TUGAS AKHIR
`Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Meraih Gelar Sarjana Pada Fakultas Teknik Program Studi Sipil
Universitas Islam Riau Pekanbaru
Disusun oleh : ABDUSSALAM
153110245
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU 2021
1. Karya tulis ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik (Strata Satu), baik di Universitas Islam Riau Maupun di Perguruan Tinggi Lainnya;
2. Karya tulis ini adalah merupakan gagasan, rumusan penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain kecuali arahan dosen pembimbing;
3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat orang lain kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka;
4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila kemudian hari terdapat penyimpangan dan tidak dibenarkan dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik dan sanksi lainnya sesuai dengan norma yang berlaku di Perguruan Tinggi.
Pekanbaru, 11 Maret 2021
ABDUSSALAM 153110245
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Nikmat dan Hidayah-Nya berupa akal, pikiran serta kesehatan jasmani dan rohani kepada penulis sehingga tetap bersemangat untuk menyelesaikan tugas akhir ini sesuai dengan harapan. Salawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW, berkat segala perjuangan bisa menikmati manisnya ilmu pengetahuan hingga saat ini.
Melalui proses yang panjang akhirnya penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan judul ”ANALISIS LOKASI RAWAN KECELAKAAN LALU LINTAS RUAS JALAN BANGKINANG – RANTAU BERANGIN KM 60 – KM 100 KABUPATEN KAMPAR” yang disusun sebagai persyaratan mengikuti kurikulum akademis pada Program Studi Teknik Sipil Universitas Islam Riau sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik (ST).
Mengingat keterbatasan kemampuan yang penulis miliki, penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari kata kesempurnaan dan tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis menerima kritikan dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca demi kesempurnaan tugas akhir ini.
Pekanbaru, Maret 2021 Penulis
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR NOTASI ... vi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan Penelitian ... 2
1.4. Manfaat Penulisan ... 3
1.5. Batasan Masalah ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Umum ... 4
2.2. Penelitian Terdahulu ... 4
2.3. Keaslian Penelitian ... 6
BAB III LANDASAN TEORI ... 7
Kecelakaan Lalu Lintas ... 7
Faktor Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas ... 9
Sistem Pelaporan Kecelakaan ... 12
Klasifikasi Korban Kecelakaan Lalu Lintas ... 13
Analisa Kecelakaan Lalu Lintas ... 14
Identifikasi Kecelakaan terhadap Black Spot dan Black Site ... 16
Volume Lalu Lintas ... 17
Satuan mobil penumpang (SMP) ... 19
BAB IV METODE PENELITIAN ... 21
Lokasi Penelitian ... 25
4.2. Alat Penelitian ... 21
4.3. Teknik Penelitian ... 21
4.4. Tahapan Penelitian ... 22
5.3. Volume Lalu Lintas ... 28
5.4. Identifikasi Black Spot Berdasarkan Accident Rate. ... 30
5.5. Identifikasi Black Site Berdasarkan Accident Rate ... 32
5.6. Kecelakaan Berdasarkan Waktu Kejadian ... 34
5.7. Kecelakaan Berdasarkan Jenis Kendaraan ... 35
5.8. Kecelakaan Berdasarkan Korban ... 37
5.9. Faktor Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas ... 39
5.10. Kecelakaan Berdasarkan Tipe Kecelakaan (RUM)... 43
5.11. Penelitian Rinci Lokasi Rawan Kecelakaan Lalu Lintas ... 45
5.12. Usaha Pencegahan dan Penanggulangan Kecelakaan Lalu Lintas ... 57
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 59
6.1. Kesimpulan ... 59
6.2. Saran ... 60
DAFTAR PUSTAKA ... 61
Tabel 5. 2 Volume Lalu Lintas Harian Rata – rata (LHR) Ruas Jalan Bangkinang – Rantau Berangin Kabupaten Kampar ... 29 Tabel 5. 3 Hasil Perhitungan Accident Rate dengan Black Spot Ruas Jalan
Bangkinang – Rantau Berangin Kabupaten Kampar. ... 31 Tabel 5. 4 Hasil Perhitungan Accident Rate dengan Black Site pada Ruas
Jalan Bangkinang – Rantau Berangin Kabupaten Kampar (2014 – 2018) ... 33 Tabel 5. 5 Jenis Kendaraan yang terlibat Kecelakaan Lalu Lintas Ruas Jalan
