• Tidak ada hasil yang ditemukan

AE kawilarang pendiri kopassus memberontak

N/A
N/A
DC Channel

Academic year: 2023

Membagikan "AE kawilarang pendiri kopassus memberontak"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

AE Kawilarang Pendiri Kopassus Memberontak Halo DC Mania, jumpa lagi di DC Channel.

Channel yang mengupas sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Di video kali ini kami mau ngebahas sosok Alex Evert Kawilarang.

Kawilarang adalah pendiri kopassus.

Ia lah orang yang memiliki gagasan pembentukan pasukan komando di tubuh tentara Indonesia.

Namun di tengah kariernya sebagai prajurit, Kawilarang memutuskan memberontak terhadap pemerintah.

Ia bergabung dengan gerakan Perjuangan Rakyat Semesta atau Permesta di tanah kelahirannya Sulawesi.

Mengapa Kawilarang seorang militer tulen, malah memberontak terhadap pemerintah?

Temukan jawabannya di video ini ya.

1. Mendirikan Kesatuan Komando

Pertempuran di Maluku terus membekas di benak Panglima Tentara dan Teritorium Siliwangi Alex Evert Kawilarang.

Masih terbayang di kepala Kawilarang saat ia memimpin operasi penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS).

Dengan jumlah kecil, pasukan RMS mampu membendung serangan TNI dari darat, laut dan udara.

Butuh waktu setidaknya 4 bulan bagi TNI untuk bisa menerobos masuk Kota Ambon setelah pendaratan mereka di pertengahan Juli 1950 di Pulau Buru.

Bahkan untuk bisa menjebol pertahanan RMS di Ambon, TNI harus berperang enam hari enam malam.

“Mereka mampu berpindah ke sana kemari untuk mengacau kedudukan musuh,” kata Kawilarang mengakui kehebatan pasukan RMS.

Pasukan RMS yang mampu merepotkan barisan penyerang TNI adalah bekas prajurit Korps Speciale Troepen (KST).

KST adalah kesatuan tentara KNIL yang berkualifikasi komando.

Kehebatan prajurit KST inilah yang menginspirasi Kawilarang untuk membentuk kesatuan komando di Siliwangi.

Kawilarang butuh prajurit-prajurit yang terlatih bertempur dalam kekuatan kecil untuk menghadapi pemberontakan DI/TII.

Ia lalu teringat pada sosok Rokus Bernardus Visser, mantan anggota KST.

Kawilarang mengenal Visser ketika pria berkebangsaan Belanda itu melatih combat intelligence di TNI AD.

Visser bukan prajurit sembarangan. Ia pernah mengikuti pelatihan para komando di Inggris.

(2)

Visser terlibat dalam operasi terjun payung terbesar dalam Perang Dunia II ketika sekutu membebaskan negeri Belanda dari pasukan Jerman.

Rekam jejak Visser sebagai pasukan komando Belanda membuat Kawilarang kepincut.

Ia lalu mengutus anak buahnya Letda Aloysius Sugianto menemui Visser.

Visser saat itu sudah menjadi WNI dan menetap di Cisarua, Bogor.

Di sana, ia menikah dengan perempuan Sunda lalu menjadi mualaf.

Menjadi seorang muslim, Visser merubah namanya menjadi Mohammad Idjon Janbi.

Datanglah Idjon Janbi menghadap Kawilarang.

Kepada Janbi, Kawilarang menyatakan keinginannya membentuk satu kompi pasukan komando dan mencetak pelatih komando.

Kawilarang menawarkan agar Idjon Janbi menjadi instruktur prajurit Siliwangi agar berkualifikasi para komando.

Idjon Janbi tak langsung menerima tawaran Kawilarang.

Ada syarat yang harus dipenuhi yaitu mengangkat dirinya sebagai anggota militer dan memberikan pangkat setingkat lebih tinggi dari para calon siswanya.

Tanpa pikir panjang, Kawilarang menyetujuinya.

Pria Minahasa ini mengeluarkan surat keputusan pengangkatan Idjon Janbi sebagai anggota TNI dengan pangkat Mayor.

Dibentuklah Kesatuan Komando (Kesko) Siliwangi dengan Mayor Idjon Janbi sebagai komandannya.

Idjon lalu melatih 15 orang pelatih Sekolah Kader Infanteri untuk menjadi instruktur komando.

Setelah 22 bulan penggemblengan di Batujajar, hanya ada 8 bintara yang lulus menjadi instruktur komando.

Dari latihan komando angkatan pertama itu, terbentuklah Kompi Operasional yang diberi nama Kompi A.

Mereka yang lulus pendikan komando, diberikan ijazah, baret coklat, badge bertuliskan komando di pundak kiri dan kanan.

Kompi A lalu diterjunkan ikut menumpas gerakan DI/TII di Jawa Barat. Ternyata hasilnya sangat memuaskan.

Ini membuat Mabes AD tertarik dan ingin membentuknya ke tingkat markas besar.

Lalu diambillah komando Kesko dari Siliwangi ke Mabes AD.

Personelnya ditambah dan nama kesatuan diubah menjadi Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD).

Dalam perkembangannya, nama KKAD berubah menjadi RPKAD, Koppasandha hingga kini dikenal dengan nama Kopassus.

2. Pecahnya Permesta

(3)

Di akhir tahun 50-an, situasi politik di Indonesia sedang panas-panasnya.

Sejumlah daerah menyatakan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan pusat.

Yang menjadi sorotan adalah soal pemerataan pembangunan ekonomi.

Daerah merasa pusat tidak adil dalam hal pembangunan perekonomian lokal.

Pembangunan semua terpusat di Jawa. Sementara hampir sebagian besar pendapatan berasal dari kekayaan alam daerah.

Gubernur Sulawesi Andi Pangerang Pettarani mendesak pemerintah memberikan otonomi lebih besar ke daerah khususnya Indonesia Timur.

Pangerang meminta pembagian pendapatan negara untuk daerah lebih besar daripada pusat untuk melaksanakan proyek pembangunan lokal.

Desakan-desakan ini tidak digubris pemerintah pusat.

Pada 2 Maret 1957, Panglima TT-VII Letkol Ventje Sumual memproklamasikan keadaan perang untuk seluruh wilayah Indonesia Timur.

Kemudian Piagam Perjuangan Semesta atau Piagam Permesta dibacakan.

Isi Piagam Permesta adalah

"Pertama-tama dengan mejakinkan seluruh pimpinan dan lapisan masjarakat, bahwa kita tidak melepaskan diri dari Republik Indonesia dan semata-mata diperdjoangkan untuk perbaikan nasib rakjat Indonesia dan penjelesaian bengka-lai revolusi Nasional."

Permesta menyatakan bahwa mereka tidak bermaksud melawan pemerintah RI.

Mereka hanya menginginkan pemerataan kesejahteraan wilayah timur Indonesia.

Ventje Sumual, menegaskan bahwa tidak ada kata-kata yang merujuk pada upaya memerdekakan diri.

“Permesta bukan pemberontakan, melainkan suatu deklarasi politik," tandas Ventje Sumual.

Lalu pada 17 Februari 1958, Permesta menyatakan solidaritas dengan gerakan PRRI.

Sikap oposisi Permesta terhadap pemerintah pusat ini ternyata ditafsir lain.

Permesta dianggap pemberontak.

Hingga pada 22 Februari 1958, pesawat tempur TNI AU memborbardir Kota Manado, pusat Permesta.

3. Bergabung dengan Permesta

Kabar pemboman Kota Manado ini sampai juga ke telinga Kawilarang.

Saat itu Kawilarang sedang berada di Washington DC, Amerika Serikat.

Ia adalah bekerja di kantor KBRI sebagai atase militer.

Begitu sakit, hati Kawilarang saat tahu tanah nenek moyangnya dibom.

Ia lalu mengirim surat kawat ke KSAD Mayjen AH Nasution.

(4)

Kepada atasannya itu, Kawilarang mengabarkan mengundurkan diri sebagai atase militer karena tidak setuju dengan tindakan pusat membom Kota Manado.

Setelah itu, Kawilarang menghadap Duta Besar Mukarto memberitahu akan pergi ke Sulawesi Utara.

Ya Kawilarang memutuskan untuk pulang ke Minahasa bergabung bersama Permesta.

Ia memilih mengikuti deburan hatinya.

“Saya tinggalkan hidup aman di Washington, saya tinggalkan ketenangan bekerja di KBRI, untuk menuju ke kehidupan yang bakal serba gelap dan tidak menentu,” kata Kawilarang.

Sejak memutuskan bergabung dengan Permesta, Kawilarang menganggap kehidupannya sebagai TNI sudah tamat.

Sampai di Manado, kehadiran Kawilarang disambut rekan-rekan Permesta.

Mengingat reputasinya sebagai seorang prajurit tempur, Ia didaulat menjadi Panglima Besar Angkatan Perang Revolusioner, sayap militer Permesta.

Kawilarang harus keluar masuk hutan melawan pasukan TNI yang dahulu adalah teman-teman seperjuangannya ketika melawan Belanda.

4. Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Setelah tiga tahun terjadi konfrontasi, akhirnya mulai ada titik terang.

Pemerintah Pusat membuka pintu perundingan dengan Permesta.

Pada 3 Maret 1961, KSAD Nasution mengeluarkan seruan agar anggota Permesta kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Bahkan prajurit Siliwangi yang bertugas menumpas Permesta menyampaikan pesan khusus kepada Kawilarang mantan komandannya.

Mereka memasang papan yang bertuliskan Pak Kawilarang supaya kembali.

Perundingan telah mencapai titik temu. Permesta bersedia mengakhiri perlawanannya.

Terjadilah gencatan senjata. Pasukan TNI dan Permesta berkumpul di dekat Tomohon.

Wakil Menteri Pertahanan RI Mayjen Hidayat Martaatmadja bersama sahabatnya waktu taruna di KMA Kawilarang menginspeksi pasukan.

“Pertentangan antara kita tidak dapat dipertahankan lagi,” kata Kawilarang dalam pidatonya.

Lalu Nasution bertemu langsung dengan Kawilarang. Kondisi Kawilarang saat itu terlihat payah karena terserang malaria akibat gerilya di hutan.

Kepada Nasution, Kawilarang menyatakan kesanggupannya mengembalikan pengikut Permesta ke pangkuan RI.

Kawilarang lalu mendapat amnesti dari Presiden Sukarno.

Sejak itu Kawilarang kembali ke Jakarta. Namun ia tidak melanjutkan karier militernya. Pangkatnya diturunkan dari kolonel menjadi letkol.

Kawilarang sibuk menggeluti bisnis. Ia dipercaya mengelola pacuan kuda di Pulomas, Jakarta Timur.

(5)

Kopassus baru mengakui jasa-jasa Kawilarang di tahun 1999 di era Presiden BJ Habibie

Danjen Kopassus kala itu Mayjen Syahrir MS menganugerahi Kawilarang sebagai warga kehormatan Kopassus.

Kawilarang yang sudah berusia 79 tahun datang ke Cijantung menerima baret merah dan pisau komando.

Setahun kemudian tepatnya pada 6 Juni 2000, Kawilarang meninggal dunia.

Ya sang pendiri pasukan komando itu wafat setelah resmi menjadi bagian dari Korps yang didirikannya itu.

Ya DC Mania itu tadi sekilas cerita mengenai Alex Evert Kawilarang.

Semoga kisah ini bisa menambah pengetahuan DC Mania semua.

Ingat, jangan kau benci masa lalu karena masa lalu adalah guru. Wassalam.

Referensi

Dokumen terkait

The results of this study indicate that the length of the auditor's relationship with the auditee has a negative effect on auditor independence and the factors that affect

197606172008012020 setelah ujian dengan memperhatikan catatan revisi dari tim dosen penguji, dikumpulkan melalui link pada website prodi Catatan alokasi waktu: 5 menit persiapan dan