• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRACT ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ABSTRACT ABSTRAK"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1 MORFOLOGI TANAMAN DARI FAMILI TACCA (TACCACEAE)

Nur Hafsah Habiba1), Mayta Novaliza Isda2)

1)Mahasiswa Program Studi S1 Biologi

2)Dosen Bidang Fisiologi dan Bioproses Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau Kampus Bina Widya Pekanbaru, 28293, Indonesia

[email protected]

ABSTRACT

Plants belonging to the family Taccaceae are tropical plants that have a unique flower shape. Tacca flowers have unique accessories in the form of bracts and bracteoles.

Information about the Tacca plant is very limited. In additon, this plant is difficult to find in its natural habitat. This study aimed to obtain information on the morphology of the Tacca plant. This study used samples from Harau Valley, West Sumatra, and were subsequently propagated by planting in the Botanical Laboratory of FMIPA UNRI. Morphological observations were made on stems, leaves and flowers. The results showed that the morphology of Tacca sp had light green stem, the tip and base of leaf were tapered (acuminate) and the leaf blade was lanceolate. Flowers of Tacca sp were dark purple with four purple-black bracts and yellowish-white bracteoles (whiskers) with wavy shapes.

Keywords: bractea, flowering, flower structure, morphology, Taccaceae

ABSTRAK

Tanaman dari famili Taccaceae merupakan tanaman tropis yang memiliki bentuk bunga yang unik. Bunga Tacca memiliki aksesori yang unik berupa braktea dan brakteoles.

Informasi mengenai tanaman Tacca sangat terbatas dan tanaman ini sulit ditemukan di habitat aslinya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi morfologi tanaman Tacca.

Penelitian ini menggunakan sampel yang berasal dari Lembah Harau, Sumatera Barat diperbanyak dengan ditanam di Laboratorium Botani FMIPA UNRI. Pengamatan morfologi dilakukan pada batang, daun dan bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morfologi tanaman Tacca sp memiliki batang berwarna hijau muda, ujung dan pangkal daun berbentuk meruncing (acuminate) dan bentuk helai daun lanceolate. Bunga Tacca sp berwarna ungu tua dengan dengan 4 (empat) bractea berwarna ungu kehitaman dan brakteoles (kumis) berwarna putih kekuningan dengan bentuk bergelombang.

Kata Kunci: Braktea, Morfologi, Pembungaan, Struktur bunga, Taccaceae

(2)

2 PENDAHULUAN

Tanaman hias adalah salah satu kebutuhan sekunder manusia masa kini.

Banyak tanaman hias telah dibudidayakan mencapai 12-15% yang berasal dari 27.500 jenis tumbuhan berbunga (Ditjen Horti 2005). Tanaman tropis masih banyak belum diketahui jenisnya dan berpotensi sebagai tanaman hias karena memiliki bentuk yang unik seperti bentuk daun, corak dan bentuk bunga (Hartini dan Puspitaningtyas 2009). Salah satu tanaman yang memiliki bentuk bunga yang unik dibandingkan dengan tanaman hias lain adalah Tacca yang berasal dari famili Taccaceae.

Beberapa jenis tanaman Tacca yang telah berhasil diidentifikasi secara morfologi antara lain T. chantrieri memiliki bunga berwarna ungu, kelopak yang besar berbentuk sayap kalelawar dan memiliki brakteoles/kumis yang menjadikan tanaman ini unik. T.chantrieri dalam bahasa Inggris disebut sebagai tiger whisker plant (Fayaz 2011). T.

leontopetaolides memiliki bunga berwarna hijau yang dilindungi oleh pembalut luar dan dalam berwarna hijau dan berbentuk belah ketupat (Erlinawati et al. 2018).

Tanaman Tacca di Indonesia tersebar di seluruh Pulau Jawa mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah seperti Pekalongan, Banyumas dan Rembang, Jawa Timur (Kediri) hingga keluar Pulau Jawa seperti Sumatera (Erlinawati et al.

2018).

