• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI NASIONAL KEUANGAN INKLUSIF

N/A
N/A
Ayu Made Krisna Dewi

Academic year: 2023

Membagikan "STRATEGI NASIONAL KEUANGAN INKLUSIF"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

SNKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, berfungsi sebagai:. pedoman bagi menteri dan pimpinan lembaga dalam penetapan kebijakan sektoral terkait SNKI yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis di bidang tugasnya masing-masing sebagai bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional; dan B. pedoman bagi gubernur dan bupati/walikota. menetapkan kebijakan daerah terkait SNKI di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Dalam melaksanakan tugasnya, Dewan Nasional dapat melibatkan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, badan usaha, dan pihak lain jika diperlukan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian Dewan Nasional melaporkan secara berkala setiap 6 (enam) bulan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Presiden atau sewaktu-waktu apabila diperlukan.

Mekanisme dan tata kerja Dewan Nasional diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku ketua harian Dewan Nasional. Keuangan inklusif merupakan elemen penting dalam proses inklusi sosial dan ekonomi, yang berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan stabilitas sistem keuangan, mendukung program pengentasan kemiskinan dan mengurangi kesenjangan antar individu dan antar daerah. Sistem keuangan inklusif dicapai melalui akses masyarakat terhadap layanan keuangan sehingga dapat membangun kapasitas perekonomian dan pada akhirnya membuka jalan keluar dari kemiskinan dan mengurangi kesenjangan ekonomi.

Untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan, diperlukan strategi inklusi keuangan nasional di Indonesia. Untuk mencapai tujuan inklusi keuangan yaitu 75% (tujuh puluh lima persen) penduduk dewasa yang mempunyai akses terhadap layanan keuangan pada lembaga keuangan formal, pada akhir tahun 2019 dilaksanakan penerapan Strategi Nasional Inklusi Keuangan terpadu. diperlukan.

Definisi Keuangan Inklusif

STR A T E G I N A S O N A L K E U A N G A N I N C L U S I F 9 Perluasan akses keuangan dan pendalaman sektor keuangan serta stabilitas sistem keuangan dalam negeri harus dilakukan untuk mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi. Upaya perluasan akses masyarakat terhadap jasa keuangan dalam RPJMN 2015–2019 yang merupakan penjabaran dari Nawa Cita bertujuan untuk mewujudkan kemandirian perekonomian dengan menggerakkan sektor-sektor strategis perekonomian dalam negeri. Tujuannya adalah untuk meningkatkan akses masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terhadap layanan keuangan formal dalam kerangka pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.

Strategi ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi kementerian/lembaga, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan instansi terkait lainnya untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan melalui kegiatan masing-masing secara bersama dan terpadu. Pelayanan keuangan yang diberikan harus dapat diterima oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhannya dan mudah diakses dari segi kebutuhan dan pelayanannya. Selain itu, layanan keuangan yang aman dimaksudkan untuk melindungi hak dan kewajiban masyarakat terhadap risiko yang mungkin timbul.

Visi dan Misi Keuangan Inklusif 1. Visi

Mengidentifikasi solusi terhadap permasalahan yang menghambat perluasan akses seluruh lapisan masyarakat terhadap layanan keuangan dan peluang kegiatan ekonomi produktif dengan mempertimbangkan praktik terbaik dan pengalaman dari sumber nasional dan internasional. Upaya yang harmonis dan terkoordinasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan di sektor publik, swasta, dan masyarakat. Inovasi: mendorong inovasi teknologi dan kelembagaan sebagai sarana memperluas akses dan penggunaan sistem keuangan.

Kolaborasi: memperkuat koordinasi dan mendorong kemitraan antara seluruh aktor di sektor publik, swasta, dan masyarakat. Pengetahuan: pemanfaatan data dan informasi dalam penyusunan dan pengembangan kebijakan, serta pengukuran keberhasilan yang dilakukan oleh regulator dan penyedia jasa keuangan. Kerangka: mempertimbangkan kerangka peraturan yang mencerminkan standar internasional, kondisi nasional dan dukungan terhadap sistem keuangan yang kompetitif.

Sasaran Masyarakat

Proporsionalitas: menetapkan kerangka kebijakan dan peraturan yang secara proporsional mempertimbangkan aspek risiko dan manfaat dari inovasi produk dan layanan keuangan. INKLUSI STRATEGIS 13 Masyarakat berpendapatan rendah merupakan 40% (empat puluh persen) dari kelompok masyarakat berpendapatan terendah berdasarkan Basis Data Terpadu yang bersumber dari hasil kegiatan pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) yang dilakukan oleh Pusat. Badan Statistik. Kelompok ini memiliki akses yang terbatas atau tidak sama sekali terhadap semua jenis layanan keuangan, termasuk masyarakat penerima bantuan sosial, program pemberdayaan masyarakat, dan pengusaha yang memiliki sumber daya terbatas untuk mengembangkan usahanya.