Bangkinang - Rantau Berangin Kabupaten Kampar (2014 – 2018). ... 36 Tabel 5. 6 Penyebab Terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas Pada Ruas Jalan
Bangkinang – Rantau Berangin Kabupaten Kampar ... 42 Tabel 5. 7 Tipe Kecelakaan Lalu Lintas Ruas Jalan Bangkinang – Rantau
Berangin Kampar (2014 – 2018)... 43
Rantau Berangin. ... 34 Gambar 5.2 Jumlah Korban Kecelakaan Lalu Lintas Ruas Jalan
Bangkinang – Rantau Berangin (2014 – 2018) ... 37 Gambar 5.3 Klasifikasi Korban Kecelakaan Lalu Lintas Menurut Usia
Korban Selama Lima Tahun (2014 – 2018) ... 38 Gambar 5.4 Lokasi Daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas pada
Kilometer 69 Desa Kuok ... 46 Gambar 5.5 Lokasi Daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas pada
Kilometer 69 Desa Kuok ... 47 Gambar 5.6 Lokasi Daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas Kabupaten
Kampar Km 71 Desa kuok ... 48 Gambar 5.7 Lokasi Daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas Kabupaten
Kampar Km 76 Desa Lereng ... 49 Gambar 5.8 Lokasi Daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas Kabupaten
Kampar Km 78 Desa Lereng ... 50 Gambar 5.9 Lokasi Dearah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas pada Km 79
Desa Lereng Kabupaten Kampar ... 51 Gambar 5.10 Lokasi Daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas Kabupaten
Kampar Km 81 Desa Merangin ... 52 Gambar 5.11 Lokasi Daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas Kabupaten
Kampar Km 84 Desa Merangin ... 53 Gambar 5.12 Lokasi Daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas Kabupaten
Kampar Km 87 Desa Pulau Gadang ... 54 Gambar 5.13 Lokasi Daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas Kabupaten
Kampar Km 90 Desa Pulau Gadang ... 55 Gambar 5.14 Lokasi Daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas Kabupaten
Kampar Km 92 Desa Tanjung Alai – Batu Besurat ... 56
C = Jumlah Kecelakaan (kematian atau korban) L = Panjang dari bagian jalan raya (km)
LHR = Lalu Lintas Harian rata – rata
N = Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas dalam penelitian M = Panjang Total Ruas Jalan dalam Kilometer P = Populasi dari daerah
R = Angka Kecelakaan Lalu Lintas Total per km setiap tahun Rsc = Angka Kecelakaan pada bagian jalan raya (dalam kecelakaan
per satu juta kendaraan)
Rsp = Angka Kecelakaan untuk spot (dalam kecelakaan persatu kendaraan yang memasuki spot)
Smp = Satuan Mobil Penumpamg V = Volume Lalu Lintas
ABDUSSALAM 153110245
Abstrak
Berdasarkan data laporan kejadian kecelakaan lalu lintas Polres Kampar, pada ruas jalan Bangkinang – Rantau Berangin telah banyak terjadinya kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kerugian material, luka ringan, luka berat, hingga kematian.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kecelakaan lalu lintas didaerah tersebut dan untuk mendapatkan nilai Accident Rate yaitu Black Spot dan Black Site pada ruas Jalan Bangkinang – Rantau Berangin.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Deskriptif Kualitatif berdasarkan data primer dan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait antara lain Kepolisian Satlantas Kampar serta berhubungan dengan kecelakaan lalu lintas.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pada ruas jalan Bangkinang - Rantau Berangin dapat diidentifikasi nilai Accident rate yang merupakan Black Spot adalah Desa Pulau Gadang – Tanjung Alai dengan Accident rate sebesar 2,069 dan juga Desa Tanjung Alai – Batu Bersurat dengan nilai Accident rate sebesar 2,069. Sedangkan untuk Accident rate terhadap Black Site antara lain yaitu pada ruas jalan Tanjung alai – Batu besurat dengan Accident rate 0,295 disusul Desa Pulau Gadang – Tanjung Alai adalah 0,258 dan diikuti Desa Kuok – Desa Lereng dengan Accident rate 0,240. Dari hasil analisis peneliti menyimpulkan bahwa daerah tersebut tidak termasuk daerah rawan kecelakaan lalu lintas atau Black site karena nilai accident rate wilayah tersebut tidak sampai 0,3.
