• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Banjir di Kecamatan Gedebage

N/A
N/A
Nadhifta Irsyadi Alvan

Academic year: 2025

Membagikan " Analisis Banjir di Kecamatan Gedebage"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

ANALISIS BANJIR DI KECAMATAN GEDEBAGE

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Drainase Lingkungan yang Diampu oleh Dosen Dr. Ir. H. Hary Pradiko, MT.

Oleh,

Muhammad Bagas Grahandikha 203050012 Dinda Nailla Amoryna 203050017 Nadhifta Irsydai Alvan 203050032

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS PASUNDAN

BANDUNG

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI... i

KATA PENGANTAR...ii

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...2

1.3 Tujuan...2

BAB II PEMBAHASAN... 3

2.1 Pengertian Banjir...3

2.2 Waktu Kejadian Banjir...4

2.3 Penyebab Banjir...4

2.4 Dampak yang Timbul Akibat Banjir...6

2.5 Upaya atau Solusi Penanggulangan Banjir...8

BAB III PENUTUP... 9

3.1 Kesimpulan... 9

3.2 Saran...9

DAFTAR PUSTAKA... 10

LAMPIRAN...11

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul

“Analisis Banjir di Kecamatan Gedebage” ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah tugas mata kuliah Drainase Lingkungan dengan dosen pengampu Dr. Ir. H. Hary Pradiko, MT. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang banjir bagi para pembaca dan juga bagi penyusun.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen Dr. Ir. H. Hary Pradiko, MT.

selaku dosen mata kuliah Drainase Lingkungan yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari, makalah yang kami susun ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Bandung, 22 Maret 2023

Penyusun

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bencana banjir merupakan salah satu jenis bencana yang sering terjadi di asia, tak terkecuali di Indonesia. Dalam kurun waktu tahun 2005 hingga 2015, BNPB mencatat bahwa kejadian bencana yang di akibatkan oleh faktor hidrometeorologi mengalami peningkatan dan presentasenya lebih banyak daripada kejadian bencana yang di akibatkan oleh faktor geologi. Bencana akibat faktor hidrometeorologi meliputi: bencana banjir, gelombang ekstrim, kebakaran lahan dan hutan, kekeringan, dan cuaca ekstrim. Sedangkan bencana akibat faktor geologi meliputi: gempa bumi, tsunami, letusan gunungapi, dan tanah longsor (BNPB, 2016).

Menurut Rencana Tata Ruang Kota Bandung Tahun 2011-2031, SWK Gedebage ditetapkan sebagai pusat primer dan sebagai Kota Teknopolis yaitu wilayah yang mengembangkan sektor ekonomi berbasis teknologi selain itu sebagai pusat pemerintahan, dan sebagai penetapan Kawasan Strategis Kota Bandung.

Akan tetapi terdapat isu permasalahan yang terjadi di SWK Gedebage salah satunya dalam pengembangan kawasan Gedebage termasuk kawasan pemerintahan yang perlu memperhatikan faktor kebencanaan, kawasan ini berpotensi mengalami banjir.

Adanya potensi bencana banjir di Kawasan Gedebage disebabkan oleh permukaan tanah yang relatif datar dan memiliki jenis tanah alluvial sehingga dengan jenis ini mudah tergerus air dan dapat menyebabkan banjir. Selain itu, disebabkan juga karena kurangnya perencanaan yang matang dalam membangun infrastruktur drainase yang memadai. Tak hanya di Kecamatan Gedebage, banyak daerah di Indonesia yang masih menggunakan sistem drainase yang sudah tua dan tidak mampu menangani volume air yang tinggi saat musim hujan.

(5)

Tidak sedikit upaya yang telah di lakukan oleh pemerintah kota Bandung untuk menanggulangi bencana banjir di Gedebage. Tidak sedikit pula anggaran yang telah di keluarkan dalam rangka penanggulangan banjir, mulai dari kegiatan rutin seperti normalisasi sungai dan saluran, hingga membuat kegiatan yang baru seperti membuat danau dan kolam retensi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian banjir menurut para ahli?

2. Kapan terjadinya banjir di Kecamatan Gedebage?

3. Apa penyebab banjir di Kecamatan Gedebage?

4. Apa dampak yang ditimbulkan dari banjir pada Kecamatan Gedebage?

5. Bagaimana solusi/upaya penanggulangan dari banjir di Kecamatan Gedebage?

1.3 Tujuan

1. Untuk memahami pengertian mengenai banjir secara lebih mendalam.

2. Untuk mengetahui kapan terjadinya banjir di Kecamatan Gedebage 3. Untuk mengetahui penyebab dari terjadinya banjir di Kecamatan

Gedebage.

4. Untuk mengetahui dampak apa saja yang diakibatkan dari banjir di Kecamatan Gedebage.

5. Untuk mengetahui bagaimana solusi/upaya penanggulangan banjir yang terjadi di Kecamatan Gedebage.

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Banjir

1. Banjir menurut Suripin (2003) adalah suatu kondisi di mana tidak tertampungnya air dalam saluran pembuang (palung sungai) atau terhambatnya aliran air di dalam saluran pembuang, sehingga meluap menggenangi daerah (dataran banjir) sekitarnya.

2. Banjir menurut Ligak (2008) merupakan peristiwa dimana daratan yang biasanya kering (bukan daerah rawa) menjadi tergenang oleh air, hal ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan kondisi topografi wilayah berupa dataran rendah hingga cekung. Selain itu terjadinya banjir jua dapat disebabkan oleh limpasan air permukaan (runoff) yang meluap dan volumenya melebihi kapasitas pengaliran sistem drainase atau sistem aliran sungai. Terjadinya bencana banjir juga disebabkan oleh rendahnya kemampuan infiltrasi tanah, sehingga menyebabkan tanah tidak mampu lagi menyerap air. Banjir dapat terjadi akibat naiknya permukaan air lantaran curah hujan yang diatas normal, perubahan suhu, tanggul/bendungan yang bobol, pencairan salju yang cepat, terhambatnya aliran air di tempat lain

Dari beberapa pengertian banjir diatas dapat disimpulkan pengertian banjir secara sederhana yaitu banjir adalah bentuk daratan yang terendam oleh air yang melimpah dan berlebih yang nantinya kana kembali surut, sehingga air yang melimpah tersebut hanya bersifat sementara waktu. Selain itu banjir juga merupakan peristiwa alam yang disebabkan oleh buruknya serapan tanah suatu wilayah dan perwilayahan karena daerah tersebut gersang atau jumlah curah hujan yang berlebih sehingga wilayah tersebut tidak memiliki daya serap yang cukup.

(7)

2.2 Waktu Kejadian Banjir

Banjir di Kecamatan Gedebage masih sering terjadi seperti contohnya pada 24 Januari 2020 Pukul 17:45 terjadi banjir di Kecamatan Gedebage yang disebabkan curah hujan yang tinggi. Selain itu hujan yang melanda Kota Bandung membuat sebagian wilayah terendam banjir. Salah satunya Gedebade. Banjir ini membuat macet parah. Banjir ini bukan yang pertama kalinya. Hampir setiap hujan, Gedebage kerap dilanda banjir. Kepala Bidang Pengendalian Daya Rusak Air Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Kota Bandung, banjir yang menggenang di kawasan Gedebage, Senin 3 Oktober 2022 lalu akibat intensitas hujan yang tinggi dan tumpukan sampah dari Pasar Gedebage.

2.3 Penyebab Banjir

Banjir di Gedebage dapat di kategorikan sebagai banjir perkotaan, yang di akibatkan oleh meluapnya air hujan dari saluran drainase yang di sebabkan oleh beberapa faktor. Penyebab banjir terdiri dari dua faktor, yaitu faktor alami seperti :

 Tingginya curah hujan,

 Badai yang besar

 Air pasang.

Dan faktor manusia seperti :

 Memblokir dan merusak saluran drainase,

 Penggunaan lahan yang tidak sesuai,

 Deforestasi di daerah hulu

Ada banyak faktor penyebab banjir yang ada di Kecamatan Gedebage seperti, faktor alami yang menyebabkan terjadinya banjir di Gedebage dapat di lihat dari tingginya curah hujan. Selain curah hujan, kondisi geografis di Kecamatan Gedebage juga turut mempengaruhi terjadinya banjir. Kecamatan Gedebage merupakan titik terendah di Kota Bandung dengan ketinggian 666 – 705 mdpl.

Selain itu, Kecamatan Gedebage juga di lalui oleh tiga sungai yaitu: Cipamokolan, Cinambo, dan Cidurian yang melewati Kabupaten Bandung.

(8)

Tabel 1.1 Curah Hujan Kecamatan Gedebage

No Tahun Curah Hujan Maksimal

1 2017 442,2 mm

2 2018 483,2 mm

3 2019 313,5 mm

4 2020 160 mm

Sumber: BMKG 2017-2020

Jika melihat kepada tabel di atas, dapat di ketahui bahwa curah hujan tertinggi pada tahun 2018 dengan besaran 483,2 mm. Dan terjadi penurunan pada tahun berikutnya, hingga pada tahun 2020 curah hujan 160 mm. Namun kejadian banjir pada tahun 2020 semakin bertambah. Terdapat 5 kejadian banjir di Kecamatan Gedebage pada tahun 2020, meningkat dari 2 kejadian pada tahun 2019.

Penyebab banjir perkotaan selain faktor alami, juga terdapat faktor manusia di antaranya: memblokir dan merusak saluran drainase, penggunaan lahan yang tidak sesuai, dan deforestasi di daerah hulu. Faktor manusia yang memblokir dan merusak saluran drainase salah satunya di akibatkan oleh aktivitas manusia yang membuang sampah ke sungai. Hal ini merupakan salah satu isu strategis Kota Bandung yang tertuang dalam Raperda RTRW mengenai tata ruang dan lingkungan, yaitu :

1. Alih fungsi lahan;

2. Kualitas air;

3. Pencemaran sungai;

4. Persampahan 5. Banjir / genangan

Pada tahun 2017, PD Kebersihan Kota Bandung mencatat produksi sampah di Kota Bandung mencapai 1600 ton per hari. Tingginya produksi sampah di antaranya banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai dan saluran.

Dengan adanya timbulan sampah di sungai tentu saja akan menyebabkan tersumbatnya aliran air dan menyebabkan luapan air ketika hujan karena sungai tidak mampu menampung air.

(9)

Selain itu Terjadi peningkatan debit air pada drainase, namun lebar saluran drainase tidak bertambah, malah di beberapa lokasi terjadi penyempitan lebar saluran. Seperti yang ada di jalan Rumah Sakit, saluran di bagian selatan mengalami penyempitan hingga selebar 2 – 3 meter. Sedangkan di sebelah utara saluran memiliki lebar hingga 5 meter. Yang berdasarkan data lokasi rawan banjir di Kecamatan Gedebage, di ketahui bahwa pembangunan – pembangunan yang telah dan sedang di lakukan di Gedebage memengaruhi bencana banjir yang kerap terjadi. Banyak drainase baik alami maupun buatan terganggu akibat pembangunan. Di antaranya banyak drainase yang terpotong, berubah aliran, serta menyempit. Salah satunya adalah kegiatan pembangunan kampus dua UIN di Kelurahan Cimincrang telah mempersempit lebar saluran Cisalatri. Penyempitan saluran tersebut membuat permukiman kampung Cilameta, RW 01, RW 02, RW 03 menjadi tergenang dengan ketinggian 30 – 40 cm ketika hujan berlangsung lama dengan curah yang tinggi.

Lemahnya pengawasan di lapangan menyebabkan banyak terjadinya pelanggaran terhadap rencana tata ruang, di mana pembangunan yang di lakukan tidak sesuai dengan IMB yang telah terbit. Pelanggaran yang paling banyak di temukan adalah tidak di bangunnya riool serta saluran sesuai dengan IMB.

Misalnya seharusnya riool yang harus di bangun memiliki lebar 1,5 m hingga 2 m, namun di lapangan riool yang di bangun hanya selebar 70 cm hingga 1 m. Sehingga dampaknya adalah ketika hujan lebat, riool tidak mampu menampung air hujan dan menyebabkan genangan. Kemudian, yang terjadi berikutnya adalah mengubah arah saluran drainase sehingga tidak sesuai dengan rencana kota. Hal tersebut banyak di lakukan oleh pengembang dengan alasan drainase yang ada mengganggu desain dari perumahan yang mereka bangun, sehingga mereka melakukan modifikasi arah aliran agar saluran tersebut tidak melintas ke dalam persil mereka.

Perubahan fungsi lahan di daerah utara Kota Bandung menjadi perumahan dan permukiman menyebabkan berkurangnya lahan hijau yang berfungsi sebagai daerah resapan air. Seperti yang di ungkapkan oleh (Anwar et al., 2011) bahwa

(10)

2.4 Dampak yang Timbul Akibat Banjir

Dampak yang ditimbulkan banjir di Gedebage berupa : 1. Kemacetan di sepanjang jalan

2. Kerusakan jalan/sarana prasana lainnya 3. Merugikan ekonomi masyarakat sekitar

Banjir mengakibatkan kerusakan rumah dan isi barang dalam rumah, bahkan kehilangan barang-barang berharga lainnya. Selain itu, para korban juga akan sulit untuk bekerja selama banjir terjadi. Musibah ini menimbulkan kerugian kepada masyarakat korban dari sisi ekonomi karana seluruh harta benda warga ikut hilang terseret arus banjir.

Untuk beberapa daerah yang terdampak besar terhadap banjir ini akan berdampak juga kepada penghambatan laju perputaran roda ekonomi suatu daerah karena masyarakat setempat sangat bergantung dengan hasil alam di daerah tersebut.

4. Melumpuhkan aktivitas masyarakat

Banjir yang cukup besar dapat menenggelamkan rumah penduduk dan mengharuskan masyarakat korban untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Pakaian seadanya dan tidak adanya tempat tinggal membuat masyarakat menjadi sulit untuk melakukan aktifitas seperti biasa. Bencana banjir juga membuat kesulitan dalam akses dan transportasi. Selain itu dapat merusak fasilitas sosial dan fasilitas umum yang dapat membantu kegiatan pemenuhan kebutuhan masyarakat sehari-hari.

5. Limbah yang berceceran

6. Menimbulkan masalah kesehatan

Air kotor, kekurangan air bersih, dan banyaknya genangan air sudah dipastikan menimbulkan masalah kesehatan. Dan berikutnya akan menimbulkan penyebaran wabah penyakit. Penyakit yang timbul pada kawasan yang terkena banjir ini rentan menyerang anak-anak dan kaum lanjut usia. Hal ini terjadi karena Perilaku Hidup Sehat dan Bersih (PHBS) tidak dilaksanakan dengan baik dan benar seperti

(11)

melakukan cuci tangan setelah kontak dengan air banjir (khususnya sebelum makan), tidak membiarkan anak-anak bermain dengan air banjir dan mainan yang sudah terkontaminasi air banjir.

7. Pencemaran lingkungan

Keterbatasan air bersih pasti ditemukan dalam kondisi banjir begini, baik untuk minum atau untuk kebutuhan sehari-hari lainnya. Air isi ulang sangat dibutuhkan untuk air minum dan mandi.

2.5 Upaya atau Solusi Penanggulangan Banjir

Adapun upaya atau solusi penanggulangan banjir di kawasan Gedebage ialah sebagai berikut:

1. Pemerintah Kota Bandung telah melakukan upaya untuk mengurangi banjir di kawasan Gedebage, salah satunya yaitu melakukan pembangunan danau, kolam retensi, dan pembangunan tol air.

2. Melakukan pengerukan untuk mengatasi pendangkalan, pembersihan sampah, dan betonisasi saluran (Agar sungai dan saluran drainase berfungsi secara optimal).

3. Memberikan sanksi yang tegas bagi siapa saja yang membangun bangunan di atas badan sungai dan semapadan sungai.

4. Melarang untuk menutup saluran sungai dan drainase.

5. Melakukan pengelolaan sampah yang tepat.

6. Menjaga selalu lingkungan, mulai dari memelihara selokan hingga sungai tidak dijadikan tempat pembuangan sampah.

7. Menanam kembali pohon di lahan-lahan yang rentan terjadi banjir.

(12)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Banjir merupakan peristiwa alam yang disebabkan karena curah hujan yang berlebih sehingga wilayah tersebut tidak memiliki daya serap yang cukup.

Bencana banjir ini sudah sering terjadi di Indonesia, salah satunya yaitu Kecamatan Gedebage.

Kecamatan Gedebage sudah sering mengalami banjir sejak dahulu kala, salah satunya yaitu seperti pada tanggal 24 Januari 2020 Pukul 17:45 terjadi banjir di Kecamatan Gedebage yang disebabkan curah hujan yang tinggi. Banjir ini mengakibatkan kemacetan di sepanjang jalan dan juga menyebabkan limbah berceceran di jalanan.

3.2 Saran

Untuk mengatasi hal ini maka pembelajaran dan peningkatan kesadaran antar komponen masyarakat maupun pemerintah harus dilakukan segera. Selain itu perlu adanya arahan kebijakan dan strategi penanganan terkait banjir secara komprehensif, termasuk di dalamnya keterpaduan antar komponen masyarakat maupun pemerintah dalam penyusunan dan pelaksanaan program terkait penanggulangan maupun pencegahan banjir yang berkesinambungan maupun berwawasan lingkungan.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2022). Tangani Banjir Gedebage, Pemkot Bandung Bakal Aktifkan Sungai Cisaranten Lama. [Online]. Diakses dari https://citarumharum.jabarprov.go.id/tangani-banjir-gedebage-pemkot- bandung-bakal-aktifkan-sungai-cisaranten-lama/#:~:text=Ia

%20menerangkan%2C%20banjir%20yang%20menggenang,sekitar

%20kawasan%20Gedebage%2C%E2%80%9D%20ujarnya.

BNPB (2016): Risiko bencana Indonesia.

BPS (2020): Gedebage Dalam angka 2020.

Wamad, Sudirman. (2020). Langkah Pemkot Bandung Atasi Banjir di Kawasan Gedebage. [Online]. Diakses dari https://www.detik.com/jabar/berita/d- 6358740/langkah-pemkot-bandung-atasi-banjir-di-kawasan-gedebage.

(14)

LAMPIRAN

(15)

Referensi

Dokumen terkait

Begitu banyaknya pembahasan kajian penyebab terjadinya genangan air/banjir, karena dibatasi oleh kemampuan penulis maka penulis hanya membahas kajian sistem jaringan drainase

Penanggulangan banjir merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana banjir, baik bencana banjir yang terjadi karena alam maupun bencana banjir yang

masyarakat pesisir terhadap dampak yang ditimbulkan oleh banjir rob antara lain masyarakat yang dahulu sebagai petani tambak beralih profesi menjadi

Dari permasalahan yang muncul akibat banjir tersebut akan dikaji dalam skripsi dengan judul “Dampak Banjir Cileuncang Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Di

Penanggulangan keretakan pada beton ini dapat dilakukan dengan cara melihat penyebab, lokasi terjadinya" jenisnya, lebar dan dalamnya" dan kenrsakan yang ditimbulkan akibat keretakan

Olenhnya itu dibutuhkan sistem penanggulangan yang komprehensif dan terintegrasi yang dapat mengkolaborasi semua parameter-parameter penyebab banjir, guna dijadikan acuan dalam

Gambar 3.2 kondisi banjir Tanjungsari tahun 2023 Akibat terjadinya banjir di desa tanjungsari Sukaresik Tasikmalaya memiliki dampak yang signifikan terhadap masyarakat dari ke tiga

Tim pelaksana kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat menjelaskan materi tentang: pengertian stunting dan ciri- cirinya, penyebab terjadinya stunting, dampak yang ditimbulkan stunting,