Agum Gumelar Melawan Suharto
Halo DC Mania, jumpa lagi di DC Channel.
Channel yang mengupas sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
Di video kali ini kami mau ngebahas mengenai kiprah Jenderal (Purn) Agum Gumelar.
Ketika masih aktif di tentara, Agum pernah melawan perintah Presiden Soeharto.
Agum malah memuluskan jalan Megawati Soekarnoputri menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Megawati adalah musuh politik Soeharto dan Golkar.
Namun Agum berani mengambil langkah berani walau taruhannya karier dan jabatan di TNI.
Seperti apa ceritanya? Simak terus ya video ini.
1. Fusi Partai Politik
Ketika Soeharto menjadi Presiden, ia mengambil langkah penggabungan partai politik yang ada di Indonesia.
Tujuan penyederhanaan jumlah partai ini untuk menciptakan stabilitas politik sehingga tercapainya pembangunan ekonomi.
Gagasan fusi partai politik ini sebenarnya sudah tertuang dalam TAP MPRS No.22 Tahun 1966.
Tahun 1970, Presiden Soeharto kembali memunculkan ide fusi parpol ini.
Setidaknya Soeharto menginginkan ada tiga golongan partai politik.
Yaitu golongan spirituil, golongan nasionalis dan golongan karya.
Ide penggabungan partai politik menjadi tiga golongan itu tak mendapat tentangan dari para pimpinan partai politik yang ada saat itu.
Pada Maret 1970, lima partai politik kelompok nasional membentuk kelompok demokrasi pembangunan untuk menghadapi Pemilu tahun 1971.
Lima partai politik itu ialah PNI, IPKI, Parkindo, Partai Murba dan Partai Katolik.
Sayang pembentukan poros demokrasi pembangunan ini gagal terwujud di Pemilu 1971.
2. Terbentuknya PDI
Baru di tahun 1973 lah, gagasan pengelompokan partai politik menjadi golongan terlaksana.
Pada 5 Januari 1973, partai-partai ISlam seperti NU, PSII dan Perti membentuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Lima hari kemudian partai kelompok demokrasi pembangunan mendirikan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Inilah awal terbentuknya PDI yang kini menjelma menjadi PDI Perjuangan pimpinan Megawati Soekarnoputri.
Sejak PDI didirikan, konflik internal sudah terjadi karena jurang perbedaan ideologi.
Parkindo dan Partai Katolik melihat Murba dan PNI kental ideologi kiri.
Sementara PNI memandang Parkindo dan Partai Katolik tidak loyal terhadap partai.
Lalu IPKI partai yang dibentuk Jenderal AH Nasution dianggap sebagai perpanjangan tangan rezim Orde Baru untuk mengendalikan PDI.
Maka yang terjadi adalah konflik internal di dalam PDI.
Hal ini membuat Megawati Soekarnoputri, turun tangan.
Sebagai anak Proklamator Soekarno, kehadiran Megawati diharapkan bisa meredakan konflik internal partai.
Pada 2-6 Desember 1993, digelar Kongres Luar Biasa PDI di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur.
Megawati ikut dalam pencalonan sebagai Ketua Umum PDI.
Soeharto menerbitkan larangan mendukung pencalonan Megawati sebagai Ketua Umum PDI.
Pemerintah meminta PDI mendukung Budi Harjono sebagai Ketua Umum.
Larangan ini tidak digubris kader PDI. Mereka mendukung penuh Mega sebagai Ketua Umum.
Dalam pemandangan umum, 256 cabang dari 305 cabang PDI di seluruh Indonesia mendukung Mega.
Melihat kuatnya dukungan arus bawah terhadap Mega, membuat Pemerintah khawatir.
Soeharto menganggap Megawati bisa menjadi ancaman terhadap kekuasaannya.
Atas intervensi pemerintah, kongres luar biasa berakhir dead lock.
KLB gagal mengukuhkan Megawati sebagai Ketua Umum PDI.
Biar begitu, secara de facto, Megawati adalah Ketua Umum PDI.
3. Munas PDI
Untuk melegitimasi Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI, diadakanlah acara Musyawarah Nasional (Munas) PDI di Jakarta pada 22-23 Desember1993.
Saat itu Agum Gumelar baru saja ditunjuk sebagai Direktur A Badan Intelijen Strategis (Bais) dengan pangkat Brigjen.
Sebagai Direktur A Bais, Agum mengurus berbagai hal berkaitan masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, dalam negeri.
Maka ketika acara Munas PDI digelar, Agum mendapat tugas mengamankan jalannya Munas.
“Megawati bagaimana?” tanya Agum kepada atasannya Kepala BAIS Ari Sadewo.
“Tidak ada masalah,” jawab Ari.
Mengamankan di sini bukan bermakna memberi keamanan agar Munas berlangsung lancar.
Mengamankan dalam konteks ini adalah mengamankan agar Megawati tidak jadi dikukuhkan sebagai Ketua Umum PDI.
Faktanya Agum Gumelar melancarkan jalan Megawati menjadi Ketua Umum PDI.
Agum tidak melakukan tindakan apapun yang bisa menggagalkan pengukuhan Megawati sebagai Ketua Umum PDI.
