• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis kinerja keuangan pada perusahaan konveksi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "analisis kinerja keuangan pada perusahaan konveksi"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN KONVEKSI TREND INDUSTRIES PADA TAHUN 2020-2021

Aurora Christia Putri (232018077)

Universitas Kristen Satya Wacana, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Program Studi Akuntansi

PENDAHULUAN

Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan atau badan usaha yang menghasilkan produk dari bahan mentah atau setengah jadi menjadi bahan jadi dalam skala yang besar. Prosesnya meliputi tahap merancang produk, memilih material, dan yang terakhir tahap proses produk dibuat (Supriyanto, 2013). Dalam prosesnya, biasanya perusahaan manufaktur menggunakan mesin-mesin atau alat- alat yang memudahkan mereka dalam proses produksi. Salah satu contoh perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur adalah bisnis konveksi. Konveksi merupakan bisnis manufaktur yang memproduksi barang-barang sandang secara massal, misalnya baju, kaos, kemeja, hoodie/jaket, tas, bahkan masker kain yang saat ini sedang dibutuhkan banyak orang (Rosa & Abdilla, 2019). Seperti definisi dari perusahaan manufaktur, konveksi juga memproduksi barang dari barang mentah yaitu kain, menjadi bahan jadi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Penelitian ini berfokus pada perusahaan konveksi Trend Industries yang merupakan salah satu konveksi yang berada di Kecamatan Kartasura tepatnya di Jl.

A. Yani No.136, Dusun III, Ngabeyan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Konveksi ini sudah beroperasi dari tahun 2017, dan memproduksi barang sesuai dengan pesanan yang diinginkan konsumen, serta biasanya pemesanan dalam partai besar. Hal yang menjadi pembeda antara konveksi dengan penjahit adalah jumlah produk yang diproduksi, penjahit memproduksi produk lebih sedikit ketimbang konveksi, karena dalam proses

(2)

2

produksinya konveksi memproduksi dalam partai besar sesuai dengan pesanan yang diterima. Perbedaan yang lain yaitu, mesin yang dipakai pada konveksi lebih banyak dan bervariatif ketimbang penjahit, misalnya mesin jahit; mesin obras;

mesin potong; mesin sablon; dan yang lainnya. Dengan demikian, penting bagi perusahaan konveksi ini untuk memiliki informasi bagi berbagai pengambilan keputusan bisnis. Sebagai salah satu perusahaan manufaktur, konveksi ini berupaya untuk meningkatkan kinerja keuangan, salah satunya yaitu dengan melihat keuntungan yang didapatkan per periode.

Dalam pengambilan keputusan bisnis, penilaian terhadap prospek dan risiko, serta menilai kinerja keuangan, perusahaan perlu melakukan analisis keuangan. Laporan keuangan penting bagi perusahaan, karena pada laporan keuangan berisi posisi keuangan, arus kas serta kinerja perusahaan, dimana informasi ini dapat dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan (Maith, 2013). Menurut Oktariansyah, (2020) dalam melakukan analisis kinerja keuangan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa rasio keuangan, antara lain; rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, serta rasio profitabilitas. Ada tiga rasio yang paling dominan yang menjadi rujukan dalam analisis kinerja keuangan yaitu;

rasio Likuiditas, rasio Solvabilitas, serta rasio Profitabilitas. Rasio-rasio ini yang paling dominan karena dianggap sudah mewakili analisis awal dari kondisi perusahaan. Dengan demikian, ketiga rasio ini yang akan digunakan dalam penelitian ini.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka permasalahan penelitian ini adalah tantangan kinerja keuangan perusahaan dalam aspek likuiditas, solvabilitas dan profitabilitas. Oleh karenanya pertanyaan penelitian adalah bagaimana kinerja keuangan perusahaan konveksi Trend Industries pada tahun 2020-2021? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi keuangan perusahaan konveksi Trend Industries dengan menggunakan analisis likuiditas; solvabilitas; profitabilitas, serta untuk mengetahui apakah terjadi kenaikan atau penurunan setiap tahun pada masing-masing jenis rasio keuangan. Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, maka diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi perusahaan konveksi Trend Industries agar perusahaan

(3)

3

mengetahui bagaimana kondisi keuangannya, serta apa saja yang harus dilakukan agar kinerja keuangan perusahaan menjadi lebih baik. Penelitian ini juga bermanfaat bagi kreditor, yaitu agar kreditor dapat mengetahui kondisi keuangan perusahaan serta risiko yang ditanggung perusahaan, sehingga kreditor dapat memutuskan apakah perusahaan ini layak untuk didanai. Manfaat yang terakhir yaitu untuk pembaca, sehingga pembaca dapat menjadikan penelitian ini sebagai refrensi untuk penelitian selanjutnya.

