• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Akustika Bangunan.pdf

N/A
N/A
502 030@Michael Andre Cavell Lundjo

Academic year: 2023

Membagikan "Buku Akustika Bangunan.pdf"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

Christina i t/ediasril<a, Ph D

Prinsip-prinsip c:n Penerapannya di ind0nesia

\,1 k,l

,.$

F''" '

I

t.

,itt'

'i"

I \.

rl

iT.{I({AN

,\ TI\IUR

r

(2)

^rvt{net{vg

vxllsnxv

(3)

f-

rli

'!

.i:

i

UNDANG.UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 19 TAHUN 2OO2

TENTANG HAK CIPTA

PASAL 72

KETENTUAN PIDANA SANKSI PELANGGARAN

1.

Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak

suatu Ciptaan atau memberikan izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit

Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama

7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak

Rps.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2.

Barangsiapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, memamerkan,

mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang

hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud

pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama

5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak

Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

l

(4)

(taVXI

utoSSuV)

1eu'e83uepe

Jolrpe :lruru-e 6

pt' oc'u33ue1re',u,tr,r,r77

dgq :

orLEl ewTul

'sucerlJ

'oN e,{eg

00I

Surdu

g

'11 '11

v}9Nwtrg tIgYSNgd

c' rrd'

'

n,r,Se

;;1 rpo

";trA:#'#'";;:'r*

vrsf,Noot{I

ru v

NNYdvafltnsd

NVo dIsNIYd-dISNIAd

r{v^tne^tYg

wIIJSnXV

(5)

ien I

Bacau

[---F"'ro"''

ls,3g i

Ftrottsl:l t

iiriu

I

: , 'lt,,{f J

I

Akustika Bangunan: Prinsip-prinsip dan Penerapannya di Indonesia

Hak Cipta @ 2005 pada Penerbit Erlangga

Disusun oleh:

Christina Eviutami Mediastika, Ph.D.

Program Stttdi Arsitektur Fakultas Teknik

Universitas Atma Ja,-a Yogyakarta

Editor:

Hilarius Wibi Hardani, S.T., M.M.

Buku

ini

diset dan dilayout oleh Bagian Produksi Penerbit Erlangga dengan

Power Macintosh G5, dengan menggunakan huruf Times

l0

pt.

Setting

&

Layout: Bagian Perti

Desain Sampul: Farid Sabilach R.

Percetakan: PT GELORA AKSARA PRATAMA

09 08 07

06

6 54321

Dilarang keras mengutip, menjiplak, memfotokopi sebagian atau seluruh isi buku

ini

serta

memperjualbelikannya tanpa izin tertulis dari Penerbit Erlongga.

O

HAK

CIPTA

DILINDUNGI OLEH

UNDANG.UNDANG

(6)

o{uod6-owg

'oiiuqo[y uop

'uDtu lniun

uD1tsullpaplp

lut

n)Pg

(7)

KATA PENGANTAR

endahnya tingkat kesadaran masyarakat kota akan cemaran bunyi di sekitarnya

mendorong penulis untuk n.renyusun buku

ini.

Menurut pengamatan penulis, tin-gkat kesadaran

yang

rendah

ini

disebabkan

oleh

beberapa

faktor. yaitu

lemahnya aturan

dan

sanksi bagi

mereka yang menimbulkan cemaran dan rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap dampak buruk

dari

bunyi

yang sangat keras. Kesadaran yang rendah

juga

melanda para rnahasiswa yang

menganbil

jurusan Arsitektur di

berbagai

universitas di

Indonesia.

Ketika

mereka

lulus

dan

bekerja

sebagai

arsitek atau pengembang, mereka

tidak

menerapkan pertimbangan-pertimbangan yang berhubungan

dengan

bunyi ke

dalam desain mereka.

Demikian pula ketika

rnereka telah menjadi dosen, mereka

juga tidak

menyampaikan kepada mahasiswa mereka mengenai perlunya memadukan desain dengan

pertimbangan-pertimbangan yang berhubungan dengan bunyi.

Orang Indonesia umumnya

lebih

terbiasa mendengar

istilah

pencemaran udara,

air,

atau tanah,

dibandingkan

istilah

pencemaran

bunyi. Istilah

pencemaran secara sederhana dapat

diartikan

sebagai

penambahan

atau

masuknya

zat tertentu ke suatu sistem melebihi bakuan

susunan

zat

tersebut,

sehingga mengganggu keseimbangan sistem tersebut. Pencemaran

bunyi

dengan demikian diartikan

sebagai munculnya

bunyi

dalam

porsi

berlebihan

yang

melampaui baktran

umum yang

aman bagi

kesehatan indera pendengaran dan kesehatan

jiwa

dan raga. Sampai sejauh

ini,

masyarakat belum

merasakan dampak langsung penurunan tingkat kesehatan yang disebabkan oleh cemaran

bunyi.

Hal

ini

menimbulkan kecenderungan

bagi

masyarakat

untuk

mengabaikannya.

Penulis

sungguh merasa

prihatin

terhadap rendahnya

tingkat

kesadaran masyarakat pada segi

yang

berhubungan dengar.r dampak

buruk bunyi

pada kesehatan. Keprihatinan

ini

telah dituangkan

penulis

pada

banyak tulisan dalam

media-massa

populer dan dalam

sebuah

buku ilmiah-populer

"Menuju

Rumah Ideal; Nyaman dan Sehat".

Melalui

tulisan tersebut, penulis berharap agar wawasan

masyarakat awam

mulai

terbuka, sehingga dapat mengambil berbagai langkah yarrg dianggap perlu

untuk

mengatasinya.

Buku ini lebih ditujukan

kepada para akademisi darr

ahli

yang bergerak dalam

bidang

rancang-bangun. Beberapa

buku yang ditulis oleh

pengarang

luar negeri telah

mengulas

dengan amat

baik dan lengkap ihnu akustika

bangunan

atau ilmu

mengenai

bunyi yang

terkait

dengan bangunan

ini.

Sayangnya,

belum

satu

pun dari buku

tersebut

yang

secara

rinci

mengulas

pedoman akustika bangunan untuk diterapkan

di

negara tropis yang lembab, seperti Indonesia. Masalah

akustika bangunan dan cemaran

bunyi di

negara berkembang dengan

iklim

tropika-lembab

jauh

lebih

pelik jika

dibandingkan clengan masalah akustika

yang dihadapi

negara

beriklim sejuk-kering. Di

Indonesia, pedoman

akustika

bangunan

selalu berselisih

paham dengarr persyaratan pengudaraan

alamiah

di

dalam bangunan.

Munculnya bunyi

keras atau berlebihan pada mereka yang bekerja dengan perlengkapan yang

menghasilkan kebisingan. seperti

di pabrik,

stasiun kereta

api,

dan bandar udara telah

mulai

diatasi

dengan pelindung

telinga.

Namun.

seiring

kernajuan

jaman,

meningkatnya kebutuhan ntanusia, dan

meningkatnva taraf ekonomi masyarakat, pertambahan kendaraan bermotor

juga

telah menjadi sumber

utama penambah cemaran

bunyi. Dikatakan

sebagai sumber utama, karena dapat dipastikan bahwa

di

manapun bangunan berada.

jalan

akan selalu ada

di

dekatnya. Keberadaan

jalan

selalu dibutuhkan

sebagai alur menuju ke tempat tujuan.

Bila

cemaran

bunyi

berpusat pada suatu

titik.

misalnya seperti

yang kita

jumpai

pada

industri,

tentu cemaran bunyi

itu

dapat diatasi dengan menggunakan pelindung

telinga. Bila

cemaran

bunyi terletak di jalan, kita jelas tidak mungkin

menganjurkan semua orang

(8)

