• Tidak ada hasil yang ditemukan

2297 3017 1 PB Jurnal Indonesia

N/A
N/A
Fitroh Satrio

Academic year: 2023

Membagikan "2297 3017 1 PB Jurnal Indonesia"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Majority | Volume 8 | Nomor 1 | Maret 2019 | 71

Pengaruh Pemberian Minuman Ringan Berkarbonasi terhadap Gambaran Histopatologi Hepar Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan

Galur Sprague dawley

Muhartono1, Rasmi Zakiah Oktarlina2, Nikom Sonia Purohita3

1 Bagian Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

2 Bagian Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

3Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Abstrak

Minuman ringan berkarbonasi adalah minuman yang dibuat dengan menyerap karbon dioksida dalam air minum dengan atau tanpa berbagai zat tambahan. Konsumsi minuman ringan berkarbonasi menunjukkan peningkatan yang signifikan di dunia termasuk di Indonesia dan dikaitkan dengan timbulnya berbagai masalah kesehatan yang melibatkan berbagai organ termasuk hepar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh minuman ringan berkarbonasi terhadap histopatologi hepar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain post-test only control group. Sampel yang digunakan yaitu tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley sebanyak 28 ekor yang dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok kontrol (K) diberi aquades secara ad libitum, kelompok perlakuan 1 (P1) diberi minuman ringan berkarbonasi dengan dosis 3 ml/hari, kelompok perlakuan 2 (P2) dengan dosis 6 ml/hari, dan kelompok perlakuan 3 (P3) dengan dosis 12 ml/hari selama 30 hari. Gambaran kerusakan dinilai dengan skoring Manja Roenigk. Uji normalitas menggunakan Saphiro-Wilk dengan nilai p=0,061 (p>0,05) dilanjutkan dengan uji homogenitasmenunjukkan p=0,117 (p>0,05). Uji One Way ANOVA mendapatkan hasil p=0,001 (p< 0,05). Analisis Post Hoc didapatkan nilai p<0,05 pada semua kelompok percobaan yang artinya terdapat perbedaan tingkat kerusakan seiring dengan peningkatan dosis. Dapat disimpulkan terdapat pengaruh pemberian minuman ringan berkarbonasi terhadap gambaran histopatologi hepar tikus (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley.

Kata Kunci: hepar, minuman ringan berkarbonasi, perubahan histopatologi

The Effects of Carbonated Soft Drink Administration on Liver Histopathological Changes in Male Rats (Rattus norvegicus)

Sprague Dawley Strain

Abstract

Carbonated soft drinks are beverages made by absorbing carbon dioxide in potable water with or without various added substances. Carbonated soft drinks consumption shows a significant increase in the world including in Indonesia and have been associated with various health problems involving multiple organs including the liver. The aim of this research is to determine the effects of carbonated soft drink administration on liver histopathological changes. This research is a post-test only control group experimental study using 28 male rats (Rattus norvegicus) Sprague dawley strain which divided into 4 groups. The control group (K) allowed to drink aquades ad libitum, group 1 (P1) is given carbonated soft drinks 3 ml/day, group 2 (P2) 6 ml/day, and group 3 (P3) 12 ml/day for 30 days. Histopathological changes are assessed using Manja Roenigk's scoring. Test of normality by using Saphiro-Wilk test resulted p value= 0.061 (p> 0.05) followed by homogeneity test with p value= 0.117 (p> 0.05). The data was analysed by using One Way ANOVA test with p value= 0.00 1 (p <0.05). Post Hoc analysis obtained p value <0.05 in all groups, which means there are differences in the degree of histopathological damage along with increasing doses. It can be concluded that there is effect of carbonated soft drinks administration on liver histopathological changes of male rats (Rattus norvegicus) Sprague dawley strain.

