• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ANALISA DAN PEMBAHASAN "

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

ANALISA DAN PEMBAHASAN

5.1 Total Beban Kerja Mental

Pengukuran beban kerja mental pada penelitian ini menggunakan kuesioner NASA-TLX. Pemilihan kuesioner ini didasari pada alasan bahwa kuesioner ini lebih terperinci pada kebutuhan pengukuran beban kerja mental.

Tahapan yang dilakukan dalam penggunaan kuesioner NASA-TLX yaitu adanya penjelasan dimensi beban kerja mental yang akan diukur, pembobotan, pemberian rating, dan penentuan Weighted Workload (WWL) dan interpretasi hasil nilai

skor. Interpretasi hasil nilai skor dibagi ke dalam tiga kategori, untuk nilai skor >

80 menyatakan bahwa beban pekerjaan kerja berat, nilai skor 50-70 menyatakan bahwa beban pekerjaan sedang, dan nilai skor <50 menyatakan bahwa beban pekerjaan rendah. Rata-rata WWL yang telah didapat bisa digunakan sebagai kategori nilai rata-rata WWL untuk beban kerja mental (Fithri, 2017).

Responden pada penelitian beban kerja mental berjumlah 25 responden dengan karakteristik jenis kelamin dan lab komunitas. Karakteristik jenis kelamin menghasilkan nilai sebesar 60% untuk perempuan dan 40% untuk laki-laki.

Sedangkan karakteristik berdasarkan lab komunitas menghasilkan nilai sebesar 8 responden untuk lab OSIK, lab LSIPRO sebanyak 6 responden, lab SMI sebanyak 6 responden, dan lab RSKE sebanyak 5 responden.

Hasil beban kerja mental menunjukan bahwa 13 dari 25 responden memiliki klasifikasi beban kerja mental sedang yaitu dengan nilai 50 sampai dengan 70 artinya 52% responden setuju bahwa pekerjaan dosen mengajar pada saat pembelajaran daring di Jurusan Teknik Industri Untirta dengan tugas dan risiko yang didapat yaitu cukup sedang sehingga dapat memungkinkan untuk menambah stres kerja. Disamping itu, terdapat 6 responden dengan hasil beban kerja mental berat yaitu dengan nilai > 80 artinya 24% responden setuju bahwa beban pekerjaan mental pekerjaan dosen mengajar pada saat pembelajaran daring

(2)

di Jurusan Teknik Industri Untirta dengan tugas dan risiko yang didapat yaitu cukup berat. Serta pada 6 responden juga menghasilkan beban kerja mental dengan nilai <50 artinya sebanyak 24% responden setuju bahwa beban pekerjaan mental pekerjaan dosen mengajar pada saat melaksanakan pembelajaran daring di Jurusan Teknik Industri Untirta dengan tugas dan risiko yang didapat yaitu ringan.

Berdasarkan nilai hasil beban kerja mental yang didapat, sejalan dengan penelitian (Ella dkk, 2017) yang menyatakan bahwa beban kerja mental berpotensi menjadi sumber stres di tempat kerja.

5.2 Total Stres Kerja

Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan menggunakan pengukuran kuesioner ISMA pada 25 responden pada saat pembelajaran daring dilaksanakan, didapatkan hasil bahwa mayoritas Dosen PNS Jurusan Teknik Industri memiliki stres kerja dengan 2 kategori yaitu berat dan sedang. Stres kerja dengan kategori berat sebanyak 15 orang atau dengan presentase sebanyak 60%. Sedangkan stres kerja dengan kategori sedang sebanyak 10 orang dengan presentase 40%.

Stres kerja yang ditemukan pada Dosen Jurusan Teknik Industri Untirta adalah bervariatif dan dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab yang dimana ini terjadi karena faktor individu itu sendiri (internal) misalnya berupa emosi tidak stabil, perasaan tidak tenang, suka menyendiri, sulit tidur, merokok yang berlebihan, tidak bisa rileks, cemas, tegang, gugup, tekanan darah meningkat, dan mengalami gangguan pencernaan, sedangkan faktor lingkungan kerja yang ada (eksternal) yaitu berupa kondisi fisik, beban kerja, jam kerja, kondisi bising, tuntutan pekerjaan. Hal tersebut mengacu pada kuesioner ISMA yang ditujukan kepada responden terdapat sebanyak 25 macam pertanyaan yang menjadikan salah satu faktor penyebab internal dan eksternal terjadinya stres kerja pada responden.

Hal ini selaras dengan teori Munandar pada penelitian (Rizky, 2017) yang mengemukakan pendapat tentang faktor penyebab stres kerja diantaranya tuntutan tugas, peran individu organisasi, penembangan karir, hubungan dalam pekerjaan, struktur dan iklim organisasi, tuntutan dari luar organisasi, dan ciri-ciri individu.

Pada penelitian ini, didapatkan mayoritas responden cenderung mengalami stres berat, sejalan dengan yang dikatakan Claire Hayes dalam buku Stress Relief

(3)

for Teacher The “Coping Triangle” bahwa mengajar bisa menjadi pekerjaan yang stressfull, traumatik dan penuh tekanan.

5.3 Faktor Beban Kerja Mental Dan Stres Kerja Paling Dominan

Berdasarkan fenomena yang terjadi pada Dosen Jurusan Teknik Industri pada saat pembelajaran daring, setelah dilakukan penelitian melalui penyebaran kuesioner, menghasilkan nilai yang cukup bervariatif, nilai indikator merupakan salah satu penyebab terjadinya beban kerja mental dan stres kerja responden.

Pada nilai beban kerja mental, dipatkan nilai indikator tertinggi yang memiliki nilai tertinggi dimiliki oleh indikator OP (Own Performance) yang menunjukan seberapa besar Dosen berhasil di dalam melakukan pekerjaannya dan juga tingkat kepuasan dengan hasil kerja yang dilakukan oleh responden tersebut.

Hal tersebut didasari karena pengisian kuesioner responden cenderung merasakan OP (Own Performance) ketika pembelajaran daring dilaksanakan. Pada Jurusan Teknik Industri Untirta, Dosen harus mampu menyelesaikan tuntutan tugas harian seperti menyusun dan merancang materi menyampaikan materi, menjawab pertanyaan mahasiswa, mengkoreksi jawaban mahasiswa dalam satu waktu secara bersamaan sedangkan disisi lain Dosen memiliki tanggung jawab lain selain sebagai tenaga pendidik, misalnya menjabat dalam posisi penting pada struktural organisasi, memiliki pekerjaan tambahan di perusahaan, dan memiliki tanggung jawab dirumah. Sehingga apabila tuntutan tugas dan Dosen tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya secara bersamaan, Dosen tersebut harus meluangkan waktu lebih agar dapat memenuhi tuntutan tugas. Hal inilah yang membuat aspek performansi merupakan aspek yang paling mempengaruhi beban kerja mental.

Stres kerja yang ditemukan pada Dosen Jurusan Teknik Industri Untirta adalah bervariatif dan dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab yang dimana ini terjadi karena faktor individu itu sendiri (internal) maupun faktor lingkungan kerja yang ada (eksternal), mengacu pada kuesioner ISMA yang ditujukan kepada responden terdapat sebanyak 25 macam pertanyaan yang menjadikan salah satu faktor penyebab internal dan eksternal terjadinya stres kerja pada responden.

Berdasarkan hasil tersebut, beban kerja mental mempengaruhi stres kerja

(4)

responden, maka dari itu responden mayoritas cenderung merasakan stres kerja dengan kategori berat dibanding dengan kategori sedang.

Pada penelitian sebelumnya, Ashfort dalam (Ella dkk, 2017) menyatakan bahwa beban kerja merupakan penyebab stres yang signifikan yang memunculkan jenis reaksi psikologi yang merusak dan menyebabkan gejala burnout.

5.4 Pengaruh Beban Kerja Mental Terhadap Stres Kerja

Uji korelasi dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya antara beban kerja mental dan stres kerja pada Dosen PNS Jurusan Teknik Industri Untirta.

Hasil perhitungan korelasi menunjukan adanya hubungan antara beban kerja mental dengan stres kerja. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji korelasi pearson product moment diketahui bahwa ada hubungan beban kerja mental

dengan stres kerja. Nilai signifikansi Sig. (2-tailed) sebesar 0.000 menunjukkan bahwa ada hubungan antara beban kerja mental dengan stres kerja. Sedangkan hasil nilai r tabel dengan signifikansi 5% dan jumlah responden sebanyak 25 adalah 0,396. Kemudian nilai r hitung didapatkan sebesar 0,886 hal ini menunjukan bahwa adanya hubungan atau korelasi antara variabel beban kerja mental dengan stres kerja karena hasil r hitung sebesar 0.886 > r tabel sebesar 0.396. Pada penelitian ini, setelah diinterpretasikan sesuai hasil yang sudah ada, maka dapat disimpulkan bahwa hasilnya memiliki korelasi hubungan positif dan termasuk kategori sangat kuat. Arah korelasi positif menunjukkan bahwa semakin besar beban kerja mental maka semakin besar pula stres kerja.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Miqdad A Kunadi (2013) tentang Hubungan antara Beban Kerja dengan stres pada Dosen Universitas X menyatakan bahwa terdapat nilai signifikan antara korelasi 0,782 > 0,5 yang berarti bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja.

Kemudian berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji regresi linear yang telah dilakukan untuk menguji apakah ada pengaruh variabel independent terhadap variabel dependent. Pada hasil penelitian yang di peroleh dapat dijelaskan bahwa dalam hal ini variabel independent (beban kerja mental) berpengaruh positif secara signifikan terhadap variabel dependent (stres kerja), hal ini dapat di lihat melalui hasil perhitungan yang sudah dilakukan, yaitu didapatkan

(5)

nilai t hitung (47,402) > t tabel (2,069) dengan tingkat signifikan pada tabel sebesar 0,000 yang artinya 0,000 < 0,05. Selanjutnya diperoleh nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,989, hal ini menunjukan bahwa beban kerja mental sebesar 98,9% sementara sisanya sebesar 1,1% . Berdasarkan hasil ini berarti dapat dikatakan bahwa variabel beban kerja mental memiliki pengaruh terhadap stres kerja benar adanya.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Nurmalasari (2013) yang mengatakan bahwa beban kerja berpengaruh postif terhadap stres kerja.

Peneliti ini menemukan pengaruh positif antara beban kerja terhadap stres kerja, sehingga apabila beban kerja meningkat, maka stres kerja meningkat juga.

Referensi

Dokumen terkait

According to Endardo and Subekti (2020) vocabulary is one of the most basic and important pillars in mastering English. The more a person masters vocabulary, the

The teacher and the second years student of SLTPN Ngimbang Lamongan only focuses on how the teacher teaches reading, including the techniques used by the teacher and the