PENGELOLAAN KINERJA KEUANGAN PADA PEMERINTAH DESA (STUDI KASUS DI DESA SALUASSING KECAMATAN
BAMBANG KABUPATEN MAMASA)
Nova Yuslinda1, Helmy Syamsuri2, Rohani3
1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar
1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]
ABSTRACT
This research aimed to analyze the financial performance on Village government of Saluassing, Bambang Disctirct of Mamasa Regency in 2017 to 2018. The data collection was done through written documents and relevant such as literature and various documents and reports issued by certain institutions.
Technique of data collection was observation, interview, and documents on village government of Saluassing. The method of data analysis was quantitative method using Independent ratio of village finance, affectivity ratio, efficiency ratio, activity ratio. The result of this research revealed that (1) the level of independence ratio of finance in Saluassing village was good. This was indicated by the less contribution of central government. 2). Affectivity ratio in Salluasing village was effective enough. 3) Efficiency ratio in Salluaing village was effective. 3). Effciency ratio in Salluasing village was efficient as contributed that the budget as expenditure it was called efficient as indicated by the budget spent by Saluaasing village to get income was less than local income gained by Salluasing village. 4) The level of village activity was good as they paid attention on the development of Salluasing village and its neighbourt.
Keywords: Village government, the ratio of village independence on finance, Effectivity ratio and activity ratio.
PENDAHULUAN
Sistem pemerintahan daerah sangat erat kaitannya dengan otonomi daerah yang saat ini berlangsung di Indonesia. Dengan terlaksananya otonomi daerah diharapkan daerah mampu mengatur sistem pemerintahannya dengan memaksimalkan potensi daerah yang dimiliki. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, pemerintah daerah dituntut untuk memiliki kemandirian keuangan daerah yang lebih besar. Dengan tingkat kemandirian keuangan tersebut maka daerah tidak akan bergantung lagi pada bantuan dari pusat dan provinsi melalui dana perimbangan, jika kemandirian keuangan daerah tinggi bukan berarti daerah sudah tidak perluh lagi mendapatkan dana perimbangan akan tetapi dana perimbangan masih tetap diperlukan untuk mempercepat pembangunan di daerah.
Penilaian kinerja keuangan pemerintah daerah (Pemda)/ pemerintah desa sangat berbeda dengan penilaian kinerja keuangan perusahaan karena selain berbasis anggaran,
keuangan pemerintah daerah tidak memiliki tujuan untuk memaksimalkan keuntungan seperti perusahaan.Tujuan dari analisis laporan keuangan yaitu untuk menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan perubahan dalam posisi keuangan suatuperusahaan atau pemerintah yang berguna bagi para penggunanya untuk membuat suatu keputusan Keuangan desa yang didapatkan dari sumber pendapatan desa harus dikelolah dengan baik demi tercapainya pembangunan desa. Melalui kebijakan dana desa, perekonomian dan kesejahteraan masyarakat diharapkan bisa meningkat. Dan ini didukung oleh semakin bertambahnya alokasi anggaran setiap tahunnya.
Analisis kinerja keuangan desa dilakukan dengan melakukan analisis rasio kemandirian keuangan desa dan pertumbuhan desa terhadap APBDes yang telah ditetapkan dan dilaksanakan.Dengan adanya analisis rasio keuangan terhadap APBDes, maka semua pihak yang berkepentingan memiliki untuk melihat beberapa aspek keuangan dalam APBDes. Kinerja keuangan desa adalah
gambaran tingkat pencapaian hasil kerja dalam melaksanakan hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang dan segala sesuatu berupa uang dan barang dalam satu periode anggaran.
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 tahun 2014 keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu yang berupa uang dan barang yang berhubungan dengan melaksanakan hak dan kewajiban desa.
Penilaian terhadap kinerja keuangan Pemerintah Desa Saluassing Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa yaitu dengan cara melakukan analisis rasio keuangan terhadap laporan keuangan desa. Hasil analisis rasio keuangan selanjutnya dipergunakan sebagai tolak ukur dalam menilai: kemandirian keuangan desa dalam membiayai penyelenggaraan pemerintahan, efektifitas dan efesiensi dalam merealisasikan pendapatan desa dan rasio aktivitas yaitu pemerintah desa dapat memprioritaskan alokasi dana desanya.
Desa Saluassing merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa. Desa Saluassing adalah desa yang mayoritas warganya berprofesi sebagai petani. Untuk itu, pembangunan pedesaan lebih baik ditujukan atau diprioritaskan untuk pembangunan pertanian masyarakat Desa Saluassing sehingga perekonomian Desa Saluassing dapat meningkat.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah kinerja keuangan desa Saluassing Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa tahun 2017-2018?
