D I S U S U N OLEH : ADE VIRA DIBA NIM. 201010220049
DOSEN PENGAMPU
Dr. HERMANSYAH, S.KM., M.PH
UNIVERSITAS U’BUDIYAH INDONESIA BANDA ACEH
TAHUN 2023
MAKALAH
DIET RENDAH KARBOHIDRAT DAN DIET RENDAH LEMAK PADA OBESITAS DAN RESIKO DISIPLIDEMIA : TINJAUAN SISTEMATIS
DARI UJI COBA ACAK TERKONTROL
i
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Randomized Control Trial (RCT)”.
Makalah ini penulis sampaikan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Dosen Pengampu. Makalah ini telah Saya susun dengan semaksimal mungkin.
Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan dalam makalah ini baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah yang berjudul Unsur-Unsur Proses Pendidikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menambahkan kewawasan khazanah keilmuan.
Banda Aceh, 05 Mei 2023 Penulis,
ADE VIRA DIBA
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan ... 3
BAB II PEMBAHASAN ... 4
2.1 Pengertian Randomized Control Trial (RCT) ... 4
2.2 Tujuan Randomized Control Trial (RCT) ... 6
2.3 Waktu Penggunaan Randomized Control Trial (RCT) ... 8
2.4 Kelebihan dan Kekurangan Randomized Control Trial (RCT) ... 9
BAB III APLIKASI RANDOMIZED CONTROL TRIAL (RCT) ... 11
3.1 Metode Penelitian... 11
3.3 Hasil dan Pembahasan... 14
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN... 16
4.1 Kesimpulan ... 16
4.2 Saran ... 16
DAFTAR PUSTAKA ... 17
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia termasuk negara berkembang yang memiliki prevalensi obesitas yang terus meningkat. Berdasarkan data RISKESDAS 2018, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa di Indonesia meningkat dari 14,8% pada tahun 2013 menjadi 21,8% pada tahun 2018. Seiring dengan peningkatan prevalensi obesitas, insidensi penyakit kardiovaskuler dan penyakit metabolik lainnya juga akan ikut meningkat.
Pengaturan diet adalah salah satu intervensi manajemen obesitas. Berbagai macam pendekatan metode diet diperkenalkan didunia diantaranya diet ketogenik dan rendah lemak. Diet rendah lemak dilakukan mengurangi asupan harian lemak kurang dari 30%, asupan harian lemak jenuh kurang dari 10% dari, dan asupan kolestrol kurang dari 300 mg/ hari.
Pemilihan metode diet yang tepat akan mendukung keberhasilan penurunan berat badan. Oleh karena itu, penting untuk menyelidiki efektivitas berbagai terapi diet dan efek samping dari metode diet tersebut dalam jangka panjang. Beberapa pilihan terapi diet dapat secara signifikan menurunkan berat badan dalam jangka waktu yang pendek diantaranya diet rendah karbohidrat ketogenik (DRKKK) dan diet rendah lemak (DRL).
Penelitian tinjauan sistematis dan meta analisis sebelumnya oleh Papamichou, dkk dilaporkan bahwa diet ketogenik mengurangi berat badan secara signifikan, namun akibat asupan lemak jenuh tinggi pada diet ketogenik
2
dapat mempercepat perkembangan penyakit kardiovaskular. Pada penelitian meta analisis oleh Bueno, dkk dilaporkan bahwa terdapat penurunan berat badan yang signifikan, serta kenaikan Trigliserida (TGA), High Density Lipoprotein (HDL), dan Low Density Lipoprotein (LDL) pada kelompok dengan diet ketogenik dibandingkan kelompok dengan diet rendah lemak.
Penelitian Hu, dkk menunjukkan penurunan berat badan, lingkar pinggang dan faktor risiko metabolik lainnya tidak berbeda secara signifikan diantara 2 diet. Diet rendah karbohidrat setidaknya sama efektifnya dengan diet rendah lemak dalam menurunkan berat badan dan meningkatkan faktor risiko metabolik.
Diet rendah karbohidrat dapat direkomendasikan untuk orang gemuk dengan faktor risiko metabolik abnormal untuk tujuan penurunan berat badan.