Ia membiarkan Munas PDI berjalan lancar tanpa intervensi siapapun dari pihak pemerintah.
Ini terlihat ketika ada rekan Agum dari Departemen Dalam Negeri dan Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) mau mengacaukan Munas.
“Eti, no, no, no biarkan mereka berpesta demokrasi,” kata Agum kepada dua rekannya itu.
Alhasil munas berjalan mulus dan Megawati diangkat menjadi Ketua Umum PDI yang sah.
Agum punya alasan mengapa waktu itu ia tidak menganggu Munas PDI.
“Saya hanya berusaha menegakkan demokrasi yang digembar-gemborkan waktu itu,
“Tapi sesungguhnya kita terpasung,” ujar Agum.
Menurut Agum, Soeharto tidak suka dengan sikapnya yang membiarkan Mega menjadi Ketua Umum PDI.
“Tapi Cendana tampaknya tidak suka atas sikap perwira yang aneh pada saat itu,” ucap Agum.
Agum dinilai adalah tipe orang yang loyal tapi tidak membabi buta.
Tentu saja tindakan Agum ini menjadi catatan para atasannya.
Beruntung saat itu tindakan Agum masih bisa ditolerir oleh atasanya di ABRI.
Agum dianggap para atasannya masih bisa diajak kembali ke jalan yang benar.
Buktinya tiga bulan kemudian Agum diangkat menjadi Komandan Kopassus ke-13.
Pada 6 Juli 1993, Agum dilantik menjadi Komandan Kopassus menggantikan Brigjen Tarub yang dimutasi menjadi Pangdam Trikora.
Setahun kemudian Agum kembali berulah.
Tepatnya saat Rapat Pimpinan ABRI di tahun 1994.
Rupanya rapat itu membahas mengenai kelompok oposisi pemerintah.
Pemerintah menyusun rencana untuk menyingkirkan Megawati dari panggung politik.
Megawati dianggap semakin populer dan mendapat dukungan kuat dari rakyat.
Apalagi Mega menjalin hubungan mesra dengan Gus Dur, Ketua Umum PBNU.
Sebagai pimpinan Kopassus, Agum diberikan kesempatan berbicara selama 15 menit.
Pada rapim itu Agum membuat pernyataan yang sangat berani.
“Kalau kita menganggap Megawati dan para pendukungnya, musuh.
“Kalau kita menganggap Gus Dur dan pengikutnya, musuh.
“Kalau kita menganggap kelompok petisi 50 sebagai musuh.
“maka sesungguhnya kita kebanyakan musuh.
“Padahal falsafah Cina, seperti yang dilontarkan Panglima Perangnya Sun Tzu, menyatakan bahwa seribu kawan masih kurang, satu musuh sudah kebanyakan,” lugas Agum.
4. Dicopot sebagai Komandan Kopassus
Tentu saja pernyataan Agum ini blunder.
Pimpinan menganggap Agum sudah terlalu jauh keluar jalur dan tidak bisa ditoleransi.
Pada17 September 1994, Agum dicopot dari jabatannya sebagai Komandan Kopassus.
Posisinya digantikan Brigjen Subagyo Hadisiswoyo.
Sementara Agum mendapat sanksi demosi yaitu berupa penurunan jabatan.
Agum dijadikan Kepala Staf Kodam I Bukit Barisan di Medan, Sumatera Utara.
Secara struktural, jabatan Kasdam bukanlah promosi dibanding jabatan Komandan Kopassus.
Agum merasa hukuman itu tidak adil bagi dirinya.
Baginya dibuang ke Medan karena berterus terang mengemukakan pendapat demi kepentingan bangsa, adalah zalim.
Agum tak bisa terima dengan keputusan tersebut.
Ia berteriak sekencang-kencangnya di hari keberangkatannya ke Medan.
“Hey menarilah kalian di pentas sampai rakyat bosan melihat tarian kalian.
“Tapi besok matahari akan terbit!” teriak Agum.
Mendengar suara teriakan suami, Linda, istri Agum, spontan berlari memeluk suaminya yang sedang gusar.
Linda melihat sang suami sangat down atas keputusan yang memindahkannya ke Medan.
Sambil memeluk suami, Linda membisikkan kalimat penyemangat.
“Memang keputusan itu menyakitkan, tapi apakah hidup ini hanya untuk jabatan?
“Kan anak istri masih ada. Mungkin ini jalan terbaik bagi kita yang dipilih Allah.
“Kita harus menghadapi kenyataan ini. Harus kembali kepada Allah,” bisik Linda.
Agum lalu teringat nasehat dari salah satu jenderal senior.
“Agum saya suka sama kau. Kau seorang perwira muda yang punya idealisme.
“tapi jaga dirimu, jangan sampai kau ke luar garis.
“Kalau kita sudah di luar garis, kita tidak punya peluang lagi untuk mengabdi.
“Kita dianggap sebagai di luar sistem,” begitulah isi nasehat dari Jenderal (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo.
Nasehat itu menentramkan hati Agum. Maka berangkatlah Agum tugas ke Medan.
Ya DC Mania, itu tadi kisah Agum Gumelar yang melawan perintah Soeharto.
Semoga kisah ini menambah pengetahuan DC Mania semua.
Akhirul kata, wassalam.