Tujuan dari penelitian ini adalah:
Mengetahui kinerja keuangan pemerintah Desa Saluassing Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa berdasarkan rasio kemandirian keuangan desa, rasio efektivitas, rasio efisiensi dan rasio aktivitas.
TINJAUAN LITERATUR
Menurut Irham Fahmi (2018), kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan- aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Seperti dengan membuat suatu laporan keuangan yang telah memenuhi standar dan ketentuan dalam SAK (Standar Akuntansi
Keuangan) atau GAAP (General Acepted Accounting Principle), dan lainnya.
Menurut Robertson dalam Mahmudi (2015), menyatakan bahwa pengukuran kinerja merupakan suatu proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditentukan, termasuk informasi atas efisiensi penggunaan sumber daya dalam menghasilkan barang dan jasa, kualitas barang dan jasa, perbandingan hasil kegiatan dengan target, dan efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan.
Menurut Mahsun (2013), ada empat elemen pokok pengukuran kinerja yaitu:
Menetapkan tujuan, sasaran, dan strategi organisasi, Merumuskan indikator dan dan ukuran kinerja, Mengukur tingkat ketercapaian tujuan dan sasaran-sasaran organisasi, dan Evaluasi kinerja .
Laporan keuangan merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi suatu perusahaan, dan lebih lanjutnya akan menjadi suatu informasi yang menggambarkan tentang kinerja suatu perusahaan.
Menurut Munawir dalam Fahmi (2018), menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan.
Pemerintahan desa merupakan lembaga perpanjangan pemerintah pusat yang memiliki peran strategis untuk mengatur masyarakat yang ada dipedesaan demi mewujudkan pembangunan pemerintah. Berdasarkan peranannya tersebut, maka diterbitkanlah Peraturan-peraturan atau Undang-Undang yang berkaitan dengan pemerintahan desa yang mengatur tentang pemerintahan desa, sehingga roda pemerintahan berjalan dengan optimal (Sujarweni, 2015).
Menurut undang-undang Nomor 6 tahun 2014 tentang desa, desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/ atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Desa dalam pengertian umum adalah sebagai suatu gejala yang bersifat universal, terdapat dimana pun didunia ini, sebagai suatu komunitas kecil, yang terikat pada lokalitas
tertentu baik sebagai tempat tinggal (secara menetap) maupun bagi pemenuhan kebutuhannya, dan terutama yang tergantung pada sektor pertanian.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, desa adalah kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri (dikepalai oleh seorang Kepala Desa) atau desa kelompok rumah diluar kota yang merupakan kesatuan.
Menurut Sujarweni (2015), keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban dalam bentuk satuan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun barang yang menjadi milik desa.
Rasio keuangan atau financial ratio ini sangat penting gunanya untuk melakukan analisa terhadap kondisi keuangan. Analisis sangat membutuhkan rasio keuangan untuk membantu menganalisis dan interpretasi laporan keuangan.
Menurut Keliat (2018), rasio-rasio yang digunakan dalam menghitung laporan keuangan desa, antara lain:
1. Rasio Kemandirian Keuangan Desa
Rasio kemandirian keuangan Desa adalah kemampuan pemerintah desa dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang telah diperlukan daerah.Secara sistematis dapat disimpulkan dengan rumus (Keliat 2018):
Dengan kriteria sebagai berikut:
Rendah sekali : kurang dari 25%
Rendah : 25% - 50%
Sedang : 50% - 75%
Tinggi : 75% - 100%
2. Rasio Efektifitas
Menurut Mahsun dalam Keliat (2018) rasio efektifitas bertujuan untuk mengukur tingkat output dari organisasi sektor publik terhadap target-target pendapatan sektor publik. Semakin tinggi rasio efektifitas, makasemakin baik kinerja pemerintah desa.Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
Dengan kriteria sebagai berikut:
Sangat efektif : diatas 100%
Efektif : 90% - 100%
Cukup efektif : 80% - 90%
Kurang efektif : 60% - 80%
Tidak efektif : kurang dari 60%
3. Rasio Efisiensi
Rasio efesiensi bertujuan untuk mengukur tingkat input dari organisasi sektor publik terhadap tingkat outputnya sektor publik.
Dengan kriteria sebagai berikut:
Tidak efisien : diatas 100%
Kurang efisien : 90% - 100%
Cukup efisien : 80% - 90%
Efisien : 60% - 80%
Sangat efisien : kurang dari 60%
4. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas menggambarkan bagaimana pemerintahan daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja operasi dan belanja modal secara optimal.
