Analisis Kontribusi Retribusi Daerah dalam Meningkatkan Pembanguan daerah.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang.
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman Sumber Daya Alam yang kaya sebagai pendapatan ekonomis negara dan juga masyarakatnya. Selain Sumber Daya Alam yang bisa dijadikan sumber pendapatan negara ada juga sumber lain seperti, Budaya, Sumber Daya Manusia, retribusi, dan Retribusi Daerah. Retribusi sendiri merupakan sumber pendapatan negara yang didapatkan dari mengambil sedikit dari penghsilan masyarakat sesuai dengan ketentuan dan syarat yang telah ditentukan. Berkaitan dengan pembiayaan otonomi daerah (desentralisasi fiskal),
UU No. 25 Tahun 1999 memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk membuat kebijakan di sisi penerimaan (tax policy) dalam rangka memperkuat kemampuan membiayai program pembangunan dan penyelenggaraan pemerintah daerah melalui peningkatan penerimaan, khususnya yang berasal dari Penerimaan Asli Daerah (PAD). Kewenangan meningkatkan PAD tersebut dibatasi bahwa pemerintah daerah dilarang menetapkan peraturan daerah tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan menghambat mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah, dan kegiatan impor/ekspor.
Salah satu wujud pelaksanaan desentralisasi fiskal adalah penentuan sumber- sumber penerimaan bagi daerah yang dapat digali dan digunakan sendiri sesuai dengan potensi daerah yang dapat digali dan digunakan sendiri sesuai dengan potensi daerahnya masing-masing. Kewenangan daerah tersebut diwujudkan dengan memungut pajak dan retribusi yang diatur dengan UU No. 28 Tahun 2009 yang merupakan penyempurnaan dari UU No. 34 Tahun 2000 Terdapat perbedaan fundamental dalam kewenangan memungut pajak daerah dan retribusi daerah menurut UU No. 28 tahun 2009, yaitu daerah tidak diperkenankan lagi untuk menetapkan jenis pajak dan retribusi daerah selain yang ditetapkan dalam undang-undang.
Wewenang mengenakan pungutan pajak atas penduduk setempat untuk membiayai layanan masyarakat merupakan unsur yang penting dalam sistem pemerintahan daerah. Di Indonesia, pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota memiliki kewenangan mengenakan pajak, meskipun jumlah penerimaan pajak daerah relative kecil dibandingkan dengan penerimaan pajak nasional.
Keleluasaan bagi pemerintah daerah kabupaten/kota dalam menetapkan pajak daerah sesuai dengan potensi dan karakter daerahnya, hal serupa diberlakukan terhadap pungutan retribusi daerah bagi provinsi dan kabupaten/kota sebagai open list tax and changes pada pengaturan UU Pajaklama, menjadikan bumerang bagi hadirnya investasi di daerah karena di era otonomi daerah justru semakin banyak pungutan. Kebijakan tersebut, dikoreksi dalam pengaturan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dimana pungutan pajak daerah maupun retribusi daerah ditetapkan secara limitative berdasarkan Undang-undang yang disebut dengan closed list system
Sebagai akibat dari terbukanya pemerintah daerah khususnya daerah kabupaten/kota untuk menetapkan dan memungut jenis pajak daerah dan retribusi daerah, menimbulkan ketidakpastian dan rasa keadilan bagi dan stake holder khususnya pengusaha dan menimbulkan kesewenangan bagi penguasa. Kekhawatiran pemerintah pusat tersebut dengan merujuk pada UU No. 32 Tahun 2004 mengenai mekanisme pengaturan daerah, maka terhadap pengaturan pajak daerah mulai sejak rancangan perda terlebih dahulu harus memperoleh persetjuan dari pemerintah.
Kekhawatiran yang berlebihan pemerintah pusat atas kontribusi PAD melalui pajak daerah dan retribusi daerah ini, juga menetapkan kebijakan pengawasan terhadap pemberlakuan peraturan daerah (Perda) pajak daerah dan retribusi daerah dimana rancangan perdanya harus memperoleh persetujuan dahulu sebelum diberlakukan.