Kata kunci : Accident rate, Black Spot, Black Site, Kecelakaan, Lalu Lintas,
ANALYSIS OF TRAFFIC ACCIDENT LOCATIONS IN BANGKINANG - RANTAU BERANGIN KM 60 - KM 100
KAMPAR DISTRICT
Abstract
Based on the data from the Kampar Police traffic accident report, on the Bangkinang - Rantau Berangin road section there have been many cases of traffic accidents that have caused material loss, minor injuries, serious injuries, and even death.
This study aims to determine the level of traffic accidents in the area. and to obtain the Accident Rate value, namely the Black Spot and Black Site on Jalan Bangkinang - Rantau Berangin.
The method used in this research is descriptive qualitative method based on primary data and secondary data obtained from related agencies, including the Kampar Traffic Police and related to traffic accidents.
The results of the analysis show that on the Bangkinang - Rantau Berangin road section, the Accident rate value which is the Black Spot can be identified, namely Pulau Gadang - Tanjung Alai Village with an Accident rate of 2.069 and also Tanjung Alai - Batu Bersurat Village with an Accident rate of 2.069. Meanwhile, the Accident rate for the Black Site includes, among others, the Tanjung alai - Batu besurat road section with an Accident rate of 0.295 followed by Pulau Gadang - Tanjung Alai Village is 0.258 and followed by Kuok Village - Slope Village with an Accident rate of 0.240. From the results of the analysis, the researchers concluded that the area is not a black site prone to traffic accidents because the area's accident rate is not up to 0,3.
Keywords: Accident rate, Black Spot, Black Site, Accident, Traffic
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pesatnya pembangunan dilaksanakan di Provinsi Riau yang wilayahnya merupakan satu kesatuan ekonomi dengan Sumatera Barat, Jambi, dan Sumatera Utara, maka pembangunan transportasi merupakan tulang punggung untuk memperlancar hubungan ekonomi antar wilayah.
Pembangunan transportasi dituntut untuk mempelopori jalur penghubung antar daerah produksi, dan daerah pemasaran. Kondisi ini harus berhasil untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, perubahan tata nilai masyarakat pada gilirannya akan menuntut pelayanan lalu lintas dengan tingkat keselamatan, keamanan, kecepatan, kelancaran, kenyamanan lebih tinggi, ragam lebih banyak, dan kapasitas lebih besar, serta terpadu dengan moda transportasi.
Pada UU No.14 Tahun 1992 Pasal 8, Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dijelaskan bahwa untuk keselamatan, keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas serta kemudahan bagi pemakaian jalan, jalan wajib dilengkapi dengan rambu – rambu, marka jalan, alat pengaman pemakai jalan, maupun fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas.
Tingkat keselamatan di perjalanan yang baik maka masyarakat akan merasa aman untuk melakukan kegiatan perjalanan seperti bekerja, berdagang, sekolah maupun pergi rekreasi. Kecelakaan lalu lintas merupakan peristiwa yang terjadi pada suatu arus lalu lintas akibat adanya kesalahan pada sistem pembentuk lalu lintas yang melibatkan manusia sebagai pengemudi, kendaraan, jalan, dan lingkungan sekitar. Kecelakaan lalu lintas merupakan masalah yang cukup sering dijumpai pada dibeberapa jaringan jalan di Indonesia, hal tersebut memerlukan penanganan serius mengingat besarnya kerugian yang diakibatkannya seperti pada Kabupaten Kampar.
Berdasarkan data laporan kejadian kecelakaan lalu lintas Polres Kampar, pada ruas jalan Bangkinang – Rantau Berangin telah banyak terjadinya kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kerugian material, luka ringan, luka berat, hingga kematian. Lalu lintas kendaraan yang melintas diruas jalan tersebut mayoritas jarak jauh, sehingga yang mana hal tersebut dapat mengakibatkan kecelakaan. Dari masalah tersebut maka perlu mendapatkan masukan kepada pemerintah selaku pemegang kebijakan tentang seberapa besar angka kecelakaan yang ditinjau dari volume lalu lintas, panjang jalan, dan juga daerah yang rawan terjadinya kecelakaan. oleh karena itu penulis berkeinginan untuk menganalisis tingkat kecelakaan lalu lintas pada ruas jalan Bangkinang – Rantau Berangin sebagai pemilihan bahan Tugas Akhir.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah yang telah disebut diatas, maka pada penelitian ini penulis ingin menganalisa:
