Perbedaan Pengetahuan Tentang Pencegahan Penyakit Sekabies antara Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan pada Siswa Kelas 7 MTS
di Pondok Pesantren Madarijul Ulum Bandar Lampung
Agus Fathul Muin Farid1, Dyah Wulan2, Hendri Busman3, Fidha Rahmayani4
1Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2Bagian Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
3Bagian Biomedik, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
4Bagian Mata, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Ska bies a dalah penyakit kulit menular ya ng disebabkan oleh i nfestasi dan sensitisasi Sarcoptes scabiei va rian h omi ni s d a n produknya. Pa da ta hun 2014 di Provi nsi Lampung kasus skabies berjumlah 7960 ora ng, ya ng mengalami pening ka ta n d a ri ta hun 2012 ya ng berjumlah 2.941. Untuk menurunkan jumlah kasus s kabies dibutuhkan upaya pencegaha n ya i tu b eru pa promosi kesehatan. Tujuan dari penelitian ini ya itu mengetahui gambaran pengetahuan sebelu m d a n s esu da h p ro mos i kes ehatan s erta mengetahui perbedaan pengetahuan sebelum dan s esudah promosi kes eha ta n. D es ai n p enel iti a n i ni a da lah praeksperimental dengan one group pretest posttest design pa da 48 s iswa kelas 7 MTS. Penelitian dilakukan dengan ca ra pemberian kuesioner s ebelum dan sesudah promosi kesehatan. Promosi kesehatan dilakukan dengan metode ceramah ya ng di sampaikan oleh a hli. Data a nalisis s ecara u ni va ri a t da n bi va ri at m e ng gu na ka n u ji w i l coxon. N i l a i m edi a n pengetahuan sebelum intervensi a dalah 13 da n s esudah i ntervensi a dalah 16. Pa da uji wilcoxon didapatkan h a si l a na l i s is bi va riat dengan p value 0,000 (<0,001) ya ng menunjukan terdapat perbedaan pengetahuan antara s ebelum d a n s es uda h promosi kesehatan. Terdapat perbedaan pengetahuan tentang pencegahan penyakit skabies antara s ebelum dan s es uda h promosi kesehatan pada siswa kelas 7 MTS di Pondok Pesantren Ma darijul Ulum.
Kata Kunci: Pengetahuan, Promosi Kesehatan, Skabies.
The Difference of Knowledge about Disease Prevention Scabies between Before and After the Health Promotion In Grade 7 Mts
in Pondok Pesantren Madarijul Ulum Bandar Lampung
Abstract
Sca bies is askin disease caused by Sarcoptes scabiei i nfestations a nd s ensitizations va riants homini s a n d i ts p ro ducts . I n 2014, La mpung Provi nce cases scabies totaled 7960 people, which has i ncreased from the year 2012 whi ch to ta l ed 2.941.
To reduce the number of cases of s cabies needed prevention efforts are i n the form of health promotion. Th e p urp os e o f thi s research is know the description of knowledge before and after the promotion of health a nd know th e d i ff erence o f knowledge between before a nd a fter health promotion. This is praeksperimental research design with one g ro up p retes t pos ttest design on 48 s tudents in grade 7 MTS. The research done by means of the gift of the question before and after th e hea lth promotion. Health promotion is done by the method of l ectures delivered by th e exp erts . Th e da ta a na lys i s b y uni va riat a nd bivariat using wilcoxon test. The median va lue of the knowledg e b ef ore i nterven ti o n w a s 13 a n d a f ter i ntervention was 16. On the wilcoxon tests obtained the results of the analysis biva riat with p value 0,000 ( <0.001) th a t s hows there are differences between knowledge before and after the health promotion. There is a difference between th e knowledge of disease prevention s cabies between before a nd a fter the heal th p ro m oti on I n G ra de 7 MTS i n Po nd ok Pes a ntren Ma darijul Ulum.
Key Words: Hea lth Promotions, Knowledge, Scabies.
