Obat pada Pasien Laki -laki Usia 32 Tahun
Skizofrenia Paranoid dengan Riwayat Putus Obat pada Pasien Laki-laki Usia 32 Tahun
Fadiah Eryuda1, Cahyaningsih Fibri Rokhmani2, Riyan Wahyudo3
1Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2Ilmu Kesehatan Jiwa, Rumah Sakit Jiwa, Provinsi Lampung
3Bagian Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Ski zofrenia merupakan gangguan pada proses pikir serta disharmonisasi antara proses pikir, a fek atau emosi, kemauan d a n ps i komotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi, assosiasi terbagi - ba gi s ehi ng ga m u ncul i nkoherensi, a fek dan emosi inadekuat, serta psikomotor ya ng menunjukkan penarikan diri, ambivalensi dan perilaku bi z a r ya ng berlangsung selama minimal 6 bulan dan mencakup setidaknya 1 bulan gejala fase a ktif. Jenis skiz ofreni a te rba nya k ya ng pernah terjadi terdapat pada s kizofrenia paranoid, ya itu sebanyak 40,8%. Tn. A da tang dengan gelisah kare na s eri ng mendengar bisikan bisikan memanggil namanya, pasien s elalu merasa dirinya diawasi oleh ayahnya ya ng sudah meni n gg a l da n terkadang a rwah kakeknya ya ng sudah meninggal bisa masuk kedalam tubuh pasien, pasien juga menga ta ka n b a hwa pa s ien merasa dirinya paling hebat diantara yang l ain dan orang lain tidak m em i li ki k ek ua ta n s ep erti di ri n ya , s eti a p menonton tv s eolah olah tv tersebut ta u dan menyiarkan a pa ya ng ada dalam pikiran pasien . Pa si en p utus o ba t s eja k 1 ta hun ya ng lalu. Pasien didiagnosis s kizofrenia paranoid dan diberikan terapi psikofarmaka, psikoterapi, psikoedukasi.
Kata kunci: oba t, paranoid, skizofrenia.
Paranoid Schizophrenia with a History of Drug Withdrawal in 32-year-old Male Patients
Abstract
Schi zophrenia is a disorder of the thought process and disharmony between the th ou gh t p roces s , a f f ect o r e moti o n, vol i tion and psychomotor a ccompanied by distortion of reality, especi al l y b eca us e o f d el us io ns a n d h a ll uci na ti ons , fra gmented a ssociations s o that incoherence, inadequate and p s ych om otor a f fect a nd e m oti on s how w i thd ra wa l , a mbivalence and bizarre behavi or that lasts for a t least 6 months and includes at l east 1 month of active phase s ymptom s . The most type of schizophrenia that ever happened is i n paranoid s chizophrenia, which is a s much as 40.8%. Mr. A co m e s a nxi ously because he often hears whispers whispering to his name, the patient always feels himself being wa tched b y h i s deceased father a nd sometimes the s pirit of his deceased grandfather ca n enter the patient's body, the pati en t a l so s a ys tha t the patient feels himself the best among others and others not having the s trength like him, every ti me watching tv a s i f the tv knows and broadcasts what is i n the mind of the patient. Pa tients drop out of medication since 1 year a go. Pa tients a re diagnosed with paranoid s chizophrenia and given psychopharmaceutical therapy, ps ychotherapy, psychoeducation.
Key word: drug, pa ranoid, skizofrenia.
Korespondensi: Fa diah Eryuda, alamat Jl . Agung VI no 8 Perumnas Way Halim Bandar Lampung, HP: 081278089142, e-ma il: [email protected].
Pendahuluan
Skizofrenia merupakan gangguan pada proses pikir serta disharmonisasi antara proses pikir, afek atau emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi, assosiasi terbagi-bagi sehingga muncul inkoherensi, afek dan emosi inadekuat, serta psikomotor yang menunjukkan penarikan diri , ambivalensi dan perilaku bizar. Skizofrenia adalah gangguan yang berlangsung selama minimal 6 bulan dan mencakup setidaknya 1 bulan gejala fase aktif.1,2 Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering dan gejalanya biasa muncul pada usia remaja akhir atau dewasa muda. Skizofrenia
lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. (elvira) Kejadian pada pria 1,4%
lebih besar dari pada wanita dan hampir sekitar 70% pasien yang dirawat di bagian psikiatri adalah skizofrenia.3
Skizofrenia paranoid merupakan salah satu tipe dari enam jenis skizofrenia dalam pedoman penggolongan diagnosis gangguan jiwa III (PPDGJ-III) diberi kode diagnosis F20.0.