1. Bagaimana tingkat kecelakaan lalu lintas pada ruas Jalan Bangkinang – Rantau Berangin mulai dari tahun 2014 - 2018?
2. Daerah mana sajakah yang sering terjadinya kecelakaan (Black Spot dan Black Site) pada ruas jalan tersebut?
3. Apa upaya yang perlu dilakukan untuk mengurangi masalah kecelakaan lalu lintas pada ruas jalan Bangkinang – Rantau Berangin?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah maka tujuan dari penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat kecelakaan ditinjau dari segi volume lalu lintas dan panjang tiap segmen pada ruas jalan Bangkinang – Rantau Berangin.
2. Untuk mendapatkan nilai Accident Rate yaitu Black Spot dan Black Site pada ruas Jalan Bangkinang – Rantau Berangin.
3. Untuk mendapatkan solusi dalam mengatasi masalah kecelakaan lalu lintas pada ruas Jalan Bangkinang – Rantau Berangin.
1.4. Manfaat Penulisan
Dari penelitian ini penulis berharap dapat memberikan kontribusi yang berguna untuk masyarakat Propinsi Riau dan Kabupaten Kampar yang kaitannya dengan masalah kecelakaan lalu lintas.
Adapun manfaat yang didapat pada penelitian, yaitu:
1. Untuk pemerintah dapat lebih melengkapi fasilitas keselamatan lalu lintas untuk pengendara, sehingga pengendara dapat merasa aman, nyaman, dan lancar pada saat melakukan perjalanan yang jauh.
2. Untuk pengguna jalan dapat mengetahui daerah rawan kecelakaan lalu lintas, sehingga dapat lebih berhati-hati pada saat diperjalanan.
3. Menjadi referensi bagi mahasiswa mengenai perhitungan tingkat kecelakaan lalu lintas berdasarkan Accident Rate untuk Black spot dan Black site.
1.5. Batasan Masalah
Agar penelitian ini tidak menyimpang dari tujuan yang ditinjau dan lebih terarah serta terpusat pada rumusan masalah yang telah ditentukan sebelumnya, maka penelitian ini hanya difokuskan sebagai berikut:
1. Penelitian hanya membahas tentang tingkat kecelakaan lalu lintas serta karakteristik kecelakaan kendaraan yang terlibat dan korban kecelakaan pada saat terjadi kecelakaan.
2. Periode data yang diambil selama 5 tahun (2014 – 2018).
3. Sumber data diperoleh dari instansi (data sekunder), yaitu Polres Kampar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Umum
Tinjauan pustaka berisikan tentang penelitian terdahulu yang ada hubungannya dengan penelitian yang dilakukan untuk memberikan solusi bagi penelitian yang sedang dilakukan dalam permasalahan yang tidak terpecahkan demi mendapatkan hasil penelitian yang memuaskan.
2.2. Penelitian Terdahulu
Setiawati (2019) telah melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Titik Rawan Kecelakaan Lalu Lintas pada Ruas Jalan Provinsi (Studi kasus: Jl. Raya Legok dan Jl. Raya Kelapa Dua Kabupaten Tangerang). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan nilai titik rawan kecelakaan lalu lintas dengan menggunakan metode Cusum (Cumulative Summary) untuk mengidentifikasikan Black Spot dan Metode Z-Score. Data yang digunakan adalah data laporan Laka Lantas Polres Kab. Tangerang dan Laka Polres Tangerang Selatan tahun 2013 – 2017 yang dikelompokkan berdasarkan karakteristik. Hasil analisis penelitian menghasilkan segmen Jalan Raya Legok – Jalan Raya Kelapa Dua mempunyai daerah rawan kecelakaan yaitu pada segmen 5 (PT Sukses Tunggal Mandiri – PT Jotun) pada (sta 6+300 – 7+350) dengan nilai Cusum diambil paling besar = 3,92 dan Z-Score = 0,72. Dimana lokasi titik rawan kecelakaan di segmen ini berada didepan PT. Jotun pada STA 7+350. Karakteristik yang terjadi yaitu waktu kecelakaan didominasi pada waktu 18.01 – 05.59 WIB 62%, tingkat kecelakaan yang terjadi meninggal dunia 22%, terlindas 14%, tabrak lari 27%, tabrak penyembrang jalan atau pejalan kaki 7%, kurang konsentrasi 10%, kecepatan tinggi 20%, 15 hingga 20 tahun 26%. Hasil dari analisis dapat disimpulkan black spot Jalan Raya Legok – Jalan Raya Kelapa Dua berdasarkan kondisi lapangan dapat di tanggulangi dengan memasang rambu hati – hati dan rambu pertigaan jalan, dan di tambah pita kejut (Rumble Strip) Jalan.
