Analisis Kesyariahan Akad Murabahah Direct (Studi Pada Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang)
JURNAL ILMIAH
Disusun oleh :
Annisa Nurdiani 165020501111019
JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2020
LEMBAR PENGESAHAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL
Artikel Jurnal dengan judul :
Analisis Kesyariahan Akad Murabahah Direct (Studi Pada Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang)
Yang disusun oleh :
Nama : Annisa Nurdiani
NIM : 165020501111019
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Jurusan : S1 Ilmu Ekonomi
Bahwa artikel Jurnal tersebut dibuat sebagai persyaratan ujian skripsi yang dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 25 Juni 2020
Malang, 25 Juni 2020 Dosen Pembimbing,
Dr. Dra. Asfi Manzilati, ME.
NIP. 196809111991032003
Analisis Kesyariahan Akad Murabahah Direct (Studi Pada Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang)
Annisa Nurdiani
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya Email: [email protected]
ABSTRAK
Perbankan Srariah memiliki suatu sistem yang tidak hanya menguntungkan bank akan tetapi juga menguntungkan nasabah yakni sistem kemitraan dengan berprinsip pada profit and loss sharing pada setiap pembiayaannya. Sistem ini biasanya digunakan dalam akad mudharabah dan musyarakah. Namun praktek nya sistem profit and loss sharing ini dianggap memiliki tingkat resiko yang tinggi dan tidak pasti untuk pihak bank, sehingga pihak bank mencari alternatif pembiayaan yang lain yang memiliki tingkat resiko yang lebih rendah yakni dengan memakai akad murabahah.
Namun dalam praktek akad murabahah ini disinyarlir terdapat ketidaksesuaian antara penerapan murabahah di perbankan syariah dengan ketentuan syariah yang ada.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, yang bertujuan untuk mengetahui kesyariahan akad murabahah direct di Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan content analysis untuk memperoleh pemahaman terhadap pesan yang dipersentasikan.
Dalam penelitian ini content analysis digunakan untuk mengetahui dan menganalisis kesyariahan penerapan murabahah pada Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang.
Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Murabahah Direct lebih identik dengan Istishna karena dengan sistem pemesanan dari pada bentuk murabahah biasa selain itu dari sisi mekanisme, akad, jaminan dan denda Murabahah Direct sudah terpenuhi sharia compliance antara lain objek murabahah sudah dimiliki oleh bank, rukun dan syarat akad terpenuhi, jaminan yang bersifat wajib dan tidak adanya denda.
Kata kunci: Kesyariahan, Murabahah, Murabahah Direct.
A. PENDAHULUAN
Sistem perbankan di negara Indonesia menganut sistem perbankan ganda atau dual banking system yakni terselenggaranya secara berdampingan dua system perbankan (bank konvensional dan bank syariah). Perbedaan mendasar dari bank konvensional dan bank syariah ini adalah terletak pada prinsipnya. Dalam perbankan syariah terdapat sistem yang tidak hanya menguntungkan bank akan tetapi juga menguntungkan nasabah, yakni transaksi berbasis profit and lost sharing atau sistem bagi hasil, yang kemudian terderivasi menjadi sistem revenue sharing. Pada sistem ini menegaskan pada setiap transaksi selalu terdapat kemungkinan untung dan rugi.
Secara otomatis praktik perbankan syariah harus dilaksanakan dengan menggunakan sistem profit and loss sharing. Namun, dalam praktiknya bank syariah sejak awal sulit beroperasi berdasarkan profit and loss sharing karena penuh risiko dan tidak pasti. Menurut Abdullah Seed (2004) Perbankan syariah yang ada saat ini bukanlah bank yang murni beroperasi dengan sistem PLS, tetapi bank menggunakan secara ekstensif metode-metode pembiayaan non-PLS, seperti pembiayaan yang berbasis jual beli atau perdagangan mark-up, atau dikenal dengan istilah murabahah. Murabahah merupakan produk pembiayaan dengan penggunaan tertinggi oleh perbankan syariah dalam kegiatan usaha.
Tabel 1 Pembiayaan berdasarkan jenis akad – Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah dalam Miliar Rupiah
AKAD 2016 2017 2018 Juli 2019
MUDHARABAH 15,263 15,984 14,940 13,364
MUSYARAKAH 71,710 95,097 121,914 133,431 MURABAHAH 133,956 145,301 151,580 155,185
SALAM - - - -
ISTISHNA 878 1,189 1,609 1,842
IJARAH 8,105 8,535 9,288 9,467
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan, 2019 (diolah)
Berdasarkan data statistik perbankan syariah yang dipublikasikan oleh Otoritas Jasa Keuangan dapat dilihat transaksi menggunakan murabahah di bank umum syariah dan unit usaha syariah mendominasi dibandingkan dengan produk pembiayaan lainnya. Ini membuktikan bahwa murabahah paling banyak dipraktekkan oleh perbankan syariah padahal instrumen utama dalam bisnis Islam itu adalah sistem profit and loss sharing atau PLS karena dengan sistem PLS diharapkan sektor riil berkembang sesuai dengan yang diharapkan bukan dengan murabahah yang berbasis jual beli.
Secara konsep, dalam akad murabahah, bank syariah akan membelikan barang yang dimintakan oleh nasabah kemudian bank menjualnya kembali kepada nasabah dengan tambahan keuntungan atau margin bank. Akan tetapi dalam kenyataannya, bank hanyalah lembaga intermediary yang tidak mempunyai barang-barang sesuai dengan permintaan nasabah sehingga untuk memenuhi permintaan tersebut, bank harus membelinya terlebih dahulu kepada suplier.
Bahkan yang umum berlangsung di perbankan syariah adalah nasabah sudah memiliki koneksi atau berlangganan dengan toko tertentu yang memiliki harga lebih murah, sehingga bank memberikan fasilitas tersebut dengan melakukan perjanjian wakalah (perwakilan) yang pada akhirnya nasabah hanya menyerahkan kuitansi pembelian barang sebagai bukti bahwa murabahah yang telah ditandatangani bisa berjalan sesuai dengan prosedurnya (Afrida, 2016).
Berdasarkan penelitian Aulia Hanum (2015) dalam hasil penelitiannya menemukan ketidaksesuaian antara pelaksanaan murabahah dengan prinsip syariah yang mengaturnya. Pada pelaksanaanya melanggar beberapa prinsip murabahah seperti dari jaminan dan mekanismenya pada keempat bank yang diteliti dan dari akad terdapat dua bank yang masih tidak sesuai dengan prinsip syariah murabahah dan juga pada penelitian ini menyatakan bahwa murabahah KPP (Hybrid contract murabahah wal wakalah) bisa dikatakan tidak sah karena tidak memenuhi syarat dari jual beli murabahah.
Berdasarkan permasalahan yang dijelaskan sebelumnya, dalam akad murabahah masih terdapat perbedaan antara ketentuan dan praktik dalam kata lain terdapat ketidaksesuaian antara ketentuan- ketentuan syariah atau kesyariahan yang mengatur akad murabahah dengan kenyataan dilapangan.
Maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Analisis Kesyariahan Akad Murabahah Direct (Studi Pada Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang).
B. TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Dasar Murabahah
Kata al-Murabahah diambil dari bahasa Arab dari kata ar-ribhu yang berarti kelebihan dan tambahan (keuntungan). Menurut Adiwarman Karim (2004) secara sederhana, murabahah berarti suatu penjualan barang seharga barang tersebut ditambah keuntungan yang disepakati. Misalnya, seseorang membeli barang kemudian menjualnya kembali dengan keuntungan tertentu. Berapa besar keuntungan tersebut dapat dinyatakan dalam nominal rupiah tertentu atau dalam bentuk persentase dari harga pembeliannya. Pada definisi murabahah terdapat ada nya keutungan yang disepakati, sehingga karakteristik dari akad murabahah yaitu penjual wajib memberi tahu pembeli harga pokok barang di tambah keuntungan yang akan ditambahkan pada harga barang tersebut (Wiroso, 2005). Terdapat dua jenis murabahah yakni dengan pemesanan yakni bank akan
membeli barang setelah ada pemesanan terlebih dahulu dari nasabah dan tanpa pemesanan. Berikut ini adalah skema akad murabahah.
Gambar 1 Skema Al-Murabahah
Bank Syariah Nasabah
Supplier
1. Negoisasi & Persyaratan
6. Bayar 2. Akad Jual
Beli
4. Kirim 3. Beli Barang
5.Terima Barang umen
Sumber: Lathif (2012)
Landasan hukum murabahah dalam Al-Qur’an yang termuat dalam fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 04/DSN-MUI/IV/2000 antara lain Qs. An-Nisa’: 29, Qs. Al Baqarah: 275, Qs. Al- Maidah: 1 dan 4) Qs. Al-Baqarah : 280. Sedangkan dalam hadist terdapat pada:
1) Hadis diriwayatkan ibn Majah dari Abu Sa’id al Khudri, Rasulullah SAW bersabda
“Sesungguhnya jual beli itu atas dasar suka sama suka”
2) Hadist Nabi riwayat Ibnu Majah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.”
3) Hadist Nabi riwayat Nisa’i, Abu dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad bersabda, “menunda- nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya”.
4) Hadist Nabi riwayat Abd Al-Raziq dari Zaid bin Aslam, Rasulullah Saw ditanya tentang Urbun (uang muka) dalam jual beli, maka beliau menghalalkannya.
Fatwa merupakan merupakan penjelasan tentang hukum Islam yang diberikan oleh seorang faqih atau lembaga fatwa umat, yang muncul baik karena adanya pertanyaan maupun tidak. Di Indonesia, fatwa dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia. Fatwa Dewan Syariah Nasional No :04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah menyebutkan berbagai ketentuan yang mengatur pelaksanaan pembiayaan dengan akad murabahah.
Rukun murabahah pada hakikatnya sama dengan lima rukun jual beli, yaitu penjual (ba’i), Pembeli (musytari), Objek jual beli (mabi’), Harga (tsaman), Sighat (lafal ijab dan qobul).
Kemudian syarat merupakan rangkaian mutlak yang bagiannya berada diluar sesuatu, tetapi tidak sah sesuatu itu jika ditinggalkan. Menurut Syafii Antonio (2001) syarat-syarat murabahah yang harus dipenuhi yakni Penjual memberitahu biaya barang kepada nasabah, kontrak yang pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan, kontrak harus bebas dari riba, penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian, dan penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya pembelian dilakukan utang.
Murabahah Bil wakalah
Murabahah bil wakalah merupakan akad jual beli menggunakan sistem wakalah. Dalam transaksi jual beli ini, pembeli mewakilkan penjual untuk membeli barang pesanannya. Dengan demikian akad pertama yang terjadi adalah wakalah, setelah akad pertama ini selesai, yang ditandai dengan penyerahan barang pesanan kepada lembaga keuangan syariah, maka baru dilakukan akad baru yaitu murabahah.
Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 04/DSN-MUI/IV/2000 pasal 1 ayat 9, “Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip telah menjadi milik bank”. Berdasarkan ketentuan tersebut maka akad murabahah baru dapat dilaksanakan jika akad wakalah telah selesai, yang ditandai dengan barang sudah menjadi sah menjadi milik lembaga keuangan syariah. Berikut ini skema akad murabahah bil wakalah.
Gambar 2 Skema Akad Murabahah Bil wakalah
Sumber: Zaky (2014)
Pada dasarnya rukun murabahah bil wakalah sama dengan murabahah, hanya saja terdapat perbedaan yakni adanya wakil dalam pembelian barang. Rukun-rukun murabahah bil wakalah
Supplier Nasabah Bank
3. Beli 1.Pesan Barang
5. Akad murabahah dan barang jadi milik pembeli
4. Kirim barang atas nama bank 2. Wakalah
yakni Penjual (ba’i), Pembeli (musytari), Barang yang dibeli, Harga (tsaman), Muwakil atau pemberi kuasa, Objek akad, Sighat (lafal ijab dan qobul). Sedangkan syarat murabahah bil wakalah yakni barang yang diperjual belikan harus halal, penjual memberi tahu mengenai modal yang akan diberikan kepada nasabah, kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan, kontrak bebas dari riba, penjual harus menyampaikan semua hal yang berhubungan dengan pembelian barang, objek yang akan dibelikan harus jelas dan diwakilkan kepada nasabah yang mengajukan pembiayaan dengan akad murabahah bil wakalah, dan tidak bertentangan dengan syariat islam.
Murabahah Direct
Murabahah direct berasal dari dua kata yakni murabahah yang berdasarkan Fatwa DSN No.
04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah yaitu menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membelinya dengan harga lebih sebagai laba. Dalam fatwa tersebut juga dijelaskan bahwa bank membelikan barang yang dibutuhkan nasabah atas nama bank sendiri dan pembelian ini harus sah dan bebas riba, berdasarkan ketentuan tersebut maka skema yang ideal adalah pembeli memesan barang kepada bank kemudian bank membeli barang tersebut kepada supplier, dari skema tersebut dapat dilihat bahwa tidak adanya kontak langsung antara nasabah dengan supplier, tetapi bagi bank dengan supplier tentu terdapat kontak langsung, hal ini berhubungan dengan kata direct dalam murabahah direct, kata direct memiliki arti “langsung”
kata ini memiliki makna yakni adanya hubungan langsung yang berkaitan dengan jual beli antara bank dengan supplier.
C. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Data kualitatif merupakan sumber dari deskripsi yang luas dan berlandaskan kokoh, serta memuat penjelasan tentang proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat (Miles dan Huberman, 1992). Penelitian memilih menggunakan metode kualitatif, untuk memahami lebih mendalam mengenai kesyariahan akad murabahah direct pada Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang.
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah diungkapkan sebelumnya, untuk mengetahui kesyariahan akad murabahah direct di Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang, maka dalam penelitian ini menggunakan pendekatan content analysis. Analisis isi (content analysis) digunakan untuk membaca data untuk lebih memahami data bukan sebagai serangkaian peristiwa fisik, tetapi sebagai gejala simbolik untuk mengungkap makna yang terkadang dalam sebuah teks, dan memperoleh pemahaman terhadap pesan yang dipresentasikan. Pendekatan content analisis digunakan untuk mengetahui dan menganalisis kesyariahan praktik pembiayaan dengan akad murabahah direct pada Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang.
Penelitian ini menggunakan unit analisis yang terfokus pada persoalan penelitian yakni mengenai analisis akad murabahah direct dilihat dari sudut pandang kesyariahan akad tersebut.
Berdasarkan unit analisis yang tersebut, maka pihak-pihak yang akan dijadikan informan dalam penelitian ini ialah kepala cabang, head sales, legal officer, manager operational, nasabah dan pakar ekonomi islam. Penelitian ini menggunakan satu sumber data yakni sumber data primer. Sumber data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari lokasi penelitian, data primer didapatkan melalui tahap wawancara mendalam kepada informan yang relavan.
Teknik pengumulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, yakni dengan proses reduksi data yaitu proses pemilihan, penyederhanaan, dan transformasi data mentah yang ada pada cacatan tertulis lapangan. Kemudian penyajian data dalam konteks ini adalah kumpulan informasi yang sudah disusun sehingga memperbolehkan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan kemudian tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan.
Data-data yang telah didapatkan dalam penelitian tentunya memerlukan pengujian agar data yang didapat tersebut reliable (handal), kredibel dan teruji validitasnya. Hal ini diperlukan karena data yang tidak reliable dan kredible akan menyebabkan hasil yang diperoleh menjadi bias. Dalam penelitian ini data diuji kredibilitasnya dengan menggunakan teknik triangulasi. Dari beberapa macam triangulasi yang ada, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber yaitu untuk menguji data kredibilitasan data diterapkan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber dan triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data dengan sumber yang sama tetapi teknik yang berbeda. Misalnya pada pengecekan data bisa menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi.
D.HASIL DAN PEMBAHASAN
Mekanisme Murabahah Direct; Identik dengan Istishna
Sehubungan dengan bank selaku penjual dan nasabah selaku pembeli, maka Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang akan mengadakan barang yang dihendaki oleh nasabah melalui pembelian barang dari supplier, setelah itu bank akan menjual kepada nasabah dengan harga pokok ditambah dengan keuntungan. Pembayaran dapat dilakukan dengan pembayaran secara angsuran dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati. Dibawah ini adalah skema Murabahah Direct.
Gambar 3 Skema Murabahah Direct
Sumber: Dokumen Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang
Mekanisme pertama pada Murabahah Direct adalah nasabah mengajukan pembiayaan kepada bank disertai dengan membawa kelengkapan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk mengajukan pembiayaan, setelah itu pihak bank akan melakukan analisa yuridis, analisa keuangan, analisa jaminan, wawancara, dan survei ke tempat usaha nasabah. Setelah proses analisis tersebut selesai terdapat dua hasil, yakni rekomendasi dan tidak rekomendasi, jika nasabah dinyatakan mendapat rekomendasi, maka langkah selanjutnya adalah pemberian Surat Pernyataan Prinsip (SP3).
Setelah nasabah menandatangi SP3, nasabah akan membuka rekening di Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang, kemudian bank dan nasabah akan melakukan pengikatan pembiayaan Line Facility (Wa’d) dan jaminan secara notariil. Setelah itu nasabah akan mengajukan untuk setting fasilitas pembiayaan dengan membuat Surat Janji Beli dan Surat Pemesanan Barang, nasabah juga akan merekomendasikan kepada bank mengenai supplier untuk barang yang akan di pesan oleh nasabah. Setelah itu bank akan melalukan konfirmasi kepada pihak supplier mengenai spesifikasi secara kuantitas dan kualitas pesanan nasabah dan jika tahap konfirmasi kepada supplier sudah selesai bank akan melakukan transaksi jual beli barang dari supplier.
Kemudian setelah barang menjadi milik bank dan jika barang sudah sampai pada drop point, bank dan nasabah akan melakukan akad murabahah, setelah pelaksanaan akad murabahah nasabah menandatangani Surat Tanda Terima Barang atau STTB. STTB adalah adalah surat bukti penerimaan objek akad yang ditandatangani oleh nasabah, yang menandakan barang tersebut sudah dibeli oleh nasabah dan menjadi milik nasabah. Tahap terakhir adalah nasabah melakukan pembayaran kepada pihak bank.
Penyediaan Barang dengan Sistem Pemesanan
Pada Murabahah Direct bank selaku penjual belum memiliki barang yang hendak dibeli oleh nasabah oleh karena itu dalam Murabahah Direct diperlukan adanya pemesanan barang terlebih dahulu oleh nasabah. Pada dasarnya terkait penyediaan barang memang bank tidak memiliki stok barang karena bank bukanlah perusahaan dagang. Dalam mendapatkan barang yang dihendaki nasabah dan sebagai antisipasi kesalahan pengadaan barang maka Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang akan meminta Surat Pemesanan Barang kepada nasabah.
7. Pengiriman Barang
5. Penyerahan Barang dengan Berita Acara Serah Terima (BATS)
2. PO / SC 3. Akseptasi PO
4. Pembayaran (Partial/Full)
SUPPLIER 1. Line Facility (LF) Murabahah + Sales Contract (SC) / Purchase Order (PO) +
Surat Janji Beli
6. Akad Murabahah + Surat Tanda Terima Barang
NASABAH BANK
Berdasarkan penjelasan diatas, Murabahah Direct jika dilihat dari sudut pandang pengadaan barang cenderung lebih identik dengan Istishna dibanding murabahah itu sendiri, jika kita telusuri pengertian murabahah dalam buku Fiqih Islam wa Adillatuhu, karya Wahbah az-Zuhaili menjelaskan murabahah menurut Ulama Malikiyah yakni “Pemilik barang menyebutkan berapa dia membeli barang dagangan, setelah itu dia meminta keuntungan tertentu, baik secara global atau dengan terperinci”. Dari pengertian tersebut mengindikasikan dalam pengadaan barang yang akan dijual harus sudah dimiliki oleh penjual tanpa harus pembeli memesan barang terlebih dahulu.
Murabahah Direct lebih identik dari sudut pandang pengadaan barang dengan Istishna karena Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang akan melakukan transaksi Murabahah Direct apabila ada nasabah yang memesan barang sehingga penyediaan barang baru dilakukan jika ada pesanan. Hal ini sejalan dengan konsep Istishna menurut Hanafiyah sebagaimana yang dikutip oleh Wahbah Zuhaili merupakan akad jual beli atas barang pesanan, bukan terhadap pekerjaan pembuatan. Akad ini bukan akad janji atau akad ijarah atas pekerjaan. Jadi ketika pekerja menyerahkan barang yang tidak dibuat olehnya atau barang yang ia buat tersebut telah ia buat sebelum terjadinya akad tetapi sesuai dengan bentuk pesanan yang diminta maka akad tersebut adalah dibenarkan.
Kemudian salah satu syarat keabsahan akad Istishna menurut para ulama Hanafiyah adalah menjelaskan jenis, tipe, kadar dan bentuk barang yang dipesan, karena barang yang dipesan merupakan barang dagangan sehingga harus diketahui informasi mengenai barang itu secara baik.
Informasi barang dapat terpenuhi dengan mengetahui beberapa hal tersebut, jika salah satu informasi berkaitan dengan barang pesanan ini tidak ada, maka akad itu menjadi rusak, karena ketidakjelasan yang mengakibatkan pertikaian merusak akad. Syarat ini sama dengan Surat Pemesanan Barang dimana nasabah harus menjelaskan secara detail informasi mengenai barang yang akan dipesan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pakar ekonomi islam jika Murabahah Direct menggunakan sistem pemesanan maka tidak menjadi masalah, sebab murabahah merupakan akad yang paling longgar dalam perbankan syariah, pemesanan itu merupakan proses dari administrasi perbankan, yang terpenting adalah adanya keuntungan yang disampaikan dan juga di sepakati oleh kedua belah pihak.
Sebagai salah satu produk bank syari’ah, Murabahah Direct tidak dapat dilepaskan dari posisi Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang sebagai lembaga keuangan dan bukan lembaga dagang, dalam hal ini maka Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang tidak memiliki persediaan barang. Hal ini mengakibatkan konsekuensi yang logis, yakni bank hanya akan membelikan suatu barang jika terjadi permintaan oleh nasabah dengan cara bekerja sama dengan supplier barang yang dihendaki nasabah.
Pembayaran secara Angsuran
Sebagai lembaga keuangan, Murabahah Direct yang dilakukan oleh Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang tidak terlepas dari fungsi pembiayaan karena mayoritas nasabah yang menggunakan jasa bank syariah memiliki tujuan agar dapat memperoleh barang yang diinginkannya dengan cara mengangsur. Murabahah Direct merupakan jual beli tangguh, yaitu jual beli dengan barang diterima pada saat akad dan pembayaran dilakukan kemudian hari sesuai kesepakatan. Dalam jual beli tangguh, jika kesepakatan sudah terjadi, penjual akan menyerahkan barang kepada pembeli untuk kemudian pembeli membayar barang tersebut dalam jangka waktu yang telah disepakati.
Dari sudut pandang cara pembayaran, Murabahah juga identik dengan Istishna, dimana menurut Muhammad Syafi’i Antonio (2001) pada Istishna pembayaran dapat dilakukan melalui cicilan, atau ditangguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan datang. Di antara dalil yang memperbolehkan jual beli tangguh adalah hadits riwayat Aisyah r.a. yang menjabarkan bahwa Rasulullah saw. membeli makanan dari seorang yahudi secara tangguh dengan menggadaikan baju besinya.
Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah pada poin 7 disebutkan “Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati.” Hal tersebut mengindikasikan diperbolehkan menyelesaikan pembiayaan secara angsuran.
Referensi Supplier dari Nasabah sebatas Informasi
Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang akan meminta nasabah yang hendak melakukan setting fasilitas untuk memberikan referensi supplier dan juga Sales Contract (SC) / Purchase Order (PO) atau yang selanjutnya lebih dikenal dengan Offering Letter. Referensi supplier bertujuan untuk mempermudah bank dalam hal pengadaan barang pesanan nasabah.
Secara konsep referensi supplier dari nasabah merupakan hal yang tidak mengikat untuk bank, maksudnya adalah referensi supplier hanya berupa informasi bagi bank dari nasabah bukan berupa keputusan mutlak, bank bisa saja mencari supplier secara mandiri, lain hal nya dengan Murabahah Bil wakalah dimana bank memberikan kuasa kepada nasabah untuk melangsungkan jual beli terhadap barang yang dibutuhkan nasabah dengan melakukan perjanjian wakalah (perwakilan), yang pada akhirnya nasabah hanya menyerahkan kuitansi pembelian barang sebagai bukti bahwa murabahah yang ditandatangani akadnya bisa berjalan sesuai dengan prosedur.
Sehingga dalam Murabahah Bil wakalah keputusan pemilihan supplier berada di tangan nasabah karena bank mewakilkan secara penuh terkait pengadaan barang kepada nasabah. Tetapi dalam Murabahah Direct Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang akan langsung menggunakan supplier yang di refensikan oleh nasabah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pakar ekonomi islam dalam murabahah memang seharusnya spesifikasi barang harus jelas, maka diperbolehkan dalam Murabahah Direct dimana Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang mewajibkan nasabah untuk memberikan referensi supplier dan adanya Offering Letter dari nasabah.
Penjual adalah Sepenuhnya Bank tanpa Wakalah
Murabahah Direct tidak menggunakan akad wakalah, sehingga tahapan setelah nasabah memesan barang kepada Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang adalah Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang akan mengkonfirmasi barang pesanan nasabah kepada supplier berdasarkan Surat Pemesanan setelah itu bank akan melakukan transaksi pembelian kepada supplier.
Hal ini sejalan dengan konsep dasar murabahah dimana penjual memiliki barang yang akan dijual secara penuh dan fatwa Dewan Syariah Nasional No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah pada poin 4 disebutkan “Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.”
Adanya pembelian barang yang dilakukan Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang merupakan tahapan yang krusial mengingat ketentuan syariah yang termuat dalam hadist riwayat Abu Daud yang artinya “Janganlah kau menjual barang yang belum kau miliki”, sehingga agar sesuai dengan ketentuan syariah Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang harus memiliki objek murabahah terlebih dahulu agar kepemilikan objek menjadi sepenuhnya milik Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang, dibawah ini adalah alur pembelian barang yang dilakukan oleh Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang.
Gambar 4 Alur Pembelian Barang
Sumber: Dokumen Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang
Dalam melakukan pembelian barang yang dilakukan oleh bank, nasabah akan menyerahkan Reserve Order (Surat Pemesanan Barang) dan Surat Janji beli, berdasarkan Reserve Order tersebut bank akan menerbitkan Purchase Order (Surat Pembelian Barang) kepada supplier. Setelah supplier menerima Surat Pembelian Barang, supplier akan menerbitkan Invoice kepada Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang untuk selanjutnya dibayar oleh pihak bank setelah pembayaran selesai bank akan mengirimkan barang sesuai dengan instruksi Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang.
Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang akan melakukan pembelian barang ke supplier diawali dengan penerbitan Purchase Order (PO) yang dikirimkan kepada supplier, setelah itu supplier akan mengirimkan invoice kepada Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang. Setelah supplier
Nasabah
RO & Janji Beli
Barang Murabahah
Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang
RO & Janji PO
Invoice
Bayar
Terima Murabahah
Supplier
PO
Invoice
Terima
Barang
mengirimkan invoice Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang akan melakukan pembayaran.
Sehingga pada Murabahah Direct Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang akan memiliki secara penuh barang pesanan dari nasabah sehingga selaku penjual Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang telah memiliki barang yang akan dibeli nasabah.
Status kepemilikan barang menjadi milik Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang juga diperkuat dengan Surat Tanda Terima Barang (STTB) dari supplier kepada Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang, yang menyatakan bahwa barang tersebut telah beralih kepemilikan menjadi milik Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pakar ekonomi islam jika skema seperti ini yang terjadi maka eksistensi dari murabahah itu sendiri lebih terlihat karena Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang selaku penjual akan menyelesaikan terlebih dahulu transaksi jual beli barang pesanan nasabah dengan supplier tanpa ada pihak ketiga yang terlibat didalamnya.
Pelaksanaan Akad Murabahah Direct Terpenuhi Rukun dan Syaratnya
Pelaksanaan Akad Murabahah akan dilakukan oleh nasabah dan Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang ketika objek murabahah atau barang pesanan dari nasabah sudah sepenuh nya menjadi milik Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang dan sudah berada di gudang nasabah atau drop point yang di tentukan bank. Selain itu sebelum melakukan akad murabahah baik bank dan nasabah akan melakukan pengecekan terhadap objek murabahah.
Ketika akad Legal Officer Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang membacakan seluruh isi dari Akad Murabah yaitu mulai dari pasal 1 sampai pasal 5. Rukun di praktek akad murabahah dalam pelaksanaan pembiayaan Murabahah Direct di Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Penjual
Pihak Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang bertindak sebagai penjual dalam pembiayaan murabahah.
2. Pembeli
Pihak pembeli yaitu nasabah disyaratkan tamzis, maka nasabah yang bisa mengajukan pembiayaan hanyalah nasabah yang sudah bisa dijatuhi hukuman. Dalam pelaksanaan pada pembiayaan Murabahah Direct telah disyaratkan bahwa nasabah haruslah sudah memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk) yang berarti harus sudah berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah. Sehingga dari persyaratan tersebut sudah membuktikan bahwa nasabah sudah memenuhi persyaratan baik secara hukum positif maupun secara fiqh. Jadi dapat disimpulkan bahwa pihak pembeli (mustary) sudah memenuhi rukun murabahah untuk melakukan akad.
3. Objek akad (mabi’)
Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang sebagai penjual menunjukan barang sebagai objek jual beli murabahah, sebelum melakukan akad objek akad atau barang pesanan nasabah terlebih dahulu harus sudah tiba di gudang nasabah atau drop point yang selanjutnya barang tersebut akan di cek oleh nasabah untuk melihat kondisi dan kesesuaian pesanan. Jadi dapat disimpulkan bahwa Objek akad (mabi’) sudah memenuhi rukun murabahah untuk melakukan akad.
4. Harga (tsaman)
Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang dalam penentuan harga jual adalah dengan menjumlahkan harga beli barang dan margin yang hasilnya adalah harga jual. Segala hal yang berkaitan dengan harga akan disampaikan oleh Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang.
5. Shighat (ijab dan qobul)
Dalam pembiayaan Murabahah Direct yang terjadi di Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang ijab qabul dilakukan dengan penandatanganan lembar Akad Murabahah yang ditandatangani oleh kedua belah pihak yang mana di dalam akad termuat para pihak, objek akad dan fasilitas murabahah, syarat realisasi, pemberian jaminan dan ketentuan penutup.
Sedangkan syarat akad murabahah dalam pelaksanaan pembiayaan murabahah pada Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah.
Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang sebagai penjual akan menginformasikan harga beli barang objek murabahah dan juga harga beli barang termuat dalam lembar Akad Murabahah.
2. Kontrak pertama harus sesuai dengan rukun yang diterapkan.
Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang yang bertindak sebagai penjual barang kepada nasabah menunjukan barang sebagai objek jual beli murabahah, objek murabahah tersebut sepenuhnya milik Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang selaku penjual karena bank telah membelikan objek murabahah tersebut dari supplier.
3. Kontrak harus bebas dari riba.
Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang dalam menetapkan harga jual dihitung dari besarnya pokok harga beli barang yang termasuk biaya perolehan ditambah dengan margin.
4. Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian.
Sebelum akad murabahah dilaksanakan nasabah dan Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang akan mengecek barang terlebih dahulu jadi kedua belah pihak dapat mengetahui kondisi barang.
5. Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian dilakukan secara utang. Jadi, disini terlihat adanya unsur keterbukaan.
Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang menjelaskan secara terperinci biaya-biaya apa saja yang dikeluarkan oleh Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang, selain itu nasabah juga sudah memiliki informasi yang sempurna terhadap harga barang dikarenakan pada awal pembiayaan nasabah sudah menghubungi supplier. Selain itu di dalam akad murabahah Bank Umum Syariah xxx di Kota Malang juga mencantumkan perincian harga.
Jaminan Bersifat Wajib
Jaminan secara sederhana diartikan sebagai tanggungan terhadap pinjaman yang diterima (Wangsawidjaja, 2012). Menurut Faturrahman (2010) Terdapat dua fungsi dari jaminan pada pembiayaan memiliki yaitu, pertama untuk pembayaran hutang seandainya terjadi wanprestasi terhadap pihak ketiga yakni dengan cara menguangkan atau menjual jaminan tersebut. Kedua, sebagai akibat fungsi pertama atau sebagai parameter penentu jumlah pembiayaan yang akan diberikan kepada pihak debitur. Pemberian jumlah pembiayaan tidak boleh lebih dari nilai harta yang dijaminkan.
Jaminan dalam pembiayaan Murabahah Direct dapat dilihat dari segi pemenuhan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi semua pihak yang terlibat, sehingga pihak nasabah yang mempercayakan dananya ke bank dan pihak bank sebagai pengelola usaha tidak mendapatkan kerugian, walaupun secara konsep di Bank Syariah tidak boleh ada jaminan sebagaimana yang ada dalam fatwa DSN MUI diputuskan bahwa pada prinsipnya tidak ada jaminan di Bank Syariah.
Jaminan juga tidak termasuk dalam syarat atau rukun murabahah, tetapi sebagai akibat dari pelaksanaan pembayaran murabahah dilakukan secara tangguh maka adanya jaminan menjadi sangat penting. Hal ini untuk menjaga agar nasabah tidak main-main dengan barang yang sudah dalam kesanggupan bank. Selain itu larangan adanya jaminan tersebut telah tercantum dalam ketentuan fiqh sebagai bentuk kepercayaan antara nasabah selaku mudharib dan bank selaku shohib al-mal tetapi melihat kondisi dan perilaku masyarakat sekarang yang cenderung menimbulkan moral hazard menyebabkan larangan itu tidak efektif lagi jika diberlakukan. Sehingga hukum asal dilarang berubah menjadi dibolehkan dengan sebab adanya perubahan kondisi sosial masyarakat sekarang.
Kondisi sosial masyarakat inilah yang menjadi sebab berubahnya ketentuan tentang jaminan dalam pembiayaan murabahah.
Berdasarkan kondisi sosial tersebut maka untuk saling percaya dibutuhkan suatu cara maka Dewan Syariah Nasional membolehkan adanya jaminan yang termuat di fatwa DSN Nomor 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah yang terdapat pada bagian ketiga yaitu Jaminan dalam murabahah dibolehkan, agar nasabah serius dalam pemesanannya dan Bank dapat meminta anggota untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang
Di antara dalil yang memperbolehkan jaminan adalah hadits riwayat Aisyah r.a. yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw. Membeli makanan dari seorang yahudi secara tangguh dengan menggadaikan baju besinya. Berdasarkan riwayat ini dapat diartikan bahwa pada jual beli tangguh penjual boleh meminta jaminan kepada pembeli sebagai bentuk keseriusan dan antisipasi resiko kerugian penjual jika pembeli tidak menepati kesepakatan.
Murabahah Direct Tidak Menerapkan Denda
Untuk menghindari hal-hal tidak diinginkan dalam pembayaran maka Dewan Syariah Nasional mengeluarkan fatwa No 17 tahun 2000 tentang sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran. Denda/sanksi yang dimaksud pada fatwa ini adalah sanksi yang diterpakan LKS untuk nasabah yang mampu membayar tetapi menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. Nasabah yang tidak/belum mampu membayar dikarenakan force majeur tidak boleh dikenakan sanksi. Esensinya dari fatwa ini adalah untuk menegakkan kedisiplinan nasabah agar membayar secara tertib atau tepat waktu.
Apabila nasabah cidera janji dan janjinya tersebut bukan karena nasabah tidak mau melunasi kewajibannya tetapi karena nasabah dalam keadaan tidak mampu melaksanakan kewajibannya maka prinsip syariah menentukan agar bank memberikan kelonggaran kepada nasabah. Menurut prinsip syariah, bank tidak dilarang bahkan diwajibkan untuk memberikan kelonggaran tersebut. Dengan demikian bank wajib melakukan penjadwalan kembali (rescheduling) terhadap waktu-waktu pelunasan kewajiban tersebut. Hal tersebut berdasarkan ketentuan surah Al-Baqarah ayat 280.
Dalam pelaksanaan Murabahah Direct tidak ada denda bagi nasabah yang terlambat membayar, karena prinsip memberikan kelonggaran terhadap nasabah yang kesulitan membayar seperti yang termuat dalam Surat Al-Baqarah ayat 280 dan juga denda menambah jumlah nilai hutang yang mana ini tidak sejalan dengan prinsip Syariah, tetapi jika bank melihat tanda-tanda nasabah mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajibannya pihak bank akan melakukan komunikasi dengan nasabah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pakar ekonomi islam dalam Murabahah Direct yang tidak menerapkan denda adalah sesuai dengan semangat dalam Al-Baqarah ayat 280 yakni memberikan kelonggaran terhadap nasabah yang kesulitan membayar.
E.PENUTUP Kesimpulan
Pada penelitian ini terdapat dua kesimpulan yang dapat diambil, yaitu :
1. Murabahah Direct lebih identik dengan Istishna dari pada bentuk murabahah biasa disebabkan karena adanya sistem pemesanan terlebih dahulu oleh nasabah.
2. Dari sisi mekanisme, akad, jaminan dan denda Murabahah Direct sudah terpenuhi sharia compliance nya atau sudah sesuai dengan ketentuan syariah antara lain objek murabahah sudah dimiliki oleh bank, rukun dan syarat akad terpenuhi, jaminan yang bersifat wajib dan tidak adanya denda.
Saran
Pada Penelitian kali ini terdapat saran yang dapat peneliti berikan, yaitu dalam mengeluarkan produk barangkali bank harus lebih teliti dalam peristilahan sehingga tidak terjadi kesalahpahaman mengenai istilah apakah suatu produk lebih identik dengan murabahah, istishna, atau salam.
DAFTAR PUSTAKA
Afrida, Yenti. 2016. Analisis Pembiayaan Murabahah Di Perbankan Syariah. JEBI (Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam). Volume 1 (No. 2).
Ahmad, Ifham. 2015. Ini Lho Bank Syariah! Memahami Bank Syariah dengan mudah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Antonio, Muhammad Syafi’i. 2001. Bank Syari’ah Dari Teori Ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press
Hanum, Aulia. 2015. Analisis Kesyariahan Akad Murabahah Bil wakalah (Studi Kasus Pada Bank Muamalat Indonesia, Bank BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan Bank CIMB Niaga Syariah, Cabang Malang). JIM FEB UB. Vol. 3 (No.2)
Karim, Adiwarman. 2004. Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan. Jakarta: Raja Grafindo Miles, Matthew dan Huberman.1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI Press.
MUI. 2000. Fatwa Dewan Syariah Nasional No:04/DSN-MUI/IV/2000. www.mui.or.id. Diakses tanggal 20 Desember 2019
Saeed, Abdullah. 2004. Menyoal Bank Syariah: Kritik atas Interpretasi Bunga Bank Kaum Neo- Revivalis. Jakarta: Paramadina.
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan kualitatif, kuantitatif dan R & D). Bandung:
Alfabeta
Wangsawidjaja, A. 2012. Pembiayaan Bank Syariah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wiroso. 2005. Jual Beli Murabahah. Yogyakarta: UII Pres