• Tidak ada hasil yang ditemukan

2338 3055 1 PB Jurnal Indonesia

N/A
N/A
Fitroh Satrio

Academic year: 2023

Membagikan "2338 3055 1 PB Jurnal Indonesia"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Medula | Volume 9 |Nomor 1| Juli 2019 | 6

Perbandingan Pengaruh Ekstrak Daun Teh Hijau Dengan Metformin Terhadap Histopatologi Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Sprague Dawley

Dengan Diet Tinggi Lemak

Keith Shawn Jeff Linus1 Rizki Hanriko2 Tri Umiana Soleha3

1Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

2Bagian Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

3Bagian Mikrobiologi dan Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Abstrak

Masyarakat yang tinggal di kota besar cenderung memiliki keterbatasan waktu sehingga membutuhkan makanan dengan mudah dan praktis. Restoran cepat saji memberikan kemudahan dan pelayanan yang cepat dalam menyajikan makanan namun banyak memiliki kandungan lemak yang tinggi. Diet tinggi lemak ini dapat membuat kerusakan pada organ tubuh terutama ginjal. Metformin dan teh hijau memiliki kemampuan untuk mengurangi kadar lemak dalam tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan pengaruh ekstrak daun teh hijau dengan metformin terhadap histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley dengan diet tinggi lemak. Penelitian analitik eksperimental dengan rancangan post test only control group design. Sampel dalam penelitian ini adalah tikus putih (Rattus norvegicus) berjumlah 25 ekor yang dibagi dalam 5 kelompok, yaitu kontrol (tidak diberikan perlakuan), perlakuan 1 (diberikan metformin 100mg/kgBB/hr), perlakuan 2 (diberikan metformin 300mg/kgBB/hr), perlakuan 3 (diberikan ekstrak daun teh hijau 81mg/kgBB/hr), dan perlakuan 4 (diberikan ekstrak daun teh hijau 270mg/kgBB/hr), yang juga diberikan diet tinggi lemak. Kemudian dilakukan pembedahan untuk pemeriksaan histopatologi. Pada penelitian ini didapatkan rerata skor kerusakan ginjal pada kelompok K, P1, P2, P3, dan P4 adalah 2,88, 2,32, 1,84, 2,32, dan 2,08. Kemudian pada uji Post-Hoc Mann-Whitney didapatkan nilai p antara P1 dan P2 adalah 0,095, P1 dan P3 adalah 1,000, P1 dan P4 adalah 0,262, P2 dan P3 adalah 0,095, P2 dan P4 adalah 0,268, dan P3 dan P4 adalah 0,262. Tidak terdapat perbandingan pengaruh ekstrak daun teh hijau dengan metformin terhadap histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley dengan diet tinggi lemak.

Kata Kunci: Diet tinggi lemak, Ekstrak daun teh hijau, Ginjal, Metformin

Effect Comparison Of Green Tea Leaf Extract With Metformin To Kidney Histopathology Of White Rats (Rattus Norvegicus) Sprague Dawley Strain

With High-Fat Diet

Abstract

Peoples who live in big cities tend to have limited time so they need food easily and practically. Fast food restaurants provide convenience and fast service in serving food but many have high fat content. This high-fat diet can cause damage to body organs, especially the kidneys. Metformin and green tea have the ability to reduce fat levels in the body. The purpose of this study was to know the effect comparison of green tea leaf extract with metformin to kidney histopathology of white rats (Rattus norvegicus) Sprague Dawley strain with high-fat diet. Experimental analytical research with post test only control group design. The sample in this study were 25 white rats (Rattus norvegicus) divided into 5 groups, that are control (K) (not given treatment), treatment 1 (P1) (given metformin 100mg/kgBW/day), treatment 2 (P2) (given metformin 300mg/kgBW /day), treatment 3 (P3) (given green tea leaf extract 81mg/kgBW/day), and treatment 4 (P4) (given green tea leaf extract 270mg/kgBW/day), which were also given a high-fat diet. Then surgery is performed for histopathological examination. In this study the mean score of kidney damage in the K, P1, P2, P3, and P4 groups were 2.88, 2.32, 1.84, 2.32, and 2.08. Then in the Mann-Whitney Post-Hoc test the p value between P1 and P2 are 0.095, P1 and P3 are 1,000, P1 and P4 are 0.262, P2 and P3 are 0.095, P2 and P4 are 0.268, and P3 and P4 are 0.262. There is no effect comparison of green tea leaf extract with metformin to kidney histopathology of white rats (Rattus norvegicus) Sprague Dawley strain with high-fat diet.