TELAAH LITERATUR Kinerja Keuangan

Samben & Pattisahusiwa (2017) menyatakan bahwa kinerja keuangan menggambarkan keadaan keuangan suatu perusahaan yang analisisnya menggunakan analisis keuangan, sehingga diketahui apakah perusahaan sedang dalam kondisi baik atau tidak. Keberhasilan perusahaan dalam melakukan akuisisi dapat dilihat melalui kinerja keuangan, jika kondisi keuangan perusahaan meningkat maka aktivitas akuisisi dapat dikatakan berhasil (Indriani, 2018). Untuk menilai kinerja keuangan perusahaan dapat ditentukan dengan menggunakan analisis laporan keuangan. Menurut Subramanyam (2018) analisis laporan keuangan merupakan salah satu bagian dalam analisis bisnis. Analisis laporan keuangan berguna untuk menganalisis posisi keuangan serta dapat menilai kinerja keuangan dimasa depan.

Analisis Kinerja Keuangan

Anggraeni et al., (2020) menyatakan bahwa laporan keuangan berisi tentang informasi keuangan suatu perusahaan pada periode akuntansi tertentu yang dapat menggambarkan kinerja dalam suatu perusahaan. Analisis laporan keuangan menjadi pertimbangan dalam mengevaluasi posisi keuangan serta kinerja keuangan perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu (Trianto, 2017). Selain itu, hasil analisis laporan keuangan ini dapat menjadi informasi bagi perusahaan terkait kelemahan serta kekuatan yang dimiliki perusahaan (Subramanyam, 2018). Setelah melakukan analisis laporan keuangan maka perusahaan akan mengetahui apakah mereka telah mencapai target yang sudah ditetapkan sebelumnya.

(4)

4

Menurut Kasmir (2017), rasio-rasio keuangan yang digunakan dalam analisis likuiditas, solvabilitas serta profitabilitas antara lain:

Analisis Likuiditas

1. Rasio Lancar (Current Ratio), merupakan rasio yang membandingkan antara aset lancar dengan utang lancar yang dimiliki perusahaan. Sehingga perusahaan dapat memiliki gambaran apakah perusahaan telah mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya (Anggraeni et al., 2020).

2. Rasio Sangat Lancar (Quick Ratio), merupakan rasio yang membandingkan aset lancar perusahaan dengan utang lancar namun tanpa memperhitungkan nilai persediaan yang dimiliki perusahaan. Dalam perhitungannya rasio ini tanpa melibatkan persediaan dikarenakan persediaan dianggap memiliki tingkat likuiditas yang rendah jika dibandingkan dengan akun aset lancar yang lain (Anggraeni et al., 2020).

Analisis Solvabilitas

1. Debt to Asset Ratio (Debt Ratio), merupakan rasio yang membandingkan antara total utang dengan total aset yang dimiliki perusahaan. Sehingga perusahaan dapat mengetahui berapa besar aset perusahaan yang dibiayai oleh utang, serta pengaruh utang terhadap pengelolaan aset.

2. Debt to Equity Ratio, merupakan rasio yang membandingkan antara total utang dengan modal sendiri yang dimiliki perusahaan. Sehingga perusahaan dapat mengetahui berapa besar modal yang dimiliki perusahaan dapat menjamin total utang perusahaan.

Analisis Profitabilitas

1. Gross Profit Margin, rasio ini digunakan sebagai pengukur dalam efisiensi pengendalian harga pokok penjualan, sehingga perusahaan dapat mengetahui kemampuan perusahaan dalam menciptakan laba yang digunakan untuk menutupi beban-beban perusahaan.

(5)

5

2. Net Profit Margin, merupakan rasio yang membandingkan laba bersih dengan penjualan. Sehingga perusahaan dapat mengetahui pendapatan bersih perusahaan atas penjualan yang telah dilakukan.

3. Return On Asset, merupakan rasio yang membandingkan laba bersih perusahaan dengan total aset yang dimiliki.

4. Return On Equity, merupakan rasio yang membandingkan laba bersih perusahaan dengan total ekuitas yang dimiliki.

Penelitian terdahulu tentang kinerja keuangan perusahaan menunjukkan hasil dalam rasio-rasio keuangan tersebut. Anggraeni et al.,(2020) menganalisis kinerja keuangan pada PT Murindo Multi Sarana di Samarinda pada tahun 2015- 2017 dengan menggunakan alat ukur rasio-rasio keuangan, yaitu rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, rasio likuiditas menunjukkan perusahaan dalam kondisi yang tidak baik, karena aset yang dimiliki perusahaan belum bisa menutupi utang-utang perusahaan terlepas dari persediaan. Berdasarkan rasio solvabilitas menunjukkan perusahaan dalam kondisi yang tidak baik, karena nilai rasio meningkat setiap tahunnya, hal ini dikarenakan perusahaan setiap tahunnya menanggung risiko yang tinggi. Serta untuk rasio profitabilitas, menunjukkan perusahaan juga dalam kondisi yang tidak baik, sehingga dapat dikatakan perusahaan kurang memiliki kemampuan untuk menghasilkan laba perusahaan.

Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Oktariansyah (2020), tentang analisis rasio likuiditas, solvabilitas dan profitabilitas dalam menilai kinerja keuangan pada PT Goldman Costco Tbk Periode 2014-2018, menemukan bahwa tingkat rasio likuiditas perusahaan dinilai tidak baik, dikarenakan nilai aset lancar lebih rendah dibandingkan nilai kewajiban lancar, kemudian tingkat rasio solvabilitas perusahaan dinilai tidak baik karena hampir setengah pendanaan perusahaan dibiayai oleh utang yang berasal dari kreditor, serta tingkat rasio profitabilitas perusahaan juga dinilai tidak baik, karena manajemen perusahaan dalam pengelolaan operasi perusahaan tidak efektif.

Penelitian lainnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Setiawati (2018), yang berjudul analisis kinerja keuangan pada perusahaan manufaktur sektor farmasi

(6)

6

di bursa efek indonesia. Penelitian ini menggunakan alat ukur rasio-rasio keuangan yaitu, rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio solvabilitas.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, nilai rasio likuiditas, baik current ratio maupun quick ratio memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, artinya perusahaan memiliki kemampuan yang tinggi dalam membayar utang lancarnya. Jika dilihat dari rasio aktivitas, total asset turnover ratio menunjukkan perusahaan dalam kondisi baik, namun inventory turnover ratio dalam kondisi yang tidak baik, karena berada di bawah standar industri, yang artinya perusahaan tidak efektif dalam memanfatkan persediaannya. Berdasarkan tingkat rasio profitabilitas, return on asset ratio serta return on equity ratio perusahaan dalam kondisi yang baik, sedangkan net profit margin untuk salah satu perusahaan kurang baik. Selanjutnya, berdasarkan rasio solvabilitas, baik debt to asset ratio maupun debt to equity ratio, menunjukkan bahwa perusahaan dalam kondisi yang tidak baik, karena pendanaan perusahaan lebih banyak diperoleh dari utang, sehingga semakin tinggi utang maka beban yang ditanggung perusahaan juga semakin tinggi.

Atas dasar konsep dan hasil penelitian terdahulu, penelitian ini dilaksanakan dengan kerangka berpikir sebagaimana dalam Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka Berpikir

(7)

7 METODE PENELITIAN

Gambaran Objek Penelitian

Konveksi Trend Industries adalah salah satu perusahaan manufaktur yang bergerak dibidang konveksi di kabupaten Sukoharjo. Konveksi ini berdiri sejak Juli 2017, dan di dirikan oleh Aldy Nugroho. Visi dari konveksi ini yaitu menjadi pusat pembuatan pakaian dengan pelayanan yang prima dan kualitas terbaik di Indonesia, serta menjadi solusi dalam melengkapi kebutuhan customer di bidang Clothing Industri. Konveksi Trend Industries juga memiliki misi yaitu memajukan Clothing Industri di Indonesia; mengedukasi konsumen tentang dunia Clothing Industri;

memberikan pelayanan yang prima dan kualitas terbaik dengan harga yang terjangkau; melengkapi kebutuhan Instansi, Komunikasi, Organisasi, Brand, atau Perorangan di bidang produksi pakaian. Sesuai dengan motto konveksi yaitu

“Cepat-Tepat-Berkualitas”, mereka berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang optimal dengan menerapkan quality control yang ketat, serta berusaha untuk menjadi perusahaan konveksi terbaik di Indonesia. Konveksi ini mempekerjakan sekitar 25 karyawan, antara lain sebagai frontline workers; penjahit; cutting; dan sablon. Meskipun usaha masih terbilang baru merintis, namun pasar konveksi ini sudah sampai ke luar kota dan banyak brand terkenal yang memakai jasa dari konveksi ini, contohnya Asus, ROG, KEMENKES, KEMENSOS dan masih banyak lagi.

Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu menggunakan laporan keuangan dari konveksi Trend Industries, sejarah perusahaan, serta jurnal-jurnal dari penelitian terdahulu. Data yang diperlukan dalam penulisan penelitian ini, diperoleh dengan cara:

a. Wawancara

Untuk mendapatkan data serta informasi lebih mendalam dengan cara mengadakan wawancara secara langsung kepada pihak yang bersangkutan, yaitu Mas Aldy Nugroho Saputro selaku pemilik konveksi Trend Industries.

Data yang diperoleh berupa gambaran umum serta kondisi perusahaan.

(8)

8 b. Dokumentasi

Yaitu dengan mengumpulkan dokumentasi tentang gambaran umum perusahaan, laporan keuangan berupa laporan laba rugi dan neraca tahun 2020-2021

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dilakukan dengan cara mencari informasi yang berkaitan dengan laporan keuangan yang akan digunakan sebagai dasar, serta mengumpulkan data sebagai bahan dalam membuat laporan (Jayusman & Shavab, 2020). Langkah analisis yang dilakukan sebagai berikut:

Analisis rasio likuiditas, berdasarkan perhitungan berikut:

- Current Ratio = Aset Lancar Utang Lancar

- Quick Ratio = Aset Lancar – Persediaan Utang Lancar Analisis rasio solvabilitas, berdasarkan perhitungan berikut:

- Debt to Asset Ratio = Total Utang Total Aset - Debt to Equity Ratio = Total Utang

Total Modal

Analisis rasio profitabilitas, berdasarkan perhitungan berikut:

- Gross Profit Margin = Penjualan - Harga Pokok Penjualan Penjualan

- Net Profit Margin = Laba Bersih Penjualan - Return On Asset = Laba Bersih

Total Aset

(9)

9

- Return On Equity = Laba Bersih Total Ekuitas

Alat ukur baik atau tidaknya kondisi perusahaan yang dipakai dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan standar industri. Standar industri yang dipakai yaitu dari Kasmir (2008) dan Lukviarman (2006). Untuk analisis likuiditas serta profitabilitas, jika nilai rasio di atas standar industri maka perusahaan dalam kondisi baik, jika nilai rasio di bawah standar industri maka perusahaan dalam kondisi tidak baik. Namun, untuk analisis solvabilitas yaitu menggunakan debt to asset ratio dan debt to equity ratio, jika nilai rasio di atas standar industri maka perusahaan dalam kondisi tidak baik, sebaliknya jika nilai rasio di bawah standar indsutri maka perusahaan dalam kondisi baik.

HASIL PENELITIAN

Berikut ini hasil perhitungan analisis kinerja keuangan konveksi Trend Industries menggunakan rasio-rasio keuangan pada laporan keuangan tahun 2020- 2021 yaitu sebagai berikut:

Hasil Analisis Rasio Likuiditas

Hasil analisis rasio likuiditas yang digunakan terdiri dari current ratio dan quick ratio. Current ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam rangka membayar kewajiban jangka pendek maupun utang yang segera jatuh tempo. Sedangkan quick ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban maupun utang lancar dengan aset lancar tanpa memperhitungkan nilai persediaan.

Table 1. Current Ratio

Keterangan 2020 2021

Aset Lancar 828.930.000 1.314.450.000

Utang Lancar 480.000.000 500.000.000

Current Ratio 1,727 2,629

(10)

10

Pada tahun 2020 aset lancar yang dimiliki konveksi Trend Industries sebesar Rp 828.930.000, serta utang lancar sebesar Rp 480.000.000, sehingga nilai current ratio tahun 2020 sebesar 1,727 kali yang berarti aset lancar ditahun tersebut yaitu sebesar Rp 828.930.000 telah dapat menyediakan dana untuk menutupi kewajiban jangka pendek yaitu sebesar Rp 480.000.000. Pada tahun 2021 aset lancar sebesar Rp 1.314.450.000, serta utang lancar sebesar Rp 500.000.000, sehingga nilai current ratio tahun 2021 sebesar 2,6 kali, yang berarti nilai aset lancar di tahun tersebut yaitu sebesar Rp 1.314.450.000 dapat menyediakan dana untuk menutupi kewajiban jangka pendek yaitu sebesar Rp 500.000.000. Terdapat selisih aset lancar dari tahun 2020-2021 yaitu sebesar Rp 485.520.000. Serta kenaikan utang lancar sebesar Rp 20.000.000. Kenaikan aset lancar cukup signifikan dibanding utang lancar, hal ini membuat nilai current ratio dari tahun 2020-2021 mengalami kenaikan yaitu sebesar 90%.

Table 2. Quick Ratio

Keterangan 2020 2021

Aset Lancar 828.930.000 1.314.450.000

Persediaan 25.380.000 30.200.000

Utang Lancar 480.000.000 500.000.000

Quick Ratio 1,674 2,569

Pada tahun 2020 persediaan konveksi Trend Industries sebesar Rp 25.380.000, sehingga nilai quick ratio sebesar 1,674 kali yang berarti aset lancar dihitung tanpa menggunakan persediaan pada tahun ini yaitu sebesar Rp 803.550.000, serta dapat menyediakan dana untuk menutupi kewajiban jangka pendek yaitu sebesar Rp 480.000.000. Pada tahun 2021 konveksi memiliki persediaan sebesar Rp 30.200.000, sehingga nilai aset lancar dihitung tanpa menggunakan persediaan yaitu sebesar Rp 1.284.250.000, serta dapat menyediakan dana untuk kewajiban jangka pendek yaitu sebesar Rp 500.000.000. Terdapat selisih persediaan dari tahun 2020-2021 yaitu sebesar Rp 4.820.000. Sama halnya dengan nilai current ratio, peningkatan aset lancar yang cukup signifikan dibanding

(11)

11

dengan persediaan serta utang lancar, sehingga nilai quick ratio dari tahun 2020- 2021 mengalami kenaikan sebesar 89%.

Hasil Analisis Rasio Solvabilitas

Hasil analisis rasio solvabilitas yang digunakan terdiri dari debt to asset ratio dan debt to equity ratio. Debt to asset ratio digunakan untuk mengetahui besarnya dana yang berasal dari utang lancar maupun utang jangka panjang. Debt to equity ratio digunakan untuk menunjukkan besarnya tingkat penggunaan modal sendiri terhadap aset.

Table 3. Debt to Asset Ratio

Keterangan 2020 2021

Total Utang 480.000.000 500.000.000

Total Aset 1.477.130.000 2.010.150.000

Debt to Asset Ratio 32% 25%

Pada tahun 2020 total utang yang dimiliki konveksi Trend Industries sebesar Rp 480.000.000, dan total aset sebesar Rp 1.477.130.000, sehingga nilai debt to asset ratio yang diperoleh sebesar 32%, yang artinya 32% dari total aset yang dimiliki sebesar Rp 1.477.130.000, dibiayai oleh utang sebesar Rp 480.000.000. Pada tahun 2021 total utang konveksi sebesar Rp 500.000.000, serta total aset sebesar Rp 2.010.150.000, sehingga nilai debt to asset ratio yang diperoleh sebesar 25%, yang artinya 25% dari total aset yang dimiliki sebesar Rp 2.010.150.000, dibiayai oleh utang sebesar Rp 500.000.000. Terjadi kenaikan total utang dari tahun 2020-2021 sebesar Rp 20.000.000, serta total aset juga mengalami kenaikan yang signifikan yaitu sebesar Rp 533.020.000. Kenaikan total aset yang signifikan dibanding total utang, sehingga mengakibatkan nilai debt to asset ratio dari tahun 2020-2021 mengalami penurunan sebesar 7%.

Table 4. Debt to Equity Ratio

Keterangan 2020 2021

Total Utang 480.000.000 500.000.000

(12)

12

Total Modal 997.130.000 1.510.150.000

Debt to Equity Ratio 48% 33%

Pada tahun 2020 total modal konveksi Trend Industries sebesar Rp 997.130.000, sehingga nilai debt to equity yang diperoleh sebesar 48%, yang artinya 48% dari jumlah total modal Rp 997.130.000 dibiayai oleh kreditor sebesar Rp 480.000.000. Pada tahun 2021 total modal yang dimiliki konveksi sebesar Rp 1.510.150.000, sehingga nilai debt to equity ratio yang diperoleh sebesar 33%, yang artinya 33% dari total modal yang dimiliki sebesar Rp 1.510.150.000, dibiayai oleh utang sebesar Rp 500.000.000. Terjadi kenaikan total modal dari tahun 2020-2021 yaitu sebesar Rp 513.020.000. Karena pada tahun 2021 total modal naik signifikan, dibandingkan total utang, maka nilai debt to equity dari tahun 2020-2021 mengalami penurunan sebesar 15%.

Hasil Analisis Rasio Profitabilitas

Hasil analisis profitabilitas yang digunakan terdiri dari gross profit margin, net profit margin, return on asset, dan return on equity. Gross profit margin digunakan untuk mengukur keuntungan kotor perusahaan dari setiap produk yang dijual. Net profit margin digunakan untuk mengukur keefektifan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, dapat dilihat dari besarnya laba bersih setelah pajak dari penjualan. Return on asset digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan serta memaksimalkan aset untuk menghasilkan keuntungan. Return on equity digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam memaksimalkan ekuitas.

Table 5. Gross Profit Margin

Keterangan 2020 2021

Penjualan Harga Pokok Penjualan

1.808.750.100

1.202.525.000

3.389.287.250

2.495.362.310

(13)

13

Gross Profit Margin 34% 26%

Pada tahun 2020 penjualan konveksi Trend Industries sebesar Rp 1.808.750.100, serta harga pokok penjualan sebesar Rp 1.202.525.000, sehingga nilai gross profit margin yang diperoleh sebesar 34%. Pada tahun 2021 penjualan yang dimiliki konveksi sebesar Rp 3.389.287.250, serta harga pokok penjualan sebesar Rp 2.495.362.310, sehingga nilai gross profit margin tahun 2021 sebesar 26%.

Terjadi kenaikan penjualan sebesar Rp 1.580.537.150, serta selisih harga pokok penjualan sebesar Rp 1.292.837.310. Meskipun penjualan mengalami peningkatan, namun harga pokok penjualan juga ikut mengalami kenaikan, sehingga nilai gross profit margin mengalami penurunan sebesar 8%. Semakin tinggi gross profit margin, maka kondisi perusahaan dalam keadaan baik, karena beban pokok penjualan lebih rendah dibandingkan dengan penjualan, begitu juga sebaliknya.

Table 6. Net Profit Margin

Keterangan 2020 2021

Laba Bersih 190.074.650 350.649.002

Penjualan 1.808.750.100 3.389.287.250

Net Profit Margin 11% 10%

Pada tahun 2020 laba bersih konveksi Trend Industries sebesar Rp 190.074.650, serta penjualan sebesar Rp 1.808.750.100, sehingga nilai net profit margin yang diperoleh sebesar 11%, artinya 11% dari jumlah penjualan Rp 1.808.750.100 diperoleh laba bersih sebesar Rp 190.074.650. Sedangkan tahun 2021 laba bersih yang dimiliki konveksi sebesar Rp 350.649.002, serta penjualan sebesar Rp 3.389.287.250, sehingga nilai net profit margin yang diperoleh sebesar 10% yang artinya 10% dari jumlah penjualan Rp 3.389.287.250 diperoleh laba bersih sebesar Rp 350.649.002. Terjadi peningkatan laba bersih dari tahun 2020- 2021 sebesar Rp 160.574.352, serta peningkatan penjualan sebesar Rp 1.580.537.150. Nilai net profit margin tahun 2020-2021 mengalami penurunan

(14)

14

sebesar 1%, dikarenakan peningkatan penjualan yang signifikan namun peningkatan laba bersih tidak terlalu signifikan, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum mampu menghasilkan laba bersih dengan meningkatkan penjualan di setiap tahunnya yang melebihi beban pokok penjualan (Fajrin & Laily, 2016).

Table 7. Return on Asset

Keterangan 2020 2021

Laba Bersih 190.074.650 350.649.002

Total Aset 1.477.130.000 2.010.150.000

Return on Asset 13% 17%

Pada tahun 2020 laba bersih konveksi Trend Industries sebesar Rp 190.074.650, serta total aset sebesar Rp 1.477.130.000, sehingga nilai return on asset yang diperoleh sebesar 13% yang artinya, nilai return on asset ditahun ini mampu menghasilkan laba bersih dari aset yang dimiliki sebanyak 13%. Pada tahun 2021 laba bersih yang dimiliki konveksi sebesar Rp 350.649.002, serta total aset sebesar Rp 2.010.150.000, sehingga nilai return on asset yang diperoleh sebesar 17% yang artinya, nilai return on asset di tahun ini mampu menghasilkan laba bersih dari aset yang dimiliki sebanyak 17%. Terjadi peningkatan laba bersih tahun 2020-2021 sebesar Rp 160.574.352, serta peningkatan total aset sebesar Rp 533.020.000, sehingga membuat nilai return on asset meningkat sebanyak 5%, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan aset yang dimiliki sudah cukup baik, sehingga perputaran aset dapat lebih cepat untuk mendapatkan laba (Fajrin & Laily, 2016).

Table 8. Return on Equity

Keterangan 2020 2021

Laba Bersih 190.074.650 350.649.002

Total Ekuitas 997.130.000 1.510.150.000

Return on Equity 19% 23%

(15)

15

Pada tahun 2020 laba bersih konveksi Trend Industries sebesar Rp 190.074.650, serta total ekuitas yang dimiliki sebesar Rp 997.130.000, sehingga nilai return on equity yang diperoleh sebesar 19% yang artinya, nilai return on equity ditahun ini mampu menghasilkan laba bersih dari ekuitas yang dimiliki sebanyak 19%. Pada tahun 2021 laba bersih konveksi sebesar Rp 350.649.002, serta total ekuitas yang dimiliki sebesar Rp 1.510.150.000, sehingga nilai return on equity yang diperoleh sebesar 23% yang artinya, nilai return on equity di tahun ini mampu menghasilkan laba bersih dari ekuitas yang dimiliki sebanyak 23%. Terjadi peningkatan laba bersih tahun 2020-2021 sebesar Rp 160.574.352, serta peningkatan total ekuitas sebesar Rp 513.020.000. Karena peningkatan total ekuitas konveksi yang signifikan dibanding dengan kenaikan laba bersih, sehingga membuat nilai return on equity pada tahun 2020-2021 mengalami peningkatan sebesar 4%.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil perhitungan analisis yang telah dilakukan terhadap laporan keuangan konveksi Trend Industries pada tahun 2020 sampai dengan tahun 2021 dengan menggunakan standar industri rasio keuangan menurut Kasmir (2008) untuk rasio likuiditas dan solvabilitas, serta standar industri menurut Lukviarman (2006) untuk rasio profitabilitas, maka dapat diketahui mengenai hasil kinerja perusahaan dengan menggunakan rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas, yang selanjutnya akan disajikan dalam pembahasan sebagai berikut:

Table 9. Rekapitulasi kondisi dan posisi perusahaan

JENIS RASIO

TAHUN HASIL STANDAR

INDUSTRI

KETERANGAN

2020 2021 2020 2021 2020 2021

Rasio Likuiditas

Current Ratio 1,727 kali

2,629 kali

< > 2 kali Tidak Baik Baik

(16)

16 Quick Ratio 1,674

kali

2,569 kali

> > 1,5 kali Baik Baik

Rasio Solvabilitas Debt to Asset Ratio

32% 25% < < 35% Baik Baik

Debt to Equity Ratio

48% 33% < < 80% Baik

Baik Rasio

Profitabilitas Gross Profit Margin

34% 26% > > 24,90% Baik Baik

Net Profit Margin

11% 10% > > 3,92% Baik Baik

Return On Asset

13% 17% > > 8,32% Baik Baik

Return On Equity

19% 23% > > 5,87% Baik Baik

Berdasarkan hasil penelitian kinerja keuangan dengan menggunakan analisis likuiditas menunjukkan bahwa, current ratio pada tahun 2020 nilai rasionya yaitu sebesar 1,727 kali berada di bawah standar industri yaitu 2 kali, ini menunjukkan bahwa perusahaan dalam kondisi tidak baik, meskipun perusahaan tergolong mampu dalam membayar utang dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki, tetapi nilai current ratio masih di bawah standar industri. Namun pada tahun 2021 nilai rasionya 2,629 kali, berarti berada di atas rata-rata standar industri, sehingga perusahaan bisa dikatakan dalam kondisi yang baik. Pada quick ratio baik di tahun 2020 maupun 2021 menunjukkan kondisi perusahaan dalam keadaan baik yaitu sebesar 1,674 kali dan 2,569 kali, karena nilai rasio berada di atas standar industri yaitu 1,5 kali. Terjadi peningkatan nilai quick ratio dari tahun 2020-2021, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu dalam membayar kewajiban jangka pendek yang dijamin oleh aset lancar yang dihitung tanpa persediaan. Untuk rasio likuiditas, semakin tinggi nilai rasio maka menunjukkan perusahaan dalam kondisi

(17)

17

baik, karena artinya nilai aset lancar perusahaan lebih besar dari utang lancar.

Dalam laporan keuangan konveksi Trend Industries pada tahun 2020-2021 menunjukkan nilai aset lancar yang cukup tinggi, dan akun yang paling dominan yaitu akun kas. Namun kenaikan kas tidak diimbangi dengan kenaikan persediaan, walaupun nilai persediaan juga naik namun kenaikan tidak terlalu tinggi, hal ini berarti perusahaan belum mampu menggunakan aset yang dimiliki dengan maksimal.

Berdasarkan hasil penelitian kinerja keuangan dengan menggunakan analisis solvabilitas menunjukkan bahwa, nilai debt to asset ratio pada tahun 2020 dan 2021 sebesar 32% dan 25%, brarti nilai rasio mengalami penurunan sebesar 7%. Dari tahun 2020 hingga 2021 nilai debt to asset ratio berada di bawah standar industri, dapat dilihat bahwa nilai aktiva lebih besar dibanding nilai utang, sehingga hal ini menunjukkan kondisi perusahaan dilihat dari debt to asset ratio dapat dinilai cukup baik. Nilai debt to equity ratio, baik tahun 2020 maupun tahun 2021 menunjukkan kondisi perusahaan yang dinilai cukup baik, yaitu nilai rasionya sebesar 48% dan 33%, karena berada di bawah standar industri yang sudah ditetapkan yaitu 80%, berarti nilai modal perusahaan lebih tinggi dibandingkan dengan utang perusahaan, sehingga bisa dikatakan sebagian besar pendanaan perusahaan dibiayai oleh modal sendiri bukan dari utang. Hal ini menguntungkan bagi kreditor, karena semakin kecil resiko yang ditanggung atas kegagalan yang mungkin terjadi di perusahaan.

Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan analisis profitabilitas menunjukkan bahwa, nilai gross profit margin di tahun 2020 sebesar 34%, berarti berada di atas standar industri yaitu 24,90 %, serta pada tahun 2021 nilai rasionya sebesar 26%, berarti berada di atas standar industri namun mengalami penurunan sebesar 8% dari tahun sebelumnya, yang artinya gross profit margin konveksi ditahun 2020 dan 2021 dalam kondisi yang baik. Semakin tinggi gross profit margin maka semakin baik bagi operasi perusahaan, artinya perusahaan tergolong mampu dalam mengendalikan biaya operasi, karena harga pokok penjualan relatif lebih rendah. Nilai net profit margin konveksi Trend Industries tahun 2020 sebesar 11%, sehingga rasionya berada di atas standar industri 3,92%. Pada tahun 2021 nilai net profit margin juga berada di atas standar industri yaitu rasionya sebesar 10%, sehingga net profit margin konveksi pada tahun 2020 dan

(18)

18

2021 bisa dikatakan baik, hal ini berarti konveksi baik dalam menghasilkan laba.

Namun terjadi penurunan sebanyak 1%, walaupun penurunan tidak terlalu signifikan. Penyebab penurunan pada net profit margin yaitu karena kenaikan biaya yang harus ditanggung perusahaan, hal ini dikarenakan kurang efisiennya operasi perusahaan.

Nilai return on asset tahun 2020 sebesar 13%, serta tahun 2021 sebesar 17%.

Nilai return on asset konveksi Trend Industries pada 2020-2021 berada di atas standar industri yaitu sebesar 8,32%, sehingga bisa dikatakan konveksi dalam kondisi baik. Terjadi peningkatan return on asset dari tahun 2020-2021, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan aset yang dimiliki dinilai cukup baik, karena semakin tinggi aset maka menunjukkan perusahaan efisien dalam melaksanakan kegiatan operasi sehari-hari.

Analisis profitabilitas yang terakhir yaitu return on equity. Nilai return on equity pada tahun 2020 sebesar 19%, dan pada tahun 2021 sebesar 23%, nilai rasio kedua tahun berada di atas standar industri yaitu sebesar 5,87%, sehingga bisa dikatakan kondisi konveksi dalam keadaan baik.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan analisis kinerja keuangan pada konveksi Trend Industries pada tahun 2020-2021 menggunakan rasio likuiditas, solvabilitas serta profitabilitas, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa kinerja keuangan Trend industries berdasarkan rasio likuiditas diperoleh bahwa, current ratio pada tahun 2020 termasuk tidak liquid, namun pada tahun 2021 dalam keadaan likuid, sementara untuk quick ratio konveksi Trend Industries baik tahun 2020 maupun 2021 dalam keadaan likuid. Kinerja keuangan konveksi Trend Industries berdasarkan rasio solvabilitas diperoleh bahwa, pada tahun 2020-2021 debt to asset ratio dan debt to equity ratio konveksi Trend Industries dalam keadaan solvable. Sedangkan berdasarkan rasio profitabilitas diperoleh bahwa, baik gross profit margin, net profit margin, return on asset, serta return on equity kinerja keuangan tergolong efisien. Sehingga dapat disimpulkan, secara garis besar konveksi Trend Industries telah melakukan kinerja keuangan dengan baik. Namun penelitian ini juga memiliki keterbatasan, yaitu karena kurang lengkapnya laporan keuangan sehingga analisis

(19)

19

yang digunakan dalam penelitian ini hanya analisis likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas. Selain itu, penelitian ini hanya menggunakan laporan keuangan perusahaan pada tahun 2020 dan 2021, karena pada tahun sebelumnya perusahaan ini belum membuat laporan keuangan.

Berdasarkan permasalahan yang terjadi pada konveksi Trend Industries yaitu mengenai kinerja keuangan konveksi pada tahun 2020-2021 maka saran yang bisa dilakukan konveksi Trend Industries adalah supaya memanfaatkan kas dengan lebih baik lagi dengan cara menambah persediaan, serta memaksimalkan penjualan agar cash flow terus berputar dan tidak hanya mengendap di kas, dengan begitu perusahaan dapat lebih produktif lagi. Selain itu sebaiknya rutin untuk melakukan evaluasi terkait kinerja keuangan maupun kinerja konveksi itu sendiri. Serta agar konveksi mempertahankan pendapatannya dengan begitu kinerja keuangan konveksi tetap dalam kondisi yang baik.

(20)

20

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, S. U., Iskandar, R., Ekonomi, F., & Mulawarman, U. (2020). Analisis kinerja keuangan pada pt murindo multi sarana di samarinda. 17(1), 163–

171.

Fajrin, P. H., & Laily, N. (2016). Analisis Profitabilitas dan Likuiditas Terhadap Kinerja Keuangan PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk. Jurnal Ilmu Dan Riset Manajemen, 5(6), 01–17.

Indriani, A. N. (2018). Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) Sebelum dan Sesudah Akuisisi. 15(2011), 27–

36.

Kasmir. (2008). Analisis Laporan Keuangan, Edisi Ketiga. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Kasmir. (2017). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Lukviarman Niki. (2006). Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Andalas

University Press.

Maith, H. A. (2013). Analisis Laporan Keuangan Dalam Mengukur Kinerja Keuangan pada PT. Hanjaya Mandala Sampoerna TBK. 1(3), 619–628.

Oktariansyah. (2020). Analisis Rasio Likuiditas , Solvabilitas dan Profitabilitas Dalam Menilai Kinerja Keuangan Pada PT . Goldman Costco Tbk Periode 2014-2018. Jurnal Media Wahana Ekonomika, 17(1), 55–81.

Rosa, Y. Del, & Abdilla, M. (2019). Peluang Bisnis Usaha Konveksi Pakaian di Kecamatan IV Angkek Kabupaten Agam. V(1), 93–102.

Samben, R., & Pattisahusiwa, S. (2017). Analisis kinerja keuangan. 14(1), 6–15.

Setiawati, S. (2018). Analisis Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Farmasi Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Daya Saing, 4(3), 323–329.

https://doi.org/10.35446/dayasaing.v4i3.288

Subramanyam, K. R. (2018). Financial Statement Analysis.

Supriyanto, E. (2013). “Manufaktur“ dalam Dunia Teknik Industri. 3(3), 3–6.

Trianto, A. (2017). Analisis Laporan Keuangan Sebagai Alat untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan pada PT. Bukit Asam (PERSERO) TBK Tanjung Enim. 8(03).

Referensi

Dokumen terkait

Perkembangan situasi keuangan dalam analisis horizontal KUD Panca Satya Dawan secara umum mulai tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 dilihat dari laporan keuangan neraca

Berdasarkan laporan keuangan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk tahun 2015 sampai 2017 yaitu Laporan Posisi Keuangan dan Laporan Laba Rugi, maka peneliti melakukan

Hasil perhitungan tren target dan realisasi seluruh sumber keuangan pada Kabupaten Aceh Besar Tahun 2019 sampai dengan Tahun 2021, dengan Tahun 2019 sebagai tahun dasar, dengan

Berdasarkan hasil pembahasan tersebut didapat hasil Analisis Komparatif laporan keuangan sudah baik, Analisis Common Size laporan keuangan sudah baik, Analisa Trend

Perkembangan situasi keuangan dalam analisis horizontal KUD Panca Satya Dawan secara umum mulai tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 dilihat dari laporan keuangan neraca

Berdasarkan hasil analisis laporan keuangan PT Gresik Cipta Sejahtera Cabang Makassar pada periode 2016 sampai 2018, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan pada tahun

Berdasarkan hasil penelitian dengan pengukuran kinerja keuangan PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) Medan, dimana hasil perhitungan dari tahun 2013 sampai dengan

Perkembangan situasi keuangan dalam analisis horizontal KUD Panca Satya Dawan secara umum mulai tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 dilihat dari laporan keuangan neraca