Banyak bukti-bukti terbaru penelitian uji coba terkontrol secara acak yang membandingkan efektifitas diet rendah karbohidrat ketogenik dengan diet rendah lemak dalam menurunkan berat badan dalam waktu yang lama serta efek diet pada dislipidemia. Tinjauan sistematis ini disusun untuk menjawab apakah individu dengan obesitas akan mengalami penurunan berat badan yang efektif dan menurunkan risiko dislipidemia dengan diet rendah karbohidrat ketogenik dibandingkan dengan individu dengan diet rendah lemak dalam jangka panjang.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Randomized Control Trial (RCT) ? 2. Apa tujuan dari Randomized Control Trial (RCT) ?
3. Kapan waktu penggunaan Randomized Control Trial (RCT) ?
4. Sebutkan kelebihan dan kekurangan Randomized Control Trial (RCT) !
3 1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahuia apa yang dimaksud dengan Randomized Control Trial (RCT).
2. Untuk mengetahui apa tujuan dari Randomized Control Trial (RCT).
3. Untuk mengetahui kapan waktu penggunaan Randomized Control Trial (RCT).
4. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan Randomized Control Trial (RCT).
4 BAB II DASAR TEORI
2.1 Pengertian Randomized Control Trial (RCT)
Randomized Controlled Trial (RCT) merupakan metode yang umum
dikenal dalam ilmu kesehatan. Metode ini merupakan penelitian komparatif eksperimental terkendali, dimana peneliti memberikan dua atau lebih intervensi kepada pasien yang digunakan untuk sampel penelitian. Dalam penelitian ilmu kesehatan, RCT biasa digunakan untuk menguji keberhasilan atau efektifitas pengobatan. Selain itu, metode ini juga digunakan untuk menguji keberhasilan dan efektifitas tindakan medis. Bahkan RCT juga digunakan untuk menguji efektifitas peralatan medis.
Dibanding metode penelitian yang lain, hasil penelitian yang menggunakan model desain RCT paling layak untuk dipercaya. Hal ini disebabkan karena dalam prakteknya, RCT mensyaratkan untuk menggunakan sampel manusia/ pasien yang sesungguhnya, dan tidak boleh diganti dengan menggunakan hewan percobaan. Selain itu, model penelitian ini membandingkan kelompok kontrol dan kelompok intervensi dalam realitas yang sesungguhnya.
Selain keunggulan-keunggulan diatas, desain RCT mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya memerlukan waktu yang lama dan biaya yang besar, karena yang diperbandingkan adalah pasien dalam kondisi yang senyatanya.
Kelemahan lainnya adalah kesulitan dalam mempelajari peristiwa dan penyakit yang langka. Selain itu, RCT tidak dapat diterapkan pada tindakan yang memiliki efek dramatis dan cepat.
5
Sebagaimana diketahui bersama bahwa Randomized Control Trial (RCT) adalah golden standard (baku emas) untuk penelitian eksperimental guna pembuktian kausal (causation). Apabila kita ingin membuktikan apakah suatu
“intervensi tertentu” akan menghasilkan/menyebabkan “outcome tertentu”, maka kita harus menggunakan desain penelitian RCT. Bahkan, tidak cukup hanya RCT saja, tetapi harus double blind (tersamar ganda). Dengan kata lain, baku emas penelitian eksperimental secara prinsip adalah RCT double blind.
Sejarah penelitian eksperimental bukannya diawali dari uji klinis pada manusia tetapi diawali dari penelitian pertanian. Adalah Sir Ronald Aylmer Fisher (1890-1962) yang menemukan desain Randomized Control Trial (RCT). Fisher, yang bekerja di stasiun penelitian pertanian, mengamati bahwa eksperimen membandingkan dua jenis benih pada dua petak kebun banyak mengandung bias.
Katakanlah, hasil penelitian menunjukkan bahwa petak A menghasilkan panen lebih baik dari petak B; maka tidak bisa disimpulkan benih A lebih baik dari benih B. Di dalamnya terkandung banyak variabel pengganggu, misalnya perbedaan kesuburan tanah, perbedaan perawatan, perbedaan cara memanen, dan sebagainya.
Fisher akhirnya menciptakan dasar-dasar RCT dengan cara membuat sejumlah petak-petak kecil sebagai unit sampel, kemudian melakukan alokasi random terhadap petak-petak kecil tersebut pada kelompok uji (test) dan kelompok pembanding. Dengan melakukan hal tersebut, semua variabel pengganggu yang berada pada unit sampel akan terdistribusi secara acak (random) pada kelompok uji (test) maupun kelompok pembanding.
6
Penelitian uji klinik, yang ingin membuktikan efek terapi tertentu terhadap suatu outcome klinik tertentu, pada akhirnya mengadop prinsip-prinsip disain eksperimental Fisher. Bahkan, karena unit eksperimennya adalah manusia, maka pada uji klinik harus tersamar ganda (RCT double blind). Double blind, artinya baik subyek penelitian maupun peneliti harus tidak tahu (ignorance) terhadap perlakukan/ intervensi yang diberikan.
Kualitas penelitian uji klinik pada prinsipnya menyangkut dua hal, yakni kualitas ilmiah dan kualitas etik. Terkait kualitas ilmiah, maka terdapat dua hal penting, yakni validitas internal dan validitas eksternal. Dalam penelitian uji klinik, validitas internal menyangkut dua isu penting. Pertama, isu terkait seberapa jauh instrumen penelitian mengukur apa yang seharusnya terukur (dalam hal ini identifikasi variabel outcome menjadi sangat penting). Kedua, adalah isu terkait apakah kejadian variabel outcome (parameter klinik) benar-benar diakibatkan oleh intervensi secara murni (bukan oleh variabel pengganggu, misalnya, efek placebo, bias perlakuan, tingkat keparahan penyakit, dan sebagainya). Validitas eksternal adalah terkait dengan seberapa jauh kesimpulan hasil suatu penelitian (termasuk uji klinik) dapat ditarik generalisasi (digeneralisasikan) ke dalam populasi.
2.2 Tujuan Randomized Control Trial (RCT)
Uji coba terkontrol acak (RCT) adalah studi prospektif yang mengukur efektivitas intervensi atau pengobatan baru. Meskipun tidak ada penelitian sendiri yang dapat membuktikan kausalitas, pengacakan mengurangi bias dan menyediakan alat yang ketat untuk memeriksa hubungan sebab-akibat antara
7
intervensi dan hasil. Hal ini karena tindakan pengacakan menyeimbangkan karakteristik peserta (baik yang diamati maupun yang tidak diamati) di antara kelompok yang memungkinkan atribusi perbedaan hasil intervensi penelitian. Ini tidak mungkin dengan desain penelitian lainnya.
Dalam merancang RCT, peneliti harus hati-hati memilih populasi, intervensi yang akan dibandingkan dan hasil yang menarik. Setelah ini ditentukan, jumlah peserta yang diperlukan untuk menentukan dengan andal apakah ada hubungan seperti itu dihitung (perhitungan daya). Peserta kemudian direkrut dan ditugaskan secara acak baik intervensi atau kelompok pembanding. 1 Penting untuk memastikan bahwa pada saat perekrutan tidak ada pengetahuan tentang ke kelompok mana peserta akan dialokasikan; ini dikenal sebagai penyembunyian.
Hal ini sering dipastikan dengan menggunakan sistem pengacakan otomatis (misalnya komputer yang dihasilkan). RCT sering dibutakan sehingga peserta dan dokter, perawat atau peneliti tidak mengetahui pengobatan apa yang diterima setiap peserta, yang selanjutnya meminimalkan bias.
RCT dapat dianalisis dengan analisis intentionto-treat (ITT; subjek dianalisis dalam kelompok yang diacak), per protokol (hanya peserta yang menyelesaikan pengobatan yang awalnya dialokasikan yang dianalisis), atau variasi lain, dengan ITT sering dianggap paling tidak bias. Semua RCT harus memiliki hasil primer yang ditentukan sebelumnya, harus terdaftar dengan database uji klinis dan harus memiliki persetujuan etis yang sesuai.
8
RCT dapat memiliki kelemahan, termasuk biaya tinggi dalam hal waktu dan uang, masalah dengan generalisasi (peserta yang secara sukarela berpartisipasi mungkin tidak mewakili populasi yang diteliti) dan mangkir.
2.3 Waktu Penggunaan Randomized Control Trial (RCT)
Alokasi pengobatan adalah proporsi pasien yang diinginkan di setiap kelompok pengobatan.
Prosedur pengacakan yang ideal akan mencapai tujuan berikut:
1. Maksimalkan kekuatan statistik, khususnya dalam analisis subkelompok.
Umumnya, ukuran kelompok yang sama memaksimalkan kekuatan statistik, namun, ukuran kelompok yang tidak sama mungkin lebih kuat untuk beberapa analisis (misalnya, beberapa perbandingan plasebo versus beberapa dosis menggunakan prosedur Dunnett), dan kadang-kadang diinginkan untuk alasan non-analitik (misalnya , pasien mungkin lebih termotivasi untuk mendaftar jika ada peluang lebih tinggi untuk mendapatkan pengobatan tes, atau badan pengatur mungkin meminta jumlah minimum pasien yang terpapar pengobatan).
