E1101211040 Andhar Hibatullah Adji Saroyo
Analisis Krisis Sosial Media
Pada Kasus “EO Pesona Kulminasi Kena Blacklist”
Berita yang dipilih
1 Juni 2021 Perusahaan MDM
Latar Belakang
kasus ini menciptakan krisis sosial media dengan cepat.
Bagaimana tidak, pertemuan di DPRD Kota Pontianak menjadi titik kulminasi (maaf, tidak bisa menahan diri untuk tidak menggunakan kata itu!) ketegangan terkait tarif tiket dan stand di acara Pesona Kulminasi.
Ketegangan ini memuncak dengan Ketua DPRD,
Satarudin, yang memutuskan untuk memblacklist EO tersebut dari event-event Pemkot Pontianak.
Berita yang dipilih
1 Juni 2021 Perusahaan MDM
Krisis
Dalam era media sosial, informasi menyebar cepat, dan situasi ini bisa memicu reaksi kuat dari masyarakat
online. Mungkin saja ada gelombang kritik terhadap EO tersebut, serta diskusi dan komentar yang intens di platform sosial media. Ketika sebuah peristiwa
kontroversial terjadi, kemungkinan besar netizen akan mengekspresikan pandangan mereka secara langsung di media sosial, mengakibatkan reputasi EO tersebut dapat terguncang.
Berita yang dipilih
1 Juni 2021 Perusahaan MDM
Jenis Krisis
Selain itu, pernyataan Ketua DPRD yang
mengungkapkan kekesalannya terhadap tarif yang
dikenakan dan ketidakprofesionalan penyelenggara bisa menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Masyarakat mungkin ikut serta dalam debat online tentang apakah tarif tersebut pantas atau tidak, serta menyuarakan pandangan mereka terkait tindakan penyelenggara acara.
Berita yang dipilih
1 Juni 2021 Perusahaan MDM
Dampak Kasus
Pihak-pihak terlibat, termasuk EO, Disporapar, dan anggota DPRD, mungkin juga akan merespons secara publik melalui media sosial untuk memberikan
penjelasan atau membela diri. Oleh karena itu,
manajemen krisis sosial media akan menjadi bagian krusial dalam menanggapi situasi ini.
Berita yang dipilih
1 Juni 2021 Perusahaan MDM
Cara Mengatasi
Untuk mengatasi krisis sosial media yang dihasilkan dari kasus ini,
langkah pertama adalah dengan segera merespons secara proaktif di platform sosial media. EO, Disporapar, dan anggota DPRD perlu
memberikan penjelasan yang jelas dan transparan terkait ketegangan tarif dan blacklisting tersebut. Mereka dapat menyampaikan
komitmen untuk mengevaluasi kebijakan tarif dan memastikan
transparansi dalam penyelenggaraan acara di masa depan. Selain itu, interaksi positif dengan netizen melalui respons yang sopan dan
informatif dapat membantu meredakan ketegangan online. Upaya untuk memperbaiki reputasi dapat dilakukan dengan berkomunikasi secara terbuka, mengakui kesalahan (jika ada), dan menunjukkan langkah-langkah perbaikan yang akan diambil untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.