• Tidak ada hasil yang ditemukan

2291 3011 1 PB Jurnal Indonesia

N/A
N/A
Fitroh Satrio

Academic year: 2023

Membagikan "2291 3011 1 PB Jurnal Indonesia"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

dan Hematokrit pada Pasien Infeksi Dengue di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung

Hubungan Jenis Infeksi dengan Pemeriksaan Trombosit dan Hematokrit pada Pasien Infeksi Dengue di Rumah Sakit Urip Sumoharjo

Bandar Lampung

Karimah Khitami Aziz1, Ety Apriliana2, Risti Graharti3

1Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

2Bagian Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

3Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Abstrak

Infeksi dengue masih menjadi masalah di negara tropis dan sub tropis. Gejala infeksi dengue dan perubahan parameter hematologi seperti jumlah trombosit dan hematokrit pada umumnya menjadi lebih berat pada infeksi dengue sekunder.

Trombositopenia dan peningkatan kadar hematokrit merupakan tanda untuk mengetahui semakin beratnya resiko perdarahan serta komplikasi. Pada fase akut infeksi dengue diagnosis dikonfirmasi dengan uji serologis antibodi IgM sebagai marker infeksi primer dan uji serologis antibodi IgG sebagai marker infeksi sekunder. Untuk mengetahui hubungan antara pemeriksaan serologis dengan hasil pemeriksaan trombosit dan hematokrit maka dilakukan penelitian terhadap 73 pasien infeksi dengue di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung. Hasil yang didapat rata-rata jumlah trombosit paling tinggi terdapat pada infeksi dengue primer yaitu 96,578. Signifikansi yang didapatkan dari uji Mann-Whitney adalah 0,000 (nilai p<0,05). Hasil hematokrit tertinggi terjadi pada infeksi dengue primer yaitu 42,400 sedangkan pada infeksi dengue sekunder didapatkan rata-rata hematokrit sebesar 42,452. Signifikansi yang didapatkan berdasarkan uji t-test yaitu 0,400 (nilai p>0,05).

Kata Kunci: Infeksi dengue primer dan sekunder, Jumlah trombosit, Nilai hematokrit.

Correlation Between Types of Infection with Platelet and Hematocrit of Dengue Infection in Hospital Urip Sumoharjo Bandar Lampung

Abstrack

Dengue infection is still a problem in tropical and sub-tropical countries. Symptoms of dengue infection and transformation of hematological parameters such as platelet counts and hematocrit generally become more severe in secondary dengue infection. Thrombocytopenia and elevated hematocrit levels are signs to determine the increasing risk of bleeding and complications. In the acute phase of dengue infection the diagnosis confirmed by serological tests of IgM antibodies as primary infection markers and serological tests of IgG antibodies as markers of secondary infection. To find out the relationship between serological examination and platelet and hematocrit examination results, a study of 73 patients with dengue infection at Urip Sumoharjo Hospital Bandar Lampung. The results obtained by the highest platelet count were found in primary dengue infection, namely 96,578. The significance obtained from the Mann-Whitney test is 0,000 (p value

<0.05). The highest hematocrit results occurred in primary dengue infection, which was 42,400 while secondary dengue infection obtained an average hematocrit of 42,452. The significance obtained is based on the t-test which is 0.400 (p value> 0.05).

Keywords: Hematocrit examination, Platelet examination, Primary and secondary dengue infection.

Korespondensi: Karimah Khitami Aziz, alamat Jl. Bhumi Pramuka Kemiling Bandar Lampung, HP: 081267570328, e-mail: [email protected].