Tanaman Tacca berpotensi digunakan sebagai tanaman obat dikarenakan berdasarkan hasil penelitian Vo et al. (2018) bahwa daun dari leontopetaloides mengandung saponin, alkaloid, flavonoid dan tanin. Bagian

tanaman Tacca yang dimanfaatkan sebagai obat antara lain: rimpang T. chantrieri yang mengandung steroid termasuk spirostan, furostan, taccalonolide, diarylheptanoids dan saponin. T.

chantrieri memiliki sifat anti-inflamasi dan analgesik. Berdasarkan hasil penelitian Ahmed et. al (2019) dari rimpang T. integrifolia ditemukan juga senyawa kimia berpotensi dalam mengobati kanker payudara.

Tanaman Tacca apabila diambil secara terus-menerus tanpa adanya usaha untuk melakukan pembudidayaan, maka akan membuat tanaman ini langka. Oleh karena itu, dalam upaya pembudidayaan dan pengembangan tanaman Tacca yang merupakan tanaman hias dan tanaman obat, maka dilakukan penelitian ini untuk memperoleh informasi mengenai morfologi tanaman Tacca.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2021 sampai dengan Maret 2022 di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau.

Sampel tanaman berasal dari Lembah Harau, Payakumbuh Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Tanaman diperbanyak dengan cara ditanam di Laboratorium Botani Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kamera, penggaris, buku identifikasi tanaman, cangkul dan pisau.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel tanaman

(3)

3 Tacca, air media tanam berupa pupuk

kandang dan tanah kompos serta kertas label.

Prosedur Penelitian Penanaman Tanaman

Persiapan media tanam menggunakan pupuk kandang dan tanah kompos dengan perbandingan 1:1.

Tanaman Tacca ditanam pada pot yang telah diisi dengan media tanam. Tanaman disiram setiap sehari sekali dan dilakukan penyemprotan dengan fungisida setiap seminggu sekali untuk mencegah tanaman diserang oleh jamur.

Pengamatan Morfologi Tanaman Pengamatan dimulai saat pindah tanam hingga 2 bulan setelah pindah tanam. Pengamatan morfologi tanaman meliputi:

a. Daun: ujung daun, pangkal daun dan keseluruhan bentuk daun. Bentuk tulang daun, posisi tangkai daun, jenis dan posisi tangkai daun terhadap batang, warna daun yang telah terbuka sempurna

b. Batang: Tinggi tanaman (diukur dari pangkal batang sampai ujung daun tertinggi), warna batang dan permukaan batang

c. Bunga: Warna bunga, jumlah bunga setiap rangkaian, panjang tangkai bunga (diukur dari pangkal tangkai bunga hingga kelopak bunga), jumlah braktea, bentuk braktea, warna braktea, warna brakteoles dan jumlah brakteoles tiap rangkaian bunga.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Morfologi tanaman Tacca sp terdapat perbedaan pada daun muda dan daun yang telah terbuka sempurna yang dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Tanaman Tacca sp (a), Bentuk daun muda yang belum terbuka (b), Daun yang terbuka sempurna (c), Posisi tangkai (d)

Berdasarkan pengamatan secara morfologi yang diamati pada Tacca sp dapat dilihat pada Gambar 1. Pada tanaman Tacca yang diteliti didapatkan ciri-ciri sebagai berikut. Tacca sp memiliki batang yang pendek dan berwarna hijau muda. Batang Tacca sp tumbuh seiring bertumbuhnya jumlah daun. Berdasarkan pernyataan Ding dan Larsen (2000) petiole daun tanaman Tacca menempel dengan batang secara sheating yang tersusun mengelilingi batang utama (rosule). Tipe akar tunggang yang berwarna putih.

Tacca sp memiliki daun tunggal, letak daun berselang-seling (alternate),

a

b

c

d

(4)

4 daun tidak rapat, ujung dan pangkal daun

meruncing (acuminate), tekstur daun kasar, tepi daun rata (entire), bentuk helai daun lanceolate dan tulang daun menyirip.

Warna daun dominan hijau (muda dan tua).