Keywords: Green tea leaf extract, High-fat diet, Kidney, Metformin

Korespondensi: Keith Shawn Jeff Linus, alamat Jl. Prof Soemantri Brojonegoro no. 1 Gedong Meneng Bandar Lampung, HP 089530090666, e-mail: [email protected]

(2)

Medula | Volume 9 |Nomor 1| Juli 2019 | 7

Pendahuluan

Masyarakat yang tinggal di kota besar saat ini cenderung memiliki tingkat stres yang tinggi akibat kesibukan dan kegiatan yang sangat padat. Keterbatasan waktu membuat masyarakat berpikir mudah dan praktis dalam memenuhi kebutuhan terhadap makanan.1 Masyarakat cenderung memanfaatkan kemudahan dan pelayanan cepat yang ditawarkan oleh restoran cepat saji meskipun makanan yang disajikan tersebut mengandung lemak yang sangat tinggi. Sebagian besar masyarakat cenderung mengabaikan dampak buruk mengkonsumsi berbagai macam makanan cepat saji yang tinggi lemak, hal ini seiring dengan semakin menjamurnya restoran cepat saji yang selalu penuh dengan pengunjung. Kemudahan dan kenikmatan yang ditawarkan oleh restoran cepat saji dewasa ini menghilangkan keyakinan masyarakat bahwa mengkonsumsi makanan tinggi lemak setiap hari dalam waktu singkat dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan masyarakat yaitu meningkatnya prevalensi kegemukan (obesitas) dan sindrom metabolik.2

Diet tinggi lemak dapat mengakibatkan keadaan hiperinsulinemia yang menyebabkan peningkatan dalam penyimpanan nutrien sehingga obesitas terjadi lebih cepat.3,4,5 Asupan lemak yang tinggi menyebabkan penumpukan dalam tubuh dan jika penumpukan lemak terjadi di ginjal dapat meningkatkan resiko gagal ginjal kronis dan hipertensi.6 Kelebihan lemak dalam tubuh ditimbun di dalam jaringan subkutan, sekitar organ tubuh dan kadang terjadi perluasan sampai ke dalam jaringan organ.7

Lemak di dalam tubuh akan dipecah menjadi trigliserida, kolesterol, asam lemak bebas dan fosfolipid. Semua senyawa lemak tersebut diserap dalam darah dan ditranspor dalam bentuk lipoprotein. Lipoprotein terdiri dari triasilgliserol, apoprotein dan kolesterol.

Peningkatan konsumsi kolesterol akan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah yang disebut hiperkolesterolemia.8 Individu dengan hiperkolesterolemia ditandai dengan adanya hipertriasilgliserol, meningkatnya kadar kolesterol total, meningkatnya Low Density Lipoprotein (LDL) dan rendahnya kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kondisi ini merupakan penyebab timbulnya aterosklerosis

dini, sehingga individu tersebut memiliki risiko tinggi mengalami penyakit gangguan pembuluh darah.9,10

Aterosklerosis menyebabkan pembuluh darah menjadi kehilangan distensibilitasnya dan karena daerah dinding pembuluh berdegenerasi, pembuluh menjadi mudah ruptur.11 Aterosklerosis yang terjadi di dalam glomerulus disebut glomerulosklerosis.

Glomerulus mengalami penetrasi LDL ke subendotel, proliferasi sel otot, permeabilitasnya meningkat, dan mudah terjadi trombosis. Kerusakan glomerulus ini mengakibatkan filtrat glomerulus mengandung protein, eritrosit maupun leukosit sehingga terjadi peradangan. Radang adalah respon awal dari suatu jaringan terhadap injury.

Peradangan yang terjadi di dalam glomerulus disebut glomerulonefritis.12

Keadaan hiperinsulinemia akibat diet tinggi lemak bisa diinterupsi lebih lanjut dengan obat yang meningkatkan sensitivitas yaitu metformin.13 British Journal of Clinical Pharmacology meneliti penggunaan metformin secara unlicensed di UK dari tahun 2000 sampai tahun 2010. Secara evidence metformin dapat digunakan untuk obesitas.14

Metformin terbukti dapat menurunkan berat badan, dan mengurangi lemak visceral.15 Pada penderita perlemakan hati (fatty liver), didapatkan perbaikan signifikan dengan penggunaan metformin.16 Metformin juga terbukti mempunyai efek protektif terhadap komplikasi makrovaskular.17 Dapat disimpulkan bahwa efek metformin dapat digunakan sebagai terapi obesitas.18

Metformin mempengaruhi metabolisme lemak, tidak hanya lemak perifer namun juga lemak pada hepar, miokardium, dan beberapa jaringan lainnya. Metformin dapat mengaktifkan enzim adenosine monophosphate-activated protein kinase (AMPK).19 AMPK selain di hipotalamus, dapat ditemukan di bagian tubuh perifer.20,21 AMPK memiliki peran penting dalam regulasi metabolisme lemak di perifer dengan cara;

fosforilasi dan menghambat acetyl-coenzyme A carboxylase 1 (ACC1) dan 3-hydroxy-3- methylglutaryl-coenzyme A (HMG-CoA), mengurangi fatty acid synthase (FAS) dan mengaktivasi malonyl-CoA carboxylase yang

(3)

Medula | Volume 9 |Nomor 1| Juli 2019 | 8

pada akhirnya mengurangi asam lemak dan sintesa kolesterol.21

Tanaman herbal juga dapat menurunkan berat badan (obesitas), salah satunya adalah teh hijau (Camelia sinensis). Penurunan berat badan ini terjadi melalui penghambatan diferensiasi dan proliferasi adiposit. Juga dengan mengurangi dalam penyerapan karbohidrat dan lemak melalui hambatan enzim pencernaan.22 Selain itu kegunaan teh untuk mengobati sakit kepala, diare, sebagai penyubur dan penghitam rambut, darah tinggi, infeksi saluran cerna, mencegah osteoporosis, menurunkan berat badan, dan menurunkan resiko penyakit kanker. Teh hijau merupakan teh yang tidak mengalami proses fermentasi dan banyak dikonsumsi orang karena nilai medisnya. Teh hijau kerap digunakan untuk membantu proses pencernaan dan juga karena kemampuannya dalam membunuh bakteri.23

Dari uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang perbandingan pengaruh ekstrak daun teh hijau dengan metformin terhadap histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley dengan diet tinggi lemak.

Metode

Penelitian ini adalah penelitian analitik eksperimental menggunakan metode rancangan acak terkontrol dengan pendekatan post test only control group design. Subjek penelitian yang akan digunakan adalah 25 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) dewasa galur Sprague Dawley, sehat, umur lebih dari 7 minggu dengan dipilih secara random dan dibagi ke dalam 5 kelompok. Adapun ke lima kelompok tikus ini terdiri dari: Kelompok Kontrol (K) merupakan kelompok tikus yang diberi Aquades. Kelompok ini digunakan sebagai kelompok kontrol. Kelompok Perlakuan 1 (P1) merupakan kelompok tikus yang diberi Metformin dengan dosis 100mg/kgBB/hr selama 28 hari berturut-turut.

Kelompok Perlakuan 2 (P2) merupakan kelompok tikus yang diberi Metformin dengan dosis 300mg/kgBB/hr selama 28 hari berturut- turut. Kelompok Perlakuan 3 (P3) merupakan kelompok tikus yang diberi Ekstrak daun teh hijau dengan dosis 81mg/kgBB/hr selama 28 hari berturut-turut. Kelompok Perlakuan 4 (P4) merupakan kelompok tikus yang diberi Ekstrak

daun teh hijau dengan dosis 270mg/kgBB/hr selama 28 hari berturut-turut.

Prosedur penelitian diawali dengan adaptasi tikus selama 7 hari dengan makan dan minum ad libitum sebelum penelitian dimulai.

Setelah masa adaptasi, tikus diberi makan tinggi lemak serta minum ad libitum.

Pemberian metformin dengan dosis 100mg/kgBB/hr untuk tikus kelompok P1, 300mg/kgBB/hr untuk tikus kelompok P2, diberikan selama 28 hari berturut-turut secara peroral dengan menggunakan sonde lambung.

Selama perlakuan, tikus tetap diberikan makan tinggi lemak dan minum air ad libitum.

Pembuatan ekstrak daun teh hijau menggunakan ±200g daun teh hijau kering lalu diseduh sebanyak dua kali dengan air mendidih sebanyak 6000ml, kemudian dipekatkan dengan magnetic stirrer dan dianginkan dengan kipas angin pada suhu 80℃ sampai hampir kering. Larutan pekat tersebut kemudian di oven dengan suhu 80℃ sampai kering, dan didapatlah hasil 150g (sekitar 20%).

Hasil tersebut kemudian diblender selama 10 menit dalam etanol 90%, lalu disaring dengan corong Büchner dan ampasnya dibuang. Filtrat kemudian ditambahkan kloroform dan dimasukkan dalam corong pisah lalu lapisan kloroform dibuang. Sedangkan setelah lapisan air ditambahkan etil asetat dan dimasukkan ke dalam corong pisah, lapisan air tersebut dibuang, namun lapisan etil asetat dipekatkan dengan magnetic stirrer pada suhu 40℃

sampai pekat. Kemudian tambahkan sedikit air, lalu dikeringkan dengan freeze dried, dan hasil yang didapat adalah sekitar 13.2% atau sekitar 99g.24 Ekstrak daun teh hijau 81mg/kgBB/hr untuk tikus kelompok P3, 270mg/kgBB/hr untuk tikus kelompok P4, diberikan selama 28 hari berturut-turut secara peroral dengan menggunakan sonde lambung. Selama perlakuan, tikus tetap diberikan makan tinggi lemak dan minum air ad libitum.