Waruwu (2018) telah melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kecelakaan Lalu Lintas Pada Ruas Jalan Teratak Buluh – Muara Lembu Kabupaten Kuantan Singingi”. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahuhi tingkat kecelakaan lalu lintas pada ruas jalan Teratak Buluh – Muara Lembu Kabupaten Kuantan Singingi. Metode yang digunakan yaitu analisis perhitungan black spot dan black site berdasarkan accident rate. Maka hasil yang didapat dari tahun 2013 – 2017 menunjukkan bahwa pada ruas jalan Teratak Buluh – Muara Lembu dapat diidentifikasikan bahwa nilai Accident Rate yang merupakan Black Spot adalah Desa Perhentian Raja – Simalinyang dengan Accident Rate sebesar 1,654 dan Desa Lipat Kain – Muara Lembu dengan nilai Accident Rate sebesar 1,007 dan untuk Accident Rate terhadap Black Site antara lain Accident Rate sebesar 0,275 dan untuk Desa Perhentian Raja – Simalinyang Accident Rate sebesar 0,191 untuk Desa Kubang Jaya – Desa Teratak Buluh.
Hijrin (2013) telah melakukan penelitian dengan judul “Analisa Black Spot dan Black Site pada ruas Jalan Lintas Pekanbaru – Duri (Km 96 – Km 122) ditinjau dari audit keselamatan jalan Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau”. Tujuan penelitian untuk mengetahui besarnya angka kecelakaan lalu lintas pada ruas jalan tersebut dengan metode analisa perhitungan black spot dan black site berdasarkan accident rate ditinjau dari audit keselamatan jalan. Hasil analisis didapati kecelakaan lalu lintas pada ruas jalan Pekanbaru – Duri meningkat dari tahun 2007 sampai 2011 sebesar 40%. Hasil perhitungan kecelakaan tahun (2007 – 2011) pada ruas jalan lintas Pekanbaru – Duri diidentifikasi Accident Rate tertinggi untuk Black Spot adalah pada ruas jalan Desa Muara Besung –Kelurahan Balai Raja 9 (Km 114 – Km 122) dengan accident rate sebesar 1,43 dan accident rate tertinggi untuk black site adalah pada ruas jalan Desa Pulai – Desa Muara Besung (Km 99 – Km 100) dengan accident Rate sebesar 0,80. Faktor kecelakaan murni manusia sebesar 30,83%, murni jalan 11,67%, murni kendaraan 3,33%, manusia dan jalan 34,17%, manusia dan kendaraan 3,33%, jalan dan kendaraaan 10,83%, manusia, jalan dan kendaraan 5,83%.
2.3. Keaslian Penelitian
Keaslian penelitian ini berdasarkan pada beberapa penelitian terdahulu yang mempunyai karakteristik yang hampir sama dalam hal teori, meskipun berbeda dalam lokasi. Penelitian ini berada di lokasi ruas jalan Bangkinang – Rantau Berangin Km 60 – Km 100. Metode analisis yang digunakan yaitu berdasarkan accident rate. Dari perbedaan tersebut dapat disimpulkan bahwa seluruh peneitan ini adalah benar hasil penelitian penulis dan belum pernah diteliti sebelumnya sebagai objek penelitian tugas akhir
BAB III LANDASAN TEORI
Kecelakaan Lalu Lintas
Kecelakaan lalu lintas merupakan suatu peristiwa yang tidak dapat diduga dan tidak sengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lainnya yang mengakibatkan korban manusia dan kerugian harta benda (PP No.22 Tahun 2009).
Hambuger (1978) menyebutkan bahwa kecelakaan adalah suatu peristiwa yang terjadi pada suatu pergerakan lalu lintas akibat adanya kesalahan pada sistem pembentuk lalu lintas, yaitu pengemudi (manusia), kendaraaan, jalan, dan lingkungan. Pengertian kesalahan dapat dilihat sebagai tidak sesuai standar atau peraturan berlaku ataupun kelalaian dibuat manusia.
Kejadian kecelakaan lalu lintas sangat beragam baik dari proses kejadian maupun faktor penyebab. Berdasarkan proses kejadiannya, kecelakaan lalu lintas dapat di kelompokkan sebagai berikut :
1. Kecelakaan tunggal yaitu peristiwa kecelakaan yang hanya melibatkan satu kendaraan.
2. Kecelakaan ganda yaitu peristiwa yang melibatkan kecelakaan dua kendaraan.
3. Kecelakaan beruntun atau karambol yaitu peristiwa kecelakaan melibatkan tiga kendaraan atau lebih.
Definisi kecelakaan lalu lintas berdasarkan kriteria korban menurut Jasa Marga adalah :
1. Luka ringan adalah keadaan korban mengalami luka - luka yang tidak membahayakan jiwa dan atau tidak memerlukan pertolongan atau perawatan lebih lanjut di rumah sakit. Misalnya luka kecil dengan pendarahan sedikit dan korban sadar, luka bakar, keseleo, dari anggota badan yang ringan tanpa komplikasi, penderita tersebut dalam keadaan sadar tidak pingsan dan muntah - muntah.
2. Luka berat adalah keadaan korban mengalami luka - luka yang dapat membahayakan jiwa dan memerlukan pertolongan atau perawatan lebih lanjut dengan segera di rumah sakit. Misalnya luka yang menyebabkan keadaan penderita menurun. biasanya luka yang mengenai kepala dan batang kepala, patah tulang anggota badan dengan komplikasi disertai rasa nyeri yang hebat dan pendarahan hebat, benturan atau luka yang mengenai badan penderita menyebabkan kerusakan alat - alat dalam.
3. Meninggal adalah keadaan dimana penderita terdapat tanda - tanda kematian secara fisik. Korban meninggal adalah korban kecelakaan yang meninggal di lokasi kejadian, meninggal selama perjalanan kerumah sakit, atau meninggal ketika dirawat dirumah sakit.
Matson (1955) menyatakan bahwa prinsip penggolongan kecelakaan lalu lintas adalah berdasarkan pada: fatal, luka tidak fatal, kerusakan materi.
Penggolongan tingkat dua adalah berdasarkan lokasi, misalnya rurual atau urban penggolongan collision dan non collission (berdasarkan lokasi).
Diwirjo (1992) menyatakan bahwa terjadinya kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh tiga faktor (a) manusia (b) kendaraan (c) lingkungan. Maka kecelakaan lalu lintas terjadi, tidak terlepas dari ketiga faktor tersebut.
Pignataro (1973) mengklasifikasikan definisi kecelakaan lalu lintas kendaraan bermotor sebagai berikut.
1. Keluar jalur / jalan (hilang kendali / selip)
2. Tanpa tabrakan dijalan / kecelakaan sendiri dijalan a. Berputar jalan
b. Tanpa tabrakan lain dijalan 3. Tabrakan di jalan
a. Dengan pejalan
b. Dengan kendaraan bermotor lain c. Dengan kendaraan diparkir d. Dengan binatang
e. Dengan pengendara sepeda f. Dengan kereta api
g. Dengan benda tak bergerak h. Dengan benda lain
4. Sudut tabrakan
a. Tabrakan depan – belakang b. Menyambar dari samping c. Tabrakan depan - depan d. Tabrakan kendaraan mundur
Faktor Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas
Hulbert (1981) menyimpulkan bahwa dari pencatatan kecelakaan lalu lintas yang telah banyak terjadi tidak lepas dari masalah kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh pengemudi yang mengantuk. Kemungkinan besar mengantuk menjadi penyebab lebih dari 20 hingga 30 persen dari kecelakaan lalu lintas. lebih jauh ia menyatakan bahwa mengantuk karena kelelahan mengemudi memiliki pengaruh besar sebagai penyebab kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh pengemudi.
Pignataro (1973) menyatakan bahwa kebanyakan kecelakaan lalu lintas diakibatkan oleh kombinasi faktor antara lain: perilaku pengemudi ataupun pejalan kaki, keadaan cuaca buruk dan pandangan buruk.
Forbes (1981) menyatakan bahwa batasan yang luas dari perilaku manusia yang terlibat pengendara sepeda motor mengarah kepada kepentingan yang mendesak dari faktor manusia dalam keselamatan jalan raya.