Pendahuluan

Infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang tergolong Arthropod-Borne Virus, genus Flavivirus dan famil Flaviviridae. Infeksi dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, terutama Aedes aegypti.1 Infeksi dengue banyak ditemukan di daerah tropis dan sub- tropis termasuk di Indonesia. Menurut data dari profil kesehatan Indonesia tahun 2015 Provinsi Lampung berada di urutan ke-8 dari 34 provinsi di Indonesia yang banyak ditemukan kasus infeksi dengue. Dinkes Provinsi Lampung

menyatakan bahwa kota Bandar Lampung memiliki kasus infeksi dengue tertinggi pada tahun 2015 dengan angka kesakitan 582 orang dan kematian sebanyak 12 orang.2

Infeksi dengue disebabkan oleh empat serotipe (DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4) dan ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang terinfeksi.3 Sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi dengan serotipe dengue yang sama dan tidak dapat memberikan kekebalan terhadap infeksi dengan serotipe lain.

(2)

dan Hematokrit pada Pasien Infeksi Dengue di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung Infeksi dengue merupakan penyakit

seperti flu berat yang dapat menyerang bayi, anak kecil dan orang dewasa serta ditandai dengan demam tinggi yang berlangsung selama 2-7 hari, fenomena haemorrhagic (termasuk kebocoran vaskular plasma), penurunan trombosit dan peningkatan hematokrit atau disertai kegagalan sirkulasi hingga terjadi syok yang berakibat fatal.3

Trombositopenia dan peningkatan kadar hematokrit dapat meningkatkan resiko

perdarahan serta komplikasi pada pasien infeksi dengue.4 Trombositopenia merupakan tanda dan cara menegakan diagnosis dari infeksi dengue. Diagnosis infeksi dengue secara cepat penting untuk mencegah perkembangan tingkat keparahan.5 Pada fase akut infeksi dengue, metode pilihan dalam penegakan diagnosis adalah dengan uji serologis antibodi IgM sebagai marker infeksi primer (pertama kali) dan uji serologis antibodi IgG sebagai marker infeksi sekunder (berulang).6

Tabel 1. Karakteristik sampel berdasarkan usia.

Usia Frekuensi Persentase

0-19 22 30%

20-39 35 48%

40-59 13 18%

>60 3 4%

Total 73 100%

Virus dengue pada infeksi primer memiliki gejala lebih ringan daripada infeksi sekunder yang dapat disertai dengan perdarahan dan kegagalan sirkulasi dan Dengue Shock Syndrome (DSS). Respon imun pada infeksi primer berupa produksi antibodi IgM dan infeksi sekunder berupa produksi antibodi IgG dan antibodi IgM.7

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan perbedaan jumlah trombosit yang signifikan antara infeksi primer dan infeksi sekunder. Pada infeksi primer nilai trombosit sejumlah 100,45x10³/mikroliter.

Sementara pada infeksi sekunder nilai trombosit mencapai 50,51x10³/mikroliter.8 Beberapa penelitian lain yang telah dilakukan juga menunjukan bahwa jumlah trombosit jauh lebih rendah pada pasien dengan hasil pemeriksaan IgG(+) dan IgM(+) atau hanya IgG(+) dibandingkan dengan hasil pemeriksaan IgG(-) dan IgM(-) atau hanya IgM(+).8,9,10

Metode

Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Urip Sumoharjo Bandar Lampung (RSUS). Pengumpulan data penelitian dilakukan

selama tiga bulan, yaitu pada bulan Oktober 2018 hingga bulan Desember 2018.

Data yang diperlukan pada penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medik pasien infeksi dengue yang dilakukan pemeriksaan serologi sebagai diagnosis awal infeksi dengue sepanjang tahun 2017. Dari 135 kasus infeksi dengue pada tahun 2017 terdapat 73 pasien infeksi dengue yang memenuhi kriteria untuk menjadi sampel penelitian. Adapun karakteristik sampel penelitian yang diperhatikan meliputi usia, jenis kelamin, gejala klinis, tingkat keparahan infeksi dengue, hasil pemeriksaan lab meliputi trombosit dan hematokrit dan hasil pemeriksaan antigen antidengue IgM dan IgG.

Hasil

Berdasarkan tabel 1 pada 73 sampel hasil penelitian dapat dilihat kejadian infeksi dengue tertinggi terdapat pada golongan usia 20-39 tahun dengan jumlah 35 kasus (48%).