Korespondensi: Agus Fa thul Muin Farid, alamat Jl. Angkasa Raya 1 Perumahan Labuhan Alam Residence A11 La buhan R a tu Ba ndar Lampung, HP: 081271636807, e-ma il: [email protected]
Pendahuluan
Skabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya.1 Nama lain penyakit ini antara lain:
The itch, budukan, gudikan, gatal agogo, seven year itch, norwegian itch, penyakit ampera.
Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda,
kelas Arachnida, ordo Acarina, super famili Sarcoptes.2
Jumlah penderita skabies pada tahun 2011 di Indonesia sebesar 6.915.135 atau 2,9 % dari jumlah penduduk 238.452.952 jiwa. Pada tahun 2012 jumlah penderita skabies meningkat sebesar 3,6 % dari jumlah penduduk.3 Berdasarkan data dari Dinas
Kesehatan Provinsi Lampung tahun 2012, kasus skabies berjumlah 2941 orang. Pada tahun 2014, kasus skabies mengalami peningkatan menjadi 7960 orang.4
Penyakit skabies sering sekali ditemukan pada pondok pesantren. Kebanyakan santri yang terkena penyakit skabies adalah santri baru yang belum dapat beradaptasi dengan lingkungan. Sebagai santri baru yang belum tahu kehidupan di pondok pesantren, membuat mereka luput dari kesehatan, seperti kebiasaan mandi secara bersama-sama, saling tukar pakaian, handuk, bahkan bantal, guling, dan kasur kepada sesamanya, sehingga sangat memungkinkan terjadinya penularan penyaki t skabies.5 Pengetahuan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat terutama kebersihan perseorangan di pondok pesantren pada umumnya kurang baik.6
Sebagai salah satu upaya dalam menanggulanginya adalah dengan cara promosi kesehatan. Promosi kesehatan adal ah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, dan bersama masyarakat agar mereka dapat menolong dirinya sendiri serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.7 Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui apakah ada perbedaan pengetahuan tentang pencegahan penyakit skabies antara sebelum dan sesudah promosi kesehatan pada siswa kelas 7 MTs di Pondok Pesantren Madarijul Ulum Bandar Lampung.
Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode praeksperimental dengan one group pretest posttest design, yaitu rancangan yang tidak menggunakan kelompok kontrol, namun sudah dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan peneliti dapat menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah eksperimen (perlakuan) dan dilakukan observasi kedua (posttest).8
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas 7 MTs di Pondok Pesantren Madarijul Ulum
Bandar Lampung. Siswa kelas 7 terdiri dari 48 siswa yang merupakan gabungan dari kelas A dan B. Sampel minimal yang harus dipenuhi pada penelitian ini sebanyak 43 siswa.
Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuisioner tentang pencegahan penyakit skabies yang diisi oleh responden.
Kuisioner yang digunakan adalah kuesioner Rahmawati (2010), yang telah dimodifikasi oleh peneliti dan telah diuji validasi dan terdi ri dari 18 pertanyaan dengan 3 jawaban yang terdiri dari a, b, dan c serta setiap jawaban yang benar diberikan skor 1. Pada penelitian ini akan menggunakan alat dan media sebagai yaitu alat tulis, seperti buku, pulpen, komputer, dan proyektor. Uji statistik yang digunakan adalah uji T-berpasangan merupakan uji parametrik (distribusi data normal) yang digunakan untuk mencari hubungan dua variabel atau lebih bi l a datanya berbentuk skala numerik, namun bila distribusi data tidak normal dapat digunakan uji Wilcoxon. Adapun syarat untuk uji T- berpasangan yaitu data harus berdistribusi normal serta varians data boleh sama, boleh juga tidak sama.9,10
Hasil
Pondok Pesantren Madarijul Ulum adalah salah satu pondok pesantren di Bandar Lampung Pondok yang berdiri sejak tahun 1996. Pondok Pesantren ini menerapkan sistem pendidikan kolaborasi yaitu ilmu agama dan umum (Madrasah tsanawiyah dan Madrasah aliyah) yang dikelola secara mode rn dan berlokasi di Kecamatan Teluk Betung Utara, Bandar Lampung. Saat ini pondok pesantren ini memiliki 500 lebih santri, dan mempunyai 2 asrama, yaitu asrama putra dan putri yang terdiri dari 26 kamar dan setiap kamar terdidiri dari 12-20 santri.