Sesudah 28 hari berturut-turut dengan selang waktu 18 jam paska perlakuan terakhir, dilakukan proses terminasi.25 Terminasi dilakukan dengan menggunakan uap kloroform. Setelah tikus dipastikan mati, dilakukan laparotomi dan ginjal tikus diambil untuk dijadikan sediaan mikroskopis.

Pembuatan sediaan mikroskopis dengan metode parafin dan pewarnaan HE.

(4)

Medula | Volume 9 |Nomor 1| Juli 2019 | 9

Hasil

Kelompok K adalah kelompok tidak ada perlakuan selain konsumsi diet tinggi lemak.

Pada preparat tampak adanya pembengkakan pada tubulus yang ditandai dengan pembengkakan pada sitoplasma dan memudarnya warna sel inti sel. Pada glomerulus tampak adanya edema pada spatium Bowman. Tampak adanya kongesti pada beberapa bagian ginjal. Tidak tampak adanya sel radang dan nekrosis. Gambaran histopatologi ginjal kelompok K tersaji pada gambar 1.

Gambar 1. Histopatologi Ginjal Tikus K (Pembesaran 400x). Keterangan: 1. Edema Spatium Bowman 2. Pembengkakan Epitel

Tubulus.

Kelompok P1 adalah kelompok yang diberi metformin dengan dosis 100mg/kgBB/hr. Pada preparat masih tampak adanya pembengkakan pada sitoplasma tubulus ginjal. Glomerulus ginjal masih menunjukkan adanya pelebaran pada spatium Bowman. Masih ditemukan kongesti. Tidak tampak adanya sel radang dan nekrosis.

Gambaran histopatologi ginjal kelompok P1 tersaji pada gambar 2.

Gambar 2. Histopatologi Ginjal Tikus P1 (Pembesaran 400x). Keterangan: 1. Edema Spatium Bowman 2. Pembengkakan Epitel

Tubulus.

Kelompok P2 adalah kelompok yang diberi metformin dengan dosis 300mg/kgBB/hr. Pada preparat masih tampak adanya pembengkakan pada tubulus dan edema pada spatium Bowman glomerulus, namun tidak semasif pada kelompok P1. Tidak nampak adanya sel radang dan nekrosis.

Gambaran histopatologi ginjal kelompok P2 tersaji pada gambar 3.

Gambar 3. Histopatologi Ginjal Tikus P2 (Pembesaran 400x). Keterangan: 1. Edema Spatium Bowman 2. Pembengkakan Epitel

Tubulus.

Kelompok P3 adalah kelompok yang diberi ekstrak daun teh hijau dengan dosis 81mg/kgBB/hr. Pada preparat masih tampak adanya pembengkakan pada tubulus dan edema pada spatium Bowman glomerulus.

Masih ditemukan adanya kongesti. Tidak nampak adanya nekrosis dan sel radang.

Gambaran histopatologi ginjal kelompok P3 tersaji pada gambar 4.

(5)

Medula | Volume 9 |Nomor 1| Juli 2019 | 10 Tabel 1. Rerata Skor Kerusakan Ginjal Kelompok

Perlakuan

Skor Kerusakan Ginjal Total Skor Kerusakan

Rera ta Glomerulus Tubulus

K

1 1,2 1,2 2,4

2,88

2 1,6 1,2 2,8

3 1,6 1,6 3,2

4 1,6 1,6 3,2

5 1,2 1,6 2,8

P1

1 1,2 1,2 2,4

2,32

2 1,2 1,2 2,4

3 1,2 1,2 2,4

4 1,6 1,2 2,8

5 0,8 0,8 1,6

P2

1 1,2 1,2 2,4

1,84

2 0,8 0,8 1,6

3 0,8 0,8 1,6

4 1,2 0,8 2

5 0,8 0,8 1,6

P3

1 1,2 1,2 2,4

2,32

2 1,2 1,2 2,4

3 1,6 1,2 2,8

4 0,8 0,8 1,6

5 1,2 1,2 2,4

P4

1 1,2 0,8 2

2,08

2 1,2 1,2 2,4

3 0,8 0,8 1,6

4 1,2 1,2 2,4

5 1,2 0,8 2

Gambar 4. Histopatologi Ginjal Tikus P3 (Pembesaran 400x). Keterangan: 1. Edema Spatium Bowman 2. Pembengkakan Epitel

Tubulus.

