PENDAHULUAN
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Penelitian ini sangat berguna bagi penulis untuk menganalisis dan menjawab kekhawatiran penulis terhadap rumusan masalah dalam penelitian ini. Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat untuk menambah informasi dan pengetahuan mengenai fenomena hukuman kebiri dari perspektif hak asasi manusia. Secara praktis, peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi masyarakat khususnya mahasiswa hukum mengenai hukuman kebiri dalam perspektif hak asasi manusia bagi pelaku pemerkosaan anak (pedofilia).
Kajian Pustaka
Suatu tindak pidana merupakan suatu penjelasan hukum, demikian pula tidak mudah memberikan pengertian atau penjelasan suatu konsep hukum, memberikan pengertian atau pengertian tentang konsep suatu tindak pidana. Yang perlu dikemukakan di sini adalah bahwa pidana merupakan suatu istilah hukum yang mempunyai arti tersendiri dari terjemahan bahasa Belanda “straf” yang berarti “hukuman”. unsur-unsur yang berkaitan dengan tindak pidana antara lain sebagai berikut :. Ada unsur tambahan yang menentukan suatu tindak pidana 2. Unsur subjektif adalah unsur yang melekat pada diri orang yang melakukan tindak pidana, yaitu.
Hukuman dapat diartikan sebagai tahapan penetapan sanksi dan juga tahapan pemberian sanksi dalam hukum pidana. Hukum pidana substantif ini terdiri atas perbuatan-perbuatan pidana yang diurutkan secara berurutan, kaidah-kaidah umum yang dapat diterapkan terhadap perbuatan-perbuatan tersebut, dan ancaman pidana atas perbuatan-perbuatan tersebut. Menurut R Soesilo, yang dimaksud dengan hukuman adalah perasaan tidak menyenangkan (sengsara) yang dijatuhkan hakim dengan pidana terhadap seseorang yang melanggar ketentuan hukum pidana.
Hukuman atau sanksi yang ditetapkan dalam hukum pidana membedakan hukum pidana dengan bagian hukum lainnya. Hukuman atau hukuman yang dijatuhkan kepada seseorang yang melakukan suatu pelanggaran yang diancam dengan pidana;
Metode Penelitian
- Jenis Penelitian
- Pendekatan Masalah
- Sumber Bahan Hukum
- Prosedur Pengelolahan Bahan Hukum
- Pengelolahan dan Analisis Bahan Hukum
Bahan Hukum Primer Bahan hukum primer merupakan bahan pokok penelitian yang diteliti, antara lain: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara untuk Pelaksanaan kebiri kimia, Pemasangan alat pendeteksi elektronik, rehabilitasi dan pengungkapan identitas pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Bahan hukum sekunder Bahan hukum sekunder dapat membantu dalam proses analisa karena berkaitan dengan bahan hukum primer. Dalam penelitian ini bahan hukum sekunder antara lain: putusan pengadilan, buku, majalah, internet dan lain-lain yang berkaitan dengan penelitian ini.
Teknik pengumpulan bahan hukum dalam penelitian ini menggunakan teknik penelitian kepustakaan dengan teknik penelaahan, meneliti bahan dan bahan hukum primer. Studi kepustakaan merupakan suatu teknik yang dilakukan dengan cara menelusuri bahan-bahan atau literatur yang ada seperti statuta, buku-buku, literatur dan jurnal kerja ilmiah. Bahan-bahan hukum yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk uraian-uraian, yang disusun secara sistematis menurut jalannya sidang dan dihubungkan satu sama lain dari segi isinya, sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
Penulis melakukan analisis bahan hukum dengan menggunakan metode analisis kualitatif, yang diuraikan melalui kalimat-kalimat yang menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan skripsi ini, yang kemudian dilakukan penilaian berdasarkan peraturan hukum, teori atau pendapat para ahli, serta berdasarkan kajian keputusan. Hakim Mojokerto agar dapat diambil kesimpulan yang logis dan dapat diberikan jawaban terhadap permasalahan dalam penelitian ini.
Sistematika Penulisan
ATURAN HUKUM KEBIRI DI INDONESIA DALAM TINDAK
California adalah negara bagian pertama di Amerika yang melegalkan kebiri kimia bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Khususnya, hukuman kebiri diberlakukan bagi pelaku kejahatan seksual untuk tindak pidana kedua. Pada pertengahan tahun 2012, pemerintah Moldova memberlakukan kebiri kimia bagi pelaku kejahatan seksual anak.
Belum diketahui secara pasti sejak kapan pemerintah Israel menerapkan hukuman kebiri terhadap pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Sebagaimana media Tanah Air, Haaretz, pernah menginformasikan bahwa dua pelaku anak-anak bersedia menerima hukuman kebiri kimia pada Mei 2009. Dengan begitu, siapa pun pelaku kejahatan seks atau pemerkosaan di Mendoza akan menerima hukuman kebiri kimia.
Atas dasar itu, pemerintah kembali memberlakukan aturan baru mengenai beratnya hukuman, yakni melalui kebiri kimia. Seperti yang dikatakan Sigmund Freud bahwa libido masyarakat selalu meluap-luap dan terpuruk,36 pemberian kebiri kimia kepada pelaku kekerasan seksual terhadap anak merupakan langkah yang tepat untuk menekan libido tersebut. Ketentuan mengenai hukuman kebiri tertuang dalam peraturan pemerintah pengganti undang-undang nomor 1 tahun 2016 sebagai berikut: 37.
Pelaksanaan Kebiri Kimia dilakukan setelah ada kesimpulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 yang menyatakan bahwa pelaku hubungan seksual layak menjalani Kebiri Kimia. Pelaksanaan Kebiri Kimia sebagaimana dimaksud pada huruf B dilakukan segera setelah terpidana menjalani hukuman pokok; Ini merupakan pertama kalinya di Indonesia tindakan kebiri kimia diberikan kepada terdakwa kasus sembilan (9) predator anak di Mojokerto, yaitu Muh Aris bin Syukur yang dijatuhi hukuman kebiri kimia oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Mojokerto ( PN).
Komnas HAM dalam menyikapi penerapan dan pengaturan kebiri kimia memberikan pandangannya sebagai berikut: 51. Kebiri kimia tergolong dalam bentuk penghukuman yang kejam dan tidak manusiawi sehingga tidak sejalan dengan Konstitusi. Selain pandangan mengenai hukuman kebiri kimia dari Komnas HAM, terdapat juga beberapa pandangan lain mengenai hukuman kebiri kimia, antara lain yang penulis peroleh dari berbagai sumber sebagai berikut.
Ninik Rahayu, Direktur Lembaga Pemberdayaan Anak dan Perempuan Indonesia, mengatakan kebiri kimia bukanlah solusi untuk menanggulangi kejahatan seksual. Undang-undang profesi dan kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melarang tindakan kebiri kimia ini.55. Di Indonesia, sistem kebiri kimia diterapkan setelah tindak pidana pokok dilakukan oleh pelaku.
Sebaiknya, sebelum menerapkan hukuman kebiri kimia, pemerintah harus mengkaji lebih dalam apakah pantas menerapkan hukuman tersebut dan mempertimbangkan dampak samping dari kebiri kimia.