Uji normalitas yang digunakan dalam analisis data adalah uji Shapiro-wilk karena sampel penelitian berjumlah 47 (kurang dari 50). Hasil uji normalitas meliputi pengetahuan sebelum dan sesudah promosi kesehatan. Data dikatakan normal apabila p> 0,05. Hasil dari uji normalitas data pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 1. Uji Normalitas Data
Variabel Nilai P
Sebelum Promosi Kesehatan
Pengetahuan sebelum 0,030
Sesudah Promosi Kesehatan
Pengetahuan sesudah 0,003
Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat bahwa kelompok data pengetahuan se belum promosi kesehatan (p<0,05), sehingga data tidak terdistribusi normal. Pada kelompok data pengetahuan sesudah promosi kesehatan (p<0,05), sehingga data tidak terdistribusi normal. Apabila data tidak terdistribusi normal maka dilakukan uji transformasi data.
Hasil perhitungan yang didapatkan pada variabel pengetahuan dinyatakan dalam nilai median, nilai minimum dan maksimum dikarenakan data tidak berdistribusi normal.
Untuk melihat nilai sebelum promosi kesehatan, dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 2. Nilai Pengetahuan Sebelum Promosi Kesehatan
Variabel Median SD Min Max
Pengetahuan Sebelum Promosi kesehatan 13,00 ±1,915 7 17 Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui
bahwa dari 47 responden didapatkan skor median pengetahuan sebelum diberikan promosi kesehatan sebesar 13 dengan simpangan baku sebesar ±1,915. Nilai terendah
yang diperoleh responden adalah 7 sedangkan nilai tertinggi adalah 17. Untuk melihat distribusi frekuensi sebelum promosi kesehatan dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Sebelum Promosi Kesehatan Nilai Frekuensi Persentase (%)
7 1 2.1
9 2 4.3
10 1 2.1
11 4 8.5
12 14 29.8
13 6 12.8
14 10 21.3
15 7 14.9
16 1 2.1
17 1 2.1
Total 47 100.0
Berdasarkan tabel 3, dapat diketahui bahwa yang memperoleh nilai terbesar sebanyak 1 siswa dan yang mendapat nilai terkecil juga sebanyak 1 siswa, serta sebagian
besar siswa mendapat nilai 12. Untuk melihat nilai pengetahuan sesudah promosi kesehatan dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 4. Nilai Pengetahuan Sesudah Promosi Kesehatan
Variabel Median SD Min Max
Pengetahuan Sebelum Promosi kesehatan 16,00 ±2,987 11 18 Berdasarkan Tabel 4, dapat diketahui
bahwa dari 47 responden didapatkan skor median pengetahuan sesudahdiberikan
promosi kesehatan sebesar 16 dengan simpangan baku sebesar ±2,987. Nilai terendah yang diperoleh responden adalah 11
sedangkan nilai tertinggi adalah 18. Untuk melihat distribusi frekuensi sebelum promosi
kesehatan dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Sesudah Promosi Kesehatan Nilai Frekuensi Persentase (%)
11 1 2.1
12 2 4.3
13 2 4.3
14 5 10.6
15 9 19.1
16 9 19.1
17 13 27.7
18 6 12.8
Total 47 100.0
Berdasarkan tabel 5, dapat diketahui bahwa yang memperoleh nilai terbesar sebanyak 6 siswa dan yang memperoleh nilai terkecil sebanyak 1 siswa, serta sebagian besar siswa mendapat nilai 17.
Saat dilakukan uji normalitas data menggunakan shapiro wilk data tidak terdistribusi dengan normal, meskipun sudah dilakukan transformasi data, sehingga, uji analisis yang digunakan adalah uji non- parametrik Wilcoxon (Dahlan, 2010).9 Hasil uji Wilcoxon tentang perbedaan pengetahuan tentang pencegahan penyakit skabies antara sebelum dan sesudah promosi kesehatan pada siswa kelas 7 MTS di Pondok Pesantren Madarijul Ulum, Bandar Lampung diperoleh p value 0,000 atau <0,001 (Hipotesis 2 arah) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna.