Sementara itu kejadian infeksi dengue paling rendah didapatkan pada golongan usia >60 tahun dengan jumlah 3 kasus (4%).

(3)

dan Hematokrit pada Pasien Infeksi Dengue di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung Tabel 2. Karakteristik sampel berdasarkan tingkat keparahan infeksi dengue.

Tingkat Keparahan DBD Frekuensi Persentase

Dengue Fever 2 2.7%

DHF Grade I 39 53.8%

DHF Grade II 25 34.2%

DHF Grade III 7 9.6%

DHF Grade IV 0 0.0%

73 100%

Tabel 3. Distribusi jumlah trombosit pasien infeksi dengue.

Jumlah Trombosit Frekuensi Persentase 150.000 – 400.000/ul 1 1.4%

100.000 – 150.000/ul 14 19.2%

50.000 – 100.000/ul 26 35.6%

< 50.000/ul 32 43.8%

73 100.0%

Tabel 5. Analisis hubungan infeksi primer dan infeksi sekunder dengan hasil pemeriksaan trombosit (Tr) dan hematorit (Ht).

Jenis infeksi Tr P value Ht P value Infeksi Primer

(19 sampel) 96.578

0.000

42.40 Infeksi Sekunder 0.4

(54 sampel) 53.003 42.35

Total 73

Berdasarkan tabel 2 terlihat bahwa 53.8% insidensi infeksi dengue merupakan kasus yang ringan (grade I). Sementara itu, tidak ditemukan infeksi dengue pada derajat yang paling parah (grade IV).

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 3 dapat dilihat bahwa sebagian besar sampel termasuk kedalam trombositopenia berat

<50.000/ul yaitu sebanyak 32 orang (43.8%), kemudian kategori trombositopenia sedang 50.000-100.000/ul sebanyak 26 orang (35.6%) dan sampel dengan kategori trombositopenia ringan yaitu 14 orang (19.2%) serta ditemukanpula 1 sampel pasien infeksi dengue dengan hasil pemeriksaan trombosit yang normal.

Tabel 4. Distribusi jumlah hematokrit pasien infeksi dengue.

Nilai Hematokrit (%) Frekuensi Persentase Laki – laki

<40 40-48

>48

7 22

8

18.9%

59.5%

21.6%

Jumlah 37 100.0%

Perempuan

<37 37-43

>43

9 15 12

25.0%

41.7%

33.3%

Jumlah 36 100.0%

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4 didapatkan sebesar 21.6% penderita infeksi dengue laki-laki mengalami hemokonsentrasi (peningkatan kadar hematokrit) dan 33.3%

penderita infeksi dengue perempuan mengalami hemokonsentrasi.

(4)

dan Hematokrit pada Pasien Infeksi Dengue di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung Hasil penelitian pada tabel 5

menunjukan gambaran rata-rata jumlah trombosit pada infeksi dengue primer dan sekunder. Dapat dilihat bahwa rata-rata jumlah trombosit paling tinggi terdapat pada infeksi dengue primer yaitu 96.578. Signifikansi yang didapatkan dari uji Mann-Whitney adalah 0.000 (nilai p<0.05).

Pada hasil hematokrit tertinggi terjadi pada infeksi dengue primer yaitu 42.400 sedangkan pada infeksi dengue sekunder didapatkan rata-rata hematokrit sebesar 42.452. Signifikansi yang didapatkan berdasarkan uji t-test yaitu 0.400 (nilai p>0.05).

Pembahasan

Berdasarkan tabel 1 pada 73 sampel hasil penelitian dapat dilihat adanya insidensi infeksi dengue pada setiap golongan usia. Pada penelitian ini infeksi dengue lebih banyak terjadi pada usia dewasa (20-39 tahun) kemudian usia anak (0-10 tahun). Hasil penelitian ini didukung oleh pernyataan Carribean Epidemiology Centre pada tahun 2000 yang menyatakan bahwa epidemiologi penderita demam berdarah dengue terbanyak adalah pada anak-anak dan dewasa.11