Skizofrenia paranoid merupakan gangguan psikotik yang merusak yang dapat melibatkan gangguan yang khas dalam berpikir (delusi), persepsi (halusinasi), berbicara, emosi dan perilaku. Keyakinan irasional bahwa dirinya seorang yang penting atau isi pikiran yang menunjukkan kecurigaan tanpa sebab yang
Obat pada Pasien Laki -laki Usia 32 Tahun
jelas, seperti bahwa orang lain bermaksud buruk atau bermaksud mencelakainya. Para penderita skizofrenia tipe paranoid secara mencolok tampak berbeda karena delusi dan halusinasinya, sementara keterampilan kognitif dan afek mereka relatif utuh. Me re ka pada umumnya tidak mengalami disorganisasi dalam berbicara atau afek datar. Mereka biasanya memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan penderita tipe skizofrenia lainnya.4
Jenis skizofrenia terbanyak yang pernah terjadi terdapat pada skizofrenia paranoid, yaitu sebanyak 40,8%, skizofrenia hebrefenik sebanyak 12%, skizofrenia katatonik sebanyak 3,5%, skizofrenia tak terinci sebanyak 2,1%, skizofrenia lainnya sebanyak 1,4%, dan yang paling sedikit yaitu skizofrenia simpleks sebanyak 0,7%.5 Berdasarkan PPDGJ-III untuk mendiagnosis skizofrenia paranoid harus memenuhi kriteria diagnosis skizofrenia dan sebagai tambahannya terdapat: Halusinasi dan atau waham harus menonjol, suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling), mendengung (humming) atau bunyi tawa (laughing). Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual , atau lain-lain, perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.
Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence) atau passivity (delussion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas. Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata/
tidak menonjol. Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. 6
Kasus
Tn. A , laki-laki, 32 tahun datang ke Uni t Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Lampung dibawa oleh adiknya karena gelisah karena sering mendengar bisikan bisikan memanggil namanya. Menurut pasien, bila pasien mendengar bisikan tersebut, pasien menjadi gelisah, takut, dan kesal.
Pasien bisa membanting barang seperti hp, remot tv, tetapi tidak untuk barang barang
yang besar seperti tv, meja, dll. Pasien gelisah karena seringkali mendapat bisikan-bisikan yang memanggil nama pasien sehingga membuat pasien kesal. Bisikan biasanya muncul pada saat pasien sedang mandi.
Menurut pasien, pasien mendengar bisikan- bisikan tersebut. Menurut pasien, pasien sudah pernah dirawat sembilan kali di RSJ ini dengan keluhan yang sama sejak tahun 2004.
Pasien mengatakan bahwa pasien tidak meminum obat sesuai anjuran seperti mi num hanya sekali dalam sehari yang seharusnya dua kali. Menurut pasien, pasien selalu merasa dirinya diawasi oleh ayahnya yang sudah meninggal. Pasien juga mengatakan bahwa terkadang arwah kakeknya yang sudah meninggal bisa masuk kedalam tubuh pasi en.
Jika pasien sedang kumat, pasien mengatakan bahwa pasien merasa dirinya paling hebat diantara yang lain dan orang lain tidak memiliki kekuatan seperti dirinya. Pasien juga mengatakan setiap menonton tv, seolah olah tv tersebut tau dan menyiarkan apa yang ada dalam pikiran pasien sehingga pasien tidak suka menonton tv lagi. Menurut keluarga pasien, pasien tidak pernah menyakiti orang lain ataupun menyakiti diri sendiri.
Pasien kontrol ke poliklinik dan rutin mengambil obat, namun tidak meminum obat sesuai anjuran, dan setahun terakhir pasien putus obat dengan alasan jarak dari rumah ke RSJ yang jauh sehingga tidak bisa mengambil obat. Pasien sudah menikah dengan seorang janda beranak 1, dan memiliki anak perempuan satu yang berusia dua tahun.
Pasien pisah rumah dengan istri dan anak dikarenakan sakit yang diderita pasien, akhirnya pasien tinggal sendiri dirumah.
Kehidupan ekonomi di dalam keluarga kurang.
Pasien merupakan tulang punggung keluarga dan sekarang sedang tidak bekerja.
Pada status Psikiatri diperoleh kesadaran compos mentis, sikap koperatif, penampilan rapi dan sesuai usia, prilaku dan psikomotor saat wawancara tenang, kontak mata baik, duduk tegak, sesekali mengerakan tangan, bicara spontan, mimik wajah normal, artikulasi jelas, volume cukup, amplitudo dan kualitas baik, kuantitas cukup,, mood disfori, afek menyempit, keserasian serasi. Terdapat halusinasi auditorik dan visual, arus pikir didapatkan waham rujukan (+), waham kebesaran (+), waham siar (+), dan waham bizzare (+). Pengetahuan dan kecerdasan
Obat pada Pasien Laki -laki Usia 32 Tahun
sesuai taraf pendidikan. Daya konsentrasi cukup, memori baik. Orientasi tempat, waktu dan orang baik. Pikiran abstrak baik. Daya nilai baik, tilikan 1, Reality Testing of Ability (RTA) terganggu. Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan psi kiatri , maka pada pasien ini dapat ditegakkan diagnosa Skizofrenia Paranoid. Kemudian pasien ini ditatalaksana dengan medikamentosa berupa Resperidon 2x2mg, psikoterapi edukasi dan psikoterapi suportif terhadap pasien dan keluarga, rehabilitasi sesuai bakat dan minat pasien.
Pembahasan
Pada pasien ini mengalami gangguan jiwa karena ditemukan adanya gangguan persepsi dan isi pikir berupa waham yang bermakna serta menimbulkan suatu disability (hendaya) dalam pekerjaan dan kehidupan sosial pasien, sesuai dengan pengertian gangguan jiwa. Pada pasien didapatkan adanya halusinasi auditorik, halusinasi vi sual, waham kebesaran, waham rujukan, waham siar dan waham bizzare sehingga didapatkan diagnosis Skizofrenia Paranoid.
Skizofrenia menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ III, 2001) adalah suatu sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik dan budaya. Skizofrenia merupakan satu gangguan psikotik yang kronik, sering mereda, namun hilang timbul dengan manifestasi klinik yang amat luas variasinya. penyesuaian pramorbid, gejala dan perjalanan penyakit yang amat bervariasi. 7
Pedoman diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan PPDGJ III yang berpedoman pada DSM-IV. Persyaratan yang normal untuk diagnosis skizofrenia ialah harus ada sedikitnya satu gejala tersebut di bawah yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebi h apabila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) dari gejala yang termasuk salah satu dari kelompok gejala (a) sampai (d) tersebut di bawah, atau paling sedikit dua gejala dari kelompok (e) sampai (h), yang harus selalu ada secara jelas selama kurun waktu 1 bulan atau lebih.8
(a) ‘thought echo’, ‘thought insertion atau withdrawal’, dan ‘thought broadcasting’
(b) Waham dikendalikan (delusion of control), waham dipengaruhi (delusion of influence), atau passivity yang jelas merujuk kepada pergerakan tubuh atau pergerakan anggota gerak, atau pikiran, perbuatan atau perasaan (sensations) khusus : persepsi delusional
(c) Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri, atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh
(d) Waham-waham menetap jenis lain yang menurut budayanya dianggap tidak wajar serta sama sekali mustahil, seperti misalnya mengenai identitas keagamaan atau politik, atau kekuatan dan kemampuan ‘manusia super’ (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain)
(e) Halusinasi yang menetap dalam setiap modalitas, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang/melayang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan- bulan terus menerus
(f) Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan (interpolasi) yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme (g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh
gelisah (excitement), sikap tubuh tertentu (posturing), atu fleksibilitas serea, negativisme, mutisme dan stupor
(h) Gejala-gejala negatif seperti sikap sangat masa bodoh (apatis), pembicaraan yang terhenti, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika
(i) Suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku perorangan, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, tak bertujuan, sikap malas, sikap berdiam
Obat pada Pasien Laki -laki Usia 32 Tahun
diri (self absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial.
Skizofrenia paranoid adalah jenis skizofrenia yang paling sering dijumpai di negara manapun. Simptom utama dari skizofrenia paranoid adalah delusi persecusion dan grandeur, dimana individu merasa dikejar- kejar. Gambaran klinis di dominasi oleh waham-waham yang secara relatif stabil, sering kali bersifat paranoid, biasanya disertai oleh halusinasi-halusinasi, terutama halusinasi pendengaran, dan gangguan-gangguan persepsi. Gangguan afektif, dorongan kehendak (volition) dan pembicaraan serta gejala-gejala katatonik tidak menonjol.9,10
Gangguan Skizofrenia Paranoid (F20.0) ditegakkan apabila memenuhi kriteria umum skizofrenia dan didapatkan gejala tambahan seperti: Halusinasi dan atau waham harus menonjol; Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing);
Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atu lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tapi jarang menonjol; Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau
“passivity”(delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas. Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol. 9,10
Pada kasus ini penegakan diagnosis aksis I berdasarkan anamnesis dari pasien dan keluarga, didapatkan halusinasi auditorik, halusinasi visual, waham kebesaran, waham rujukan, waham siar dan waham bizzare.
