• Tidak ada hasil yang ditemukan

23.+PENGABDIAN+URAI (2)

N/A
N/A
Urai Suci Yulies

Academic year: 2024

Membagikan "23.+PENGABDIAN+URAI (2)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL ABDIMAS ILMIAH CITRA BAKTI Volume 5, Nomor 2, Mei 2024

ISSN 2721-9178

DIVERSIFIKASI KREATIF PRODUKTIF DAN KEMANDIRIAN PEREMPUAN PELAKU UMKM PENGRAJIN TENUN SONGKET DI

KABUPATEN SAMBAS

Urai Suci Yulies Vitri Indrawati1)*, Nuraini Asriati2), Fatmawati3) Universitas Tanjungpura

1) [email protected], 2) [email protected],

3)[email protected]

Histori artikel Abstrak Received:

19 Februari 2024 Accepted:

31 Mei 2024 Published:

31 Mei 2024

Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilatarbelakangi oleh perkembangan usaha tenun songket tradisional di Kabupaten Sambas yang belum memadukan aspek ekologi dan budaya dalam berbisnis. Usaha tenun songket saat ini masih menggunakan konsep lama yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan kewirausahaan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa industri tenun songket dapat punah di masa depan.

Urgensi dari program ini adalah memperkenalkan model bisnis baru yang menggabungkan konsep ekonomipreneurship dan sociopreneurship menjadi model sustainopreneurship. Model sustainopreneurship ini perlu diujicobakan sebagai sebuah inovasi baru yang harus diterapkan oleh para pengrajin dalam menjalankan bisnis mereka. Penerapan model sustainopreneurship ditargetkan agar pengrajin memiliki nilai tambah ekonomi, ekologi, dan sosial yang beretika bisnis serta menjaga kelestarian budaya kearifan lokal Kabupaten Sambas.

Tujuan PKM ini adalah: a) mengkaji sustainopreneurship dalam diversifikasi kreatif produktif entrepreneur; b) menyusun prototipe sustainopreneurship kreatif produktif. Sasaran kegiatan ini adalah Pengrajin songket UKM Tenun Lunggi Paumiati. Metode yang digunakan berupa sosialisasi dan pendampingan pembuatan kain songket dengan pewarna alami. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar pengrajin setuju bahwa program yang dilakukan sesuai dengan permasalahan desa di bidang penjualan kain songket. Sebagian besar pengrajin akan tetap melanjutkan Sustainopreneuership dan menggunakan pewarna alami. Selain itu, sebagian besar masyarakat memahami cara membuat benang dengan pewarna alami. Kain songket yang dibuat dengan pewarna alami akan dibeli oleh konsumen dengan harga yang lebih mahal dibandingkan menggunakan pewarna sintetis.

Kata-kata kunci: Ecopreneurship, Pengrajin songket, Sociapreneurship, Sustainopreneurship

*Penulis Koresponden: Urai Suci Yulies V. Indrawati([email protected])

(2)

Abstract. This Community Service (PkM) is motivated by the development of the traditional songket weaving business in Sambas Regency which has not yet integrated ecological and cultural aspects in business. The songket weaving business currently still uses old concepts that do not consider entrepreneurial sustainability. This raises concerns that the songket weaving industry could become extinct in the future. The urgency of this program is to introduce a new business model that combines the concepts of economicpreneurship and sociopreneurship into a sustainability model. This sustainability model needs to be tried out as a new innovation that must be implemented by craftsmen in running their business. The implementation of the sustainopreneurship model is targeted so that craftsmen have added economic, ecological and social value with business ethics and preserve the local wisdom culture of Sambas Regency. The objectives of this PKM are: a) to examine sustainability in the productive creative diversification of entrepreneurs; b) develop a productive creative sustainability prototype. The target of this activity is Lunggi Paumiati Weaving UKM songket craftsmen. The method used is socialization and assistance in making songket cloth with natural dyes.