Keywords: carbonated soft drink, histopathological changes, liver

Korespondensi: Nikom Sonia Purohita, Alamat RT/RW 002/002 Desa Jaya Makmur, Kecamatan Banjar Baru, Tulang Bawang, HP 081367356134, email: [email protected]

Pendahuluan

Minuman ringan berkarbonasi (carbonated soft drink) adalah minuman yang dibuat dengan menyerap karbon dioksida dalam air minum dengan atau tanpa berbagai zat tambahan.1 Kafein, sakarin, fruktosa, asam benzoat, asam sorbat, aspartam dan asam

fosfat adalah zat-zat yang sering ditambahkan ke dalam minuman ringan berkarbonasi.2 Dewasa ini, konsumsi minuman ringan berkarbonasi menunjukkan peningkatan yang signifikan di dunia termasuk di Indonesia khususnya dikalangan dewasa muda.3 Menurut Beverage Marketing Corporation,

(2)

Majority | Volume 8 | Nomor 1 | Maret 2019 | 72 konsumsi minuman ringan ringan

berkarbonasi di Amerika serikat tahun 2012 mencapai 29,8 miliar galon sedangkan di Inggris mencapai angka 14,5 miliar liter pada tahun 2013. Hasil survey yang dilakukan oleh Nusa Research (2014) di Indonesia, sejumlah 30% dari total responden meminum minuman ringan berkarbonasi sebanyak 2-3 kali per minggu selama 3 bulan terakhir.4

Konsumsi minuman ringan berkarbonasi yang tinggi dikaitkan dengan timbulnya berbagai masalah kesehatan. Beberapa studi epidemiologi menunjukkan konsumsi minuman ringan berkarbonasi secara kronis berhubungan dengan obesitas, penyakit ginjal, hati, dan osteoporosis.5 Konsumsi minuman ringan berkarbonasi dapat meningkatkan intake energi dan berat badan, diabetes, hipokalsemia, penurunan densitas tulang, risiko patah tulang, defisiensi kalsium, karies dental, dan tekanan darah sistolik dan diastolic dan akumulasi lemak.6 Masalah kesehatan yang timbul akibat minuman ringan berkarbonasi dapat melibatkan berbagai organ termasuk hepar, ginjal, gaster, esofagus, otak, pankreas, dan lain-lain. 1,5

Hepar merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia yang terbagi menjadi 2 lobus yaitu lobus dekstra dan sinistra.7 Hepar memiliki beberapa fungsi termasuk metabolisme, penyimpanan, sekresi, sintesis, dan detoksifikasi. Hepar berperan penting dalam metabolisme karbohidrat dan lipid.8 Hepar juga berperan dalam detoksifikasi obat dan racun yang masuk ke tubuh. Senyawa yang potensial beracun akan dibawa menuju hepar melalui vena porta. Hepar akan memodifikasi senyawa ini melalui first pass metabolism.9 Fungsi hepar yang berkaitan dengan metabolisme dan detoksifikasi ini yang memungkinkan terjadinya kerusakan apabila terpapar dengan xenobiotik secara kronik.10

Cedera yang terjadi pada hepar dapat terjadi melalui toksisitas langsung atau tidak langsung yaitu konversi suatu xenobiotik menjadi toksin aktif oleh hepar. Cedera juga dapat terjadi karena proses imunologik.11 Konsumsi minuman ringan berkarbonasi dapat menyebabkan penurunan kadar antioksidan endogen sehingga respon protektif terganggu dan menyebabkan kerusakan pada hepar.12 Minuman ringan berkarbonasi merupakan

minuman yang tinggi karbohidrat dan tinggi glukosa yang apabila dikonsumsi secara kronik dapat menyebabkan peroksidasi lipid dan menginduksi stress oksidatif dengan mengganggu metabolisme redoks pada mitokondria.10

Minuman ringan berkarbonasi mengandung air, pemanis, karbon dioksida, asam, perasa, pewarna, bahan pengawet kimia, antioksidan, dan/atau bahan pembusa.13 Pemanis yang banyak digunakan pada minuman ringan berkarbonasi adalah sukrosa, sakarin, aspartame, dan High Fructose Corn Syrup (HFCS). Fruktosa dalam minuman ringan berkarbonasi dapat meningkatkan sintesis asam lemak hepar dan lipogenesis de novo. Hal ini menyebabkan meningkatnya triacylglicerol (TAG) serum dan very low density lipoprotein (VLDL) yang berkaitan dengan deposisi lemak ektopik pada jaringan adiposa dan hepar. Jaringan adiposa pada tubuh secara normal mensekresikan adipositokin yaitu leptin dan adiponektin.

Adiponektin memiliki efek anti-inflamasi, sedangkan leptin memiliki efek pro-inflamasi.

PPAR-γ adalah faktor transkripsi yang berperan dalam regulasi adipositokin.

Kandungan fruktosa pada minuman ringan berkarbonasi dapat menyebabkan kerusakan ekspresi PPAR-y yang menginduksi terjadinya inflamasi hepar dan bahkan fibrosis.

Kerusakan hepar yang terjadi ditandai dengan ditemukannya infiltrasi sel radang dan degenerasi yang terlihat secara histopatologi.1 Keseluruhan mekanisme diatas pada akhirnya akan menyebabkan hepatic injury yang secara histopatologi akan memberikan perbedaan gambaran jika dibandingkan dengan jaringan hepar yang normal.10,14

Penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya sebagian besar dilakukan untuk membandingkan kerusakan yang timbul antara beberapa merk dagang minuman ringan berkarbonasi terhadap berbagai organ salah satunya hepar. Pada penelitian ini, peneliti ingin membandingkan perbedaan gambaran kerusakan yang timbul terhadap hepar dengan memberikan dosis bertingkat membandingkan perbedaan tingkat kerusakannya.

(3)

Majority | Volume 8 | Nomor 1 | Maret 2019 | 73 Metode

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode rancangan Post Test Only Control Group Design. Penelitian ini dilakukan pada September 2018 - Desember 2018 bertempat di Animal House dan Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

Penelitian ini menggunakan sampel tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley yang dipilih dengan metode simple random sampling. Berdasarkan perhitungan sampel menggunakan rumus Frederer dan ditambah dengan proporsi drop out 10%, jumlah sampel minimal yang dibutuhkan sebanyak 28 tikus. Tikus yang digunakan menjadi sampel harus memenuhi kriteria inklusi yaitu tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley jantan berumur 8-10 minggu dengan berat badan 200-250 gram. Tikus tidak bisa dijadikan sampel apabila memenuhi kriteria eksklusi yaitu terdapat kelainan anatomis, tikus tidak sehat, terdapat penurunan berat badan lebih dari 10% setelah masa adaptasi di laboraturium, dan tikus mati selama masa penelitian.

Tikus ini dibagi menjadi 4 kelompok yaitu 1 kelompok kontrol (K) dan 3 kelompok perlakuan (P1, P2, dan P3). Sebelum diberi perlakuan, tikus diaklimatisasi terlebih dahulu pada lingkungan tempat dilakukan perlakuan.

Kelompok kontrol hanya diberi pakan dan minum berupa aquades. Kelompok P1)diberikan pakan dan perlakuan berupa minuman ringan berkarbonasi dengan dosis 3 ml/hari. Kelompok P2 diberikan pakan dan perlakuan berupa minuman ringan berkarbonasi dengan dosis 6 ml/hari.

Kelompok P3 diberikan pakan dan perlakuan berupa minuman ringan berkarbonasi dengan dosis 12 ml/hari. Semua dosis pada ketiga kelompok perlakuan dibagi menjadi 3 dosis per hari.

Setelah perlakuan selama 30 hari, tikus kemudian diterminasi dengan anestesi lalu dilakukan laparotomi untuk mengambil organ hepar. Setelah hepar diambil, tikus dikuburkan. Hepar difiksasi dengan menggunakan formalin 10 % sebelum dilakukan pembuatan preparat dengan pewarnaan HE. Setelah preparat dibuat,

dilakukan pembacaan histopatologi perbesaran 400x pada 5 pandang untuk setiap preparat.

Penilaian kerusakan hepar dilakukan dengan menggunakan skoring Manja Roenigk modifikasi dengan skala 1-4. Skor 1 apabila tidak terjadi perubahan struktur histologi hepar, skor 2 apabila terdapat perubahan berupa degenerasi parenkimatosa ataupun perdarahan, skor 3 apabila terdapat perubahan berupa degenerasi hidrofik atau perlemakan dan skor 4 diberikan apabila tampak adanya nekrosis pada sel-sel hepar.

Setelah data diperoleh, dilakukan uji normalitas data dengan Saphiro Wilk. Apabila terdistribusi normal maka lakukan uji hipotesis One Way ANOVA dan dilanjutkan dengan Post Hoc LSD.

Hasil

Berikut ini merupakan hasil skoring Manja Roenigk dari masing-masing kelompok pada 5 lapang pandang preparat.

Tabel 1. Kelompok Kontrol (K)

Sampel LP 1 LP 2 LP3 LP4 LP5 Total

1 1 1 1 1 1 1

2 1 1 1 1 1 1

3 1 1 2 1 1 1.2

4 1 1 1 1 1 1

5 1 1 1 1 1 1

6 1 1 1 1 1 1

Dari tabel diatas didapatkan rerata skor pada kelompok kontrol adalah 1,03 dengan gambaran histopatologi yang tampak normal.

Sel hepatosit tampak normal, tersusun radier dengan vena sentralis sebagai pusatnya. Tidak tampak adanya pembengkakan sel hepatosit.

Sinusoid hati juga tampak normal, tidak nampak pembesaran dan berpola radier yang terpusat pada vena sentralis.

Tabel 2. Kelompok Perlakuan 1 (P1) Sampel LP 1 LP 2 LP3 LP4 LP5 Total

1 1 1 2 2 1 1.4

2 1 2 1 1 2 1.4

3 2 1 1 2 2 1.6

4 2 2 1 1 1 1.4

5 1 2 1 2 1 1.4

6 1 1 2 2 1 1.4

(4)

Majority | Volume 8 | Nomor 1 | Maret 2019 | 74 Pada P1 didapatkan rerata skor 1,43.

Pada gambaran histopatologi didapatkan sel hepatosit yang menunjukkan adanya degenerasi bengkak keruh pada beberapa bagian. Tidak ditemukan adanya degenerasi hidrofik maupun nekrosis.

Tabel 3. Kelompok Perlakuan 2 (P2) Sampel LP 1 LP 2 LP3 LP4 LP5 Total

1 1 2 2 1 2 2

2 1 2 2 2 1 1

3 1 1 2 3 1 1

4 1 2 1 3 2 2

5 2 2 2 1 2 3

6 2 2 1 2 3 3

Rerata skor pada kelompok P2 yaitu 1,73. Pada pengamatan mikroskopis tampak adanya degenerasi bengkak keruh yang lebih masif bila dibandingkan dengan kelompok P1.

Tampak adanya degenerasi hidrofik dan perlemakan pada beberapa bagian namun tidak adanya nekrosis.

Tabel 4. Kelompok Perlakuan 3 (P3) Sampel LP 1 LP 2 LP3 LP4 LP5 Total

1 2 3 3 3 3 3

2 2 2 2 3 1 1

3 3 2 3 2 3 3

4 2 3 2 2 1 1

5 2 3 2 3 2 2

6 2 2 2 3 3 3

Pada kelompk P3 didapatkan rerata skor 2,37 dengan gambaran histopatologis tampak banyak sel hepatosit yang mengalami degenerasi hidrofik dan perlemakan namun belum ditemukan adanya nekrosis pada sel hati. Berikut gambaran histopatologi hepar dari masing-masing kelompok perlakuan.

Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh pemberian minuman ringan berkarbonasi terhadap gambaran histopatologi hepar tikus, maka dilakukan uji hipotesis One Way ANOVA. Sebelum uji hipotesis, dilakukan uji normalitas Saphiro Wilk terlebih dahulu. Hasil uji normalitas menunjukkan nilai p=0,061 (p>0,005) yang artinya data terdistribusi normal. Setelah uji normalitas, selanjutnya dilanjutkan dengan uji

homogenitas dengan nilai p 0,117 (p>0,005) yang artinya data homogen. Karena syarat uji parametrik sudah terpenuhi, maka uji hipotesis One Way ANOVA dapat dilakukan dan dilanjutkan dengan Post hoc LSD. Nilai p pada uji One Way Anova yaitu p=0,00 (p<

0,005) sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh pemberian minuman ringan berkarbonasi terhadap gambaran histopatologi hepar tikus. Untuk mengetahui perbedaaan antar kelompok perlakuan maka dilakukan analisis Post Hoc LSD dapat dilihat pada tabel 5.

Gambar 1. Gambaran Histopatologi Kelompok Kontrol (K), Kelompok Perlakuan 1 (P1), Kelompok Perlakuan 2 (P2), dan Kelompok

Perlakuan 3 (P3).

Tabel 5. Hasil Analisis Post Hoc LSD Kelompok Kelompok

Pembanding

Nilai Signifikansi

(p) Kelompok

Kontrol (K)

P1 0,001

P2 0,001

P3 0,001

Kelompok Perlakuan 1 (P1)

K 0,001

P2 0,003

P3 0,001

Kelompok Perlakuan 2 (P2)

K 0,001

P1 0,003

P3 0,001

Kelompok Perlakuan 3 (P3)

K 0,001

P1 0,001

P2 0,001

Hasil analisis Post Hoc yang dilakukan menunjukkan nilai signifikansi p<0,005 pada

K P1

P2 P3

(5)

Majority | Volume 8 | Nomor 1 | Maret 2019 | 75 semua kelompok sehingga dapat disimpulkan

terdapat perbedaan bermakna pengaruh pemberian minuman ringan berkarbonasii pada setiap kelompok perlakuan yaitu K-P1, K- P2, K-P3, P1-P2, P1-P3, dan P2-P3.

Pembahasan

Hasil penelitian dan uji statistik yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata kerusakan gambaran histologi hepar tikus putih (Rattus Norvegicus) galur Sprague dawley terhadap pemberian minuman ringan berkarbonasi dengan dosis bertingkat. Kerusakan histopatologi yang tampak berupa degenerasi parenkimatosa (bengkak keruh), degenerasi hidrofik, dan perlemakan.

Rerata skor yang didapat pada kelompok kontrol yaitu 1,03, kelompok perlakuan 1 dengan skor 1,43, kelompok perlakuan 2 dengan skor 1,73, dan kelompok perlakuan 3 didapatkan skor 2,37. Rerata skor yang didapat ini mengalami peningkatan dari kelompok K, P1, P2, kemudian P3. Hal ini menunjukkan kerusakan histopatologi yang timbul meningkat seiring dengan meningkatnya dosis minuman ringan berkarbonasi yang diberikan.

Kelompok kontrol menunjukkan gambaran histopatologi normal. Hepatosit, vena sentralis, dan sinusoid tampak masih dalam batas normal. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Lebda et al (2017) bahwa pada kelompok kontrol yang hanya diberi air secara ad libitum menunjukkan gambaran histopatologi normal berupa vena sentralis dan ruang sinusoid yang normal serta hepatosit yang tersusun radier mengelilingi vena sentralis1.

Gambaran histopatologi hepar pada kelompok P1 menunjukkan adanya degenerasi bengkak keruh pada hepatosit di beberapa bagian. Degenerasi adalah perubahan morfologi sel nonlethal yang bersifat reversible.15 Degenerasi bengkak keruh memiliki banyak nama lain diantaranya degenerasi parenkimatosa, degenerasi albumin, dan cloudy swelling.11 Degenerasi bengkak keruh merupakan bentuk paling ringan dari jejas sel. Secara mikroskopis perubahan yang terjadi berupa ukuran sel yang membengak dan sitoplasma yang terlihat

lebih keruh jika dibandingkan sel normal. Pada sitoplasma timbul granul-granul yang terlihat seperti titik-titik karena sel mengandung air yang lebih banyak. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan sel untuk memelihara hemostasis cairan dan ion. Degenerasi dapat terjadi karena adanya zat toksik yang mengganggu organel sel, mitokondria, dan retikulum endoplasma sehingga proses oksidasi sel tidak dapat berlangsung dengan baik. Hal ini menyebabkan sel tidak dapat mengeliminasi hasil metabolit dan menyebabkan terjadinya akumulasi air.15

Gambaran histopatologi hepar pada kelompok P2 yaitu adanya degenerasi bengkak keruh yang lebih masif bila dibandingkan dengan kelompok P1. Selain degenerasi bengkak keruh, juga tampak adanya degenerasi hidrofik dan perlemakan namun belum ditemukan nekrosis. Sedangkan pada kelompok P3 degenerasi hidrofik dan perlemakan yang tampak lebih luas lagi namun belum ditemukan adanya nekrosis pada hepatosit.

Kerusakan yang timbul pada hepar berkaitan dengan fungsi utamanya yaitu metabolisme dan detoksifikasi obat serta toksin yang masuk ke dalam tubuh. Cedera yang terjadi pada hepar dapat terjadi melalui toksisitas langsung atau tidak langsung yaitu konversi suatu xenobiotik menjadi toksin aktif oleh hepar. Xenobiotik merupakan senyawa kimia yang asing bagi tubuh misalnya obat, zat aditif makanan, dan polutan. Xenobiotik akan dimetabolisme dengan bantuan enzim sitokrom P450 menjadi bentuk metabolit reaktif atau akan dikatalis oleh GSH S- transferasi menjadi bentuk metabolit nontoksik. Selanjutnya setelah menjadi metabolit reaktif, akan terjadi pengikatan kovalen dengan makromolekul yang mengakibatkan terjadinya cedera sel.

Makromolekul yang menjadi sasaran pengikatan adalah DNA, RNA, dan protein. Jika makromolekul tempat xenobiotik esensial terikat ini esensial untuk kelangsunganm hidup jangka pendek misalnya enzim atau protein yang berperan penting pada suatu fungsi sel, seperti fosforilasi oksidatif atau regulasi permeabelitas membran plasma, efek kuat terhadapn fungsi sel dapat langsung terlihat. Enzim sitokrom P450 terdapat paling

(6)

Majority | Volume 8 | Nomor 1 | Maret 2019 | 76 banyak di hati terutama pada bagian

retikulum endoplasma halus.11 Bahan toksik yang berlebihan menyebabkan keracunan sehingga terjadi kerusakan hepatosit.

Kerusakan ini diawali dengan degenerasi bengkak keruh (parenkimatosa), degenerasi hidrofik, lalu selanjutnya kerusakan yang bersifat irreversibel yaitu nekrosis.10 Pada penelitian ini, minuman ringan berkarbonasi kemungkinan berperan sebagai toksin yang menyebabkan kerusakan yang telah dibuktikan pada beberapa penelitian sebelumnya.17 Konsumsi minuman ringan berkarbonasi dapat menyebabkan penurunan kadar antioksidan endogen yaitu CoQ10 yang terakumulasi pada hepar dan membran sel.

Penurunan ini menunjukan mekanisme respon protektif terhadap stress oksidatif telah mengalami “kelelahan” karena intake karbohidrat secara kronik yang berasal dari minuman ringan berkarbonasi. Terganggunya respon protektif terhadap antioksidan ini menyebabkan kerusakan pada hepar yang dapat dilihat secara mikroskopis.13 Minuman ringan berkarbonasi merupakan minuman yang tinggi karbohidrat dan tinggi glukosa yang apabila dikonsumsi secara kronik dapat menyebabkan peroksidasi lipid dan menginduksi stress oksidatif dengan mengganggu metabolisme redoks pada mitokondria.10

Perlemakan yang tampak pada P2 dan P3 berkaitan dengan kandungan fruktosa pada minuman ringan berkarbonasi. Minuman ringan yang menggunakan fruktosa sebagai bahan pemanis meningkatkan sintesis asam lemak hepatik dan lipogenesis de novo yang kemudian mengakibatkan meningkatnya TAG dan VLDL dan menyebabkan terjadinya akumulasi lemak pada hepatosit.1

Simpulan

Terdapat pengaruh pemberian minuman ringan berkarbonasi terhadap gambaran histopatologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley.

Daftar Pustaka

1. Lebda MA, Tohamy HG, El-Sayed YS.

Long-term soft drink and aspartame intake induces hepatic damage via

dysregulation of adipocytokines and alteration of the lipid profile and antioxidant status. Nutrition Research.

2017; 5317(17): 3096-9.

2. O'leary L, Hattersley L, Farinelli AM.

Sugary drink consumption behaviours among young adults at university. Nutr Diet. 2012; 69(1): 119–23

3. Berawi KN, Dzulfikar D. Konsumsi soft drink dan efeknya terhadap peningkatan resiko terjadinya osteoporosis. Juke Unila. 2017; 6(2). 23-24

4. Nusaresearch. Report of soft drink consumption habits in Indonesia [internet]. 2014 [disitasi pada tanggal 20 Mei 2018]. Tersedia dari:

https://nusaresearch.net

5. Basu S, McKee M, Galea G, Stuckler D.

Relationship of soft drink consumption to global overweight,

obesity, and diabetes: a cross-national analysis of 75 countries. American Journal of Public Health. 2013; 103(11): 2071-7.

6. Mock K, Lateef S, Benedito VA, Tou JC.

High fructose corn syrup-55 consumption alters hepatic lipid metabolism and promotes trygliseride accumulation.The journal of Nutritional Biochemistry. 2863 2016; (60): 30103-6.

7. Moore KL, Dalley AF, Agur AM. Clinically oriented anatomy. Canada: Lippincott Williams & Wilkins; 2013.

8. Hall JE. Guyton physiology. Edisi Ke-13.

Philadelphia: Saunders Publisher; 2015.

9. Costanzo LS. Board review series physiology. Edisi ke-6: Philadelphia.

Lippincott Williams & Wilkins; 2014.

10. Murti KF, Amarwati S, Wijayahadi N.

Pengaruh ekstrak daun kersen (Muntingia Calabura) terhadap gambaran mikroskopis hepar tikus wistar jantan yang diinduksi etanol dan soft drink.

Jurnal Kedokteran Diponegoro. 2016;

5(4):871-83.

11. Murray RK, Granner DK, Rodwell V.

Biokimia harper. Edisi ke-27. Jakarta: EGC;

2014.

12. Kumar V, Abbas AK, Fausto N, RobbinsSL, Cotran RS. Robbins basic pathology. Edisi Ke-9. Philadelphia: Saunders; 2015.

13. Milei J, Losada MO, Llambi HG, Grana DR, Suarez D, Azzato F et al. Chronic cola

(7)

Majority | Volume 8 | Nomor 1 | Maret 2019 | 77 drinking induces metabolic and cardiac

alterations in rats. World Journal of Cardiology. 2011; 3(4): 111-16.

14. Alkhedaide A, Soliman MM, Eldin ES, Ismail TA, Alshehiri ZS, Attia H. Chronic effects of soft drink consumption on the health state of wistar rats: a biochemical, genetic and histopathological study.

Molecular Medicine Reports. 2016;

13(10): 5109-17.

15. Assy N, Nasser G, Kamayse I, Nseir W, Beniashvili Z, Djibre A, Grosovski M. Soft drink consumption linked with fatty liver in the absence of traditional risk factors.

World Journal of Gastroenterology. 2008;

22(10): 811-6.

16. Sudiono J, Kurniadi B. Ilmu patologi.

Jakarta: EGC. 2014.

17. Nseir W, Nassar F, Assy N. Soft drinks consumption and nonalcoholic fatty liver disease. World Journal of Gastroenterology. 2010; 16(21):2579-88.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini akan membandingkan jenis variasi larutan pendestruksi untuk menganalisis logam timbal Pb dalam minuman ringan berkarbonasi dengan variasi jenis kemasan kemasan

Mengetahui nilai rata-rata kekerasan permukaan sampel resin komposit nanofiller yang direndam dalam aquades (kontrol), minuman ringan berkarbonasi dan

Bab ini berisi tentang pembahasan dan analisis mengenai dasar pertimbangan ekstensifikasi barang kena cukai pada minuman ringan berkarbonasi, upaya yang dilakukan

Pada kelompok perlakuan II yang diberikan ekstrak kulit buah manggis dengan dosis 11.2 mg dan paparan asap obat nyamuk bakar selama 8 jam/hari terlihat gambaran mikroskopis berupa 1

Ketika pada dosis rendah pemberian senyawa antioksidan alami diketahui mampu bertindak sebagai antioksidan dan agen antiinflamasi namun sebaliknya pada dosis tinggi dapat bertindak

Durasi yang lama dapat menyebabkan kerusakan yang lebih parah dari nervus fasialis dan hasil pembedahan yang buruk.20 Perforasi membran timpani dapat menutup secara spontan, akan tetapi

Pemeriksaan yang dilakukan seperti kultur jamur dan pemeriksaan mikroskopis dengan spesimen kerokan kulit dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis pitiriasis versikolor.5 Terapi

Konsumsi bawang hitam dapat meningkatkan aktivitas antioksidan yang berperan dalam mencegah kerusakan oksidatif pada hati akibat intoksikasi alkohol.. Sutarni, “Pendekatan Diagnostik