Kejadian infeksi dengue tertinggi terdapat pada golongan usia 20-39 tahun dengan jumlah 35 kasus (48%). Sementara itu kejadian infeksi dengue paling rendah didapatkan pada golongan usia >60 tahun dengan jumlah 3 kasus (4%). Pada pasien infeksi dengue dengan rentang usia 0-19 tahun ditemukan sebanyak 22 kasus (30%) dengan kasus yang terjadi pada usia ≤10 tahun sebanyak 15 pasien yaitu pada usia 3 tahun, 5 tahun, 9 tahun dan 10 tahun. Pada usia 6 tahun, 9 tahun dan 10 tahun sebanyak 4 sampel terdiagnosis DHF grade II.Karakteristik sampel jika dilihat dari seluruh pasien infeksi dengue pada tahun 2017 yang berjumlah 135 kasus didapatkan infeksi tertinggi terjadi pada kelompok usia 20-39 tahun dengan jumlah 61 kasus (45.2%) kemudian kelompok 0-19 tahun dengan jumlah 52 kasus (38.5%) sedangkan kelompok usia 40-59 tahun ditemukan sebanyak 17 kasus (12.6%) dan infeksi dengue yang terjadi pada usia >60 tahun didapatkan hanya 5 kasus (3.7%). <10 tahun didapatkan kasus sebanyak 15 pasien dengan didapatkan diagnosis DHF grade II terjadi pada usia 6 tahun. Menurut penelitian Aryu Candra infeksi dengue banyak menimbulkan kematian pada

anak dan 90% di antaranya menyerang anak usia di bawah 15 tahun.12

Pada 73 sampel hasil penelitian diperoleh insidensi infeksi dengue pada laki- laki sebanyak 37 orang (51%). Sementara itu, insidensi pada perempuan sebanyak 36 orang (49%). Jika dilihat dari persebaran infeksi dengue selama tahun 2017 pada 135 pasien infeksi dengue didapatkan hasil sebanyak 68 kasus (50.4%) pada pasien perempuan dan 67 kasus (49.6%) pada pasien infeksi dengue laki- laki. Penelitian lain yang menggambarkan jumlah pasien infeksi dengue berjenis kelamin laki-laki dan perempuan hampir sama (48.6%

dan 51.4%).13 Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI tahun 2008 didapatkan hasil yang mirip dengan penelitian ini yang menunjukan angka kejadian infeksi dengue pada laki-laki sebesar 10.463 (53.78%) dan perempuan 8.991 (46.23%). Hal ini juga sesuai dengan hasil studi retrospektif yang menunjukkan bahwa jumlah pasien penderita infeksi dengue lelaki sebanyak 61 orang (45.5%) dan perempuan sebanyak 73 orang (54.5%).14 Hal ini menggambarkan bahwa penyebaran infeksi dengue di masyarakat tidak tergantung dengan jenis kelamin penderita.

Berdasarkan tabel 2 terlihat bahwa 53.8% insidensi infeksi dengue merupakan kasus yang ringan (grade I). Sementara itu, tidak ditemukan infeksi dengue pada derajat yang paling parah (grade IV). Secara keseluruhan kondisi ini dapat dihubungkan dengan manajemen dan penanganan infeksi dengue yang semakin baik sehingga dapat mengeliminasi infeksi dengue berat sehingga tidak terjadi sindrom syok dengue.

Pada penelitian lain yang telah dilakukan didapatkan kasus terbanyak adalah dengue hemorrhagic fever sebanyak 30 orang (86%) dimana pasien dengan diagnosa DHF grade I sebanyak 5 orang (16.7%) dan pasien DHF grade II sebanyak 25 orang (83.3%) (13).