Gambar 2. Morfologi bunga Tacca sp

Perbungaan pada tanaman Tacca muncul setelah daun berusia dewasa dan memiliki nutrisi yang cukup untuk diberikan pada calon inforescence yang akan muncul (Putri 2017). Pengamatan morfogi bunga Tacca sp yang diteliti dapat dilihat Gambar 2. Tacca sp memiliki 4 (empat) bractea berwarna ungu kehitaman yang terletak di belakang, brakteoles (kumis) berwarna putih kekuningan dengan bentuk bergelombang, calon

bunga berwarna ungu tua yang berjumlah 6 (enam).

Tacca sp memiliki 3 lokul yang berisikan biji-biji yang berjumlah 5 (lima).

Menurut Zhang et al. (2005) tipe bunga Tacca adalah biseksual dengan letak anter dan stigma berdekatan sehingga serbuk sari dapat dengan mudah jatuh di atas stigma, oleh karena itu tanaman Tacca dapat melakukan penyerbukan sendiri.

Bunga Tacca sp tidak memiliki aroma dan nektar.

Bunga Tacca sp dapat bertahan kurang dari 10 hari. Setelah mekar bunga Tacca akan layu ditandai dengan bunga semakin berwarna ungu tua dan brakteoles mulai menggulung.

KESIMPULAN

Tacca sp memiliki morfologi batang yang tumbuh vertikal berwarna hijau dan tumbuh berselang-seling. Daun tunggal dengan ujung dan pangkal berbentuk meruncing (acuminate), helai daun berbentuk lanceolate dengan daun muda dan tua berwarna hijau. Bunga berwarna ungu tua dengan jumlah braktea 4 (empat) dan brakteoles yang bergelombang.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed S, A Rakib, MA Islam, BH Khanam, FB Faiz, A Paul, MNU Chy, NMMA Bhuiya, MMN Uddin, SMA Ullah, MDA Rahman, TB Emran. 2019. In Vivo And In Vitro Pharmacological Activities of Tacca integrifolia Rhizome and Investigation of Possible Lead Compounds Against Breast Cancer Through in Silico Approaches.

Clinical Phytoscience. 5(36):2-13.

Ding, ZK dan Larsen. 2000. Taccaceae.

Flora of China. China.

(5)

5 Direktorat Jenderal Hortikultura dan

Direktorat Budidaya Tanaman Hias.

2005. Inventarisasi Tanaman Hias Unggulan Komersil. ISBN 979- 3844-20-5.

Erlinawati I, P Lestari, Rugayah, TM Ermayanti. Taka (Tacca leontopetaloides) untuk Kemandirian Pangan. LIPI Press.

Jakarta.

Fayaz A. 2011. Encyclopedia Of Tropical Plants: Identification And Cultivation Of Over 3,000 Tropical Plants. Firefly Book. New Zealand.

Hartini S dan Puspitaningtyas. 2009.

Keanekaragaman Tumbuhan Pulau Sumatra. LIPI Press. Jakarta.

Putri YNQ. 2017. Morfologi Tumbuhan Dan Fenologi Pembungaan Tacca chantrieri Andre. [Skripsi]. ITB.

Bogor.

Vo HPH, TKM Nguyen, QTH Vu, HTN Nguyen, PTK Le. 2018.

Phytochemical Screening From Parts Of Tacca Leontopetalodes (L.) Kuntze Collected From An Giang Province, Vietnam. The 12 Seatuc Symposium. 1-6.

Yokosuka A dan Y Mimaki. 2012.

Phytochemical of Chinese Herbal Medicine Tacca Chantrieri Rhizomes. Intech. Tokyo University of Pharmacy and Life Sciences, School of Pharmacy. Japan.

Zhang L, HT Li, LM Gao, JB Yang, DZ Li, CH Cannon, J Chen, QJ Li. 2005.

Predicting Mating Patterns From Pollination Syndromes: The Case Of

"Sapromyiophily" In Tacca Chantrieri (Taccaceae). American Journal of Botany. 92(3):517-524.

Referensi

Dokumen terkait

Anthurium memiliki daun yang indah, unik, juga bervariasi, hal ini yang menjadi daya tarik utama tanaman ini. Umumnya daun berwarna hijau tua dengan urat dan tulang

Antara kelompok 2A dan 2B memisah karena memiliki perbedaan karakter yaitu pada warna batang utama, warna cabang utama, warna pangkal, warna daun tua, warna pangkal mahkota, warna ujung