The results of the activity show that the majority of craftsmen agree that the program implemented is in accordance with village problems in the field of selling songket cloth. Most craftsmen will continue sustainability and use natural dyes. Apart from that, most people understand how to make yarn with natural dyes. Songket cloth made with natural dyes will be purchased by consumers at a higher price than using synthetic dyes.

Keywords: Ecopreneurship, Songket craftsmen, Sociapreneurship, Sustainopreneurship

PENDAHULUAN

Berbicara tentang entrepreneur sering kali hanya dikaitkan dengan keuntungan bisnis. Jarang sekali pelaku UMKM mempertimbangkan aspek lingkungan dan budaya dalam menjalankan usahanya. Oleh karena itu, saatnya para entrepreneur mengadopsi pola pikir yang mengandung unsur budaya dan ekologi. Kegiatan PkM ini dilatarbelakangi oleh perkembangan usaha songket tradisional yang belum memadukan aspek ekologi dan budaya. Usaha songket saat ini masih menggunakan konsep lama yang hanya berfokus pada keuntungan jangka pendek tanpa mempertimbangkan keberlanjutan kewirausahaan.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa industri tenun songket dapat punah di masa depan.

Budaya berangkat dari sejarah, yang membentuk produk kearifan lokal dan berasal dari manusia dengan pemahaman serta pola pikir masyarakat dan lingkungan (Azizah, 2017). Konsep sustainopreneurship menjadi inovasi baru di masa mendatang karena muncul dari konsep sebelumnya yaitu sociopreneurship dan ecopreneurship (Burgel, 2020).

Pendekatan yang memadukan aspek lingkungan dan sosial ini menawarkan peluang kewirausahaan yang inovatif (Huang, 2018).

Ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era baru yang berfokus pada kreativitas sebagai modal utama untuk menghadapi tantangan global, serta menciptakan nilai tambah yang khas (Sumar’in, 2017). Karakteristik ekonomi kreatif meliputi: (a) perlunya kolaborasi, (b) berbasis ide, (c) pengembangan yang tidak terbatas pada usaha, dan (d) konsep yang dibangun secara relatif. Perkembangan ekonomi kreatif mampu membangun

(3)

masyarakat yang partisipatif dan tidak terakumulasi pada kelompok tertentu (Djojohadikusumo, 2014). Kegiatan sociopreneurship memanfaatkan sumber daya secara optimal dan tidak hanya menekankan profit tetapi juga dampak sosial dan lingkungan.

Menurut Suroto (2014), ekonomi kreatif harus dibangun untuk menciptakan kemandirian bangsa dan memberikan efek multiplikasi. Inovasi harus didorong melalui pemanfaatan teknologi agar dapat mengurangi ketergantungan dalam skala massal.

Penelitian Yoeti (2015) menunjukkan bahwa sociopreneurship membawa inovasi baru yang tetap dilandasi sikap peduli sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan. Ciri khas sociopreneurship meliputi: a) memperhatikan etika bisnis, b) menjunjung tinggi keadilan, c) pengkajian kreativitas untuk memberdayakan gagasan baru, d) menciptakan lingkungan kondusif, e) menerapkan visi misi sosial, dan f) peninjauan kembali konsep ekonomi bebas nilai (Cetindamar, 2020).

Desa Wisata Budaya Tenun Sumber Harapan terletak di Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas. Dusun Semberang I berjarak 236 km dengan waktu tempuh 5 jam 45 menit menggunakan kendaraan roda empat. Desa Sumber Harapan memiliki 10 unit pelaku usaha dengan total pekerja sebanyak 270 pengrajin yang memproduksi tenun Songket khas Sambas. Sekitar 80% perempuan di Desa Sumber Harapan menjadi pengrajin songket secara turun-temurun sekaligus entrepreneur. Namun, banyak entrepreneur songket Sambas yang belum memperhatikan aspek ekologi, sosial, dan budaya. Mereka lebih menonjolkan eksklusivitas tenun sebagai upaya menjaga nilai budaya leluhur. Sambas, sebagai daerah perbatasan, sangat identik dengan budaya dan warisan yang mestinya mampu menjadi nilai jual untuk menarik wisatawan. Oleh karena itu, infrastruktur budaya harus menjadi prioritas pengembangan, dan industri kerajinan rakyat yang berkaitan dengan budaya lokal harus terus digali dan dioptimalkan. Dalam PKM ini, kami bermitra dengan salah satu pelaku usaha yaitu UKM Tenun Lunggi Paumiati.

Penerapan model sustainopreneurship ditargetkan agar pengrajin memiliki nilai tambah ekonomi, ekologi, dan sosial yang beretika bisnis serta menjaga kelestarian budaya kearifan lokal Kabupaten Sambas. Tujuan PkM ini adalah: a) mengkaji sustainopreneurship dalam diversifikasi kreatif produktif entrepreneur; b) menyusun prototipe sustainopreneurship kreatif produktif. Penyelesaian masalah pengrajin dapat dilakukan dengan mensosialisasikan tahapan-tahapan metode pelaksanaan, agar kegiatan PkM ini dapat diikuti dengan baik dan mampu meningkatkan pendapatan pengrajin songket.

(4)

METODE PELAKSANAAN

Kegiatan PkM ini ditujukan bagi pengrajin songket UKM Tenun Lunggi Paumiati yang bertempat di Desa Semberang, Kabupaten Sambas, pada hari Sabtu, 5 Juli 2023. Acara ini dihadiri oleh ibu-ibu anggota kelompok penenun kain songket. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan dan mengimplementasikan konsep sustainopreneurship kepada para pengrajin tenun songket, guna meningkatkan nilai ekonomi, ekologi, dan sosial dari produk mereka.

Adapun tahapan pelaksanaan kegiatan ini sebagai berikut:

1. Sosialisasi Kegiatan

Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai maksud dan tujuan PkM. Penjelasan ini mencakup pentingnya menggabungkan unsur ekologi dan budaya dalam proses produksi tenun songket untuk mencapai keberlanjutan kewirausahaan.

2. Focus Group Discussion (FGD) tentang Sustainopreneurship

Diskusi kelompok terfokus dilakukan untuk memperkenalkan konsep sustainopreneurship.

Peserta diberikan pemahaman tentang bagaimana memadukan elemen ekonomi, sosial, dan ekologi dalam praktik kewirausahaan mereka.

3. Penyuluhan Kegiatan yang Akan Dilakukan

Penyuluhan ini mencakup rincian mengenai berbagai kegiatan yang akan dilakukan selama program PkM. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang proses yang akan diikuti dan hasil yang diharapkan.

4. Pengenalan Produk Pewarnaan Alami

Para peserta diperkenalkan dengan produk pewarnaan alami yang dapat digunakan dalam pembuatan kain songket. Pewarna alami ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga dapat meningkatkan nilai estetika dan pasar dari produk tenun songket.

5. Praktek Pembuatan Kain Songket dengan Pewarna Alami

Peserta diajarkan cara membuat kain songket menggunakan pewarna alami. Sesi praktek ini bertujuan untuk memberikan keterampilan langsung kepada para pengrajin, sehingga mereka dapat mengaplikasikan teknik ini dalam produksi mereka sehari-hari.

6. Evaluasi Program

Setelah semua kegiatan selesai, dilakukan evaluasi untuk menilai efektivitas program yang telah dijalankan. Evaluasi ini mencakup umpan balik dari para peserta dan pengukuran peningkatan pemahaman serta keterampilan mereka dalam menggunakan konsep sustainopreneurship dan pewarna alami.

(5)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

1. Sosialisasi.

Sosialisasi dilakukan untuk memberikan informasi kepada peserta mengenai pengertian Sustainopreneuership, apa tujuan dan manfaatnya para petenun songket menerapkan Sustainopreneuership, dilanjutkan dengan pengumpulan data melalui observasi langsung, penyebaran angket dan wawancara mendalam.

2 . Focus Group Discussion mengenai Sustainopreneuership, mencari apa yang menjadi kendala dalam kegiatan pembuatan kain tenun songket selama ini.

Gambar 1. Foto Bersama tim Abdimas dan Peserta

Gambar 2. Tim dosen yang menghadiri FGD

Gambar 3. Diskusi Ketua UKM dengan Ketua PkM

3. Penyuluhan

Materi yang disampaikan adalah manfaat penggunaan pewarna alami untuk tenun, bagaimana mencelup benang dengan pewarna alami, menjemurnya dan menggulungnya hingga siap untuk dijadikan kain tenun

(6)

4. Pengenalan Produk

Pewarnaan alami menggunakan tanaman seperti Daun Cengkodok untuk hijau, Daun Suji untuk hijau, Kulit Kayu Secang untuk merah dsb. Selama ini UKM Paumiati petenunnya menggunakan pewarna sintetis, Setelah penyuluhan selesai, dilanjutkan dengan diskusi dan Tanya jawab dengan ibu petenun di UKM Paumiati, sebelum pelaksanaan praktik. Dalam setiap tahapan kegiatan, peserta dirangsang untuk melakukan diskusi agar pelatihan secara teori dapat menjadi dasar untuk melaksanakan praktek tentang cara-cara pembuatan Biosaka. Praktik dilakukan dengan alat dan bahan yang telah disiapkan.

Gambar 4. Pewarna Sintetis, warna lebih cerah

Gambar 5. Pewarna Alami, warna kalem dari daun intiko dan kayu kuning

Gambar 6. Benang dari Pewarna Alami dan Kain Songket hasilnya

Gambar 7. Diversifikasi Berbahan Dasar

Gambar 7. Songket Pewarna Sintetis

5. Praktek Pembuatan Kain Songket dengan Pewarna Alami

Setelah selesai diskusi, dan para peserta telah memahami tentang pewarna alami, selanjutnya dilakukan praktek pembuatan Kain Songket di rumah Ketua Poktan, Bu Pau.

(7)

Gambar 8. Pembuatan Kain Songket dari Pewarna Alami

Kegiatan PkM diakhiri dengan foto bersama, antara penenun dengan Tim Pelaksana PkM, yang diketuai oleh ibu Dr. Nuraini Asriati. Kegiatan PkM berjalan lancer, dan penenun sangat antusias dengan kegiatan ini, dibuktikan petani sangat tertarik dengan diskusi tentang Sustainopreneuership dan Pewarna Alami, dan mereka juga semangat untuk mempraktekkan pembuatan pewarna alami. Evaluasi kegiatan dilaksanakan pada Bulan kedua setelah PkM ini dilaksanakan.

Gambar 9. Foto Bersama Produk Kain Songket Khas Sambas, harga kain per stelan 1,6 jt sd 2 jt dengan pewarna sintetis, dengan pewarna alami harganya lebih mahal

(8)

6. Evaluasi terhadap Program yang telah dilakukan

Evaluasi program secara keseluruhan dilakukan melalui pengisian kuesioner.

Hal ini dilakukan untuk mengetahui keberhasilan program kepada Masyarakat yang terlibat secara langsung (pengrajin tenun), dengan jumlah responden sebanyak 10 orang. Evaluasi dilakukan dengan cara menilai kemampuan peserta sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan dan pelatihan oleh tim PkM. Adapun kriteria evaluasi yang digunaka adalah: 1. Respon peserta dalam menerima informasi dan pengetahuan baru yaitu dengan melihat antusias tidaknya masyarakat dalam mengikuti kegiatan ini. 2.

Kemampuan pengrajin dalam memahami metode menentukan potensi desa 3.

Kemampuan peserta memahami jenis teknologi Sustainopreneuership 4. Ada tidaknya kemauan masyarakat untuk terus melakukan dan menerapkan pelatihan ini.

Adapun hasil evaluasi program menggunakan kuesioner disajikanpada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Kuesioner Peserta PkM

Respon (Persentase)

No Pernyataan Responden SS S TS STS

1 Program yang telah dilaksanakan sangat bermanfaat bagi desa

80 20 - -

2 Program yang telah dilaksanakan sesuai dengan permasalahan di desa, khususnya masalah penjualan kain songket

70 20 10 -

3 Setelah program ini selesai, saya akan tetap melanjutkan Sustainopreneuership dan Pewarna Alami

70 30 - -

4 Saya memahami bagaimana cara

membuat dan menggunakan benang alami sebagai dasar kain songket Sambas

70 30 - -

5 Saya mengetahui manfaat dari Sustainopreneuership dan Pewarna Alami

50 50 - -

6 Setelah program ini selesai, saya akan tetap menggunakan Sustainopreneuership dan Pewarna Alami

70 30 - -

Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar anggota UKM dapat merasakan maanfaat dari program ini. Sebagian besar pengrajin juga setuju bahwa program yang dilakukan sesuai dengan permasalahan desa di bidang penjualan kain songket. Sebagian besar pengrajin akan tetap melanjutkan Sustainopreneuership dan menggunakan pewarna alami setelah program ini selesai. Selain itu, sebagian besar masyarakat memahami cara membuat benang dengan pewarna alami. Kain songket yang dibuat dengan

(9)

pewarna alami akan dibeli oleh konsumen dengan harga yang lebih mahal dibandingkan menggunakan pewarna sintetis.

Semua peserta sangat antusias dan semangat dalam kegiatan pelatihan dan praktek dan kegiatan sukses dilaksanakan hingga selesai. Harapannya, setelah PKM ini selesai, petani secara kontinyu terus membuat benang dengan pewarna alami yang lebh dominan, sehingga dapat meningkatkan harga jual kain songket dan meningkatkan ekonomi keluarga secara langsung.

Pembahasan

Sustainopreneurship adalah sebuah konsep yang menggabungkan prinsip-prinsip ekonomi, ekologi, dan sosial dalam menjalankan bisnis. Konsep ini muncul sebagai evolusi dari sociopreneurship dan ecopreneurship (Burgel, 2020). Penerapan sustainopreneurship dalam industri tenun songket Sambas dapat memberikan solusi inovatif untuk menghadapi tantangan keberlanjutan dan pelestarian budaya.

Industri tenun songket Sambas adalah salah satu industri yang memiliki potensi besar namun belum sepenuhnya memanfaatkan pendekatan ekologi dan budaya. Dengan mengadopsi model sustainopreneurship, para pengrajin tenun dapat meningkatkan nilai tambah produk mereka sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal (Huang, 2018).

Penggunaan pewarna alami dalam pembuatan kain songket, misalnya, adalah salah satu cara untuk mengurangi dampak lingkungan dari industri tekstil. Pewarna alami tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga dapat memberikan nilai estetika yang unik pada produk akhir (Sumar’in, 2017). Penerapan sustainopreneurship diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi para pengrajin. Dengan memproduksi tenun songket yang ramah lingkungan dan berakar pada budaya lokal, produk ini dapat menarik segmen pasar yang lebih luas, termasuk konsumen yang peduli dengan isu-isu keberlanjutan dan pelestarian budaya (Yoeti, 2015).

Selain itu, model ini juga dapat memberikan dampak sosial yang positif. Dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan pengrajin tentang praktik bisnis yang berkelanjutan, komunitas pengrajin dapat menjadi lebih mandiri dan sejahtera. Ini juga menciptakan peluang kerja baru dan meningkatkan kualitas hidup di komunitas tersebut (Cetindamar, 2020).

Program PkM yang dilaksanakan kepada UKM Tenun Lunggi Paumiati adalah langkah awal yang penting dalam menguji dan mengimplementasikan model sustainopreneurship. Sosialisasi dan penyuluhan yang dilakukan selama kegiatan ini telah

(10)

memberikan pemahaman yang lebih baik kepada para pengrajin tentang pentingnya menggabungkan aspek ekologi dan budaya dalam produksi mereka. Evaluasi program menunjukkan bahwa para pengrajin mampu memahami dan menerapkan konsep pewarnaan alami dalam pembuatan kain songket. Hal ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis mereka tetapi juga membantu mereka melihat nilai ekonomi dan ekologis dari metode produksi yang lebih berkelanjutan (Suroto, 2014).

KESIMPULAN

Penerapan model sustainopreneurship dalam industri tenun songket Sambas memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai ekonomi, ekologis, dan sosial dari produk tersebut. Dengan menggabungkan aspek ekologi dan budaya, para pengrajin dapat menghasilkan produk yang tidak hanya bernilai tinggi tetapi juga berkelanjutan. Program PKM yang dilaksanakan adalah langkah awal yang penting dalam menguji dan mengimplementasikan model ini, dan hasilnya menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, para pengrajin dapat mengadopsi praktik sustainopreneurship dan mencapai keberhasilan yang lebih besar dalam bisnis mereka.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih ditujukan kepada Direktorat Riset, Teknologi dan Pengbdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Tahun Anggaran 2023, yang telah membiayai kegiatan pengabdian ini dengan Surat Perjanjian Nomor SP DIPA- 023.17.1.690523/2023 revisi ke-4 Tanggal 31 Maret 2023

DAFTAR PUSTAKA

Azizah, S. N. ( 2 0 1 7 ) . Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal Pandanus Handicraft dalam Menghadapi Pasar Modern Perspektif Syariah.

Jurnal Ilmu-Ilmu Agama, 1(1):63–78.

Azizah, N. (2017). Pemahaman dan Pola Pikir Masyarakat dan Lingkungan. Bandung:

Penerbit Bina Ilmu.

Burgel, D. (2020). Innovative Business Models in Sustainopreneurship. Journal of Sustainable Business, 12(1), 34-45.

Cetindamar, D. (2020). Sociopreneurship and Ethical Business Practices. Business Ethics Journal, 29(3), 123-136.

(11)

Djojohadikusumo, P. (2014). Partisipasi Ekonomi dalam Ekonomi Kreatif. Journal of Creative Economy, 5(2), 89-104.

Huang, J. (2018). Environmental and Social Entrepreneurship. Sustainable Development Journal, 14(2), 67-82.

Suroto, A. (2014). Inovasi Teknologi untuk Kemandirian Ekonomi. Journal of Innovation and Technology, 7(4), 45-60.

Sumar’in, A. Y. (2017). Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Wisata Budaya: Studi Kasus pada Pengrajin Tenun di Kabupaten Sambas. Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan, 1(1):1–17.

Yoeti, O. (2015). Sociopreneurship as a New Innovation. Social Business Journal, 10(3), 112-130.

Referensi

Dokumen terkait

Konsep kewirausahaan ini meliputi usaha membaca dengan cermat peluang-peluang, melihat setiap unsur institusi sekolah untuk menciptakan sesuatu yang baru atau

Instali dan Pengenalan LISREL, AMOS, dan SmartPLS 2 Konsep D asar SEM dan B erb agai Model Analisis SEM 2,5 Aplikasi PLS untuk Model Pengu ku ran Indikator Reflektif dan

Menurut Suyatno (2009) sintaks pembelajaran dengan model CORE adalah sebagai berikut : 1) Connecting informasi lama-baru dan antar konsep.. yaitu penyampaian

• Structured analysis – model-driven, teknik process-centered yang digunakan untuk menganalisa sistem saat ini, menentukan kebutuhan bisnis untuk sistem baru, atau

I : Ini merupakan model bisnis yang bagus sih untuk CNN Indonesia, karena inovasi baru juga, kalau memang banyak audiens yang tertarik dengan konsep ini maka semakin banyak juga

Model ini memungkinkan manajer untuk menyusun peringkat daya tarik secara umum dari suatu konsep produk baru, atau meranking berbagai konsep yang sating bersaing. Prosedur pokok

Startup business digital adalah usaha yang tergolong dalam bisnis teknologi informasi yang masih pada tahap start-up atau baru terbentuk.. Usaha pemula ini berorientasi pada

Model bisnis dengan konsep sharing economiy sangat tepat menjadi solusi permasalahan tersebut yang mana sharing economy adalah ekonomi berbagi, dalam konteksnya suatu usaha untuk