• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kebijakan KPU dalam Rekrutmen KPPS untuk Pemilu 2024

N/A
N/A
Michael Tanuwijaya

Academic year: 2024

Membagikan "Analisis Kebijakan KPU dalam Rekrutmen KPPS untuk Pemilu 2024"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

SOSIOHUMANIORA, 9(1), February 2023, pp. 145-154 2579-4728 (ISSN Online) | 2443-180X (ISSN Print)

Analisis kebijakan KPU dalam rekrutmen KPPS untuk pemilu 2024

Bobby J Yuri*, Aidinil Zetra, Roni Ekha Putera

Universitas Andalas, Jl. Dr. Mohammad Hatta Limau Manis, Padang, Sumatera Barat Indonesia Correspondance: [email protected]

Received: 24 December 2022; Reviewed: 12 January 2023; Accepted: 6 March 2023

Abstract: Ad Hoc bodies as the main actors in the election stage should get great attention. The 2019 elections in Indonesia leave many problems that must be resolved to prepare for the 2024 elections.

Problems such as the death of officers of the Voting Organizing Group (KPPS) and violations of election stages that often occur in ad hoc bodies. This must be minimized. In the 2020 Regional Elections there were other problems related to the fulfillment of the number of applicants for ad hoc bodies, in some regions an extension of recruitment time was needed to meet them. A policy of the General Election Commission (KPU) is needed as an election organizer. The KPU issued a policy as stated in KPU Regulation Number 8 of 2022 concerning the Establishment and Work Procedures of the Adhoc Agency for the Implementation of General Elections and Elections for Governors and Deputy Governors, Regents and Deputy Regents, and Mayors and Deputy Mayors. This research uses a descriptive method of analysis with data collection techniques using literature studies from various relevant sources. The results of the study illustrate that KPU makes policies to meet the needs of qualified ad hoc bodies. The recruitment process is carried out transparently using information technology, age restrictions are carried out to ensure the safety of the work of ad hoc bodies. As well as policies related to the increase in honorary money for ad hoc bodies.

Keywords: Policy, Recruitment, KPU, Election

Abstrak: Badan Ad Hoc sebagai pelaku utama dalam tahapan pemilu harus mendapatkan perhatian yang besar. Pemilu 2019 di Indonesia menyisakan banyak masalah yang harus diselesaikan untuk mempersiapkan Pemilu 2024. Masalah seperti kematian petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) serta pelanggaran tahapan pemilu yang kerap terjadi pada badan ad hoc. Hal tersebut harus bisa diminimalisir. Pada Pilkada 2020 terdapat permasalahan lain terkait pemenuhan jumlah pelamar badan ad hoc, pada beberapa daerah diperlukan perpanjangan waktu rekrutmen untuk memenuhinya. Diperlukan kebijakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu. KPU mengeluarkan kebijakan yang dituangkan dalam Peraturan KPU Nomor 8 Tahun 2022 tentang Pembentukan dan Tata Kerja Badan Adhoc Penyelenggara Pemilihan Umum dan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan Walikota dan Wakil Walikota. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan teknik pengumpulan data menggunakan studi literatur dari berbagai sumber yang relevan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa KPU membuat kebijakan untuk memenuhi kebutuhan badan ad hoc yang berkualitas. Proses rekrutmen dilaksanakan secara transparan menggunakan teknologi informasi, pembatasan usia dilakukan untuk menjamin keselamatan kerja badan ad hoc. Serta kebijkan terkait kenaikan uang kehormatan bagi badan ad hoc.

Kata Kunci: Kebijakan, Rekrutmen, KPU, Pemilu

© 2023 The Authors

https://doi.org/10.30738/sosio.v9i1.13954

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License

PENDAHULUAN

Pemilu yang dilaksanakan secara berkala merupakan salah satu indikator demokrasi di Indonesia. Sejak reformasi, bangsa Indonesia telah melaksanakan pemilu sebanyak 5 kali, yaitu Pemilu 1999, Pemilu 2004, Pemilu 2009, Pemilu 2014, dan Pemilu 2019 (kpu.go.id, nd). Dalam pelaksanaan pemilu, KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu membentuk badan ad hoc sebagai pelaksana tugas di tingkat kecamatan, desa/kelurahan, hingga TPS.

Pembentukan badan ad hoc memiliki kriteria tersendiri pada tiap tingkatannya. Pemilu 2019 meninggalkan banyak permasalahan, khususnya pada kasus banyaknya petugas KPPS

(2)

(Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) sebagai penyelenggara pemilu tingkat TPS yang meninggal dunia. Menurut rilis Kementerian Kesehatan, hingga tanggal 15 Mei 2019 sebanyak 527 petugas Pemilu 2019 meninggal dunia dan 11.239 orang sakit (Kementerian Kesehatan, 2019).. Komisoner Ombudsman Periode 2016-2021, Adrianus Maliala mengatakan bahwa negara telah melakukan maladministrasi terkait perekrutan petugas KPPS karena negara tidak mempertimbangkan beban kerja KPPS (Mushofa, 2019). Kasus kematian petugas KPPS seharusnya dapat dihindarkan apabila ada suatu sistem manajemen krisis sebelum membentuk kebijakan untuk pembentukan petugas ad hoc penyelenggara pemilu. Khususnya pada rekrutmen KPPS untuk Pemilu 2019 yang dinilai tidak mempertimbangkan beban kerja karena diselenggarakannya Pemilu Serentak. KPPS harus mengorganisir logistik pemilu dengan 5 jenis pemilihan yang berbeda. Dibutuhkan kecermatan yang tinggi dalam melaksanakan tugas dan fungsi KPPS pada hari pemungutan suara.

Purbolaksono (2022) menyatakan dibutuhkan perbaikan dalam manajemen sumber daya manusia petugas badan ad hoc ini. Permasalahan tidak terhenti pada kasus diatas.

Alfitra Salamm, anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI mengungkapkan petugas ad hoc memiliki potensi pelanggaran etik dan pidana pemilu yang paling besar, sehingga untuk memperbaiki pemilu harus dimulai dari perbaikan kualitas petugas ad hoc (DKPP, 2022). Dalam usaha untuk menghasilkan pemilu yang berkualitas pada Pemilu 2024, penulis berpendapat perlu adanya perbaikan dalam banyak hal dimulai dari sistem rekrutmen KPPS sebagai badan ad hoc penyelenggara pemilu yang berhadapan langsung dengan peserta pemilu juga para pemilik suara. Rekrutmen KPPS dengan waktu sempit berpotensi akan menghasilkan petugas yang tidak berkompeten karena KPPS tidak memiliki waktu untuk diberikan bimbingan terkait tugas dan kewenangannya. KPPS langsung bertugas setelah dilantik pada hari pemungutan suara.

Khan, S., Muradi, & Akbar, I (2022) menyarankan dalam penelitaannya, dengan tidak adanya pembatasan dua periode dalam rekrutmen badan ad hoc maka rekam jejak anggota badan ad hoc tersebut bisa membuktikan berintegritas atau tidaknya dia. Perlu dilakukan adalah menambah jumlah personil pengawasan di titik rawan terjadinya penyebab pelanggaran atau PSU. Selanjutnya Pandiangan, A. (2019) menyatakan tugas, wewenang dan kewajiban KPPS yang demikian luas dan berat di Pemilu 2019 kiranya diimbangi dengan perubahan organisasi dan fasilitas serta kesejahteraan yang diterima oleh Ketua dan Anggota KPPS. Sehingga penulis merasa perlu dilakukan analisis kebijakan KPU untuk menjawab permasalahan KPPS yang ditinggalkan pasca Pemilu 2019.

Menurut Dunn (2003) tahap dalam membuat kebijakan melalui lima langkah, yaitu 1) penyusunan agenda, 2) formulasi kebijakan, 3) adopsi kebijakan, 4) implementasi kebijakan, dan 5) penilaian/evaluasi kebijakan. Setiap tahapan harus dilakukan secara berurutan. Pada setiap tahapannya perlu dikelola dan dikontrol oleh pembuat sekaligus pelaksana kebijakan. Budi Winarno (2008) menyatakan analisis kebijakan berhubungan dengan penyelidikan dan deskripsi sebab-sebab dan konsekuensi kebijakan publik. Penulis melakukan analisis kebijakan KPU tentang rekrutmen KPPS untuk Pemilu 2024 untuk dapat menjelaskan sebab dan dampak atas kebijakan yang diambil. Yang menjadi sorotan penulis adalah Peraturan KPU Nomor 8 Tahun 2022 terhadap rekrutmen KPPS untuk Pemilu 2024.

(3)

Pelaksanaan rekrutmen petugas ad hoc selama ini masih menggunakan metode- metode lama seperti pelaksanaan ujian tertulis serta tahapan wawancara yang memiliki tingkat transparansi yang rendah. Untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap penyelenggara pemilu, dibutuhkan sebuah sistem rekrutmen petugas penyelenggara yang bersifat terbuka sehingga memberikan ruang yang seluas-luasnya pada masyarakat untuk memantau proses rekrutmen. Surbakti & Nugroho (2015) mengkritisi proses rekrutmen petugas ad hoc penyelenggara pemilu perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh karena hasil kerja mereka akan menentukan kualitas pemilu. Dalam era digitalisasi seperti saat ini, sebuah sistem informasi dapat meningkatkan transparansi proses rekrutmen petugas ad hoc. Akses informasi yang terbuka dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi.

Penelitian Siska, Valentina, & Putri (2022) menemukan permaslahan rekrutmen KPPS terletak pada tahapan sourcing process dimana informasi yang tersebar tidak merata dan cenderung beredar disekitar PPS serta tidak adanya seleksi tertulis dan wawancara pada tahap selection process sehingga mebuka celah terjadinya nepotisme tanpa memperhatikan kemampuan KPPS. Marpaung, Harahap, & Ridho (2022) dalam penelitiannya menemukan problematika terjadinya perpanjangan Perekrutan anggota KPPS dikarenakan pelaksanaan tahapan perekrutan yang tidak sesuai aturan oleh PPS.

Darmawan (2016) dalam penelitiannya menilai perlu adanya aturan soal rekrutmen yang ketat agar tidak ada lagi panitia penyelenggara pemilu yang tidak netral. Harahap & Fahmi (2019) menfokuskan penelitiannya pada pengelolaan tugas, kewajiban, dan kewenangan petugas KPPS yang tercantum pada UU Nomor 7 Tahun 2017 yang harus disempurnakan sehingga tugas dan kewajiban dapat dilaksanakan secara proporsional dan merata. Berbeda dari penelitian yang terdahulu di atas, Fokus dalam penelitan yang penulis lakukan adalah tentang proses pembuatan kebijakan oleh KPU terkait rekrutmen petugas ad hoc untuk Pemilu 2024. Dalam masa tahapan Pemilu 2024, penting untuk menilai bagaimana kesiapan KPU, terlebih untuk kesiapan penyelenggara pemilu tingkat bawah dari PPK, PPS, hingga KPPS. Tentu hal ini dinilai dari mekanisme KPU dalam proses rekrutmen badan ad hoc ini.

Dengan demikian penulis menilai perlu adanya analisis kebijakan Peraturan KPU Nomor 8 Tahun 2022 untuk menilai keberhasilan menciptakan penyelenggara pemilu yang kredibel dan berintegritas.

METODE

Penulisan artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Menurut Wayan Ardhana (dalam Subadi, 2006), penelitian kualitatif harus berfokus dan bermuara pada upaya pemahaman (understanding) terhadap apa yang berpola berupa reasons dalam dunia makna para pelaku itu bisa berupa frame atau pola pikir tertentu, rasionalitas tertentu, etika tertentu, tema atau nilai budaya tertentu sehingga penulis menganggap metode ini cocok dengan topik yang dibahas, yaitu mengenai dasar pemikiran pembuat kebijakan. Metode deskriptif analisis digunakan atas alasan data dan informasi yang dihimpun menumpukan perhatian pada fenomena atau masalah aktual melalui proses pengumpulan data, penyusunan, pengolahan, dan penarikan kesimpulan.

Hasil dari itu semua berupaya untuk mendeskripsikan suatu keadaan empiris yang objektif atas fenomena atau masalah yang sedang dikaji.

(4)

Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan, yaitu berkaitan dengan kajian teoiritis dan beberapa refensi yang tidak lepas dari literatur- literatur ilmiah (Sugiyono, 2012). Studi kepustakaan yang dimaksud dalam konteks artikel ini adalah upaya penulis untuk mencari, mengumpulkan, dan mempelajari bahan tertulis berupa buku, artikel jurnal, berita online dan konvensional, dan website lembaga-lembaga otoritatif terkait kebijakan KPU dalam melaksanakan rekrutmen KPPS untuk Pemilu 2024.

Data penelitian berupa pernyataan dan sikap para pemangku kepentingan yang memiliki otoritas dan kapasitas tentang kepemiluan berasal dari sumber-sumber litratur tersebut.

Analisis kebijakan publik yang penulis lakukan menggunakan pendekatan normatif. Dalam Abdoellah & Rusfiana (2016), analisis kebijakan dengan pendekatan normatif ditekankan pada rekomendasi serangkaian tindakan yang akan datang yang dapat menyelesaikan maslah-maslah publik, pertanyaan harus berkenaan dengan tindakan (apa yang harus dilakukan?) dan tipe informasi yang dihasilkan bersifat preskriptif. Data dianalisis dam dibandingkan dengan teori-teori yang relevan. Data yang telah dikumpulkan penulis sandingkan dengan teori yang relevan untuk dianalisis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kebijakan KPU dalam rekrutmen badan ad hoc penyelenggara pemilu untuk Pemilu 2024 tertuang dalam Peraturan KPU Nomor 8 Tahun 2022 tentang Pembentukan dan Tata Kerja Badan Adhoc Penyelenggara Pemilihan Umum dan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan Walikota dan Wakil Walikota. Dalam membuat kebijakan, KPU tidak bisa menghidari intervensi politik. Dalam prosesnya, peraturan KPU harus melalui mekanisme politik untuk didiskusikan dalam RDP (Rapat Dengar Pendapat) di DPR yang melibatkan unsur-unsur terkait pokok peraturan yang akan dibentuk.

Intervensi politik menurut Oppenheim (dalam Yulianti, 2022) adalah campur tangan secara diktator oleh suatu negara terhadap urusan dalam negeri lainnya dengan maksud baik untuk memelihara atau mengubah keadaan, situasi atau barang di negeri tersebut. Dalam hal pembentukan Peraturan KPU, DPR sebagai lembaga politik di Indonesia memiliki hak melakukan pembahasan Rancangan Peraturan KPU. Hal ini ditegaskan oleh Lukman Edy (dalam Prasetia, 2017) yang menyatakan “… tetap ada RDP dengan DPR dan semua lembaga negara paham berbagai bentuk dari komitmen hubungan antar-lembaga negara”.

Dalam UU MD3, hasil RDP DPR dengan lembaga lain bersifat mengikat, sehingga KPU harus menuangkan hasil RDP dalam bentuk Peraturan KPU. Sehingga setiap kebijakan KPU dalam bentuk Peraturan KPU akan selalu terintervensi oleh kepentingan politik selama dalam proses pembentukannya melalui mekanisme RDP dengan DPR. Pahalal secara jelas dalam Undang-undang Dasar 1945 menyatakan pemilu diselenggarakan oleh suatu komisi yang bersifar mandiri. Namun, mekanisme RDP mencederai independensi KPU.

Tantangan rekrutmen KPPS

Adanya kasus petugas ad hoc yang meninggal pasca Pemilu 2019 menjadi sorotan berbagai pihak. KPU sebagai institusi induk penyelenggara pemilu dinilai tidak berhasil dalam memperhatikan kesejahteraan petugasnya di tingkat bawah. Kasus ini menjadi pembahasasn hangat oleh berbagai pihak. Untuk mengatasi krisis pasca Pemilu 2019 dalam rangka menyogsong Pilkada 2020 dan Pemilu 2024, KPU mengevaluasi kebijakan terkait

(5)

beban kerja dan kesejahteraan petugas KPPS. Dalam perumusan kebijakan KPU meminta masukan dari berbagai pihak dengan cara ikut dalam diskusi-diskusi yang membahas problematika yang muncul dari Pemilu 2019.

James E. Anderson (dalam Widodo, 2021) mendefinisikan kebijakan yang lebih menekankan pada maksud dan tujuan utama sebagai berikut: “A set purposive course of action followed by an actor or set of actors in dealing with a problem or matter of concern

… Publik policies are those policies developed by governmental bodies an officeals”. KPU sebagai institusi pemerintah membuat kebijakan untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan petugas KPPS. KPU menerima rekomendasi dari Kementerian Kesehatan atas usulan pembatasan usia saat petugas KPPS yang tertuang dalam Peraturan KPU Nomor 8 Tahun 2022 Pasal 35 ayat (2) yang berbunyi “persyaratan usia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b untuk KPPS mempertimbangkan dalam rentang usia 17 (tujuh belas) sampai dengan 55 (lima puluh lima) tahun, terhitung pada hari pemungutan suara Pemilu atau Pemilihan”. Kementerian Kesehatan memiliki kompetensi sebagai rujukan pembuatan kebijakan oleh KPU. Sesuai dengan pernyataan Idham Holik (dalam Febryan, A, 2022) berikut “Jadi umur 55 tahun itu batas maksimal yang direkomendasikan oleh para aktivis kesehatan”. Beban kerja nonstop KPPS sejak menerima logistik pemilu, membuka TPS, memulai pemungutan suara, hingga melakukan penghitungan suara membutuhkan kondisi kesehatan tubuh yang optimal. Proses perumusan kebijakan atas dasar rekomendasi dari berbagai pihak yang berkompeten akan menciptakan kebijakan yang tepat sasaran. Proses pembuatan kebijakan oleh KPU ini berdasarkan evaluasi atas kebijakan yang telah diambil dalam penyelenggaraan Pemilu 2019 dan Pilkada 2020.

Evaluasi kebijakan dilaksanakan untuk menilai sampai dimana efektif atau tidaknya kebijakan publik berjalan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dalam rangka mencapai tujuan kebijakan yang sudah ditetapkan (Mahardhani, 2018). Tujuan kebijakan akan dapat dicapai dengan efektif. Seharusnya dalam perumusan kebijakan, setiap pihak dapat memberikan kontribusi untuk menberikan berbagai pandangan atas solusi yang akan dicari dari permasalahan ditengah-tengah masyarakat. Kebijakan seperti ini dapat mengatasi berbagai potensi masalah yang akan timbul. Para pembuat kebijakan tidak boleh menutup diri seakan-akan paling paham tentang kewenangan yang ada pada dirinya.

Selanjutnya dalam rangka memastikan kesejahteraan petugas ad hoc penyelenggara Pemilu 2024, KPU mengusulkan kebijakan penetapan kenaikan honor kepada pemerintah menimbang dengan beban kerja Pemilu 2024. KPU mengusulkan kenaikan honor sebesar 3 kali lipat dari honor petuguas ad hoc dalam pemilihan sebelumnya. Pemerintah menyetujui kenaikan honor petugas ad hoc meskipun tidak sebesar usulan dari KPU. Dalam proses usulan mengenai besaran nilai honor petugas ad hoc, KPU berhasil mendapatkan dukungan dari Komisi II DPR. Rifqinizamy Karsayuda menyatakan “kenaikan honorarium petugas ad hoc Pemilu 2024 adalah komitmen DPR, pemerintah, dan penyelenggara pemilu. Saya berharap, kenaikan anggaran badan ad hoc memberikan dampak pada peningkatan kulaitas dan kuantitas penyelenggara dalam pelaksanaan Pemilu 2024” (Hayati, 2022). Dalam proses pembuatan, proses mencari dukungan untuk membuat kebijakan disebut dengan proses advokasi isu. Tujuan dari advokasi kekbijakan publik adalah untuk mendapatkan komitmen pembelaan dan pendampingan untuk menjamin pembentukan sebuah isu

(6)

menjadi kebijakan (Wahyudi, 2008). Isu yang akan menjadi kebijakan mendapatkan perhatian para pembuatan kebijakan. Dalam hal KPU sebagai pembuat isu tentang kenaikan honor petugas ad hoc, lalu isu ini diperhatikan oleh DPR sebagai legislator sehingga dapat mempengaruhi pemerintah untuk meloloskan isu menjadi kebijakan penganggaran honor petugas ad hoc.

Tabel 1. Kenaikan Honor Petugas Ad Hoc Pemilu

Tingkatan Pemilu 2019 Pemilu 2024

PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan)

Ketua Rp1.850.000,- Rp2.500.000,-

Anggota Rp1.600.000,- Rp2.200.000,-

Sekretaris Rp1.300.000,- Rp1.850.000,-

Pelaksana Rp850.000,- Rp1.300.000,-

PPS (Panitia Pemungutan Suara)

Ketua Rp900.000 Rp1.500.000,-

Anggota Rp850.000,- Rp1.300.000,-

Sekretaris Rp800.000,- Rp1.150.000,-

Pelaksana Rp750.000 Rp1.050.000,-

KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara)

Ketua Rp550.000,- Rp1.200.000,-

Anggota Rp500.000,- Rp1.100.000,-

Satlinmas Rp500.000,- Rp700.000,-

Sumber: Nurita (2022)

Kebijakan ini tertuang dalam Surat Ketua KPU Nomor 691/KU.01-SD/01/2022 Perihal Satuan Biaya Masukan Lainnya (SBML) Tahapan Pemilihan Umum dan Tahapan Pilkada tanggal 7 September 2022. Dalam kebijakan usulan ini, KPU memahami beban kerja petugas ad hoc yang semakin berat dalam Pemilu 2024. Diperlukan kebijakan yang dapat mengakomodir kebutuhan subjek yang diatur. Dalam kebijakan yang sama, KPU juga mengatur tentang santunan atas resiko yang dialami oleh petugas ad hoc selama menyelenggarakan pemilu 2024.

Tabel 2. Santunan Badan Ad Hoc

No. Kriteria Jumlah

1. Meniggal Rp36.000.000,-

2. Cacat Permanen Rp30.800.000,-

3. Luka Berat Rp16.500.000,-

4. Luka Sedang Rp8.250.000,-

5. Bantuan Biaya Pemakaman Rp10.000.000,-

Sumber: Surat Ketua KPU Nomor 691/KU.01-SD/01/2022

Dalam kebijakannya, KPU mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Pada krisis pasca Pemilu 2019, belum ada aturan mengenai santunan apabila ada petugas yang meninggal. Berkaca dari masalah ini, Dalam persiapan Pemilu 2024 KPU telah menyiapkan kepastian terkait pertanggungjawaban pemberian santunan kepada petugas yang mengalami musibah seperti di atas. Memang seharusnya, kebijakan yang diambil oleh

(7)

para pembuat kebijakan harus dapat mengantisipasi setiap kondisi yang terjadi. Meskipun saat proses perumusan kebijakan tidak mengharapkan sesuatu yang buruk akan terjadi, namun setidaknya terdapat manajemen krisis dalam kebijakan yang diambil. Bagaimanapun kebijakan publik harus memiliki tujuan untuk kepentingan publik.

Rekrutmen Petugas Ad Hoc untuk mewujudkan Pemilu yang Berinegritas

Permasalahan lain yang dihadapi oleh KPU terkait KPPS, dan petugas ad hoc umumnnya adalah adanya anggapan masyarakat bahwa rekrutmen petugas ad hoc tidak dilakukan secara transparan. Saat tulisan ini dibuat, tahapan Pemilu yang telah berjalan adalah tahapan rekrutmen PPK (Panitia Pemiliha Kecamatan). Masih terdapat perselisihan tentang proses rekrutmen petugas ad hoc penyelenggara pemilu seperti yang terjadi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Salah satu peserta melakukan aduan ke DKPP perihal tahapan wawancara yang tidak ada standar bobot penilaian yang jelas (Pramono, 2022).

Hal serupa juga terjadi pada perekrutan pengawas ad hoc oleh Bawaslu. Sebanyak 28 Bawaslu kota/kabupaten dilaporkan ke DKPP atas dugaan pelanggaran dalam proses rekrutmen Panwascam (Febryan, 2022). Tentu ada yang salah pada kebijakan yang dibuat oleh KPU atau lembaga lain dalam hal perekrutan petugas ad hoc-nya. Yang menjadi sorotan adlah kebijakan KPU yang masih melakukan tahapan tes wawancara pada proses rekrutmen petugas ad hoc. Dalam aturan yang KPU buat, tidak ada aturan jelas mengenai kriteria dan bobot penilaian dari proses wawancara. Seringkali penilaian terhadap calon petugas ad hoc didasari oleh penilaian subjekti, berdasarkan like and dislike panitia rekrutmen petugas ad hoc. Tentu hal ini sangat berbahaya. Penulis merasa ironi apabila pada saat pemilihan petugas penyelenggara pemilu saja telah disusupi oleh perilaku nepotisme, bagaimana pemilu akan menghasilkan pemimpin yang baik.

Sistem Informasi Anggota KPU dan Badan Ad Hoc (SIAKBA)

Proses rekrutmen petugas ad hoc untuk Pemilu 2024 menggunakan Sistem Informasi Anggota KPU dan Badan Ad Hoc (SIAKBA) yang telah diluncurkan sceara umum pada 19 Oktober 2022. Idham Holik menyatakan penggunaan teknologi informasi merupakan suatu kebutuhan di era globalisasi hari ini (Triatmojo, 2022). Untuk meminimalisir pelanggaran pada proses rekrutmen petugas ad hoc, KPU membuat kebijakan penggunaan teknologi informasi yang menjamin transparansi proses rekrutmen. Namun, penggunaan teknologi ini tidak dapat menjadi indikator kualitas hasil rekrutmen. Tiara Anggraeni (2022) dalam penelitiannya menyatakan bahwa manfaat penggunaan teknologi informasi rekrutmen pada penghematan biaya, menghemat waktu, pengurangan limbah kertas, lebih efektif dan efisien, serta mempermudah pengambilan keputusuan. Namun, teknologi informasi hanya sekedar menjadi alat rekam otomatis, bukan sistem yang menjamin transparansi proses rekrutmen. Manfaat dari penggunaan teknologi informasi dapat penulis lihat dari mudahnya para calon petugas ad hoc untuk mendaftar ikut serta dalam pemilu sebagai penyelenggara. Selain itu, manfaat yang dapat diperoleh adalah untuk mempermudah partisipasi masyarakat dalam pemilu dapat terekam pada data pendaftaran calon petugas ad hoc. Data-data ini diperlukan oleh para pembuat kebijakan untuk memantau perkembangan partisipasi masyarakat.

(8)

Jelang peluncuran SIAKBA secara umum, jajaran KPU beserta kesekretariatan melaksanakan bimbingan teknis dan uji coba penggunaan SIAKBA yang secara nasional oleh operator SIAKBA KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota pada tanggal 29 September 2022. Hasyim Asyari, Ketua KPU RI menyampaikan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah sebagai upaya antisipasi untuk mengatasi potensi masalah teknis penggunaan SIAKBA pada tahapan rekrutmen petugas ad hoc (Utomo, 2022). Dukungan teknis dan kesiapan dari jajaran KPU sendiri diperlukan untuk memastikan penggunaan SIAKBA oleh calon petugas ad hoc berjalan lancar. Sehingga, saat proses pendaftaran calon petugas ad hoc, SIAKBA dapat berfungsi dengan optimal.

SIAKBA tidak hanya digunakan pada tahapan pendaftaran calon petugas ad hoc saja.

SIAKBA juga digunakan pada tahapan tes tertulis untuk menilai pengetahuan para calon petugas ad hoc. Bentuk transparansi yang dihasilkan dari pemanfaatan teknologi informasi ini adalah tidak adanya kesempatan untuk melakukan kecurangan seperti rekayasa nilai hasil tes tertulis. Hasil tes tertulis akan langsung ditampilkan sesaat setelah pelaksanaan tes selesai. Kemudian hasil tes akan langsung diumumkan pada lokasi ujian berlangsung.

KESIMPULAN

KPU sebagai induk lemabaga penyelenggara pemilu yang membawahi petugas ad hoc telah membuat kebijakan berdasarkan asas manfaat yang jelas. Proses perumusan kebijakan telah melaui berbagai proses. Dari pembuatan isu, melakukan advokasi isu, hingga lobbying kepada para pembuat kebijakan lainnya. Namun sebagai lembaga mandiri, KPU masih dibatasi dengan aturan yang mengharuskan adanya RDP dengan DPR sehingga membuka celah untuk diintervensi. Namun demikian, hal ini dapat dimanfaatkan KPU untuk meningkatkan perhatian publik atas isu kebijakan yang diambil. KPU mendapatkan legitimasi besar dengan proses RDP dengan DPR.

Kebijakan KPU dalam rekrutmen KPPS sudah dibuat sedemikian mungkin untuk mengakomodir kepentingan KPPS sebagai penyelenggara pemilu ditingkat bawah. Dalam proses pembentukan kebijakan, KPU meminta saran dan rekomendasi dari berbagai pihak.

Berbagai antisipasi telah dituangkan dalam kebijakan yang dihasilkan KPU. Penulis yakin melihat pola perumusan kebijakan yang digunakan, KPU akan menghasilkan kebijakan yang tepat sasaran untuk mewujudkan pemilu yang berintegritas. Pengingkatan uang honor petugas ad hoc, penetapan besaran santunan kecelekaan kerja, serta penggunaan Sistem Infomasi Anggota KPU dan Badan Ad Hoc (SIAKBA) merupakan kebijakan yang diambil oleh KPU dalam upaya meningkatkan kualitas rekrutan petugas ad hoc dan meningkatkan kesejahteraan petugas ad hoc.

DAFTAR PUSTAKA

Abdoellah, A. Y. & Rusfiana, Y. (2016). Teori dan Analisis Kebijakan Publik. Bandung:

Penerbit Alfabeta.

Angraeni, T. (2022). Human Resource Information System Solusi Pelaksanaan Rekrutmen Digital untuk Mendukung Green Business. Appllied Business and Administration Journal. 1(2). 26-35. Google scholar

(9)

Darmawan, I. (2016), Mempertanyakan Kinerja Penyelenggara Pemilu Legislatif 2014.

Jurnal Ilmu Politik dan Pemerintahan. 2(1). 1-12. Google scholar.

DKPP. (2022, 4 August). Alfitra Salamm Sebut Ad Hoc Tulang Punggung Pemilu. Retrieved from https://dkpp.go.id/alfitra-salamm-sebut-ad-hoc-tulang-punggung-pemilu/

Dunn, W. N. (2003). Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Febryan, A. (2022). Mengapa Batas Maksimal Usia Petugas KPPS 55 Tahun? Ini Penjelasan KPU.Retrieved from https://www.republika.co.id/berita/rjr32c409/mengapa-batas- maksimal-usia-petugas-kpps-55-tahun-ini-penjelasan-kpu on 24 December 2022.

Febryan, A. (2022). Banyak Pelanggaran, KPU Minta Rekrutmen PPK dan PPS Dilakukan Profesional. Retrieved from https://www.republika.co.id/berita/rly261382/banyak- pelanggaran-kpu-minta-rekrutmen-ppk-dan-pps-dilakukan-profesional on 24 December 2022.

Harahap, R. A. F., & Fahmi, K. (2019). Analisis Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. JPPUMA: Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA. 7(2). 93-101. https://doi.org/10.31289/jppuma.v7i2.2563

Hayati, D. N. (2022). Komisi II DPR Dukung Kenaikan Honor Badan Ad Hoc Pemilu 2024, Ini

Alasannya. Retrieved from

https://nasional.kompas.com/read/2022/08/11/19221271/komisi-ii-dpr-dukung- kenaikan-honor-badan-ad-hoc-pemilu-2024-ini-alasannya on 24 December 2022.

Jenar, A. (2019). Komnas HAM Gelar Diskusi Terbuka Kematian Ratusan Petugas KPPS.

Retrieved from

https://www.komnasham.go.id/index.php/news/2019/5/21/834/komnas-ham-gelar- diskusi-terbuka-kematian-ratusan-petugas-kpps.html on 24 December 2022.

Kementerian Kesehatan. (2019). Ini Penyebab Petugas Pemilu Meninggal dan Sakit.

Retrieved from https://www.kemkes.go.id/article/view/19051600003/ini-penyebab- petugas-pemilu-meninggal-dan-sakit.html on 7 December 2022.

Khan, S., Muradi, & Akbar, I. (2022). Evaluasi Kebijakan KPU Tentang Rekrutmen Badan Ad- Hoc (Studi di Kabupaten Banggai). JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Jurnal Ilmu Sosial, Politik Dan Humaniora, 6(1). DOI: http://dx.doi.org/10.31604/jim.v6i1.2022.1- 10

KPU. (nd). Pemilu Dalam Sejarah. Retrieved from

https://www.kpu.go.id/page/read/12/pemilu-dalam-sejarah on 22 December 2022.

Marpaung, P. S. M. T., Harahap, H., & Rodhi, H. (2022). Analisis Problematika Perekrutan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pada Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Medan Tahun 2020. PERSPEKTIF. 11(3). 1131-1145. DOI:

https://doi.org/10.31289/perspektif.v11i3.6428

Mahardhani, A. J. (2018). Advokasi Kebijakan Publik. Ponorogo: Calina Media.

Mushofa, F. (2019, 18 May). Petugas KPPS Meninggal, Ombudsman: Negara Lakukan Maladministrasi. Retrieved from https://ombudsman.go.id/news/r/petugas-kpps- meninggal-ombudsman-negara-lakukan-maladministrasi- on 22 December 2022.

Nurita, D. (2022). Honor Badan Ad Hoc Pemilu 2024 Naik tapi Tak Sebesar Usulan KPU.

Retrieved from https://nasional.tempo.co/read/1620666/honor-badan-ad-hoc- pemilu-2024-naik-tapi-tak-sebesar-usulan-kpu on 24 December 2022.