2. Minimalkan bias seleksi. Hal ini dapat terjadi jika peneliti dapat secara sadar atau tidak sadar mendaftarkan pasien secara istimewa di antara kelompok pengobatan. Prosedur pengacakan yang baik akan sulit diprediksi sehingga peneliti tidak dapat menebak tugas kelompok mata pelajaran selanjutnya berdasarkan tugas perlakuan sebelumnya. Risiko bias seleksi paling tinggi ketika tugas pengobatan sebelumnya diketahui
9
(seperti dalam studi yang tidak disamarkan) atau dapat ditebak (mungkin jika suatu obat memiliki efek samping yang khas).
3. Minimalkan bias alokasi (atau confounding ). Hal ini dapat terjadi ketika kovariat yang mempengaruhi hasil tidak terdistribusi secara merata di antara kelompok perlakuan, dan efek pengobatan dikacaukan dengan efek kovariat (yaitu, "bias yang tidak disengaja"). Jika prosedur pengacakan menyebabkan ketidakseimbangan dalam kovariat terkait dengan hasil di seluruh kelompok, perkiraan efek mungkin bias jika tidak disesuaikan dengan kovariat (yang mungkin tidak terukur dan karenanya tidak mungkin disesuaikan).
Namun, tidak ada prosedur pengacakan tunggal yang memenuhi tujuan tersebut dalam setiap keadaan, sehingga peneliti harus memilih prosedur untuk studi tertentu berdasarkan kelebihan dan kekurangannya.
2.4 Kelebihan dan Kekurangan Randomized Control Trial (RCT) 2.4.1 Kelebihan Randomized Control Trial (RCT)
Kelebihan Randomized Control Trial (RCT), yaitu :
1. Menghilangkan bias dalam penugasan pengobatan, khususnya bias seleksi dan perancu.
2. Memfasilitasi penyamaran (penutupan) identitas perawatan dari penyelidik, peserta, dan penilai.
3. Memungkinkan penggunaan teori probabilitas untuk mengungkapkan kemungkinan bahwa setiap perbedaan hasil antara kelompok perlakuan hanya menunjukkan kebetulan.
10
Ada dua proses yang terlibat dalam pengacakan pasien untuk intervensi yang berbeda. Pertama adalah memilih prosedur pengacakan untuk menghasilkan urutan alokasi yang tidak dapat diprediksi; ini mungkin merupakan penugasan acak sederhana dari pasien ke salah satu kelompok dengan probabilitas yang sama, mungkin "terbatas", atau mungkin "adaptif". Masalah kedua dan yang lebih praktis adalah penyembunyian alokasi, yang mengacu pada tindakan pencegahan ketat yang dilakukan untuk memastikan bahwa penugasan kelompok pasien tidak terungkap sebelum secara definitif mengalokasikan mereka ke kelompok masing- masing. Metode penugasan kelompok "sistematis" non-acak, seperti pergantian subjek antara satu kelompok dan kelompok lainnya, dapat menyebabkan
"kemungkinan kontaminasi tanpa batas" dan dapat menyebabkan pelanggaran penyembunyian alokasi. Namun, bukti empiris bahwa pengacakan yang memadai mengubah hasil relatif terhadap pengacakan yang tidak memadai sulit dideteksi.
2.4.2 Kekurangan Randomized Control Trial (RCT) Kelebihan Randomized Control Trial (RCT), yaitu : 1. Waktu dan biaya
2. Bahaya konflik dan kepentingan 3. Etika
11 BAB III
APLIKASI RANDOMIZED CONTROL TRIAL (RCT)
3.1 Metode Penelitian 3.1.1 Pencarian Literatur
Pencarian literatur uji coba terkontrol secara acak yang diterbitkan pada tahun 2009-2018. Literatur dalam bahasa Inggris dicari dan dipilih dengan bantuan sistem komputer. Sumber-sumber pencarian literatur diantaranya Pubmed www.ncbi.nlm.nih.gov, Scopus www.scopus.com, dan Google Scholar www.google.scholar.co.id, Cochrane Library www.cochranelibrary.com. Kata kunci yang digunakan adalah diet ketogenik/diet rendah karbohidrat, diet rendah lemak, obesitas/ penurunan berat badan serta dislipidemia/ resiko kardiovaskular.
Pencarian literatur yang berkaitan dengan diet ketogenik dan diet rendah lemak sebagai intervensi, hasil luaran penurunan berat badan dan profil lipid seperti LDL, HDL, dan TGA.
3.1.2 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi yang diterapkan pada penelitian ini adalah : 1. Penelitian uji coba terkontrol secara acak,
2. Subjek manusia dewasa > 18 tahun, 3. Subjek memiliki BMI > 27,0 kg/m2, 4. Subjek tidak memiliki riwayat diabetes, 5. Intervensi diet yang diberikan > 12bulan,
6. Penelitian perbandingan diet ketogenik/ diet rendah karbohidrat dan diet rendah lemak.
12
Kriteria eksklusi yang diterapkan pada penelitian ini adalah : 1. Subjek dengan diabetes,
2. Intervensi diet < 12 bulan,
3. Subjek dengan BMI ≥ 25,0 s/d < 27,0.
3.1.3 Tipe Intervensi
Pada Tinajuan sistematis ini akan dianalisis literatur yang menggunakan intervensi Diet rendah karbohidrat ketogenik dan diet rendah lemak dengan kriteria di bawah ini.
Tabel 1. Kriteria Intervensi Diet
3.1.4 Ekstraksi Data
Judul dan abstrak dari artikel yang diambil dievaluasi oleh dua peneliti.
Artikel dapat diambil dalam versi lengkap dan berpotensi memenuhi syarat diambil untuk evaluasi lebih lanjut. Hasil yang akan dievaluasi dari penelitian ini adalah perubahan berat badan, kadar HDL, LDL, TGA. Data yang diperlukan akan diekstraksi dari artikel yang berkaitan dan memenuhi syarat kriteria inklusi.
Pada penelitian ini akan dilihat dari dua kelompok intervensi diet.
13
Gambar 1. Diagram Alur Seleksi Literatur
Tabel 2. Karakteristik Penelitian Uji Coba Acak Secara Terkontrol
14 3.2 Hasil dan Pembahasan
3.2.1 Penurunan Berat Badan
Hasil analisis dari 4 literatur menunjukkan bahwa individu dengan DRKK dan individu dengan DRL sama-sama mengalami penurunan berat badan yang signifikan selama 12 bulan atau lebih. DRKK memiliki penurunan berat badan yang lebih besar daripada DRL. Hal tersebut sejalan dengan penelitian metaanalisis yang dilakukan Hu, dkk. Pada penelitian sebelumya, DRKK menyebabkan penurunan berat badan, lingkar pinggang dan massa lemak tubuh yang lebih besar dibandingkan diet rendah kalori (p<0.001).
DRKK memiliki beberapa mekanisme penurunan berat badan diantaranya pengurangan nafsu makan karena efek kenyang lebih lama dari protein, efek pada hormon pengontrol nafsu makan dan kemungkinan aksi penekan nafsu makan langsung dari badan keton, pengurangan lipogenesis dan peningkatan lipolisis, peningkatan metabolisme glukoneogenesis dan efek termal dari protein. Dengan pemantauan dan disiplin yang baik DRKK memberikan harapan untuk dapat menurunkan berat badan secara signifikan.
3.2.2 Risiko Dislipidemia
Pada penelitian meta analisis sebelumnya oleh Santos dkk, ditemukan bahwa DRKK terbukti memiliki efek yang baik terhadap faktor risiko kardiovaskular utama, Namun efeknya terhadap kesehatan jangka panjang tidak diketahui. Pada penelitian lain yang dilakukan Dashti, dkk pada kelompok individu obesitas dengan kadar kolestrol tinggi sebelum intervensi dan kelompok individu obesitas dengan kadar kolestrol normal sebelum intervensi. Kedua
15
kelompok tersebut diberi intervensi diet ketogenik selama 56 minggu dan menunjukkan hasil berat badan dan indeks massa tubuh kedua kelompok menurun secara signifikan (P<0,0001). Tingkat kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida dan kadar glukosa darah menurun secara signifikan (P<0,0001), sedangkan kolesterol HDL meningkat secara signifikan (P<0,0001). DRKK aman digunakan untuk jangka waktu yang lebih lama pada subyek obesitas dengan kadar kolesterol total tinggi dan individu yang normo-cholesterolemia.
Pada tinjauan sistematis ini ditemukan bahwa tidak hanya berat badan yang mengalami perubahan yang signifikan, individu dengan DRKK dan DRL juga akan mengalami peningkatan HDL dan penurunan TGA terutama pada kelompok dengan DRKK. Namun, pada hasil penelitian dari 3 literatur menyatakan bahwa DRKK dapat menurunkan kadar LDL, sedangkan 1 literatur menyatakan DRKK dapat meningkatkan kadar LDL. Penting untuk diketahui bahwa analisis ini hanya mencakup empat studi. Hasil yang diperoleh dari tinjauan sistematis ini sangat menarik karena 3 dari 4 literatur menunjukkan DRKK dapat memperbaiki profil lipid secara signifikan walaupun DRKK memiliki proporsi konsumsi lemak yang tinggi. Sehingga dapat menurunkan resiko terjadinya dislipidemia. Berbanding terbalik pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ronald, dkk menunjukkan bahwa konsumsi lemak jenuh yang tinggi dapat meningkatkan kolesterol LDL.
16 BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Diet rendah karbohidrat ketogenik terbukti dapat menurunkan berat badan secara signifikan. Penurunan berat badan pada DRKK lebih besar dibandingkan dengan DRL. DRKK terbukti aman untuk diterapkan dalam jangka waktu yang lama dan dapat menurunkan resiko dislipidemia.
4.2 Saran
Untuk kemajuan makalah ini kedepannya, apabila terdapat kesalahan yang terjadi, maka penulis mengharapkan pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun guna kelengkapan dan kebutuhan makalah ini kedepannya.
17
DAFTAR PUSTAKA
Brinkworth, G. D., Noakes, M., Buckley, J. D., Keogh, J. B., & Clifton, P. M.
(2009). Long-term effects of a very- low-carbohydrate weight loss diet compared with an isocaloric low-fat diet after 12 mo 1 – 4. 23–
32. https://doi.org/10.3945/ajcn.2008.27 326.Am
Bueno, N. B., Sofia, I., Melo, V. De, & Oliveira, S. L. De. (2013).
Systematic Review with Meta-analysis Very-low- carbohydrate ketogenic diet v . low- fat diet for long-term weight loss : a meta-analysis of
randomised controlled trials. 1178–1187.
https://doi.org/10.1017/S0007114513 000548
Caprio, M., Moriconi, M. I. E., Fabbri, A. A. A., & Mariani, G. M. S. (2019).
Very ‑ low ‑ calorie ketogenic diet ( VLCKD ) in the management of metabolic diseases : systematic review and consensus statement from the Italian Society of Endocrinology ( SIE ). (0123456789).
https://doi.org/10.1007/s40618-019- 01061-2
Hu, T., Mills, K. T., Yao, L., Demanelis, K., Eloustaz, M., Yancy, W. S.,
… Bazzano, L. A. (2012). Systematic Reviews and Meta- and Pooled Analyses Effects of Low- Carbohydrate Diets Versus Low-Fat Diets on Metabolic Risk Factors : A Meta-Analysis of Randomized Controlled Clinical Trials. 176(7). https://doi.org/10.1093/aje/kws264
18
Kementerian, & Kesehatan, B. P. dan P. (2018). HASIL UTAMA RISKESDAS 2018. Retrieved from http://www.depkes.go.id/resources/d ownload/info-terkini/hasil-riskesdas- 2018.pdf
Johnston, B. C., Kanters, S., Bandayrel, K., Wu, P., Naji, F., Siemieniuk, R. A., … Mills, E. J. (2014). Comparison of Weight Loss Among Named Diet Programs in Overweight and Obese Adults A Meta- analysis. 94305(9), 923–933. https://doi.org/10.1001/jama.2014.10 397 Mensink, R. P., Zock, P. L., Kester, A. D. M., & Katan, M. B. (2003). Effects of
dietary fatty acids and carbohydrates on the ratio of serum total to HDL cholesterol and on serum lipids and apolipoproteins: A meta- analysis of 60 controlled trials. American Journal of Clinical Nutrition.
Moreno, B., Crujeiras, A. B., Bellido, D., Sajoux, I., & Casanueva, F. F. (2016).
Obesity treatment by very low- calorie-ketogenic diet at two years : reduction in visceral fat and on the burden of disease. Endocrine, 681– 690. https://doi.org/10.1007/s12020- 016-1050-2