Penelitian lain yang dilakukan oleh Dhooria dkk didapatkan hasil 92% sampel didiagnosis sebagai DHF derajat 2 dan tidak ditemukan adanya DHF derajat 4.15

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 3 dapat dilihat bahwa sebagian besar sampel termasuk kedalam trombositopenia berat

<50.000/ul yaitu sebanyak 32 orang (43.8%), kemudian diikuti oleh sampel dengan kategori trombositopenia sedang 50.000-100.000/ul sebanyak 26 orang (35.6%) dan sampel dengan

(5)

dan Hematokrit pada Pasien Infeksi Dengue di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung kategori trombositopenia ringan yaitu 14 orang

(19.2%) serta ditemukan pula 1 sampel pasien infeksi dengue dengan hasil pemeriksaan trombosit yang normal.

Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di RSUD Lubuk Pakam pada tahun 2011 yang menemukan penderita infeksi dengue tertinggi pada pasien dengan jumlah trombosit <100.000/µl (69.6%).16 Penelitian lain yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi kota Medan tahun 2016 didapatkan hasil dari 156 penderita DHF yang 106 orang pasien memiliki jumlah trombosit

<100.000/µl (67.9%).17

Jumlah trombosit yang menurun atau berkurang menjadi indikator pada terjadinya perembesan plasma. Perembesan plasma diakibatkan oleh reaksi imunologis antara virus dengue dan sistem pertahanan tubuh yang menyebabkan perubahan pada sifat dinding pembuluh darah menjadi mudah ditembus cairan. Hasil ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang memberikan bukti bahwa trombositopenia merupakan kelainan parameter hematologi yang selalu ditemui pada pasien infeksi dengue.18,19

Hemokonsentrasi/peningkatan

persentase hematokrit dikarenakan oleh demam tinggi, anoreksia dan muntah.

Kenaikan hematokrit juga disebabkan oleh darah yang kekurangan plasma yang berkaitan dengan kekentalan darah. Hemokonsentrasi diamati terjadi secara tiba-tiba bersamaan atau tidak lama setelah penurunan jumlah trombosit. Persentase hemokonsentrasi sebesar 20% dari batas normalnya merupakan bukti objektif terjadinya perembesan plasma.17 Hemokonsentrasi pada pasien infeksi dengue selalu dikaitkan dengan kebocoran vaskuler.20

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4 didapatkan sebesar 21.6% penderita infeksi dengue laki-laki mengalami hemokonsentrasi (peningkatan kadar hematokrit) dan 33.3%

penderita infeksi dengue perempuan mengalami hemokonsentrasi. Nilai hematokrit terendah pada penderita infeksi dengue laki- laki adalah 31.4% dan tertinggi sebesar 59.1%

dengan rata-rata hematokrit sebesar 44.3%.

Sedangkan nilai hematokrit terendah pada penderita infeksi dengue perempuan adalah 26.3% dan tertinggi sebesar 51.0% dengan rata-rata hematokrit pada infeksi dengue perempuan adalah 40.3%.

Pada penelitian laindidapatkan kadar hematokrit pasien infeksi dengue adalah 30- 55%.21 Hasil hematokrit di atas 36.3% pada pasien infeksi dengue dapat dicurigai adanya hemokonsentrasi yang biasanya terjadi sebelum pasien jatuh ke dalam sindrom syok dengue.22,23

Hasil penelitian pada tabel 5 menunjukan gambaran rata-rata jumlah trombosit pada infeksi dengue primer dan sekunder. Dapat dilihat bahwa rata-rata jumlah trombosit paling tinggi terdapat pada infeksi dengue primer yaitu 96.578. Signifikansi yang didapatkan dari uji Mann-Whitney adalah 0.000 (nilai p<0.05) sehingga Ho ditolak. Hal ini berarti terdapat hubungan yang bermakna antara hasil pemeriksaan serologi IgM dan IgG dengan jumlah trombosit pada sampel.

Hasil serupa diperlihatkan dari penelitian lain berupa perbandingan hasil pemeriksaan NS1, serologi IgM dan IgG dengan jumlah trombosit untuk penegakan diagnosis dini infeksi dengue. Hasil penelitian tersebut menunjukan adanya perbedaan jumlah trombosit dengan pemeriksaan IgM dan IgG dengan signifikansi (nilai p <0.0001).9,25 Penelitian lain yang serupa didapatkan jumlah rerata trombosit pada infeksi dengue primer 83.720 sel/mm3, lebih tinggi dibandingkan dengue sekunder 62.240 sel/mm3 dan berbeda bermakna secara statistik (p<0.05).26 Pada penelitian serupa juga didapatkan jumlah rerata trombosit pada infeksi dengue primer 54.813 sel/mm3 lebih tinggi dibandingkan dengue sekunder 37.286 sel/mm3 dan perbedaan bermakna secara statistik (p<0.05).27 Perbedaan rerata jumlah trombosit dapat dipengaruhi oleh derajat infeksi dengue.

Dalam sebuah penelitian menyebutkan jumlah trombosit pasien SSD jauh lebih rendah dibandingkan DD dan DHF.28 Jumlah trombosit berhubungan dengan dengan derajat klinis DHF, semakin rendah trombosit semakin berat derajat klinisnya.29

Hasil hematokrit tertinggi terjadi pada infeksi dengue primer yaitu 42.400 sedangkan pada infeksi dengue sekunder didapatkan rata- rata hematokrit sebesar 42.452. Signifikansi yang didapatkan berdasarkan uji t-test yaitu 0.400 (nilai p>0.05) sehingga Ho penelitian gagal untuk ditolak. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara hasil pemeriksaan serologi

(6)

dan Hematokrit pada Pasien Infeksi Dengue di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung antidengue IgM dan IgG dengan hasil

pemeriksaan hematokrit pasien infeksi dengue.

Penelitian lain diperoleh hasil rerata hematokrit infeksi dengue primer sebesar 37%

dan infeksi dengue sekunder 42% serta didapatkan perbedaan bermakna secara statistik (p<0.05).30 Penelitian lain mendapatkan hasil rerata hematokrit infeksi dengue primer 40.5% lebih rendah dibandingkan dengue sekunder 44.8% dan berbeda bermakna secara statistik (p<0.05).31

Hasil penelitian lain yang serupa didapatkan rerata hematokrit pada infeksi dengue primer 41.1% dan infeksi dengue sekunder 40.4% tetapi tidak berbeda bermakna secara statistik (p>0.05).27 Hal ini disebabkan karena hematokrit dipengaruhi oleh berbagai macam cairan seperti cairan infus atau pemberian cairan yang lainnya yang akan menurunkan hemokonsentrasi sehingga korelasi antara jenis infeksi dengan hematokrit yang diharapkan tidak terlihat dengan jelas. Hal ini sesuai dengan WHO tahun 2011 yang menyatakan bahwa level hematokrit mungkin dipengaruhi oleh penggantian volume yang terlalu dini, bukan berarti jenis infeksi primer dan sekunder tidak berhubungan dengan kebocoran plasma.30,32

Simpulan

Hasil pemeriksaan serologi yang paling banyak ditemukan yaitu berupa IgM (+) dan IgG (+) sebanyak 31 sampel (42.5%) dan hasil yang ditemukan paling sedikit yaitu IgM (-) dan IgG (-) sebanyak 2 sampel (2.7%). Pada infeksi primer ditemukan sebanyak 19 sampel dan pada infeksi sekunder ditemukan sebanyak 54 sampel.

Jumlah trombosit paling banyak ditemukan yaitu <50.000/ul dengan sampel sebanyak 32 orang (43.8%) dan hasil hematokrit ditemukan terbanyak pada rentang nilai normal pada pasien infeksi dengue laki- laki maupun perempuan.

Terdapat hubungan antara hasil pemeriksaan trombosit dengan pemeriksaan serologi infeksi dengue yang dikelompokan menjadi infeksi primer dan sekunder tetapi tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara hasil pemeriksaan hematokrit dengan pemeriksaan serologi pasien infeksi dengue.

Daftar Pustaka

1. Kementrian Kesehatan RI. Situasi DBD di

Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2016.

2. Kementrian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Provinsi Lampung 2015. Bandar Lampung:

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung; 2015.

3. WHO, dengue and severe dengue [internet]. Geneva: World Health Organization; 2018 [disitasi tanggal 19 Desember 2018]. Tersedia dari:

https://www.wgo.int/denguecontrol/en/

4. Kumar CM, Vyas KSK, Krishna YS. Clinical profile of dengue fever with severe thrombocytopenia. International Journal of Research in Medical Science. 2017;

5(5):1751-5.

5. Shu P dan Huang J. Current advances in dengue. Clinical and Diagnosis Laboratory Immunology. 2004; 11(4): 642-50.

6. Guzman MG, Halstead SB, Artsob H, Buchy P, Farrar J, Nathan MB, dkk. Dengue: a continuing global threat. Europe PMC Funder Group. 2015; 8(120): 1-26.

7. Ahmad TS, Yudhanto D, Wajdi F, Rohadi.

Peranan kadar hematokrit, jumlah trombosit dan serologi IgG-IgM anti DHF dalam memprediksi terjadinya syok pada penderita demam berdarah dengue (DBD) di Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram.

Jurnal Kedokteran Universitas Mataram.

2007; 8(2):105-11.

8. Changal KH, Raina AH, Raina A, Raina M, Bashir R, Latief M, dkk. Differentiating secondary from primary dengue using IgG to IgM ratio in early dengue. BMC Infectious Disease. 2016;16(1):1-7.

9. Arya SC, Agarwal N, Parikh SC, Agarwal S.

Simultaneous detection of dengue NS1 antigen, IgM plus IgG and platelet enumeration during an outbreak. Sultan Qaboos University Medical Journal.

2011;11(4):470-6.

10. Kulkarni R, Ajantha G, Kalabhavi A, Shetty P, Patil S, Upadhya A, dkk. Association of platelet count and serological markers of dengue infection of NS1 antigen. Indian Journal of Microbiology. 2011;29(4):359- 62.

11. Ayunani A dan Tuntun M. Hubungan tingkat keparahan demam berdarah dengan kadar hemoglobin, hematokrit dan trombosit di Puskesmas Rawat Inap Way Kandis Bandar Lampung. Jurnal Analis Kesehatan. 2012;6(1):616-24.

(7)

dan Hematokrit pada Pasien Infeksi Dengue di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung 12. Aryu Candra. Demam derdarah dengue:

epidemiologi, patogenesis dan faktor risiko penularan. Jurnal Aspirator.

2010;2(2):110-9.

13. Natalia E. Peran Monosit dalam Menilai Keparahan Infeksi Dengue [skripsi].

Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara; 2018.

14. Artawan, Utama IMDL, Gustawan IW, Suarta IK. Karakteristik pasien anak dengan infeksi dengue di RSUP Sanglah tahun 2013-2014. Jurnal Medicina.

2016;51(2):158-62.

15. Dhooria GS, Bhat D, Bains HS, Deepak B, Bains HS. Clinical profile and outcome in children of dengue hemorrhagic fever in north India. Iran Journal Pediatric.

2008;18(07):222-8.

16. Hsb KT. Karakteristik penderita demam berdarah dengue (DBD) Rawat Inap di RSUD Lubuk Pakam Tahun 2011-2012 [skripsi]. Medan: Universitas Sumatera Utara; 2012.

17. Tobing GM. Karakteristik penderita demam berdarah dengue yang dirawat inap di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan tahun 2016 [skripsi]. Medan: Universitas Sumatera Utara; 2018.

18. Bashir AB, Mohammed BA, Saeed OK, Ageep AK. Thrombocytopenia and bleeding manifestations among patients with dengue virus infection in Port Sudan.

Journal Infectious Disease Immunity.

2015;7(2):7-13.

19. Safari W Jatmiko, Lisyani Suromo ED. IgM- RF pada anak terinfeksi virus dengue tidak berkorelasi dengan jumlah trombosit dan hematokrit IgM-RF. Jurnal Kedokteran Brawijaya. 2017;29(4):306-11.

20. Divyashree BN, Gayathri BR, Joshi AA.

Hematocrit spectrum in dengue : a prospective study. International Journal Scientific Study. 2018;5(202):33-7.

