• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ABSTRAK"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

Bagaimana revisi hukum Islam terhadap penyerahan sebagai obyek dalam jual beli debitur menurut KUHPerdata. Untuk mengetahui revisi hukum Islam terhadap penyerahan sebagai obyek dalam jual beli debitur menurut KUHPerdata.

Kegunaan Penelitian

Telaah Pustaka

Penulis menemukan tesis yang ditulis oleh Kamaliah, Subrogasi dalam Pandangan Hukum Positif dan Hukum Islam, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2004,16 juga penulis menemukan tesis yang ditulis oleh Salimun, Novasi Pembaharuan Hutang dalam kesempurnaan hukum positif. Dan Hukum Islam, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2006.17 Kemudian penulis juga menemukan tesis yang ditulis oleh Riko Choicetoni, Cessie dan Hiwalah: Analisis Komparatif dan Penerapannya dalam Pelayanan Perbankan, Jakarta: Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, 2004.18 Ketiganya skripsinya membahas tentang subrogasi dan novasi dalam pengertian hukum positif dan hukum Islam serta menganalisis perbandingan cessie dan hwa>lah serta penerapannya dalam perbankan.

Metode Penelitian

Data Penelitian

Berdasarkan data yang akan diteliti dalam penelitian ini, maka perlu diperoleh data dari sumber kepustakaan yang ada, yaitu sebagai berikut. Yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama.22 Sumber data utama dalam penelitian ini berupa buku-buku dan buku-buku yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan cessie dan hwa>lah sebagai sumber datanya.

Teknik Analisa Data

Sistematika Pembahasan

Isi bab ini adalah pengertian hwa>lah, dasar hukum hwa>lah, rukun dan syarat hwa>lah, jenis-jenis hwa>lah serta akibat hukumnya. }awa>lah. Isi bab ini adalah pengertian pengalihan, dasar hukum pengalihan, syarat-syarat pengalihan, pengalihan sebagai objek jual beli piutang, dan pengalihan sebagai jaminan utang.

Pengertian H{awa>lah

34 Al-Ima>m Taqiyuddi>n Abi> Bakr bin Muhammad Al-H{usayni> Al-His}}ni> Al-Dimashqi>. Menurut Sayyid Sabiq, hawa>lah bermaksud pemindahan rasa bersalah daripada tanggungjawab yang berpotensi kepada tanggungjawab yang berpotensi. Menurut Idris Ahmad, h}awa>lah ialah sejenis akad (ijab kabul) bagi pemindahan hutang daripada orang yang berhutang kepada orang lain, di mana orang lain itu berhutang dengan orang yang memindahkan wang tersebut.

Menurut Zainul Arifin, h}awa>lah ialah perjanjian pemindahan hutang/penghutang dari satu pihak kepada pihak lain.

Dasar Hukum H{awa>lah

Al- Qur’an

Artinya: “Abdullah bin Yusuf meriwayatkan kepada kami atas wewenang Malik atas wewenang Abu Az-Zinad atas wewenang Al A’raj atas wewenang Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Menunda (pelunasan suatu hutang) oleh orang-orang yang berduit (wealthy) adalah suatu kezaliman. Jika utang salah seorang di antara kalian dialihkan kepada orang yang berkecukupan, maka hendaknya dia menerima pengalihan itu.” Artinya: “Hasan bin Ali Al Khallal menceritakan kepada kami bahwa Abu Amir Al ‘Aqadi menceritakan kepada kami bahwa Katsir bin Abdillah bin Amr juga’ Auf Al Muzani meriwayatkan dari ayahnya atas wewenang kakeknya bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Perdamaian diperbolehkan antar sesama muslim kecuali perdamaian yang melarang hal halal atau menghalalkan hal yang haram.

Umat ​​Islam sentiasa mengikut syarat, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau mengharamkan yang halal.” Abu “Isa berkata hadis ini hasan sahih.” Ulama bersepakat tentang kesahihan akad h}awa>lah .41 H{awa. >lah dibolehkan ke atas hutang yang tidak berbentuk barang/benda kerana h}awa>lah ialah pemindahan hutang.Menurut kaedah us}u>l fiqh, h}awa>lah boleh dianalogikan dengan al - kafa>lah 43.

Kaidah Fiqh

Rukun Dan Syarat H{awa>lah

Yang dimaksud dengan ad-dain al-luzu>m adalah utang yang telah ada, bersifat final dan mengikat serta tidak dapat diampuni, sekalipun tidak dijamin batal (ghair mustaqirr). Sedangkan dain a>ilun ila>al-luzu>m adalah utang yang hampir lunas atau hampir lunas. Akad pokok adalah akad yang berdiri sendiri yang keberadaannya tidak bergantung pada hal lain.