Sedangkan pelaku usaha mikro dan kecil adalah pelaku usaha sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Kelompok ini memiliki akses terbatas terhadap layanan keuangan formal untuk mendukung tahap migrasi (sebelum, selama dan setelah migrasi). Berdasarkan data Global Findex tahun 2014, hanya 37,5% (tiga puluh tujuh koma lima persen) perempuan Indonesia yang memiliki rekening di lembaga keuangan formal.

Kelompok ini antara lain mencakup anak-anak terlantar, penyandang disabilitas berat, lansia, mantan narapidana, dan mantan pelacur. Komunitas ini tinggal di wilayah yang relatif tertinggal dibandingkan wilayah lain dalam skala nasional ditinjau dari kriteria perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, infrastruktur, kemampuan keuangan daerah, aksesibilitas dan karakteristik wilayah. Jumlah pelajar, pelajar, dan kelompok pemuda diperkirakan mencapai 106,8 juta orang atau 41,87% (empat puluh satu koma delapan tujuh persen) dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015.

Masyarakat Indonesia mempunyai kebutuhan yang besar terhadap jasa keuangan, terutama yang berkaitan dengan jasa keuangan dasar yang meliputi transaksi pembayaran non-tunai, tabungan, pinjaman/pembiayaan, remitansi, dan asuransi. Jasa keuangan saat ini masih didominasi oleh bank sebagai lembaga yang menyediakan jasa keuangan dan pembayaran. Dalam meningkatkan inklusi keuangan, selain tingkat pendidikan keuangan yang relatif rendah, juga terdapat tantangan dari sisi supply dan demand terhadap jasa keuangan.

Akses kepada Produk Layanan Keuangan

Selain itu, perbedaan proporsi laki-laki dan perempuan yang memiliki rekening juga menjadi permasalahan. Dari total penduduk perempuan dewasa di Indonesia, hanya 37,5% (tiga puluh lima persen) perempuan yang memiliki akun. Dibandingkan dengan banyak negara lain, akses terhadap simpanan dan pinjaman dari lembaga keuangan di Indonesia tergolong moderat, namun kepemilikan rekening di lembaga keuangan relatif rendah.

Akses keuangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dapat dimulai dari penggunaan uang elektronik untuk memudahkan transaksi pembayaran dan belajar mengelola keuangan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, terdapat peningkatan kebutuhan untuk menabung pada tabungan bank, serta kebutuhan yang lebih luas terhadap produk dan layanan keuangan lainnya. Berdasarkan data Global Findex tahun 2014, sekitar 69,3% (enam puluh sembilan koma tiga persen) penduduk dewasa di Indonesia terlayani layanan tabungan dan memiliki tabungan dalam berbagai bentuk.

Namun hanya sekitar 26,6% (dua puluh enam koma enam persen) yang memiliki rekening tabungan pada lembaga keuangan formal. Sisanya mempunyai simpanan dalam skema informal, seperti simpanan pada kelompok simpanan atau dititipkan kepada orang lain di luar keluarga. Sumber: Global Findex Database 2014 Sumber: Global Findex Database 2014. dua puluh dua koma enam persen) dihemat untuk pertanian atau bisnis.

Artinya dari setiap 100 (seratus) penduduk Indonesia, hanya terdapat 18 (delapan belas) orang yang memahami asuransi. Rendahnya indeks edukasi asuransi berdampak pada rendahnya pemanfaatan produk dan layanan asuransi oleh masyarakat yang saat ini hanya mencapai 11,81% (sebelas koma delapan puluh satu persen). Artinya dari setiap 100 (seratus) penduduk Indonesia, hanya terdapat 12 (dua belas) orang yang menggunakan produk dan jasa asuransi.

Sekitar 17,9% (tujuh belas koma sembilan persen) dan 31% (tiga puluh satu persen) penduduk dewasa di Indonesia telah mengirim dan menerima remitansi.

Lembaga Keuangan

Lembaga Penyedia Jasa Pembayaran

Kebijakan fiskal inklusif merupakan pilar dan landasan SNKI serta indikator keuangan inklusif yang didukung oleh koordinasi antar kementerian/lembaga atau lembaga terkait dan dilengkapi dengan tindakan keuangan inklusif.

Pilar dan Fondasi SNKI 1. Pilar Edukasi Keuangan

Keberagaman pelaku di bidang inklusi keuangan memerlukan organisasi dan mekanisme yang mampu mendorong pelaksanaan berbagai kegiatan secara bersama-sama dan terintegrasi.

Gambar 3.1  Pilar dan Fondasi SNKI
Gambar 3.1 Pilar dan Fondasi SNKI

Target dan Indikator Keuangan Inklusif

Upaya mencapai tujuan utama keuangan inklusif nasional merupakan tanggung jawab bersama seluruh kementerian/lembaga terkait dan dilaksanakan sesuai kewenangan masing-masing. Pembentukan Dewan Nasional Keuangan Inklusif merupakan implementasi dari landasan organisasi dan mekanisme pelaksanaan yang efektif dalam SNKI.

Aksi Keuangan Inklusif 1. Edukasi Keuangan

Edukasi keuangan inklusif bagi pemerintah daerah, dengan tujuan memberikan pengetahuan keuangan inklusif kepada pemerintah daerah. Pengembangan sistem informasi berupa website, mini-site dan aplikasi smartphone yang ditujukan untuk menyediakan informasi dan pengetahuan keuangan, serta produk dan layanan keuangan. Gerakan Nasional Menabung (GNM) bertujuan untuk meningkatkan budaya menabung agar kita dapat mengendalikan diri dengan sikap konsumeris dan membelanjakan uang dengan bijak.

Gerakan Nasional Cinta Kasih (Genta) Pasar Modal bertujuan untuk membantu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap investasi pasar modal. Gerakan pencatatan transaksi keuangan nasional bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) mengenai pencatatan administrasi dan transaksi keuangan yang baik. Tabungan pelajar yang diterbitkan secara nasional oleh bank-bank di Indonesia dengan persyaratan mudah dan sederhana serta fitur menarik terkait pendidikan dan inklusi keuangan untuk mendorong budaya menabung sejak dini.

Merupakan layanan terpadu dengan proses sederhana, cepat, akses mudah dan harga terjangkau yang terdiri dari layanan tabungan, investasi, pembiayaan dan reksa dana (SiPINTAR), produk dan layanan keuangan mikro, serta layanan pendidikan dan konsultasi bagi masyarakat. SBN Ritel bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada investor kecil untuk berinvestasi pada instrumen pasar modal yang aman dan menguntungkan. Berbagai program perlindungan konsumen telah dilaksanakan oleh kementerian/lembaga dengan tujuan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam melakukan aktivitas di sektor keuangan.

Pembentukan Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa (LAPS) sebagai wadah penyelesaian sengketa konsumen dan lembaga jasa keuangan di sektornya masing-masing yang memenuhi prinsip aksesibilitas, independensi, keadilan, efisiensi dan efektivitas serta diawasi oleh regulator. Kegiatan ini merupakan upaya deteksi dini yang bertujuan untuk mengidentifikasi praktik bisnis Pelaku Usaha Jasa Keuangan (FSBA) yang berpotensi merugikan konsumen melalui kegiatan pengawasan tematik dan intelijen pasar. Infrastruktur keuangan dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang kuat, aman, efisien dan memiliki jangkauan yang luas akan sangat efektif dalam menyediakan produk dan layanan keuangan secara lebih berkeadilan.

Infrastruktur utama sistem pembayaran perlu dibangun dan dimodernisasi untuk memungkinkan penggunaan jasa keuangan secara efisien. Infrastruktur tambahan perlu dirancang dan dioperasikan secara efektif untuk mendukung upaya inklusi keuangan dengan menyediakan informasi penting kepada penyedia layanan keuangan untuk mengurangi asimetri informasi. Mendorong Industri Jasa Keuangan (FSI) untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, pelayanan nasabah dan tata kelola;

YEAR 2016 CONCERNING

SUSUNAN KEANGGOTAAN

DEWAN NASIONAL KEUANGAN INKLUSIF

A guide for ministers and heads of institutions in the formulation of sectoral policies related to SNKI, materialized in strategic plan documents in their respective fields, as part of the National Medium-Term Development Plan (RPJMN); and. A guide for governors and regents/mayors in formulating regional policies related to SNKI at provincial and regency/municipal level. Pursuant to the SNKI referred to in Article 1, the National Council of Inclusive Finance is established, which will be referred to as the National Council in the following.

KELOMPOK KERJA

Gambar

Gambar 3.1  Pilar dan Fondasi SNKI

Referensi

Dokumen terkait

Strategi keuangan inklusif mencakup semua orang yang berada di luar sistem keuangan, termasuk mereka yang bukan miskin ( non-poor ), yang meski pun memiliki peluang akses lebih besar,

Hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis di Kantor Otoritas Jasa Keuangan Solo, berikut adalah Prosedur Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif

Nayamaura Nuansa Putri, D1514068, “PROSEDUR PELAKSANAAN LAYANAN KEUANGAN TANPA KANTOR DALAM RANGKA KEUANGAN INKLUSIF (LAKU PANDAI) DI KANTOR OTORITAS JASA KEUANGAN

2018: Pernah menggunakan produk dan layanan keuangan formal (Pada grafik: Persentase orang dewasa, N=6,695).. PENGGUNAAN

Menurut World Bank (2012) Inklusi Keuangan merupakan akses bagi semua orang, ataupun bisnis agar bisa menggunakan manfaat dari produk atau layanan keuangan yang

Akun atau Rekening adalah pencatatan transaksi keuangan nasabah atau konsumen yang dapat berupa debit atau kredit dan tercatat pada Lembaga Keuangan Formal

Pelaksanaan program keuangan inklusif membutuhkan dukungan kebijakan baik oleh pemerintah maupun Bank Indonesia guna meningkatkan akses akan layanan jasa keuangan.

Tolok ukur masyarakat yang terakses dengan produk atau layanan jasa keuangan adalah literasi keuangan, dan inklusi merupakan keberhasilan dalam akses terhadap produk atau layanan jasa