(10)

Pandiangan, A. (2019). Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu 2019:

Tanggung Jawab dan Beban Kerja. The Journal of Society & Media, 3(1), 17. DOI:

https://doi.org/10.26740/jsm.v3n1.p17-34

Pramono, A. (2022). Seleksi PPK Dianggap Tak Transparan, Komisioner KPU Bone Dilapor ke DKPP. Retrieved from https://www.detik.com/sulsel/berita/d-6472441/seleksi- ppk-dianggap-tak-transparan-komisioner-kpu-bone-dilapor-ke-dkpp on 24 December 2022.

Prasetia, A. (2017). Komisi II: KPU Tetap Harus Bahas PKPU di RDP DPR. Retrieved from https://news.detik.com/berita/d-3554837/komisi-ii-kpu-tetap-harus-bahas-pkpu-di- rdp-dpr on 24 Decembber 2022.

Purbolaksono, A. (2022). Memperhatikan Pembentukan Badan Ad Hoc Pemilu Serentak 2024. Retrieved from https://www.theindonesianinstitute.com/memperhatikan- pembentukan-badan-ad-hoc-pemilu-serentak-2024/ on 22 Deccmber 2022.

Siska, Y., Valentina, T. R., & Putri, I. A. (2022). Analisis Proses Rekrutmen Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu Tahun 2019 di Kota Solok. Jurnal Niara. 15(2). DOI: https://doi.org/10.31849/niara.v15i2.8830

Subadi, T. (2006). Metode Penelitain Kualitatif. Surakarta: Penerbit Muhammadiyah University Press.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Surat Ketua KPU Nomor 691/KU.01-SD/01/2022 Perihal Satuan Biaya Masukan Lainnya (SBML) Tahapan Pemilihan Umum dan Tahapan Pilkada tanggal 7 September 2022.

Surbakti, R. & Nugroho, K. (2015). Studi tentang Desain Kelembagaan Pemilu yang Efektif.

Jakarta: Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan.

Triatmojo, D. (2022). KPU Yakin Semua Pihak Bisa Paham Penggunaan Teknologi Informasi

di Pemilu 2024. Retrieved from

https://www.tribunnews.com/nasional/2022/06/25/kpu-yakin-semua-pihak-bisa- pahami-penggunaan-teknologi-informasi-di-pemilu-2024 on 24 December 2022.

Utomo, M. (2022). KPU Jatim Jadi Tuan Rumah Pelatihan Operator SIAKBA. Retrieved from https://infonews.id/baca-4253-kpu-jatim-jadi-tuan-rumah-pelatihan-operator- siakba- on 24 December 2022.

Wahyudi, I. (2008). Memahami Kebijakan Publik dan Strategi Advokasi Sebuah Panduan Praktis. Malang: In-Trans Publishing.

Widodo, J. (2021). Analisis Kebijakan Publik: Konsep dan Aplikasi Analisis Proses Kebijakan Publik. Malang: Media Nusa Creative.

Winarno, B. (2008). Kebijakan Publik Teori & Proses. Yogyakarta: MedPress.

Yulianti, C. (2022). Intervensi: Pengertian Menurut Ahli dan Jenis-jenisnya. Retrieved from https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6386840/intervensi-pengertian-menurut- ahli-dan-jenis-jenisnya on 24 December 2022.

Referensi

Dokumen terkait

Selama ini subyek sengketa masih belum jelas, seperti belum menetapkan secara tegas bahwa apakah penyelenggara Pemilu baik KPU sebagai penyelenggara Pemilu maupu Bawaslu

Sosialisasi peserta pemilu merupakan jenis kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh KPU Kabupaten Indragiri Hulu untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat

Pelaksanaan kebijakan pemilu melalui kegiatan komunikasi/ kejelasan informasi pemilu, dengan peningkatan kualitas sumber daya dan didukung sikap positip serta

Dalam penelitian ini yang membahas mengenai pembagian tugas KPPS selama proses pemungutan dan rekapitulasi yang dilakukan di TPS pada Pemilu Serentak Tahun 2019

Pelaksanaan kebijakan pemilu melalui kegiatan komunikasi/ kejelasan informasi pemilu, dengan peningkatan kualitas sumber daya dan didukung sikap positip serta

Masyarakat umum menilai potensi isu pelanggaran etik dalam penyelenggaraan pemilu di Indonesia pada pemilu serentak tahun 2024 tidak akan jauh dari prinsip etik fundamental berpihak

DAFTAR INVENTARISASI MASALAH DIM TAHAPAN PEMUNGUTAN DAN PENGHITUNGAN SUARA PEMILU TAHUN 2019 DAN POTENSI PERMASALAHAN PADA PEMILU TAHUN 2024 KABUPATEN PASAMAN BARAT ISU NO

ANALISIS 1 Potensi terjadinya protes dari masyarakat akan hasil Pemilu 2024 sangat besar akibat informasi yang tersebar baik melalui media pemberitaan elektronik maupun media sosial