• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Saku Saksi Peserta Pemilu 2024

N/A
N/A
muhamad ismail

Academic year: 2024

Membagikan " Buku Saku Saksi Peserta Pemilu 2024 "

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

BUKU SAKU

SAKSI PESERTA PEMILU

PUSAT PENELITIAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN DAN

(3)

PUSAT PENELITIAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

BUKU SAKSI PESERTA PEMILU

PEMBINA:

RAHMAT BAGJA

HERWYN JEFLER MALONDA LOLLY SUHENTI

TOTOK HARIYONO PUADI

PENGAWAS:

RAHMAT JAYA PARLINDUNGAN SIREGAR M. HANIF ALUSI

WENLY LOLONG

SIMON HERMAN AWUY PENULIS:

TIM PENYUSUN:

KETUA : HANIF VIDI YUWONO WAKIL : IKE MEISYE LAKSMI

EKO AGUS WIBISONO BRE IKRAJENDRA ROSALINA SIHOMBING MUHAMMAD HABIBI ANGGOTA : ADIE IWA CHATULISTIWA

PRAMESTA WIDYA PERMANA REZA SYAMSURI

NISTYA MAHARANI SAEPUDIN

PUTRI SETYA ARI KUSUMA RADEN SONNY TAHUN PENYUSUNAN: 2023

(4)

KATA SAMBUTAN

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami selaku pengawas Pemilu dapat menyelesaikan penyusunan buku saku ini dengan baik. Penyusunan buku saku ini merupakan ikhtiar dalam memperkuat kapasitas dan kompetensi bagi saksi peserta Pemilu baik di tingkat nasional maupun di daerah agar memiliki pemahaman dan kemampuan untuk memahami pengetahuan yang komprehensif dalam melaksanakan tugas pokok fungsi sebagai saksi peserta Pemilu.

Puslitbangdiklat Bawaslu memiliki tugas untuk dapat mempersiapkan, mengembangkan dan melatih saksi peserta Pemilu, termasuk menyusun panduan hingga bahan ajar berupa buku saku agar saksi peserta Pemilu di tiap tingkatan mendapatkan pemahaman teoritis, teknis dan praktis dalam melakukan tugas pengawalan tahapan Pemilu.

Buku saku ini merupakan rangkaian dari sumber pengetahuan dan kurikulum yang sudah disiapkan Bawaslu untuk meningkatkan kapasitas saksi peserta Pemilu. Semoga buku saku ini membawa manfaat bagi seluruh saksi peserta Pemilu, jajaran pengawas Pemilu, peserta Pemilu dan masyarakat Indonesia. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi dan menguatkan langkah kita semua dalam menjalankan amanat.

“Bersama Rakyat Awasi Pemilu

Bersama Bawaslu Tegakkan Keadilan Pemilu”

Ketua Badan Pengawas Pemilu Rahmat Bagja

(5)

KATA PENGANTAR

Jajaran saksi peserta Pemilu yang berkualitas merupakan prasyarat dalam meningkatkan kualitas Pemilu dan demokrasi di Indonesia. Maka dari itu, seorang saksi peserta Pemilu harus memiliki kemampuan dan kompetensi yang dapat mendukung tugas pokok fungsinya. Penguatan kompetensi SDM saksi peserta Pemilu sudah menjadi amanat Undang-Undang Pemilu bagi jajaran pengawas Pemilu. Selain itu, proses ini bertujuan agar dapat memenuhi standar penyelenggaraan Pemilu yang adil, transparan, akuntabel, tertib dan berintegritas. Tugas tersebut kemudian diterjemahkan oleh Puslitbangdiklat Bawaslu dalam bentuk penguatan kapasitas melalui pelatihan teknis dan penyediaan bahan bacaan penguat pengetahuan.

Berangkat dari pertimbangan diatas maka Bawaslu memandang penting dan perlu adanya sebuah sumber pengetahuan yang bisa dijadikan pedoman atau rujukan bagi saksi peserta Pemilu dalam bentuk buku saku. Penyusunan buku saku yang sudah disiapkan oleh Puslitbangdiklat Bawaslu menjadi penting dan krusial untuk menjadi sumber informasi dan literasi bagi pengembangan kompetensi saksi peserta Pemilu.

Maka dengan memanjatkan puji syukur serta berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, buku saku bagi saksi peserta Pemilu ini disusun dan dibuat untuk menjadi pedoman bagi saksi peserta Pemilu di seluruh Indonesia.

“Bersama Rakyat Awasi Pemilu

Bersama Bawaslu Tegakkan Keadilan Pemilu”

Koordinator Divisi SDM Organisasi Diklat Herwyn Jefler H. Malonda

(6)

DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN ... 4

KATA PENGANTAR ... 5

DAFTAR ISI ... 6

PERAN SAKSI PESERTA PEMILU ... 8

URGENSI SAKSI PESERTA PEMILU ... 8

TUGAS POKOK FUNGSI SAKSI PESERTA PEMILU ... 10

MEKANISME SAKSI PESERTA PEMILU DALAM MELAKSANAKAN TUGASNYA DILAKUKAN DENGAN CARA SEBAGAI BERIKUT: ... 11

HAK DAN KEWAJIBAN SAKSI PESERTA PEMILU ... 19

LARANGAN SAKSI PESERTA PEMILU ... 21

PERSYARATAN REKRUTMEN SAKSI PESERTA PEMILU ... 22

REKRUTMEN SAKSI PESERTA PEMILU ... 22

IDENTIFIKASI KOMPETENSI SAKSI PESERTA PEMILU ... 24

NILAI DASAR SAKSI PESERTA PEMILU ... 24

KODE ETIK SAKSI PESERTA PEMILU ... 26

STANDAR KOMPETENSI SAKSI PESERTA PEMILU ... 27

HAMBATAN DAN TANTANGAN SAKSI PESERTA PEMILU ... 28

KESIAPAN KESEHATAN MENTAL DAN EMOSIONAL SAKSI PESERTA PEMILU ... 29

MANAJEMEN PENGETAHUAN SAKSI PESERTA PEMILU ... 35

PESERTA PEMILU 2024 ... 35

KETEGORISASI DAFTAR PEMILIH ... 37

IDENTIFIKASI STAKEHOLDER PENYELENGGARA PEMILU ... 41

LOGISTIK PEMILU ... 48

J -J F T TPS ... 73

(7)

TAHAPAN PEMUNGUTAN DAN PENGHITUNGAN SUARA ... 110

AKURASI DATA PEMILIH ... 110

PENYALURAN HAK PILIH ... 111

HAK PEMILIH DISABILITAS ... 113

DISTRIBUSI LOGISTIK ... 115

TPSRAWAN ... 116

KELELAHAN PENYELENGGARA ... 117

POLITIK UANG ... 119

POTENSI PENGGELEMBUNGAN SUARA ... 122

PEMUNGUTAN SUARA ULANG ... 123

PENEGAKAN HUKUM PEMILU ... 124

MEKANISME PELAPORAN DUGAAN PELANGGARAN PEMILU ... 124

MEKANISME PEMUNGUTAN SUARA ULANG ... 125

MEKANISME PEMBERIAN KETERANGAN DI MAHKAMAH KONSTITUSI ... 127

TEKNIKDANDOKUMENTASIPENGAWASAN ... 129

DOKUMENTASI KEGIATAN ... 132

MANAJEMEN ALAT BUKTI ... 134

MEKANISME PENGAJUAN KEBERATAN ... 135

(8)

PERAN SAKSI PESERTA PEMILU

Urgensi Saksi Peserta Pemilu

Saksi Peserta Pemilu adalah saksi dari Partai Politik atau Peserta Pemilu yang mendapat surat mandat tertulis dari tim kampanye atau pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik untuk Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, Pengurus Partai Politik tingkat Kabupaten/Kota atau tingkat diatasnya untuk Pemilu anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dan calon perseorangan untuk Pemilu anggota DPD untuk menyaksikan proses penyelenggaraan pemungutan dan penghitungan suara di tempat pemungutan suara (TPS). “Saksi sebagaimana dimaksud (peserta Pemilu) dilatih oleh Bawaslu”. (Undang-Undang No. 7 Th. 2017 Pasal 351 ayat 8).