pl'cu',( len'IrsLu

ruutn o

1?)rlsurper{'E

urrrlsl.rrJJ

s00z

lehl'1?1ru)iu.(3(r^

'srlnuod n38unlrp le8ues

'nurlr

ue8ueqtueryod uu8uep

uu{runsesrp snrel ledep

n{nq

rur

rp8u '1eqrd rsr

cnues uup uelnser\i

'rur

n{nq efultqrel

uueqruaru

qe1a1 8uu.{

yuqrd enuras

uup ru1uuSued

elu) uu{rrequau

uuua{Joq

{ulet

3ue,(

'Sunpueg

r3o1ou1e1

tntrlsul 'E{lsl{

{lu{el 'e,(urrqly

ueldecn8ueru srlnuad Brurret

epudel qrse{ y:deg

'htrU 'Jord 'o1ueft3aog

nrn8

resaq

'resBpueu ereces e{r}sn>1u

ueuoped

seququeu

3ue,( quq edureqeq

epud ueqrtuped ulnd

ue{Buosrp 'qr?lln{ n18uuq

{npnp

Ip

3ue,( uceqrued

r8eg

'rJeq-rJuqas uednprqal

>1n1un

ueun8ueq epud

uuldureyp ludup

8ue,(

u{usn{u

ueruoped

ue4lusrp rrqle

uur8eq

upu4

'uu8ursrqeq ue3uupSSueued

uuurlSunure>1 uep

'urc-urJ

'sruel elnd selnrp rur

rueluq

qeq

'ue8ursrqal lnqesrp 3ue,(

ueqrqelJeq nBlE

surel

r,(unq e,{ulncunru ruue8ueru uuru.rn

ue8uep Insnsrp

n}l

'e,(urutre,(ueur qBA

8uu,{ uur8uq uues

r,{unq u,(urpeirel uep

uere8uepuad erepur efte1

uruc reue8ueu

rBSEp uuruoped

ualrlesrp

uenlnqepued

qeq Bp€d

'ru-rllru

e{rsrJ nrulr

Suupuud

lnpns rr?p r{unq

nwp rruleladruau snsnq{

pJuoas

luprl

3uu,(

'ecuqued

rue8uerurp

qupnu qrqel

3uu,( uuqeplsrred

tuas

esequq

ueleunSSueu u8nl

srlnue6

'rurequdrp qepnlu 3ue,(

snruru qrpunlas

uup e{rlunrolsrs ue8uap rur

n{nq

unsn,(uaur ufu3ues

srlnuad

'qeun.r

urulup rp

€.(uter{Errlsr nl>le,4A JBSaq uer8uqes

uelsrqeq8ueur Ersnu€ru

Bueru{ Sunuad 3ue,(

pq

rpelueur

uelel tp InJunu

3ue,( r,{unq u€Jeruaf,

rrup

p33u1t

quun;

uu8unpurlJod 'yu38uu

quun;

rl.redss rpuqr.rd undnuru

'runurn 'uuun8ueq upud

ueldurelrp

Suns8uel

esrq 3ue,(

sr1>1erd-sr11erd

pq

ue>1nq 'resupuetu

3uu.(

pq

seln8uaur 1u,(ueq

qtqel

3urse

nlnq

'r8ul

qlqepal

'ursauopul

ueldurelrp

rp

renses 8uern1 Sursu

nlnq

UBIBp tunrurat

3ue,{ uuun8uuq

B{r1sn{e ueruoped edureqeq uSSurqes

'8ue88ueyeq sn-req ueun8ueq

B{[snIB

ueuoped

uelqeqa.(ueur rur

ueupee) 'r(unq

u,(u4rsuiu ue{qepnrue(u

rul 3ueqn1 u?epeJeqo{

luqrd

urel rp 'Iselnua^

8uaqn1 1e.{ueq

Dlrlrrueu

snreq uuun8uuq uelqeqe,{ueur

erupn ueJrlu uE{E

ueqrunqo)

'Ireqeluru

e.(uquc u€>plnsetueru

snBrplas

rrp8ueu

uup

eJ€pn

ue{ur{Sunuaur

>1n1un

urlSunu

1e.(uuqes rselrluo^

8ueqn1

ue{nlleuau

3uu,{ srdorl

ueun8uuq

{nlun {ococ {Eprl rur

ruucutuas ue8uecuur 'e,{u8ue,{ug

'uurndrues

3ue,(

e8urTe] Sunpurled rpelueru

ue{e nluel

ueun8ueg

n1r

'rseplual

3uuqn1

eduel uep

'Suepued

snqruel

lepn 'dntngel

BqJes Suucuurrp 8uu,{ uuun8uuq eped

uu{nruet

elpl

udn;es 8uu,(

'Ersnueru ru8uep

pg

eropur

ruulep

uer8uq r8unpurleur WIepB

tudpJ tpBuES 8uu.(

u8urlel

Sunpurled

tup

efte>1

eru3

'rrrpuas

nlr

uuun8ueq

qeppp

e,{uqnSSunses

u8urlet Sunpurlad rpeluaru

eun8raq

8ue.( '1nqrs 3ue.{

uepl

rdal rp ueun8ueq UEIBp

rp ueler8eryaq 8uu,(

u{eJeru

r8eg

'uuun8uuq ruelup

rp

BpEJaq u{eJeru

B{rle{

undnuur

uelul

epeJoq rp

u{eJou DIIie{ IIBq

'e8ur1a1 Sunpurlad uuluunSSuau

(9)

KATA SAMBUTAN

ryr,.i ryiii|1:;t:i...

Buku yang

membahas akustika bangunan

yang ditulis dalam

Bahasa Indonesia

masih

sangat

langka, apalagi yang berhubungan dengan penerapannya pada

iklim

Indonesia.

Itulah

sebabnya, saya

menyambut

baik terbitnya buku "Akustika

Bangunan:

Prinsip-prinsip

dan Penerapannya

di

Indone-

sia" ini.

Saya berharap

buku ini

akan

ikut

memperkenalkan akustika bangunan yang merupakan bagian

dari Fisika

Bangunan,

tidak

hanya kepada mahasiswa arsitektur. tetapi

juga

kepada akademisi yang

terkait

dengan perancangan bangunan serta masyarakat

pada umumnya. Buku ini dapat

mudah

dimengerti

oleh pembaca yang

belum

banyak mengetahui masalah akustika dan

tidak

memerlukan

pengetahuan

fisika

dan matematika yang mendalam, karena

di

dalam

buku ini aplikasi

matematika

digunakan seminimal mungkin. Yang penting adalah bahwa

prinsip-prinsip

akustika dapat dijelaskan

secara

komprehensif. Hal ini

memperlihatkan

bahwa akustika tidak

dapat

lagi

dianggap sebagai

cabang

ilmu

pengetahuan

untuk ahli fisika

dan

ahli

akustika semata, tetapi

juga untuk ahli-ahli

dan

profesional dari disiplin ilmu

lainnya.

Dalam perancangan bangunan, arsitek harus memperhatikan persyaratan akustik dengan perhatian

yang sama seriusnya dengan perhatian yang dicurahkannya dalam

memikirkan

persyaratan lainnya

seperti

struktur, mekanikal-elektrikal, dan lain-lain. Informasi yang disajikan

dalarn

buku ini

bisa

dijadikan dasar-dasar pengetahuan umum yang bermanfaat mengenai pengetahuan teknologi bangunan

bagi para perancang bangunan. Seperti halnya

ilmu

dan teknologi lain yang terkait dengan perancangan,

untuk

kasus yang khusus

jika diperlukan

konsultasi dapat

dilakukan

dengan ahlinya.

Semoga

buku ini

dapat memberikan pemahaman dan kesadaran mengenai akustika, terutama

yang

berhubungan dengan

dampak kebisingan

terhadap manusia, pengendalian

kebisingan

pada

akustika ruangan, serta penerapannya

untuk kondisi

Indonesia.

Demikian

sambutan singkat

dari

kami.

Bandung,

5

Oktober 2004

Prof.

Soegrjanto

Laboratoriurn Fisika

Bangunan dan

Akustika

Departemen

Teknik

Fisika

Institut Teknologi

Bandung

[email protected]

(10)

uBqIl?-I

9L

IBoS

:tL

rsBulqruo)

Iselnsul

uuSuop IEuelEW uEIe{EUed

:?9

:::l:

::'1"'*1 ::

::::::::-:""^-

:l:'::T

,T'*'H11 :::

."--Il

l'l",',,t-,"

q$g

_i

uEqIle-I L9

lEos

Iseulquo)

:EE

IBualBW Iselnsul

:0s

ISEInSUI uEp 'Isfuosqv

,ls{ouoU i67

euroqerntcnrts

ereces tBqtuBlol

3ue,{

I

uu8ursrqe;

rsule8uahl

:6,

eIUoqJIV

Ere3es l?quereyrtr 3ue,(

ue8utsrqay tse1e8uel41

:tt

telqO iuue8ua6

e1r1e1

r'{ung

DIelIJed

i97

ueunfiuug

tllepq

ue8ursrqe;

e1

uutBqluEred

lE7

ueun8ueg uep

uBIe[ rrep uu8ursrqe;,1

t.n"\tf i)\;Y'l:ll)l)\\'\:Id

51S'\

\}{l

l:}\\jII NV\

\'{l1"rl

\\ii}\Is-l{3X

tlt:tl t

""""'\i\iH:li)N1'g Y{lld NY:}\lSIti";lX

III

\\:l:}1''ll

ueqBE-I

zv

:It pos

s?]uI-I-nlBT uuSuISIqa)

lnlunue4 uup ue8utslqo) Isnlod

>1n[unue4

i17

]ololurag ueerupue)

IJBp uBBuISIqe)

Irlsuot{Ere)

:6€

u€lul sEIa)

uer8uqrue6

i3g

JolotuJ?g uBeJepuo) uEBuISIqo)

1u13ur1

:::::j j:ll::

::l::::::::l::::l:::j-:: ::

::::::--;T::'i]

X[1.',,'i1',J,,*.

t tllr:l

ueqItB-I

?t

IEoS

lulsuolod

:€E

ue3urstqe;'1

requns

lnlunue6 :0€

u>13uy ue8uep ue8ursrqe;1 1e13ur1

uernln8ue4

i67

uu8ursrqey

1e>13ur1

rs?lnlun{V

nelu

uulndrunued

:82

ue8ursrqe;

1u>13ur1

rnln8uepn

i17

ue8ursrqe;1

"*"..f".:]:*:1.::1"""i..:,:.:...::*1"qe)

{IrsIIsr{EIe) :EZ stos u'(urperrel

\1 :iut\tit.'lH

\x'tl

:;ir}\ i

{!tIti

\f zz

i3\"tr${*:-*an trl

\\'l:}}.1!

usqrteT IuoS

6I

u8uqal :61

Sunpuqa4

tuly

e3ur1e1 111 epud uenSSueg

:g[

ersnupl e8uqo1

:iI

@75) raDW p^a'I punos ',.zl

3ur1t13ratr1 punoS

'.Zl ap)S

uolld

:OI

(gp) ilagrcaq

:0I

uPrcIeJ uep s€llsuelul emlue

uu8unqnH:6

sla^a'I punos

:6

rsuuuoseu

:3

opnlrldury

:g

r,Lung Sueqruoleg

17

r,(ung .Iaquns ull?rlltr

:t l

I(ung

eiurpehel

\,3s-

i\1't\

?iY:)1.+{1

1}1.{{tal

\1'ti

11a,*,

I i.'(] r !

9V Z

x III^ IA r,ir;ii+;5riF1,4ffi

.:.:.;lt1in#tiffi

I$

UVI.{YO

(11)

iil;tir

ir

..: .:{:.:.'r -"rc.;

"!. iL

Refleksi 77; Reverberation 80;

Pengontrolan

Echo

dan Reverberation 82;

Absorpsi

83;

Difraksi

85;

Refraksi

86;

Difusi

86; Transmisi

Bunyi

86; Room

Acoustics

87; Soal Larihan

88

q{

j*}$'r'{iirti{

ix"}

Akustika Luar Ruangan 92; Akustika Dalam Ruangan 93; Area Panggung 93; Penyelesaian

Akustik Lantai Panggung 95;

Penyelesaian

Akustik Plafon Panggung 96;

Penyelesaian

Akustik Dinding Panggung 96; Area Penonton 96;

Penyelesaian

Akustik Lantai

Area

Penonton 97; Penyelesaian

Akustik

Plafon Area Penonton 98; Penyelesaian

Akustik

Dinding

Area Penonton 99; Lantai Balkon

100; Soal

Latihan

103

ilxgi &

Akustika Luar

Ruangan 104;

Akustika

Dalam

Ruangan

106; Penyelesaian

Akustik

Lantai

Ruang Studio dan

Operator

107; Penyelesaian

Akustik

Plafon Ruang Studio dan Operator

108;

Penyelesaian

Akustik Dinding Ruang Studio 109; Akustik Ruang Studio

untuk

Laboratorium

113: Soal

Latihan

114

iJ;r

i:

d.i

Akustika

pada Bangunan Perkantoran 115;

Akustika

pada Bangunan

Hotel

dan Sejenisnya

118; Akustika pada Bangunan Sekolah dan Sejenisnya 118; Akustika pada Bangunan Rumah

Sakit dan Sejenisnya 119;

Akustika

pada Ruang Perpustakaan 120;

Akustika

pada Rumah

Tinggal

120; Soal

Latihan

120

li;*ir

i

il

t,,"li,(iir

IiJ:.9,i,i{. .1

}.trl'i'iF"."r }i1,:1{;q \

1",, {. i"r !

{,?i l,ru}X}51i5* 1 }}nY

Karakteristik Kebisingan di Negara Berkembang 121; Penyelesaian Kebisingan secara Outdoor

122; Penyelesaian Kebisingan pada Selubung Bangunan 124; Penyelesaian Rancangan secara

Indoor

125;

Hasil Akhir

126; Soal

Latihan

127

5*q'tr't,.il1 ,*{.*{.}4;.{,r'X't:,\ f

},q1

f}*;l}"tglx,gtr".1!,

${i;,1!.}'*',i:{

q*qrg}."}

!}:.{,:q,{,,\ fllr&'r",1\....".

12g

Mikrofon

129;

Amplifier

dan

Equalizer 132

Speaker 134; Soal

Latihan

136

9t

(12)
(13)

'e,(uretr{as

IpElret 3uu,{

lp

r,Lunq

:tliuepuaur

nElB du)Buuueru

tudrp

Ersnuuur uurrure8eq sesord

qelruy

'Ieto o{

u,(uBlrJeq

tuur8ueu

ue:uiuapuad.IerBS s.(utnlueieg

'e3uqe1 ruulEp

urel rp

ue-re8uepued erepur ueurolo uep EBurlet

SuepueS

utryEto3Sueut

ln{l

'(91't

JeqLUcC

teqrl) e8uqal

[eul?{ rnlulolr.r

uulelreq'u3ur1e1 unsp

rl3lo

de13ue1rp

lnqosJel Suuqurola8

uBluqullrd 'lnqes.Iel

1e[qo

uup nluauol lurei

eped tudtuus uelulraq

snral

qrsuul

u,(u3ueqruo1e3

uulequered nlueuet

ueeppe{ eped

'-ieleiraq rllleqreq

qe1e1

'r,(unq Jequns

reieqos

tnqasrp 3uu.( '.ruteS.raq

Suua

lelqo qsepr,(unq

Sueqtuoloi

uetuqrueled

runiperu

nBtE rl.retuu IEZ

e3nllnqesrp

r1e18ur"res rele8Joq 8uu,(

leiqo

Jetr{es rp tBZ uueperoqe{

EueJe)

lnu

qeio'(I'l

JpqLuEC)

teq[rereur

3ue.(

Suuqurolaf

reSeqes

uuryeqrue8rp ]edep

8uD{

uc8ueSSuer

uep

ueluder

{ntuequeul

eSSurqes uequluosreq

Surps

uule

luz lelrued-1e1r]:ud e,(usn.tetes

UEDIIUoC 'u,(uqnleqes

lelured

1p

e>1

e,(ueurr:s1rp 3uu,( r8rauo ue{snJeuoru

uule

11elqo uefuep

te>1ep 3ur1ed Suef) qnluesrel urueuad

SueKNz

ie{ru?d

'.rutairaq 3uu,(

lalqo

1uta1 Sunluu8ral 'uulepud nule

UEIIEO 'se3 ednreq ludup IUI

'e.{utelep

le7

rpe

rp

8ue,( 1ez

layged qnluo,{ueu

uErpnuel

lnqosrol erepn

nulu

1elqo uelu;e8

nete

uu;eleg

'dnqrp

8uu.t ladruorel eped rpel,rel

lere8raq 8ue(

erepn rrep qoluoJ uelSuupes 'sule

ue{e{nuJ{rp Ip

qelot

.ruta8req

nplu

qr:e8req

lalqo qotuo3

'1era3:eq 8ue,(

e.repn udnreq

uinl

ledup uep 'lere8req

3uu,(

lelqo

edn"req ledup ue.ru1e3

requns 'ruleireq

u,(uurens

ryd euarel

Er€nsreq ludep

ersnuuru 'e1nd

n1r3eg 'tluetu/ucretnd uunqr:

reducuau tndup rSrB

epo.t urzrutnd

plleru{

uu?-Iupue{

epud se:a1 dn>1nc

8ue,(

uu;ula8 uep

r,{unq

uu{lnqurueu

rur

u3uuel r{rle8ued

uerelSueg 'r3r3

epo.r tsnusuurl lrrolsls

rnleleu

epor

o{

ue>lrnlusrp uurprlruol

3uu,{

'uerelequed

3uut.u Epecl uolsld e(uunrnl-1teu uelera3

uep

Iu,^AB.raq relnd.req 8tru,(

upo,r upucl

uule.reg 'ueumpuol

uu14:.ra33ueu

Intun

reludrp u,(ulnlueles 3uu,(

srue{ou

r3reue rpelueur uuJe{Bqrued gseq

rrep r8raue quqn8uaur ro}oluJeq

uecrepue{

utse141'rele8req

>1o13uru uulquqa,{ueur rur

ueln>1nd

'{opues qelo

1n>1ndrp eyr1a1 r,(unqreq

osluq

1o13uu;,1tr 'IJrpuas

srsnueru uJuns

uulqeq

'Jotorureq u?prepue>l

rfunq

'os1eq 3ue1n1

>1o13uuru t,(unq rrep relnur 'rele8req

3ue,( 1e[qo Lrpp Iusereq

nltles Blr{

Julr{os rp rpulrel

8uu,{ r,(unq BnIuoS

'nlus-red-nies

I}llol ElI{

IreIAl

'u,{ututrlas

lez rp

uuSuep

uelesai uu{lnqulueu

3uu,(.rule8req 8uu,(

upueq e,{uepe uuorl?{ rpr:fta1

r,(ung

r,(cmg ui{lrpufu"}.I'r'r

'lnqosJol uele0uepued erepur

eleil erec eueure0eq tueqed

e1r>1

e,iuertl 0urlued'qpqulepaq

snlal elll

ersn rlsaLu lreq

deiel rebe

uere0uapuod rur

eJapur rs6un; e6eluatu ledep

e1t1 eueuteOeq teue6ueu

qnel qrqel uelploduortr

1n1up

e,{ue1r>1as

lnountu rp

6ue,{ rliunq-t,{unq te0uepuaLu

ndueul etsnuBu lenquioLr]

6ue(

erapur uerel6uer

qelepe

lelo

e1 Ounqnqral Oue[

e[uuelep

ledeprel rp

0ue,i leresleres

uep e6urlel

'rpefue1

lnqeual

edeOuau 1eq

nqel

ur0ur eraOas ueOue;rqe1 uep ueleseroul

elrl qelnreq 'ryeq ueOuep

tsbun;iaq lepti lnqosral etaput nles

qeles

leps nJens e)itloy lnqas.lal Blopur efua1

erec e{uqnD0unses eueureOeq

ueqed yeptl uep eluueeperaqel

ueleseroLu )iepll ell)i rle16uues

.lqel lefos eu]uo]rp rur lslpuol eua.le)

n]ensos eqeraLu 'deca0ueLu uep

'ulnroueul teOuapuau 'leqrlor!

Inlun

rsOunpeq Ourseu-Ourseu 'elapur

eutl

rerunle)irp leulou plsnuen

YISNT{YIN

rIVCNIO

YUS(NI

t{\fc

IANNg

nwr;iHB€:

;.tffi

qEg T

(14)

potongan 1-1

*,renggangan

' T".

l\

pelan

/_

v_"

atmosfer

t1 ,ffi,:ffi :,ffi

-',rlraOatan "L-l

' i r'-i

Gong

fw

bel bergetar renggangan

Gambar 1.1 Terjadinya bunyi dan perambatannya (Stein, dkk, 1986) bu nyi

Melalui

uraian

di

atas, cukup jelas bahwa untuk dapat mendengar bunyi, dibutuhkan adanya tiga

hal berikut, yaitu:

sumber atau

objek

yang bergetar, medium perambatan, serta indera pendengaran.

Ketiga hal

tersebut sangat penting keberadaannya.

Medium

perambatan harus ada antara

objek

dan

telinga agar perambatan dapat terjadi. Dalam ruangan hampa udara, tidak ada partikel yang menghantar

getarannya, oleh karenanya tidak terjadi perambatan, sehingga meski ada objek bergetar dan pendengar

memiliki telinga yang

sehat,

bunyi yang muncul tidak

dapat didengar.

Perambatan gelombang

bunyi

pada suatu medium berupa gelombang

longitudinal,

artinya arah

getarannya searah dengan

arah

rambatannya.

Objek yang

bergetar pada

posisi

bebas atau

tidak

terhalang

objek lain

akan menyentuh semua

partikel

zat

medium

yang ada

di

sekitarnya, sehingga

perambatan gelombang

bunyi

terjadi ke segala arah.

Ketika

perambatan mendekati objek yang diam,

maka

sebagaimana keadaan

objek tersebut, ada kemungkinan

perambatan

akan memantul

atau

berkurang (karena diserap atau diteruskan oleh

objek

penghalang tersebut).

Seringkali tidak

mudah

memberikan gambaran untuk menjelaskan fenomena yang terjadi melalui model perambatan gelombang

yang sesungguhnya berupa rapatan dan renggangan partikel. Oleh karena

itu,

kondisi

ini

lebih banyak

digambarkan berupa kurva membentuk gunung-gunung dan lembah-lembah yang

merupakan

penggambaran getaran terhadap

waktu,

yang disebut

juga

gelombang

sinusoitlal

(Gambar 1.2).

I,?" &{;s*:;exa $art t?:*:x" E$ttr:vi

Menurut jumlah

sumber getaran atau gerakan

yang terjadi, bunyi

dapat dibedakan

menjadi bunyi

yang berasal dari sumber berbentuk

titik

dan bunyi yang berasal

dari

sumber berbentuk garis. Sumber

bunyi

yang

berwujud

sebagai

titik

adalah sumber yang

muncul oleh

adanya satu buah getaran saja

(getaran tunggal). Selanjutnya

bunyi ini terdistribusi

atau merambat dengan kekuatan yang sama ke

segala

arah,

sehingga seolah-olah membentuk ruangan

berwujud bola (Gambar 1.3).

Sedangkan

L

Gambar 1.2. Perambatan bunyi dalam wujud gelombang sinusoidal, di mana A

adalah amplitudo (keras/lemahnya bunyi) dan ),. adalah satu panjang gelombang

ffi w

. ..:

(15)

@661.

'awog )o]

tdtuoC punog) (sueb) 4nwe[ew uep

(>luu)

p66un1 )eqwns etelue 4etef

euate4

ilunq B\npai

ue5urpueqta4

'9']

reqtuee

Ierel (u)

0z0Lt,zlt

0e

0,

09

001

@661 'ewop

lorluoC punog) )oJ

(sueb pn[nttteq)

ynwafew tlunq teqwns ueteqelue4

'r'I

lequee

(gp) rslnpeg

'>lnlualelu Jagruns

uup

r,(unq tsnqlJlslp

Bturreuetu ug{e lnqesJal uEIp[

rsrs rp rJrpreq 8ue.(

letqg

'sn]nd BpBII

uepheq

ueerupuo{

uBrIIe Buutu Ip

,{nqrsJadns fiue,{ e,{er

uepl

rudunftp rp

r{Bpnru luuru (srru8

Iuodes pnfn,ureq)

>lnruelsru L(unq sluef

.4re13uel ro{eos

r,{unq

u,(upsru

'ples r,{unq

requns

nles ue{re8uepuatu

€lDI ueuDl

-Sunrue>1 upg qrsgtu 'Sueuel lBure

8uE.( ruBIEru eped

e.(uug 'r,(unqreq

?ue[

ta>ptads unp

e,(u1upt1es BpE

qeqes ,r8e1

Bdnraq

{pp

{Bpn

qBpns u,(uJequns

'orp8r

n13s

IrEp

IesBJeq

e,(uuq

t,(unq

I{seu

'lr.s

-oata$ udnreq lnqesJel orper

e{rlaI

ue>lqug 'orper Ir€p {ISnIU

L(unq uep selulletu Jololureq

uBBJEpue>l

r,(unq 'ueruel uudelecrad r.(unq

e.(upsltu Iped?s

'sn8rp>1es

r.(unq

udereqeq

uulre8uepuetu

elPI

uelnsedrp

tpdep 'uuuruesreq 8ue,(

nt{e,u ruepc 'nlueuel

lues eped InJunIu

3ue,( t,(unq efunlus-nles

ru3uepueru

ulq

rpeftel quured

lupu

rrduruq uueJBI 'p33un1 reqluns

I&nqes rrep u,(uuq

psereq

3uu,(

r,(unq

uuye3uepuou Blpl

r1e{as

Suurel'rruq

Suers upud eruulnrel 'ueq-Ireqes

uudnprqel IUBI€O

.(E.I requgD) gp

unrnl g

uele

e.(uuelun{e>l

€{Bru

';equns

rJEp 1ed[ IIE{

qeqluuiloq unp

e,(ulerul rp1

derles .suufl

{ntueqreq

r,(unq reqruns eped uulSuepeg

9 'gp

reseqes

unrnt

uB{B e{uuulBn>le{

€>IEtu

,requns rrup tedrl

qel

qeqtueueq Enp

u,(u>lurul

rp1

de4es

'{pp {nlueqreq

r.(unq

requns

eped e,uqeq

'(gOOt

'VrufJ/a5g)

uerlrleued qenqes

qolo

ue>llDlnqlp 1uI

'sue8 {nlueqreq

1ug

r,{unq

uep

qepueJ

qrqel 3ue,(

uetuquured nBtB uureqes

uendrueuel

Dlllltueru

{ruueqJaq r,(unq

{pp

'p33un1 Jequns qalo

up{Irsgqrp eueJg) .(7'1 requrug) e,(unquns

nulu tusnd rc3eqes srre8

qenqes ue8uep JopUIIIS

nele Sunqu}

pnln,tr-req ueflupnr >lnluaqrol

ue{u qelo-r{Bloes

'qBJp up8es e1 }EqIuEJotu nBlB

IsnqlJlslprel r,{unq

E)IIIo)

.uu3uenr ntens 1uulup

eperaq srru8 qenqes

uu>llstunselp 'srre8

lnlueqreq rfunq

JJqruns epEd

'(lnrueleu)

uurete3 1e,{uuq

nele

udureqeq

qelo uu{lrseqp

8ue,(

r.(unq

qBIBpe srre8 ru8eqes

pnln,tr'req r.{unq

@661.

'awog

lutuoC

)oJ

punog)

(>tuu

pntnrueq)

p66un1 rlunq teqwns

ueLeqelue4'€'l lequeC

\ - l-,

',

i_Ll -

ll

e'og '\

/ \-/

(16)

t,;9, {i*.llr*l*'}i};}}}. }}ri*_:'i

Sama

halnya

dengan

gelombang lainnya, gelombang bunyi dapat diukur dalam

satuan panjang

gelombang, frekuensi, dan kecepatan rambat.

Mari kita tinjau

satu-per-satu. Panjang gelombang yang

dinotasikan

sebagai

lambda

(1"), adalah

jarak

antara dua

titik

pada

posisi yang

sama

yang

saling

berurutan, misalnya jarak antara dua puncak sunung, atau

jarak

antara dua lembah. Panjang gelombang

diukur

dalam satuan meter (m) dan merupakan elemen yang menunjukkan kekuatan

bunyi.

Semakin

panjang gelombangnya. sernakin

kuat pula bunyi

tersebut,

dalam arti,

semakin

jauh bunyi

mampu

merambat.

Hal ini

diperkr"rat oleh penelitian yang menunjukkan bahwa dalam medium udara, serapan

udara pada bLrnyi dengan gelombang yang panjang,

jauh lebih kecil dari

seraparl udara pada bunyi

dengan gelombang

yang

pendek (Templeton

dan

Saunders. 1987).

lihat Tabel 5.1 dan 5.2.

Pada

tingkat

kecepatan rambat yang sama (dalam medium yang santa), burnyi dengan gelombang panjang

identik

dengan

frekuensi

rendah, dan

demikian pula

sebaliknya.

Selzrin panjang gelombang. elemen

bunyi

yang

lain

adalah frekuensi. Frekuensi adalah

jumlah

atau banyaknya getaran yang

terjadi

dalam setiap

detik.

Dalam model penggambaran

kurva

gunung

dan lembah, fiekuensi

adalah benyaknya gelombang

sinus (satu

set

kurva

sinus

terdiri dari

satu

gunung dan

satu

lembah)

setiap

detik (Gambar l 2).

Sesuai dengan nama penemunya, frekuensi

dihitung

dalam satuan Hertz,

(Hz\.

Jumlah getaran yang terjadi setiap detik tersebrtt sangat tergantung

pada

jenis objek yang

bergetar. Secara

singkat, hal ini

dapat

diartikan

sebagai bahan pembentuk

objek

tersebut.

Oleh

karena

itu

setiap benda akan

memiliki frekuensi tersendiri

yang berbeda dari

benda

lainnya. Dalam

bahasa

umum

dapat

diartikan

bahwa benda

memiliki

kekhasan

bunyi

yang

membedakannya dengan

bunyi

benda

lain.

Tanpa melihat. hanya dengan mendengar saja, seringkali

kita

dapat membedakan apakah suatu benda yang jatuh terbuat

dari

logam. kaca. atau kayu. Bahkan,

melalui

pesawat telepon,

kita

ju-qa dapat membedakan

bunyi

orang-orang yang

kita

akrabi.

Hal ini

disebabkan karena setiap orang

memiliki

warna bunyi yang berbeda karena adanya perbedaan spektrum

frekuensi.

Ketika

yang bergetar adalah sumber

tunggal,

gelombangnya digambarkan sebagai gelombang

sinusoidal. Sedangkan

ketika

beberapa

bunyi

yang berasal

dari

frekuensi yang berbeda muncul pada

saat bersamaan, gelombang sinusoidal

yang

tergambar akan

terdiri dari

beberapa gelombang yang

menyatu. Kemampuan telinga manusia dalam mendengarkan

bunyi-bunyi

yang muncul

di

sekitarnya

dibatasi

oleh

ambang pendengarannya. Frekuensi terendah

vang

mampu didengar uranusia berada

pada 20

Hz

sampai pada ambang batas atas 20.000

Hz. Bunyi-bunyi

yang muncul pada frekuensi di

bawah

20 Hz

clisebut

bunyi infiasorrik,

sedangkan

yang rnuncul di

atas 20.000

Hz

disebut bunyi

ultrasonik. Dalam

rentang 20

Hz

sampai 20.000

Hz

tersebut,

bunyi

masih dibedakan

lagi

menjadi

0)

=a

a

0)

o.

EE

fo

a

o

= 6

;r ol

a) :I

I

0)

f0

a

0) o-

oC

=o

a

f5 (5{)

.L

ja

a

I

EC

fo

a

0)

fa

a0)

o-

EC

=o

<t)

Frekuensi

GARPU TALA (TONE MURNI)

Frekuensi PEMBICARAAN, MUSIK, DAN KEBISINGAN

E]l

a

0)

!llr!tt

,rrll dtt

I

t,

_L_L_L_

f, f, f,

fo

W,)

@1) et1)

Frekuensi

MUSrK (KOMBTNAST BEBERAPA FREKUENST)

Gambar 1.6. Perbandingan wujud gelombang sinus

antara bunyi murni dari satu frekuensi dan bunyi

dalam multifrekuensi (Stein, dkk, 1986)

(17)

Bleg lnel

rrv

rrunu Jrv ,nD

to 'oJ

,nD ueSorprq seg

3.69

rnturedruel eped

urep61

3og7 rnturedruel epud

erepn

3og1 rnle;edruel eped erep6l

3o6 rnleredrual eped

erepn

3og7- rnturedruel eped

erepn

/unq

(a) luqruer ueledecay

Iunlpatr{

ntuaua

unlpau uoytp

6unq wqwDt

uolodacay'I'I

IaqEI

uped r,{unq Suuqurole8

tuqluur ueludecel

qEIBpe

IuI uulsdeco) 'lap4u

qulupu Ie>ludp

0rg

(unurn

3ue,(

lequrur ueludecey '(1)

uueruus.red

Suntrq8ueu {n1un

nculp sfutunurn

8ue.(

uelsuol

u13uu

nlsns

ru8uqes

ueldelelrp

eJupn

runrpeu

upud r,(unq

Suequrole8

luqurer ueledecel

'ue>lqepnureur

>Inlun 'unure51 'u.(ursrsodruo>l qeqnreq

u.rupn uesrdul unsn,(ueur

Suef

sruel e41a1 su8

qeqnreq ludup

e8nl

r,(unq tuqru€J

ueludecell 'ntueuel

leBS-tBES eped erupn nqns ueqeqrued

uuuure8eqes quqruoq

ludup

r,(unq luqruuJ

uuledecel

u.(uqn8Eunses 'BJ?pn nlre.(

eures

Suuf

urnrperu eped

epereq 11seur

'uel{ttuap untuuN

'JrB

tuelzp rp

?puJeq

ulpl

lJeq-ueqas

uednprqel

urelup e^\geq e,(uueuq8unrua>1

pcel

le8uus eueJe{

'delel 3uu.(

rsrpuo>l

nluns

re8eqes

du83uu

u1r4

ludep tut uuepudy

'u.repn

nele

runrpetu rnleleru su8

t,tunq

uapeSuepue{u Iun(un

eJecos

ulpl

'ueq-ueqes

uudnpqel

upu4

'qepueJ nrlns

tuepp

Surpuuqrp

r33uq

nqns

uu8uep tunrpetu

urepp

ledec qrqel l?qrueJeur

rfunq

Sueqruole8 B^\r{Bq

uu4lnlunueur e8nl

uurlqeued

'u,(ulnfuuleg

'se8

runrpeu

urupp

epuduep

ludec qrqol

teqruereur r,(unq

trcc urnlpetu

uulup

'u1nd

uep[rueq

'JrEO

runrpeu upud uelSurpuuqrp

'lepud urnrperu eped ludec

qlqel

luquuJeu

t,(unq'ru1 BUoJB{

qe16

1edec

qrqel

rpufte1 Suuqruole8 ueleqruured

uSSuqes

'rnlurel qlqel

uep tpuftel

qupnur qtqel

1e1p.red JBIuB uuqnluos 'lrqels

e,(uuuunsns 3ue,(

1e41rud uu8uep

pz

eped:lDIIJeq

ru8eqes uulseyehp

ledup

1eg

rul

'ufulqeqes

'yrquls 8ue,( uep

1e>pped ue8uep

urnlpeu

epud ludec

glqel

leqtuuJeru r.(ung

'({ltppunq

a*tvpt

Jpuler

ueqsqruelo>l

te18up;

luz se?

urul€p rIB

{pp-{pp

uu8unpuel e,(qusrur

luedes

'NZ

uuielep

urel 1e4ged ue8unpuul

tnleredurel

uep

'1e1qrud uuunsns

qelo elnd

uu>lruuellp 1e4ued

ueludere4'ur

BJetueruog

'ufurnppp

8ue,{

urnrparu

1e1pmd 1ez

uulude:e>1 eped SungueS.raq

ilunq

leqruuJ

ueledece;1 'Jeueq

{Bpll

rur u,(uqnSSunses 'Suuqurole8 Suuiuud

uup ISuen{eU eped

Sunlue8req r,(unq

lequuJ uuludecel e,trqeq

ue44nfunuaur qelo-rleloes (1)

uueruusred qseyq 'dulel 8uu,( lEqIueJ

ueledacel

ue8uep qere ele8es

e{

tuqtueJelu

uele

r^{unq

'ueSouoq

8ue,(

urntpeu

uped

luqurureu

u{po)

(ur) Euequolo8

Sueluud =

(211)

tsuenlery

=

(lepnu)

leqruur

ueledecel

=

!.1=t

:uuBueq :ln)IIreq

rc3uqes ueutuesred ruulep

uDISIInlp

ludup Suequrole8 uulequrered

nelu uutlupulfued

uupefay

'4rlep

ntus ruulep qupurfueq 8uu,(

Suelued 1ztot ue41nlunueru

{llep dup

uerele8 e,(ur1u(ueq

'nll

BUeJB>l

qelo

'snurs

Suequole8 nlus

>lerulas

qneluau

>pre8req u,(u8uequrole8 'rule8req

1a[qo

qunqes qu1

derleg '(tepTur)

lnep-red-releur qeppu ufuuenles

'>1qep nles

nt{B^\

IuBIep

nluouol

qerz uped l,(unq

Suuqurole8

qelo

qnduralrp ndrueur

8ue,(

>1e.re[

qelupe (,r) rselou uu8uep

uelSueqruepp 8ue,( leqIuEJ

uuledece; 'nlueuet tunrpetu urelep

r,{unq

tEq{uBJ

uuledecel

qBIBpB

t,(unq uup

UIBI uetuelg

'qupueJ rsuen{ery

ruupp ilunq-ilunq

ue>lru8uepueur

uerue,(u qrqol ersnuelu B^\qeq

uu>plnlunueu uuBlleuod

'(zH

000? sele

rp) t33uq

tsuenler;

(zg

uup

9967 rcdrues

000I) zH

Suepes rsuen>leq

'(zU 000I

qu,!\uq

p)

qepue;

ISUan{eU ueSuep r,(unq-r,(unq

esnuery

I

redueg ercpu1 uep

$ung

qeg

I

lep^u 00I9

lep^u Ir9I

l€pfirt

LEil

]Bpru 69z

lep^u 9I€

loprtt

vSzl

lePII[

9'6Ve lep^u 8'€t€

13pqt

l'LtE leplr

8'Igg lep^u €'6I€

t v

A

(r)

(18)

Udara dingin (Kecepatan rendah)

8

Akustika Bangunan

Siang hari

Gambar '1.7 . Perambatan gelombang bunyi pada medium udara sesungguhnya tidak lurus namun

membelok sesuai suhu udara yang dilaluinya.

udara

normal

yang tersusun dari 78Vo

Nitrogen (N),

21Ea Oksigen (Oz), dan sisanya

CO,

serta gas

lain,

pada

suhu

15oC.

Seringkali muncul

pertanyaan mengapa digunakan

acuan

15oC, sedangkan

tidak

semua

lokasi memiliki

suhu tersebut. Sebagai

contoh,

Indonesia

yang

umumnya

terik,

dapat

dipastikan sangat jarang berada pada suhu tersebut.

Itu

sebabnya, angka 340 m/det

tidak begitu

saja

bisa

langsung

dipakai

sebagai acuan. Pendapat

ini

ada benarnya.

Untuk iklim

seperti Indonesia,

kecepatan rambat gelombang

bunyi

pada suhu

20oC-30oC

akan

lebih

sesuai

untuk

dipergunakan.

Pada suhu

ini,

kecepatan rambat gelombang

bunyi

adalah

sekitar 345 mldet.

Ketika

kecepatan rambat gelombang

bunyi

dapat

kita

anggap tetap, entah pada 340 m/det atau

345

mldet,

dengan menggunakan persamaan

(1),

dapat dijelaskan bahwa setiap

kali nilai Qf

turun,

maka

nilai

(7.)

naik,

demikian

pula

sebaliknya. Oleh karena

itu,

meski

tidak identik,

dapat

diartikan

bahwa

setiap

frekuensi selalu memiliki panjang

gelombang

tersendiri.

Pada udara hangat-panas,

perambatan

gelombang bunyi akan cenderung mengarah ke atas dan pada udara sejuk-dingin

perambatannya cenderung mengarah

ke

bawah (Gambar 1.7).

r.4. Amplitudo

Pada

bagian

sebelumnya

telah diulas bahwa frekuensi bunyi

menentukan

jenis

atau

warna bunyi

yang muncul, sedangkan panjang gelombang

bunyi

menunjukkan kekuatan

bunyi.

Kekuatan

ini tidak

diartikan

sebagai keras atau pelannya

bunyi,

namun kuat/lemahnya getaran

yang

ditimbulkannya.

Bunyi-bunyi

berfrekuensi rendah adalah bunyi yang

memiliki

panjang gelombang yang besar, semakin

rendah frekuensinya semakin panjang gelombangnya sehingga semakin kuat getarannya. Oleh karena

itu

pada saat mempelajari

bunyi-bunyi

dengan frekuensi rendah, umumnya sekaligus

dipelajari

pula

getaran yang

terjadi

(sound

and vibration).

Ketika

frekuensi dan panjang gelombang

tidak

menunjukkan keras atau pelannya

bunyi,

maka

yang berpengaruh terhadap hal

ini

adalah amplitudo atau simpangan gelombang yang dilambangkan

sebagai

(A).

Gambar 1.8 menunjukkan bahwa

(A) tidak

bergantung secara langsung pada panjang

gelombang. Gelombang panjang maupun gelombang pendek dapat menghasilkan simpangan yang

besar dan

kecil.

Semakin besar simpangannya, semakin keraslah

bunyi yang muncul dari

getaran

yang terjadi, demikian pula

sebaliknya.

Amplitudo

Gambar 1.8. Amplitudo

me n u nj u kka n ke ra s/le m ah nya bu nyi

I

l-

(19)

r:i:un 'nlr

Euere>l

qelo 'e[DIIIeqss

JpBSeu uep

Jlllsod e{

IJ?p qeqn-qeqlueq

nlelss InqIun

3w,( '(e4) pcse4 uueft)

ueJele8 leqrueretu pnlnm urulep uutuder uep ue8uuSSuer

'le{luud ?{eru 'r"uelal

uenles

uelsp

Sunlrqrp atnssatd

punos

'BrBpn

le{ruBd ualaueru

8ue,t .rete3-req

{ofqo

ef,uepe ?uoJB{

qalo

u?{qeqesrp 3ue,(

reJsorulu

rp

?Jupn uuuB>lel rsBrJeA

eleJ-elvt qBIBpe atnssatd

pur?os

pn$leurp

3uua '(d)

atnssatd

punos

ue11arnSSueru

r{Blepu

u.(uln4ueq uurnln8ue4

'lrJe{

leruu

8ue,(

u,(urepu

euare{

r{elo u€ncu

uelpefip

tedup 8uerru1 eSnl .urp1e16

uBnlBS uu{eunSSuaur

Sunlrqrp 3ue,(

r,(unq

spllsuelur qelSuuas e>luru

'lrce{ leue

8uu,( e,(urelru Eueru{

uance ue{rpefip

tedep 4epp

u,lod

punos

B{rle)

'u,(uuruualrp 8uu,( r.{unq qeluuled

uDlurues nBlB selrsualur

LIBIITooI

ullutuas

'r,(unq requrns r.rup

m8uepued

4zruf

qnef uplutues rrele

rulru

Q)

J€seq uDIBues

uaquq uelsulelueur (7)

ueuruusre4

(ru)

r,(unq

requns

trep

{uJel

= l

(pu16) t,{unq

requns ueten{o{

nelu

e,(ep 7 =

(.ui4le6;

t,(unq

requns

IJep

lerel ./

eped r,,(unq

sulrsuelul

=

1

;uuBueg

k)

;ln{ueq #=,

rc8uqes uperuus:ed uu8uap

Sunlqrp

ludup

u.(uilunq

sulrsuelur

'tnqesra

BIoq ruBIBp nlueuet

{plt

BpBd

'(g'1 requug)

eyoq qredes

{nluaqJeq Suunr uelpsuq8ueru rre{B

rur usJuqes 'qere ele8es

e>l

leqrrruJoru e,(uueru}a8 uzp rule8req

r(unq

Jeqruns qalqo qenqes

B{Ite) 'zurAe^\

qelepe e.(uuunleg 'sunl

uenlus

nd tauod

punos

:n1rcK'rfunq

sBllsualul nule (7) Mlsuarur punos uvauap

us)ln{?irp pdep eSnl

r{unq u313n{e{ 1e13up

uu;m1n8ue4 '3unsBuu1

etecas

tauod

punos

fi\eleuJ

r,(unq uu1en1e1 Sunlq8uetu

>lnlun u1r1 l3eq

tqns dnlnc

qelSurres

e>1eur

'sere1 leruu 8ue,( r.(unq

qeluqnq

EIDI JBlDIes

IJeq-lJuqes Ip

Incunu

8ue,( r,(unq BueJ€>l

qelo

'1el11oll{

udereqeq

uelpseq8ueu

e,(ueq

serel

teSues 3uu,(

lernused urseur

lef

ue>18uepes 'elus

l(ru I

JBSDIJaq

e,(ueq

leualreq

3ue,( ersnueru

r,(unq

6reua 'qoluoo

IIqUV ':zsaq nl?lJel r{Bl{epl

e,(uqnSSunses

r,(unq

uulup Sunpueryq

3ue,( r8reue uuDlrruop

unluuu 'r,(unq uep

8unuefuel

{llsrJet>IBJDI

qeppu

nuod

punog '(76)

Iq!\

uuntes

wepp

(fl

ru8eqes

uelrsetourp

u,ttod punog lfunq

reqruns qelo

rslnpordrp 8ue,( r8reue

qeprnl

uul.rusupJeq L(unq ueleruIel uernln8ued

uruc qeppu tamod punog

'uunJe

ue{rpelrp

3ue,(

resep a13uu nele relru

uped uu4resupreq

u13ue

nulr

rulru ru8uqes

up,>IIlrBIp

le^el IUI

nete

lB)BulJ

'$7aa,a7

punos)

r,(unq

lulSurl Inl€leru

JnInIp ludep urnrun

ereces

ilunq

uelen4e{

el\quq

uu{reJnrp

ue{p

uer8rq epe4 rur

'r,(unq e,(uue1ed7sure1 uerynfunueur

uelu

?uef

opnlqdrue ueSuep tlu>lre1 r,(unq

uelenle>1

(7) uup

i(Suequrole8 Suelued

ue8uap

uelelreq)

uerela8

uutun>Io{ uu8uep uu>lrssrsoserp

Suef r{unq uut?nla{

(i)

n1rc,( 'ueno?

ue{rpulrp ustq 8ue.{

pq

?np epu

r,(unq uetun{e>1

uapnqe,(ueru IBBS upud e,nquq uu1se1eftp 'u,(urunleqes

uut8uq epud uurern

rnlBIeI{

. ::

:i;iiilgontErfe8ffi I

slaaa7

punos

.g.r

'rsuen>le{ ue}B{ope{

pllgrreur lepn

8ue,(

urel

4e[qo

ue4re1a83ueu

ndueur

eSSurqes '(qepuer rsuon{eu

ue8uop >lelqo nutu ruseq

8uu,{ Suequrole8 8uuluud

ue8uep

lefqo)

leqeq 8ue,( uerete8 uelen>Ie>l

DIrIIuau

8ue,(

>1elqo qEIBpe rula8req

3ue,( r,(unq

raquns

>1elqo

apta4

rpufte1 ledup

e8n[rsueuoseJ'rsuen{a{

uudurura4 nele

usuuuse{

qalo uu{tuqrxerp urBIaS

'te4ap

dnlnc

>1e[qo

unpal lurul e4te1 lpnl

qrqal

1pufte1 uBnl rsuuuosa5

'efursuanler;

uutu{epJ?q

u,(ueq 1e[qo

?npe>l

EIna{

tun>I nlBIJet

>luprl unruuu

'efursuenler;

srs.red

eues

]nqesrol

lelqo

enp e1q

1eru1

lu8uus

peftq

uu{B

rsu€uoseg

'ru1e3req 3ue,( r,(unq Jeqruns

4elqo

uuSuep rsuen>leq uedurura>1

nele

ue€u€sa>l

l{qrueur

tnqesJal releSreq

1n>y

3uu,( 1e[qo

euere>1

'rele8req 8ue,(

r,{unq

roquns

1a[qo qenqes rJ?p nluolJat

4eret epud upsJeq 3uu,{

latqo

u.(urele8req 1n1r eznrlsrred

quppu rsuuuosod

'rsuuuoser

ruue8ueu

ue{B{nrue>lrp

e,(uurr1 Surlued

'ueun8ueq

u>Irlsn>Ie

uululedureur leus

BpEd

esnuery

6

redueg etapul

$ung

uep

qeg 1

i i

!: .:

:l a! ar

i:i;lx,:li:e1,ffiffi

rsuuuoseu'9'I

(20)

tr

1A

Akustika Bangunan

memudahkan pengukuran,

nilai ini kemudian dihitung rialam akar

kuadratnya, sehingga

nilainya

selalu

positif" Bunyi

yang sangat keras hanya menghasilkan tekanan

di

udara sebesar-besarnyaA,TOT

Pa' Angka ini-pun menunjukkan bahwa pengukuran

dengan sound

pressure tidak akan

mudah

dilakukan,

sebab

juga

menggunakan

nilai yang

amat kecil.

r.7. Hubungan antara Intensitas dan Tekanan

Intensitas suatu bunyi berbanding secara proporsional dengan kuadrat tekanannya dan dapat dituliskan

dalam persamaan sebagai berikut:

Dengan:

intensitas

bunyi

lWatt/m2)

tekanan

bunyi

(Pa)

kerapatan

material

(kg/m31

kecepatan

bunyi

(m/det)

Pada bagian sebelumnya telah dibahas mengenai ambang batas frekuensi yang mampu didengar

telinga

manusia. Selanjutnya hubungan antara

intensitas dan

tekanan

alian menunjukkan

adanya

ambang batas

bunyi

yang dapat didengarkan telinga manusia,

diukur

dengan

tingkat

kekuatan bunyi.

Ambang

batas

bawah (threshold of hearing)

adalah

bunyi terlemah yang

dapat

didengar

telinga

manusia pada

kondisi

normal.

Angka

ambang batas bawah

ini seringkali

sedikit berbeda

bagi

setiap

individu. Biia diukur

dalam intensitas, ambang batas bawah manusia berada pada 1.10-12 Watt/m2,

sedangkan

bila diukur

dalam tekanan, ambang batas bawah manusia berada pada 2.10"-s pa.

Selain ambang batas bawah, manusia

juga memiliki

ambang batas atas (threshold of

pain), yaitl

bunyi

terkeras yang mampu didengarkan tanpa menirnbulkan rasa sakit

di

telinga.

Bunyi

yang amat

keras

tentu

saja membuat

nyeri

pada indera pendengaran dan bagian tubuh lainnya. Ambang batas

atas manusia yang

diukur

dengan intensitas berada pada 100 WatUm2 sedangkan

bila diukur

dengan

tekanan berada pada 200 Pa.

Pada pengukuran intensitas

bunyi

dengan menggunakan tekanan,

dikenal

istilah sound pressure

level (SPL), yaitu nilai yang menunjukkan perubahan tekanan di dalam udara karena adanya perambatan

gelombang

bunyi.

SPL

diukur

dalam skala dB dengan mengacu pada standar tertentu (biasanya yang

dipakai

adalah

20

pPa).

SpL

= 20 bg!-

Po

level

(dB)

Pa atau bars

(1

Pa

=

10 pbars)

(20

pPa)

Beberapa

model

pengukuran

tingkat

kekuatan

bunyi yang telah

dibahas pada

bagian

sebelumnya

menunjukkan bahwa pada

beberapa

hal,

pengukuran

menjadi tidak nyaman dan sulit

dilakukan

karena menggunakan angka-angka

yang terlalu kecil, demikian pula

pengukuran

tingkat

kekuatan

bunyi

dengan bantuan ambang bawah dan ambang batas atas telingapun tidak selalu mudah dilakukan

karena terlalu

jauh

selisihnya, yaitu

dari

1

x

10-12 Watt/m2 sampai 100 Watt/m2, atau dari 2

x l0-5

pa

sampai 200 Pa.

l=!-

2

pv (3)

I= p-

p-

V=

(4) Dengan:

SPL =

sound pressure

p =

tekanan dalam

Po =

tekanan acuan

r.8. DeciBell (dB)

(21)

uem8uepued qe,lAeq s€leq Suequry

rrsepreq ur8ue '3uuue] Suef

usaq

Iururou uede:iecre6

{slralJeq wEuep uederycra6

u,(uurnurn nqep lope,{ued

urseprtr

uppl

u€l?duarad 4olo4

uelefteq rde ele;ey

qnpe8 8ue,{

1r:qe6

qnpe8 8ue,(

{llo{sig

qnpu8

leue

8ue,(

lttolstq

sepuel P33uI]

tuuq.iel leaPsed

uere8uepued sule seleq Sueqruy

'p's

0I

0 OZ

09 'p's

0t

09 AL 08 06 001

0il

OZT

0gI

O'I

20000'0 2000'0 200'0 z0'0 CU Z

OZ

ooz

uBBpBa{

qoluoJ (sp)

Io^a.I punos (u4)

a.rnssa.r4 punos

(gp utnpp) Dsnuow uruo?uapuad

sotoq

SuoEuy'Z'I

IeqBJ

'erueued

ilunq uep

uelod qrqal

qe8ueles

{e{

nEtE suro>l

qlqel

enp u,(uqnSSunses

Iu{

3ue.(

unpe>1 r.(unq ue>IJBBuepuaIrI uu>Iu

Elsnustu u8uqal

nleur

0I 'gp

epeqroq Sued r,(unq

enp

Eirqcde BpE

'ryuqur8oy

ue8urpuzqred leporu

uu{BunSSueru ue8ue(I

t 'gp

qrsros

DIqo{

upe

lpefua1 ruuq lerruou €ffoes

uu>lBSBJrp

ledep 8ue.{ uaepeqred 'uunlnuep

unuIEN

I 'gp

IrJa{Jot r{rslles u€8uap r,(unq

nlens ueepoqred uB{BSBroIu

tudep

Ieuilou

BISnuBru

u8ullal .Z'I

IEqEJ

eoed ue>l.ruqruu8rp

uueurre8uqes '.ru8ueprp ndrueru 8ue,t

r,(unq

ualen{a{

LrEp sBlB

qe,&eq suluq uep

Sueqrue rrrqele8ueru

{nlun

ersnuBr-rr uu>p{upnrueur

gp

u?nl€s ue8uop r,(unq

uulen{e{

uerruln8ued

'gp

rrrutep

r(unq

uurnlnBuad

uuqtqusa4 1e13uq ue{unJnuotu

8ue,(

.roqe;

u,(uepe

uup

sedel.ral

'Epeqreq 8uu.(

ueuulot Isrpuo{

epud r,(unq de4-dep

{Itsual{uJe{

ueupaq:ed

e,(uepy

'Z

'rrl{e,4s dutlcs lsenDlng ruele8ueru e,(uutnrun

ilunq ueuelol

?A\qeg 'I

:JoryuJ uped Sunlue8raq uu8uudul rp

redrunftp euuurcSeqes

ue8urstqel

1a13up p33un1

u13uu

euerel

1uls 1p uu4uun8rp qrseru

..u€BJlryed,, e1e;1 'Btuus

8uE{

qnru8ued ue8uep ueBuISIqo{

1n13uri uueJplJad

ueSuop uEtIu>IJeg

lnqasJel

0t gp

e/hquq

uurynfunue{u

u8nl

Suqued UDI€g

'ud

g90'0 Jpseqes ueue{el ue8uep

€ruBS

ztuclnel11 uep

6_0I JBSeqes sullsuelul

ue8uep UIUBS

0L 'qotuoc

gp

ru8eqag 'uenles

uep

u€Jn>ln tuulep

?peqJaq :Bpoq.Iaq

Suuf tue DIIIrureu

etues 3u?,(

e43uu

tnpleru

uerrr>ln8ued Ieporu

€npa{

qelo

un11n[un1rp

8uu,(

IenDIB

uzuu{el uup

IEnDIe

sellsualui

'e,(u;uueqes

r>1sau'i.(unq

uulun{o{

1e13up uurn4n8ued

Jepu?ls te8uqes

Ie{€dp

qtqus u.(uenp-Bnpo) 'Q)toqsatqj

Suuoaq) e,(uqupueral 1a,tay

wSeqes

0 gp

uz>lslsuq:eq 8uu,,(

ucrnln8uad Ispour

qulupe

11 undneu ueleunSSuau

erec

uernln8ued

'upaqJeq 8rre,{

uBIEp

uee1e,(ue>1

rp

'uu3uudul

,lds {luq

11sey1

uelSurpueqredrp Sued Ie^\B uep Jltpie

ueue>lol

-td

zd uep

uulSurpueqradrp 8uu,{

t,{unq

1e,,'re

uep JIq>lE

sellsuelul

11

=

z1 uep

(gp)

r,(unq setlsuetul qelepe

=

7I

:ueBueq

orSoloI

-

TI

:ln{Faq

rc8eqes qelupu

uuluun8rp

8uu,(

ueuruusre6 '(leqtsap

sIInlIp

tuntun

u;uces 8ue,()

fiaflcap

ueues

ruelup Suntrqrp e.(ulnluules uup

ryrulrreSol

tuelsls

ue8uep umlrulullp

riir uu8urpueqrad 'ueur?{atr rBlru

Bnp e;e1uu

undneu

selrsualul I€lIu

uruluu edruoq Bnp

ledep 'te1ru enp

eJulue

uu8upueqrad nelu

lp

orsuJ ruetsrs ue8uep

uernln8ued

lepour I{EIIu>Iudtp 'n1r

eueJu{

qelo

esnuery

lL

rebueq ercpu1 uep

dung

qeg

I

(E)

( td\

1l

,[t,Jo'to'ol

T =

(22)

12

Akustika Bangunan

Tabel 1.3. Perbedaan tingkat

teling.a manusia (Stein, dkk,

kekuatan bunyi dan penerimaan

1986 dan McMullan,

l99l)

Perbedaan dua sumber bunyi Penerimaan telinga

+/-l

dB

+/-3

dB

+/-6

dB

+l-7

dB

+10dB

-10

dB

+20dB

-20

dB

Tidak terlalu berbeda

Mulai dapat dibedakan

Dapat dibedakan cukup jelas

Dapat dibedakan dengan jelas

Dua

kali

lebih keras

Setengah kali lebih pelan

Empat

kali

lebih keras

Seperempat

kali

lebih pelan

r.g. Phon Scale

Telinga

manusia

mampu

mendengar

bunyi

pada batas

20 Hz hingga 20 KIlz. Namun

demikian,

telinga sesungguhnya

tidak

sensitif pada semua frekuensi dalam batas tersebut. Telinga sangat sensitif

pada

frekuensi 3000 Hz - 4000 Hz

dan

kurang sensitif

pada

bunyi-bunyi frekuensi

rendah. Pada

frekuensi sensitif, dalam keadaan tertentu manusia bahkan mampu mendengar

bunyi

pada kekuatan

-5 dB. Telinga

melakukan respons terhadap

bunyi

secara khusus sesuai

frekuensi yang

muncul.

Respons

ini

berupa mekanisme dengar/getar yang berbeda agar

telinga menjadi lebih sensitif

pada

bunyi-bunyi yang

sebenarnya kurang

jelas.

Sebagai

contoh, ketika

mendengar

bunyi

berfrekuensi

rendah,

telinga

akan melakukan mekanisme tertentu agar dapat mendengar

lebih baik.

Sebaliknya,

telinga

juga

akan menurunkan

tingkat

sensitivitas pada

bunyi-bunyi yang

membuat

telinga

terlalu

sensitif.

Respons telinga yang berbeda sesuai frekuensi

bunyi

yang muncul

ini

menghasilkan

grafik

yang

tidak

linear

(gemaris). Sebuah tes telah dilakukan terhadap batas-batas tertentu. Tes

ini

menghasilkan

serangkaian kurva yang disebut

"equal

loudness level

contours"

atau

disebutjuga sebagai"Fletcher-

Munson equal loudness

contours",

yang

diambil

dari nama dua

peneliti

utama yang mengadakan tes

ini. Kurva ini telah

distandarkan secara

internasional

sebagai

kurva

referensi

untuk

menunjukkan

respons

telinga nonnal

pada

tingkat

kekuatan

bunyi

tertentu pada frekuensi tertentu.

Sebagai pedoman, berhubung 0 dB yang dijadikan acuan untuk mengukur intensitas atau tekanan

bunyi

pada threshold

of hearing

muncul pada

frekuensi

1000

Hz,

maka keseluruhan

kurva

dan data

yang muncul mengacu pula pada frekuensi

ini

dengan menggunakan skala

phon

Qthon scale). Phon

scale

dapat

diartikan

sebagai

tingkat

kekerasan

bunyi

pada

frekuensi tertentu yang

sama dengan

tingkat dB pada frekuensi 1000 Hz pada kontur atau kurva tersebut. Sebagai contoh, cennati Gambar

1.9,

bunyi

dengan

tingkat 60 dB

dirasa

lebih

keras,

yaitu

dalam

tingkat 60

phon,

bila

berada pada

frekuensi

1000 Hz, namun dirasa

lebih

lemah/pelan, yaitu hanya 30 phon ketika frekuensinya 50 Hz.

Perbedaan

ini diakibatkan oleh

berbedanya

respons telinga terhadap frekuensi tertentu,

meski

sebenarnya

bunyi yang muncul

sama-sama pada

tingkat SPL 60

dB.

Gambar 1.9

juga

menunjukkan bahwa

telinga

manusia

kurang sensitif

pada frekuensi rendah,

terutama pada

tingkat SPL yang

amat rendah.

Kumpulan kurva

tersebut

juga

menunjukkan bahwa

pada

tingkat

SPL

45 dB

sampai 85

dB

dan

kelompok frekuensi

150

Hz

sampai 6000

Hz,

kurvanya

berkontur hampir rata. Hal ini

menunjukkan bahwa respons

telinga juga

mendatar secara

efektif.

Telinga manusia merespons sangat

ekstrim

pada

tingkat

SPL yang

terlalu

rendah dan

terlalu tinggi

(pada frekuensi

di bawah

150

Hz

dan

di

atas 6000 Hz).

1.1o. Sound Weighting

Respons telinga yang berbeda-beda terhadap bunyi pada frekuensi tertentu akhirnya mengelompokkan

bunyi-bunyi dalam bobot tertentu,

sesuai kesan

atau

sensasi

yang diterima oleh telinga.

Dalam

bahasa

Inggris,

metode

ini

disebut sound

weigthlng.

Pembobotan

bunyi

dibedakan menjadi:

I

L.-

Gambar

Gambar  1.1  Terjadinya bunyi dan  perambatannya  (Stein,  dkk,  1986) bu  nyi
Gambar  1.6. Perbandingan  wujud  gelombang  sinus
Gambar  '1.7  .  Perambatan  gelombang  bunyi  pada  medium  udara  sesungguhnya  tidak  lurus  namun
Tabel  1.3. Perbedaan  tingkat
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait