Samarinda Kelurahan Air Putih. Daun kecombrang dipanen langsung dari pohon, yang tumbuh di kelurahan Air Putih Samarinda. Panen dilakukan pada pagi hari. Daun yang digunakan adalah daun tua dan dipetik dari beberapa pohon.
Prosedur Penelitian
Pembuatan ekstrak etanol simplisia daun kecombrang
Daun kecombrang dicuci bersih, ditiriskan, selanjutnya dikeringkan dengan cara di angin-anginkan selama 1 minggu. Setelah itu dirajang dan dibuat serbuk dengan cara diblender kemudian diayak dengan menggunakan ayakan mesh 40. Pembuatan ekstrak etanol serbuk simplisia daun kecombrang dilakukan secara remaserasi dengan cara menimbang simplisia serbukan daun kecombrang sebanyak 200 g. Selanjutnya dimasukkan sampel ke dalam toples kaca, ditambahkan 1 L etanol 95% kemudian diaduk selama 6 jam pertama lalu didiamkan selama 24 jam. Disaring ekstrak yang diperoleh menggunakan kertas saring. Ampas dimaserasi kembali dengan 1 L etanol 95%, kemudian diaduk selama 6 jam pertama, lalu didiamkan kembali selama 24 jam. Ekstrak yang diperoleh disaring dengan kertas saring. Kemudian ekstrak yang didapat dipekatkan dengan cara diuapkan. Ekstrak yang telah dikentalkan dimasukkan ke dalam wadah dan ditimbang.
Uji golongan senyawa kimia
Identifikasi golongan senyawa kimia dilakukan pada ekstrak dengan prosedur sebagai berikut:
1. Uji alkaloid
10 mg ekstrak daun kecombrang dimasukkan ke dalam tabung ditambahkan 1 ml HCl 2 N lalu ditambahkan air suling 9 ml. Dipanaskan selama 2 menit setelah dipanaskan kemudian disaring menggunakan kertas saring sehingga didapat ekstrak daun kecombrang. Diambil 3 tetes dari filtrate yang diperoleh lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi Meyer menghasilkan endapan putih/kuning. Selanjutnya, diambil 3 tetes filtrate yang diperoleh, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi Bouchardat menghasilkan endapan coklat-hitam. Diambil 3 tetes filtrat, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendrof menghasilkan endapan merah bata. Alkaloid dianggap positif jika terjadi endapan atau paling sedikit 2 atau 3 dari percobaan di atas6.
2. Uji tanin
10 mg ekstrak daun kecombrang dimasukkan ke dalam tabung reaksi ditambahkan 1 sampai 2 tetes larutan Fe(Cl)3 1%. Bila terbentuk warna biru tua dan hijau kehitaman, menunjukkan adanya tanin atau sepuluh tetes ekstrak daun kecombrang dimasukkan ke dalam tabung reaksi ditambahkan 1 sampai 2 tetes larutan gelatin. Bila timbul endapan menunjukkan adanya tanin.
3. Uji Flavonoid
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 1-7, 2015 Eko Kusumawati
Akademi Farmasi Samarinda 3
4. Uji Saponin
10 mg ekstrak daun kecombrang dimasukkan kedalam tabung ditambahkan 5 ml air panas dan dikocok selama 15 menit, lalu ditambahkan 1 sampai 2 tetes HCl 2 N. Jika terbentuk busa permanen menunjukkan adanya saponin6.
Uji aktivitas antibakteri
Disiapkan 7 cawan petri yang sudah disterilkan, setelah itu dituang media MHA sebanyak 20 ml ke dalam cawan kemudian didiamkan hingga memadat. Lalu diusapkan suspensi Salmonella typhi menggunakan cotton swap kepermukaan media hingga merata. Setelah itu diambil kertas cakram menggunakan pinset steril, dimasukkan kedalam ekstrak etanol daun kecombrang kosentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% yang sebelumnya telah dilarutkan dengan larutan DMSO 1%, kemudian diletakkan dipermukaan media dan masing-masing
konsentrasi dibuat 3 kali pengulangan pada setiap cawan. Dilakukan hal yang sama pada perlakuan kontrol positif menggunakan larutan kloramfenikol 0,1% dan kontrol negatif menggunakan larutan DMSO 1%. Setelah itu diinkubasi pada suhu 370 C selama 24 jam. Diamati dan diukur zona hambat yang terbentuk.
Analisis Data
Data hasil penelitian yang diperoleh dianalisis dengan uji Statistic menggunakan SPSS IBM 20. Apabila data yang diperoleh berdistribusi normal, maka digunakan One Way ANOVA dan apabila data tidak berdistribusi normal maka menggunakan Kruskal-Wallis signifikansi (α = 5%). Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif, yaitu data berupa zona hambat (mm) dan golongan senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm).
HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstraksi Daun Kecombrang
Sebanyak 200 g serbuk simplisia disari
menggunakan
etanol
95%.
Ekstraksi
dilakukan dengan metode remaserasi, dengan
tujuan untuk mendapatkan zat aktif yang lebih
banyak dari proses ektraksi tersebut. Metode
maserasi atau remaserasi dipilih, karena
metode ini cara pengerjaannya sederhana dan
mudah. Selain itu faktor kerusakan zat aktif
lebih kecil karena pada metode ini tidak
menggunakan panas yang mungkin dapat
merusak zat aktif yang ditarik. Etanol 95%
dipilih karena tidak toksik dan senyawa
flavonoid, saponin dan tanin dapat larut dalam
pelarut yang polar sehingga senyawa aktif
yang dapat memberikan aktivitas antibakteri
dapt ditarik. Etanol tidak bersifat racun, tidak
eksplosif bila bercampur dengan udara, tidak
korosif dan mudah diperoleh
7.
Uji Golongan Senyawa Kimia
Berdasarkan uji golongan senyawa
kimia, diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Uji golongan senyawa kimia
Uji Pereaksi Hasil Pustaka Keterangan
Alkaloid Meyer tidak ada endapan Endapan Putih _
Bouchardat Endapan coklat Endapan Coklat-Hitam
+
Dragendorf tidak ada endapan Endapan Merah Bata _
Tanin FeCl31% Hijau Kehitaman Biru Tua atau Hijau
Kehitaman
Saponin HCl 2N Berbuih Buih tidak hilang +
Dari tabel di atas, dapat diketahui
bahwa ekstrak etanol daun kecombrang yang
diperoleh
peneliti
mengandung
tanin,
flavonoid dan saponin. Berdasarkan literature
untuk uji alkaloid, alkaloida dianggap positif
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 1-7, 2015 Eko Kusumawati
4 Akademi Farmasi Samarinda
mengandung alkaloid. Pada Uji flavonoid,
dalam literatur disebutkan bahwa flavonoid
positif jika terjadi warna merah, kuning, dan
jingga. Berdasarkan pengujian yang lakukan
di dapatkan warna kuning jingga dan dapat
disimpulkan
bahwa
ekstrak
positif
mengandung flavonoid. Untuk uji tanin yang
lakukan didapatkan hasil yang positif atau
mengandung tanin, ini ditandai dengan
terbentuknya
warna
hijau
kehitaman.
Berdasarkan literatur, jika terjadi warna biru
atau hijau kehitaman menunjukkan adanya
tanin. Secara kimia terdapat dua jenis utama
tanin yang tersebar tidak merata dalam dunia
tumbuhan.