Aksis II tidak ada diagnosis dikarenakan pada pasien didapatkan tumbuh kembang saat masa kanak-kanak baik, pasien dapat bergaul dilingkungan dengan baik dan mempunyai banyak teman. Pada pasien ini tidak ditemukan adanya kelainan fisik sehingga belum ada diagnosis pada aksis III. Pasien memiliki masalah ekonomi, dan pasien juga memiliki masalah keluarga dikarenakan pasien pisah rumah dengan istri dan anaknya. Pasi e n juga memiliki riwayat putus obat sejak 1 tahun yang lalu, sehingga aksis IV dapat ditentukan .
Penilaian terhadap kemampuan pasien untuk berfungsi dalam kehidupannya menggunakan GAF (Global Assesment of Functioning) Scale.
Menurut PPDGJ III, pada aksis V didapatkan GAF saat dirawat (GAF current) 60-51.
Pada pasien ini diberikan pengobatan berupa Risperidone (2x2mg). Risperidone termasuk antipsikotik turunan benzisoxazole.
Risperidone merupakan antagonis monoaminergik selektif dengan afinitas tinggi terhadap reseptor serotonergik 5-HT2 dan dopaminergik D2. Risperidone berikatan dengan reseptor α1-adrenergik. Risperidone tidak memiliki afinitas terhadap reseptor kolinergik. Meskipun risperidone merupakan antagonis D2 kuat, dimana dapat memperbaiki gejala positif skizofrenia, hal tersebut menyebabkan berkurangnya depre si aktivitas motorik dan induksi katalepsi dibanding neuroleptik klasik. Antagonisme serotonin dan dopamin sentral yang seimbang dapat mengurangi kecenderungan timbulnya efek samping ekstrapiramidal, dia memperluas aktivitas terapeutik terhadap gejala negatif dan afektif dari skizofrenia.
Dosis anjurannya adalah 2-6 mg/hari.11
Selain diberikan obat-obat terapi medikamentosa pasien juga diberikan terapi nonmedikamentosa yang terdiri dari psikoterapi dan psikoedukasi yang dilakukan setelah pasien tenang dengan pemberian dukungan pada pasien dan keluarga agar mempercepat penyembuhan pasien dan diperlukan rehabilitasi yang disesuaikan dengan psikiatrik serta minat dan bakat penderita sehingga bisa dipilih metode yang sesuai untuk pasien tersebut.3
Simpulan
Skizofrenia paranoid merupakan gangguan psikotik yang merusak yang dapat melibatkan gangguan yang khas dalam berpikir (delusi), persepsi (halusinasi), berbicara, emosi dan perilaku. Keyakinan irasional bahwa dirinya seorang yang penting atau isi pikiran yang menunjukkan kecuri gaan tanpa sebab yang jelas, seperti bahwa orang lain bermaksud buruk atau bermaksud mencelakainya. Pada pasien didapatkan adanya halusinasi auditorik, halusinasi vi sual, waham kebesaran, waham rujukan, waham siar dan waham bizzare sehingga didapatkan diagnosis Skizofrenia Paranoid. Pasien memiliki masalah ekonomi, dan pasien juga
Obat pada Pasien Laki -laki Usia 32 Tahun
memiliki masalah keluarga dikarenakan pasien pisah rumah dengan istri dan anaknya. Pasi e n juga memiliki riwayat putus obat sejak 1 tahun yang lalu, sehingga aksis IV dapat ditentukan . Pasien diberikan terapi berupa psikofarmaka, psikoterapi, dan psikoedukasi.
Daftar Pustaka
1. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku ajar psikiatri. Edisi ke-2.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2013.
2. Maramis WF. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Surabaya: Airlangga University Press; 2009.
3. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & sadock's synopsis of psychiatry: behavioral sciences/clinical psychiatry. Edisi ke-10.
Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins; 2010.
4. Durand VM, David HB. Essential of abnormal psychology. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar; 2007.
5. Jarut YM, Fatimawali, Wiyono WI.
Tinjauan penggunaan antipsikotik pada pengobatan skizofrenia di rumah sakit prof.dr.v.l. ratumbuysang manado periode januari 2013-maret 2013. J Ilmiah Farm. 2013;2(3):54-7.
6. Katona, Cornelius D, Mary R. Psychiatry at a Glance. Edisi ke-3. London: Blackwall Publishing; 2005.
7. Kaplan HI and Sadock BJ. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis.
Jilid satu. Jakarta; Binapura Aksara Publisher; 2010.
8. Muslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik (Psychotropicmedication). Edisi ke-3.
Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya; 2007.
9. Tandon R, Nasrallah HA, Keshavan MS.
Schizophrenia: clinical features and conceptualization. Schizophr. 2009;110:1- 23.
10. Abidi S. Psychosis in children and youth:
focus on early onset schizophrenia.
Pediatr Rev. 2013;34(7):296-305.
11. Maslim, R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa PPDGJ-III. Jakarta: Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya; 2001.