Kelompok P4 adalah kelompok yang diberi ekstrak daun teh hijau dengan dosis 270mg/kgBB/hr. Pada preparat masih nampak pembengkakan pada tubulus dan edema pada spatium Bowman. Tidak nampak adanya sel radang dan nekrosis. Gambaran histopatologi ginjal kelompok P4 tersaji pada gambar 5.

Gambar 5. Histopatologi Ginjal Tikus P4 (Pembesaran 400x). Keterangan: 1. Edema Spatium Bowman 2. Pembengkakan Epitel

Tubulus.

Analisis berupa rerata dari total skor kerusakan glomerulus dan tubulus ginjal dari gambaran histopatologi ginjal tikus dengan diet tinggi lemak yang diberikan metformin dan ekstrak daun teh hijau. Dilakukan uji deskriptif pada masing-masing kelompok sehingga didapat nilai rerata skor kerusakan ginjal kelompok kontrol (K) yaitu sebesar 2,88, pada kelompok perlakuan 1 (P1) yang diberikan metformin 100mg/kgBB/hr yaitu sebesar 2,32, pada kelompok perlakuan 2 (P2) yang diberikan metformin 300mg/kgBB/hr yaitu sebesar 1,84, pada kelompok perlakuan 3 (P3) yang diberikan ekstrak daun teh hijau 81mg/kgBB/hr yaitu

sebesar 2,32, dan pada kelompok perlakuan 4 (P4) yang diberikan ekstrak daun teh hijau 270mg/kgBB/hr yaitu sebesar 2,08. Hasil analisis rerata kerusakan ginjal tersaji pada tabel 1.

Berdasarkan tabel 1, kelompok K menunjukkan rerata skor gambaran kerusakan ginjal yang paling tinggi sedangkan kelompok P2 menunjukkan rerata skor gambaran kerusakan ginjal yang paling kecil. Adapun antara kelompok P1 dan P3 menunjukkan rerata skor gambaran kerusakan ginjal yang sama namun lebih rendah dari kelompok K.

Setelah didapatkan rerata kerusakan ginjal kemudian dilakukan uji untuk menilai kenormalan distribusi data dengan menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk.

Pada analisis Shapiro-Wilk didapatkan hasil kelompok P2 yang tidak berdistribusi normal (p<0,05), maka selanjutnya dilakukan transformasi data. Setelah data ditransformasi dilanjutkan kembali dengan uji normalitas Shapiro-Wilk. Hasil analisis Shapiro-Wilk

setelah transformasi tetap tidak berdistribusi normal dengan p=0,048 (p<0,05) pada kelompok P2.

Dengan demikian uji hipotesis tidak bisa menggunakan uji One-Way ANOVA sehingga digunakan uji alternatifnya yaitu uji Kruskal-

(6)

Medula | Volume 9 |Nomor 1| Juli 2019 | 11

Wallis. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa p=0,016 (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rerata kerusakan ginjal yang bermakna pada dua kelompok atau lebih. Setelah uji Kruskal-Wallis, dilakukan uji Post-Hoc Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan masing-masing kelompok. Hasil uji Mann-Whitney tersaji pada tabel 2.

Hasil analisis Mann-Whitney menunjukkan bahwa tidak semua data antara kelompok memiliki perbedaan yang bermakna (p<0,05). Nilai p pada kelompok K dan P1 adalah 0,049, kelompok K dan P2 adalah 0,010, kelompok K dan P3 adalah 0,049, dan kelompok K dan P4 adalah 0,014. Nilai p<0,05 menunjukkan bahwa kelompok tersebut memberikan perbedaan bermakna sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian metformin dan ekstrak daun teh hijau memiliki pengaruh terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley dengan diet tinggi lemak.

Sedangkan nilai p pada kelompok P1 dan P2 adalah 0,095, kelompok P1 dan P3 adalah 1,000, kelompok P1 dan P4 adalah 0,262, kelompok P2 dan P3 adalah 0,095, kelompok P2 dan P4 adalah 0,268, dan kelompok P3 dan P4 adalah 0,262. Nilai p>0,05 menunjukkan bahwa kelompok tersebut tidak memberikan perbedaan bermakna sehingga dapat disimpulkan bahwa pada pemberian antara metformin atau ekstrak daun teh hijau dalam dosis yang berbeda tidak memiliki pengaruh terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley dengan diet tinggi lemak.

Pembahasan

Pada penelitian ini didapatkan hasil rerata kerusakan ginjal kelompok K, P1, P2, P3, dan P4 berturut-turut adalah 2,88, 2,32, 1,84, 2,32, dan 2,08 yang nenunjukkan bahwa

ekstrak daun teh hijau dan metformin memiliki pengaruh terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley dengan diet tinggi lemak.