Tanin
terkondensasi
hampir
terdapat semesta di dalam paku-pakuan dan
gimnospermae, serta tersebar luas dalam
angiospermae, terutama pada jenis tumbuhan
berkayu.
Sebaliknya,
tanin
yang
terhidrolisiskan
penyebarannya
terbatas
kepada tumbuhan berkeping dua
8.
Jenis tanin yang terkandung di dalam
ekstrak etanol daun kecombrang adalah
tanin-terkondensasi, karena jenis tumbuhan yang
digunakan
yaitu
tumbuhan
kecombrang
bersub-divisi
angiospermae.
Kandungan
senyawa kimia saponin juga terdapat dalam
ekstrak etanol daun kecombrang, ini ditandai
dengan terbentuknya buih selama kurang dari
10 menit dan tidak hilang pada penambahan
asam klorida 2N. Dalam literatur disebutkan
bahwa apabila buih tidak hilang pada
penambahan 1 tetes asam klorida 2N
menunjukkan adanya saponin.
Uji Aktivitas Antibakteri
Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol
daun kecombrang terhadap Salmonella typhi
dilakukan dengan metode
disc diffusion
menggunakan media MHA (Mueller Hinton
Agar). Aktivitas antibakteri tampak dengan
terbentuknya zona hambat di sekitar kertas
cakram yang diukur menggunakan jangka
sorong. Pada penelitian ini digunakan media
Mueller Hinton Agar, karena media ini telah
direkomendasikan oleh FDA dan WHO untuk
tes antibakteri terutama bakteri aerob dan
facultative anaerobic bacteria untuk makanan
dan materi klinis. Media agar ini juga telah
terbukti memberikan hasil yang baik dan
reproduksibel. Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan metode
disc diffusion atau
kertas cakram dikarenakan bakteri yang
ditanam pada media dalam metode ini bersifat
aerob yaitu tumbuhnya bakteri memerlukan
oksigen sehingga bakteri tersebut tumbuh di
permukaan media. Metode disc diffusion
dilakukan dengan menggunakan piringan atau
kertas cakram (Wathman nomor 4) yang
berisi agen anti mikroba, diletakkan di media
agar yang telah ditanami mikroorganisme
yang akan berdifusi pada media agar tersebut.
Area
jernih
mengindikasikan
adanya
hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh
agen antimikroba pada permukaan media
agar
9.
Kontrol positif yang digunakan dalam
penelitian
ini
adalah
kloramfenikol.
Kloramfenikol dipilih karena berspektrum
luas yaitu efektif untuk bakteri gram positif
dan gram negatif serta mikroorganisme lain
10.
Mekanismenya dengan menghambat sintesis
protein, mencegah ujung aminoasil t-RNA
bergabung dengan peptidil tranferase (enzim
yang menghubungkan asam amino dengan
rantai
peptide
selama
proses
sintesis
protein)
11. Pada pengujian antibakteri ini
diperoleh hasil yang disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil pengukuran diameter zona hambat ekstrak etanol daun kecombrang terhadap
Salmonella typhi.
Konsentrasi Zona Hambat (mm)
Rata-rata (mm)
I II III
Kontrol Negatif 0 0 0 0
20% 5.65 3.35 2.7 3.90
40% 7.1 6.75 5.65 6.50
60% 8.2 6.3 5.8 6.76
80% 8.85 7.85 7.3 7.45
100% 12.15 9 6.7 9.28
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 1-7, 2015 Eko Kusumawati
Akademi Farmasi Samarinda 5
Gambar 1. Aktivitas antibakteri daun kecombrang terhadap bakteri Salmonella typhi
Keterangan : a = kontrol negatif
b = perlakuan dengan konsentrasi 20% c = perlakuan dengan konsentrasi 40% d = perlakuan dengan konsentrasi 60% e = perlakuan dengan konsentrasi 80% f = perlakuan dengan konsentrasi 100% g = kontrol positif = kloramfenikol
Berdasarkan dari data yang telah tersaji
pada Tabel 2 dan Gambar 1 di atas untuk
rata-rata diameter zona hambat terbesar terletak
pada
konsentrasi
100%.
Penentuan
konsentrasi ekstrak etanol daun kecombrang
sangat berpengaruh terhadap terbentuknya
zona hambat yang dihasilkan. Menurut
Ningtyas
3bahwa semakin tinggi konsentrasi
yang digunakan maka semakin tinggi daya
hambatnya, hal ini dikarenakan semakin
a
b
c
d
e
f
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 1-7, 2015 Eko Kusumawati
6 Akademi Farmasi Samarinda
tinggi konsentrasi semakin banyak kandungan
bahan
aktif
antibakterinya.
Jenie
dan
Kuswanto
12menyatakan bahwa keefektifan
suatu zat antimikroba dalam menghambat
pertumbuhan tergantung pada sifat mikroba
uji, konsentrasi dan lamanya waktu kontak,
dan sifat biostatistik dapat meningkat dengan
semakin
tingginya
konsentrasi
yang
ditambahkan.
Menurut tabel David Stout, daya
hambat antibakteri ekstrak etanol daun
kecombrang
pada
konsentrasi
100%
menghasilkan zona hambat sebesar 9.28 mm
yang masuk dalam kategori antibakteri kerja
sedang. Daya antimikroba ekstrak daun
kecombrang ini disebabkan oleh karena
adanya bahan-bahanaktif yang terkandung di
dalamnya yang berperan utama
dalam
menghambat
pertumbuhan
maupun
membunuh bakteri Salmonella typhi. Bahan
aktif tersebut diantaranya adalah saponin,
flavonoid dan tanin.
Saponin
adalah
senyawa
penurun
tegangan
permukaan
yang
kuat
yang
menimbulkan busa bila dikocok dalam air.
Sifat saponin menyerupai sabun (bahasa latin
sapo berarti sabun).Saponin bekerja sebagai
antimikroba dengan mengganggu stabilitas
membran sel bakteri sehingga menyebabkan
sel
bakterilisis.
Flavonoid
berefek
antimikroba
melalui
kemampuan
untuk
membentuk
kompleks
dengan
protein
ekstraseluler dan protein yang dapat larut
serta dengan dinding sel bakteri13. Senyawa
tanin merupakan senyawa metabolit sekunder
yang tergolong senyawa fenol terkondensasi
dan
banyak
terdapat
pada
tumbuhan
Angiospermae. Tanin dalam konsentrasi
rendah mampu menghambat pertumbuhan
kuman maupun pada konsentrasi tinggi dapat
bersifat membunuh bakteri. Senyawa fenolik
bekerja sebagai antimikroba dengan cara
mengkoagulasi
atau
menggumpalkan
potoplasma kuman sehingga terbentuk ikatan
yang stabil dengan protein kuman dan pada
saluran pencernaan, tanin diketahui mampu
mengeliminasi toksin14.