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan skor median pengetahuan sebelum dilakukan promosi kesehatan adalah sebesar 13 (SD ±1,915) dari nilai minimal 7 dan maksimal 17. Hal tersebut dikarenakan siswa belum pernah mendapatkan promosi kesehatan sejak awal masuk sekolah sampai saat ini, sehingga mereka belum mengetahui informasi tentang skabies, seperti definisi, gejala, perjalanan penyakit, faktor resiko, dan pencegahan skabies serta tata cara menjaga kebersihan diri, yang akan memungkinkan siswa beresiko terkena penyakit skabies. Hal tersebut se jalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saroh (2010) di Kota Tegal, dilaporkan bahwa sebagian besar siswa (61,8%) memiliki tingkat
pengetahuan yang kurang mengenai pencegahan skabies sebelum dilakukan intervensi. Menurut Notoatmodjo (2005), bahwa pengetahuan berhubungan dengan jumlah informasi yang dimiliki oleh se seorang dan apabila semakin banyak informasi yang dimiliki seseorang maka makin tinggi pula pengetahuan seseorang dan sebaliknya. Sesuai dari pernyataan tersebut, maka responden yang tidak diberi promosi kesehatan tidak terjadi peningkatan pengetahuan.11-12
Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan skor median pengetahuan sesudah dilakukan promosi kesehatan adalah sebesar 16 (SD ±2,987) dari nilai minimal 11 dan ma ks i ma l 18. Hasil tersebut didapat karena materi yang disampaikan dalam proses promosi kese hatan dengan metode ceramah yang dilakukan kepada siswa dapat dipahami oleh siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Susilowati (2008), menyatakan bahwa pengetahuan seseorang akan bertambah dengan diperolehnya informasi tentang objek tetentu dimana pengetahuan juga dapat diperoleh melelui media massa maupun lingkungan. Semakin meningkat pengetahuan siswa, maka siswa akan mampu mengenali masalah, dan faktor–faktor yang memengaruhi penyakit, sehingga siswa mampu melakukan suatu upaya untuk melakukan pencegahan terhadap suatu masalah atau penyakit.13
Berdasarkan pernyataan tersebut, maka siswa yang telah menerima promosi kesehatan dan yang mengalami peningkatan pengetahuan telah mampu mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit skabies. Hal te rse but memungkinkan siswa dapat melakukan
pencegahan terhadap penyakit skabies dan akhirnya terhindar dari penyakit skabies. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan ol eh Eko (2015), bahwa tingkat pengetahuan yang baik tidak dapat mempengaruhi kejadian penyakit skabies. Pengetahuan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti tingkat pendidikan, budaya, pengalaman dan sosial ekonomi.14
Nilai median pengetahuan siswa pada sebelum dan sesudah promosi kesehatan sebesar 13 menjadi 16, dengan demikian dapat diketahui bahwa pengetahuan responden menjadi lebih baik sesudah diberikan intervensi berupa promosi kesehatan. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa terjadi peningkatan tingkat pengetahuan tentang pencegahan penyakit skabies pada siswa ke l as 7 MTS di Pondok Pesantren Madarijul Ulum, Bandar Lampung setelah dilakukan intervensi berupa promosi kesehatan. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa sebelum pemberian promosi kesehatan, sebagian siswa memiliki tingkat pengetahuan yang rendah dibandingkan dengan setelah dilakukannya promosi kesehatan, hal tersebut disebabkan karena siswa belum pernah mendapatkan informasi mengenai skabies, sehingga me re ka kurang memahami definisi, gejala, faktor resiko, dan cara pencegahan skabies. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan ol eh Andayani (2005) di sebuah pesantren di Sumatra Utara, sebelum dilakukan intervensi, didapatkan bahwa siswa berpengetahuan bai k hanya 14% saja, sisanya didominasi siswa berpengetahuan cukup atau kurang (p<0,05).15
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui promosi kesehatan, pengalaman orang lain, media massa dan lingkungan. Promosi kesehatan adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu, dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut, maka masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pada akhirnya pengetahuan tersebut diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku para santri dalam upaya pencegahan penyakit skabies. Tujuan dari promosi kesehatan ini adalah agar masyarakat, kelompok atau individu dapat berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Promosi kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan
dengan memperhatikan pemilihan metode dan media yang digunakan, karena hal tersebut dapat memberikan efek yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan.16