Saksi peserta Pemilu dianggap banyak kalangan tidak memiliki peran yang signifikan dalam proses pelaksanaan Pemilu dan Pilkada karena keberadaannya tidak menjadi sebuah kewajiban yang benar-benar diatur secara rinci dalam peraturan perundang- undangan. Pada realitasnya pun pada hari-H pemungutan suara, tidak banyak partai politik maupun peserta Pemilu yang memiliki saksi di tempat pemungutan suara. Anggapan-anggapan demikian kemudian mereduksi keberadaan saksi peserta Pemilu, yang dahulu disebut saksi partai politik. Disebut saksi peserta Pemilu karena tidak hanya partai politik saja yang memerlukan peran saksi, tapi juga peserta Pemilu perorangan di legislatif. Banyak masyarakat tidak memahami peran saksi peserta Pemilu, padahal jika diulas lebih mendalam, saksi peserta Pemilu memiliki peran yang krusial dalam proses penyelenggaran Pemilu. Saksi peserta Pemilu merupakan representasi dari peserta Pemilu dalam memastikan proses penyelenggaraan dan perolehan suara peserta

(9)

Peran Saksi Peserta Pemilu:

a. Representasi peserta Pemilu di tempat pemungutan suara;

b. Memastikan hak-hak peserta Pemilu tidak dilanggar oleh peserta Pemilu yang lain atau oleh penyelenggara dan pengawas Pemilu;

c. Memastikan proses penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

d. Memastikan hasil perolehan suara peserta Pemilu;

e. Memastikan hasil pemungutan dan penghitungan suara tidak dicurangi;

f. Melakukan pengawasan langsung terhadap proses pemungutan dan penghitungan suara di TPS;

g. Mengawasi proses fasilitasi penyaluran hak pilih masyarakat di TPS;

h. Mengawasi potensi pelanggaran yang terjadi dalam pemungutan dan penghitungan suara di TPS;

i. Mencegah terjadinya manipulasi dan penggelembungan suara;

j. Memastikan integritas penyelenggara dan pengawas Pemilu;

Faktor yang Mempengaruhi Peran Saksi Peserta Pemilu:

a. Rekrutmen saksi peserta Pemilu;

b. Hak dan kewajban yang didapatkan;

c. Jumlah besaran honor dari peserta Pemilu;

d. Militansi terhadap peserta Pemilu yang merekrut;

e. Pemahaman akan alur dan mekanisme penyelenggaraan pemungutan dan penghitungan suara;

f. Pemahaman akan mekanisme pelaporan dugaan pelanggaran;

g. Pemahaman akan regulasi penyelenggaraan Pemilu (di TPS);

h. Tingkat pendidikan dan pengetahuan;

i. Situasi politik yang ada di lingkungan masyarakat dimana dia berada;

j. Tingkat kesadaran saksi akan tugas dan tanggunhjawab.

(10)

Tugas Pokok Fungsi Saksi Peserta Pemilu Tugas pokok fungsi saksi peserta Pemilu:

a) Tugas Umum

1. Saksi bertugas untuk menjamin agar pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara berlangsung jujur dan adil sesuai dengan peaturan perundang-undangan;

2. Menjaga hak peserta Pemilu untuk mendapatkan proses penyelenggaraan pemungutan suara yang transparan dan akuntabel.

3. Mendapatkan kesempatan yang sama dalam melakukan upaya-upaya hukum jika mendapatkan perlakuan yang curang.

b) Tugas Khusus

1. Memastikan penerimaan undangan proses pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara di TPS oleh KPPS;

2. Memastikan tersedianya daftar pemilih tetap di TPS;

3. Memastikan waktu pembukaan TPS sesuai dengan aturan;

4. Menghadiri persiapan pembukaan TPS serta pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara di dalam TPS;

5. Mengikuti pemeriksaan terhadap kelengkapan pemungutan dan penghitungan suara di TPS;

6. Menyaksikan proses pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara di TPS;

7. Menyaksikan proses rekapitulasi hasil pemungutan dan penghitungan suara di TPS;

8. Meminta penjelasan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pemungutan suara

(11)

Mekanisme Saksi Peserta Pemilu Dalam Melaksanakan Tugasnya Dilakukan Dengan Cara Sebagai Berikut:

A. Sebelum Hari Pemungutan Suara Tugas saksi:

1) Menyiapkan surat mandat sebagai Saksi dari Peserta Pemilu tingkat Kabupaten/Kota kepada KPPS dan meminta bukti tanda terima surat paling lambat 1 hari sebelum hari pemungutan dan penghitungan suara;

2) Menyiapkan kelengkapan seperti KTP dan Surat Pemberitahuan memilih untuk dibawa pada saat bertugas esok hari.

B. Hari Pemungutan Suara

a. Proses Persiapan Pemungutan Suara Tugas saksi:

1) Hadir selambat-lambatnya pukul 6.30 waktu setempat;

2) Membawa kelengkapan KTP dan Surat Pemberitahuan Memilih;

3) Membawa dan menyerahkan surat mandat yang ditandatangani oleh pasangan calon atau tim kampanye tingkat Kabupaten/Kota atau tingkat atasnya, untuk Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, pimpinan partai politik tingkat Kabupaten/Kota atau tingkat diatasnya untuk Pemilu Anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dan Calon Anggota DPD untuk Pemilu anggota DPD;

4) Mengenakan tanda pengenal saksi yang diterima dari KPPS;

5) Membawa kelengkapan alat tulis menulis;

6) Bersama-sama Ketua dan Anggota KPPS memastikan bahwa kotak suara dalam keadaan digembok/dengan alat pengaman lainnya dan tersegel serta kelengkapan dan kondisi TPS sesuai dengan ketentuan;

7) Menghadiri kegiatan KPPS berupa:

• Membuka kotak suara;

• Mengeluarkan seluruh isi kotak suara;

(12)

• Mengidentifikasi jenis dokumen dan peralatan;

• Menghitung jumlah setiap jenis dokumen dan peralatan;

• Memeriksa keadaan seluruh surat suara, tinta, segel, alat untuk mencoblos, sampul, kertas, karet pengikat surat suara, kantong plastik, formulir, tali pengikat alat pemberi pilihan dan alat bantu pemilih disabilitas netra; dan

• Menandatangani surat suara yang akan digunakan oleh Pemilih.

b. Proses Pemungutan Suara Tugas saksi:

1) Mengikuti rapat pemungutan suara dan proses Sumpah/Janji Anggota KPPS;

2) Memastikan sampul Surat Suara dalam keadaan tersegel dan jumlah Surat Suara sesuai ketentuan;

3) Memastikan bahwa kotak suara benar-benar kosong dan dikunci/diamankan dengan alat pengaman kembali setelah semua isi dikeluarkan telah diperiksa KPPS;

4) Memastikan bahwa nama Pemilih sesuai dengan daftar nama yang tercantum di DPT, DPTb dan DPK;

5) Memastikan bahwa Pemilih tidak memiliki tanda khusus bahwa dia telah memberikan suara (seperti bekas tinta di jarinya);

6) Memastikan bahwa setiap Surat Suara yang diterima Pemilih tidak cacat dan ada tanda-tanda khusus/rusak;

7) Memastikan bahwa setiap Surat Suara yang diterima Pemilih sudah ditandatangani oleh ketua KPPS;

(13)

bantuan terhadap Pemilih dilakukan dengan cara sebagai berikut:

• Bagi Pemilih yang tidak dapat berjalan, pendamping yang ditunjuk membantu Pemilih menuju bilik suara, dan pencoblosan Surat Suara dilakukan oleh Pemilih sendiri;

• Bagi Pemilih yang tidak mempunyai dua belah tangan dan tunanetra, pendamping yang ditunjuk membantu mencoblos Surat Suara sesuai kehendak Pemilih.

c. Proses Penutupan Tempat Pemungutan Suara (TPS) Tugas Saksi:

1) Memastikan seluruh Pemilih yang telah terdaftar dalam formulir telah selesai memberikan suara;

2) Memastikan untuk pendokumentasian setiap formulir;

3) Memastikan KPPS dan Petugas Ketertiban TPS mengatur keseimbangan jumlah Pemilih terhadap Surat Suara yang masih tersedia;

4) Memastikan bahwa Surat Suara yang tidak terpakai telah diberi tanda silang besar oleh petugas KPPS;

5) Memastikan bahwa petugas KPPS telah mencatat jumlah Surat Suara yang tidak digunakan/rusak (cacat terdapat coretan dan sebagainya).

d. Proses Penghitungan Suara

- Rapat Penghitungan Suara dihadiri oleh Saksi dan/atau Pengawas TPS;

- Sebelum rapat Penghitungan Suara di TPS, anggota KPPS mengatur sarana dan prasarana yang diperlukan dalam Penghitungan Suara;

- Sarana dan prasarana meliputi pengaturan tempat rapat Penghitungan Suara di TPS, termasuk pengaturan papan atau tempat untuk memasang formulir hasil;

- Pengaturan tempat duduk KPPS, Saksi, Pengawas TPS, Pemilih, Pemantau Pemilu, dan Masyarakat;

(14)

- Penyiapan alat keperluan administrasi, formulir Penghitungan Suara di TPS, sampul kertas/kantong plastik pembungkus, segel, kotak suara yang ditempatkan di dekat meja ketua KPPS serta menyiapkan kuncinya dan peralatan TPS lainnya;

- Sarana dan prasarana diatur dengan baik agar mudah digunakan dan rapat Penghitungan Suara dapat diikuti oleh semua yang hadir dengan jelas;

- Penempatan Saksi, Pengawas TPS, Pemilih, Pemantau Pemilu, dan Masyarakat diatur sebagai berikut: “Saksi dan Pengawas TPS ditempatkan di dalam TPS dan Pemilih, Pemantau Pemilu dan Masyarakat ditempatkan di luar TPS”.

Tugas saksi:

1) Memastikan KPPS menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam penghitungan suara;

2) Memastikan KPPS melakukan:

• Pencatatan jumlah Pemilih yang terdaftar dalam salinan DPT, DPTb, DPK, dan Pemilih disabilitas yang menggunakan hak pilihnya; Jumlah Surat Suara yang diterima termasuk Surat Suara cadangan; Jumlah Surat Suara yang rusak/

keliru dicoblos; Jumlah Surat Suara yang tidak digunakan termasuk sisa Surat Suara cadangan;

• Penjumlahan:

- Surat Suara yang digunakan,

- Surat Suara yang rusak atau keliru dicoblos, - Surat Suara yang tidak digunakan, termasuk

sisa Surat Suara cadangan, harus sama dengan jumlah Surat Suara yang diterima

(15)

- Surat Suara Pemilu Anggota DPR;

- Surat Suara Pemilu Anggota DPD;

- Surat Suara Pemilu Anggota DPRD Provinsi;

dan

- Surat Suara Pemilu Anggota DPRD Kabupaten/Kota

• Untuk Daerah Pemilihan di DKI Jakarta Saksi memastikan proses Penghitungan Suara dilakukan secara berurutan dimulai dari Penghitungan Suara untuk;

- Surat Suara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden;

- Surat Suara Pemilu Anggota DPR;

- Surat Suara Pemilu Anggota DPD;

- Surat Suara Pemilu Anggota DPRD Provinsi.

• Saksi memastikan KPPS melakukan penghitungan suara dengan cara:

- Membuka kunci dan tutup kotak suara dengan disaksikan oleh semua pihak yang hadir;

- Mengeluarkan Surat Suara dari kotak suara dan diletakkan di meja Ketua KPPS;

- Menghitung jumlah Surat Suara dan memberitahukan jumlah tersebut kepada yang hadir serta mencatat jumlahnya;

- Mencocokkan jumlah Surat Suara yang terdapat di dalam kotak suara dengan jumlah Pemilih yang hadir dalam formulir;

- Membuka surat suara lembar demi lembar;

- Dalam hal ditemukan Surat Suara tidak berada pada kotak suara yang sesuai maka:

• Sebelum Dihitung

o Ketua KPPS menunjukan Surat Suara tersebut kepada Saksi, PTPS, Anggota KPPS, Pemantau Pemilu, atau masyarakat/Pemilih yang hadir;

(16)

o Memasukan Surat Suara ke dalam kotak suara sesuai dengan jenis pemilu.

• Setelah Dihitung

o Ketua KPPS menunjukan Surat Suara tersebut kepada saksi, PTPS, Anggota KPPS, Pemantau Pemilu, atau masyarakat/Pemilih yang hadir;

o Membuka Surat Suara dan memeriksa tanda coblos pada Surat Suara sesuai dengan jenis Pemilu dan mencatatnya ke dalam formulir sesuai jenis Pemilu dalam bentuk tally;

o Memeriksa pemberian tanda coblos pada Surat Suara;

o Menunjukkan kepada Saksi, Pengawas TPS, Anggota KPPS, Pemantau Pemilu atau masyarakat/

Pemilih yang hadir dengan ketentuan 1 (satu) Surat Suara dihitung 1 (satu) suara dan dinyatakan sah atau tidak sah;

o Menyampaikan hasil penelitiannya kepada Saksi, Pengawas TPS, Pemantau atau masyarakat, dengan suara yang terdengar jelas;

o Mencatat hasil Penghitungan Suara ke dalam formulir yang ditempel pada papan atau tempat tertentu dengan cara tally;

(17)

Calon, Partai Politik, dan calon anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota, jumlah seluruh suara sah, jumlah suara tidak sah, serta jumlah gabungan suara sah dan tidak sah;

o Mengumumkan hasil perolehan suara Pasangan Calon, Partai Politik dan calon anggota DPR, calon anggota DPD, Partai Politik dan calon anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dengan suara yang terdengar jelas;

o Mengisi Sertifikat Hasil Penghitungan Suara masing-masing jenis Pemilu dalam formulir;

o Mengisi pernyataan keberatan Saksi atau catatan kejadian khusus kedalam formulir jika ada;

o Mengisi Berita Acara Pemungutan dan Penghitungan Suara.

(lanjutan tugas saksi ….. )

3) Mendokumentasikan hasil penghitungan suara;

4) Meminta Salinan hasil penghitungan suara, Berita Acara Pemungutan dan Penghitungan Suara, dan Sertifikat hasil Penghitungan Suara;

5) Mencatat bila ada pelanggaran terjadi dan dilaporkan kepada Pengawas TPS;

6) Mengawal proses penyimpanan kotak suara dari TPS ke PPS Desa/Kelurahan;

7) Menandatangani berita acara apabila pelaksanaan pemungutan suara berjalan sesuai ketentuan;

8) Apabila tidak ada keberatan maka Saksi tetap mengisi dan menandatangani Formulir Catatan Kejadian Khusus dan Keberatan Saksi pada formulir lembaran pernyataan keberatan saksi dan diisi NIHIL;

(18)

9) Jika terdapat keberatan, Saksi mencatat dengan jelas isi keberatan Saksi pada Catatan Kejadian Khusus dan Keberatan Saksi;

10) Saksi memastikan bahwa seluruh dokumen pemungutan suara dimasukkan ke dalam kotak suara dan disegel;

11) Bila ada indikasi/kesalahan oleh petugas maka:

• Saksi TPS harus segera meminta KPPS untuk melakukan pembetulan saat itu juga. Bila tidak dihiraukan maka Saksi harus mencatat dengan detail, sehingga jika diperlukan dapat diadukan sebagai pelanggaran;

• Mencatat dengan jelas isi keberatan saksi pada model C2 (Catatan Kejadian Khusus dan Keberatan Saksi)

C. Setelah Hari Pemungutan Suara Tugas Saksi:

1) Menyampaikan hasil pengawasan dan pencatatan perolehan suara kepada peserta Pemilu;

2) Mengawal proses rekapitulasi berjenjang dari TPS ke Kelurahan/Desa dan berkoordinasi dengan saksi pada tingkatan koordinasi di atasnya;

3) Memastikan tidak terjadi kecurangan dalam hal distribusi logistik yang berisi hasil perolehan suara;

4) Mencatat hal-hal khusus yang berpotensi menjadi potensi pelanggaran dan melaporkannya ke jajaran pengawas Pemilu;

5) Merapikan dokumentasi dan dokumen-dokumen proses pemungutan dan penghitungan suara di TPS.

(19)

Hak dan Kewajiban Saksi Peserta Pemilu

Berikut adalah hak dan kewajiban saksi peserta Pemilu:

HAK KEWAJIBAN

1. Mendapatkan hak-haknya sebagai saksi peserta Pemilu dari peserta Pemilu.

Misalnya:

- Uang saku

- Uang makan siang - Uang jalan

2. Mendapatkan tanda pengenal sebagai saksi peserta Pemilu;

3. Mendapatkan akses dalam mengawasi pelaksanaan proses pemungutan dan penghitungan suara;

4. Mendapatkan tempat duduk dalam tempat pemungutan suara;

5. Mendapatkan akses terhadap dokumen- dokumen yang berhubungan dengan proses pemungutan dan penghitngan suara;

6. Mendapatkan akses dalam memeriksa kelengkapan

pemungutan dan

penghitungan suara;

7. Mendapatkan penjelasan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara di TPS dari Ketua dan Anggota KPPS;

8. Mendapatkan hak untuk mengajukan keberatan atas terjadinya kesalahan atau

1. Menyampaikan surat mandat yang telah ditandatangani oleh paslon atau Tim Kampanye tingkat Kabupaten/Kota atau tingkat diatasnya;

2. Menyampaikan surat mandat yang telah ditandatangani oleh pimpinan Parpol tingkat Kab/Kota atau tingkat di atasnya untuk Pemilu DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kab/Kota; atau

3. Menyampaikan surat mandat yang telah ditandatangani oleh calon anggota DPD untuk Pemilu anggota DPD;

4. Menjamin pelaksanaan

pemungutan dan

penghitungan suara berlangsung jujur, adil, transparan dan tertib;

5. Tidak menggunakan atau membawa atribut partai politik;

6. Hadir tepat waktu sesuai dengan persiapan pembukaan TPS;

7. Menghadiri setiap proses tahapan pelaksanaan

pemungutan dan

penghitungan suara;

8. Menandatangani dokumen atau formulir yang diperlukan;

9. Mengisi daftar hadir;

10. Hadir dalam proses pembukaan TPS;

(20)

pelanggaran dalam pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara ke KPPS;

9. Mendapatkan hak untuk melaporakn dugaan pelanggaran dalam proses

pemungutan dan

penghitungan suara ke pengawas Pemilu;

10. Mendapatkan hak yang sama tanpa ada diskriminasi dengan saksi-saksi dari peserta Pemilu lainnya;

11. Menerima:

- Salinan DPT;

- Salinan formulir model A.3, Model A.4 dan Model A.DPK KPU dari KPPS;

- Salinan Berita Acara pemungutan dan penghitungan suara;

- Salinan C1;

- Salinan sertifikat hasil penghitungan suara.

11. Hadir dalam proses pemeriksaan kelengkapan peralatan pemungutan da penghitungan suara;

12. Hadir dalam proses

pemungutan dan

penghitungan suara;

13. Memastikan pemilih membawa C6;

14. Memastikan terfasilitasinya hak pilih masyarakat;

15. Memastikan bahwa TPS mudah diakses oleh Pemilih terutama pemilih penyandang disabilitas;

16. Melaporkan kepada pengawas Pemilu jika terjadi kecurangan atau pelanggaran;

17. Mendokumentasikan proses

pemungutan dan

penghitungan suara;

18. Mencatat hasil perolehan suara;

19. Menyampaikan keberatan atas kecurangan, pelanggaran atau hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan ketentuan peraturan dan undang- undang;

20. Mengawasi proses pemungutan dan pengitungan suara di TPS.

(21)

Larangan Saksi Peserta Pemilu

Dalam rangka melaksanakan tugas pengawasan proses pemungutan dan penghitungan suara, saksi peserta Pemilu dilarang:

1. Mempengaruhi dan mengintimidasi pemilih dalam menentukan pilihannya;

2. Melihat pemilih mencoblos surat suara di bilik suara;

3. Mengerjakan atau membantu mempersiapkan perlengkapan pemungutan dan penghitungan suara serta mengisi formulir pemungutan suara dan hasil penghitungan suara;

4. Mengganggu kerja KPPS dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya;

5. Mengganggu pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara;

6. Menghalang-halangi proses terselenggaranya pemungutan dan penghitungan suara;

7. Menggunakan atau membawa atribut yang mencitrakan salah satu peserta Pemilu atau partai politik;

8. Membuat keributan dan gangguan ketertiban di dalam dan di sekitar tempat pemungutan suara;

9. Membawa surat mandate dari saksi lain atau peserta Pemilu lainnya;

10. Melakukan mobilisasi pemilih secara paksa ke TPS;

11. Melakukan praktik politik uang di dalam atau di sekitar TPS;

12. Melakukan praktik politisasi SARA di dalam atau di sekitar TPS;

13. Melakukan praktik kampanye hitam di dalam dan di sekitar TPS;

14. Membawa senjata tajam, senjata api, minuman keras atau obat-obatan terlarang yang dapat membahayakan orang lain di TPS;

15. Dilarang masuk ke dalam TPS dalam kondisi tidak sadar atau mabuk karena satu kondisi dan lain hal yang berpotensi mengganggu ketertiban di dalam dan di luar TPS.

(22)

Persyaratan Rekrutmen Saksi Peserta Pemilu

Berikut ini merupakan syarat-syarat rekrutmen saksi peserta Pemilu;

1) Warga Negara Republik Indonesia;

2) Sehat secara jasmani dan rohani;

3) Memiliki kemampuan berpikir dan teliti;

4) Warga yang berdomisili tetap, dan diutanmakan berdomisili di lokasi TPS tempat bertugas;

5) Memiliki hak pilih;

6) Terdaftar di DPT;

7) Mendapatkan mandate tertulis dari peserta Pemilu/Tim Kampanye;

8) Tidak sedang tersangkut kasus hukum;

9) Tidak menjadi saksi dari peserta atau partai politik peserta Pemilu lainnya.

Bagi partai politik atau peserta Pemilu sebaiknya memperhatikan berikut ini:

1) Saksi haruslah orang yang memiliki loyalitas;

2) Saksi haruslah direkrut dari jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan Pemilu;

3) Saksi harus bersedia mengikuti pelatihan akan tugas dan kewajibannya;

4) Saksi dilengkapi oleh seragam yang ketentuannya tidak dilarang oleh aturan KPU;

5) Saksi sebaiknya memahami jumlah DPT di TPS tempat tugasnya.

Rekrutmen Saksi Peserta Pemilu

(23)

ditempatkan? Bagaimana pembiayaannya? Bagaimana latar belakang saksi tersebut? Ditempatkan di TPS asal daerahnya atau bukan?

Pertanyaan tersebut dapat membantu peserta pemilu untuk mengetahui berapa orang saksi yang tidak disediakan oleh partai di daerah pemilihannya, sehingga peserta pemilu dapat menyiapkan saksi yang dapat turut serta memantau proses penghitungan suara hingga selesai;

2) Mempertimbangkan komitmen dan loyalitas. Sebagai sebuah tim yang bekerja secara kolektif, maka saksi pemilu pun harus memiliki komitmen dan loyalitas agar tidak mendua.

Partai/tim harus transparan terkait hak dan kewajiban sebagai saksi;

3) Saksi peserta pemilu perlu dibekali pengetahuan mengenai teknis kepemiluan terutama dalam proses pemungutan dan penghitungan suara. Saksi partai politik perlu memahami hal berikut;

a. Waktu dimulai dan berakhirnya pemungutan dan penghitungan suara. Dalam hal ini saksi diupayakan untuk hadir sebelum waktu dimulainya pencoblosan untuk mendata persiapan logistik di TPS, apakah sudah terpenuhi atau belum;

b. Ketentuan suara sah dan suara tidak sah;

c. Kriteria pemilih yang dapat menggunakan hak pilihnya di TPS;

d. Tata cara mengisi formulir keberatan apabila ada kecurangan di TPS.

4) Saksi partai politik perlu memahami mengenai pengisian formulir. Apabila terjadi sengketa pemilu, yang menjadi dasar adalah formulir sehingga saksi perlu diarahkan untuk dapat mengontrol pengisian formulir dan menyetor pada partai/tim yang bersangkutan. Saksi harus mengetahui beberapa jenis formulir, dari formulir berita acara hingga formulir keberatan. Karena saksi peserta pemilu berhak untuk mengajukan penghitungan suara ulang jika terjadi keberatan atau ketidaksesuaian data.

(24)

IDENTIFIKASI KOMPETENSI SAKSI PESERTA PEMILU Nilai Dasar Saksi Peserta Pemilu

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, saksi peserta Pemilu memiliki nilai dasar. Nilai dasar saksi peserta Pemilu adalah bentuk nilai-nilai yang terdapat pada diri saksi peserta Pemilu yang berguna untuk menunjang aktifitas pengaasan pemungutan dan penghitungan suara. Nilai dasar saksi peserta Pemilu terdiri dari beberapa hal sebagai berikut:

a) Kompeten

Seorang saksi peserta Pemilu memerlukan kompetensi dalam melakukan pengawalan proses pemungutan dan penghitungan suara di TPS, kompetensi ini meliputi kemampuan dalam membaca peraturan, mekanisme dan proses pemungutan suara hingga membaca potensi-potensi pelanggaran yang bisa merugikan peserta Pemilu yang diwakilinya.

b) Loyalitas

Seorang saksi peserta Pemilu memerlukan tingkat kesetiaan yang tinggi kepada peserta Pemilu yang diwakilinya dalam proses pemungutan dan penghitungan suara di TPS, tujuannya adalah agar saksi tidak mudah goyah terhadap rayuan dari peserta lainnya untuk membocorkan atau melakukan tindak-tindak kecurangan yang dapat merugikan peserta Pemilu yang diwalikinya.

c) Adaptif

Seorang saksi peserta Pemilu harus memiliki semangat yang

(25)

d) Kolaboratif

Seorang saksi peserta Pemilu harus mampu bekerjasama dengan berbagai banyak pihak yang menjadi mitra kerjanya di TPS, seperti KPPS, pengawas TPS dan saksi dari pihak peserta Pemilu lainnya. Karena kerjasama dalam hal penyelenggaraan Pemilu akan berguna dalam menghasilkan proses penyelenggaraan pemungutan dan penghitugan suara yang tertib, kondusif dan transparan.

e) Komunikatif

Saksi peserta Pemilu harus komunikatif. Tujuannya adalah agar bisa mekondisikan hal-hal yang berpotensi menjadi gesekan kepentingan antar saksi peserta Pemilu maupun dengan penyelenggara Pemilu. Saksi juga harus dapat mengkomunikasikan hal-hal yang dianggap dapa merugikan pihaknya.

f) Ketelitian

Seorang saksi peserta Pemilu harus mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam proses pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara secraa cermat dan berhati-hati ketika menghadapi kegagalan dalam mitigasi resiko yang terjadi di lapangan, juga mampu membaca kemungkinan kesalahan-kesalahan yang berpotensi dilakukan oleh pihak penyelenggara Pemilu di TPS.

(26)

Kode Etik Saksi Peserta Pemilu

Saksi peserta Pemilu memerlukan pengaturan terhadap nilai-nilai dasar yang dimilikinya melalui sebuah kode etik, walaupun keabsahannya tidak diatur secara tertulis, namun kode etik diperlukan saksi peserta Pemilu agar tidak saling merugikan satu sama lain, berikut adalah identifikasi kode etik untuk saksi peserta Pemilu:

a. Akuntabel

Saksi peserta Pemilu melaksanakan tugas, wewenang dan kewajiban dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

b. Integritas

Saksi peserta Pemilu melaksanakan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, cermat, serta disiplin dan berintegritas tinggi.

c. Mandiri

Saksi Peserta Pemilu bebas atau menolak campur tangan dan pengaruh siapapun yang mempunyai kepentingan atas perbuatan, tindakan, keputusan dan/atau putusan yang diambil.

d. Profesional

Saksi peserta Pemilu memahami tugas, wewenang dan kewajiban dengan didukung keahlian atas dasar pengetahuan, keterampilan, dan wawasan luas.

e. Kepastian Hukum

Saksi peserta Pemilu melaksanakan tugas, fungsi dan wewenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

(27)

Standar Kompetensi Saksi Peserta Pemilu

Dalam menjalankan tugas pokok fungsinya, saksi peserta Pemilu memerlukan penguasaan kompetensi sebagai berikut:

a) Memahami urgensi saksi peserta Pemilu;

b) Mengerti tugas pokok fungsi sebagai saksi peserta Pemilu;

c) Mengetahui hak dan kewajiban saksi peserta Pemilu;

d) Memperhatikan larangan yang tidak boleh dilakukan oleh saksi peserta Pemilu;

e) Memahami syarat-syarat rekrutmen saksi peserta Pemilu;

f) Mampu mengidentifikasi hambatan dan tantangan dalam pelaksanaan pengawasan proses pemungutan dan penghitungan suara;

g) Mampu membedakan kategorisasi daftar pemilih di TPS;

h) Mampu berkomunikasi dengan para stakeholder di TPS;

i) Mengetahui denah lokasi TPS;

j) Mengetahui jenis-jenis logistik pemungutan dan penghitungan suara;

k) Mengetahui jenis-jenis surat suara dan formulir di TPS;

l) Memahami kondisi sah atau tidaknya pencoblosan surat suara;

m) Memahami proses pemungutan dan penghitungan suara;

n) Memahami proses rekapitulasi perolehan suara;

o) Mampu memetakan potensi persoalan dan pelanggaran dalam proses pemungutan dan penghitungan suara;

p) Memahami simulasi teknis pemungutan dan penghitungan suara;

q) Memahami mekanisme pelaporan dugaan pelanggaran kepada pengawas Pemilu;

r) Memahami mekanisme pemungutan suara ulang di TPS;

s) Mengetahui mekanisme pemberian keterangan di Mahkamah Konstitusi;

t) Mampu melakukan pengawasan secara mandiri;

u) Mampu mendokumentasikan dan mengelola alat bukti;

v) Bertindak sesuai dengan peraturan dan norma perundangan yang berlaku;

w) Mampu menjalankan tugas pokok fungsi sebagaimana mestinya.

(28)

Hambatan dan Tantangan Saksi Peserta Pemilu Hambatan

Berikut ini adalah identifikasi hal-hal yang dipotensikan dapat menghambat tugas saksi peserta Pemilu, yakni:

a) Ketepatan waktu persiapan dan pembukaan TPS;

b) Adanya surat mandat ganda dari peserta atau partai politik;

c) Perubahan kebijakan dari peserta atau partai politik peserta Pemilu;

d) Jarak antara domisili dengan TPS;

e) Kondisi geografis dan cuaca ketika hari-H pemungutan suara;

f) Kondisi kesehatan (fisik dan psikis) saksi ketika hari-H pemungutan suara;

g) Pelanggaran yang dilakukan oleh peserta Pemilu atau Tim Kampanye;

h) Pelanggaran yang dilakukan oleh penyelenggara Pemilu;

i) Transportasi (sarana-prasaraana) yang kurnag memadai dan mendukung tugas pengawasan di TPS;

j) Pemilih pemilu yang banyak GOLPUT.

Tantangan

Berikut ini adalah identifikasi hal-hal yang dipotensikan menjadi tantangan bagi saksi peserta Pemilu, yakni:

a) Situasi dan kondisi politik nasional dan daerah;

b) Situasi politik dan sosial masyarakat di sekitar TPS;

c) Iming-iming bayaran lebih tinggi dari peserta Pemilu lainnya;

d) Praktik politik uang oleh tim pemenangan peserta Pemilu lainnya;

e) Manipulasi dan kecurangan oleh pihak peserta Pemilu lainnya;

f) Manipulasi dan kecurangan oleh penyelenggara Pemilu;

(29)

Kesehatan Mental dan Emosional Saksi Peserta Pemilu

Dalam melaksanakan tugas saksi peserta Pemilu perlu menyiapkan kesehatan mental dan emosional dalam menjalan tugas, apa saja yang dimaksud dengan kesehatan mental adalah sebagai berikut:

a) Kesehatan Mental

Mental (mind, mentis, jiwa) dalam pengertiannya yang luas berkaitan dengan interaksi antara pikiran dan emosi manusia.

Dalam konteks modul ini, kesehatan mental akan dikaitkan dengan dinamika pikiran dan emosi manusia terutama kepada saksi peserta Pemilu mengacu pada potensi kelelahan pada pelaksanaan pengawasan Pemilu dan Pilkada Serentak 2024 seperti pada Pemilu 2019. Kedua komponen inilah yang menjadi titik penting dari kehidupan manusia. Keduanya dapat diibaratkan bandul yang saling mempengaruhi naik turunnya bandul tersebut. Pikiran berada di satu sisi dan emosi berada di sisi lainnya. Keduanya berinteraksi secara dinamis. Inti dari suatu kesehatan mental adalah sistem kendali diri yang bagus. Itu sebabnya, salah satu cara mendapatkan kendali diri yang baik adalah dengan memelihara kesehatan otak (healthy brain) lebih dari sekadar kenormalan otak (normal brain). Dengan mempertimbangkan sifat neuroplastisitas otak - dimana otak dan lingkungan bisa saling pengaruh memengaruhi - maka kesehatan otak dapat dibangun melalui kesehatan jasmani, mental, sosial, dan spiritual. Otak merupakan salah satu komponen tubuh penting yang harus diberikan perhatian yang serius. Disinilah letak peranan kesehatan jasmani, seperti makan, berolahraga, dan relaksasi, harus mendapat perhatian. Termasuk juga kemampuan mengelola stres. Manajemen stres dan kendali diri harus berubah dari sekadar reaktif menjadi keterampilan aktif (skill). Keduanya harus dilatih sedemikian rupa sehingga seseorang memiliki kemampuan-kemampuan utama dalam membangun kesehatan mental dan kesehatan spiritual. Pada gilirannya, dua keterampilan utama ini akan berkontribusi dalam pembentukan karakter dan integritas diri sebagai saksi peserta Pemilu.

(30)

b) Kesehatan Berpikir

Telah disebutkan di atas bahwa kesehatan mental berkaitan dengan—salah satunya— kemampuan berpikir. Berpikir yang sehat berkaitan dengan kemampuan seseorang menggunakan logika dan pertimbangan- pertimbangan rasional dalam memahami dan mengatasi berbagai hal dalam kehidupan dimana seseorang tidak saja dituntut berpikir logis, tetapi juga kritis dan kreatif. Cara yang paling mudah memahami kesehatan dalam berpikir adalah dengan memahami kesalahan dalam berpikir. Sejumlah kesalahan berpikir (distorted thinking) berkontribusi dalam pelbagai masalah mental manusia. Kesalahan- kesalahan berpikir ini juga bisa mempengaruhi kemampuan manusia dalam mengendalikan diri (self control) dan pengelolaan stres (stress management) karena menjadi sebab hilangnya rasionalitas manusia dan munculnya interpretasi tidak realistik terhadap pelbagai kejadian di sekitar.

Dengan menghindari pikiran yang menyimpang (distorted thinking), maka seseorang akan terpelihara dari kesesatan berpikir (fallacy). Selain itu, keputusan-keputusan yang dibuat adalah keputusan yang berbasis pada pikiran yang sehat. Membuat keputusan (decision making) adalah salah satu kemampuan penting manusia yang bertumpu pada pikiran-pikiran yang sehat. Makin mendalam pikiran kita terhadap suatu masalah, makin baik keputusan yang akan dihasilkan. Dengan kata lain, keputusan yang diambil dengan pertimbangan rasional akan lebih baik dari keputusan yang diambil secara impulsif karena dorongan emosional.

(31)

c) Kendali Diri

Kendali diri adalah tanda kesehatan mental dan kesehatan spiritual yang paling tinggi. Secara sederhana, kendali diri adalah kemampuan manusia untuk selalu dapat berpikir sehat dalam kondisi apapun. Pada tingkat yang lebih tinggi kendali diri berkaitan dengan integritas dan karakter seseorang. Membangun integritas pribadi (personal integrity) bermula dari membangun sistem kendali diri yang baik.

Kendali diri sendiri merupakan titik pertemuan (coordinate) antara kesehatan mental dan kesehatan spiritual. Dalam perwujudannya kendali diri tampak sebagai kesehatan mental, sedangkan dorongan atau motif yang mendasarinya adalah kesehatan spiritual (Pasiak, 2012).

Kendali diri tidak cukup sebatas pengetahuan. Ia harus menjadi perilaku. Sebagai perilaku, kendali diri mirip dengan kemampuan seseorang mengendarai mobil. Untuk dapat mengendarai mobil dengan baik seseorang harus selalu atau sering mengendarai mobil. Bahkan, ia harus belajar menghadapi kesulitan di jalan, entah itu jalan yang buruk, kemacetan, tanda-tanda lalu lintas atau kebut-kebutan, untuk menjadi seorang pengendara yang baik. Dengan cara ini, mengendarai mobil akan menjadi keterampilan (skill).

Kendali diri juga harus dilatih agar itu menjadi keterampilan, bahkan pada tingkat yang sangat tinggi seseorang bisa menjadi master dalam pengendalian diri (Pasiak, 2012).

(32)

d) Manajemen Stres

Peneliti stres Hans Selye mendefinisikan stres sebagai

̳ketidakmampuan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya maupun terhadap lingkungannya atau ̳respon tidak spesifik dari tubuh atas pelbagai hal yang dikenai padanya (Greenberg, 2011: 4). Dengan definisi ini, stres bisa bersifat positif (disebut eustress), misalnya kenaikan jabatan yang membuat seseorang harus beradaptasi; atau bisa juga bersifat buruk (disebut distress), misalnya kematian seseorang yang dicintai. Baik eustress maupun distress menggunakan mekanisme fisiologis yang sama.

Masalah stres banyak terjadi juga di dunia kerja. Seorang pengawas Pemilu sepanjang menjalankan tugas jabatannya dimungkinkan akan bersinggungan dengan banyak permasalahan atau stressor yang akan memberi perasaan tidak enak atau tertekan baik fisik ataupun mental yang mengancam, mengganggu, membebani, atau membahayakan keselamatan, kepentingan, keinginan, atau kesejahteraan hidupnya.

Tiga cara berikut ini dapat dilakukan untuk mengelola stress: (Elkin, 2013:244., Adamson, 2002 : 71-124)

1. Mengelola sumber stres (stressor)

2. Mengubah cara berpikir dan cara merespon stres (changing the thought)

3. Mengelola respon stres tubuh (stress response) e) Emosi Positif

(33)

mendasari kemampuan bersikap dengan tepat. Kata kunci:

syukur (atas sesuatu yang given, yang sudah diberikan oleh Tuhan tanpa melalui usaha sendiri. Syukur bila diberi keberhasilan setelah melakukan usaha adalah syukur yang lebih rendah nilainya dibandingkan bersyukur atas sesuatu yang diberikan tanpa ada usaha sama sekali), sabar (membuat segala sesuatu yang pahit dan tidak nyaman berada di bawah kontrol diri. Jadi, tidak sekadar ―menahan) dan ikhlas (melepaskan sesuatu secara sadar tanpa ada penyesalan).

Pengalaman Spiritual merupakan Manifestasi spiritualitas di dalam diri seseorang berupa pengalaman spesifik dan unik terkait hubungan dirinya dengan Tuhan dalam pelbagai tingkatannya. Kata kunci: estetika (pengalami indrawi biasa yang bersifat estetis), takjub (pengalaman indrawi yang sensasional; tidak lazim) dan penyatuan (pengalaman non indrawi). Ritual merupakan manifestasi spiritualitas berupa tindakan terstruktur, sistematis, berulang, melibatkan aspek motorik, kognisi dan afeksi yang dilakukan menutur suatu tata cara tertentu baik individual maupun komunal.

Kata kunci: kebutuhan (ritual yang didorong oleh kebutuhan. Bukan oleh sebab- sebab lain), rasa kehilangan sesuatu (jika tidak melaksanakannya) (Pasiak, 2009;2012).

Emosi positif bisa terkait dengan masa lalu, masa kini dan masa depan seseorang. Emosi positif yang berkaitan dengan masa lalu adalah kepuasan, kesenangan karena kepuasan hati, kelegaan, kebanggaan dan ketentraman. Emosi positif masa kini mencakup kebahagiaan, kegembiraan, ketenangan, semangat, gairah, kenyamanan, dan yang terpenting adalah (flow) aliran dari emosi- emosi tersebut.

Sedangkan emosi positif yang terkait dengan masa depan yaitu optimisme, harapan, keyakinan (faith), dan kepercayaan (trust). Seligman (2002) menyebut kebahagiaan jenis ini sebagai kebahagiaan otentik (authentic happiness).

(34)

Emosi positif terdiri dari sejumlah komponen berikut (Pasiak, 2012):

1. Senang terhadap kebahagiaan orang lain.

2. Menikmati dengan kesadaran bahwa segala sesuatu diciptakan atas tujuan tertentu/mengambil hikmah.

3. Bersikap optimis akan pertolongan Tuhan.

4. Bisa berdamai dengan keadaan sesulit/separah apapun.

5. Mampu mengendalikan diri.

6. Bahagia ketika melakukan kebaikan.

f) Makna Hidup

Diartikan sebagai manifestasi spiritualitas berupa penghayatan intrapersonal yang bersifat unik, ditunjukkan dalam hubungan sosial (interpersonal) yang bermanfaat, menginspirasi dan mewariskan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan manusia. Kata kunci: inspiring (menumbuhkan keinginan meneladani dari orang lain) dan legacy (mewariskan sesuatu yang bernilai tinggi bagi kehidupan).

Makna hidup dalam kesehatan spiritual merupakan perwujudan dari bakti kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Makna hidup terdiri dari sejumlah komponen berikut ini (Pasiak, 2012):

1. Menolong dengan spontan 2. Memegang teguh janji

3. Memaafkan (diri dan orang lain) 4. Berperilaku jujur

5. Menjadi teladan bagi orang lain

6. Mengutamakan keselarasan dan kebersamaan.

(35)

MANAJEMEN PENGETAHUAN SAKSI PESERTA PEMILU Peserta Pemilu 2024

Sumber Infografis: KPU

(36)

Partai Politik Nasional Partai Lokal Aceh

1. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

2. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)

3. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)

4. Partai Golongan Karya (Golkar) 5. Partai NasDem

6. Partai Buruh

7. Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora)

8. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 9. Partai Kebangkitan Nusantara

(PKN)

10. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)

11. Partai Garda Perubahan Indonesia (Garuda)

12. Partai Amanat Nasional (PAN) 13. Partai Bulan Bintang (PBB) 14. Partai Demokrat (PD)

15. Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

16. Partai Persatuan Indonesia (Perindo)

17. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

1. Partai Aceh

2. Partai Adil Sejahtera Aceh (PAS Aceh) 3. Partai Generasi Aceh

Beusaboh Tha’at dan Taqwa

4. Partai Darul Aceh 5. Partai Naggroe Aceh 6. Partai Soliditas

Independen Rakyat Aceh (Sira)

(37)

Ketegorisasi Daftar Pemilih

Pemutakhiran Data Pemilih adalah kegiatan untuk memperbaharui data Pemilih berdasarkan Daftar Pemilih Tetap dari Pemilu atau Pemilihan Terakhir dan mempertimbangkan DP4 (Data Penduduk Pemilih Potensial) dengan cara melakukan verifikasi faktual data Pemilih dan selanjutnya digunakan sebagai bahan penyusunan Daftar Pemilih. Tahap pemutakhiran dimulai melalui pencocokan dan penelitian (Coklit) oleh petugas pemutakhiran data pemilih (pantarlih) yaitu petugas bentukan Panitia Pemungutan suara. Coklit adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pantarlih dalam Pemutakhiran Data Pemilih dengan cara mendatangi Pemilih secara langsung. Bahan dalam melakukan pemutakhiran data pemilih berasal dari data Pemilih yang disusun oleh KPU Kabupaten/Kota berdasarkan hasil penyandingan data Pemilih tetap Pemilu atau Pemilihan terakhir yang dimutakhirkan secara berkelanjutan dengan DP4 untuk selanjutnya dijadikan bahan dalam melakukan pemutakhiran.

TIPOLOGI PENGERTIAN KETERANGAN

Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu

(DP4)

Data yang disediakan oleh Pemerintah

berisikan data penduduk yang memenuhi persyaratan

sebagai Pemilih pada saat Pemilu diselenggarakan

Disediakan oleh Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil, disingkronisasi oleh KPU

dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterimanya data kependudukan dari

Kementerian dalam Negeri dan Kementerian

Luar Negeri

Daftar Pemilih Sementara

(DPS)

Daftar Pemilih hasil kegiatan Pemutakhiran

Data Pemilih yang dilakukan oleh KPU

Kabupaten/Kota dengan dibantu oleh

Diupdate terus dan diperbaiki berdasarkan masukan dan tanggapan masyarakat atau peserta

Pemilu

(38)

PPK, PPS, dan Pantarlih

Daftar Pemilih Tetap (DPT)

Daftar Pemilih hasil pemutakhiran yang

telah final dan ditetapkan dalam rapat pleno pada waktu yang

ditentukan oleh Undang-Undang.

a) Pemilih DPT melakukan pencoblosan pada pukul 07.00 – 13.00 dengan membawa Undangan Memilih (C6) dan e-KTP;

b) Pemilih DPT

mendapatkan semua surat suara;

c) Mendapatkan form model A.4-KPU.

Dafta Pemilih Khusus (DPK)

Daftar Pemilih yang memiliki identitas

kependudukan (memiliki hak pilih) tetapi belum terdaftar dalam DPT dan DPTb.

a) Pemilih DPK melakukan pencoblosan pada pukul 12.00 – 13.00 dengan membawa bukti e-KTP sesuai dengan alamat e-KTP;

b) Mengisi form DPK di TPS domisili untuk memilih.

(39)

Daftar Pemilih Tambahan

(DPTb)

Daftar Pemilih yang telah terdaftar dalam DPT di suatu TPS yang

karena keadaan tertentu Pemilih tidak

dapat menggunakan haknya untuk memilih

di TPS tempat yang bersangkutan terdaftar dan memberikan suara

di TPS lain.

a) Pemilih DPT melakukan pencoblosan pada pukul 07.00 – 13.00 dengan membawa form pindah memilih (A5) dan e-KTP;

b) Pemilih DPT

mendapatkan surat suara yang

disesuaikan dengan daerah pemilihan terkait daerah asal dan pindahan

Daftar Pemilih Pindahan

(DPPh)

Daftar yang berisi Pemilih yang telah terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak

pilihnya di TPS lain

Pemilih melapor ke PPS asal untuk mendapatkan

formulir model A.5-KPU atau Surat Keterangan Pindah Memilih di TPS lain, dengan membawa identitas kependudukan

seperti e-KTP atau nomor induk kependudukan (NIK) pada kartu keluarga.

Daftar Pemilih Luar Negeri

(DPLN)

Daftar Pemilih yang terdiri dari data Warga

Negara Indonesia terdaftar sebagai pemilih di luar negeri,

yang akan menggunakan hak pilihnya pada TPSLN (Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri)

a) Pemilih DPT melakukan pencoblosan pada pukul 07.00 – 13.00 dengan membawa form pindah memilih (A5) dan e-KTP;

b) Pemilih DPT

mendapatkan surat suara yang

disesuaikan dengan daerah pemilihan terkait daerah asal dan pindahan

(40)

c) Mendapatkan form model A.5-LN

Daftar Pemilih Tambahan Luar Negeru

(DPTbLN)

Data pemilih yang telah terdaftar dalam DPT/DPTLN di suatu

TPS/TPSLN, karena keadaan tertentu pemilih tidak dapat menggunakan haknya

untuk memilih di TPS/TPSLN tempat yang bersangkutan

terdaftar

a) Pemilih DPT melakukan pencoblosan pada pukul 07.00 – 13.00 dengan membawa form pindah memilih (A5) dan e-KTP;

b) Pemilih DPT

mendapatkan surat suara yang

disesuaikan dengan daerah pemilihan terkait daerah asal dan pindahan;

c) Mendapatkan form model A.5-LN

(41)

Identifikasi Stakeholder Penyelenggara Pemilu

STAKEHOLDER DEFINISI KLASIFIKASI TUGAS

Saksi Peserta Pemilu

Saksi dari Partai Politik atau Peserta Pemilu yang mendapat surat mandat

tertulis dari partai politik, tim kampanye atau pasangan calon peserta Pemilu untuk menyaksikan

proses penyelenggaraan

pemungutan dan penghitungan suara di tempat

pemungutan suara (TPS)

Representasi Peserta

Pemilu

• Mengawasi proses pelaksanaan pemungutan dan

penghitungan suara di TPS;

• Memastikan pelaksanaan pemungutan dan

penghitungan suara berjalan sesuai aturan;

• Melaporkan jika terjadi

kecurangan atau pelanggaran di TPS

Kelompok Penyelenggara

Pemungutan Suara (KPPS)

Kelompok yang dibentuk oleh

panitia pemungutan suara untuk melaksanakan

pemungutan suara di TPS

Representasi Penyelenggara

Pemilu

• Mengumumkan daftar pemilih tetap di TPS;

• Menyerahkan DPT kepada saksi peserta Pemilu dan pengawas TPS yang hadir;

• Melaksanakan pemungutan dan penghitungan suara di TPS;

• Membuat berita acara dan sertifikasi

pemungutan dan

(42)

penghitungan suara;

• Menyampaikan surat

pemberitahuan memilih kepada pemilih sesuai DPT.

Pengawas TPS

Petugas yang dibentuk oleh

Panwaslu Kecamatan

untuk membantu tugas Panwaslu Kelurahan Desa

dalam melakukan pengawasan penyelenggaraan

Pemilu di TPS

Representasi Penyelenggara

Pemilu

• Mengawasi persiapan pemungutan suara;

• Mengawasi pelaksanaan poemungutan suara;

• Mengawasi persiapan penghitungan suara;

• Mengawasi pelaksanaan pelaksanaan penghitungan suara;

• Mengawasi pergerakan hasil penghitungan suara dari TPS ke PPS.

(43)

Pemantau Pemilu

Orang perorangan, kelompok atau organisasi yang

melakukan pemantauan

proses pelaksanaan tahapan Pemilu

secara mandiri dan sukarela.

Pemantau Pemilu yang resmi adalah yang diberikan akreditasi oleh Bawaslu sebagai

pemantau Pemilu.

Akreditasi untuk pemantau

Pilkada diberikan oleh

KPU.

Representasi Masyarakat

• Memastikan hak pilh WNI;

• Mengawasi fasilitasi

penyaluran hak pilih WNI;

• Menyusun rencana program pemantauan;

• Memantau proses pemungutan dan

penghitungan suara;

• Memetakan potensi

pelanggaran di TPS;

• Melaporkan kepada pengawas Pemilu jika ada pelanggaran yang terjadi.

Pemilih

Warga Negara Indonesia yang

sudah genap berusia 17 tahun atau lebih, baik sudah kawin atau belum dan

pernah kawin

Representasi Masyarakat

• memastikan diri terdaftar di DPT;

• datang ke TPS;

• Menyalurkan hak pilih sebagai warga negara;

• Melakukan pengawasan partisipatif.

(44)

Petugas Keamanan TPS

Orang yang ditunjuk untuk

menjaga, mengawal dan

memastikan kondusifitas, kemanan dan

ketertiban di dalam TPS

Representasi Masyarakat

• Memastikan keamanan dan ketertiban di dalam TPS;

• Memastikan kemanan situasi di lingkungan sekitar TPS;

• Menjaga logistik Pemilu;

• Menjaga kondusifitas proses pelaksanaan pemungutan dan

penghitungan suara;

• Membantu mengarahkan pemilih untuk masuk di TPS;

• Membantu proses pemungutan dan

penghitungan suara;

• Membantu proses distribusi pergerakan hasil penghitungan suara dari TPS ke tingkat

(45)
(46)
(47)
(48)

Logistik Pemilu a) Kotak Suara

Kotak suara digunakan untuk menyimpan perlengkapan pemungutan suara dan dukungan perlengkapan lainnya.

(49)

b) Surat Suara

Surat suara merupakan sarana yang digunakan oleh pemilih untuk memberikan suara pada Pemilu.

(50)

Jenis-Jenis Surat Suara

• Spesimen Surat Suara Presiden dan Wakil Presiden

(51)

• Spesimen Surat Suara Presiden dan Wakil Presiden LN

(52)
(53)

• Spesimen Surat Suara Presiden dan Wakil Presiden Putaran Kedua

(54)

• Spesimen Surat Suara Presiden dan Wakil Presiden LN Putaran Kedua

(55)

• Alat Bantu Bagi Pemilih Tunanetra Surat Suara Presiden dan Wakil Presiden

(56)

• Spesimen Surat Suara DPD

(57)

• Spesimen Surat Suara DPR

(58)

• Spesimen Surat Suara DPR Dapil II DKI Jakarta

(59)

• Spesimen Surat Suara DPRA

(60)

• Spesimen Surat Suara DPRD Provinsi

(61)
(62)

• Spesimen Surat Suara DPRD Kabupaten/Kota

(63)

• Spesimen Surat Suara DPRA Kabupaten/Kota

(64)
(65)

c) Tinta

Tinta digunakan oleh KPPS/KPPSLN untuk memberi tanda khusus bagi Pemilih yang telah memberikan suara di TPS/TPSLN.

(66)
(67)

d) Bilik Pemungutan Suara

Bilik pemungutan suara digunakan untuk menjamin kerahasiaan Pemilih dalam melakukan pemungutan suara.

(68)
(69)

e) Segel

Segel digunakan untuk menyegel:

a. sampul kertas berisi surat suara;

b. sampul kertas berisi formulir untuk berita acara dan/atau

b. sertifikat;

c. sampul kertas berisi salinan DPT;

d. lubang kotak suara; dan

e. lubang kunci gembok atau alat pengaman lainnya.

(70)

f) Alat Untuk Mencoblos Pilihan

Alat untuk mencoblos pilihan terdiri atas 1 (satu) set berupa:

a. paku untuk mencoblos;

b. bantalan atau alas coblos; dan c. meja.

(71)

g) TPS/TPSLN

TPS/TPSLN digunakan untuk melaksanakan pemungutan dan penghitungan suara. TPS/TPSLN harus memberikan kemudahan akses bagi penyandang disabilitas.

Pembangunan TPS/TPSLN dilaksanakan oleh KPPS/KPPSLN bekerja sama dengan masyarakat

(72)

Dukungan Perlengkapan Lainnya terdiri atas:

a. sampul kertas;

b. tanda pengenal KPPS, petugas ketertiban TPS, dan saksi;

b. tanda pengenal KPPSLN, petugas ketertiban TPSLN, dan saksi;

c. karet pengikat surat suara;

d. lem/perekat;

e. kantong plastik;

f. bolpoin;

g. gembok;

h. spidol;

i. formulir untuk berita acara dan/atau sertifikat;

j. stiker nomor kotak suara;

k. tali pengikat alat pemberi tanda pilihan; dan l. alat bantu tunanetra.

(73)

Jenis-Jenis Formulir yang Tersedia di TPS

(74)

Keabsahan Pencoblosan Surat Suara

Suara untuk Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dinyatakan sah jika:

a. surat suara ditandatangani oleh ketua KPPS; dan

b. tanda coblos pada nomor urut, foto, nama salah satu Pasangan Calon, tanda gambar Partai Politik, dan/atau Gabungan Partai Politik dalam surat suara.

Suara untuk Pemilu anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota dinyatakan sah jika:

a. surat suara ditandatangani oleh ketua KPPS; dan

b. tanda coblos pada nomor atau tanda gambar Partai Politik dan/atau nama calon anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota berada pada kolom yang disediakan.

Suara untuk Pemilu anggota DPD dinyatakan sah jika:

a. surat suara ditandatangani oleh ketua KPPS; dan

b. tanda coblos terdapat pada kolom 1 (satu) calon perseorangan.

(75)
(76)
(77)
(78)

Mekanisme Pemungutan dan Penghitungan Suara

(79)

Sumber Infografis: KPU

(80)

PEMUNGUTAN SUARA DI TPS

(81)
(82)
(83)
(84)
(85)
(86)
(87)
(88)
(89)
(90)
(91)
(92)
(93)
(94)
(95)
(96)
(97)
(98)
(99)
(100)
(101)

POTENSI PERSOALAN DI TEMPAT PEMUNGUTAN SUARA

POTENSI MASALAH DI TEMPAT PEMUNGUTAN SUARA

LOGISTIK

vLogistikTidakTerdistribusiMerata vLogistikPemiluRusak vSuratSuaraKurang vSuratSuaraRusak vSuratSuaraSahdanTidakSah vSuratSuaraTidakTerpakai

PemilihTidakTerdaftardi DPT

Data PemilihGanda

DPTbMembludak(Diatas20 Pemilihdalam1 TPS)

PemilihTidakMendapatkanC6

PemilihMenggunakanA5

SuketKTP AtauNIK KartuKeluarga

PenyaluranHakPilihPemilihDPTbdan DPK

PROSES ADMINISTRASI

vTPSTidakDibukaTepatWaktu vLokasiTPSDiDekatPaslon/TimKampanye vBilikSuaraTidakTertutupdanBisaDilihat vTPSSusahDiakses

vTPSTidakRamahDisabilitas

vPendampingan Pemilih Disabilitas, Orang Tua danOrangSakit;

vKecurangan Proses Pemungutan dan PenghitunganSuara;

vIntimidasiolehTimKampanyediTPS;

vPraktikPolitikUang

SaksiTidakMendapatkanSalinan DPT

SaksiTidakMendapatkanSalinan C1

SaksiTidakMendapatkanSalinan SertifikatHasil PenghitunganSuara

KPPS TidakNetral

KPPSCurang

PengawasTPS TidakNetral

PemantauPemiluMasukkeTPS

(102)

Infografis Kerawanan di TPS

(103)

Sumber: Republika

(104)

Sumber: Perludem.org

(105)

Sumber: KPU RI

Sumber: IndonesiaBaik

(106)

Sumber: siberkreasi.id

(107)

Sumber: Okezone

(108)

Referensi

Dokumen terkait

Selama tahapan Pemilu serentak tahun 2019, Bawaslu Kabupaten Sinjai telah melakukan penanganan temuan dan laporan dugaan pelanggaran Pemilu yang terdiri dari 18 (delapan belas)

Sosialisasi pendidikan politik ini juga ditujukan sebagai bekal pendidikan politik menjelang pemilu presiden dan legislatif pada bulan Februari tahun 2024 mendatang dengan harapan

Page10 Berkas Daftar Ulang PPDB Tapel 2023/2024 SURAT PERNYATAAN TIDAK PINDAH KOMPETENSI KEAHLIAN LAIN PESERTA DIDIK KELAS X SMK NEGERI 1 BEJI TAHUN PELAJARAN 2023/2024 Yang

Alih-alih demokrasi makin menguat, dalam beberapa tahun belakangan kualitas nuansa oligarki dan elitisme tampak justru semakin terlihat.Firman Noor, 2020 Pada Pemilihan Umum PEMILU 2024

15, Sumberurip, Barurejo, Siliragung, Banyuwangi Email: [email protected] Daftar Hadir Peserta Kegiatan Ekstrakulikuler Pramuka Tahun 2023 – 2024 Kelas IV N o Nama Peserta

Soomaalidu waxay ku soo sheegtay in aanka loo yaqaan ACARA iyo dhaqanka loo yaqayn "Peran Pemuda Dalamb Pengawasan Pemilu Tahun

Dokumen ini berisi program kerja untuk penerimaan peserta didik baru di MTs ATTAQWA CIDATAR CIRUPAN - GARUT untuk tahun ajaran

Dokumen ini memaparkan senarai pelajar yang telah menerima penilaian sekolah untuk tahun ajaran