Data
yang
diperoleh
dianalisis
mengunakan SPSS IBM 20. Terlebih dahulu
data dianalisis untuk mengetahui apakah
berdistribusi normal. Pada uji One-Sampel
Kolmogorov-Smirnov
test
menunjukan
bahwa nilai D (Absolute) lebih besar dari 0,05
atau signifikansi lebih besar dari 0,05, ini
menunjukkan bahwa data yang diperoleh
peneliti berdistribusi normal. Selanjutnya
dilakukan analisis menggunakan uji One Way
ANOVA. Berdasarkan Uji One Way ANOVA
menunjukkan bahwa uji tersebut memiliki
signifikansi
kurang
dari
0,05
dengan
keputusan yang berarti terdapat perbedaan
bermakna dari hasil perlakuan pada daya
hambat masing-masing konsentrasi ekstrak
etanol daun Kecombrang.
SIMPULAN
Dari hasil penelitian mengenai aktivitas
antibakteri ekstrak etanol daun kecombrang
terhadap bakteri Salmonella typhidiperoleh
kesimpulan bahwa semakin besar konsentrasi
ekstrak etanol kecombrang, semakin besar
pula zona hambat yang dihasilkan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Hidayat dan Hutapea. 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Balai Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI.
2. Hudaya, Adeng. 2010. Uji Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak Air Bunga Kecombrang (Etlingera elatior) Sebagai Pangan Fungsional Terhadap Staphylococus aureus dan Eschericia coli. Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
3. Ningtyas, Rina. 2010. Uji Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak Air Daun Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M. Smith). Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
4. Lathifah, Qurrotua’yunin. 2008. Uji Efektifitas Ekstrak Kasar Senyawa Antibakteri Pada Buah Belimbing Wuluh (Averrhoabilimbi L.) Dengan Variasi Pelarut. Skripsi. Malang: Universitas Islam Negeri Malang.
5. Departemen Kesehatan RI. 1986. Sediaan Galenik. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 6. Departemen Kesehatan RI. 1987. Analisis Obat Tradisional. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 1-7, 2015 Eko Kusumawati
Akademi Farmasi Samarinda 7
7. Handoko, T. 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi Empat. Jakarta: Gaya Baru. 8. Harbone, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Bandung : Institut Teknologi Bandung. 9. Pratiwi., S. T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga.
10. Mycek, MJ. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi I.Jakarta.Widya Medika.
11. Olson. J. 2004. Belajar Mudah Farmakologi. Cetakan 1. EGC. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. 12. Jenie, B.S.L. dan Kuswanto. 1994. Aktivitas antimilcroba dari pigmen angkak yang diproduksi oleh
Monasnrs purpuracs terhadap beberapa milcroba patogen dan perusak makanan.Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan Permi.
13. Ardananurdin, Alhamfaib. 2004.Uji Efektivitas Dkok Bunga Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) Sebagai Anttimikroba Terhadap Bakteri Salmonella Typhi Secara in vitro. Jurnal kedokteran. FK Unibraw.
, 1(1), 8-18, 2015 Amelia Lorensia
8 Akademi Farmasi Samarinda
STUDI FARMAKOVIGILANSPENGOBATAN ASMA PADA PASIEN
RAWAT INAP DI SUATU RUMAH SAKIT DI BOJONEGORO
Submitted : 31 Maret 2015 Edited : 10 Mei 2015 Accepted : 20 Mei 2015
Amelia Lorensia
1, Ratna Ayu Amalia
21
Pengajar Famasi Klinis, Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (UBAYA), Surabaya 2
Mahasiswa Program Studi Apoteker, Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (UBAYA), Surabaya E-mail:[email protected]
ABSTRACT
Background: Asthma is a respiratory disease with a large enough number of prevalence in the world. Asthma treatmentin hospital needs serious monitoring because of the risk to patient safety and increase the cost of treatment. One attempt to reduce the incidence of unwanted is the pharmacovigilance studies to improve patient safety.
Purpose: to determine safety in terms of adverse drug reactions (ADR) and drug interactions of the treatment of inpatient asthmatic patients in a hospital.
Methods: This is a non-experimental study with sampling using purposive sampling. Then the data were obtained from medical records were analyzed ADRs and drug interactions that occur using the library and shown descriptively.
Results: The study sample as many as 43 people. The results showed there were 56 cases of ADRs on asthma medications, especially the use of nebulized salbutamol (57.14%). While the incidence of asthma therapy drug interactions there were 10 cases and the highest is aminophylline with salbutamol (14.29%).
Conclusion: Treatment of asthma need to get to the ADR incidence and risk of drug interactions. Incidence of ADRs and drug interactions at most of the use of salbutamol which is relatively safe preference. This still needs to be done further research.
K eywords: asthma, adverse drug reactions, drug interaction, pharmacovigilance
PENDAHULUAN
Asma adalah penyakit heterogen dengan inflamasi kronik pada saluran napasyang melibatkan sel inflamasi didalamnya, yang akan merespon suatu trigger secara berlebih sehingga menimbulkan gejalaepisodik seperti mengi, sesak napas, rasa tertekan didada, dan batuk (terutama pada pagi dan malam hari).1Perburukan episode asma yang dikenal dengan eksaserbasi asma,1merupakan penyebab terbesar pasien masuk ke UGD, dan kejadiannya di Amerika mencapai 67 dari 10,000 pada tahun 2002.2
Asma sebenarnya merupakan masalah kesehatan yang sangat umum diseluruh dunia.Studi dari Global Burden of Disease (GBD) 2010 merupakan usaha terbaru dan terbesar untuk menggambarkan distribusi global dan penyebab dari faktor risiko kesehatan yang tinggi, termasuk asma. Berdasarkan studi tersebut, mayoritas dari disability-adjusted life years (DALYs) akibat asma telah meningkat dari tahun sehat yang hilang akibat kecacatan (years lived with a disability
/YLD), dan asma menduduki peringkat ke-14 di dunia berdasarkan pengukuran YLD dan peringkat ke-28 di dunia ketika diukur dengan DALY.3 Kejadian asma di Indonesia belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan 2-5% penduduk Indonesia menderita asma.4
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 8-18, 2015 Amelia Lorensia
Akademi Farmasi Samarinda 9
yang tidak diinginkan.6Salah satu usaha untuk mengurangi kejadian yang tidak diinginkan adalah dengan studi farmakovigilans, yang oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah dicanangkan dalam peraturan Kepala BPOM RI nomor HK.03.1.23.12.11.10690 tahun 2011, untuk menerapkan farmakovigilans yang merupakan kegiatan tentang pendeteksian, penilaian, pemahaman, dan pencegahan ADR atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan obat.7 Tujuan farmakovigilans adalah untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan pasien terkait pengobatan yang didapatnya, dari kemungkinan kejadian ADR, yang bersifat individual.8 ADR adalah respon terhadap obat yang berbahaya dan tidak sengaja dan yang terjadi pada dosis yang digunakan dalam manusia untuk profilaksis, diagnosis atau terapi, termasuk kegagalan terapetik. Kejadian ADR juga sangat berkaitan dengan kemungkinan adanya interaksi obat, karena penggunaan beberapa obat secara bersamaan sehingga satu obat dapat mempengaruhi kadar obat lain di dalam darah.8
Masalah terkait obat pada pengobatan asma sudah pernah diteliti sebelumnya, seperti penggunaan teofilin yang merupakan obat dengan rentang terapi sempit sehingga berisiko menyebabkan ADR,9 penggunaan beta-2 agonis aksi panjang (long-acting beta-2 agonist) tunggal yang diduga memperparah eksaserbasi asma,10 serta ADR kortikosteroid inhalasi berupa candidiasis orofaringeal yang sering muncul karena penggunaan yang tidak tidak tepat atau dosis penggunaan yang tinggi dan dapat menyebabkan komplikasi asma,11tetapi penelitian yang lebih luas pada masyarakat di Indonesia belum diteliti secara luas. Oleh karena itu, perlu dikaji lebih lanjut terkait dengan ADR dan interaksi obat sehingga melalui penelitian ini dapat memberikan informasi mengenahi studi farmakovigilans (keamanan pengobatan) pasien asma. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa kejadian ADR kategori aktual atau potensial yang terjadi pada pengobatan asma dari pasien asma dewasa yang menjalani rawat inap di suatu rumah sakit di Bojonegoro, Jawa Timur.