Promosi kesehatan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan metode ceramah yang dibantu media penunjang berupa Liquid Crystal Display (LCD). Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Notoatmodjo (2007), penyuluhan dapat menggunakan media penunjang yaitu dengan media LCD dan leafl e t sehingga diharapkan hasil dari penyuluhan lebih maksimal, karena dengan tanya jawab dan ceramah yang ditunjang media LCD dan leaflet bukan hanya indera pendengaran saja, melainkan juga indera penglihatan yang digunakan responden untuk menerima informasi baru. Selain itu, responden juga berpartisipasi langsung dalam membentuk pengetahuannya sehingga bukan hanya sebagai penerima informasi yang pasif saja. Hal tersebut terbukti dalam penelitian ini, karena pada saat promosi kesehatan dilakukan, semua siswa antusias dalam proses promosi kesehatan seperti bertanya, dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh terhadap materi yang disampaikan. Hal tersebut memungkinkan terjadi peningkatan pengetahuan pada siswa kelas 7 MTS di Pondok Pesantren Madarijul Ulum, Bandar Lampung.17
Dari hasil analisis, nilai median pengetahuan tentang pencegahan penyakit skabies menunjukan adanya perbedaan yang bermakna p value (<0,001). Hal ini ditunjukan dengan adanya peningkatan skor pada kuesioner yang diberikan sesudah intervensi.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Krisnanda (2014), yang menunjukkan perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah promosi kesehatan tentang pencegahan skabies pada sebuah pesantren di Jakarta Timur (p value <0,001). 18
Adanya peningkatan pengetahuan siswa tersebut, diharapkan terjadi peningkatan juga terhadap upaya pencegahan skabies sehingga siswa di Pondok Pesantren Madarijul Ulum terhindar dari penyakit skabies karena sesuai dengan penelitian yang dilakukan Rohmawati (2010), bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan siswa dengan kejadian skabies dengan p value = 0,026. Sejalan dengan penelitian Muzakkir (2008), yang didapatkan adanya hubungan pengetahuan dengan
kejadian skabies di sebuah pesantren di Aceh p value (<0,001).19 Pada penelitian Aini (2013), di Malang juga didapatkan hubungan yang signifikan bahwa faktor risiko terbesar terjadinya skabies adalah pengetahuan yang kurang baik (PR = 6,148). Namun, hal tersebut tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arsa (2010), yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan siswa dengan tindakan pencegahan skabies (p = 0,534), karena pada penelitian Arsa (2010) yang lebih dominan dalam kejadian skabies adalah tindakan bu kan tingkat pengetahuan. Artinya peningkatan pengetahuan siswa tidak serta merta meningkatkan upaya santri untuk hidup bersih sehat dan mencegah terjadinya skabies.20
Menurut Azizah (2012), pada tingkat keeratan hubungan antara pengetahuan dengan perilaku yang sedang, menunjukan bahwa upaya memperbaiki perilaku dengan meningkatkan pengetahuan perlu dilakukan, walaupun hubungan yang terjadi berada pada tingkat sedang, tetapi keberartian hubungan yang diperoleh menunjukan bahwa perubahan perilaku dengan meningkatkan pengetahuan akan member hasil yang cukup berarti. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rogers (dalam Notoatmodjo, 1993) yang menyatakan bahwa pengetahuan/kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya perilaku, dan perilaku yang didasari pengetahuan akan bertahan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.21
Semakin meningkat pengetahuan siswa, maka siswa akan mampu mengenali masalah, dan faktor–faktor yang memengaruhi penyakit, sehingga siswa mampu melakukan suatu upaya untuk melakukan pencegahan terhadap suatu masalah atau penyakit.17 Berdasarkan pernyataan tersebut, maka siswa yang telah menerima promosi kesehatan dan yang mengalami peningkatan pengetahuan telah mampu mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit skabies. Hal te rse but memungkinkan siswa dapat melakukan pencegahan terhadap penyakit skabies dan akhirnya terhindar dari penyakit skabies. Hal ini sejalan .dengan penelitian yang dilakukan ol eh Eko (2015), bahwa tingkat pengetahuan yang baik tidak dapat mempengaruhi kejadian penyakit skabies. Pengetahuan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti tingkat
pendidikan, budaya, pengalaman dan sosial ekonomi.12
Simpulan
Kesimpulan penelitian ini adalah terdapatnya perbedaan pengetahuan tentang pencegahan penyakit skabies antara sebelum dan sesudah promosi kesehatan pada siswa kelas 7 MTs di Pondok Pesantren Madarijul Ulum, Bandar Lampung dan tingkat pengetahuan yang lebih baik setelah diberikan promosi kesehatan pada siswa kelas 7 MTs di Pondok Pesantren Madarijul Ulum, Bandar Lampung.
