PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
- Manfaat Teoritis
- Manfaat Praktis
TINJAUAN PUSTAKA
- Bajakah Kait-Kait (Uncaria acida (Hunt.) Roxb.)
- Escherichia coli
- Teknik Ekstraksi
- Uji Anti Mikroba
Lebih dari 200 bahan kimia, termasuk alkaloid indol, triterpen, flavonoid dan fenilpropanoid dan lainnya, telah diisolasi dari genus Uncaria (Zhang et al., 2015). Menurut Zhang dkk. mencapai penelitian fitokimia pada tahun 2015 yang telah dilakukan, lebih dari 200 bahan kimia yang telah diisolasi. Penelitian Dia et al., (2015) menunjukkan senyawa yang diketahui berperan dalam menghambat pertumbuhan bakteri antara lain alkaloid, triterpen dan flavonoid.
Riyanto et al., (2013) dalam Dia et al., (2015) menyatakan bahwa senyawa triterpenoid pada tumbuhan berperan sebagai pelindung untuk mengusir serangan serangga dan mikroba. Akibat perbedaan kepolaran antara komponen lipid dan DNA dengan gugus alkohol pada senyawa flavonoid, maka akan terjadi reaksi sehingga struktur lipid DNA bakteri sebagai inti sel bakteri akan mengalami kerusakan dan lisis (Juariah et al., 2020). Banyaknya kasus infeksi ini berhubungan dengan konsumsi buah, sayur dan air yang terkontaminasi feses sapi (Rananda et al., 2016).
Komposisi terpenting dalam media ini adalah karbohidrat dan protein yang terdapat pada ekstrak daging dan pepton sesuai kebutuhan sebagian besar bakteri (Thohari et al., 2019). Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat aktif dari padatan atau cairan, pemisahan ini dapat terjadi dengan bantuan pelarut, sehingga zat tersebut terlepas dari komponen lain yang tidak dapat larut dalam pelarut (Prayudo et al., 2015). Penyortiran dilakukan dengan cara: memisahkan tanah dan kerikil, rerumputan, bahan tanaman lain atau bagian tanaman lain yang tidak terpakai, dan bagian tanaman yang rusak (dimakan ulat, dll).
Menurut Endarini et al., (2016), teknik ekstraksi yang ideal adalah yang mampu mengekstraksi bahan aktif yang diinginkan sebanyak mungkin, cepat, mudah dan hasil yang diperoleh selalu konsisten jika dilakukan berulang kali. Infus hanya membutuhkan waktu singkat untuk proses maserasi bagian tanaman yang direndam air dingin atau air mendidih. Bagian tanaman berupa batang, kulit batang, dahan, ranting dan akar direbus dalam air mendidih dengan volume dan waktu tertentu, kemudian didinginkan dan disaring untuk memisahkan ekstrak dan ampasnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan ekstraksi dengan teknik ini adalah komposisi dan konsentrasi enzim, ukuran partikel bagian tumbuhan yang akan diekstrak, perbandingan padatan terhadap air, waktu hidrolisis dan kadar air partikel. Efektivitas teknik ekstraksi ini sangat tergantung pada kekuatan medan listrik, energi listrik yang digunakan, jumlah pulsa, suhu dan sifat bagian tumbuhan yang diekstraksi. Selain itu, maserasi juga memiliki beberapa kelemahan, seperti prosesnya membutuhkan waktu yang cukup lama, dan proses filtrasi yang kurang sempurna karena hanya mengekstraksi 50% senyawa aktif, serta jumlah pelarut yang digunakan banyak (Na’imah et al. al., 2020).
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
Kerangka Konseptual
Hipotesis (Tentatif)
Penelitian yang dilakukan oleh Saputera et al., (2019) ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi dan menggunakan pelarut etanol 70%. Saputera et al., (2019) menyatakan bahwa kontrol positif dengan ampisilin 10μ, kontrol negatif yang digunakan adalah aquadest 10μ karena tidak berpengaruh sama sekali terhadap bakteri. Bahan yang sudah homogen kemudian disterilkan menggunakan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit (Tanuwijaya et al., 2015).
Hasilnya diidentifikasi dengan mengukur luas daerah bening yang terbentuk di sekitar cakram, kemudian diukur diameter zona hambatnya menggunakan penggaris (Ngazizah et al., 2016). Rinaldi et al., (2017) menyatakan bahwa data penelitian yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah menggunakan aplikasi perangkat lunak yang sesuai dan metode pengolahan data penelitian adalah sebagai berikut. Sedangkan analisis kuantitatif adalah metode yang menggunakan data untuk mendukung pemahaman dan menghasilkan teori baru (Siyoto et al., 2015).
Penghalusan bertujuan untuk memperluas permukaan partikel simplisia sehingga kontak permukaan partikel simplisia dengan pelarut etanol 70% lebih besar dan untuk memudahkan penyerapan pelarut ke dalam simplisia sehingga dapat menarik senyawa yang diduga antibakteri. aktivitas simplisia lebih banyak (Husni et al., 2018). Menurut Wijayanti et al., (2016), maserasi merupakan metode ekstraksi tanpa pemanasan dimana hasilnya dipengaruhi oleh jenis pelarut dan waktu maserasi. Menurut Marselia et al., (2015), zona hambat yang dihasilkan hanya menghambat pertumbuhan bakteri dan tidak membunuh bakteri.
Adanya zona hambat yang terbentuk disebabkan oleh adanya senyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak etanol daun U. Penelitian Dia et al., (2015) menyatakan bahwa senyawa triterpenoid pada umumnya melimpah pada ekstrak etanol. ditemukan pada kulit batang, batang dan akar tumbuhan asli (Bruguiera gymnorrhiza), B. Sehingga menurut hasil penelitian Zhang et al., (2015) hasil penelitian fitokimia yang telah dilakukan pada genus Uncaria memiliki diperoleh lebih dari 200 bahan kimia, salah satunya adalah triterpenoid yang memiliki komposisi antibakteri.
Selain itu, menurut Zeniusa et al., (2019), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi diameter zona hambat pertumbuhan bakteri yaitu kekeruhan suspensi bakteri. Karena perbedaan sifat tersebut, molekul komponen ekstrak menjadi lebih sulit untuk menembus bakteri (Zeniusa et al., 2019). Perbedaan sifat inilah yang membuat molekul komponen ekstrak lebih sulit menembus bakteri (Zeniusa et al., 2019).
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
- Waktu Penelitian
- Tempat Penelitian
Desain Penelitian
Kerangka Kerja (Frame Work)
Instrumen Penelitian
- Alat
- Bahan
Prosedur Kerja
- Alat- Alat Non Gelas
- Pembuatan Simplisia
- Pembuatan Ekstrak Etanol Daun U. acida
- Pembuatan Variasi Konsentrasi Ekstrak dan Kontrol (perlakuan) 20
- Pembuatan Media Nutrien Agar (NA)
- Medium Nutrient broth
- Cara Isolasi Bakteri E. coli
- Pembuatan Suspensi Bakteri E. coli
- Aktivitas Antibakteri Dengan Metode Kirby Bauer
Simplisia yang telah kering dihaluskan hingga halus dengan blender kemudian diayak menggunakan ayakan 60 mesh hingga diperoleh simplisia yang halus. Pembuatan larutan kontrol positif (ampisilin) dengan cara menimbang 500 mg ampisilin, dihaluskan dan dilarutkan dengan 100 ml akuades steril hingga diperoleh konsentrasi 50 mg/ml (Santoso, 2017). Pada penelitian ini perlakuan dilakukan sebanyak 5 kali dengan menggunakan konsentrasi 5 mg/ml, 15 mg/ml, 30 mg/ml, 40 mg/ml, 50 mg/ml.
Cawan petri disterilkan di atas api Bunsen dan dituangkan ke dalam cawan petri steril ± 20 ml dalam aliran laminasi untuk menghindari kontaminasi. Kemudian ambil 1 dosis media NB lalu tanam di media EMB, inkubasi 1 x 24 jam pada suhu 37°C di dalam inkubator. Pewarnaan bakteri berfungsi untuk membedakan bakteri gram positif yang berwarna ungu dan bakteri gram negatif yang berwarna merah.
Suspensi bakteri diencerkan dengan menggunakan NaCl 0,9% steril sampai kekeruhannya setara dengan larutan standar 0,5 McFarland (kultur cair yang kekeruhannya setara dengan 0,5 McFarland memiliki populasi 1 x 10 8 CFU/ml). Suspensi bakteri sebanyak 200 µl dimasukkan ke dalam media NA 20 ml yang telah memadat, mikroba diratakan dengan Drugalsky. Cakram kertas yang berisi larutan uji diletakkan di atas permukaan media agar dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 16-18 jam.
Variabel Penelitian
Teknik Pengolahan Data dan Analisa
Selain itu dilakukan uji antibakteri dengan metode difusi yang ditunjukkan dengan diameter zona hambat di sekitar piringan pertumbuhan bakteri E. Sedangkan zona hambat pada kontrol negatif digunakan sebagai pelarut untuk mengubah konsentrasi ekstrak etanol daun U. Hal ini berarti bahwa zona hambat yang terbentuk selama pengolahan murni disebabkan oleh senyawa-senyawa yang terkandung dalam ekstrak etanol daun U.
Adanya zona bening atau zona hambat di sekitar kertas cakram membuktikan bahwa ekstrak etanol daun U. Pada Gambar 5.3 terlihat zona hambat hasil dari konsentrasi ekstrak yang berbeda yaitu 5 mg/ml, 15 mg/ml, 30 mg/ml, 40 mg/ml dan 50 mg/ml pada pertumbuhan bakteri E Faktor lain yang menyebabkan zona hambat lemah dan sedang adalah jenis bakteri yang digunakan.
Hasil uji statistik dengan uji One Way ANOVA diperoleh p = 0,809, dimana nilai p > 0,05 yang berarti data zona hambat pada E.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Lokasi Penelitian dan Pengambilan Sampel
Hasil Penelitian
- Identifikasi Escherichia coli
- Data Penelitian
Pembahasan
Waktu pengamatan dilakukan dalam waktu 16-18 jam setelah inkubasi karena menurut Riadi (2016) dan Amelia (2020) dalam keadaan normal pertumbuhan bakteri E. Fase pertumbuhan bakteri merupakan fase pembelahan sel bakteri melalui beberapa tahapan. yaitu fase adaptasi bakteri terhadap lingkungan baru (media NA) disebut fase lag. Selanjutnya, fase stasioner terjadi ketika laju pertumbuhan bakteri sama dengan laju kematian bakteri dalam waktu 12-20 jam, dan fase kematian tercapai setelah 20 jam.
Analisis Ekstrak Etil Asetat Akar Kaik-Kaik (Uncaria cordata (Lour.) Merr.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus. Perbandingan pengaruh ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.) dengan metode cakram dan difusi sumuran terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Uji daya hambat ekstrak kulit batang Rhizophora mucronata terhadap pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila, Streptococcus agalactiae dan Saprolegnia sp.
Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Biji Pinang Yaki (Areca vestiaria) Terhadap Bakteri Stapyhlococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa. Kadar hambat minimum (KHM) ekstrak etanol galur bajakah tampala (Spatholobus littoralis Hassk.) terhadap bakteri Escherichia coli melalui metode sumuran. Pemanfaatan tepung kacang hijau (Vigna radiata L.) sebagai media alternatif NA (Nutrien Agar) untuk pertumbuhan bakteri Escherichia coli.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
- Bagi Masyarakat
- Bagi Peneliti Selanjutnya
- Bagi Institusi Pendidikan
Pengaruh ekstrak kulit rambutan terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan hematokrit pada tikus putih yang dipapar asap rokok. Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Daun Pacar (Lawsonia inermis Linn) serta penentuan kadar fenol total dan uji aktivitas antioksidan. Minimum Inhibitory Concentration (MIC) Kadar sampel alang-alang (Imperata cylindrica) dalam etanol menggunakan metode difusi cakram.
Khasiat ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L.) dengan eter dan metanol sebagai antibakteri terhadap Streptococcus agalactiae Penyebab mastitis subklinis pada sapi perah. Identifikasi bakteri Escherichia coli O157:H7 pada daging sapi yang berasal dari RPH Lubuk Buaya. Uji aktivitas antibakteri ekstrak Sargasum polycystum terhadap Vibrio harveyi dan Micrococcus luteus di Pulau Panjang Jepara.
Uji kekuatan perbandingan uji normalitas Bayesian, uji Shapiro-Wilk, uji Cramer-Von Mises, dan uji Anderson-Darling. Analisis kandungan flavonoid total ekstrak kulit batang Bangkok Kedondong (Spondias dulcis) dengan metode spektrovometri UV-VIS. Uji khasiat antibiotik ampisilin dengan ekstrak metanol daun sirih (Piper betle L.) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus.
Pengaruh suhu dan waktu ekstraksi ultrasonik terhadap aktivitas antioksidan ekstrak daun jambu biji (Psidium Guajava L.). Statistik Terapan: Konsep dan Aplikasi SPSS dalam Penelitian Pendidikan, Psikologi, dan Ilmu Sosial Lainnya.