BAHAN DAN METODE
Penelitian yang dilakukan merupakan retrospektif (non-eksperimental). Penelitian ini menganalisis farmakovigilans yang meliputi ADR dan interaksi obat yang terjadi pada pasien asma usia dewasa rawat inap di suatu rumah sakit di Bojonegoro, Jawa Timur, selama periode Januari 2013 sampai dengan Januari 2014. Sebagai bahan penelitian adalah data rekam medik pasien asma yang menjalani rawat inap di rumah sakit tersebut.Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel tergantung. Variabel bebas meliputi: jenis pengobatan yang didapat pasien selama menjalani rawat inap di rumah sakit. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah kejadian ADR yang bersifat aktual dan potensial, dan interaksi obat.
Populasi penelitian ini adalah semua pasien asma dewasa yang menjalani rawat inap di suatu rumah sakit dalam rentang waktu Januari 2013 sampai dengan Januari 2014. Sedangkan sampel penelitianbagian dari populasi yang memenuhi
kriteria eksklusi dan inklusi, dengan pengambilan sampel secara purposive sampling(non-random sampling).Kriteria inklusi yaitu pasien asma berusia dewasa (18 tahun),12dan kriteria eksklusi terdiri dari: pasien dengan gangguan ginjal kronis dan pasien dengan gangguan hati, karena dapat mempengaruhi respon terapi. Besar sampel penelitian deskriptif yaitu: n (besar sampel)= N/(1+Ne2),13 dengan N=besar populasi, e=tingkat presisi (0,05), sehingga jumlah sampel minimum sampel penelitian adalah 39 orang.
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 8-18, 2015 Amelia Lorensia
10 Akademi Farmasi Samarinda
Tabel 1. Naranjo Scale15
Kriteria Identifikasi Ya Tida
k
N/ A
Apakah ada laporan efek samping obat yang serupa ? 1 0 0 Apakah efek samping obat terjadi setelah pemberian obat yang
dicurigai ? 2 -1 0
Apakah efek samping obat membaik setelah obat dihentikan atau
obat antagonis khusus diberikan ? 1 0 0
Apakah efek samping obat terjadi berulang setelah obat diberikan
kembali ? 1 0 0
Apakah ada alternative penyebab yang dapat menjelaskan yang
kemungkinan terjadinya efek samping obat ? -1 2 0 Apakah efek samping obat muncul kembali ketika plasebo
diberikan ? -1 1 0
Apakah obat yang dicurigai terdeteksi di dalam darah atau cairan
tubuh lainnya dengan konsentrasi yang toksik ? 1 0 0 Apakah efek samping obat bertambah parah ketika dosis obat
ditingkatkan atau bertambah ringan ketika obat diturunkan dosisnya?
2 -1 0
Apakah pasien pernah mengalami efek samping obat yang sama
atau dengan obat yang mirip sebelumnya? 1 0 0 Apakah efek samping obat dapat dikonfirmasi dengan bukti yang
obyektif ? 1 0 0
Keterangan: N/A : not available (tidak dapat diterapkan ada situasi tersebut/tidak diketahui). Penafsiran nilai total: >9 (pasti ADRs), 5–8 (kemungkinan besar ADRs), 1–4 (kemungkinan ADRs), 0 (bukan ADRs)
Sedangkan interaksi obat dinilai menggunakan pustaka Stocley’s Drug Interaction (2008)16 dan kemudian dinilai probabilitasnya
menggunakan drug interaction probability scale(DIPS)(Tabel 2) .17,18
Tabel 2. DIPS Modifikasi18
Kriteria Identifikasi Ya Tidak N/A
Apakah telah ada laporan terpercaya dari interaksi tersebut
sebelumnya pada manusia? 1 0 0
Apakah interaksi diamati secara terus-menerus dengan sifat
interaktif yang diketahui dari obat presipitan? 1 -1 0 Apakah interaksi diamati secara terus-menerus dengan sifat
interaktif yang diketahui dari obat objek? 1 0 0 Apakah kejadian tersebut terjadi secara konsisten dengan
perjalanan waktu yang diketahui atau yang masuk akal dari interaksi ( onset dan / atau offset) ?
1 0 0
Apakah interaksi terjadi pada dechallenge dari obat presipitan dengan tidak ada perubahan pada obat objek?
(Jika tidak ada dechallenge, pilih N/A dan lanjutkan ke nomor 6)
1 -2 0
Apakah interaksi muncul kembali ketika obat presipitan diberikan
kembali bersama dengan obat objek? 2 1 0
Apakah ada penyebab alternatif lain dari kejadian tersebut? -1 1 0 Apakah obat objek terdeteksi dalam darah atau cairan lain dalam
konsentrasi yang konsisen dengan interaksi yang ditujukan? 1 0 0 Apakah interaksi obat dikonfirmasi oleh bukti yang obyektif sesuai
dengan efek pada obat (selain konsentrasi obat dari pertanyaan sebelumnya (nomor 8))?
1 0 0
Apakah interaksi lebih besar ketika dosis obat presipitan ditingkatkan atau diturunkan ketika dosis obat presipitan diturunkan?