Bedasarkan Latar Belakang diatas penulis mengambil judul “Analisis Kontribusi Retribusi Daerah dalam Meningkatkan Pembanguan daerah.” Makalah ini membahas lebih detail lagi mengenai Retribusi daerah agar pembaca mengetahui dan memahami terkait pembayaan Retribusi Daerah
1.2. Rumusan Masalah.
A. Bagaimana Kebijakan Pemungutan Retribusi Daerah?
B. Bagaimana Persyaratan dan Kriteria Retribusi Daerah?
C. Bagaiman Tarif Retribusi, Tata cara Pemungutan Retribusi, dan Kadaluwarsa Penagihan Retribusi?
1.3. Tujuan Penelitian.
A. Diharapkan pembaca mengetahui Kebijakan Pemungutan Retribusi Daerah.
B. Pembaca mengetahui dan memahami persyaratan dan kriteria retribusi daerah yang ditetapkan untuk wajib retribusi.
C. Mengetahui Pengawasan dan Pelaksanaan Peraturan daerah mengenai Retribusi Daerah
BAB 2 PEMBAHASAN 2.1. Kebijakan Pemungutan Retribusi Daerah.
Retribusi daerah dapat dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu retribusi jasa umum, retribusi jasa usaha, dan retribusi perizinan tertentu.
1. Retribusi Jasa Umum adalah pungutan atas pelayanan yang disediakan atau diberikan pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.
2. Retribusi Jasa Usaha adalah pungutan atas pelayanan yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial yang meliputi:
a. Pelayanan dengan menggunakan/memanfaatkan kekayaan daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal; dan/atau
b. Pelayanan oleh Pemerintah Daerah sepanjang belum dapat disediakan secara memadai oleh pihak swasta.
3. Retribusi Perizinan Khusus adalah pungutan atas pelayanan perizinan tertentu oleh Pemerintah Daerah kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Adapun Jenis Retribusi Daerah berdasarkan UU Nomor 28 Tahun 2009 adalah sebagaimana tercantum pada Tabel berikut ini:
Jasa Umum Jasa Usaha Perizinan Tertentu
1. Kesehatan 2. Persampahan 3. KTP dan Akta
Capil
4. Pemakaman.
5. Perkir di Tepi Jalan Umum 6. Pengujian
Kendaraan Bermotor
7. Pemeriksaan Alat
1. Pemakaian Kekayaan Daerah 2. Pasar
Grosir/Pertokoan 3. Tempat Pelelangan 4. Terminal
5. Tempat Khusus Parkir
6. Tempat
Penginapan/Villa 7. Rumah Potong
1. Izin Mendirikan Bangunan 2. Izin Tempat
Penjualan Minuman Beralkohol 3. Izin Gangguan 4. Izin Trayek 5. Izin Usaha
Perikanan
Pemadam Kebakaran 8. Pasar
9. Biaya Cetak Peta 10. Penyedotan Kakus 11. Pengolahan
Limbah Cair 12. Tera Ulang 13. Pendidikan 14. Pengendalian
Menara
Telekomunikasi
Hewan
8. Kepelabuhanan 9. Tempat Rekreasi
dan Olahraga 10. Penyeberangan di
air
11. Penjualan Produksi Daerah
Tabel 2.1. Jenis Retribusi Daerah
Jenis Retribusi bersifat limitatif (closed-list) artinya bahwa pemerintah daerah tidak diperkenankan untuk memungut jenis retribusi selain 30 jenis retribusi di atas.
Meskipun demikian, untuk mengantisipasi perkembangan penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada daerah dan menyesuaikan dengan ketentuan sektoral, dimungkinkan untuk dilakukannya penambahan jenis retribusi daerah yang akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Penentuan jenis retribusi jasa umum dan retribusi perizinan tertentu yang dapat dipungut oleh daerah provinsi dan kabupaten/kota didasarkan pada urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota sesuai peraturan perundang-undang.Sedangkan penentuan retribusi jasa usaha didasarkan pada jasa pelayanan yang dapat diselenggarakan/diberikan oleh provinsi dan kabupaten/kota berdasarkan prinsip efisiensi.
Objek masing-masing jenis retribusi telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009. Pemerintah Daerah dapat mengatur pengecualian pengenaan retribusi atas objek tertentu namun tidak boleh melakukan perluasan terhadap objek retribusi daerah. Sementara itu, penetapan besaran tarif retribusi harus mengacu kepada prinsip dan sasaran penetapan tarif untuk masing-masing jenis retribusi daerah, yaitu sebagai berikut:
a. Tarif Retribusi Jasa Umum ditetapkan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemamampuan masyarakat, aspek keadilan, dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut, Biaya dimaksud meliputi biaya operasi dan pemeliharaan, biaya bunga dan biaya modal.
b. Tarif Retribusi Jasa Usaha didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak. Keuntungan yang layak adalah keuntungan yang diperoleh apabila pelayanan jasa usaha tersebut dilakukan secara efisien dan berorientasi pada harga pasar.
c. Tarif Retribusi Perizinan Tertentu didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan. Biaya penyelenggaraan pemberian izin dimaksud meliputi penerbitan dokumen izin, pengawasan di lapangan, penegakan hukum, penata usahaan, dan biaya dampak negatif dari pemberian izin tersebut.
Pemanfaatan dari hasil penerimaan masing-masing jenis retribusi daerah diutamakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan dengan jenis layanan bersangkutan yang pengalokasiaannya ditetapkan dengan peraturan daerah.
2.2. Persyaratan dan Kriteria Retribusi Daerah 1. Jasa Umum
Retribusi Jasa Umum adalah Retribusi yang dikenakan atas jasa umum digolongkan debagai Retribusi Jasa Umum. Objek Retribusi Jasa Umum Adalah Pelayanan yang disediakan atau diberikan pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan
a. retribusi bersifat bukan pajak dan bersifat bukan Retribusi Jasa Usaha atau Retribuai Perizinan Tertentu
1) Bersifat bukan pajak maksudnya ada pelayanan/jasa dari Pemda yang langsung diterima oleh pengguna pelayanan/jasa.
2) Bersifat bukan Retribusi Jasa Usaha maksudnya adalah bahwa dalam pengenaan tarif untuk jenis layanan ini tidak boleh melebihi biaya yang digunakan untuk penyediaan/penyelenggaraan layanan tersebut.
3) Bersifat bukan Retribusi Perizinan Tertentu maksudnya adalah bahwa layanan yang disediakan tersebut bukan dalam rangka pembinaan, pengaturan, pengendalian, atau pengawasan suatu kegiatan.
b. Jasa yang bersangkutan merupakan kewenangan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasiJasa yang bersangkutan merupakan kewenangan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, sebagaimana dimaksud dalam PP No. 38 Tahun 2007.
c. Jasa tersebut memberi manfaat khusus bagi orang pribadi atau badan yang diharuskan membayar retribusi, disamping untuk melayani kepentingan dan kemanfaatan umum Penerima layanan/jasa dapat diidentifikasi dan memberikan pelayanan dan kemanfaatan bagi masyarakat secara keseluruhan.
d. Jasa tersebut layak untuk dikenakan retribusi yang dimaksud dengan kriteria ini adalah bahwa:
1) Pengenaan retribusi atas jasa tersebut dapat diterima oleh masyarakat secara keseluruhan;
2) Pengenaan retribusi tidak mengakibatkan orang tidak dapat mengkonsumsi jasa tersebut;
3) Namun demikian, apabila suatu jenis layanan sudah ditetapkan sebagai objek retribusi maka orang pribadi atau badan yang tidak mampu atau tidak ingin membayar retribusi tidak diberikan jasa yang bersangkutan.
e. Retribusi tidak bertentangan dengan kebijakan nasional mengenai penyelenggaraannya Sarana publik yang berdasarkan kebijakan nasional wajib disediakan oleh Pemerintah dan pelayanannya harus diberikan secara gratis kepada masyarakat umum tidak dapat dikenakan retribusi. Retribusi atas penggunaan jalan lokal daerah atau penggunaan jalan raya selain jalan-jalan tol tertentu dan Retribusi atas pelayanan pendidikan dasar tidak sesuai dengan kriteria ini
f. Retribusi dapat dipungut secara efektif dan efisien, serta merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang potensial.
1) Dapat dipungut secara efektif: berarti pungutan tersebut dapat dihitung dan dipungut dengan mudah;
2) Dapat dipungut secara efisien: berarti biaya pemungutan retribusi (biaya gaji/upah/tunjangan pegawai pemungut, ongkos kantor yang bersangkutan, biaya perjalanan dinas, dan sebagainya) tidak melebihi hasil penerimaan retribusi.
3) Merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang potensial: berarti potensi penerimaan sebanding dengan biaya penyediaan pelayanan.
g. Pemungutan retribusi memungkinkan penyediaan jasa dengan tingkat dan/atau kualitas pelayanan yang lebih baik. Alokasi penerimaan retribusi diutamakan untuk peningkatan kualitas pelayanan.