21. Jatmiko SW. Korelasi umur dengan kadar hematokrit, jumlah leukosit dan trombosit pasien infeksi virus dengue. Jurnal Biomedika. 2018;10(2):126-31.

22. Gomber S, Ramachandran VG, Satish K, Agarwal KN, Gupta DKD. Hematological observations as diagnostic markers in dengue hemorrhagic fever. Indian Pediatric. 2001;38(1):477-81.

23. Yacoub S dan Wills B. Predicting outcome from dengue. BMC Medicine.

2014;12(1):1-10.

24. Arya SC, Agarwal N, Parikh SC, Agarwal S.

Simultaneous detection of dengue NS1 antigen, IgM plus IgG and platelet enumeration during an outbreak. Sultan Qaboos University Medical Journal.

2011;11(4):470-6.

25. Jyothi P dan Metri B. Correlation of serological markers and platelet count in the diagnosis of dengue virus infection.

Advanced Biomedical Research.

2015;4(1):1-4.

26. Pusparini. Kadar hematokrit dan trombosit sebagai indikator diagnosis infeksi dengue primer dan sekunder. Jurnal Kedokteran Trisakti. 2004;23(2):51-6.

27. Khurram M, Qayyum W, Hassan SJ, Mumtaz S, Bushra HT, Umar M. Dengue hemorrhagic fever: comparison of patients with primary and secondary infections.

Journal of Infection and Public Health.

2014;7(6):489-95.

28. Hartoyo E. Spektrum klinis demam berdarah dengue pada anak. Sari Pediatri.

2008;10(3):145-50.

29. Yobi Syumarta, Akmal M, Hanif ER.

Hubungan jumlah trombosit, hematokrit dan hemoglobin dengan derajat klinik pada pasien demam berdarah dengue di RSUP M. Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. 2014;38(3):492-8.

30. Febria Prima Utari, Efrida HK.

Perbandingan nilai hematokrit dan jumlah trombosit antara infeksi dengue primer dan dengue sekunder pada anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. 2018;7(1):118-23.

31. Pancharoen C, Mekmullica J, Thisyakorn U.

Primary dengue infection: What are the clinical distinctions from secondary infection. Southeast Asian Journal Tropical Medicine Public Health. 2001;32(3):476- 80.

32. WHO, Prevention and control of dengue and dengue haemorrhagic fever [internet]. Geneva: World Health Organization; 2018 [disitasi tanggal 19 Desember 2018]. Tersedia dari:

https://www.wgo.int/denguecontrol/en/

Referensi

Dokumen terkait

Pembesaran kelenjar getah bening/limfadenopati merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada pasien dengan infeksi HIV, dapat terjadi pada awal manifestasi infeksi atau dapat juga

Skabies dengan Prestasi Belajar pada Santri Pondok Pesantren di Bandar Lampung prevalensi yang cukup tinggi ini juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh Ratnasari bahwa

Pada penelitian ini didapatkan distribusi pasien infeksi dengue dengan manifestasi kebocoran plasma terbanyak adalah asites sebanyak 34 orang 47.2% dan untuk efusi pleura sebanyak 20

Hubungan Antara Lama Menderita Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Kejadian Peripheral Arterial Disease Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung

Adapun klinis infeksi virus dengue sekunder diketahui lebih berat dibandingkan infeksi primer.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan hasil pemeriksaan penunjang

Sumantri Brojonegoro Lk 001 Gedong Meneng, Rajabasa, Bandar Lampung, HP: 082186662432, email: [email protected] Pendahuluan Penyakit rheumatoid arthritis RA merupakan salah

Tidak ada hubungan status pengobatan pasien penderita Morbus Hansen terhadap stigma keluarga di Bandar Lampung tahun 2017 dikarenakan tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit

D5 Labuhan Ratu Bandar Lampung, HP 085357938727, e-mail: [email protected] Pendahuluan Penyakit distrofi otot Muscular Dysthropies ditandai dengan pengecilan dan