ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI TEBU RAKYAT POLA KEMITRAAN DI KELURAHAN
PARANGLUARA KECAMATAN POLOMBANGKENG UTARA
KABUPATEN TAKALAR
ARMAN 105961111816
PROGAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2022
ii ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI TEBU RAKYAT POLA KEMITRAAN DI KELURAHAN PARANGLUARA KECAMATAN
POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR
ARMAN 105961111816
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Strata Satu (S-1)
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2022
iii
iv
v PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul Analisis kelayakan finansial usahatani tebu rakyat pola kemitraan di Kelurahan Parangluara, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka dibagian akhir skripsi ini.
Takalar, 10 Januari 2022
Arman 105961111816
vi ABSTRAK
Arman 105961111816. Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Tebu Rakyat Pola Kemitraan di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar. Dibimbing oleh SRI MARDIYATI dan KHAERIYAH DARWIS.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berapa tingkat pendapatan usahatani tebu rakyat pola kemitraan dan untuk mengetahui tingkat kelayakan usahatani tebu rakyat pola kemitraan di Kelurahan Parangluara, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar.
Responden pada penelitian ini adalah petani tebu rakyat dengan pengalaman usahatani minimal 7 tahun. Dalam penelitian ini terdapat 10 responden petani tebu rakyat yang berada di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: Biaya total usahatani tebu adalah penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel, mencakup seluruh biaya yang dikeluarkan untuk usahatani tebu selama satu musim tanam dihitung dalam satuan rupiah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan yang diperoleh petani dengan sistem PC (Plant Cane) yaitu sebesar Rp.23.814.391,39/ha dengan jumlah rata-rata total biaya yaitu sebesar Rp.18.828.065,46/ha. Sedangkan untuk penerimaan rata-rata yang diperoleh petani dengan sistem rawat ratoon yaitu sebesar Rp.23.814.391,39/ha dengan jumlah rata-rata total biaya yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp.7.243.667,34/ha. Dari perhitungan tersebut kemudian diperoleh rata-rata pendapatan dengan menggunakan sistem PC sebesar Rp.4.986.325,94/ha dan rata-rata pendapatan yang diperoleh menggunakan sistem rawat ratoon sebesar Rp.16.570.724,05/ha.
Penggunaan sistem rawat ratoon dalam budidaya tanaman tebu rakyat sangat berpengaruh terhadap pendapatan petani responden. Hasil analisis R/C Ratio dari sistem tanam PC (Plant Cane) adalah 1,302 dan sistem rawat ratoon adalah 3,287 menunjukkan bahwa nilai R/C Ratio yang diperoleh >1, maka dapat disimpulkan bahwa pendapatan usahatani tebu rakyat layak untuk dikembangkan.
Kata kunci: Usahatani Tebu, Sistem PC (Plant Cane), Rawat Ratoon, Pendapatan Usahatani
vii ABSTRACT
Arman 105961111816. Analysis of Financial Feasibility of Community Sugar Cane Farming Partnership Pattern in Parangluara Village, Polombangkeng Utara District, Takalar Regency. Supervised by SRI MARDIYATI and KHAERIYAH DARWIS.
This study aims to analyze the income level of the people's sugarcane farming partnership pattern and to determine the feasibility level of the community's sugarcane farming partnership pattern in Parangluara Village, North Polombangkeng District, Takalar Regency.
Respondents in this study were smallholder sugarcane farmers with at least 7 years of farming experience. In this study there were 10 respondents of smallholder sugarcane farmers who were in Parangluara Village, North Polombangkeng District, Takalar Regency. Data analysis techniques used in this study include: The total cost of sugarcane farming is the sum of fixed costs and variable costs, including all costs incurred for sugarcane farming during one growing season calculated in rupiah.
The results showed that the average income obtained by farmers with the PC system (Plant Cane) was Rp.23,814,391.39/ha with an average total cost of Rp.18,828,065.46/ha. Meanwhile, the average income obtained by farmers with the ratoon care system is Rp.23,814,391.39/ha with the average total cost incurred is Rp.7,243,667.34/ha. From these calculations, the average income using the PC system is Rp. 4,986.325.94/ha and the average income obtained using the ratoon care system is Rp. 16.570.724.05/ha.
The use of the ratoon care system in smallholder sugarcane cultivation greatly influences the income of the respondent farmers. The results of the analysis of the R/C Ratio of the PC planting system (Plant Cane) is 1.302 and the ratoon care system is 3.287, indicating that the R/C Ratio value obtained is >1, it can be concluded that the people's sugarcane farming income is feasible to develop.
Keywords: Sugarcane Farming, PC System (Plant Cane), Ratoon Treatment, Farming Income
viii KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hamba-Nya. Shalawat dan salam tak lupa kita kirimkan kepada Rasulullah SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikiutnya, sehinggah penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian yang berjudul Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Tebu Rakyat Pola Kemitraan di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar.
Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.
Saya menyadari bahwa penyususnan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Dr. Sri Mardiyati, S.P., M.P., selaku pembimbing I dan Khaeriyah Darwis, S.P., M.Si selaku pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan saya, sehinggah skripsi ini dapat diselesaikan.
2. Dr. Ir. Andi Khaeriyah, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Dr. Sri Mardiyati, S.P., M.P., selaku Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammdiyah Makassar.
4. Seluruh Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammdiyah Makassar yang telah membekali segudang ilmu kepada saya.
ix 5. Semua pihak yang telah membantu penyususan skripsi dari awal hingga akhir
yang saya tidak dapat sebut satu persatu.
Akhir kata saya ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang terkait dalam penulisan proposal penelitian ini, semoga karya tulis ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi yang membutuhkan. Semoga Kristal-kristal Allah senantiasa tercurah kepadanya. Amin.
