• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis kinerja simpang pada simpang 3 tak bersinyal

N/A
N/A
DIDIH LESMANA

Academic year: 2024

Membagikan "analisis kinerja simpang pada simpang 3 tak bersinyal"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

MT selaku Dosen Pembanding I dan Penguji yang telah banyak memberikan koreksi dan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini, serta Sekretaris Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ade Faisal, MSc yang telah banyak memberikan koreksi dan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini, serta merupakan Ketua Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

Latar Belakang

Celah menunjukkan selang waktu antara dua kendaraan berturut-turut dalam suatu arus lalu lintas pada suatu jalan yang hierarkinya lebih tinggi dari jalan utama. Jika kesenjangannya cukup besar, kendaraan di jalan dengan hierarki yang lebih rendah akan bergabung dengan arus lalu lintas di jalan dengan hierarki yang lebih tinggi.

Rumusan Masalah

2, yang menyebabkan pengemudi yang melintasi persimpangan menunjukkan perilaku tidak menunggu celah dan memaksa mereka untuk menempatkan kendaraannya pada ruas jalan yang akan dimasukinya. Hal ini mengakibatkan terjadinya konflik arus lalu lintas yang mengakibatkan kemacetan bahkan berpotensi terjadinya kecelakaan. Simpang yang dianalisis dalam penelitian ini adalah simpang tiga jalan tak bersinyal Jalan Kambir 5 - Jalan Stasiun Lama Medan. Kondisi simpang ini mendukung terjadinya kemacetan dan kecelakaan karena kawasan ini merupakan kawasan padat penduduk dan juga merupakan jalan menuju pusat perekonomian, pusat perkantoran, kampus dan rekreasi.

Ruang Lingkup Penelitian

Pada prinsipnya pengemudi tetap mempunyai hak jalan untuk melewati persimpangan dibandingkan pengemudi lain di persimpangan tidak bersinyal. Simpang yang direvisi adalah simpang Jalan Kambir 5 – Stasiun Lama Jalan Medan dengan metode MKJI (1997).

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

PENDAHULUAN

TINJAUAN PUSTAKA

METODOLOGI PENELITIAN

ANALISA DATA

KESIMPULAN DAN SARAN

Pengertian Tentang Kemacetan Lalu lintas

Pada saat terjadi kemacetan maka nilai derajat kejenuhan pada ruas jalan tersebut akan ditinjau, dimana kemacetan akan terjadi apabila nilai derajat kejenuhan mencapai lebih dari 0,5 (MKJI, 1997). Kemacetan lalu lintas di jalan raya terjadi karena ruas-ruas jalan tidak mampu lagi menerima atau dilalui arus kendaraan yang melaju.

Penyebab Kemacetan

Kemacetan merupakan suatu keadaan dimana arus lalu lintas yang lewat pada ruas jalan yang diteliti melebihi kapasitas jalan yang direncanakan, sehingga mengakibatkan kecepatan bebas ruas jalan tersebut mendekati atau mencapai 0 km/jam sehingga mengakibatkan terjadinya kemacetan. Hal ini terjadi akibat dampak dari tingginya hambatan atau gangguan samping sehingga mengakibatkan menyempitnya ruas-ruas jalan seperti tempat pejalan kaki, parkir on road, penjualan trotoar dan jalan, tempat ojek, kegiatan sosial yang menggunakan jalan (pesta atau acara) dan lain sebagainya. pada. hal-hal lain.

Pengertian Persimpangan

Pengaturan lampu lalu lintas kaku yang tidak mengikuti arus lalu lintas tinggi dan rendah.

Jenis-Jenis Persimpangan

  • Jenis Persimpangan Berdasarkan Keadaan Geometrik 1. Persimpangan Sebidang
    • Persimpangan Tidak Sebidang
  • Jenis Persimpangan Berdasarkan Siatem Pengendalian
    • Persimpangan Tidak Bersinyal (Non Signalized)
    • Persimpangan Bersinyal (Signalized)

Fungsi bundaran adalah untuk menampung lalu lintas yang akan berbelok sehingga arus yang terus menerus tidak terganggu. Digunakan untuk memisahkan lajur dari pergerakan lalu lintas lawan dalam dimensi waktu, berikut dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.1: Bentuk-bentuk persimpangan berdasarkan geometrik (MKJI, 1997).
Gambar 2.1: Bentuk-bentuk persimpangan berdasarkan geometrik (MKJI, 1997).

Jenis Konflik Yang Terjadi di Persimpangan

Biasanya alat ini terdiri dari tiga warna yaitu merah, kuning dan hijau yang digunakan untuk memisahkan lintasan dari pergerakan lalu lintas yang menimbulkan konflik utama atau sekunder. Konflik sekunder, yaitu konflik yang timbul antara arus lalu lintas kanan dengan arus lalu lintas arah lain dan/atau lalu lintas belok kiri dan pejalan kaki. Jalan baru tidak boleh dirancang untuk menghubungkan persimpangan yang sudah ada, meskipun persimpangan tersebut merupakan persimpangan jalan lokal.

Hambatan pada titik konflik akan meningkat drastis seiring dengan bertambahnya jumlah kaki pada persimpangan dan menjadikan persimpangan tersebut berbahaya sehingga memerlukan tingkat konsentrasi yang tinggi bagi pengemudi. 18 menjadi besar sehingga kapasitas penyeberangan berkurang drastis, untuk titik konflik pada penyeberangan 4 kaki dan penyeberangan 3 kaki dapat dilihat pada Gambar 2.4. Munculnya perempatan atau persimpangan jalan untuk menghindari bahaya belokan kanan yang menghambat lalu lintas yang sedang berjalan.

19 sering menggunakan metode belok kiri pada jalan dan jembatan di atas dan di bawah arus lalu lintas utama.

Gambar 2.3: Jenis-jenis konflik pada persimpangan (MKJI, 1997).
Gambar 2.3: Jenis-jenis konflik pada persimpangan (MKJI, 1997).

Tingkat Pelayanan

  • Perilaku Lalu Lintas
    • Kapasitas
    • Volume Lalu lintas
  • Derajat Kejenuhan
  • Panjang Antrian
  • Karakteristik Geometri
  • Tinjauan Lingkungan

Kepadatan lalu lintas tergolong sedang, namun fluktuasi volume lalu lintas dan hambatan sementara dapat menyebabkan penurunan kecepatan yang besar. Arus berada di bawah tingkat layanan D dengan volume lalu lintas mendekati kapasitas jalan dan kecepatan sangat rendah. Kepadatan lalu lintas sangat tinggi dan volume rendah serta terjadi kemacetan dalam waktu yang cukup lama.

Penghitungan dilakukan setiap jam untuk satu periode atau lebih, misalnya berdasarkan kondisi arus lalu lintas yang direncanakan pada jam sibuk pagi, siang, dan sore hari. Arus lalu lintas (Q) untuk setiap pergerakan (belok kiri, belok kanan, dan lurus ke depan) dikonversi dari kendaraan per jam menjadi satuan mobil penumpang (smp) per jam dengan menggunakan ekuivalen mobil penumpang (emp) untuk setiap pendekat terlindungi dan tahan. Menurut MKJI (1997), volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang lewat pada suatu jalan dalam satuan waktu (hari, jam, menit).

Satuan volume lalu lintas yang digunakan dalam kaitannya dengan analisis panjang antrian adalah perencanaan volume jam (VJP) dan kapasitas. Pada nilai tertentu, derajat kejenuhan dapat menyebabkan antrian panjang pada kondisi lalu lintas puncak (MKJI 1997).

Gambar 2.5: Grafik tingkat pelayanan lalu lintas (HCM, 1985).
Gambar 2.5: Grafik tingkat pelayanan lalu lintas (HCM, 1985).

Perencanaan Simpang Tak Bersinyal

  • Kondisi Geometrik Lalu Lintas dan Lingkungan
  • Arus Lalulintas (Q)
  • Lebar Pendekat dan Tipe Simpang 1. Lebar Rata-Rata Pendekat
    • Tipe Simpang
  • Menentukan Kapasitas 1. Kapasitas Dasar (Co)
    • Faktor Penyesuaian Median Jalan Utama (FM)
    • Faktor Penyesuaian Ukuran Kota (Fcs)
    • Faktor Penyesuaian Tipe Lingkungan, Kelas Hambatan Samping dan Kendaraan Tak Bermotor (F RSU )
    • Faktor Penyesuaian Belok Kiri (F LT )
    • Faktor Penyesuaian Rasio Arus Minor (F MI )
    • Kapasitas (C)
  • Perilaku Lalu Lintas
    • Tundaan
    • Peluang Antrian (QP)

Faktor konversi ini merupakan perbandingan jenis kendaraan yang berbeda dengan mobil penumpang atau kendaraan ringan lainnya ditinjau dari pengaruhnya terhadap perilaku lalu lintas. Unit Kendaraan Penumpang (PCU) berarti bahwa metrik tertentu harus ditentukan ketika menghitung dampak jenis kendaraan terhadap arus lalu lintas. Dampak kendaraan barang terhadap lalu lintas terutama ditentukan oleh kecepatan kendaraan barang yang berbasis pada mobil penumpang.

Jika yang diukur adalah kejenuhan suatu simpang, maka derajat kejenuhan disini adalah perbandingan arus lalu lintas total (smp/jam) dengan kapasitas pada simpang tersebut (smp/jam). Tundaan lalu lintas simpang merupakan rata-rata tundaan lalu lintas seluruh kendaraan bermotor yang memasuki simpang tersebut. Kemacetan lalu lintas pada jalan raya merupakan tundaan rata-rata seluruh kendaraan bermotor yang memasuki persimpangan dari jalan raya tersebut.

Rata-rata tundaan lalu lintas jalan kecil ditentukan berdasarkan rata-rata tundaan simpang dan rata-rata tundaan jalan utama, yang dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan. Gelombang kejut dapat digambarkan sebagai pergerakan arus lalu lintas akibat perubahan nilai kepadatan dan jumlah arus lalu lintas.

Gambar 2.6: Lebar Rata-Rata Pendekat (MJKI, 1997).
Gambar 2.6: Lebar Rata-Rata Pendekat (MJKI, 1997).

Tundaan

Sedangkan panjang antrian diartikan sebagai panjang antrian kendaraan pada suatu pendekatan, yang dinyatakan dalam meter. Pergerakan kendaraan dalam antrian dikendalikan oleh pergerakan di depannya, atau kendaraan dihentikan oleh komponen sistem lalu lintas lainnya. Antrian pada dasarnya timbul karena proses pergerakan arus lalu lintas (orang atau kendaraan) terganggu oleh suatu kegiatan pelayanan yang harus dilalui, atau karena ditutupnya pintu perlintasan sebidang.

Dimana r adalah waktu penutupan pintu penyeberangan, maka panjang antrian maksimum akan terjadi pada waktu t3, dan dapat dihitung dengan Persamaan. Kondisi sistem transportasi yang mengalami keterlambatan adalah meningkatnya rasio biaya yang ditanggung masyarakat, khususnya yang menggunakan jasa dan fasilitas transportasi dengan sistem transportasi yang sudah tidak efisien lagi. Sebagian besar waktu pengoperasian akan hilang, terutama pada perlintasan sebidang, baik yang diatur secara tidak beraturan dengan gerbang penyeberangan maupun diatur dengan gerbang.

Dalam kondisi padat, kehilangan waktu akibat keterlambatan dan antrian yang panjang merupakan parameter yang sangat esensial dan merupakan hal yang sangat penting untuk diatasi. Keterlambatan lalu lintas (Keterlambatan interaksi kendaraan) adalah waktu tunggu yang disebabkan oleh interaksi lalu lintas dengan pergerakan lalu lintas yang saling bertentangan.

Lokasi Penelitian

Pada tahap ini juga dilakukan observasi pendahuluan untuk memperoleh gambaran umum dalam identifikasi dan perumusan masalah di bidang tersebut. Cara pengumpulan data volume lalu lintas dilakukan secara manual, sehingga dapat dijadikan sebagai sumber data. Penentuan kebutuhan data yaitu pengumpulan data di lapangan dengan menempatkan surveyor pada 3 lokasi yang diperiksa.

Tahap Pengumpulan Data

  • Metode studi pustaka
  • Waktu Penelitian
  • Alat Penelitian

Hal ini mutlak diperlukan agar dapat diketahui kondisi aktual saat ini, sehingga diharapkan tidak terjadi kesalahan dalam evaluasi dan perencanaan. Penelitian dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut, dengan hari ditentukan berdasarkan kondisi di lapangan.

Rencana Penelitian 1. Variabel Yang di Ukur

  • Survei Pendahuluan

Kajian pendahuluan ini bertujuan untuk memperoleh data awal mengenai pola arus lalu lintas, lokasi kajian yang akan dipilih dan jam sibuk serta kondisi lingkungan sekitar simpang. Memahami kesulitan-kesulitan yang mungkin timbul pada saat pelaksanaan survei dan melakukan revisi sesuai kondisi dan kondisi lapangan yang mungkin dihadapi.

Tahap pembahasan

  • Analisis Simpang
  • Metode Pemecahan Masalah

Setelah memperoleh analisis data, langkah selanjutnya adalah menentukan alternatif solusi yang mungkin dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Koordinasi dua simpang yang berdekatan dilakukan untuk mengatur fase persinyalan antara dua simpang yang berdekatan guna mengurangi atau mengatasi panjang antrian dan tundaan yang timbul. Menambah lebar pendekatan Jika dimungkinkan untuk menambah lebar pendekatan, efek terbaik dari tindakan tersebut akan tercapai jika perluasan dilakukan pada pendekatan dengan nilai FR kritis tertinggi.

Rencanakan pembangunan Flyover apabila keadaan sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan pelebaran jalan karena tidak ada lagi lahan untuk pelebaran karena terdapat sungai dan fasilitas umum lainnya. Perubahan fase sinyal Jika pendekatan dengan arus keberangkatan berlawanan dan rasio belok kanan yang tinggi menunjukkan nilai FR kritis yang tinggi (FR > 0,8), maka rencana fase alternatif dengan fase terpisah untuk lalu lintas belok kanan mungkin tepat. Larangan satu atau lebih belokan kanan biasanya meningkatkan kapasitas, terutama jika hal ini mengakibatkan pengurangan jumlah tahapan yang diperlukan.

Pada studi penjajakan ini survei dilakukan pada simpang tiga arah tak bersinyal Jalan Klambir 5 – Jalan Stasiun Lama Medan.Data lalu lintas berupa volume kendaraan, komposisi dan arah pergerakan diolah dengan menggunakan model MKJI (1997).

Gambar 3.2: Bagan alir penelitian.
Gambar 3.2: Bagan alir penelitian.

Analisis Simpang

  • Analisis Simpang Tak Bersinyal

Rata-rata lebar pendekat jalan kecil = 2,75 m < 5,5 m, jadi jumlah lajur kedua arah adalah 2. Rata-rata lebar pendekat jalan besar/besar = 3 m < 5,5 m maka jumlah lajur kedua arah adalah 2. Jenis simpang untuk lengan simpang = 3, jumlah lajur pada pendekatan jalan utama dan jalan kecil masing-masing = 2, maka dari tabel 2.3 diperoleh IT.

Tipe simpang tersebut adalah tipe IT = 322, dari tabel 2.4 diketahui kapasitas dasar (CO) simpang tersebut = 2700 smp/jam. Tipe simpang pada lengan simpang = 3, jumlah lajur pada pendekatan jalan utama dan jalan kecil masing-masing = 2, maka dari tabel 2.3 diperoleh simpang jenis IT = 322. Nilai median jalan utama dari Tabel 2.6 untuk jalan utama tanpa median adalah FM = 1.

Dengan menggunakan rumus diatas maka diperoleh rentang nilai pilihan antrian QP Tabel 4.2 : Hasil analisa data pada kondisi alternatif 1. Dari hasil analisa pada kondisi alternatif 1 yaitu kombinasi pemasangan stop terlarang tandanya diperoleh nilai derajat kejenuhan (DS) = 0,63, nilai tersebut sudah dibawah nilai yang ditetapkan oleh MKJI (1997) yaitu 0,75.

Kesimpulan

Saran

American Association of State Highway and Transportation Official (AASHTO) (2001) A Policy on Geometric Design of Highways and Roads.

Lampiran Hasil Survei Lalu Lintas Hari/Tanggal : Senin, 13 Maret 2017

Lampiran Gambar

DATA DIRI PESERTA

RIWAYAT PENDIDIKAN

Gambar

Gambar 2.1: Bentuk-bentuk persimpangan berdasarkan geometrik (MKJI, 1997).
Gambar 2.2: Urutan nyala lampu lalu lintas (www.Google.co.id).
Gambar 2.3: Jenis-jenis konflik pada persimpangan (MKJI, 1997).
Gambar 2.4: Titik-titik konflik pada persimpangan 4 kaki dan persimpangan 3  kaki (MKJI, 1997)
+7

Referensi

Dokumen terkait

diakibatkan persimpangan jalan sering berubah menjadi daerah penyempitan.. Demikian halnya yang terjadi pada simpang Stagger Jl. .K.H.Saman Hudi- Jl.Kebangkitan nasional

Lokasi dan waktu penelitian dilakukan pada persimpangan Simpang Kisaran Meulaboh Aceh Barat, yang terdiri dari empat lengan persimpangan yaitu : lengan jalan sisimangaraja,

Berdasarkan alternatif penanggulangan Kemacetan pada Persimpangan Parak Laweh perlu dilakukan peningkatan klasifikasi jalan jalan yang semula jalan lokal menjadi jalan

Persimpangan tak bersinyal dan jalan masuk pada jalan raya dengan lalulintas cepat adalah keadaan dimana lalulintas lain menggunakan sebagian kapasitas yang

Dari permasalahan di atas nantinya akan terjadi peningkatan volume pada persimpangan tersebut, sehingga perlu adanya analisa dan evaluasi baik kinerja pengaturan lalu

Pada persimpangan di jalan Jenderal Sudirman kota Pangkalpinang memiliki arus lalu lintas yang cukup padat pada persimpangan Gabek, simpang Mitro, dan simpang

Persimpangan tak bersinyal dan jalan masuk pada jalan raya dengan lalulintas cepat adalah keadaan dimana lalulintas lain menggunakan sebagian kapasitas yang

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa kinerja persimpangan Kejaksaan Sukoharjo kurang efektif karena pada saat dibukanya jalur