Jenis ini meliputi semua akad yang keberadaannya dimilikinya sendiri, misalnya akad jual beli, sewa guna usaha, penyimpanan, peminjaman, dan sebagainya. Kontrak tambahan adalah kontrak yang keberadaannya tidak berdiri sendiri, melainkan bergantung pada suatu hak yang menjadi dasar sah atau tidaknya kontrak tersebut. Oleh karena itu, akad yang dilakukan oleh orang gila atau anak di bawah umur yang bukan orang Islam, tidak sah menurut hukum.

Macam-Macam H{awa>lah

H{awa>lah dayn dan h}awa>lah h}aqq sebenarnya sama, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Berdasarkan rukunnya, hwa>lah terdiri dari hwa>lah mut}laqah dan hwa>lah muqayyadah. H{awa>lah muqayyadah adalah h}awa>lah yang terjadi ketika debitur mengalihkan utangnya kepada muh}a>l 'alayh, dengan mengaitkannya dengan utang muh}a>l 'alayh kepadanya (muh }i > aku).

Berdasarkan pahala h}awa>lah terdiri daripada h}awa>lah bighairi ujrah dan h}awa>lah bil ujrah. H{awa>lah bighairi ujrah ialah h}awa>lah yang tidak disertakan dengan pemberian ujrah / bayaran proses pemindahan. Manakala h}awa>lah akaun ujrah, ia adalah h}awa>lah dengan pengenaan ujrah/yuran dalam proses pemindahan. 56.

Akibat Hukum H{awa>lah

Pemindahan tuntutan kepada pihak ketiga tanpa persetujuan penghutang dibenarkan oleh ulama Hanafi atas dasar h}awa>lah al-haqq, iaitu berdasarkan kafa>lah (jaminan) oleh muh}a>l. Atas dasar pendapat ini, ulama Hanafi mensyaratkan agar pihak ketiga dapat memulihkan (mundur) muh}a>l, sedangkan ulama Syafi'i tidak membenarkan hal ini karena sudah ada kesepakatan antara ketiga pihak.61 . Peminjam (muh}i>l) wajib menjual hartanya jika, untuk membayar hutang yang dipindahkan, kontrak menetapkan bahawa hutang itu akan dibayar dengan dana daripada penjualan hartanya.

Pembayaran utang yang dialihkan dapat diungkapkan dan dilakukan pada waktu tertentu, dan dapat pula dilakukan tanpa waktu pembayaran tertentu. Apabila hwa>lah terjadi pada seseorang dan penerima pengalihan utang (muh}a>l 'alaih) meninggal dunia, maka pengalihan utang yang terjadi tidak dapat diwariskan.

KONSEP HUKUM TENTANG CESSIE MENURUT KUH PERDATA

  • Pengertian Cessie
  • Syarat-Syarat Cessie
  • Cessie Sebagai Obyek Dalam Jual Beli Piutang
  • Cessie Sebagai Jaminan Utang

Karena diketahui bahwa KUH Perdata mengenal tiga jenis barang (barang bergerak, tidak bergerak, dan tagihan atas nama), maka ada pula tiga jenis penyerahan, peralihan kekuasaan (bezit) atas barang. Dalam pasal 613 ayat . Dari perjanjian zakelijk ini tidak dapat timbul kata kerja, sehingga berbeda sekali dengan perjanjian dalam Buku III KUHPerdata.

Perjanjian-perjanjian dalam buku III KUH Perdata pada umumnya bersifat mengikat, yaitu perjanjian-perjanjian yang menimbulkan perkataan. Menurut Pasal 584 KUH Perdata, penyerahan itu harus disertai suatu hak milik, tetapi dapat berupa hak milik nyata atau hak milik palsu. Cessie dalam perspektif hukum perdata adalah suatu bentuk peralihan hak milik sebagaimana disyaratkan dalam pasal 584 KUHPerdata setelah terjadinya suatu peristiwa hukum yang bertujuan untuk mengalihkan hak milik atas suatu barang (dalam hal ini menurut ketentuan.

Pasal 1459 KUH Perdata (sebagai ganti) dan Pasal 1686 KUH Perdata (yang berlaku bagi hibah) jelas menunjukkan. Penyerahan sebagai pengalihan debitur atas nama berarti peralihan hak milik atas debitur dari kreditur lama (cedent) kepada kreditur baru.

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP CESSIE

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Syarat-Syarat Cessie Menurut KUH Perdata

Syarat-syarat sahnya perjanjian dalam pasal ini, dilihat berdasarkan syarat-syarat terbentuknya suatu perjanjian dalam hukum Islam, adalah sebagai berikut. Ijab kabul merupakan suatu bentuk kesepakatan antar pihak yang terikat oleh hukum Islam. Cakupan kriteria mata pelajaran ini dalam KUH Perdata sangat luas dan sangat mungkin kriteria mata pelajaran ini tidak sesuai dengan ketentuan syara'.

Sama halnya dengan kekuasaan, kepemilikan juga termasuk dalam ketentuan pelaksanaan akad dalam hukum Islam. Berdasarkan analisis tersebut, penulis menyimpulkan bahwa syarat-syarat penyerahan menurut KUH Perdata tidak memenuhi seluruh syarat pembentukan kontrak dalam hukum Islam. Ditinjau dari tujuan akad, ketentuan dalam pasal 1320 ayat (3) KUH Perdata mempunyai cakupan yang sangat luas, sedangkan dalam hukum Islam ditentukan bahwa objek akad harus memenuhi ketentuan syara.

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Cessie Sebagai Obyek Dalam Jual Beli Piutang Menurut KUH Perdata

Sebagian ulama yang tergabung dalam Dewan Syariah Malaysia berpendapat bahwa hutang atau dain sama dengan harta (debt = property). Mengingat dain adalah harta benda, maka perlakuan terhadap dain dapat dilakukan seperti halnya harta benda, yaitu dapat dimiliki dan diperdagangkan dengan harga pasar, termasuk jual beli dengan harga diskon. Beberapa ulama lain, termasuk sebagian besar ulama di Indonesia yang tergabung dalam Dewan Syariah Nasional, mempunyai pendapat tersendiri.

Berdasarkan analisis tersebut, penulis menyimpulkan bahwa penyerahan sebagai objek jual beli dan penebusan klaim termasuk dalam hwa>lah al-haqq. Sebagian ulama yang tergabung dalam Dewan Syariah Malaysia berpendapat bahwa utang atau dain dapat dimiliki dan diperdagangkan sesuai harga pasar, termasuk jual beli dengan harga diskon. Sementara itu, sebagian ulama lainnya, termasuk sebagian besar ulama di Indonesia yang tergabung dalam Dewan Syariah Nasional, berpendapat bahwa utang hanya dapat ditukar dengan utang yang nilainya sama dengan utang.

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Cessie Sebagai Jaminan Utang Menurut KUH Perdata

Dalam syariat Islam, al-kafa>lah adalah perjanjian untuk menjamin, oleh itu jaminan tidak wujud sekiranya hak yang dijamin tidak wujud. Kontrak tersebut termasuk dalam kategori kontrak aksesori (al-. 'aqd at-tab'i), iaitu kontrak yang kewujudannya tidak berdiri sendiri, tetapi bergantung kepada hak yang menjadi asas kepada wujud dan tidak wujud. atau kesahan dan ketidaksahan kontrak. Terhadap akad jenis ini berlaku hukum syarak yang berbunyi "sesuatu yang mengikuti" (at-tabi' tabi').

Salah satu prinsip dasar pembuatan akad dalam hukum Islam adalah dibuat atas dasar keridhaan kedua belah pihak. Mengenai pelunasan suatu hutang/piutang dalam hukum Islam, ulama Hanafi menghendaki agar pihak ketiga diperbolehkan melakukan muh}a>l berdasarkan hwa>lah al-haqq, yaitu berdasarkan kafa>lah (jaminan). ) dari muh}a>l. Berdasarkan analisa tersebut, penulis menyimpulkan bahwa baik menurut KUHPerdata maupun hukum Islam, penyerahan sebagai jaminan utang termasuk dalam akad tambahan (al-'aqd at-tab'i), yang termasuk dalam hwa>lah. al-haqq yang berdasarkan pada kafa>lah (jaminan).

PENUTUP

Kesimpulan

Penugasan sebagai jaminan utang termasuk dalam hwa>lah al-haqq yang didasarkan pada kafa>lah (jaminan), karena keduanya merupakan akad pengalihan piutang sebagai jaminan.

Saran-Saran

  • Bagi Debitur (Cessus / Muh}i>l )
  • Bagi Kreditur Lama (Cedent / Muh}a>l )
  • Bagi Kreditur Baru (Cessionaris / Muh}a>l ‘Alaih )

Referensi

Dokumen terkait

The English teacher said that many students were not interested in studying the Simple Present Tense, especially when online classes are being held like today because of