Semakin tinggi persentase dana yang dialokasikan untuk belanja operasi berarti persentase belanja modal yang digunakan untuk menyediakan sarana prasarana ekonomi masyarakat cenderung semakin kecil
a) Rasio Belanja Rutin / Belanja Tidak Langsung
Rasio Belanja Rutin (Belanja Tidak Langsung) merupakan perbandingan antara total Belanja Rutin (Belanja Tidak Langsung) dengan total Belanja Daerah.
Rasio belanja rutin ini memberikan informasi mengenai anggaran belanja daerah yang dialokasikan untuk belanja rutin (Belanja Tidak Langsung).Rumus yang digunakan untuk menghitung rasio belanja rutin adalah (Keliat 2018):
b) Rasio Belanja Modal / Belanja Langsung Rasio Belanja Modal (belanja langsung) merupakan perbandinganantara total belanja modal (belanja langsung) dengan total Belanja Daerah. Rasio belanja rutin ini memberikan informasi mengenai anggaran belanja daerah yang dialokasikan untuk belanja rutin (belanja tidak langsung) pada tahun anggaran bersangkutan.Rumus untuk menghitung belanja modal yaitu (Keliat 2018):
Dengan kriteria sebagai berikut:
Tidak baik : 0% - 50%
Baik : 50% - 100%
Menurut kutipan skripsi dari Keliat (2018), diketahui bahwa Kinerja Keuangan jika dilihat dari Rasio Kemandirian Keuangan Desa sudah sangat tinggi, Jika dilihat dari Rasio Efektivitas sudah sangat efektif, jika dilihat dari Rasio Efisiensi tergolong tidak efisien dan jika dilihat dari Rasio Aktivitas sudah sangat baik.
Dari hasil penelitian Rahmayati (2016), diketahui bahwa Kinerja Keuangan jika dilihat dari Rasio Kemandirian Keuangannya belum optimal karena Kemandirian Keuangannya masih dibawah rata-rata, jika dilihat dari Rasio Efektivitas mengalami penurunan tetapi masih termasuk kriteria efektif, jika dilihat dari Rasio Efisien dikatakan sangat efisien.
Berdasarkan penelitian Keliat (2018) dan Rahmayati (2016), hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Hipotesis: Kinerja Keuangan pada Pemerintah Desa Saluassing Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa sudah baik
METODE PENELITIAN
Desain penelitian adalah strategi yang dipilih oleh peneliti untuk mengintegrasikan secara menyeluruh komponen riset dengan cara logis dan sistematis untuk membahas dan menganalisis apa yang menjadi fokus penelitian. Desain penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan menggunakan prosesdur statistik atau cara lain secara kuantitatif (pengukuran).
Dalam proposal ini, penelitian kuantitatif yang dimaksud yaitu penelitian dengan menggunakan rasio-rasio keuangan untuk mengetahui kinerja keuangan dengan standar pengukuran. Sesuai dengan judul penelitian ini, maka lokasi penelitian ini dilaksanakan di Desa Saluassing Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa waktu dimulainya penelitian ini dimulai dari bulan September sampai dengan bulan Oktober 2019 berlangsung selama dua bulan.
Penelitian ini menggunakan jenis data kualitatif dan jenis data kuantitatif dan data
penelitian ini bersumber dari data primer dan sekunder.
Studi kepustakaan yaitu pengumpulan data melalui bahan-bahan yang tertulis dan relevan dengan penelitian ini, seperti literatur dan berbagai dokumen serta laporan-laporan yang diterbitkan oleh instansi terkait.
Studi lapangan yaitu pengumpulan data dimana penulis secara langsung ke objek penelitian dengan menggunakan tehnik penelitian sebagai berikut: (a). Observasi (b).
Wawancara (c). Dokumentasi.
Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: 1. Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab adanya variabel dependen.
Adapun variabel independen dalam penelitian ini yaitu Kineja Keuangan. 2.Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini yaitu Pemerintah Desa.
Adapun skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Kinerja keuangan dengan menggunakan analisis Rasio Kemandirian Keuangan, Rasio Efektivitas, Rasio Efisiensi dan Rasio Aktivitas.
Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, maka metode analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan rasio keuangan desa yang meliputi: (Keliat 2018).
a) Rasio Kemandirian Keuangan
b) Rasio Efektifitas
c) Rasio Efisiensi
d) Rasio Aktivitas
1. Rasio Belanja Rutin / Belanja Tidak Langsung
2. Rasio Belanja Modal / Belanja Belanja
x100%
HASIL DAN PEMBAHASAN Rasio kemandirian keuangan menunjukkan tingkat kemampuan suatu daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah melalui pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang sudah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah.