Daftar Pustaka
1. Siregar RS. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC; 2005.
2. Harahap M. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta:
Gramedia Pustaka; 2008.
3. Departemen Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depkes RI;
2012.
4. Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Data Jumlah Penyakit Provinsi Lampung Tahun 2014. Lampung: Dinkes Lampung; 2015.
5. Badri M. Hygiene Perseorangan Santri Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2008;17(2):2.
6. Departemen Kesehatan RI. Cegah dan Hilangkan Penyakit ‘Khas’ Pesantren.
Jakarta: Depkes RI; 2007.
7. Fitriani, Sinta. Promosi Kesehatan.
Yogyakarta: Graha Ilmu; 2011.
8. Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2012.
9. Rahmawati R. Hubungan Antara Fokus Pengetahuan dan Perilaku Dengan Kejadian Skabies di Pondok Pesantren Al - Muayyad Surakarta [skripsi]. Surakarta:
Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta;
2010.
10. Dahlan MS. Statistika Untuk Kedokteran dan Kesehata. Jakarta: Salemba Medika;
2010.
11. Saroh S. Gambaran Tingkat Pengetahuan Santri Putri Tentang Penyakit Kulit Skabies Di Pondok Pesantren Ma’haduttholabah Babakan Lebaksiu Kabupaten Tegal [Skripsi]. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; 2010.
12. Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta; 2005.
13. Susilowati. Informasi Sebagai Dasar Pengetahuan. Jakarta: Media sehat; 2012 [disitasi tanggal 2 Januari 2017]. Tersedia dari: http://mediasehatnews.com.
14. Eko V. Gambaran Faktor-faktor yang Menyebabkan Kejadian Skabies pada.
Santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Sain Med.
2005;7(2):46-51.
15. Andayani L. Perilaku Santri Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Skabies di Pondok Pesantren Ulumul Qur’an Stabat. Info Kesehatan Masyarakat. 2005;9(3):33-8.
16. Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta; 2005.
17. Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta; 2007.
18. Krisnanda A, Sungkar S. Pengaruh Penyuluhan Terhadap Tingkat Pengetahuan Santri Pesantren X Jakarta Timur Mengenai Pencegahan Skabies
[Skripsi]. Jakarta: Universitas Indonesia;
2014.
19. Muzakir. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Skabies pada Pesantren Di Kabupaten Aceh Besar [Tesis]. Medan:
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara; 2008.
20. Aini Z. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Personal Hygiene Tehadap Kemampuan Pencegahan Penularan Skabies Pada Siswa Di Asrama 8 Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah yogyakarta [Skripsi].
Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
‘Aisyiyah; 2008.
21. Azizah U. Hubungan Antara Pengetahuan Santri Tentang PHBS dan Peran Ustadz Dalam Mencegah Penyakit Skabies Dengan Perilaku Pencegahan Penyakit Skabies Pada Santri di Pondok Pesantren Al-Falah Kecamatan Silo Kabupaten Jember [Skripsi]. Jember: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember; 2012.