Pada kelompok K, P1, P2, P3, dan P4 tampak adanya edema spatium Bowman dan pembengkakan sel epitel tubulus. Terdapat empat mekanisme dasar terjadinya edema spatium Bowman atau pembengkakan sel epitel tubulus yaitu peningkatan tekanan hidrostatik di sepanjang kapiler glomerulus, turunnya tekanan osmotik plasma, obstruksi limfatik, dan retensi natrium.26 Tekanan hidrostatik yang tinggi pada kapiler glomerulus dapat terjadi karena adanya peningkatan pada tekanan darah kapiler glomerulus. Peningkatan tersebut dikarenakan adanya lipid yang menumpuk pada kapiler glomerulus yang juga dapat menyebabkan stres oksidatif, penyempitan pembuluh darah, dan penurunan ekskresi natrium.27 Pelebaran spatium Bowman yang terjadi diharapkan mampu menurunkan serta menjaga gradien tekanan hidrostatik transkapiler tetap normal sehingga mencegah terjadinya kerusakan pada glomerulus.

Tekanan hidrostatik yang tinggi pada spatium Bowman bila terjadi secara berkelanjutan dapat menyebabkan kerusakan pada sel epitel parietal dan pada akhirnya dapat memicu glomerulosklerosis dengan pembentukan sinekia dan sklerosis segmental pada glomerulus.28

Retensi natrium dapat terjadi akibat adanya gangguan permeabilitas dalam membran sel tubulus. Gangguan tersebut akibat dari kerusakan membran sel karena radikal bebas yang berikatan dengan lipid menyebabkan reaksi peroksidasi lipid dan stres oksidatif.6 Membran sel membantu pengaturan keluar masuk berbagai zat melalui proses transport pasif dan aktif, dan juga sebagai tempat melekatnya berbagai enzim. Faktor apapun yang mencederai membran sel atau mengganggu metabolisme energi dapat menyebabkan gangguan pompa ion, khususnya ion natrium, pada membran sel sehingga sel tidak mampu memompa keluar ion natrium dalam jumlah yang cukup. Peningkatan konsentrasi natrium di dalam sel menyebabkan masuknya air ke dalam sel melalui proses osmosis. Hal ini menyebabkan sejumlah air terakumulasi di dalam sel dan membentuk Tabel 2. Hasil Analisis Mann-Whitney

Kelompok K P1 P2 P3 P4

K - 0,049* 0,010* 0,049* 0,014*

P1 0,049* - 0,095 1,000 0,262

P2 0,010* 0,095 - 0,095 0,268

P3 0,049* 1,000 0,095 - 0,262

P4 0,014* 0,262 0,268 0,262 -

Keterangan: *bermakna (p<0.05)

(7)

Medula | Volume 9 |Nomor 1| Juli 2019 | 12

vakuola di mitokondria, retikulum endoplasma, dan substansi dasar sehingga terjadi pembengkakan pada sel epitel tubulus yang akhirnya dapat menuju ke fase kematian sel atau nekrosis.29

Pada hasil analisis Mann-Whitney kelompok P1 dan P2 dibandingkan dengan kelompok P3 dan P4 memiliki nilai p>0,05 yang berarti tidak bermakna. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengaruh ekstrak daun teh hijau dibandingkan dengan metformin terhadap histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley dengan diet tinggi lemak adalah sama. Hasil yang sama dapat terjadi akibat metformin yang merupakan golongan biguanid memiliki cara kerja dengan mengaktifkan enzim AMPK yang menstimulasi terjadinya oksidasi asam lemak, penyerapan glukosa, metabolisme non- oksidatif, mengurangi lipogenesis dan glukoneogenesis, peningkatan glikogen otot, peningkatan sensitivitas insulin, penurunan produksi glukosa hati, dan penurunan kadar glukosa darah.30

Metformin juga dapat mempengaruhi metabolisme lemak, tidak hanya lemak perifer namun juga lemak pada ginjal, hepar, miokardium, dan beberapa jaringan lainnya dengan AMPK yang telah aktif yang memiliki peran penting dalam regulasi metabolisme lemak dengan cara fosforilasi dan menghambat acetyl-coenzyme A carboxylase 1 (ACC1) dan 3- hydroxy-3-methylglutaryl-coenzyme A (HMG- CoA), mengurangi fatty acid synthase (FAS) dan mengaktivasi malonyl-CoA carboxylase yang pada akhirnya mengurangi asam lemak dan sintesa kolesterol.21 Dengan berkurangnya kadar lipid maka tingkat kerusakan pada ginjal pun berkurang.

Pada ekstrak daun teh hijau memberikan hasil yang sama karena teh hijau memiliki efek penghambatan diferensiasi dan proliferasi adiposit. Teh hijau juga mengurangi serapan karbohidrat dan lemak dengan menghambat berbagai enzim pencernaan dengan senyawa aktifnya seperti katekin dan epigallocatechin gallate (EGCG). Efek EGCG pada diferensiasi adiposit berhubungan dengan penurunan dari PPARγ dan C/EBPα pada mRNA dan kadar protein serta aktivasi dari AMP-activated protein kinase (AMPK) supresor dari ekspresi PPARγ dan C/EBPα sehingga terjadi

penurunan dari kadar lipid maupun dari jumlah sel adiposit.22

Ekstrak daun teh hijau juga memiliki banyak zat antioksidan yang dapat menghambat oksidasi dari lipid pada membran sel sehingga terjadi penurunan kerusakan membran sel. Salah satu antioksidan tersebut adalah polifenol. Polifenol merupakan cincin benzena yang terikat pada gugus-gugus hidroksil, dapat berupa senyawa flavonoid ataupun non-flavonoid. Polifenol yang ditemukan dalam teh hampir semuanya merupakan senyawa flavonoid.31 Dengan adanya polifenol, mengkonsumsi ekstrak daun teh hijau dapat meningkatkan sistem pertahanan dan memperbaiki fungsi organ tubuh.32

Simpulan

Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbandingan pengaruh ekstrak daun teh hijau dengan metformin terhadap histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley dengan diet tinggi lemak.

Daftar Pustaka

1. Harsa IMS. Efek Pemberian Diet Tinggi Lemak Terhadap Profil Lemak Darah Tikus Putih (Rattus norvegicus). Jurnal Ilmiah Kedokteran. 2014. Vol. 3 No. 1.

2. Askandar T, Setiawan PB, Santoso D, Soegiharto G. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Surabaya:Airlangga University Press. 2007.

3. Barclay JL, Shostak A, Leliavski A, Tsang AH, Johren O, Muller-Fielitz H et al. High- fat diet-induced hyperinsulinemia and tissue-specific insulin resistance in Cry- deficient mice. Am J Physiol Endocrinol Metab. 2013. 304(10):E1053-E1063.

4. Berry R, Jeffery E, Rodeheffer MS.

Weighing in on Adipocyte Precursors.

Cell Metabolism. 2014. 19(1):8-20.

5. Mehran AE, Templeman NM, Brigidi GS, Lim GE, Chu KY, Hu X et al.

Hyperinsulinemia drives diet-induced obesity independently of brain insulin production. Cell Metabolism. 2012.

16(6):723-737.

(8)

Medula | Volume 9 |Nomor 1| Juli 2019 | 13

6. Foster MC, Hwang SJ, Porter SA, Massaro JM, Hoffmann U, Fox CS. Fatty Kidney, Hypertension, and Chronic Kidney Disease. The Framingham Heart Study.

Hypertension. 2011. 58:784-790.

7. Misnadierly. Obesitas Sebagai Faktor Resiko Berbagai Penyakit. Jakarta:

Pustaka Obor Populer. 2007.

8. Marks. Biokimia Kedokteran Dasar Sebuah Pendekatan Klinis. Jakarta: EGC.

2010.

9. Bahri A. Dislipidemia sebagai faktor resiko penyakit jantung koroner. 2004.

[diunduh 12 Januari 2018]. Tersedia dari e-USU Repositor.

10. Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 22. Jakarta:EGC. 2008.

11. Guyton AC, Hall EJ. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta:EGC. 2006.

12. Yogiantoro M. Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Penyakit Dalam XVII.

Surabaya:Lab-SMF Penyakit Dalam FK Unair RSU Dr. Soetomo. 2012.

13. He XX, Tu SM, Lee MH, Yeung SCJ.

Thiazolidinediones and metformin associated with improved survival of diabetic prostate cancer patients. Annals of Oncology. 2011. 22(12):2640-2645.

14. Hsia Y, Dawoud D, Sutcliffe AG, Viner RM, Kinra S, Wong ICK. Unlicensed use of metformin in children and adolescents in the UK. British Journal of Clinical Pharmacology. 2012. 73(1):135–139.

15. Reinehr T, Kiess W, Kappellen T, Andler W. Insulin sensitivity among obese children and adolescents, according to degree of weight loss. Pediatrics. 2004.

114:1569-1573.

16. Tock L, D’Amaso A, Piano A, Carnier J.

Long-Term Effects of metformin and lifestyle modification on non-alcoholic fatty liver disease obese adolescents. J Obese. 2010. 831901:6.

17. Holman RR, Paul SK, Bethel MA, Matthews DR, Neil HA. 10-year follow up of intensive glucose control in type 2 diabetes. N Engl J Med. 2008. 359:1577- 1589.