Tabel 1
Perhitungan Rasio Kemandirian keuangan Desa Saluassing Tahun Anggaran 2017-
2018
T.A PAD
(RP)
Bantuan Pemerintah Pusat atau Provinsi
dan Pinjaman
RKKD (%)
Kemandi rian Desa
2017 762.610.000 1.072.358.000 71,12 Sedang 2018 691.897.000 1.001.339.000 69,10 Sedang Rata-Rata Persentase 70,11 Sedang
Sumber Data: Bagian Keuangan Desa Saluassing (diolah)
Berdasarkan perhitungan dari tabel 1 dapat ditarik kesimpulan bahwa kemandirian keuangan Desa saluassing dinilai cukup baik, dimana keuangan Desa Saluassing lebih kurang daripada bantuan pemerintah pusat.
Pada tahun 2017 memperoleh nilai sebesar 71,12%, pada tahun 2018 mengalami penurunan yaitu sebesar 69,10%. Hal itu terjadi dikarenakan jumlah bantuan dari pemerintah pusat/provinsi dan pinjaman Desa Saluassing lebih besar dari PAD nya sendiri.
Rasio efektivitas untuk mengukur tingkat output dari organisasi sektor publik terhadap target-target pendapatan sektor.
Semakin tinggi rasio rasio efektivitas, maka semakin baik kinerja keuangan pemerintah desa.
Sumber Data: Bagian Keuangan Desa Saluassing (diolah)
Berdasarkan perhitungan tabel 2 diatas keuangan Desa Saluassing sudah cukup efektif. Pada tahun 2017 nilai yang diperoleh sebesar 99,53%. Hal itu terjadi karena realisasi
pendapatan Desa Saluassing yang diterima lebih besar daripada anggaran Desa Saluassing. Pada tahun 2018 efektivitas keuangan Desa Saluassing mengalami penurunan yang sangat besar dengan memperoleh nilai sebesar 1,0%.
Rasio efisiensi bertujuan untuk mengukur tingkat input dari organisasi sektor publik terhadap tingkat outputnya sektor publik.
Tabel 3
Perhitungan Rasio Efisiensi Keuangan Desa Saluassing Tahun Anggaran 2017-2018
T.A Biaya
Pemerolehan PAD (Rp)
Realisasi Penerimaan
PAD (Rp)
REK D (%)
Kriteria
2017 564.623.000 762.610.000 74,04 Efisien 2018 500.000.000 691.897.000 72,27 Efisien
Rata-Rata Persentase 73,15 Efisien
Sumber Data: Bagian Keuangan Desa Saluassing (diolah)
Berdasarkan perhitungan tabel 3 diatas, keuangan Desa Saluassing sudah efisien. Pada tahun 2017 memperoleh nilai sebesar 74,04%, pada tahun 2018 memperoleh nilai sebesar 72,27%. Hal itu terjadi dikarenakan biaya yang dikeluarkan Desa Saluassing untuk mendapatkan PAD sedikit daripada PAD yang diterima oleh Desa Saluassing.
Rasio aktivitas menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja operasi dan belanja modal secara optimal.
Semakin tinggi dana yang dialokasikan untuk belanja operasi berarti persentase belanja modal yang digunakan umtuk menyediakan sarana prasarana ekonomi masyarakat cenderung semakin kecil.
