• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKA Ortho 1 Faris sdfsdasdasdasdasdasd

N/A
N/A
Pascol

Academic year: 2023

Membagikan "AKA Ortho 1 Faris sdfsdasdasdasdasdasd"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

KARTU STATUS ORTODONSIA

No. Kartu : 04.06.71

Nama Operator : Felix Xavier Anugerah

NIM : 2331111310063

Instruktur : drg. Melisa Budipramana, Sp.Ort., M.Imun

I. ANAMNESA

1. Nama Pasien : Muhammad Faris Azzaky 2. Jenis Kelamin : Laki-laki

3. Pekerjaan : Pelajar

4. Tempat, Tanggal Lahir/Umur : Banjarmasin, 05 Mei 2010/13 Tahun

5. Alamat Pasien, No Hp : Jalan Pengambangan no. 56, 087886545230 6. Nama Orang Tua : Muhammad Hafi

7. Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta 8. Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia

9. Alamat Orang Tua, No Hp : Jalan Pengambangan no. 56, 087886545230 10. Keluhan Utama Pasien : Pasien mengeluhkan giginya kurang rapi dan ingin

dirawat

11. Riwayat Kesehatan Gigi : Pernah periksa ke dokter gigi Macam perawatan gigi: scaling 12. Riwayat Kesehatan Umum

a. TB/BB : 165 cm / 76 kg

b. Trauma : Tidak Ada

c. Operasi : Tidak Ada

d. Alergi : Tidak Ada

e. Penyakit yang pernah diderita: Tidak Ada f. Kelainan endokrin : Tidak Ada g. Kelainan saluran pernapasan : Tidak Ada

(2)

h. Ciri keluarga : Normal

II. PEMERIKSAAN KLINIS A. EXTRA ORAL

1. Tipe Profil Muka : cekung / lurus / cembung

2. Tipe Muka : sempit / ovoid / lebar * (indeks: 86,2)

3. Tipe Kepala : dolikhosefali / mesosefali/ brakhisefali * (indeks:

78,4)

4. Bentuk Muka / Kepala : simetris / asimetris

5. Bibir : kompeten / tidak kompeten

6. Fonetik : normal / tidak normal

7. Kebiasaan buruk : ada / tidak ada

B. INTRA ORAL

1. Mukosa Mulut : Normal / Tidak normal

2. Lidah : Normal / Tidak normal

3. Palatum : Normal / Tidak normal

4. Tonsil : Normal / Tidak normal

5. Frenulum Labialis : Normal / Tidak normal

6. OHI : Buruk / Sedang / Baik

7. Fase gigi – geligi : Sulung / Bercampur / Tetap

C. ANALISA FUNGSIONAL

1. Freeway Space : 2,3 mm

2. Path of Closure : Normal / Tidak normal

3. TMJ : Normal / Tidak normal

4. Pola Atrisi : Normal / Tidak normal

(3)

D. PEMERIKSAAN GIGI GELIGI

Keterangan : O :Karies gigi  : Hipokalsifikasi  : Belum Erupsi

 : Tumpatan  : PerubahanWarna P : Persistensi

X :Pencabutan * : Fraktur V : Radiks

Keterangan Rontgenogram :

Impaksi : 37,47

Ageneses : -

Gigi kelebihan : -

Benih gigi :18,28,38,48

Lain – lain : -

III. ANALISA STUDY MODEL

1. Bentuk lengkung gigi : RA : Parabola RB : Parabola 2. Garis median : RA : Sesuai

RB : Tidak sesuai 3. Diastema : Tidak ada

4. Kurva Spee : kanan 1,2 mm kiri 1,5 mm

5. Jumlah lebar 4 incisiv RA : Normal / tidak normal * (indeks : 32) 6. Malposisi gigi individual :

Gigi RA : Mesiopalatoversi gigi 11,16,23; Mesiolabioversi gigi 22

Gigi RB : Mesiolinguoversi gigi 42; Mesiolabioversi gigi 35, Rotasi gigi 33,43 7. Kelainan kelompok gigi : Letak berdesakan : anterior / posterior RA / RB

(4)

Supra/infra posisi : anterior / posterior RA / RB Protrusi/retrusi : RA / RB

8. Relasi gigi RA-RB dalam oklusi sentrik :

Tumpang gigit : 3 mm (normal / bertambah / berkurang) Jarak gigit : 4 mm (normal / bertambah / berkurang) Relasi sagittal :

 kaninus kanan: neutroklusi / gigitan tonjol / mesioklusi / distoklusi / tidak ada relasi

 kaninus kiri : neutroklusi / gigitan tonjol / mesioklusi / distoklusi / tidak ada relasi

 molar kanan : neutroklusi / gigitan tonjol / mesioklusi / distoklusi / tidak ada relasi

 molar kiri : neutroklusi / gigitan tonjol / mesioklusi / distoklusi / tidak ada relasi

Relasi vertikal : normal / open bite / deep bite, regio …

Relasi transversal : normal / gigitan tonjol / gigitan fisura dalam RA, regio …

9. Pada model (model discrepansy):

Perhitungan ukuran gigi Rahang Atas

Regio 1 N Ukuran yg normal (Rahardjo, 2009)

Regio 2 N

11 = 8,4 mm 12 = 7,2 mm 13 = 7,5 mm 14 = 7,6 mm 15 = 7,5 mm 16 = 10 mm

N N N N N N

Insisiv sentral = 8-10 mm insisiv lateral = 6-8 mm caninus = 7 mm

premolar pertama = 7 mm premolar kedua =7 mm molar pertama = 10 mm

21 = 8,5 mm 22 = 7,7 mm 23 = 7,2 mm 24 = 7,6 mm 25 = 7,1 mm 26 = 9,7 mm

N N N N N N

Total: 48,2 mm Total: 47,8 mm

(5)

Rahang Bawah

Regio 3 N Ukuran yg normal (Rahardjo, 2009)

Regio 4 N

31 = 5,5 mm 32 = 5,8 mm 33 = 7,5 mm 34 = 7,4 mm 35 = 7,5 mm 36 = 11,9 mm

N N N N N N

Insisiv sentral = 5 mm insisiv lateral = 5 mm caninus = 6 mm

premolar pertama = 6 mm premolar kedua = 6 mm molar pertama = 10 mm

41 = 5,7 mm 42 = 6 mm 43 = 7,6 mm 44 = 7,4 mm 45 = 7,2 mm 46 = 11,7 mm

N N N N N N

Total: 45,6 mm Total: 45,6 mm

Regio 1 Regio 2

Rahang atas

Ruang yang tersedia regio 1 = 39,5 mm Ruang yang dibutuhkan regio 1 = 41,8 mm

Diskrepansi regio 1 = -2,3 mm

Regio kanan kekurangan ruang sebesar 2,3 mm

Ruang yang tersedia regio 2 = 41 mm Ruang yang dibutuhkan regio 2 = 40,9 mm

Diskrepansi regio 2 = -0,1 mm

Regio kiri kekurangan ruang sebesar 0,1 mm Rahang atas kekurangan ruang sebesar 2,4 mm

(6)

Regio 3 Regio 4

Rahang bawah

Ruang yang tersedia regio 3 = 34,8 mm Ruang yang dibutuhkan regio 3 = 37,3 mm Diskrepansi regio 3 = -2,5 mm R

egio kiri kekurangan ruan g sebesar 2,5 mm

Ruang yang tersedia regio 4 = 35,2 mm Ruang yang dibutuhkan regio 4 = 37,1 mm Diskrepansi regio 4 = -1,9 mm R

egio kanan kekurangan ruang sebesar 1,9 mm (Rahang bawah kekurangan ruang 4,4 mm)

10. Analisis Lengkung Rahang dan Gigi a. Metode Pont

Jumlah lebar 4 insisif RA = 31,8 mm Indeks Pont = jarak P1-P1 = Σ I x100

80

= 31,8x100

80 = 39,75 mm

Dari hasil pengukuran didapatkan lebar = 39,75 mm, pada pasien jarak P1-P1=

37,9 mm maka dapat diambil kesimpulan bahwa lengkung gigi rahang atas mengalami kontraksi sebanyak 1,85 mm di daerah premolar.

Jumlah lebar 4 insisif RA = 31,8 mm Indeks Pont = jarak M1-M1 = = Σ I x100

64 = 31,8x100

64 = 49,69 mm

Dari hasil pengukuran didapatkan lebar 49,69 mm, pada pasien jarak M1-M1= 54,3 mm maka dapat diambil kesimpulan bahwa lengkung gigi rahang atas mengalami distraksi sebanyak 4,61 mm di daerah molar.

(7)

b. Metode Howes

Bila gigi berada dalam lengkung yang ideal, lebar inter P1-P1 atas minimal 44%

dari jumlah mesiodistal gigi M1-M1 atas.

1. Mengukur (measured)

a. Jumlah gigi-gigi (TTM/Tooth-Tooth Material)

Jumlah mesiodistal M1 kiri – M1 kanan = 96 mm b. Dimensi Premolar (PMD)

Jarak antar puncak cups bukal P1 kiri – P1 kanan = 46,6 mm c. Premolar Basalis Arch Width (PMBAW)

Diameter basis apikal pada apek P1 kiri – P1 kanan = 47,3 mm 2. Menghitung (Calculated)

PMD

TTM X100 %=46,6

96 X100 %=48,54 % PMBAW

TTM X100 %=47,3

96 X100 %=49,27 % 3. Interpretasi

Karena indeks premolar sebesar 48,54%, dimana indeks premolar sekurang- kurangnya 43%, maka lengkung gigi dapat menampung gigi dalam lengkung ideal dan stabil. Karena indeks fossa canina sebesar 49,27%, dimana indeks fossa canina sekurang-kurangnya 44%, maka lengkung basal dapat menampung gigi dalam lengkung ideal dan stabil. Karena indeks fossa canina > indeks premolar, maka dapat diambil kesimpulan bahwa merupakan indikasi ekspansi.

a. Indeks fossa canina <37% = lengkung basalis kurang, indikasi ekstraksi b. Indeks fossa canina 37% - 44% = ragu-ragu, indikasi ekstraksi/ekspansi c. Indeks fossa canina > Indeks Premolar = indikasi ekspansi

c. Metode Bolton

Untuk mengetahui seberapa besar diskrepansi pada rahang atas dan rahang bawah, maka digunakan metode rasio keseluruhan Bolton.

Jumlah md gigi M1−M1mandibula

jumlahmd gigi M1−M1maksila x100 %=91,3 % 91,2

96 x100 %=95 % > 91,3 %

(8)

Berdasarkan perhitungan diketahui bahwa nilai risiko keseluruhan Bolton > 91,3%

yang berarti terjadi diskrepansi pada RB

Untuk mengetahui seberapa besar diskrepansi pada rahang atas dan rahang bawah, maka digunakan metode rasio anterior Bolton.

Jumlah md gigi CC mandibula

jumlahmd gigi CC maksila x100 %=77,2%

38,1

46,5x100 %=78,84 %>77,2 %

Berdasarkan perhitungan diketahui bahwa nilai rasio anterior Bolton > 77,2% yang berarti terjadi diskrepansi pada RB

I. DIAGNOSIS

Maloklusi klas 1 Angle disertai mesiopalatoversi gigi 11,16,23; mesiolabioversi gigi 22,35;mesiolinguoversi gigi 42; dan rotasi gigi 33,34.

II. ANALISIS ETIOLOGI MALOKLUSI

Faktor keturunan : -

Karies gigi sulung : -

Tanggal prematur : √

Persistensi : -

Kesalahan letak benih gigi : √ Sebab-sebab yang tidak diketahui : -

VI. MACAM PERAWATAN Tanpa pencabutan : √ Pencabutan gigi : -

Tabel Bolton RA 95 = 86,7

RB pasien = 91,2

Diskrepansi -> 91,2 – 86,7 = 4,5 mm

Tabel Bolton RA 46,5 = 35,9

RB pasien = 38,1

Diskrepansi -> 38,1 – 35,9 = 2,2 mm

(9)

VII. RENCANA PERAWATAN

1. Tahap I : Persiapan Rongga Mulut

Rongga mulut harus dalam keadaan sehat dan bersih, sehingga dilakukan:

Pemberian Dental Health Education untuk meningkatkan derajat kebersihan rongga mulut.

2. Tahap II : Pencarian Ruang a. Rahang Atas

Rahang atas kekurangan ruang sebanyak 2,4 mm sehingga perlu dilakukan pencarian ruang

b. Rahang Bawah

Rahang bawah kekurangan ruang sebanyak 4,4 mm sehingga perlu dilakukan pencarian ruang

3. Tahap III : Koreksi Malposisi Individual a. Rahang Atas

 Gigi 11 dan 23 dikoreksi menggunakan finger spring (0,6 mm) yang diaktifkan untuk memprotraksi mesial gigi 11 dan 23 kearah labial, gigi 22 dikoreksi menggunakan finger spring (0,6 mm) yang diaktifkan untuk memprotraksi distal gigi 22 kearah labial.

 Komponen retentif pada rahang atas berupa pemberian klamer adams pada gigi 16, 26 (0,7 mm) dan pemberian labial bow tipe medium (0,7 mm).

b. Rahang Bawah

 Gigi 33,35, dan 43 dikoreksi menggunakan finger spring (0,6 mm) yang diaktifkan untuk memprotaksi distal gigi 33 dan 43 ke arah labial, gigi 42 dikoreksi menggunakan finger spring (0,6 mm) yang diaktifkan untuk memprotraksi mesial gigi 42 kearah labial.

 Komponen retentif pada rahang bawah berupa klamer adams (0,7 mm) pada gigi 36, 46 dan pemberian labial bow tipe medium (0,7 mm).

4. Tahap IV : Retainer

Setelah perawatan dengan plat aktif selesai, dilakukan pemasangan retainer jenis Hawley untuk mencegah relaps.

(10)

VIII. DESAIN ALAT Rahang atas Rahang bawah

Keterangan:

1= plat akrilik

2= klamer adam (0,7mm) 3= busur labial (0,7mm) 4= Finger spring (0,6mm) Foto Ekstraoral dan Intraoral

Referensi

Dokumen terkait

Artikel ini memaparkan hasil perawatan menggunakan alat cekat teknik Begg pada kasus maloklusi Angle klas I disertai dengan spacing anterior rahang atas dan pencabutan satu

Cucu &amp; Inggrid, (2011) melakukan Analisa tekstur untuk membedakan kista dan tumor pada citra panoramik rahang gigi manusia menggunakan metode GLCM (Gray Level Cooccurence

Eksperimen dilakukan dengan menggunakan sejumlah 190 data numerik dalam satuan millimeter hasil pengukuran yang dilakukan terhadap gambar model cetakan gigi rahang atas