Takalar, Januari 2022
Arman
x
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI………...……ix
DAFTAR TABEL………...………xi
DAFTAR GAMBAR……….………xii
DAFTAR LAMPIRAN……….………xiv
I. PENDAHULUAN………...………1
1.1 Latar Belakang……….………1
1.2 Rumusan Masalah………5
1.3 Tujuan Penelitian……….………5
1.4 Kegunaan Penelitian………6
II. TINJAUAN PUSTAKA……….………7
2.1 Tanaman Tebu……….………7
2.2 Sistem PC (Plant Cane) ………...………8
2.3 Sistem Rawat Ratoon ...……….………10
2.4 Konsep Usahatani .……….………12
2.5 Pendapatan Usatahani …..……….………14
2.6 Analisis Kelayakan Usahatani …………..….………15
2.7 Pola Kemitraan ………..………17
2.8 Penelitian Terdahulu yang Relevan…………..………….………18
2.9 Kerangka Pemikiran………...………20
III. METODE PENELITIAN………21
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian……….……….………21
3.2 Teknik Penentuan Sampel………..………21
3.3 Jenis dan Sumber Data………..….………21
3.4 Teknik Pengumpulan Data……….………22
3.5 Teknik Analisis Data………..………23
3.6 Definisi Operasional……….…..…………25
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN………27
xi
4.1 Sejarah Kelurahan……….……….………27
4.2 Demografi Kelurahan……….………27
4.2.1 Jumlah Penduduk………28
4.2.2 Letak dan Luas Wilayah……….29
4.3 Topografi dan Jenis Tanah……….………30
4.4 Iklim…...………30
4.5 Keadaan Sosial ………..31
4.6 Keadaan Ekonomi………..32
V. HASIL DAN PEMBAHASAN……….33
5.1 Identitas Responden………..…….33
5.2 Biaya Produksi Sistem PC (Plant Cane) dan Sistem Rawat Ratoon….….39 5.3 Tanaman Tebu Rakyat Sistem PC……….….41
5.4 Tanaman Tebu Rakyat Sistem Rawat Ratoon………....43
5.5 Perbandingan Produksi dan Pendapatan Sistem PC………...45
(Plant Cane) dan Sistem Rawat Ratoon……….45
VI. KESIMPULAN DAN SARAN………...51
6.1 Kesimpulan……….51
6.2 Saran………...51
DAFTAR PUSTAKA………54
LAMPIRAN………...56
RIWAYAT HIDUP………88
xii DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
Teks
1. Penelitian Terdahulu Yang Relevan………..18
2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin………..29
3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan………..29
4. Tingkat Pendidikan Terakhir Masyarakat Kelurahan Parangluara………31
5. Pekerjaan Pokok Kepala Keluarga Kelurahan Parangluara ………..32
6. Umur Responden………..….34
7. Tingkat Pendidikan Responden………...35
8. Pengalaman Responden Dalam Berusaha Tani……….36
9. Juamlah Tanggungan Keluarga Responden………..37
10. Luas Lahan Responden……….………..38
11. Rata-rata Penggunaan Biaya Tetap Responden………..39
12. Rata-rata Penggunaan Biaya Variabel Responden………..40
13. Rata-rata Biaya Produksi dan Pendapatan Usaha Tani Sistem PC………….47
Tebu Rakyat Responden……….47
14. Rata-rata Biaya Produksi dan Pendapatan Usaha Tani Sistem Ratoon……..49
Tebu Rakyat Responden……….49
xiii DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
Teks
1. Kerangka Pemikiran………...21
xiv DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
Teks
1. Kuesioner………...56
2. Peta Lokasi Penelitian ………..……60
3. Identitas Responden ………..……61
4. Penerimaan Responden Sistem PC dan Rawat Ratoon ………..…..62
5. Biaya Tenaga Kerja Responden Dengan Menggunakan Sistem Rawat Ratoon ………...…63
6. Biaya Tenaga Kerja Responden Dengan Menggunakan Sistem PC …………65
7. Biaya Bibit Usaha Tani Tebu Responden Dengan Menggunakan Sistem PC ……….67
8. Biaya Pupuk Responden Sistem PC dan Rawat Ratoon ………..68
9. Biaya Herbisida Responden Sistem PC dan Rawat Ratoon ……….69
10. Profil Peralatan Mekanisasi Responden Sistem PC dan Rawat Ratoon ……...70
11. Pendapatan Responden Dengan Sistem PC ………..72
12. Pendapatan Responden Dengan Sistem Rawat Ratoon ………73
13. Dokumentasi Penelitian……….74
1 I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Tanaman perkebunan merupakan komoditas yang mempunyai nilai ekonomis sangat tinggi. Apabila dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan sebagai pemasok devisa negara. Telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produksi sub sektor perkebunan. Upaya tersebut adalah intensifikasi, ekstensifikasi, deversivikasi dan rehabilitasi (Naruputro; 2009).
Salah satu komoditi subsektor tanaman perkebunan yang ada di Indonesia yang tidak asing dan mempunyai posisi yang cukup penting adalah tebu. Tebu mempunyai posisi yang cukup penting karena kebutuhan penduduk Indonesia akan gula yang berasal dari tebu begitu besar. Hal ini terjadi karena penduduk Indonesia masih menjadikan gula sebagai kebutuhan pokok yang sulit digantikan.
Gula yang berasal dari tanaman tebu ini sangat bergantung pada perkebunan tebu yang ada. Bila perkebunan tebu yang ada hanya sedikit maka produktifitas dari tanaman tebu yang akan diolah menjadi gula pun akan menjadi sedikit pula. Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan sumber kalori yang relatif murah (Marissa; 2010).
Kemajuan pertanian di Indonesia tidak hanya sekedar memperlihatkan adanya peningkatan produktifitas, efisiensi dan daya saing produk-produk pertaniannya. Tetapi terkait erat dengan perkembangan lingkungan yang dinamis di dalam masyarakat taninya dan kondisi kemampuan masyarakat tani untuk menolong dirinya sendiri, agar dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya (Marissa; 2010).
2 Kinerja sektor pertanian dapat diukur dari berbagai indikator terutama yang berkaitan dengan aspek ekonomi dan sosial, baik pada tingkat makro seperti kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penyediaan kesempatan kerja serta ditingkat mikro seperti produktifitas, produksi dan pendapatan petani (Suryana; 2007).
Perkembangan sektor pertanian memiliki arti dan peranan yang strategis bagi pembangunan nasional dan regional dikarenakan peranannya tidak hanya dalam penyediaan bahan pangan dalam rangka mendukung ketahanan pangan, tetapi juga memberikan andil yang cukup besar dalam penyediaan lapangan kerja dan sumber pendapatan dalam perekonomian nasional dan regional.
Gula adalah salah satu produk hasil usaha yang sangat penting bagi negara Indonesia dan merupakan komoditas strategis untuk menjaga kestabilan ekonomi dan salah satu sumber pendapatan bagi para petani tebu. Oleh sebab itu, kebutuhan gula senantiasa meningkat. Untuk meningkatkan produksi tanaman tebu dan meningkatkan pendapatan perusahaan dan petani tebu, masih banyak kendala yang menimpa, sehingga masalah tebu dan gula banyak menghadapi persoalan dilapangan diantaranya penanaman, pengangkutan dan pemasaran.
Salah satu cara untuk meningkatkan produksi dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani tebu adalah dengan cara diterapkan sistem pola kemitraan, yaitu perusahaan melakukan kerjasama dengan petani untuk mendapatkan bahan baku yang cukup serta pada kualitas yang baik. Adapun dalam melaksanakan pola kemitraan ini petani yang berperan dalam memproduksi tebu terikat suatu perjanjian dengan perusahaan inti yang berperan sebagai pembeli hasil produksi
3 sesuai dengan harga perjanjian yang telah dijanjikan diawal. Dalam permodalan dan teknologi petani diberikan pinjaman (penggarapan dan pemupukan) namun tebu yang dihasilkan harus dijual keperusahaan inti.
PT. Perkebunan Nusantara XIV Persero Kabupaten Takalar merupakan perusahaan BUMN penghasil gula yang menjalankan kemitraan sejak 20 tahun terakhir dengan masyarakat disekitar pabrik gula. Kemitran hadir sebagai pemecah masalah untuk mengubah perekonomian rakyat di Kabupaten Takalar khususnya Kecamatan Polongbangkeng Utara. Secara garis besar, di Indonesia terdapat lima pola kemitraan,yaitu, Pola Inti Plasma, Pola Subkontrak, Pola Dagang Umum, Pola Kemitraan Keagenan, dan Waralab. Sistem kemitraan antara petani tebu dengan pabrik gula di Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar terjadi karena adanya saran dari PT. Perkebunan Nusantara dengan masyarakat di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polongbangkeng Utara untuk melakukan kerja sama dengan petani. Mekanisme kemitraan biasa dilakukan untuk mengukur sejauh mana tujuan tersebut dapat tercapai.
Pabrik gula Takalar selaku perusahaan melihat potensi lahan yang dimiliki oleh petani cukup untuk dijadikan lahan penanaman tebu dengan tujuan unuk memproduktifkan lahan dan meningkatkan pendapatan petani. Melihat hal tersebut maka pabrik gula mengajak masyarakat untuk bekerja sama dalam membudidayakan tanaman tebu dengan membuat perjanjian bersama dengan masyarakat, dan diharapkan petani bersedia untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan. Namun pada awal kemitraan, banyak masyarakat khususnya petani mengangap bahwa kemitraan yang dilakukan oleh suatu perusahan dapat
4 merugikan masyarakat dan hanya menguntungkan satu pihak saja yaitu pada pihak perusahaan.
Kertas perjanjian antara masyarakat petani tebu dengan pabrik gula ada 5 poin hak dan kewajiban untuk pihak pertama selaku pabrik gula dan 7 poin hak dan kewajiban untuk pihak kedua selaku petani tebu yang tertera dalam perjanjian kerjasama tersebut. Salah satunya adalah pihak pertama memberikan bimbingan teknis di lapangan agar tercapai produktivitas yang tinggi, dan pihak kedua mendapatkan bimbingan teknis budidaya tebu dari pihak pertama.
Menurut salah satu warga yang sudah 10 tahun telah menjalankan usahatani tebu tersebut dari awal kemitraan ditetapkan bagi hasil 35% untuk perusahaan dan 65% untuk petani tebu. Tapi, seiring berjalannya waktu petani tebu kemudian mengalami banyak kendala terutama dalam hal pengadaan bibit, tidak ada bibit unggul yang disediakan oleh perusahaan ataupun pemerintah sedangkan perusahaan menuntut hasil tebu yang bagus. Dari bagi hasil yang disepakati diawal, masyarakat kemudian merasa bahwa hasil yang didapatkan oleh petani tidak sebanding dengan pengeluaran biaya produksi yang kemudian menghasilkan tebu yang siap diolah oleh pabrik gula dikarenakan rendahnya harga beli tebu perusahaan yang tidak menutupi semua biaya produksi tebu dari rakyat. Hal tersebut juga dikarenakan rendahnya rendemen tebu yang di tetapkan oleh perusahaan. Dari tingginya biaya produksi tersebut sedangkan harga beli perusahaan rendah membuat masyarakat enggan untuk mengembangkan budidaya tebu tersebut.
5 Berdasarkan pemaparan diatas maka penulis tertarik mengkaji lebih mendalam tentang mekanisme pendapatan usahatani tebu rakyat melalui pola kemitraan yang terjalin antara pabrik gula Takalar dengan petani tebu rakyat.
Maka peneliti melakukan penelitian dengan judul Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Tebu Rakyat Pola Kemitraan di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas , maka permasalahannya sebagai berikut:
1) Berapa tingkat pendapatan usahatani tebu rakyat pola kemitraan di Kelurahan Parangluara, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar?
2) Bagaimana tingkat kelayakan usahatani tebu rakyat pola kemitraan di Kelurahan Parangluara, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah di uraikan sebelumnya, maka dapat di rumuskan tujuan penelitian sebagai berikut:
1) Untuk menganalisis tingkat pendapatan usahatani tebu rakyat pola kemitraan di Kelurahan Parangluara, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar.
6 2) Untuk mengetahui tingkat kelayakan usahatani tebu rakyat pola kemitraan di Kelurahan Parangluara, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar.
1.4 Kegunaan Penelitian
Kegunaan yang di harapkan dari penelitian ini adalah:
1) Sebagai bahan informasi bagi petani untuk mengetahui jumlah pendapatan yang diperoleh dan kelayakan usahataninya.
2) Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah wawasan serta sebagai bahan informasi atau rujukan untuk penelitian berikutnya.
7 II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Tebu
Tebu adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih satu tahun. Tanaman tebu sebagai salah satu tanaman monokotil memiliki tipe perakaran serabut. Akar tebu dapat dibedakan menurut perkembangannya, yaitu akar primer dan akar sekunder. Akar primer adalah akar yang tumbuh dari mata akar buku ruas stek batang bibit, akarnya lebih halus dan bercabang banyak. Akar sekunder adalah akar yang tumbuh dari dari mata akar dalam buku ruas tunas yang tumbuh dari stek bibit, bentuknya lebih besar, lunak, dan sedikit bercabang. Pertumbuhan akar ada yang tegak lurus ke bawah dan ada yang mendatar dekat permukaan tanah (Supriyadi; 2002).
Tanaman tebu menghendaki penyinaran matahari secara langsung.
Penyinaran matahari penting bagi tanaman tebu untuk pembentukan gula, tercapainya kadar gula yang tinggi pada batang, dan mempercepat proses pemasakan. Kadar sukrosa terrtinggi dapat dicapai pada penyinaran matahari selama 7-9 jam per hari. Ketinggian tempat yang memenuhi syarat pertumbuhan tebu adalah tidak lebih dari 600 dpl maka dari itu di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di dataran rendah (Setyamidjaja dan Husaini; 1992).
8 2.2 Sistem PC (Plant Cane)
Budidaya tanaman tebu dengan sistem PC (Plant Cane) merupakan tahapan awal dalam pelaksanaan proses penanaman tebu (BPTP Papua; 2013).
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan budidaya tanaman tebu yaitu sistem PC yaitu :
a. Persiapan Lahan
Persiapan lahan meliputi:
1) Memotong tunggul dan sampah guna memudahkan pembajakan, dan meratakan tanah, serta memecah sampah yang tidak terbakar.
2) Indikator perataan lahan yang baik adalah semua tunggul dan sampah terpotong sehingga tanah menjadi rata.
b. Pembajakan
Kegiatan ini bertujuan untuk membalik dan menggemburkan tanah, memperbaiki aerasi, drainase tanah dan memutus perakaran tumbuhan pengganggu serta memecah tunggul atau tonggak pertanaman tebu sebelumnya.
c. Membuat Alur Tanam
Tujuan kegiatan ini adalah membuat alur tanam sementara, membuat juringan dengan jarak antara pusat ke pusat 185 cm, dan membuat jalur untuk masuknya kendaraan (traktor dan truk) ke areal pertanaman.
9 d. Pemberian Pupuk
Pupuk diberikan setelah pembuatan alur tanaman dan sebelum penanaman bibit.
e. Penanaman
Setelah bibit tebu berumur 1 - 1,5 bulan dan siap di pindahkan ke juringan. Tahapan penanaman sebagai berikut:
1) Bibit ditanam dengan sistem juringan ganda dengan jarak tanam 50 x 135 cm dengan jarak PKP 185 cm.
1) Satu bibit per lubang tanam.
2) Setelah bibit ditanam dilakukan penyiraman secukupnya.
f. Pemeliharaan 1) Penyulaman
Penyulaman tanaman dilakukan pada umur 4 – 5 minggu jika ada tanaman yang mati, diganti dengan menggunakan bahan tanaman kelebihan bibit yang sudah disemaikan.
2) Pembumbunan
Pembumbunan pertama dilakukan pada minggu ke 6 - 8 bersamaan dengan pemupukan kedua tanah sekedar untuk menutupi pupuk.
Pembumbunan kedua dilakukan pada umur tanaman 3,5 – bulan.
3) Pengendalian HPT
Pengendalian hama dilakukan seminggu sekali untuk mengetahui populasi dan tingkat serangan hama untuk selanjutkan dapat
10 ditentukan upaya penanggulangan dari serangan hama yang terjadi di lapang.
g. Panen
Panen merupakan kegiatan akhir dari budidaya tebu, kegiatan ini bertujuan untuk mengambil tebu dalam jumlah yang optimal dari setiap petak tebu, mengangkut dan memuat tebu yang ada dilahan.
2.3 Sistem Rawat Ratoon
Sifat tebu keprasan adalah menumbuhkan kembali bekas tebu yang telah ditebang baik bekas tebu giling ataupun tebu bibitan. Dalam budidaya tebu, penanaman dilakukan pada tahun pertama yang dikenal dengan istilah Plant Cane.
Pemeliharaan tanaman keprasan atau yang disebut dengan tanaman ratoon, dilakukan secepat mungkin setelah tanaman tebu ditebang agar tunas yang dikepras masih dalam keadaan segar sehingga pertumbuhan nantinya baik (Litbang PG; 2011).
Sebelum keprasan, dilakukan pembersihan sisa-sisa tanaman. Keprasan dilakukan dengan cara manual menggunakan cangkul. Bentuk hasil keprasan pertama disebut ratoon I dan keprasan pada tahun-tahun berikutnya disebut dengan tanaman tebu ratoon II dan ratoon III. Pemeliharaan tanaman yang penting dalam proses kepras adalah putus akar, tindakan memotong akar tebu lama dengan menggunakan disc bedder dan atau brujul sapi. Manfaat putus akar adalah untuk menggemburkan tanah di barisan tebu, meluruskan arah rumpun keprasan, dan membuat paliran untuk pemupukan (Litbang PG; 2011).
11 Urut-urutan penggarapan tersebut yaitu :
a. Pembersihan
Pembersihan lahan dengan cara membakar sampah (daun kering setelah tebangan). Pengeprasan tunggak/tunggul tebu dengan cangkul yang tajam.
Pengeprasan dilakukan paling lambat satu minggu setelah tebu ditebang.
Pengeprasan tebu dengan bentuk huruf U terbalik, atau huruf W pada tanaman tebu di sawah, sedangkan cara mengepras di lahan tegalan adalah mendatar di permukaan tanah.
b. Pembumbunan (tambah tanah)
Lima hari atau satu minggu setelah dikepras, tanaman diairi. Setelah itu dilakukan penggarapan sebagai bumbun kesatu dan pembersihan Rumput rumputan, selanjutnya pembumbunan ke dua 2-3 minggu.
c. Pemupukan
Pemupukan kesatu dilakukan setelah 7-10 hari setelah keprasan lalu pemberian air. Jenis pupuk yang biasa digunakan adalah ZA kecuali pada kebun-kebun percobaan yang menggunakan pupuk majemuk, misalnya NPK.
Jika keadaan memungkinkan tebu rakyat menggunakan pupuk pelengkap seperti TSP dan KCL. Pemupukan ke dua dilakukan setelah bumbunan ke dua. Cara pelaksanaannya sama dengan pemupukan ke satu. Hanya saja pupuk ditaburkan disamping kiri rumpun tebu.
d. Penggarapan
Penggarapan lainnya yaitu meliputi kletek, dan pemeliharaan got. Penanganan hama penyakit juga diperlukan untuk kelangsungan hidup tanaman.
12 2.4 Konsep Usahatani
Usahatani adalah pengusaha tani yang mengusahakan dan mengkoordinir faktor-faktor produksi berupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang baik (Suratiyah; 2006). Usahatani merupakan kegiatan bercocok tanam dengan mengalokasikan sumber-sumber daya seperti tanah, lahan, tenaga kerja, modal, dan air untuk memperoleh pendapatan guna memenuhi kebutuhan hidup. Usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif bila petani atau produsen dapat mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki (yang dikuasai) sebaik – baiknya, dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumber daya tersebut menghasilkan keluaran (output) yang melebihi masukan (input) (Soekartawi; 2002).
Usahatani memiliki empat unsur, unsur yang pertama adalah lahan, lahan berperan sebagai faktor produksi yang dipengaruhi oleh tingkat kesuburan, luas lahan, lokasi, intensifikasi, dan fasilitas, unsur ke dua adalah tenaga kerja yang dapat berasal dari orang lain atau dari anggota keluarga sendiri, unsur ke tiga adalah modal yang digunakan untuk meningkatkan produktivitas kerja dan kekayaan usahatani, unsur ke empat adalah pengelolaan dalam menentukan, mengkoordinasi, dan mengorganisasikan faktor-faktor produksi pertanian (Hernanto; 1996).
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usahatani digolongkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah
13 faktor yang ada pada usahatani itu sendiri; seperti petani pengelola, lahan usahatani, tenaga kerja, modal, tingkat teknologi, kemampuan petani mengalokasikan penerimaan keluarga, dan jumlah keluarga. Faktor eksternal adalah faktor - faktor di luar usaha tani, seperti tersedianya sarana transportasi dan komunikasi, aspek - aspek yang menyangkut pemasaran hasil dan bahan usahatani (harga hasil, harga saprodi, dan lain - lain), fasilitas kredit, dan sarana penyuluhan bagi petani. Keberhasilan usahatani dibidang produksi akan dilihat dari besarnya pendapatan yang diperoleh petani (Hernanto; 1999).
Dalam berusaha tani tak luput dari biaya, biaya adalah sejumlah nilai uang yang dikeluarkan oleh produsen atau pengusaha untuk mengongkosi kegiatan produksi (Supardi; 2000). Biaya usahatani merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen (petani, nelayan, dan peternak) untuk memperoleh faktor-faktor produksi, yang akan digunakan dalam mengelolah usahanya dalam mendapatkan hasil maksimal (Rahim dan Hastuti; 2007).
Biaya usahatani berdasarkan sifatnya (Soekartawi; 1994) yaitu:
a) Biaya tetap, yaitu biaya yang besar kecilnya tidak bergantung pada besar kecilnya produksi dan dapat digunakan lebih dari satu kali proses produksi. Sewa atau bunga tanah berupa uang adalah contoh dari biaya tetap.
b) Biaya variabel, yaitu biaya yang besar kecilnya berhubungan dengan besar kecilnya produksi. Pengeluaran membeli bibit, obat-obatan, biaya persiapan, dan biaya pembuatan kandang adalah contoh dari biaya variabel.
14 2.5 Pendapatan Usahatani
Pendapatan adalah seluruh penerimaan baik berupa uang maupun berupa barang yang berasal dari pihak lain maupun hasil industri yang dinilai atas dasar sejumlah uang dari harta yang berlaku saat itu. Pendapatan merupakan sumber penghasilan seseorang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup secara langsung (Suroto, 2000).
Untuk memahami arti dari pendapatan, maka akan diuraikan pengertian dari pendapatan itu sendiri. Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2010) dalam buku Standart Akuntansi Keuangan menyebutkan bahwa pendapatan adalah: “Arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu periode, bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal”. Tingkat pendapatan merupakan salah satu kriteria maju tidaknya suatu daerah. Bila pendapatan suatu daerah relatif rendah, dapat dikatakan bahwa kemajuan dan kesejahteraan tersebut akan rendah pula. Kelebihan dari konsumsi maka akan disimpan pada bank yang tujuannya adalah untuk berjaga-jaga apabila baik kemajuan dibidang pendidikan, produksi dan sebagainya juga mempengaruhi tingkat tabungan masyarakat.
Demikian pula hanya bila pendapatan masyarakat suatu daerah relatif tinggi, maka tingkat kesejahteraan dan kemajuan daerah tersebut tinggi pula (Mahyu Danil;
2013).
Pendapatan sangat berpengaruh bagi kelangsungan suatu usaha, semakin besar pendapatan yang diperoleh maka semakin besar kemampuan suatu usaha untuk membiayai segala pengeluaran dan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.
15 Kondisi seseorang dapat diukur dengan menggunakan konsep pendapatan yang menujukkan jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu (Samuelson dan Nordhaus; 2003).
Ada definisi lain mengenai pendapatan yaitu pendapatan dikatakan sebagai jumlah penghasilan yang diperoleh dari hasil pekerjaan dan biasanya pendapatan seseorang dihitung setiap tahun atau setiap bulan.
Menurut Sukirno (2002), pendapatan dapat dihitung melalui tiga cara yaitu:
1. Cara pengeluaran, cara ini pendapatan dihitung dengan menjumlahkan nilai pengeluaran / perbelanjaan ke atas barang – barang dan jasa.
2. Cara produksi, cara ini pendapatan dihitung dengan menjumlahkan nilai barang dan jasa yang dihasilkan.
3. Cara pendapatan, dalam perhitungan ini pendpaatan diperoleh dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan yang diterima.
2.6 Analisis Kelayakan Usaha 1. Break Even Point (BEP)
Analisis titik pulang pokok (break event point) adalah alat analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel di dalam kegiatan perusahaan, seperti luasan produksi atau tingkatan produksi yang dilaksanakan dengan biaya yang dikeluarkan, serta pendapatan yang diterima dari perusahaan.
Pendapatan perusahaan merupakan penerimaan karena bersumber dari kegiatan perusahaan sedangkan biaya operasinya merupakan pengeluaran (Umar, 1997).
2. Return Cash Ratio (R/C)
16 Soeharjo dan Patong (1973) menyatakan bahwa rasio penerimaan atas biaya menunjukkan berapa besarnya penerimaan yang akan diperoleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan dalam produksi usahatani. Rasio penerimaan atas biaya produksi dapat digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan relatif kegiatan usahatani, artinya dari angka rasio penerimaan atas biaya tersebut dapat diketahui apakah suatu usahatani menguntungkan atau tidak. Menurut Marrisa (2010) tingkat pendapatan usaha dapat diukur mengunakan analisis penerimaan dan biaya (R/C Ratio) yang disarankan pada perhitungan secara finansial. Analisis ini menunjukkan besar penerimaan usaha yang akan diperoleh pengusaha untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usaha. Jika R/C Ratio bernilai lebih besar dari 1 (R/C > 1) artinya setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biaya atau secara sederhana kegiatan usaha menguntungkan. Bila nilai R/C Ratio lebih kecil dari 1 (R/C < 1) artinya tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih kecil dari tambahan biaya atau secara sederhana kegiatan usaha mengalami kerugian.
3. Benefit Cost Ratio (B/C)
Menurut Soeharto (1997) B/C Ratio merupakan metode yang dilakukan untuk melihat berapa manfaat yang diterima oleh proyek untuk satu satuan matauang (dalam hal rupiah) yang dikeluarkan. B/C Ratio adalah suatu rasio yang membandingkan antara benefit atau pendapatan dari suatu usaha dengan biaya yang dikeluarkan. Sedangkan menurut Rahardi dan Hartono (2003) analisis B/C Ratio adalah perbandingan antara tingkat keuntungan atau pendapatan yang
17 diperoleh dengan total biaya yang dikeluarkan. Suatu usaha dikatakan layak dan memberi manfaat apabila nilai B/C Ratio lebih besar dari nol (0), semakin besar nilai B/C Ratio maka semakin besar pula manfaat yang akan di peroleh dari usaha tersebut.
2.7 Pola Kemitraan
Kemitraan adalah bentuk kerjasama antara dua pihak dengan hak dan kewajiban yang setara dan saling menguntungkan. Konsep kemitraan merupakan terjemahan kebersamaan (partnership) atau bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungannya sesuai konsep manajemen berdasarkan sasaran atau partisipatif. Karena sesuai dengan konsep manajemen partisipatif, perusahaan besar harus juga bertanggungjawab mengembangkan usaha kecil dan masyarakat pelanggannya, karena pada akhirnya hanya konsep kemitraan (partnership) yang dapat menjamin eksistensi perusahaan besar, terutama untuk jangka panjang.
Pola kemitraan antara petani tebu dengan PTPN XIV Pabrik Gula Takalar adalah pola kemitraan inti plasma. Dimana petani tebu menyediakan lahan pengelolaan budidaya tebu, tenaga kerja, biaya perawatan, biaya angkut dan biaya-biaya lainnya, sedangkan pihak PTPN XIV Pabrik Gula Takalar menyediakan Pabrik sebagai sarana produksi serta memberrikan bimbingan teknis budidaya tanaman tebu hingga pasca panen. Pola kemitraan ini dalam ekonomi Islam termasuk dalam syirkah al-inan dimana petani tebu dengan pabrik gula masingmasing mengambil partisipasi dalam kerjasama tersebut. Petani tebu
18 menghasilkan tebu yang siap digiling dan pabrik gula menyediakan pabrik saran produksi untuk menggiling tebu tersebut menjadi gula.
2.8 Penelitian Terdahulu yang Relevan Tabel 1. Penelitian Terdahulu Yang Relevan
No Judul Penelitian Metode Analisis Hasil Analisis 1. Analisis
Kelayakan Usahatani Tebu (Studi Kasus Pada Petani Tebu Rakyat di Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang. Nilatul Mufarrihah (2016)
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis aspek
financial, dan non financial.
Hasil penelitian; Aspek pasar dan pemasaran, usahatani tebu memiliki peluang pasar yang sangat tinggi karena permintaan gula di Indonesia semakin tahun semakin meningkat sedangkan produksi tebu semakin menurun di tiap tahunnya.
2. Studi Kelayakan Pengembangan Usaha Tani Tebu di Kabupaten Sampang. Kuntoro Boga Andri (2014)
Penelitian tentang aspek sosial dan manajemen kemitraan, menggunakan metode survey analitik.
Hasil dari penelitian usaha tani tebu di Kabupaten Sampang layak di kembangkan dilahan kering/lahan tidur atau lahan dengan tingkat produktivitas rendah dengan potensi lahan yang belum
19 dimanfaatkan.
3. Analisis Komparatif Usahatani Tebu Rakyat Rawat Ratoon dan Plant Cane di Desa Massamaturu Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar. Rudi Efendi (2019)
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan teknik analisis kualitatif dan teknik analisis kuantitatif.
Kesimpulannya adalah penerimaan dan pendapatan usahatani tebu rakyat sistem rawat ratoon dan PC
menunjukkan bahwa biaya produksi dengan menggunakan sistem PC jauh lebih besar
dibandingkan sistem rawat ratoon,
penerimaan sistem rawat ratoon lebih kecil
dibanding dengan sistem PC, dan pendapatan sistem rawat ratoon lebih besar dibandingkan dengan pendapatan dengan sistem PC.
20 2.9 Kerangka Pemikiran
Sejalan dengan rumusan masalah dan tujuan dalam penelitian, maka penelitian ini bermaksud untuk mengetahui berapa tingkat pendapatan usahatani tebu rakyat dan apakah usahatani tebu rakyat di Kelurahan Parangluara, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar layak diusahatanikan.
Penelitian ini untuk menghitung pendapatan petani tebu rakyat dan kelayakan usahataninya dengan pola kemitraan. Pendapatan diperoleh dari penerimaan dikurangi dengan biaya produksi. Penerimaan ini berasal dari total produksi dikali dengan harga jual. Sedangkan biaya produksi berasal dari jumlah antara total biaya tetap dan total biaya tidak tetap. Analisis pendapatan usahatani tebu ini menggunakan indikator R/C rasio.
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Usahatani Tebu Rakyat
Sistem PC (Plant Cane) Sistem Rawat Ratoon
Tidak Layak Produksi, Pemerimaan, Pendapatan
Kelayakan Finansial R/C Rasio
Layak
21 III.METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Parangluara Kecamatan
Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar. Pemilihan lokasi penelitian karena pada PTPN Pabrik Gula Takalar yang menyalurkan kerjasama melalui pola kemitraan bagi masyarakat petani tebu dalam mengusahakan tanaman dalam proses budidaya. Penelitian ini dilakukan dari bulan November sampai dengan Januari 2022.
3.2 Teknik Penentuan Responden
Responden pada penelitian ini adalah petani tebu rakyat dengan pengalaman kerja/masa kerja minimal 7 tahun. Jumlah populasi petani tebu rakyat yang melakukan pola kemitraan di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar sebanyak 10 orang. Seluruh petani tebu rakyat tersebut dijadikan informan dalam penelitian ini.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan kuantitatif.
Sumber data adalah segala sesuatu yang dapat memberikan informasi mengenai data. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder.
1. Data primer adalah data yang diperoleh lewat pengamatan atau wawancara langsung dengan narasumber seperti luas lahan usahatani tebu, sarana
22 produksi, mekanisasi, pembiayaan tenaga kerja usahatani tebu, penerimaan hasil produksi usahatani tebu dan pendapatan hasil usahatani tebu. Dalam hal ini adalah petani di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar.
2. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan oleh peneliti yang diperoleh lewat dokumentasi dan catatan-catatan yang berkaitan dengan objek penelitian, misalnya buku-buku, artikel, karya ilmiah dan instansi atau kantor- kanor. Data adalah hasil peneliti baik berupa fakta atau angka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Data yang dibutuhkan dalam penulisan ini secara umum terdiri dari data yang bersumber dari penelitian lapangan. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan, observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar dan rekaman suara.
2. Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data untuk mendapatkan keterangan lisan melalui tanya jawab. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti merupakan wawancara tidak terstruktur yaitu wawancara yang mirip dengan percakapan informal. Metode wawancara ini bertujuan memperoleh bentuk-
23 bentuk tertentu informasi dari semua informan, tetapi sususan kata dan urutannya disesuaikan dengan cirri-ciri tiap informan. Wawancara tidak terstruktur bersifat luwes, susunan pertanyaan dan susunan kata-kata dalam setiap pertanyaan dapat diubah pada saat wawancara disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi saat wawancara termasuk karakteristik social-budaya informan yang diwawancara.
3. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu pengambilan gambar oleh peneliti untuk memperkuat hasil penelitiannya.
3.5 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
Biaya total usahatani tebu adalah penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel, mencakup seluruh biaya yang dikeluarkan untuk usahatani tebu selama satu musim tanam dihitung dengan satuan rupiah.
TC = FC + VC Keterangan:
TC = total cost (biaya total) FC = fixed cost (biaya tetap)
VC = variable cost (biaya variabel)
Penerimaan usahatani tebu merupakan seluruh pemasukan dari hasil penjualan tebu, sehingga penerimaan diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah hasil produksi atau hasil panen dalam satu musim tanam dengan harga jual, dihitung dengan satuan rupiah (Soekartawi, 2002).
24 TR = Q x P
Keterangan:
TR = total revenue (penerimaan total) Q = jumlah hasil panen (ku)
P = harga jual (Rp/ku)
Pendapatan usahatani tebu merupakan selisih antara penerimaan yang diperoleh dalam satu musim tanam dengan biaya total yang dikeluarkan untuk usahatani tebu.
Pendapatan = TR – TC Keterangan:
TR = total revenue (penerimaan total) TC = total cost (biaya total)
Kelayakan usahatani ditinjau dari dua hal yaitu R-C ratio dan BEP dengan rumus sebagai berikut:
R-C ratio = R/C Keterangan:
R = revenue (penerimaan) C = cost (biaya)
Adapun kriteria kelayakan usaha untuk R-C ratio meliputi:
a. R-C ratio < 1, usahatani tebu tidak layak untuk diusahakan b. R-C ratio = 1, usahatani mencapai kondisi titik impas/BEP c. R-C ratio > 1, usahatani tebu layak untuk diusahakan
25
Keterangan:
FC = fixed cost (biaya tetap) P = price (harga)
VC per unit = variable cost per unit (biaya variabel per unit) Adapun kriteria kelayakan usaha untuk BEP meliputi:
a. BEP unit dan rupiah < hasil produksi dan penerimaan, usahatani tebu tidak layak untuk diusahakan.
b. BEP unit dan rupiah > hasil produksi dan penerimaan, usahatani tebu layak untuk diusahakan (Soekartawi, 2002).
3.6 Definisi Operasional 1. Responden
Responden adalah petani tebu yang berjumlah 10 orang dan memiliki pengalaman usaha tani minimal 7 tahun.
2. Penerimaan
Penerimaan (Revenue) adalah total pendapatan yang diterima oleh petani berupa uang yang diperoleh dari hasil penjualan barang yang diproduksi di
26 Kelurahan Parangluara Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar.
3. Total Biaya
Total biaya merupakan jumlah total harga perolehan yang digunakan atau dikeluarkan untuk memperoleh penghasilan yang akan dipakai juga sebagai pengurang dari penghasilan di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar.
4. Tebu
Tebu adalah tanaman perkebunan yang ditanam untuk bahan baku gula yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang terdapat di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar.
5. Sistem PC ( Plant Cane)
Sistem PC (Plant Cane) merupakan sistem budidaya tanaman tebu yang digunakan pada awal tanam atau musim tanam pertama di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar.
27 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Sejarah Kelurahan
Kelurahan Parangluara adalah sebuah Kelurahan yang ada di Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan yang merupakan Kelurahan hasil pemekaran dengan Kelurahan Mattompodalle Kecamatan Polongbangkeng Utara pada tahun 1993.
Berawal dari keinginan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan pemerintah yang lebih dekat, lebih efektif dan lebih efisien, maka pada awal tahun 1993 di bentuklah Panitia Pemekaran dan pada waktu itu juga langsung mengajukan permohonan pemekaran kepada pemerintah kabupaten. Dengan melewati berbagai hal/proses pemekaran yang sesuai dengan aturan hukum yang belaku dari mulai penentuan nama Kelurahan, pembagiaan wilayah, pembagiaan kekayaan Kelurahan, dll akhirnya Tiga lingkungan yaitu lingkungan mattompodalle ,linglungan je’netallasa dan lingkungan kampong parang.
4.2 Demografi Kelurahan
Kelurahan Parangluara adalah salah satu kelurahan dari 18 desa dan kelurahan yang ada di kecamatan polongbangkeng utara Kabupaten Takalar dan memiliki luas wilayah 3,07 Km2, dengan batas wilayah administrasi sebagai berikut: (1) sebelah Utara, berbatasan Desa Lassang, (2) sebelah Timur, berbatasan dengan Desa Parangbaddo, (3) sebelah Selatan, berbatasan dengan Desa Pa’rappunganta, dan (4) sebelah Barat, berbatasan dengan Kelurahan Mattompodalle. Secara Administrasi Pemerintahan Kelurahan Parangluara terdiri
28 dari 3 (Tiga) Lingkungan, yaitu: Lingkungan I Mattompodalle, Lingkungan II Je’netallasa, Lingkungan III Kampong parang.
Secara Geografis Kelurahan Berjarak 16,0 km dari ibu kota kabupaten dan 6,0 km dari kota kecamatan, Sedangkan luas lahan dan pemanfaatannya terdiri dari perkebunan tebu milik Pg. takalar 50%. pemukiman 30 % dan persawahan 20
% , Secara Klimatologi Kelurahan Parangluara beriklim tropis dengan dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Musim hujan biasanya terjadi antara bulan November hingga bulan Mei. Berdasarkan pencatatan curah hujan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Takalar, rata-rata curah hujan terbanyak tahun 2010 terjadi pada bulan Januari yaitu sekitar 1.124 mm, dan banyaknya rata-rata hari hujan yang terjadi pada tahun 2009 terbanyak terjadi pada bulan Januari yaitu sebanyak 27 hari. Temperatur udara terendah rata-rata 22.2 hingga 20.4 derajat celcius pada bulan Februari-Agustus dan tertinggi 30.5 hingga 33.9 derajat celcius pada bulan September-Januar
4.2.1 Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk Kelurahan Parangluara terdiri dari 1.388 kepala Keluarga dengan rincian 577 laki-laki, perempuan 811 jiwa. Penduduk merupakan salah satu modal dasar dari pembangunan di Kelurahan/Desa. Oleh karena itu perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak. Penduduk yang berkualitas akan menjadi sumber daya potensial. Secara keseluruhan jumlah penduduk di Kelurahan Parangluara 2.324 jiwa yang tersebar di 3 Lingkungan dalam wilayah Kelurahan Parangluara. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut:
29 Tabel 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah (Orang)
1 Laki-laki 1.106
2 Perempuan 1.218
Total 2.324
Sumber: Data Primer setelah di olah, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki.
4.2.2 Letak dan Luas Wilayah
Kelurahan Parangluara terletak di Daerah Kawasan Pabrik Gula Takalar , dengan luas Wilayah 3,07 Hektar yang terdiri dari 3 Lingkungan yang merupakan salah satu Desa yang berada di wilayah Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar. Dengan batas wilayah sbb:
Tabel 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kel. Parang Luara Sumber: Data Profil Kelurahan Parangluara, 2019.
Tabel di atas dijelaskan bahwa batas wilayah Kelurahan Parangluara Kecamatan Polongbagkeng Utara Kabupaten Takalar yaitu pada sebelah utara berbatasan dengan Desa Lassang, di sebelah selatan berbatas dengan Desa Pa’rappunganta, dari sebelah timur berbatasan dengan Desa Parangbaddo, dan
Batas Desa/kelurahan Kecamatan
Sebelah utara Lassang Polongbangkeng Utara
Sebelah selatan Pa’rappunganta Polongbangkeng Utara Sebelah timur Parangbaddo Polongbangkeng Utara Sebelah barat Mattompodalle Polongbangkeng Utara
30 pada bagian sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Mattompodalle.
4.3 Topografi dan Jenis Tanah
Bila dilihat dari keadaan Tofografi Kelurahan Parangluara termasuk dataran rendah yang dikelilingi oleh perkebun tebu dan hamparan sawah dan merupakan dataran tinggi yang jauh dari permukaan laut dengan ketinggian rata- rata 51 meter dari permukaan laut, secara geologis wilayahnya memiliki jenis tanah hitam dan tanah liat, sehingga secara umum tofograpi Kelurahan Parangluara adalah dataran dengan bentangan perkebunan tebu yang luas dan sedikit lahan pemukiman dan persawahan.
Kelurahan Parangluara merupakan daerah persawahan dan daerah perkebunan yang sumber pendapatan utama masyarakat persawahan dan perkebunan digarap 2 kali dalam setahun karena hanya mengandalkan sebagian pengairan irigasi dan tadah hujan, walaupun daerah tersebut sangat minim bila di bandingkan dengan desa tetangga lainnya, selain itu sebagian masyarakatnya adalah pedagang dan peternak.
4.4 Iklim
Disamping itu desa massamaturu beriklim tropis dengan suhu rata-rata mencapai 22-250 C dan memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau, di mana musim hujan terjadi mulai pada bulan Oktober sampai pada bulan April dengan curah hujan mencapai 40 mm sampai 4000 mm, sementara musim kemarau terjadi pada bulan mei sampai September yang berputar setiap tahunnya.
31 4.5 Keadaan Sosial
Pendidikan adalah satu hal penting dalam memajukan tingkat kesejahteraan pada umumnya dan tingkat perekonomian pada khususnya. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka akan mendongkrak tingkat kecakapan.
Tingkat kecakapan juga akan mendorong tumbuhnya ketrampilan kewirausahaan.
Dan pada gilirannya mendorong munculnya lapangan pekerjaan baru. Dengan sendirinya akan membantu program pemerintah untuk pembukaan lapangan kerja baru guna mengatasi pengangguran. Pendidikan biasanya akan dapat mempertajam sistimatika pikir atau pola pikir individu, selain itu mudah menerima informasi yang lebih maju. Dibawah ini terdapat tabel yang menunjukan tingkat rata-rata pendidikan warga Kelurahan Parangluara.
Pendidikan merupakan salah satu modal dasar pembangunan. Sehingga pendidikan adalah sebuah Investasi (modal) di masa yang akan datang.
Tabel 4. Tingkat Pendidikan Terakhir Masyarakat di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar.
No. Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa)
1. Belum Sekolah 208
2. Tidak Sekolah 210
3. Tidak Tamat SD 178
4. Tamat SD 767
5. SLTP 442
6. SMA 480
7. D-3 13
8. S-1 26
Jumlah 2.324
Sumber: Data Profil Kelurahan Parangluara, 2019.
32 4.6 Keadaan Ekonomi
Mayoritas mata pencaharian penduduk Kelurahan Parangluara adalah petani. Hal ini disebabkan karena minimnya tingkat pendidikan menyebabkan masyarakat tidak punya keahlian lain dan akhirnya tidak punya pilihan lain selain menjadi petani. Sehingga keadaan ekonomi di Kelurahan Parangluara lebih di dominasi oleh ekonomi menengah ke bawah. Selengkapnya dapat dilihat dalam Tabel berikut ini.
Tabel 5. Pekerjaan Pokok Kepala Keluarga Kelurahan Parangluara
No Jenis Pekerjan Jumlah
1 Petani 1.016
2 Buruh tani 128
3 PNS 15
4 Buruh Swasta 25
5 Pengrajin/Tukang 18
6 Lain-lain 50
Jumlah 1.252
Sumber: Data Profil Kelurahan Parangluara, 2019.
33 V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Identitas Responden
Responden adalah objek penelitian mengenai masalah dan tujuan yang erat kaitannya dengan hasil penelitian, sehingga dengan mengetahui secara jelas dari identitas responden, maka kita lebih mudah mengetahui kemampuan dari seorang responden dalam menguraikan pendapatnya tentang tujuan penelitian yang akan dicapai. Identitas petani responden meliputi: umur, tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan keluarga dan luas lahan.
5.1.1 Umur Responden
Salah satu faktor yang menentukan petani dalam melakukan usahataninya adalah umur, umur sangat mempengaruhi kemampuan fisik bekerja dan berpikir, pada umumnya petani yang berusia muda dan sehat mempunyai fisik yang lebih kuat dan cepat dalam menerima informasi dan inovasi baru. Hal ini disebabkan karena petani yang berumur muda lebih berani menanggung resiko walaupun petani tersebut masih kurang pengalaman sehingga untuk menutupi kekurangannya maka petani yang muda bertindak lebih dinamis. Sebaliknya petani yang umurnya relatif tua mempunyai kapasitas pengolahan usahatani yang lebih matang karena banyak pengalaman yang dialaminya, sehingga berhati-hati dalam bertindak untuk melakukan suatu usahatani. Hasil pengumpulan data yang diperoleh menunjukan rata-rata umur petani informan yaitu 44,5 tahun yang berarti bahwa umur petani responden di Kelurahan Parangluara masih dalam usia produktif. Umur responden disajikan pada tabel 8.
34 Tabel 6: Umur Responden di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polombangkeng
Utara Kabupaten Takalar, Tahun 2021
Su mb er:
Data Primer Setelah diolah, 2021
Tabel diatas menunjukkan bahwa 30% responden berada pada kategori umur 35-40 tahun, 40% berada pada kategori umur antara 41-50 tahun, 30%
berada pada kategori umur 51-60 tahun. Berdasarkan pada tabel diatas maka petani yang memiliki umur antara 41-50 tahun merupakan yang paling dominan yaitu sebanyak 4 orang dengan persentase 40%. Sedangkan rata-rata Umur petani responden yaitu 51,2 tahun.
5.1.2 Tingkat Pendidikan Responden
Tingkat pendidikan responden dapat mempengaruhi aktifitas setiap manusia dan sering pula dijadikan sebagai indikator untuk mengukur potensi sumberdaya yang dimiliki. Suatu perubahan akan lebih mudah untuk terjadi pada suatu masyarakat apabila mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup tinggi karena akan mempengaruhi cara berpikir. Tingkat pendidikan merupakan jumlah tahun mengikuti pendidkan formal yang ditempuh petani pada bangku sekolah.
Pendidikan juga akan berpengaruh terhadap perilaku dan tingkat adopsi suatu inovasi. Seseorang yang berpendidikan tingi cenderung akan lebih mudah untuk menerima dan mencoba hal-hal yang baru.
No Umur (Tahun) Jumlah
(Orang)
Persentase (%)
1 35 – 40 3 30
2 41 – 50 4 40
3 51 – 60 3 30
Jumlah 10 100
35 Tabel 7. Tingkat Pendidikan Responden di Kelurahan Parangluara Kecamatan
Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar, 2021
Sumber: Data Primer Setelah diolah,2021
Tabel diatas menunjukkan bahwa persentase responden yang tingkat pendidikan SD 30%, pada tingkat SMP 30%, SMA 30%, dan Perguruan Tinggi 10%. Ini menunjukan bahwa petani responden yang memiliki pendidikan SD sampai denga SMA lebih dominan dibandingkan dengan petani responden yang memiliki gelar sarjana. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan petani yang memiliki jenjang pendidikan tinggi pada umumnya akan lebih cepat menguasai dan menerapkan teknologi yang diterima dibandingkan dengan petani yang berpendidikan rendah. Mayoritas tingkat pendidikan di daerah penelitian cukup baik sehingga pihak penyuluh tidak terlalu sulit dalam memberikan informasi dan penyuluh mengenai usahatani tebu.
5.1.3 Pengalaman Berusahatani
Pengalaman adalah faktor yang berperan dalam pengambilan keputusan.
Pengalaman memiliki pengaruh dalam melakukan pemeliharaan lingkungan, responden yang berpengalaman akan lebih cepat menerapkan teknologi dan lebih responsif terhadap inovasi, karena kegiatan pengalaman selalu memberikan manfaat.
No
Tingkat Pendidikan
Jumlah (Orang)
Persentase (%)
1. SD 3 30
2. SMP 3 30
3. SMA 3 30
4. Perguruan Tinggi 1 10
Jumlah 10 100
36 Pengalaman berusahatani merupakan salah satu indikator yang secara tidak langsung mempengaruhi keberhasilan usahatani tebu yang dilakukan petani secara keseluruhan. Petani yang berpengalaman dan didukung oleh sarana produksi yang lengkap akan lebih mampu meningkatkan produktifitas dibandingkan dengan petani yang baru memulai usahatani. Hasil pengambilan data yang dilakukan menunjukkan rata-rata pengalaman informan dalam berusahatani yaitu sekitar 8 tahun yang berarti bahwa petani responden di Kelurahan Parangluara memiliki pengalaman dalam berusatani yang baik.
Pengalaman usahatani responden disajikan pada tabel 10 di bawah ini.
Tabel 8. Pengalaman Responden dalam berusahatani di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar, 2021
No Pengalaman Usahatani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1. 7 8 80
2. 12 2 20
Jumlah 10 100
Sumber: Data Primer setelah diolah, 2021.
Tabel diatas menggambarkan bahwa pengalaman dalam pemeliharaan tanaman tebu terdapat 8 responden yang memiliki pengalaman bertani 7 tahun, 2 responden memiliki pengalaman 12 tahun dan rata-rata pengalaman usahatani responden yaitu sekitar 8 tahun.
Hal ini menunjukan bahwa petani tebu rakyat yang ada di daerah penelitian telah memiliki pengalaman yang baik dalam berusahatani. Lamanya pengalaman berusahatani bagi para petani responden dapat dijadikan sebagai motivasi kearah yang lebih baik dalam berusahatani. Pengalaman ini merupakan modal dasar dalam menerima inovasi untuk dapat meningkatkan produktifitas tabu yang mereka kelola.
37 5.1.4 Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah tanggungan keluarga berpengaruh pada petani dan keluarganya.
Hal tersebut disebabkan karena jumlah tanggungan keluarga akan mempengaruhi aktivitas atau kegiatan yang dilakukan petani akibat bahan kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Keluarga petani terdiri dari petani itu sendiri sebagai kepala keluarga, istri, anak, dan tanggungan lainnya yang berstatus tinggal bersama dalam satu keluarga.
Jumlah tanggungan keluarga merupakan jumlah seluruh orang yang berada dalam satu rumah yang menjadi tanggungan kepala rumah tangga.
Tabel 9. Jumlah Tanggungan Keluarga Petani Responden di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar No. Tanggungan Keluarga Jumlah
(Orang)
Persentase (%)
1 2 – 3 6 60
2 5 – 6 4 40
Jumlah 10 100
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2021.
Tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga petani mulai dari 2-3 orang sebanyak 6 orang petani dengan persentase sebesar 60%, 5-6 orang sebanyak 4 orang dengan persentase 40%. Dari tabel diatas juga dapat dilihat bahwa jumlah tanggungan keluarga petani responden dengan jumlah terbanyak yaitu antara 2-3 orang yaitu 6 orang petani dengan persentase 60%.
38 5.1.5 Luas Lahan Usahatani Tebu Rakyat Responden
Luas lahan petani responden dalam usahatani tebu mempengaruhi produktifitas petani. Luas areal usahatani akan membuka kesempatan bagi seorang petani untuk berproduksi banyak. Luas lahan yang dimiliki dapat memberikan gambaran bahwa makin luas lahan yang dimiliki, maka akan semakin tinggi status sosial ekonomi petani yang mempunyai kemampuan ekonomi dibanding dengan yang memiliki lahan yang kurang luas.
Luas lahan usahatani menentukan pendapatan, taraf hidup dan derajat kesejahteraan rumah tangga petani, luas penguasaan lahan akan berpengaruh terhadap adopsi inovasi, karena semakin luas lahan usahatani maka akan semakin tinggi hasil produksi sehingga turut meningkatkan pendapatan petani. Luas lahan petani akan mempengaruhi efisien atau tidaknya suatu usahatani, karena erat hubungannya dengan biaya yang dikeluarkan dan produksi yang diterima, semakin luas lahan dan biaya produksi yang dikeluarkan biasanya tidak seimbang dengan produksi yang diperoleh.
Tabel 10. Luas Lahan Petani Responden di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar 2021.
Sumber: Data Primer Setelah diolah,2021.
No. Luas Lahan (Ha) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 0,69 – 0,99 2 20
2 1,00 – 2,00 7 70
3 2.01 – 3,75 1 10
Jumlah 10 100
39 Tabel di atas menunjukan luas lahan yang paling luas digunakan berada pada luas lahan antara 0,69-0,99 ha dengan persentase 20% sebanyak 2 orang, 1,00-2,00 ha sebanyak 7 orang dengan persentase 70%, dan 2,01-3,75 ha sebanyak 1 orang dengan persentase 10%.
5.2 Biaya Produksi Sistem PC (Plant Cane) dan Sistem Rawat Ratoon Biaya adalah setiap kegiatan yang dilakukan pada suatu usaha memerlukan pengorbanan fisik dan non fisik, baik langsung maupun tidak langsung. Biaya produksi dalam usahatani dapat berupa uang tunai, upah tenaga kerja, biaya pupuk, biaya bibit, biaya obat-obatan, dan sebagainya. Biaya dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu, biaya Tetap yaitu biaya yang harus dikeluarkan oleh para petani yang penggunaannya tidak habis dalam masa satu kali produksi.
Tabel 11. Rata-rata Penggunaan Biaya Tetap (Penyusutan Alat) di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2021.
Tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata penyusutan harga parang yang digunakan oleh petani dalam 1 tahun atau dalam satu musim tanaman tebu yaitu Rp 73.526,12 untuk alat parang rata-rata yaitu 4.360,01 untuk alat cangkul rata- rata yaitu Rp 7.431,07, dan rata-rata jumlah sprayer sendiri yaitu Rp 61.735,12.
Kemudian biaya tidak tetap atau variabel adalah biaya yang besarnya tergantung pada jumlah barang yang dkeluarkan seperti bibit, pupuk, obat-obatan maupun upah tenaga kerja seperti yang terlihat pada tabel 14.
No. Jenis Alat Nilai Penyusutan Alat (Rp)
1 Parang 4.360,01
2 Cangkul 7.431,07
Sprayer 61.735,04
Jumlah 73.526,12
40 Tabel 12. Rata-rata Penggunaan Biaya Variabel di Kelurahan Parangluara
Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar, 2021.
No. Sarana Produksi Satuan Jumlah Nilai (Rp) 1.
2.
3.
4.
5 6.
7.
Bibit PC (Sistem Plant Cane) Pupuk Urea
Pupuk NPK Pupuk ZA
Obat-obatan (Herbisida)
Tenaga Kerja ( Sistem Plant Cane) 1. Pengolahan Lahan
2. Penanaman 3. Pemupukan 4. Penyemprotan 5. Tebang Angkut
Tenaga Kerja (Sistem Rawat Ratoon)
1. Pemupukan 2. Penyemprotan 3. Tebang Angkut
Rp Sak Sak Sak Ltr Rp Hok Hok
Rp Rp
Hok Rp
8,608 7,734 7,734 5,716 4,573
- 15,87 15,87 1,076 60,19
15,87 1,076 60,19
8.607.935,44 934.095,49 1.005.379,96 725.622,06 457.296,57
2.024.209,82 952.252,86 952.252,86 86.079,35 3.009.414,93
952.252,86 86.079,35 3.009.414,93
Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2021.
Tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata biaya variabel yang dikeluarkan petani tebu rakyat di Kelurahan Parangluara Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar dengan luas lahan yang bervariasi mulai dari 0,69 ha sampai dengan 3,75 ha. Biaya rata-rata/ha penggunaan bibit untuk sistem PC (Plant Cane) yaitu sebesar Rp 8.607.935,44/ha, untuk pupuk sendiri dengan menggunakan sistem PC dan rawat ratoon sama yaitu pupuk sebesar Rp 2.665.097,51/ha dan biaya rata-rata penggunaan obat-obatan atau herbisida yang digunakan yaitu sebesar Rp 457.296,57/ha.
Untuk jumlah tenaga kerja yang digunakan petani dengan menggunakan sistem PC (Plant Cane) sendiri yaitu pada saat proses pengolahan lahan rata-rata