18. Levri KM, Slaymaker E, Last A, Yeh J, Ference J, D’Amico F et al. Metformin as Treatment for Overweight and Obese

Adult: A Systematic Review. Annals of Family Medicine. 2005. Vol. 3 No. 5.

19. Katzung BG, Trevor AJ. Section 7:

endocrine drugs. Basic & Clinical Pharmacology 13th Ed. New York:Mc- Graw Hill. 2015.

20. Malin K, Kashyap S. Effects of metformin on weight loss: Potential mechanisms.

Curr Opin Endocrinol Diabetes Obes.

2014. 21(5):323-329.

21. Nakano M, Inui A. Metformin and incretin-based therapies up-regulate central and peripheral adenosine monophosphate-activated protein kinase affecting appetite and metabolism. Indian J Endocrinol Metab.

2012. 16(3):S529-S531.

22. Wolfram S, Wang Y, Thielecke F. Anti- obesity effects of green tea: From bedside to bench. Molecular Nutrition and Food Research. 2006. 50(2):176–

187.

23. Kushiyama M, Shimazaki Y, Murakami M,

& Yamashita Y. Relationship Between Intake of Green Tea and Periodontal Disease. J Periodontal. 2009.

24. Gunawijaya FA, Gandasentana R, Wahyudi K. Efek pemberian katekin teh hijau pada pertumbuhan tumor kelenjar susu mencit strain GR. Jurnal Kedokteran Trisakti. 2000. 18(2):61-67.

25. Almajwal AM, Elsadek MF. Lipid-lowering and hepatoprotective effects of Vitis vinifera dried seeds on Paracetamol- Induced hepatotoxicity in rats. Nutr Res Pract. 2015. 9(1):37-42.

26. Tortora GJ, Derrickson B. Principles of Anatomy & Physiology 13th edition.

Hoboken. New Jersey:John Wiley & Sons, Inc. 2012.

27. Deji N, Kume S, Araki S, Soumura M, Sugimoto T, Isshiki K et al. Structural and functional changes in the kidneys of high-fat diet-induced obese mice. Am J Physiol Renal Physiol. 2009. 296:F118- F126.

28. Tobar A, Ori Y, Benchetrit S, Milo G, Herman M, Zingerman B et al. Proximal tubular hypertrophy and enlarged glomerular and proximal tubular urinary space in obese subjects with proteinuria.

PLoS One. 2013. 8(9):1–9.

(9)

Medula | Volume 9 |Nomor 1| Juli 2019 | 14

29. Juhryyah S. Gambaran Histopatologi Organ Hati Dan Ginjal Tikus Pada Intoksikasi Akut Insektisida (Metofluthrin, D-Phenothrin, D-Allethrin) Dengan Dosis Bertingkat. [Skripsi].

Bogor:Institut Pertanian Bogor. 2008.

30. Randa HD, Laurence B. Section 5:

hormones and hormones antagonist.

Goodman and Gilman Manual of Pharmacology and Therapeutics 2nd.

New York:Mc-Graw Hill. 2015.

31. Mahmood T, Akhtar N, Khan BA. The Morphology, Characteristics, and Medical Properties of Camellia Sinensis Tea. Journal of Medicinal Plants Research. 2010. 4(19):2028-2033.

32. Zowail MEM, Khater EHH. Protective effect of green tea extract against cytotoxicity induced by enrofloxacin in rat. Egypt. Acad J Biolog Sci. 2009.

1(1):45-64.

Referensi

Dokumen terkait

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai identifikasi senyawa polifenol yang memiliki aktivitas sebagai penangkap radikal hidroksil yang terdapat pada ekstrak etanol teh

Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan pemeriksaan senyawa flavonoid dan polifenol serta melakukan uji aktivitas antioksidan dari teh daun sirsak kemasan

Insektisida nabati dari ekstrak daun maupun buah tanaman yang mengandung senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, triterpenoid, dan polifenol dapat digunakan

Dari hasil penelitian ini, dapat diinformasikan kepada masyarakat bahwa teh daun sirsak kemasan mengandung senyawa flavonoid dan polifenol yang bersifat sebagai antioksidan

Hal ini disebabkan karena ekstrak etanol 70% daun sirih hitam mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu steroid, tanin, alkaloid, flavonoid dan polifenol

Selain berpengaruh terhadap sifat organoleptik, substitusi daun beluntas dengan teh hijau dalam pembuatan produk minuman juga dapat mempengaruhi senyawa fitokimia,

Senyawa bioaktif yang terdapat dalam ekstrak air daun pandan wangi diantaranya adalah tanin, alkaloid, flavonoid, dan polifenol dan dapat menurunkan kadar

Berdasarkan hasil uji kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV visible menunjukkan bahwa kadar senyawa flavonoid pada ekstrak etanol daun belimbing wuluh