• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ajaran Penyertaan dalam Tindak Pidana Perpajakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Ajaran Penyertaan dalam Tindak Pidana Perpajakan"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

Pandangan pertama yang merupakan perpaduan antara tindak pidana dengan pertanggungjawaban pidana disebut pandangan monistik. Apalagi doktrin adanya keterlibatan tindak pidana di bidang perpajakan diatur secara khusus dalam Pasal 43 UU KUP yang mencakup pihak ketiga selain Wajib Pajak yang terlibat dalam tindak pidana di bidang perpajakan. Uraian mengenai rumusan tindak pidana dari penggolongan tindak pidana yang dilakukan Wajib Pajak akan dijelaskan lebih lanjut pada subbab berikut.

Tindak pidana di bidang perpajakan, yang dilakukan oleh Wajib Pajak karena kelalaiannya, sebagaimana diatur dalam Pasal 38 Undang-Undang Pajak Komersial. Ketentuan pidana di bidang perpajakan yang akan diuraikan pada subbab ini merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh Wajib Pajak dengan adanya unsur kelalaian. Kalimat Pasal 38 UU KUHP di atas mengatur tentang tindak pidana yang dilakukan oleh Wajib Pajak dengan tidak sengaja dan terbatas pada tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan (DPN) atau penyampaian Surat Pemberitahuan yang tidak benar atau tidak lengkap isinya.

Salah satu unsur tindak pidana yang diatur dalam Pasal 38 UU KUP adalah tidak memenuhi kewajiban penyampaian SPT setelah pertama (kedua dan selanjutnya). Kembali lagi pada ketentuan Pasal 38 UU KUP yang memasukkan unsur akibat sebagai bagian dari unsur pokok tindak pidana. Tindak pidana di bidang perpajakan yang dengan sengaja dilakukan oleh Wajib Pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 39 ayat (1) UU.

Sementara itu, PMK-55/PMK.03/2016 tentang tata cara permohonan penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan untuk kepentingan penerimaan negara juga mengatur bahwa Menteri Keuangan harus memperoleh nasihat dan hasil penyidikan dari DJP sebelum mengambil keputusan. apakah permohonan yang diajukan Wajib Pajak untuk menghentikan penyidikan disetujui. Tidak menyelenggarakan pembukuan, catatan, atau dokumen yang menjadi dasar akuntansi atau pencatatan dan dokumen lainnya, termasuk hasil pengolahan data dari suatu akuntansi yang disimpan secara elektronik atau dilakukan dengan menggunakan program aplikasi online di Indonesia, seperti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, ayat (11). ); atau. Berdasarkan petikan ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 39 ayat (1) UU KUP, terdapat beberapa unsur yang terdapat dalam Pasal 39 ayat (1) UU KUP yang sama dengan unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal 38. UU KUP. UU KUP sebagaimana telah dijelaskan pada subbab sebelumnya.

UU KUP mencakup wajib pajak badan atau perusahaan, maka dalam hal ini cakupan unsur orang perseorangan pada Pasal 39 ayat Perbedaan mendasar antara ketentuan hukum pidana yang diatur dalam Pasal 38 dan Pasal 39 ayat 1, UU KUP terletak pada unsur kesalahan. Konsekuensinya adalah apabila pelaku mempunyai pengetahuan perpajakan yang cukup maka hampir dapat dipastikan bahwa tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukannya adalah kesengajaan.

Pada alinea pertama Pasal 39 UU KUP terdapat 9 jenis perbuatan yang dilarang sebagaimana tercantum dalam ketentuan alinea pertama Pasal 39 UU KUP di atas yaitu huruf a sampai dengan i. Pada kesempatan ini, penulis tidak akan membahas secara terpisah jenis-jenis perbuatan yang dilarang berdasarkan ketentuan pidana alinea pertama Pasal 39 UU KUP, karena bersifat studi kasus. Putusan Pengadilan Negeri Surabaya No. 573/Pid.B/2020/PN.SBY yang akan penulis telaah dan bahas pada bab selanjutnya, khusus merujuk pada tindak pidana di bidang perpajakan pada saat penerbitan BPP yang isinya tidak benar atau tidak lengkap.

Selain itu, pada subbab sebelumnya penulis juga telah membahas penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan tindakan penyampaian SPT yang tidak benar atau tidak lengkap kaitannya dengan ketentuan Pasal 38 UU KUP. Oleh karena itu, jika dibandingkan unsur-unsur perbuatan terlarang yang diatur dalam Pasal 38 dan 39 ayat (1) UU KUP, maka jelas yang membedakan kedua hal tersebut hanyalah adanya unsur kesalahan berupa kelalaian. atau niat. Unsur akibat yang diatur dalam Pasal 39 ayat (1) UU KUP sama persis dengan unsur akibat dalam ketentuan Pasal 38 UU KUP.

Secara singkat unsur konsekuensial ini menunjukkan bahwa semangat yang terkandung dalam ketentuan pidana UU KUP Pasal 39 ayat Tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan oleh Wajib Pajak dengan sengaja sebagaimana diatur dalam Pasal 39A UU KUP.

Tindak Pidana di Bidang Perpajakan yang dilakukan oleh Wajib Pajak karena Kesengajaan sebagaimana diatur dalam Pasal 39A UU KUP

Hal ini telah dibahas pada subbab sebelumnya, sehingga uraian mengenai unsur-unsur akibat yang dapat menyebabkan hilangnya pendapatan negara mengacu pada subbab sebelumnya. Penerbitan dan/atau penggunaan faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti penyetoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi sebenarnya; atau Ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 39.A UU KUP mengandung unsur kesengajaan yang sama dengan ketentuan alinea pertama Pasal 39 UU KUP.

Yang membedakan hanyalah pada unsur perbuatan yang dilarang dimana ketentuan Pasal 39A UU KUP menitikberatkan pada perbuatan pemungutan dan pemotongan pajak yang tidak berdasarkan transaksi sebenarnya. Pemungutan dan pemotongan pajak tidak dijelaskan secara tegas dalam Undang-Undang KUP, namun secara sederhana dapat diartikan bahwa pemotongan adalah tindakan memotong atau memungut sebagian dari sejumlah pembayaran tertentu yang dilakukan oleh pihak pembayar (yang merupakan penghasilan bagi penerimanya). ) untuk disetorkan ke kas negara sebagai pajak. Dengan demikian, pembayar atau pihak yang memotong atau memungut bertanggung jawab atas tindakan pemotongan dan pemungutan, termasuk pembayaran pajak atas jumlah yang dipotong atau dipungut.

Berdasarkan ketentuan Pasak 39A UU KUP, perbuatan pemotongan dan pemungutan pajak yang dilarang adalah perbuatan pemotongan dan pemungutan yang tidak didasarkan pada transaksi yang sebenarnya atau disebut dengan transaksi fiktif. Selain itu, hal yang membedakan ketentuan Pasal 39A UU KUP dengan Pasal 39 ayat (1) dan Pasal 38 UU KUP di atas adalah tidak adanya unsur akibat yang dapat merugikan pendapatan negara, sebagaimana diatur dalam Pasal 39A UU KUP. dalam ketentuan pasal 39A UU KUP. Dengan demikian, delik yang diatur dalam Pasal 39A UU KUP menunjukkan tergolong delik formil yang tidak menitikberatkan pada akibat yang ditimbulkan dari perbuatan yang dilarang, melainkan menitikberatkan pada penyelesaian perbuatan yang dilarang, yaitu mengeluarkan bukti pemotongan atau penagihan. yang tidak didasarkan pada transaksi atau transaksi yang sebenarnya.

Tindak Pidana Penyertaan di Bidang Perpajakan sebagaimana diatur dalam Pasal 43 ayat (1) UU KUP

Bentuk-bentuk partisipasi yang diatur dalam KUHP erat kaitannya dengan pembagian pihak-pihak yang melakukan tindak pidana secara bersama-sama atau lebih dari satu orang ke dalam beberapa klasifikasi kelompok partisipasi. Lebih lanjut, pihak-pihak yang tergolong pencipta (co-perpetrator) tidak sama dengan pencipta atau pelaku (pelaku) yang dimaksud dalam unsur orang atau benda (hij die) yang terdapat dalam rumusan tindak pidana. Sebagai contoh tindak pidana di bidang perpajakan yang diatur dalam pasal 38 dan 39 par. 1 UU KUP adalah penyampaian SPT yang isinya tidak benar atau tidak lengkap.

Sebaliknya pihak yang memerintahkan adalah pihak yang benar-benar melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dan dapat dipidana berdasarkan ketentuan Pasal 38 atau Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang KUP terkait. dengan pasal 43 ayat (1) UU KUP. c) Mereka yang ikut serta dalam komisi (medeplegen). Jadi, penetapan penggolongan bentuk-bentuk keterlibatan kaki tangan dalam tindak pidana di bidang perpajakan mengacu pada ketentuan umum yang diatur dalam konsep KUHP, yang telah diuraikan di atas dengan mengacu pada beberapa pendapat. Bagi pihak-pihak yang melakukan atau sedang melakukan tindak pidana memenuhi kriteria penyanderaan, sedangkan pihak-pihak yang hanya melakukan sebagian dari tindak pidana tersebut adalah penyelundup.108.

Bentuk penyelenggaraan penyertaan (uitlokking) ini secara ringkas mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bentuk penyertaan dengan perintah melakukan (doen plegen), iaitu terdapat lebih dari satu pihak lain dalam penciptaan suatu kesalahan jenayah yang berkedudukan sebagai parti penganjur dan parti tersusun . Ada pihak lain yang mampu mencipta kesalahan jenayah mengikut apa yang dianjurkan oleh pihak penganjur. Jadi, tidak cukup sekadar sekadar mempamerkan wasiat pihak yang dianjurkan, tetapi perlu ada kesedaran atau cubaan untuk melakukan kesalahan jenayah.

Contoh penggunaan konsep bentuk partisipasi uitlokking tersebut di atas dalam tindak pidana di bidang perpajakan (termasuk penyampaian DPP yang tidak benar atau tidak lengkap) adalah sebagai berikut: konsultan pajak. Dalam hal ini penyelesaian tindak pidana tersebut dilakukan oleh pihak lain yang menerima bantuan dan juga merupakan pelaku (pleger). Dalam bentuk partisipasi, partisipasi memerlukan kerjasama yang disengaja antara setiap peserta untuk melakukan kejahatan.

Selain kerjasama yang disengaja, ikut serta juga mengandung hubungan yang sangat erat antara perbuatan para pesertanya untuk menyelesaikan suatu tindak pidana. Sebaliknya perbuatan yang dilakukan para kaki tangan hanya bersifat memfasilitasi atau peranannya tidak mampu menyelesaikan terjadinya suatu tindak pidana. Contoh penerapan konsep medepitchge dalam UU KUP Pasal 43 ayat jumlah pajak yang terutang dengan tidak melaporkan omzet yang sebenarnya.

Dalam hal ini penulis berpendapat bahwa tindakan yang dilakukan oleh konsultan pajak tersebut termasuk dalam bentuk bantuan yang memudahkan dan mempercepat terjadinya tindak pidana yang direncanakan, dikehendaki dan dikehendaki oleh Wajib Pajak sendiri yaitu penyampaian SPT yang tidak benar.

Sistem Pembebanan Tanggung Jawab pada Penyertaan

Dalam hal ini berat atau ringannya pertanggungjawaban pidana juga akan tergantung pada penilaian kontribusi perbuatan yang dilakukan masing-masing peserta dalam pelaksanaan tindak pidana. Berkenaan dengan sistem pertanggungjawaban pidana tersebut di atas, KUHP menganut sistem campuran, dimana menyangkut bentuk-bentuk partisipasi yang dianggap sama dan dibebani tanggung jawab pidana yang sama dengan satu pelaku (dader), sebagaimana diatur dalam Pasal 55. Kode kriminal. Selain itu, KUHP menganut sistem pertanggungjawaban pidana yang lain, yaitu pembedaan antara pemberi bantuan (sebagai bentuk kerja sama) dan pelaku atau pelaku kejahatan secara materiil, sebagaimana diatur dalam Pasal 56 dan 57. dari KUHP.

Jika dicermati ketentuan alinea pertama Pasal 43 UU KUHP nampaknya hanya menggunakan sistem pertama yaitu tidak ada perbedaan pertanggungjawaban pidana peserta yang terlibat secara bersama-sama. dalam suatu tindakan kriminal. bekerja di bidang perpajakan, baik sebagai klien, pelaksana, peserta dan obligee, pengusul atau pendamping dalam tindak pidana di bidang perpajakan. Penulis berpendapat, alinea pertama Pasal 43 hanya mengatur tentang perluasan pihak-pihak yang dapat dipidana karena melakukan tindak pidana perpajakan secara bersama-sama.

Referensi

Dokumen terkait

Dari uraian diatas, fokus penelitian yang penulis maksud adalah untuk meneliti pertanggungjawaban pidana seseorang yang melakukan tindakan penyertaan serta membandingkan

Subjek hukum yang terlibat dalam tindak pidana tidak hanya satu orang saja melainkan sudah dilakukan secara bersama-sama atau lebih dari satu orang, ada yang melakukan tindak

S351308003, SANKSI PIDANA TERHADAP NOTARIS YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA TURUT SERTA MENYURUH MENEMPATKAN KETERANGAN PALSU KEDALAM AKTA OTENTIK (Analisis Putusan

sependapat dari putusan Hakim Tingkat Pertama yang menyatakan bersalah melakukan tindak pidana, “Dengan Sengaja Yang Melakukan, Menyuruh Melakukan dan Turut Serta

Artinya berdasarkan pasal tersebut Undang- Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dapat juga digunakan untuk mengadili tindak pidana lain seperti tindak

Artinya berdasarkan pasal tersebut Undang- Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dapat juga digunakan untuk mengadili tindak pidana lain seperti tindak

a) Apabila orang yang disuruh melakukan suatu tindak pidana itu adalah seseorang yang ontoerekeningsvatbaar seperti yang tercantum dalam Pasal 44 KUHP. b) Apabila orang yang

Nara pidana merupakan seseorang yang telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana kejahatan berdasarkan putusan pengadilan bersifat tetap.3 Amanat Undang-undang Dasar Negara Republik