Tabel 4
Perhitungan Rasio Aktivitas Keuangan Desa Saluassing Tahun Anggaran 2017-
2018
T.A Total Realisasi Belanja
(Rp)
Realisasi Belanja Operasi
(Rp)
Belanja Operasi (%)
Kriteria
2017 1.022.158.000 457.535.000 44,76 Tidak Baik 2018 901.339.000 401.339.000 44,53 Tidak Baik Rata-Rata Persentase 44,64 Tidak Baik
Sumber Data: Bagian Keuangan Desa Saluassing (diolah)
Tabel 2
Perhitungan Rasio Efektivitas Keuangan Desa Saluassing tahun Anggaran 2017-2018
T.A Realisasi Pendapatan
Target Pendapatan
RE (%)
Kriteria 2017 1.072.358.000 1.077.394.000 99,53 Efektif 2018 1.001.339.000 1.001.339.000 1,0 Tidak
Efektif Rata-Rata Persentase 50,27 Tidak Efektif
Tabel 5
Perhitungan Rasio Aktivitas Keuangan Desa Saluassing Tahun Anggaran 2017-
2018
T.A Total Realisasi Belanja
(Rp)
Realisasi Belanja Modal
(Rp)
Belanja Modal (%)
kriteria
2017 1.022.158.000 564.623.000 55,24 Baik 2018 901.339.000 500.000.000 Baik 55,47 Rata-Rata Persentase 55,35 Baik
Sumber Data: Bagian Keuangan Desa Saluassing (diolah)
Tabel 6
Perbandingan Belanja Langsung Dan Tidak Langsung
T.A Belanja Operasi/Bel
anja Tidak Langsung
Lebih Besar/Lebih
Kecil
Belanja Modal/Belanja
Langsung
Kriteria
2017 44,76 < 55,24 Baik
2018 44,53 < 55,47 Baik
44,64 55,35
Rata-Rata Persentase Belanja Langsung dan Tidak Langsung
50 % Baik
Sumber Data: Bagian Keuangan Desa Saluassing (diolah)
Berdasarkan hasil perhitungan tabel 4 diatas diketahui bahwa rata-rata Rasio Belanja Operasi Desa Saluassing pada tahun 2017 sebesar 44,76%. Pada tahun 2018 Rasio Belanja Operasi Desa Saluassing mengalami sedikit penurunan menjadi menjadi 44,53%.
Berdasarkan hasil perhitungan tabel 5 diatas diketahui bahwa rata-rata Rasio Belanja Modal Desa Saluassing pada tahun 2017 sebesar 55,24%. Pada tahun 2018 Rasio Belanja Modal Desa Saluassing mengalami peningkatan sebesar 55,47%.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Kinerja Keuangan Desa Saluassing Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa dari perhitungan Rasio Kemandirian Desa, Rasio Efektivitas, Rasio Efisiensi, dan Rasio Aktivitas yang digunakan di atas dikatakan sudah baik Sabaiknya Desa Saluassing Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa kedepannya untuk lebih meningkatkan Pendapatan Asli Desa yang berupa BUMDesa dan lebih meningkatkan pembangunan infrastruktur jalan agar terus meningkat.
Desa Saluassing lebih baik dalam memperhatikan pengeluarannya dalam belanja operasi maupun belanja modal supaya bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat disekitaran Desa Saluassing.
Lewat penelitian ini, penulis berharap semoga Masyarakat dapat mendukung pemerintah Desa Saluassing dalam meningkatkan kinerja keuangan Desa, Dana Desa lewat kegiatan-kegiatan yang direncanakan.
DAFTAR PUSTAKA
Aisah, F. Suhendro, & Dewi R. (2017).
Analisis Rasio Kemandirian Keuangan Desa Dan Rasio Pertumbuhan Desa Terhadap Kinerja Keuangan Desa.
Fahmi I. (2018). Manajemen Kinerja Teori Dan Aplikasi. Bandung: Alfabeta.
Fahmi, I. (2014). Analisis Laporan Keuangan.
Bandung: Alfabeta.
Keliat, H. (2018). Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Desa (Studi Kasus di Desa Margorejo). Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Kasmir. (2017). Analisis Laporan Keuangan.
Jakarta: Rajawali Pers.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Tentang Desa Pemerintah Desa Saluassing. (2017). Profil
Desa Saluassing Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa. Sulawesi Barat.
Pemerintah Desa Saluassing. (2018). Laporan Keuangan Pemerintah Desa Saluassing Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa.
Pemerintah Desa Saluassing. (2017).
Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDesa) Tahun Anggaran 2017 Desa Saluassing Kecamatan Bambang Kabupaten Mamasa. Sulawesi Barat.
Mahsun. (2013). Akuntansi Sektor Publik.
Edisi Ketiga: BPFE-Yogyakarta.
Mahmudi. (2015). Manajemen Kinerja Sektor Publik. Edisi Ketiga: UPP STIM YKPN.
Rahmayati, A. (2016). Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo Tahun 2011-2013.Jurnal EKA CIDA Vol. 1, No.1, Maret 2016. Surakarta:
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN.
Sujerweni, W. V. (2015). Akuntansi Desa Panduan Tata Kelola Keuangan Desa.
Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Sujarweni, W. V. (2015). Akuntansi Sektor Publik Teori Konsep Aplikasi.Yogyakarta:
Pustaka Baru Press.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D.
Bandung: Alfabeta.
Tersiana, A. (2018). Metode Penelitian.
Yogyakarta: Yogyakarta.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.
Wijaya, D. (2018). Akuntansi Desa. Gava Media Anggota IKAPI DIY.
Zuhri, M., & Soleh, A. (2015). Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Kaur. Fakultas Ekonomi Universitas Dehasen Bengkulu.