2. Jasa Usaha
Retribusi yang dikenakan atas jasa usaha digolongkan sebagai retribusi Jasa Usaha. Objek retribusi jasa usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial yang meliputi:
a. Retribusi jasa usaha bersifat bukan pajak dan bersifat bukan retribusi jasa umum atau retribusi perizinan tertentu Sama halnya dengan penjelasan kriteria dari retribusi jasa umum di atas.
b. Jasa yang bersangkutan adalah jasa yang bersifat komersial yang seyogyanya disediakan oleh sektor swasta tetapi belum memadai atau terdapatnya harta yang dimiliki dikuasai daerah yang belum dimanfaatkan secara penuh oleh pemerintah daerah
1) Pada dasarnya pelayanan tersebut dapat disediakan olehswasta;
2) Dalam hal penyewaan aset terdapat kontrak penggunaan/penguasaan aset dalam jangka waktu tertentu
3. Perizinan Tertentu
Retribusi yang dikenankan atas perizinan tertentu digolongkan sebagai retribusi perizinan tertentu. Objek retribusi perizinan tertentu adalah pelayanan perizinan tertentu oleh pemerintah daerah kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang,prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan
a. Perizinan tersebut termasuk kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah dalam rangka asas desentralisasi. Jasa yang bersangkutan merupakan kewenangan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, sebagaimana dimaksud dalam PP Nomor 38 Tahun 2007.
b. Perizinan yang bersangkutan benar-benar diperlukan guna melindungi kepentingan umum
1) Kegiatan yang memerlukan izin tersebut menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat setempat;
2) Dengan penyelenggaraan izin tersebut kepentingan masyarakat terlindungi.
c. Biaya yang menjadi beban daerah dalam penyelenggaraan izin tersebut dan biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari pemberian izin tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai dari retribusi perizinan
1) Biaya yang dikeluarkan oleh Pemda dalam melakukan pengendalian dan pengawasan kegiatan cukup besar;
2) Biaya untuk menanggulangi dampak negatif atas izin tersebut cukup besar, seperti biaya penanggulangan polusi yang diakibatkan dari pemberian izin terhadap suatu kegiatan industri.
2.3. Tarif Retribusi, Tata cara Pemungutan Retribusi, dan Kadaluwarsa Penagihan Retribusi.
A. Prinsip dan Sasaran Penetapan Tarif Restribusi
Prinsip dan Sasaran Penetapan Tarif Restribusi adalah sebagai berikut:
1. Retribusi Jasa Umum, ditetapkan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, aspek keadilan, dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut. Yang dimaksud dengan biaya disini meliputi biaya disini meliputi biaya operasi dan pemeliharaan, biaya bunga, dan biaya modal.
2. Retribusi Jasa Usaha, didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak, yaitu keuntungan yang diperoleh pabila melakukan pelayanan jasa usaha tersebut dilakukan secara efisien dan berorientasi pada harga pasar.
3. Retribusi Perizinan Tertentu, didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan. Yang dengan biaya penyelenggaraan pemberian izin disini meliputi penerbitan dokumen izin, pengawasan dilapangan, penegakan hukum, penatausahaan, dan biaya dampak negative dari pemberian izin tersebut.
B. Tata Cara Pemungutan Retribusi
Retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) atau dokumen lain yang dipersembahkan berupa karcis, kupon, dan kartu langganan.dalam hal Wajib Retribusi tertentu tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar dikenakan sanksi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari Surat Tagihan Retribusi Daerah (STRD). Penagihan Retribusi terutang sebgaimana didahului dengan Surat Teguran. Tata cara Pelaksanan Pemungutan Retribusi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah.
C. Kadaluwarsa Penagihan Retribusi.
Pemanfaatan dari penerimaan masing-masing jenis retribusi diutamakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan pelayanan yang bersangkutan. Ketentuan mengenai lokasi pemanfaatna penerima retribusi ditetapkan pertauran daerah. Hakuntuk melakukan penagihan retribusi menjadi kadaluwarsa setelah melampaui waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutang retribusi, kecuali jika wajib retribusi melakukan tindak pidana dibidang retribusi.
BAB 3 PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan Pembahasan yang telah diulas, maka dapat disimpulkan bahwasannya Retribusi merupakan pungutan atas pelayanan yang disediakan atau diberikan pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan masayarakat serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Retribusi Daerah sendiri merupakan salah satu sumber pendapatan daera untuk melakukan pembangunan daerah yang disesuaikan dengan keadaan dan kondisi masyarakat daerah yang bersangkutan. Dalam praktiknya pemungutan, persyaratan/kriteria, jenis-jenis, besarnya tarif yang ditetapkan untuk dibayar oleh Wajib Retribusi sudah diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2009.
Daftar Pustaka
Mardiasmo. (2018). Perpajakan. Yogyakarta: CV. Andi Offset.
Gunadi. (2007). Perpajakan Internasional. FEUI.
Ismail.T. (2009). Analisis dan Evaluasi UU NO. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah