• Tidak ada hasil yang ditemukan

amalan amalan di bulan syawal

N/A
N/A
Rijal Rizkillah2

Academic year: 2024

Membagikan "amalan amalan di bulan syawal"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Khutbah akhir syawal 2023

انَسِفُنْأَ رِوْرُشُ نْمِ هِللابِ ذُوْعُنْوْ هُرُفُغْتَسِنْوْ هِنَيْعُتَسِنْوْ هُدُمَحْنْ هِلل دُمَحْلا !نَّ

إِ

هِل يَدِاهَ لاَفَ لْلضْيُ نْمِوْ هِل !لْضْمِ لاَفَ هِللا هُدُهْيُ نْمِ انَلامَعْأَ تِائَ/يْسَوْ

هُدُبْعْ 2ادُ!مَحْمِ !نَّأَ دُهْشُأَوْ هِل كَيُرُشُ لاَ هُدُحْوْ هِللا! لاَإِ هِلإِ لاَ نَّأَ دُهْشُأَوْ

هِلوْسَرِوْ

نَّوْمَلسِ6مِ متَنْأَوْ! لاَإِ !نْتُوْمَتُ لاَوْ هِتُاقَتُ !قَّحْ هِ;للا اوْقَ!تُا اوْنَمِآ نْيُذِ!لا اهْ6يُأَ ايُ

اهْجَوْزَ اهْنَمِ قَّلخَوْ Aةٍدُحْاوْ Aسٍفُ!نْ نْ/مِ مكُقَلخَ يَذِ!لا مكُ!بِرِ اوْقَ!تُا سُا!نَلا اهْ6يُأَ ايُ

!نَّإِ مَاحْرِلأَاوْ هِبِ نَّوْلءاسِتُ يَذِ!لا هِ;للا اوْقَ!تُاوْ ءاسِنْوْ 2ارُيْثِكَ2 لاَاجَرِ امَهْنَمِ !ثَّبِوْ

2ابْيْقِرِ مكُيْلعْ نَّاكَ هِ;للا مكُلامَعْأَ مكُل حْلصْيُ 2ادُيُدُسَ2 لاَوْقِ اوْلوْقِوْ هِ!للا اوْقَ!تُا اوْنَمِآ نْيُذِ!لا اهْ6يُأَ ايُ . 2امَيْظِعْ2ازَوْفَ زَافَ دُقَفَ هِلوْسَرِوْ هِ!للا عْطِيُ نْمِوْ مكُبِوْنْذُ مكُل رُفُغْيُوْ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah kali ini, khatib berwasiat kepada para jama’ah sekalian pada umumnya dan kepada diri khatib sendiri khususnya, agar kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan- Nya. Karena, peningkatan iman dan takwa sejatinya dapat diperoleh dengan dua cara tersebut, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana hadist nabi SAW:

ةيْصْعُمَلابِ صقَنَيُوْ ةعْاطِلابِ دُيُزيُ ،صقَنَيُوْ دُيُزيُ نَّامَيُلإا

Iman itu naik turun. Naik (bertambah) dengan keta’atan dan turun (berkurang) dengan maksiat

Dan tentunya, shalawat serta salam semoga selalu tercurah tak henti-hentinya kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya dan para sahabatnya.

Jamaah jumat rahimakumullah..

Sudah hampir tiga pekan kita semua berpisah dengan bulan Ramadhan. Ia telah pergi, dan kita tidak tahu apakah masih diberi kesempatan oleh Allah untuk berjumpa kembali dengannya atau tidak. Sebab, kematian tidak ada yang tahu kapan datangnya. Bisa saja, ia lebih dahulu menjemput kita semua sebelum datangnya bulan Ramadhan yang akan datang.

Oleh karena itu, sebelum kematian itu datang, tidak ada yang bisa kita persiapkan selain terus istiqamah dan konsisten dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt, berusaha untuk meningkatkan iman dan takwa, berbuat baik kepada sesama, meninggalkan semua perbuatan- perbuatan yang tidak diridhai oleh-Nya. Dengan upaya dan usaha tersebut, maka kita semua insyaAllah akan tergolong sebagai hamba yang akan mendapatkan ridha dari Allah swt.

Perlu diketahui bahwa ibadah tidak semestinya dilakukan hanya sesaat di suatu waktu. Seperti ini bukanlah perilaku yang baik. Para ulama pun sampai mengeluarkan kata-kata pedas terhadap orang yang rajin shalat –misalnya- hanya pada bulan Ramadhan saja. Sedangkan pada bulan-bulan lainnya amalan tersebut ditinggalkan. Para ulama kadang mengatakan,  “Sejelek- jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun”. Ibadah bukan

(2)

hanya dilakukan pada bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja. Sebaik-baik ibadah adalah yang dilakukan sepanjang tahun.

Asy Syibliy pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?”

Beliau pun menjawab, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.”

Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan, sepanjang tahun dan jangan hanya beribadah pada bulan Sya’ban saja. Kami kami juga dapat mengatakan,

”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya beribadah pada bulan Ramadhan saja.

[1]

Tanda Diterimanya Suatu Amalan

Saudaraku … Perlulah engkau ketahui bahwa tanda diterimanya suatu amalan adalah apabila amalan tersebut membuahkan amalan ketaatan berikutnya. Di antara bentuknya adalah apabila amalan tersebut dilakukan secara kontinu (rutin). Sebaliknya tanda tertolaknya suatu amalan (alias tidak diterima), apabila amalan tersebut malah membuahkan kejelekan setelah itu. Cobalah kita simak ungkapan para ulama yang mendalam ilmunya mengenai hal ini.

Sebagian ulama salaf mengatakan,

اهَدُعُبِ ةئَ/يْ!سِلا ةئَ/يْ!سِلا ءازجَ نْمِوْ ،اهَدُعُبِ ةنَسِحْلا ةنَسِحْلا بِاوْثَ نْمِ

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”[3]

Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan membawakan perkataan salaf lainnya, ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan, namun malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ni adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”[4]

Pentingnya Beramal Kontinu (Rutin), Walaupun Sedikit

Di antara keunggulan suatu amalan dari amalan lainnya adalah amalan yang rutin (kontinu) dilakukan.

Amalan yang kontinu –walaupun sedikit- itu akan mengungguli amalan yang tidak rutin –meskipun jumlahnya banyak-. Amalan inilah yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala. Di antara dasar dari hal ini adalah dalil-dalil berikut.

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam  bersabda,

!لْقِ نَّإِوْ اهْمِوْدِأَ ىلاعُتُ هِ!للا ىلإِ لِامَعْلأَا 6بُّحْأَ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”

’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [5]

Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

!لْقِ نَّإِوْ هِمِوْدِأَ

Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”[6]

(3)

Salah satu upaya untuk meningkatkan iman dan takwa, serta menjadi ibadah yang sangat disenangi oleh Allah swt adalah puasa. Dengan berpuasa, seseorang akan memiliki derajat istimewa dan balasan yang istimewa pula dari Allah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah dalam salah satu haditsnya, yaitu:

هِمِاعُطَ كُرُتَيُ امَ!نْإِ هِبِ يَزجَأَ انْأَوْ يل وْهْفَ مَايْ/صْلا !لاَإِ هِل مَدِآ نْبِا لْمَعْ 6لْكَ

يلجَأَ نْمِ هِبِارُشُوْ

Artinya, “Semua amal ibadah manusia adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu hanya untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan langsung membalasnya. Ia meninggalkan makan dan minumnya semata untuk-Ku.” (HR Bukhari dan Ahmad).

Berdasarkan hadits tersebut, puasa merupakan ibadah privat yang hanya diketahui oleh Allah swt dan orang yang menjalaninya semata. Karenanya, puasa menjadi satu-satunya ibadah yang paling minim bercampur dengan sifat riya (ingin dipuji), sebab dimensi puasa adalah niat dalam hati, bukan gerakan anggota badan, sebagaimana ibadah lainnya.

Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Bulan Syawal ini merupakan bulan yang tepat bagi kita semua untuk kembali merasakan nikmatnya ibadah puasa. Kita semua dianjurkan oleh Rasulullah untuk melakukan puasa selama enam hari pada bulan Syawal, bahkan pahala yang akan didapatkan darinya sangat banyak, dan setara dengan puasa selama satu tahun. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh nabi dalam salah satu haditsnya, yaitu:

رُهَ!دُلا مَايْصْكَ نَّاكَ Aلِا!وْشُ نْمِ اcتَسَ هِعُبْتُأَ !مثَ ،نَّاضْمِرِ مَاصَ نْمِ

Artinya, “Barangsiapa puasa Ramadhan, kemudian ia sertakan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR Muslim).

Selain segudang pahala yang akan Allah berikan, puasa ini juga bisa menjadi tanda-tanda diterimanya puasa di bulan Ramadhan. Artinya, orang yang mengerjakan puasa enam hari di bulan Syawal menunjukkan bahwa puasanya selama Ramadhan diterima oleh Allah swt. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif mengatakan:

لْصَوْتُ نَّأَ اهَ/دِرِ ةمِلاَعْ وْ اهَدُعُبِ Aةعْاطِبِ لْصَوْتُ نَّأَ ةعْا!طِلا لِوْبْقِ ةمِلاَعْ

ةنَسِحْلا دُعُبِ ةئَ/يْ!سِلا حْبْقِأَوْ ةنَسِحْلا دُعُبِ ةنَسِحْلا نْسِحْأَ امِ Aةيْصْعُمَبِ .

Artinya,

“Tanda-tanda diterimanya ketaatan adalah dengan konsisten terus beribadah setelahnya. Dan tanda-tanda ditolaknya ketaatan adalah dengan melakukan kemaksiatan setelahnya. Betapa mulianya suatu ibadah yang dilakukan setelah ibadah yang lain, dan betapa jeleknya sebuah keburukan yang dilakukan setelah ibadah.”

Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Selain menjadi tanda-tanda diterimanya ibadah puasa di bulan Ramadhan, puasa Syawal juga bisa menjadi penutup kekurangan-kekurangan selama bulan mulia tersebut. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab Lathaiful Ma’arif, bahwa puasa

(4)

Syawal memiliki banyak faedah, di antaranya adalah akan menjadi penyempurna puasa Ramadhan, sehingga nilai pahalanya bisa setara dengan puasa setahun.

Puasa Syawal juga bisa menjadi penutup kekurangan-kekurangan puasa selama Ramadhan. 

Puasa Ramadhan yang kita lakukan selama satu bulan penuh belum tentu sempurna, dan tentunya akan ada banyak sekali kekurangan-kekurangan yang bisa menghilangkan kesempurnaan puasa. Oleh karena itu, puasa Syawal menjadi pilihan yang sangat tepat untuk menutupi semua kekurangan tersebut. Dengan puasa Syawal, itu menunjukkan bahwa kita sedang berupaya untuk meraih kesempurnaan Ramadhan.

Demikian khutbah Jumat perihal menutup kekurangan puasa Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Semoga bisa membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua, dan digolongkan sebagai hamba yang istiqamah dalam menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amin ya rabbal alamin.

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Demikianlah khotbah Jumat kali ini, semoga kita semua bisa mengambil manfaat dari apa yang disampaikan dan mudah-mudahan Allah SWT selalu merahmati dan memberkahi apa- apa saja yang sudah kita lakukan, Aamiin allahumma aamiin.

رُكَ/ذِلاوْ تِايُلآا نْمِ هِيْفَ امَبِ مكَا!يُإِوْ ينَعُفُنْوْ ،ميْظِعُلا نَّآرُقَلا يفَ مكُلوْ يل هِللا كُرِابِ

ميْلعُلا عْيْمَ!سِلا وْهَ هِ!نْإِ َهِتُوْلاَتُ مكُنَمِوْ /ينَمِ لْ!بْقَتُوْ ميْكُحْلا . نْيْنَمِؤْمَلاوْ تِامَلسِمَلاوْ نْيْمَلسِمَلا رُئِاسِلوْ مكُلوْ يل هِللا رُفُغْتَسَأَ اذِهَ يلوْقِ لِوْقِأَ

تِانَمِؤْمَلاوْ

 

ميْحْ!رُلا رِوْفُغْلا وْهَ هِ!نْإِ هُوْرُفُغْتَسَافَ . Khutbah Kedua

.

هِللا! لاَإِ هِلا لاَ نَّأَ دُهْشُأَوْ هِنْانَتَمِاوْ هِقَيْفَوْتُ ىلعْ هِل رُكُ 6شُّلاوْ هِنْاسِحْإِ ىلعْ هِلل دُمَحْلا

ىلإِ ىعْا!دُلا هِلوْسَرِوْ هُدُبْعْ ا2دُ!مَحْمِ انْدُ/يْسَ !نَّأَ دُهْشُأَوْ هِل كَيُرُشُ لاَ هُدُحْوْ هِللاوْ

هِنْاوْضْرِ

 

!نَّأَ اوْمَلعْاوْ ،هُوْقَ!تُافَ ميْظِعُلا /يلعُلا هِللا ىوْقَتَبِ يسِفُنْوْ مكُيْصَوْأَ ،نَّوْمَلسِمَلا اهْ6يُأَ ايْفَ

هِ!للا !نَّإِ لِاقَفَ ميُرُكُلا هِ/يْبْنْ ىlلعْ مَلاَ!سِلاوْ ةٍلاَ!صْلابِ مكَرُمِأَ ،Aميْظِعْ Aرُمِأَبِ مكَرُمِأَ هِللا : ا2مَيْلسِتُ اوْمَ/لسَوْ هِيْلعْ اوْ6لصَ اوْنَمِآ نْيُذِ!لا اهْ6يُأَ ايُ /يبْ!نَلا ىلعْ نَّوْ6لصْيُ هِتَكُئِلاَمِوْ،

،ميْهَارُبِإِ لِآ ىلعْوْ ميْهَارُبِإِ ىلعْ تَيْ!لصَ امَكَ Aدُ!مَحْمِ لِآ ىلعْوْ Aدُ!مَحْمِ ىلعْ /لْصَ !مهْ!للا

.

ىلعْوْ ميْهَارُبِإِ ىلعْ تَكَرِابِ امَكَ Aدُ!مَحْمِ لِآ ىلعْوْ Aدُ!مَحْمِ ىلعْ كُرِابِوْ oدُيْجِمِ oدُيْمَحْ كَ!نْإِ

oدُيْجِمِ oدُيْمَحْ كَ!نْإِ ،ميْهَارُبِإِ لِآ تِاوْمِلأَاوْ مهْنَمِ ءايْحْلأَا تِانَمِؤْمَلاوْ نْيْنَمِؤْمَلاوْ تِامَلسِمَلاوْ نْيْمَلسِمَلل رُفُغْا !مهْللا  

تِاجَاحْلا يضْاقِ ايْفَ ،تِاوْعْ!دُلا بُّيْجِمِ oبُّيُرُقِ oعْيْمَسَ كَ!نْإِ

مهْللا ،ميْحْرُلا بِاوْتَلا تَنْأَ كَنْإِ انَيْلعْ بُّتُوْ مهْللا ،نْيْمَلاعُلا بِرِ ايُ انَلامَعْأَ لْبْقَتُ مهْللا نْيُرُهْطِتَمَلا نْمِ انَلعُجَاوْ نْيْبِاوْتَلا نْمِ انَلعُجَاوْ ،نْيْمَلاعُلا بِرِ ايُ انْرِوْمِأَ ةٍلاَوْ حْلصَا رِا!نَلا بِاذِعْ انَقِوْ 2ةنَسِحْ ةٍرُخَلآا يفَوْ 2ةنَسِحْ ايْنْ6دُلا يفَ انَتُآ انَ!بِرِ

: هِللا دِابْعْ

(5)

رُكُنَمَلاوْ ءاشُّحْفُلا نْعْ lىهْنَيُوْ lىبِرُقَلا يَذُ ءاتَيُإِوْ نَّاسِحْلإاوْ لِدُعُلابِ رُمِأَيُ هِـ!للا !نَّإِ

نَّوْرُ!كَذِتُ مكُ!لعُل مكُظِعُيُ ۚيغْبْلاوْ

ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ ۚ

رُبْكَأَ هِللا رُكَذِلوْ ،مكَدِزيُ هِمَعُنْ ىلعْ هُوْرُكُشُاوْ ،مكَرُكَذِيُ ميْظِعُلا هِللا اوْرُكَذُافَ

Referensi

Dokumen terkait

Syarat wajib shalat Jumat adalah ketentuan-ketentuan yang harus dilakukan sebelum shalat Jumat sehingga wajib bagi seorang muslim untuk melaksankan shalat

Adapun transparansi laporan keuangan masjid yang menjadi objek penelitian, berupa pemberian informasi melalui informasi ke jamaah pada saat seblum menjalankan shalat

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dari 28 Jamaah Tabligh yang mengikuti shalat berjamaah sekarang menjadi 37 orang Jamaah Tabligh yang mengikuti shalat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah الله وحمر berkata: “Shalat Ragha‟ib adalah bid‟ah menurut kesepakatan para imam agama, tidak disunnahkan oleh Rasulullah

“Dan tidaklah ada seorang yang berpuasa di awal Kamis bulan Rajab, kemudian shalat di,antara Maghrib dan ‘Atamah (Isya)- yaitu malam Jum’at- dua belas

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menjaga spirit ibadah adalah dengan senantiasa bergaul dengan orang-orang yang suka melakukan ketaatan dan kebaikan serta

Berikut beberapa sayarat wajib shalat Jumat yaitu : a Islam b Baligh dewasa, anak-anak tidak diwajibkan shalat jumat c Berakal, orang gila tidak wajib shalat jumat d Laki-laki,

Hal ini dikecualikan: 1 shalat berjamaah di masjid walau sedikit jamaah lebih afdal dari shalat berjamaah di rumah yang banyak jamaah, 2 shalat berjamaah di masjid terdekat lebih afdal