PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Bagaimana aktivitas sosial keagamaan masyarakat etnis Lintang di Kabupaten Empat Lawang Sumatera Selatan sejak awal kemerdekaan hingga masa agresi Belanda 1945-1950. Apa yang menjadi faktor kelangsungan aktivitas sosial keagamaan masyarakat etnis Lintang di Kabupaten Empat Lawang Sumatera Selatan dari masa awal kemerdekaan hingga masa agresi Belanda tahun 1945-1950.
Batasan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Untuk menambah literatur khususnya dalam bidang Sejarah Peradaban Islam khususnya yang berkaitan dengan aktivitas sosial keagamaan masyarakat suku Lintang di Kabupaten Empat Lawang pada masa awal kemerdekaan hingga masa Agresi Belanda tahun 1945-1950. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan dalam kajian aktivitas sosial keagamaan masyarakat suku Lintang di Kabupaten Empat Lawang sejak awal kemerdekaan hingga Agresi Belanda tahun 1945-1950.
Kajian Pustaka
10 Eri Syahriar, “Kehidupan Sosial Keagamaan Masyarakat Industri Desa Klepu Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang, 2014” (Skripsi Mahasiswa Pendidikan Agama Islam IAIN SALATIGA, 2015) hal. 19. Permasalahan yang timbul dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat industri Desa Klepu RW 2 meliputi waktu atau kesempatan untuk mengikuti kegiatan, status sosial ekonomi warga, kinerja pengelolaan dan juga status kependudukan warga. masyarakat.
Landasan Teori
Pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan di bidang pendidikan bagi kaum bangsawan di Indonesia berupa pendirian lembaga sekolah yaitu European Lower School (ELS), Hogere Burger School (HBS), Hollands Inlandse School (HIS), Opleidingen School for Pegawai Negeri Sipil Asli (OSVIA).20. 20 Erwin Siregar Kebijakan pemerintah Hindia Belanda tentang pendidikan kaum bangsawan di Indonesia Vol.3 no.1 edisi November 2016 halaman 26.
Metode Penelitian
- Sistematika Penelitian
Pendekatan sosiologi yang bertujuan untuk mengetahui aktivitas masyarakat suku Lintang di Kabupaten Empat Lawang, baik dari segi hubungan timbal balik antar masyarakat dalam hal sosialisasi. Heuristik merupakan tahapan pengumpulan informasi atau keterampilan dalam mencari sumber yang dikumpulkan sesuai dengan sejarah yang akan ditulis.23. Data primer diperoleh dari merangkap pelaku peristiwa atau pelaku yang terlihat pada saat itu, untuk memperoleh data yang akurat dan terpercaya yaitu informan dari tokoh masyarakat, kiai, veteran, tokoh adat atau masyarakat seperti informan Izhar Buyung, Kiai Abdul Rohman, Pak Ujang Sari, Ibu Sayanah dan Pertes melakukan wawancara langsung dengan informan yang mengetahui aktivitas sosial keagamaan masyarakat suku Lintang di Kabupaten Empat Lawang sejak awal kemerdekaan hingga Agresi Belanda tahun 1945-1950.
Sumber sekunder atau sumber sekunder atau non sumber adalah tulisan yang berdasarkan pada sumber pertama. 25 Data sekunder adalah penelitian yang menunjang data dengan cara mengumpulkan sumber-sumber yang berkaitan dengan objek penelitian. Kegiatan sosial keagamaan masyarakat suku Lintang di Kabupaten Empat Lawang sejak awal kemerdekaan hingga Agresi Belanda tahun 1945-1950. . Empat Lawang dari awal kemerdekaan hingga masa Agresi Belanda tahun 1945-1950, berdasarkan penelitian awal yang dilakukan beberapa bulan yang lalu, peneliti memperkirakan kegiatan penelitian akan memakan waktu 1 bulan atau lebih. Setelah mengumpulkan sumber-sumber sejarah dan berbagai kategori, sumber-sumber tersebut dikritisi keabsahannya.
Dalam kritik sumber ini penulis mencoba menguji keaslian dan keabsahan sumber yang penulis gunakan dengan cara melihat latar belakang kitab, penulis dan informan yang digunakan, memilah dan memilih sumber yang diperlukan dan membandingkan sumber yang satu dengan sumber yang lain, sehingga diperoleh data yang akurat dan bertanggung jawab. Fase ini merupakan upaya yang dilakukan peneliti untuk meninjau kembali sumber-sumber yang diperoleh.27. Dengan demikian peneliti dapat memberikan interpretasi terhadap sumber-sumber yang diperoleh mengenai aktivitas sosial keagamaan masyarakat suku Lintang di Kabupaten Empat Lawang sejak awal kemerdekaan hingga agresi Belanda pada tahun 1945-1950.
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Sejarah Kabupaten Empat Lawang
Sekitar tahun 1825 pemerintah Hindia Belanda membentuk pemerintahan setingkat keresidenan di Palembang dengan ibukotanya Palembang di bawah pimpinan seorang residen. Dimana Tebing Tinggi onder afdelling meliputi beberapa onder afdelling yang terdiri dari, onder afdelling moest oeloe, onder afdelling Empat Lawang, onder afdelling Rejang, onder afdelling Lebong dari keempat afdelling tersebut, yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Empat Lawang hanyalah Empatder Lawang. 33. Empat Lawang dulu sering disebut kawasan Lintang Empat Lawang. Menurut legenda, nama Kabupaten Empat Lawang berasal dari kata Empat Lawangan yang dalam bahasa setempat berarti “Empat Pejuang (Pahlawan)”. Sebab, pada zaman dahulu ada empat orang tokoh yang pernah memimpin daerah ini.
Pada masa penjajahan Hindia Belanda (di sekitar Tebing Tinggi berperan penting sebagai wilayah administrasi (Subdivisi) dan lalu lintas ekonomi karena letaknya yang sangat strategis.34 Tebing Tinggi pernah diusulkan sebagai ibu kota pemukiman ketika Belanda berencana untuk membangunnya. menaklukkan Keresidenan Sumatera Selatan (Sumatera Selatan) pada tahun 1870 yang meliputi Lampug, Jambi dan Palembang.Tebing Tinggi dianggap strategis untuk menangkal ancaman pemberontakan di daerah sekitarnya seperti Pagar Alam, Pasemah dan daerah lain yang berbatasan dengan Bengkulu. batal karena Belanda baru mendirikan satu karesidenan yaitu di Sumatera.Pada saat itu Karesidenan Palembang terbagi menjadi sembilan kelurahan, yaitu: Melalui proses yang cukup panjang dari seluruh elemen masyarakat Lintang Empat Lawang, usulan pemekaran dari Empat Kabupaten Lawang diserahkan kepada Menteri Dalam Negeri dan DPR RI di Jakarta melalui Komisi II.
Rapat Paripurna DPR RI tanggal 8 Desember 2006 memberikan persetujuan terbentuknya Kabupaten Empat Lawang melalui Undang-undang RI Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Empat Lawang di Provinsi Sumatera Selatan dengan luas wilayah terdiri dari Kecamatan Muara Pinang, Kecamatan Lintang Kanan, Kecamatan Pendopo, Ulu Musi, Kecamatan Pasemah Air Muruh, Kecamatan Tebing Tinggi dan Kecamatan Talang Padang.
Sarana Prasarana dan Organisasi Sosial
Namun dalam praktiknya, masyarakat selalu menyediakan tempat salat sendiri, khususnya salat berjamaah.36 Berikut jumlah masjid di Kabupaten Empat Lawang. Namun menurut LWC Van den Berg, langgar berasal dari bahasa Melayu. Pendidikan agama islam di langgar bersifat dasar, dimulai dengan belajar huruf arab (hijaiyah) atau kadang langsung mengikuti guru dengan meniru apa yang telah dibaca dari kitab suci al - quran. pembelajaran awal adalah mempelajari huruf - huruf al quran atau hijaiyah . Sedangkan musala adalah suatu ruangan, tempat atau rumah kecil yang mirip dengan masjid, yang digunakan sebagai tempat salat dan pembacaan Al-Qur'an bagi umat Islam.39 Mushola juga sering disebut surau atau langgar di beberapa tempat. daerah.
Sedangkan Organisasi Kemasyarakatan adalah organisasi yang dibentuk oleh anggota masyarakat, Organisasi Kemasyarakatan adalah perkumpulan kemasyarakatan yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan berdiri sebagai makhluk yang selalu hidup. bersama-sama, orang-orang membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri. Berikut jumlah Ormas yang ada di Kabupaten Empat Lawang.
Kondisi Sosial Kebudayaan Kabupaten Empat Lawang
Perkebunan andalan Kabupaten Empat Lawang adalah kopi yang produksinya mencapai 26.005 ton. 41 Sedangkan karet merupakan andalan Kabupaten Empat Lawang yang produksi karetnya mencapai 8.284 ton. Selain itu, komoditas candlestick juga memberikan kontribusi yang cukup besar yakni sebanyak 1.472 ton. 43Raka Efriansyah, “Tradisi Nyeraka Agok di Desa Tanjung Makmur Kabupaten Empat Lawang” (Skripsi Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, 2019), hal. 40. 44Raka Efriansyah, “Tradisi Nyeraka Agok di Desa Tanjung Makmur Kabupaten Empat Lawang” (Skripsi Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, 2019), hal.24.
45Raka Efriansyah, “Tradisi Nyeraka Agok di Desa Tanjung Makmur Kabupaten Empat Lawang” (Skripsi Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, 2019), hal. 26. Kuntau adalah ilmu bela diri yang digunakan oleh masyarakat Empat Lawang sebagai bagian dari budaya Empat Lawangnya, karena pada masa lalu ilmu bela diri Kuntau merupakan sarana untuk mempererat tali persaudaraan, pertahanan dan perlindungan dari serangan musuh. Untuk sistem pengetahuan di Kecamatan Empat Lawang, pada masa penjajahan, masyarakat Kecamatan Empat Lawang memanfaatkan pengetahuan tentang flora dan fauna, seperti pengetahuan tentang daun dan akar tumbuhan yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan, seperti obat, seperti daun belanda digunakan untuk menyembuhkan luka.
47Raka Efriansyah, “Tradisi Nyeraka Agok di Desa Tanjung Makmur Kabupaten Empat Lawang”, (Skripsi Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang, 2019), hal. 35. Dalam bahasa Empat Lawang : Tata krama juga kita perhatikan, mencerminkan kedudukan orang yang kita ajak bicara. Penduduk Empat Lawang sebagian besar adalah 55% Lintang atau Orang Lintang dan berdomisili di Kecamatan Muara Pinang, Kecamatan Lintang Kanan, Kecamatan Pendopo, Kecamatan Pendopo Barat, Kecamatan Ulu Musi dan Pasang Dalam. Sedangkan suku Pasemah 19% tinggal di Pasemah Air Keruh, 12% suku Saling tinggal di Saling, 5% suku Kikim Tebing tinggal di Tebing Tinggi, disusul 9% suku minoritas seperti Jawa dan Sunda.49.
Sejarah Suku Lintang
Kegiatan sosial masyarakat suku Lintang yang paling utama adalah tradisi (Gotong Royong) dalam berbagai jenis bakti sosial dan kegiatan gotong royong dalam menjalankan adat atau merayakan hari besar keagamaan. Kegiatan gotong royong yang dilakukan masyarakat suku Lintang masih dilestarikan hingga saat ini. Karena Masjid At-Taqwa merupakan masjid tertua di Lintang yang berdiri sejak tahun 1929 dan terletak di kawasan Muara Pinang, maka dalam kegiatan sosial keagamaan masyarakat suku Lintang juga belajar ilmu agama.Masyarakat belajar ilmu agama bersama Kiai.
Kemudian kegiatan sosial keagamaan masyarakat Suku Lintang mempunyai kebiasaan atau tradisi yaitu apabila ada yang meninggal maka dilakukan kegiatan Yasinan Tahlil. Yasinan adalah acara pembacaan surah Yaasin yang biasa dipadukan dengan tahlilan di kalangan masyarakat itu sendiri, sedangkan Tahlilan berasal dari bahasa Arab Tahlil yang berarti mengucapkan kalimat Tahlil (laa ilaaha illahhaah). Hal ini menumbuhkan sifat kekeluargaan/gotong royong antar anggota suku Lintang, hingga saat ini kebiasaan atau rutinitas kegiatan keagamaan tersebut terus dilakukan oleh suku Lintang. Sebab perayaan hari raya keagamaan ini merupakan agenda tahunan yang lazim dilakukan oleh masyarakat suku Lintang.
Selain motivasi yang mendukung masyarakat dalam melakukan kegiatan sosial keagamaan, masyarakat suku Lintang juga mempunyai semangat yang tinggi, dan masyarakat suku Lintang sangat antusias mengikuti kegiatan sosial keagamaan untuk selalu belajar dan melaksanakan kegiatan sosial keagamaan bersama masyarakat. bertujuan untuk menambah ilmu agama dan juga menumbuhkan rasa gotong royong antar sesama. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi penulis di lapangan, masyarakat setempat sangat membutuhkan sarana dan prasarana masyarakat suku Lintang untuk melaksanakan kegiatan sosial keagamaan agar dapat melaksanakan kegiatan sosial keagamaan seperti Masjid At-taqwa, Langgar Al-Hidayah dan Mushollah atau surau Fathurrahman dan sekolah madrasah Nurul Hidayah Qura'ni, dengan sarana dan prasarana tersebut masyarakat suku Lintang dapat melakukan kegiatan sosial dan keagamaan.63. Untuk melaksanakan kegiatan sosial keagamaan pada masyarakat suku Lintang ada yang memimpin atau memimpin kegiatan yang hendak dilaksanakan oleh masyarakat, yaitu para kiai yang memilikinya.
Kegiatan sosial keagamaan yang dilakukan masyarakat suku Lintang pada awal kemerdekaan hingga masa agresi Belanda, masyarakat suku Lintang melakukan berbagai kegiatan sosial keagamaan, seperti kegiatan sosial yang paling menonjol yang dilakukan masyarakat suku Lintang adalah kegiatan sosial keagamaan. tradisi kerjasama yang saling menguntungkan. Terbukti dengan adanya berbagai faktor sarana dan prasarana pendukung seperti keberadaan masjid, Langgar (mushollah) masyarakat Suku Lintang dapat melakukan aktivitas sosial dan keagamaan. Masyarakat Suku Lintang juga sangat antusias mengikuti kegiatan sosial keagamaan untuk selalu belajar dan melakukan kegiatan sosial keagamaan dengan tujuan untuk meningkatkan ilmu agamanya.