Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, serta memberikan kemudahan bagi penulis dalam menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Analisis Efisiensi Perbankan Indonesia, Pendekatan Non Parametrik Analisis Data Envelopment”, yang adalah kesimpulannya. penugasan dalam kurikulum jurusan akuntansi Sekolah Perbankan STIE Indonesia dan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana ekonomi. Tujuan dari makalah ini adalah untuk memperkenalkan metode alternatif untuk mengevaluasi kinerja bank-bank di Indonesia dengan Data Envelopment Analysis (DEA).
DAFTAR TABEL
DAFTAR GRAFIK
DAFTAR LAMPIRAN
Daftar Lampiran
PENDAHULUAN
Berdasarkan hasil pemodelan DEA, bank akan dikategorikan berkinerja baik dan berkinerja buruk. Kemudian dilakukan analisis terhadap karakteristik apa saja yang ada pada bank yang berkinerja baik.
LANDASAN TEORI
Secara umum kelebihan pendekatan nonparametrik adalah: tidak diperlukan bentuk fungsional yang eksplisit, spesifikasi yang meleset kecil, dan penggunaan data input/output lebih besar tanpa perlu dibatasi, sedangkan pendekatan parametrik memerlukan pendekatan eksplisit. bentuk fungsional, kesalahan spesifikasi biasanya besar dan penggunaan data input dan output kurang bervariasi (Lovell, 1993) dalam Rustam, 2005. Pendekatan parametrik untuk melihat hubungan antara biaya memerlukan informasi yang akurat mengenai harga input dan variabel lainnya. Terdapat perbedaan definisi pendekatan konseptualisasi dalam mendefinisikan input dan output dalam membentuk model efisiensi yang sesuai.
Pendekatan aset merupakan suatu pendekatan yang menitikberatkan pada peran bank sebagai lembaga perantara antara penyimpan dana dan peminjam dana, dimana simpanan dan kewajiban lainnya bersama dengan pegawai dan modal fisik diartikan sebagai input, dan outputnya berupa kredit yang diberikan dan investasi yang dilakukan. . Model yang dapat digunakan untuk mengukur efisiensi dengan banyak masukan (multiple input) dan banyak keluaran (multiple output) untuk mengambil keputusan (Decision Making Unit – DMU) disebut model Data Envlopment Analysis (DEA). Dengan menggunakan metode DEA maka akan dapat diketahui sumber inefisiensi pada setiap input dan output dan juga diketahui seberapa besar kemungkinan untuk mengefektifkan inefisiensi input dan output yang timbul (berapa unit input yang dapat dikurangi dan berapa output yang dihasilkan). dapat ditambahkan menjadi seefisien satuan yang bersangkutan) berada pada batas efisien).
DMU yang tingkat efisiensinya dibandingkan harus berada pada industri sejenis, yakni mempunyai proses yang sama di dalamnya, atau paling tidak mempunyai input dan output yang serupa atau kurang lebih sama satu sama lain. DEA mampu memproses pengukuran efisiensi relatif dari beberapa DMU serupa yang menggunakan banyak input dan output secara bersamaan. Dengan metode ini kita tidak perlu mencari asumsi dan hipotesis tentang bentuk fungsional hubungan antara variabel input dan output dari jenis DMU yang sama yang akan diukur efisiensinya.
Penentuan input dan output sangat rawan subjektivitas karena ditentukan berdasarkan pertimbangan pihak yang akan mengukur kinerja, misalnya manajemen.
Metodologi Penelitian
OCBC NISP
- Metode Analisis Data
- Metode Analisis dengan Data Envelopment Analysis (DEA)
Sederhananya, pengukuran dinyatakan dengan nilai perbandingan antara input dan output, yang merupakan satuan ukuran produktivitas, yang dapat dinyatakan secara parsial (misalnya: input tenaga kerja, input modal, produksi penjualan, produksi laba, dan sebagainya). atau total (menggabungkan total output dan input subjek ke dalam pengukuran), yang dapat membantu menunjukkan faktor input (output) mana yang memiliki pengaruh paling besar. Pentingnya pendefinisian fungsi bank terlihat jelas dalam menentukan variabel input dan output yang akan digunakan untuk studi kinerja. Surat berharga yang dimiliki oleh bank merupakan sarana yang menghasilkan hasil yang dapat dikatakan “bebas risiko” (no risk).
Analisis DEA, diawali dengan perhitungan dan penentuan bobot setiap input dan output pada setiap DMU. Jumlah DMU: Setidaknya diperlukan tiga DMU untuk setiap variabel input dan output yang digunakan dalam model untuk memastikan adanya derajat kebebasan. Homogenitas: DEA mengharuskan semua DMU yang dievaluasi memiliki variabel input dan output yang sama.
Setiap DMU yang dalam penelitian ini adalah sepuluh bank (Tabel 3.1), akan menggunakan kombinasi input (sumber daya) yang berbeda untuk menghasilkan output yang berbeda. DMU akan memberi bobot yang lebih tinggi pada input yang digunakan dalam jumlah kecil dan output yang diproduksi dalam jumlah besar.
Hasil Penelitian
Uji Variabel Input dan Output
Variabel input harga tenaga kerja dengan kredit kepada pihak terkait mempunyai korelasi negatif dengan nilai yang tinggi. Dapat dikatakan jika bank menaikkan harga tenaga kerja maka akan berdampak pada penurunan kredit kepada pihak terkait bank (-0.759 ) dan surat berharga (-0.538), serta berdampak lebih kecil terhadap penurunan kredit kepada pihak luar bank (-0.032). Dibandingkan dengan harga tenaga kerja, harga dana mempunyai hubungan negatif yang lebih tinggi terhadap variabel output, terlihat dari KR KR2 (-0,094) dan surat berharga (-0,716), maka dapat disimpulkan bahwa harga dana mempunyai peranan yang lebih besar. dalam input untuk menghasilkan output, dibandingkan dengan harga tenaga kerja. Namun berbeda dengan dua input sebelumnya, harga modal fisik memiliki hubungan negatif yang sangat rendah terhadap ketiga variabel output yaitu 0,043 untuk kredit terkait bank, 0,049 untuk kredit kepada pihak luar bank, dan 0,126 untuk surat berharga.
Pada variabel harga input tenaga kerja dapat dikatakan jika bank menaikkan harga tenaga kerja maka akan berdampak pada penurunan kredit kepada pihak terkait bank (-0.465), kredit ke luar bank (-0.462) dan sekuritas (-0,538). Variabel input dana harga juga mempunyai korelasi negatif terhadap kedua variabel output yaitu pada KR1 0,561 dan pada KR2 0,334. Sedangkan harga dana terhadap surat berharga pada bank kecil ini mempunyai korelasi yang positif, sehingga jika bank menaikkan harga nilai dana sebesar 1% maka surat berharga tersebut juga akan sedikit meningkat sebesar 0,067.
Harga variabel modal fisik untuk 'aset menengah' juga berbeda dengan harga modal fisik untuk aset besar sebelumnya yaitu aset dalam. Namun mempunyai hubungan yang positif terhadap output perbankan dilihat dari sisi pemberian kredit yaitu -0,097 untuk kredit bank dan -0,286 untuk kredit non bank.
Interpretasi Hasil Permodelan DEA
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa penggunaan rasio keuangan untuk menghitung efisiensi sudah tidak akurat lagi, sehingga efisiensi bank akan dihitung dengan menggunakan metode non parametrik yaitu Data Envelopment Analysis. Model analisis data wrapper yang digunakan untuk mengukur kinerja bank adalah CCR – berorientasi input dengan pendekatan aset. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, kinerja bank dapat diklasifikasikan dari efisien menjadi kurang atau bahkan tidak efektif.
Penilaian kinerja keuangan perbankan biasanya menggunakan lima aspek penilaian yaitu CAMEL (Capital, Assets, Management, Earnings, Liquidity). Empat dari lima aspek yaitu permodalan, aset, manajemen, laba, likuiditas dievaluasi dengan indikator keuangan. NPL (Non Performing Loan) mencerminkan risiko kredit, semakin rendah NPL maka semakin rendah pula risiko kredit bank.
NPL merupakan ukuran rasio risiko bisnis suatu bank yang menunjukkan besarnya risiko kredit bermasalah yang ada pada suatu bank. LDR (Loan Deposit to Ratio), yaitu perbandingan pinjaman terhadap total dana pihak ketiga yang digunakan untuk mengukur dana pihak ketiga yang disalurkan dalam bentuk pinjaman.
Data Envelopment Analysis .1 Data Input dan Output
- Hasil Pengukuran Kinerja dengan Model DEA – CCR
- Karakteristik Bank
- Karakteristik Bank Menurut Total Asset
- Karakteristik Bank Menurut Struktur Kepemilikan
- Karakteristik Bank Menurut Rasio Keuangan
- Bank-Bank yang Berkinerja Kurang Baik Menurut DEA
- Hasil Pengukuran DEA-CCR Tiga Tahun
Jika diurutkan, BTPN menjadi bank yang paling tidak efisien karena setiap tahunnya memiliki nilai efisiensi yang rendah dibandingkan bank lainnya. Sedangkan yang terlihat pada grafik dan grafik OCBC NISP adalah nilai efisiensinya semakin menurun dari tahun ke tahun. Bank ini mempunyai nilai efisiensi sebesar 37,22%, namun pada tahun-tahun sebelumnya OCBC NISP mempunyai hasil perhitungan DEA EMS yang lebih tinggi (tabel 4.3) yaitu 42,69%.
Pada tahun 2009, BCA masih memiliki skor efisiensi sempurna sebesar 100% dan Bank Mega yang skor efisiensinya semakin meningkat setiap tahunnya. Dibandingkan dengan Tabel 4.3 yang menghitung nilai efisiensi setiap tahunnya, Tabel 4.8 menunjukkan nilai efisiensi yang berbeda. Seperti halnya BCA, Bank Mandiri pada Tabel 4.3 memiliki skor efisiensi sempurna sebesar 100% pada setiap tahun penelitian.
Hal inilah yang dilakukan Bank Mandiri pada tahun 2009, meningkatkan efisiensi dan kinerjanya hingga memberikan hasil yang maksimal, sehingga pada tahun 2009 nilai efisiensi Bank Mandiri meningkat hingga hampir 100%. BNI terus meningkatkan kinerjanya untuk meningkatkan hasil agar terlihat baik di tahun berikutnya, terbukti dengan meningkatnya skor kinerja BNI dari tahun 2008 hingga tahun 2009. Pada Tabel 4.3, Bank Mega merupakan salah satu bank dengan skor kinerja sempurna ( 100% ) dalam tiga tahun berturut-turut bersama Bank Mandiri dan BCA.
Namun pada Tabel 4.8 terlihat bahwa OCBC NISP hanya mengalami penurunan nilai efisiensi pada tahun 2008 yaitu dari 37,02% turun menjadi 34,78%, namun pada tahun 2009 nilai efisiensi OCBC NISP meningkat menjadi 35%.
Kesimpulan dan Saran
Saran untuk Pemerintah dan Masyarakat
Hasil pengukuran kinerja dengan menggunakan pemodelan DEA memberikan informasi bank mana saja yang memiliki kinerja buruk sehingga dapat menjadi acuan masyarakat dalam memilih menggunakan jasa perbankan dengan kriteria kinerja buruk. Pemerintah dapat lebih mendorong bank-bank di Indonesia untuk meningkatkan permodalan dan asetnya guna memperkuat struktur permodalan dan menjadikan bank-bank tersebut memiliki kinerja yang baik di masa depan. Hasil pengukuran efisiensi dengan model DEA CCR menunjukkan adanya peningkatan efisiensi perbankan dari tahun 2007 hingga tahun 2009 (Tabel 5.1), sehingga masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kepercayaannya terhadap perbankan khususnya otoritas nasional dan bank swasta dengan lebih aktif menggunakan sumber daya manusia. layanan yang ditawarkan bank.
Saran untuk Manajemen Bank dan Peneliti
Bagi calon pihak atau peneliti yang ingin mengukur pelayanan bank pada wilayah yang sangat spesifik yang sulit diukur dengan metode pengukuran tradisional. Misalnya manajemen suatu bank ingin melihat efisiensinya dalam bidang teknologi informasi, maka pengukuran kinerja dapat dilakukan dengan menentukan input dan output yang tepat. Sementara itu, bank-bank lain yang dinilai berkinerja buruk dapat memanfaatkan hasil survei DEA CCR untuk memperbaiki kinerja bank-bank tersebut di masa depan.
Agar efektif, bank yang kinerjanya buruk dapat mengacu pada tabel 4.7, ukuran pada tabel ini menjadi acuan bagi bank yang kinerjanya baik untuk tahun 2009. Homogenitas DMU yang diukur mempunyai pengaruh yang besar terhadap keakuratan hasil pengukuran, sehingga peneliti yang melakukan pengukuran dengan menggunakan metode ini harus berhati-hati dalam proses pemilihan satuan yang akan diukur.
Daftar Pustaka
Analisis Kinerja Keuangan Bank Umum Syariah di Indonesia Menggunakan Metode Data Envelopment Analysis (DEA) dan Analisis CAMELS. Analisis Kinerja Keuangan Menggunakan Metode Data Envelopment Analysis (DEA) pada Bank Konvensional dan Bank Syariah Purnomo, Iswardono. Analisis Kinerja Keuangan Lembaga Keuangan Makro Syariah Menggunakan Metode Data Envelopment Analysis (DEA) (Studi Kasus BMT di Karesidenan Surakarta).
Pendidikan Formal
Pendidikan Non-Formal