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 8-18, 2015 Amelia Lorensia
Akademi Farmasi Samarinda 11
Keterangan: N/A : not available (tidak dapat diterapkan ada situasi tersebut/tidak diketahui). Penafsiran nilai total: >8 (pastiinteraksi obat), 5–8 (kemungkinan besar interaksi obat), 2–4 (kemungkinan interaksi obat), <2 ( bukaninteraksi obat)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah pasien asma yang ada di rumah sakit tersebut sebanyak 52 orang yang terdiri dari 9 orang pasien usia anak-anak dan 43 orang usia dewasa. Berdasarkan data rekam medik, pasien asma dewasa sebanyak 43 orang, semuanya
memenuhi dalam kriteria pengambilan sampel pada penelitian ini, sehingga besar sampel penelitian sebanyak 43 orang. Karakteristik sampel penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Karakteristik Sampel Penelitian
Klasifikasi Keterangan Jumlah
(n=43)
Persetase (%)
Jenis Kelamin Laki-laki 17 39,53
Perempuan 26 60,47
Usia (Tahun)
20-24 9 20,93
25-29 5 11,625
30-34 3 6,98
35-39 9 20,93
40-44 12 27,91
45-49 5 11,625
Jumlah Kejadian ADR yang dialami Tiap Sampel Penelitian
0 16 37,21
1 10 23,26
2 13 30,23
3 1 2,33
4 3 6,97
Jumlah Kejadian Interaksi Obat yang dialami Tiap Sampel Penelitian
0 33 76,74
1 10 23,26
Penilaian analisa obat terhadap kejadian ADR dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Per Masing-Masing Golongan dan Jenis Obat Asma yang
Didapat Pasien di Suatu Rumah Sakit
Golongan Obat Terapi
Asma
Jenis Obat Terapi Asma
Jumlah Sampel Penelitian Yang
Mendapatkan Terapi
Yang Tidak Mendapatkan
Terapi
Total
Metilsantin
Aminofilin oral 15 (34,88%) 28 (65,12%) 43
Aminofilin
intravena 36 (83,72%) 7 (16,28%) 43
Beta-2 agonis
Salbutamol oral 26 (60,47%) 17 (39,53%) 43
Salbutamol
nebulasi 35 (81,40%) 8 (18,60%) 43
Terbutalin oral 1 (2,33%) 42 (97,67%) 43
Terbutalin
intravena 6 (13,95%) 37 (86,05%) 43
Terbutalin nebulasi 6 (13,95%) 37 (86,05%) 43
Kortikosteroid
Dexametason oral 23 (53,49%) 20 (46,51%) 43
Dexametason
intravena 36 (83,72%) 7 (16,28%) 43
Metilprednisolon
oral 2 (4,65%) 41 (95,35%) 43
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 8-18, 2015 Amelia Lorensia
12 Akademi Farmasi Samarinda
Aminofilin intravena merupakan salah satu obat terbanyak yang diterima oleh pasien, yaitu sebanyak 36 pasien (83,72%). Aminofilin menupakan turunan teofilin dengan penambahan ethylenediamine yang menjadi kompleks garam larut air. Teofilin/aminofilinmemiliki rentang terapeutik sempit dan variasi sempit pada metabolisme hepatik dan klirens sehingga berisiko menyebabkan terjadinya ADR.19 Golongan metilxantin biasanya hanya digunakan sebagai terapi tambahan dalam manajemen asma apabila efektivitas terapi belum optimal, serta perannya dalam menejemen eksaserbasi asma masih kontroversional.1Di Indonesia, aminofilin/teofilin merupakan salah satu obat asma yang sering digunakan dalam penanganan eksaserbasi asma di rumah sakit. Bahkan aminofilintermasuk dalam daftar DOEN (Daftar Obat Essensial Nasional)
2013 berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 312/MENKES/SK/IX/2013 tentang Daftar Obat Essensial 2013.20Teofilintelah diklasifikasikan sebagai bronkodilator, namun penggunaannya pada asma di luar negri telah berkurang karena tingginya frekuensi efek samping dan efektivitas relatif rendah serta lebih lambat.1,21Bukti mengenai kejadian ADR dari teofilin dan aminofilin telah banyak diungkap,22,23,24,25,26 sehingga penggunaannya di luar negeri sudah ditinggalkan. Berbeda dengan kejadian ADR dari metilsantin pada sampel penelitian ini, yang relatif cukup sedikit, yaitu pada aminofilin oral menyebabkan sebanyak 1 kasus takikardi (6,67%), aminofilin intravena yang menyebabkan sebanyak 4 kasus takikardi dan 3 kasus sakit kepala (19,44%) (Tabel 5),
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Kejadian Adverse Drug Reaction (ADR) dari Obat Asma yang
Didapat Pasien di Suatu Rumah Sakit
Golongan
Aminofilin oral Takikardia 1 1 (6,67%) 1
4
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 8-18, 2015 Amelia Lorensia
Akademi Farmasi Samarinda 13
Metilprednisol
on oral Hipokalemia 1 1 (5,00%)0 1
(50,00%
) 2
Prednison oral Sakit kepala 1 1 (33,33%) 2 (66,67%
) 3
Keterangan:
ADR = adverse drug reaction
dengan nilai naranjo scale masing-masing adalah 3 (kemungkinan ADR) (Tabel 6).
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Kejadian Adverse Drug Reaction (ADR) dari Obat Asma yang
Didapat Pasien di Suatu Rumah Sakit Berdasarkan Naranjo Scale
Golongan
oral Takikardia 1 1 (6,67%) 3
Kemungkinan
Dada sakit 2 3 Kemungkinan
ADR
Dada sakit 3 3 Kemungkinan
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 8-18, 2015 Amelia Lorensia
ADR = adverse drug reaction
Kortikosteroid dexametason juga merupakan obat dalam terapi asma yang paling banyak digunakan, yaitu sebanyak 36 pasien (83,72%) (Tabel 4). Kejadian ADR pada penggunaan dexametason relatif kecil, yaitu hanya sebesar 5 kasus (13,89%) dan 36 pasien yang menggunakannya (Tabel 5), terdiri dari 2 kasus hipertensi dengan nilai naranjo scale 4 (kemungkinan besar ADR), 1 kasus sakit kepala dengan nilai naranjo scale 3 (kemungkinan ADR), dan 2 kasus peningkatan enzim transaminase dengan nilai naranjo scale 4 (kemungkinan besar ADR) (Tabel 6).
Salbutamol nebulasi adalah terapi yang banyak digunakan sampel penelitian yaitu sebanyak 35 orang (81,40%) (Tabel 4). Salbutamol merupakan bronkodilator yang termasuk golongan beta-2 agonis aksi cepat (short acting beta-2 agonist / SABA), yang merupakan pilihan wajib dalam menejemen eksaserbasi asma.1,27 Menurut penelitian di luar negri, penggunaan salbutamol untuk pengobatan asma tergolong aman dan kejadian ADR juga relatif ringan.1 Namun pada penelitian ini, menunjukkan hasil berbeda karena dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa presentase yang paling banyak mengalami ADR adalah pada penggunaan salbutamol nebulasi yaitu sebesar 57,14% (Tabel
5). Sebagian besar pasien yang menggunakan
salbutamol nebulasi mengalami ADR sebanyak 20
kasus ADR (57,14%), yang terdiri dari 4 kasus takikardi, 3 kasus dada terasa sakit, 6 kasus hipertensi dan hipotensi, 3 kasus sakit kepala, 2 kasus hipokalemia, dan 2 kasus hiperglikemia (Tabel 5). Pada penggunaan salbutamol nebulasi, kejadian ADR termasuk dalam naranjo scale dalam nilai total 3 (kemungkinan ADR) dan nilai total 4 (kemungkiann besar ADR) (Tabel 6). Salbutamol oral juga relatif cukup banyak digunakan oleh sampel penelitian, yaitu sebanyak 26 pasien (Tabel 4). Pemberian nebuasi umumnya lebih disukai daripada oral (sistemik), karena lebih bersifat lokal yang membutuhkan dosis lebih kecil sehingga kejadian ADR juga relatif lebih kecil.1 Menurut Cochrane systematic review, tidak ada bukti yang mendukung penggunaan intravena beta-2 agonis, walaupun dalam kondisi tingkat keparahan asma akut parah.28Penggunaan salbutamol oral mengalami ADR sebanyak 14 kasus ADR (53,85%), yang terdiri dari 4 kasus takikardi, 2 kasus dada terasa sakit, 5 kasus hipertensi dan hipotensi, 2 kasus sakit kepala, 1 kasus hipokalemia, dan 1 kasus hiperglikemia (Tabel 5). Pada penggunaan salbutamol oral, kejadian ADR termasuk dalam naranjo scale dalam nilai total 3 (kemungkinan ADR) dan nilai total 4 (kemungkinan besar ADR) (Tabel 6).
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 8-18, 2015 Amelia Lorensia
Akademi Farmasi Samarinda 15
efek suatu obat bersifat individual dan dipengaruhi faktor genetik yang menyebabkan respons yang berbeda terhadap terapi asma,29 diperkirakan genetik berkontribusi pada rentang antara 20-95% untuk obat yang berbeda.30 Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait farmakogenomik untuk mengetahui efek
suatu obat yang dipengaruhi oleh genetik, karena respons obat dapat ditentukan oleh hubungan antara genotip.
Kombinasi terapi asma yang paling banyak digunakan adalah salbutamol dan dexamethasone, sebanyak 38 pasien (88,37%) (Tabel 7).
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Kombinasi Golongan dan Jenis Obat Asma yang Didapat Pasien
di Suatu Rumah Sakit
Salbutamol 35 (81,39%) 8 (18,60%) 43
Aminofilin +
Terbutalin 10 (23,26%) 33 (76,74%) 43
Beta-2 agonis + Kortikosteroid
Salbutamol +
Prednison 3 (6,977%) 40 (93,02%) 43
Salbutamol +
Methylprednisolon 2 (4,65%) 41 (95,35%) 43
Salbutamol +
Dexametason 38 (88,37%) 5 (11,63%) 43
Kombinasi ini biasanya digunakan untuk pengobatan asma tingkat ringan/ sedang yang belum memberikan respon optimal dengan pengobatan salbutamol tunggal, atau pada tingkat eksaserbasi asma yang parah.1 Namun pada
kombinasi ini, kejadian yang diprediksi merupakan interaksi obat hanya terjadi pada satu kasus saja yaitu berupa hipokalemia (2,63%) (Tabel 8),
Tabel 8. Distribusi Frekuensi Kejadian Interaksi Obat dari Obat Asma yang Didapat Pasien di
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 8-18, 2015 Amelia Lorensia
16 Akademi Farmasi Samarinda
Tabel 9. Distribusi Frekuensi Kejadian Interaksi Obat Antar Obat Asma yang Didapat Pasien di Suatu Rumah Sakit Berdasarkan DIPS
Golongan
Kejadian interaksi obat paling banyak terjadi pada kombinasi aminofilin dan salbutamol, sebanyak 5 kasus (14,29%) dari 35 pasien yang menggunakannya (Tabel 8), berupa 1 kasus hipokalemia dengan nilai DIPS adalah 4 yang berarti kemungkinan besar merupakan interaksi obat (Tabel 9), dan 4 kasus takikardi dengan nilai DIPS adalah 3 yang berarti kemungkinan merupakan interaksi obat (Tabel 9). Ezeamuzie dan Shihab (2010)31meneliti interaksi in vitro antara teofilindan salbutamol pada produksi sitokin dari monosit manusia dan dibandingkan dengan interaksi yang serupa antara dexametason dan salbutamol. Salbutamol menghambat secara signifikan pelepasan dari TNF-α , tapi juga secara signifikan meningkatkan IL-6. Sedangkan teofilin dan dexamethason menghambat kuat produksi dari kedua sitokin, sehingga kombinasi antara aminofilin+salbutamol atau aminofilin+dexametason secara teori akan
memberikan efek yang berlawanan, dimana pada salbutamol meningkatkan dalam penghambatan pelepasan TNF-α , dan teofilin menghambat efek peningkatan IL-6 dari salbutamol.
Keterbatasan penelitian ini adalah adanya keterbatasan data yang hanya didapatkan dari rekam medik, sehingga kejadian ADR berupa gejala klinis ada kemungkinan tidak terdokumenntasi secara lengkap. Selain itu tingkat keparahan dari kejadian ADR juga tidak terdokumentasi secara lengkap. Penelitian ini menggunakan desain retrospektif sehingga prediksi ADR juga ada kemungkinan dipengaruhi faktor lain seperti kebiasaan merokok, gaya hidup, kepatuhan, dll.
Selain interaksi obat antar obat asma, ada satu kasus yang diduga terjadi secara akual pada penggunaan aminofilin dan furosemide (Tabel
10),
Tabel 10. Distribusi Frekuensi Kejadian Interaksi Obat Antar Obat Asma dan Non-Asna yang
Didapat Pasien di Suatu Rumah Sakit Berdasarkan DIPS
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 8-18, 2015 Amelia Lorensia
Akademi Farmasi Samarinda 17
yang keduanya sama-sama memiliki risiko ADR kejadian hipokalemia (Lexicomp, 2014),
sehingga meningkatkan risiko hipokalemia (Baxter, 2008).
SIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan obat asma juga dapat menyebabkan kejadian ADR dan bahkan kombinasi obat asma juga berisiko menyebabkan interaksi obat. Pengobatan salbutamol yang menurut pustaka relatif aman ternyata justru menunjukkan kejadian ADR yang lebih besar dibandingkan aminofilin, dan interaksi obat yang diduga bersifat aktual terbanyak adalah
pada penggunaan kombinasi aminofilin dan salbutamol. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut, karena reaksi suatu obat bersifat individual, menggunakan desain studi penelitian yang berbeda dengan mengendalikan variabel-variabel penelitian yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
1. Global Initiative for Asthma.Global Strategy for Asthma Management & Prevention (Update). 2014. Website: http://www.ginasthma.org/local/uploads/files/GINA_Report_2014_Aug12.pdf. Diakses 30 Oktober 2014
2. Lugogo NL, MacIntyre NR. Life-Threatening Asthma: Pathophysiology and Management. Respiratory Care. 2008 June;53(6):726-739
3. Institute for Health Metrics and Evaluation. Global Burden of Disease, Visualizations, GBD Arrow Diagram. 2013. Website:http://www.healthmetricsandevaluation.org/gbd/visualizations/gbd-arrow-diagram.Diakses 30 Oktober 2014
4. Oemiati R, Sihombing M, Qomariah. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Asma di Indonesia. Media Litbang Kesehatan. 2010;20(1):41-49
5. National Asthma Education and Prevention Program. Expert Panel Report 3: Guidelines for the Diagnosis and Management of Asthma. 2007. Website: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK7232/pdf/TOC.pdf. Diakses 30 Oktober 2014
6. Pharmaceutical Care Network Europe Foundation. PCNE Classification for Drug Related Problems. 2009. Website:http://www.pcne.org/upload/files/11_PCNE_classification_V6-2.pdf. Diakses 30 Oktober 2014
7. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.23.12.11.10690 tahun 2011 Tentang Penerapan Farmakovigilans Bagi Industri Farmasi. 2011
8. Food and Drug Administration. Preventable Adverse Drug Reactions: A Focus on Drug Interactions.
2014. Website:
http://www.fda.gov/drugs/developmentapprovalprocess/developmentresources/druginteractionslabeling/ ucm110632.htm. Diakses 30 Oktober 2014
9. Ray A, Gulati K, Tyagi N, Vishnoi G, Lal D, Vijyan VK. Pharmacovigilance in respiratory medicine: An experience with theophylline. Indian J Pharmacol. 2008; 40(2): S206-207
10. Nelson HS, Weiss ST, Bleecker ER, Yancey SW, Dorinsky PM. The Salmeterol Multicenter Asthma Research Trial: a comparison of usual pharmacotherapy for asthma or usual pharmacotherapy plus salmeterol. Chest. 2006;129(1):15-26
11. Kelly HW, Sorkness C. Asthma. In:DiPiro J, Talbert R, Yee G, Matzke G, Wells B, Posey M.Editors. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 7thed. 2008.McGrawHill. New York.US
12. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion. 2011. Website: http://www.cdc.gov/chronicdisease/overview/. Diakses 30 Oktober 2014
13. Kasiulevicius V, Sapoka V, Filipaviciute R. Theory and Practice: Sample Size Calculation in Epidemiological Studies. Gerontologija. 2006; 7(4): 225–231
14. Joint Formulary Committee. British National Formulary 66. 2013
15. Badan POM RI. Pedoman Monitoring Efek Samping Obat (MESO) bagi Tenaga Kesehatan. 2012. Website: http://e-meso.pom.go.id/useruploads/files/reference/PEDOMAN%20MESO_NAKES.pdf. Diakses 30 Oktober 2014
Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(1), 8-18, 2015 Amelia Lorensia
18 Akademi Farmasi Samarinda
17. Horn J, Hansten PD. Drug Interation: Insights and Observations: DIPS: A Tool to Evaluate Causation in Potential Drug Interactions. Pharmacy Times. 2007 Oct;48
18. ECPM. drug interaction probability scale (DIPS). 2013. Website: http://www.ecpm.ch/pharmaceutical_dictionary/230.html. Diakses 30 Oktober 2014
19. Shargel L, Wu-Pong S, Andrew BC. Applied Biopharmaceutics & Pharmacokinetics. 5thedition. 2004. McGraw-Hill, New York. US
20. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 312/MENKES/SK/IX/2013 tentang Daftar Obat Essensial (DOEN). 2013
21. Xu YJ.Development of theophylline in treatment of Asthma and Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Zhongguo Yi Xue Ke Xue Yuan Xue Bao. 2004 June;26(3):319-22
22. Hart SP. Should Aminophylline be Abandoned in the The Treatment of Acute Asthma in Adults?. Q J Med. 2000 Nov;93:761-765
23. Parameswaran K, Belda J, Rowe BH. Addition of intravenous aminophylline to beta2-agonists in adults with acute asthma.Cochrane Database Syst Rev. 2000;4:CD002742
24. Fotinos C, Dodson S. Is there a role for theophylline in treating patients with asthma?. Family Practice Inquiries Network. 2002 Sept;51(9)
25. Makino S, Adachi M, Ohta K, Kihara N, Nakajima S, Nishima S, et al. A prospective survey on safety of sustained-release theophylline in treatment of asthma and COPD. Allergol Int. 2006 Dec;55(4):395-402
26. Tyagi N, Gulati K, Vijayan VK, Ray A. A Study to Monitor Adverse Drug Reactions in Patients of Chronic Obstructive Pulmonary Disease: Focus on Theophylline. The Indian Journal of Chest Diseases & Allied Sciences. 2008;50:199-202
27. National Asthma Council Australia.Asthma Management Handbook. 2006. Website: http://www.nationalasthma.org.au/uploads/handbook/370-amh2006_web_5.pdf. Diakses 30 Oktober 2014
28. Cairns CB. Acute Asthma Exacerbations: Phenotypes and Management. Clinical in Chest Medicine. 2006 Mar;27:99-108
29. Tse SM, Tantisira K, Weiss ST. The Pharmacogenetics and Pharmacogenomics of Asthma Therapy. Pharmacogenomics Journal. 2011 Dec;11(6):383-392
30. Fenech AG, Grech G. Pharmacogenetics: Where do we stand?. Journal of the Malta College of Pharmacy Practice.2011;11:25-33
, 1(1), 1-24, 2015
!" #$% & # ' $( # & $)! 1*
HubunganLingkungan Fisik dan Tindakan PSN dengan Penyakit Demam
Berdarah Dengue di Wilayah Buffer Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II
Samarinda
Submitted : 2 April 2015 Edited : 10 Mei 2015 Accepted : 20 Mei 2015
Andi Anwar, Adi
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman E-mail :[email protected]
ABSTRACT
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a health problem in Indonesia, which can lead to the extraordinary events (plague).The development of science and technology affect the development of social and cultural, agricultural, industrial, mining and public mobility. The second-class Port Health Office Samarinda is included as endemic area; with the 33 total numbers of cases in 2013 and there were 20 cases started from January to August 2014. The purpose of this study was to find out the relationship between water shelter, humidity and eradication of mosquito breeding toward DHF in buffer area of the Second-Class Port Health Office Samarinda. This type of research is an analytical survey method with cross sectional approach. It is included as the research which learns the dynamics of the correlation between risk factors and effects, using observation or data collection approach at once. The sample of this study was 140 respondents with observation and measurement using Mann Whitney and Chi Square tests. Variables of this study consisted of dependent variable, which is DHF and independent variables are the water shelter, humidity and eradication of mosquito breeding. The findings showed there was relationship between water shelters (ρ value0,031), and humidity (ρ value0,046), and also eradication of mosquito breeding (ρ
value0,000). Based on the results of this study, it is expected to the healthcare institutions to give frequent health education to the society about the dangers of DHF, control the breeding of mosquitoes, and prevent
mosquitoes’ bites in order to prevent infected by this disease.
K eywords : Water shelter, humaditity, eraclication of mosquito breeding, Dangue hemorrhagic faver (DHF)
PENDAHULUAN
Penyakit DBD merupakan salah satu masalah kesehatan utama karena dapat menyerang semua golongan umur dan menyebabkan kematian khususnya pada anak-anak. Penyakit DBD dapat menimbulkan kejadian luar biasa (wabah).Di Indonesia penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat. Penyakit ini pada mulanya ditemukan di Surabaya dan Jakarta tahun 1968 dengan kematian sebanyak 24 orang, selanjutnya menyebar ke beberapa Provinsi di Indonesia1.
Adapun jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia yaitu pada tahun 2011 terdapat 65,432 kasus dan tahun 2012 terdapat 90,245 kasus 2. Kejadian DBD di Provinsi Kalimantan Timur yaitu pada tahun 2010 terdapat 5.862 penderita, pada tahun 2011 terdapat 1.416 penderita3. Kejadian DBD di Kota
Samarinda tahun 2011 sebanyak 244 kasus, tahun 2012 sebanyak 331 kasus 3.
Kota Samarinda merupakan daerah endemis DBD. Penyakit DBD di Samarinda pertama kali dilaporkan pada tahun 1988 yang diduga terjadi pada anak kecil di Kecamatan Palaran. Hingga saat ini, kasus DBD sering terjadi di Samarinda setiap tahunnya, perkembangan pemukiman di kota Samarinda semakin meluas, padat dan heterogen.
+ , -./01023/45/ .,. 6,.7, 1(1), 18-24, 2015 9 .:39 .;/
-20 < = >?@ ABC >D A>EBF >A>DB G?>
adanya hubungan yang signifikan antara tindakan PSN masyaraka dengan keberadaan jentik Aedes aegypti dengan hasil p value 0,0250,05.
Adapun data DBD di wilayah puskesmas Sambutan yang merupakan puskesmas yang dekat dengan wilayah Buffer kantor kesehatan pelabuhan Samarinda yaitu tahun 2012 sebanyak 20 kasus, tahun 2013 sebanyak 18 kasus 2.
Wilayah Buffer Kantor Kesehatan Pelabuhan Samarinda merupakan daerah padat penduduk dan sebagian lokasi tempat tinggal merupakan daerah pegunungan, warga yang tinggal di daerah pegunungan akses untuk
mendapatkan air bersih sangat susah, dikarnakan volume air yang mengalir sangat kecil, sehingga warga tersebut banyak menampung air yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan jentik aedes aegypti, serta di dukung dengan perumahan yang padat, jarak antar rumah yang sangat dekat, pencahayaan yang kurang, akan mempengaruhi penularan vektor penyakit.
Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukan penelitian tentang hubungan Tempat Penampungan Air (TPA),Kelembaban dan PSN dengan Penyakit DBD di wilayah Buffer Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Samarinda.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Waktu penelitian dimulai sejak bulan Oktober hingga Nopember tahun 2014. Lokasi penelitian dilakukan di Kelurahan Selili RT. 01, RT. 02 dan RT.03 wilayah Buffer Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Samarinda. Dalam penelitian ini besar sampel adalah 140 responden. Variabel terikat (dependen) dari penelitian ini
adalah penyakit DBD dan variabel bebas (independen) adalah Tempat penampungan air (PSN), kelembaban dan tindakan PSN. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Chi Square dan uji Mann Whitney untuk mengetahui nilai sig danρ value antara dua variabel. Bila nilai sig dan ρ value< nilai α (0,05) maka ada hubungan yang signifikan antara variabel bebas dan variabel terikat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hubungan Tempat Penampungan Air (TPA) Dengan Penyakit DBD di Wilayah Buffer
Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II
Samarinda
Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, hubungan tempat penampungan air (TPA) dengan penyakit DBD dapat dlihat pada tabel 1 sebagai berikut:
Tabel 1. Hubungan antara tempat penampungan air dengan penyakit DBD di Wilayah Buffer
Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Samarinda Tahun 2014
TPA Penyakit DBD Jumlah ρ
Tidak ada % Ada % N %
Tidak Ada Jentik 62 57,4 5 9,6 67 67
0,031
Ada Jentik 58 62,6 15 10,4 73 73
Total 120 85,7 20 14,3 70 100
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi Square diperoleh nilaiρ value= 0,031karena nilaiρ value lebih kecil dari nilai α (0,05) yang artinya ada hubungan antara tempat penampungan air dengan penyakit DBD di wilayah Buffer KKP Kelas II Samarinda Hal ini didukung oleh penelitian Sukamto6 yang menyatakan bahwa ada hubungan keberadaan jentik Aedes aegypti pada tempat penampungan air terhadap kejadian DBD di Kelurahan Ploso Kecamatan Pacitan (nilai p=0,001).
Hasil penelitian pemeriksaan jentik Aedes aegypti pada tempat penampungan air diperoleh jenis penampungan air seperti di bak mandi,
H I JKLMNMOPLQRL KIK SIKT, 1(1), 1U-24, 2015 V KWPV KXL J
Y Z [\] ^_` [a ^[b _c [^[a _d\[ 21
keperluan sehari-hari seperti drum, tempayan, bak mandi, bak wc, ember dan sejenisnya.
Dari seluruh jenis tempat penampungan air diatas dapat diambil simpulan bahwa drum mempunyai peluang yang paling banyak terdapat jentik 32,6% dibandingkan dengan tempat penampungan air (TPA) yang lain yaitu bak mandi, tempayan, ember dan lainya. Hal ini diperkirakan karena ketinggian lokas RT 02 dan 03 berada di kemiringan ±300 sehingga sulit untuk mendapatkan pasokan air bersih terutama yang berasal dari PDAM. Sehingga hampir sebagian besar responden menampung air di drum.
Hasil observasi yang dilakukan terhadap tempat perindukan nyamuk jenis bak sebesar 19,6%, ini cenderung berada di dalam rumah, kondisi ini memudahkan untuk dilakukan pengurasan dan pembersihan. Begitu juga dengan air yang berada di dalam bak dipakai setiap hari sehingga secara tidak langsung ada pergantian air di dalam bak.
Tempat penampungan air lainnya yang kebutuhan sehari-hari dengan peluang paling sedikit terdapat jentik didalamnya adalah tempayan (3,3%) dan ember (3,7). Hal ini diperkirakan sebagian besar tempayan dan ember itu diletakkan di dalam rumah dan dalam keadaan tertutup. Sehingga kecil kemungkinan ada nyamuk yang hinggap dan bertelur di dalamnya.
Selain itu volume tempayan lebih sedikit dibandingkan dengan TPA yang lainnya, sehingga memudahkan menguras ataupun membersihkan TPA tersebut.
TPA yang bukan kebutuhan sehari-hari ditemukan sebanyak 6 kontainer yang berupa vas bunga dan tempat minum hewan piaraan, tidak satupun TPA yang ditemukan jentik. Ini dikarenakan jarang responden memilikinya dan kontainer jenis ini setiap hari selalu diganti air yang baru.
Hasil penelitian di wilayah RT 1, RT 2 dan RT, 3 dimungkinkan bahwa belum secara maksimal memutus rantai perkembangbiakan nyamuk dengan masih banyaknya tempat penampungan air yang positif jentik, sehingga perlu dilakukan tindakan PSN dengan cara membasmi jentik-jentik nyamuk dengan melakukan 3M plus sehingga tidak sampai menjadi nyamuk dewasa. Kegiatan 3M plus harus sering dilakukan oleh masyarakat dilingkungan tempat tinggalnya masing-masing
Hubungan Kelembaban Dengan Penyakit DBD di Wilayah Buffer Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Samarinda
Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, hubungan kondisi kelembaban dengan penyakit DBD dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut:
Tabel 2. Hubungan kelembaban dengan penyakit DBD di Wilayah Buffer Kantor Kesehatan
Pelabuhan Kelas II Samarinda.
Berdasarkan tabel 2 diatas, menunjukkan bahwa hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi Square diperoleh nilai P value= 0,046 karena nilai ρ value lebih kecil dari nilai α (0,05) yang artinya ada hubungan antara kelembaban terhadap penyakit DBD di wilayah Buffer KKP Kelas II Samarinda.
Penelitian lain juga pernah dilakukan oleh Yudhastuti5 yang membuktikan ada hubungan yang bermakna antara kondisi kelembaban yang berada di angka pengukuran 81,5% hingga 89,5% terhadap kejadian DBD di daerah endemis DBD Kota Surabaya dengan hasilρ value = 0,000. Dari 58 rumah responden diwilayah tersebut, 34 rumah memiliki kelembaban yang baik bagi
perkembangan vektor DBD yaitu antara 81,5% hingga 89,5%. Namun penelitian dengan hasil berbeda dikemukakan oleh Salawati4 yang menyatakan bahwa kondisi kelembaban tidak memiliki hubungan yang bermakna terhadap kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Srondol dengan hasil perhitungan nilai ρ value sebesar 0,483.
Kelembaban udara tidak berpengaruh langsung pada angka insiden DBD, tetapi berpengaruh pada umur nyamuk. Pada kelembaban udara yang rendah yaitu di bawah 60% terjadi penguapan air dari tubuh nyamuk sehingga dapat memperpendek umur nyamuk. dan
Kelembaban