Pada umumnya kecelakaan lalu lintas dapat disebabkan oleh banyak faktor.
Faktor - faktor tersebut dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu:
1. Keadaan pengemudi a) Keadaan tubuh
Keadaan pengemudi yang memiliki kekurangan fisik dalam penglihatan pendengaran dan sebagian lainnya merupakan salah satu penyebab kecelakaan karena mereka sulit untuk mengetahui keadaan jalan dengan sempurna.
b) Reaksi
Kadang - kadang pengemudi harus menghadapi keadaan lalu lintas pada waktu harus mengambil keputusan. Ini sangat penting karena pengemudi lebih cepat mengambil keputusan atau bereaksi, lebih kecil pula kemungkinan terjadi suatu kecelakaan.
c) Kecakapan
Pengemudi yang memiliki SIM belum tentu menjadi pengemudi yang baik karena selain lulus dari ujian orang harus mendapat cukup pengalaman yang akan memberikan cukup kecakapan dan pengetahuan tentang bagaimana cara membawa kendaraan dengan selamat dan tanpa melanggar peraturan lalu lintas.
Kecakapan ini sangat penting bagi pengemudi untuk menguasai kendaraan yang dikemudikannya. Walaupun demikian, tidak berarti bahwa seseorang yang memiliki kecakapan tidak akan mendapat kecelakaan.
d) Gangguan terhadap perhatian
Gangguan terhadap perhatian atau penglihatan dapat menyebabkan kecelakaan, karena disebabkan kelengahan yang berlansung beberapa detik saja.
Hal ini bisa menyebabkan pengemudi tidak menguasai panca indera dan anggota badannya. Pengemudi dalam keadaan ini sangat mudah mendapat kecelakaan.
(H.S. Djayoeman, 1976)
e) Kriteria pengemudi sebagai penyebab kecelakaan
Kriteria pengemudi sebagai penyebab kecelakaan dapat disebabkan oleh kesalahan pengemudi itu sendiri, antara lain sebagai berikut :
1) Pengemudi kurang antisipasi adalah pengemudi yang tidak mampu memperkirakan bahaya yang mungkin dapat terjadi sehubungan dengan kondisi kendaraan dan lingkungan (kendaraan lain).
2) Pengemudi lengah adalah pengemudi yang melakukan kegiatan lain sambil mengemudi yang dapat mengakibatkan terganggunya konsentrasi pengemudi, misalnya : melihat kesamping menyalakan api rokok, mengambil sesuatu atau berbincang - bincang dengan penumpang.
3) Pengemudi mengantuk adalah keadaan dimana pengemudi kehilangan daya reaksi dan konsentrasi akibat kurang istirahat (tidur) dan atau sudah mengemudi lebih dari 5 Jam tanpa istirahat.
4) Pengemudi mabuk adalah keadaan dimana pengemudi hilang kesadaran karena pengaruh obat-obatan, alkohol atau narkotika.
5) Jarak rapat adalah keadaan dimana pengemudi mengambil jarak dengan kendaraan didepan kurang dari jarak pandang henti (jarak yang diperlukan untuk menghentikan kendaraan dihitung mulai saat melihat sesuatu, bereaksi menginjak pedal rem sampai kendaraan berhenti) (Jasa Marga, 1997).
2. Keadaan Kendaraan
Kerusakan pada suatu bagian dari kendaraan sering kali menyebabkan kecelakaan. Dalam hal ini harus diadakan pemeriksaan mengenai ban, lampu, rem dengan memperhatikan umur kendaraan itu. Selain itu muatan (ukuran, berat, keadaan dan cara memuat) yang berlebihan seringkali menyebabkan suatu kendaraan mengalami kecelakaan.
3. Keadaan Jalan dan Lingkungan
Keadaan jalan dan lingkungan juga merupakan salah satu penyebab terjadinya kecelakaan dan berhubungan dengan kondisi pengemudi kendaraan pada saat berada pada situasi tertentu, seperti berikut ini :
a) Keadaan jalan
Keadaan jalan yang kurang sempurna sering menimbulkan banyak kecelakaan, misal jalan yang licin terutama diwaktu hujan, lubang besar yang sulit dihindari pengemudi, bekas minyak di jalan dan jalan rusak atau tidak sempurna.
b) Perubahan arah jalan
Pengemudi yang tidak cepat dalam menguasai perubahan arah di jalan, misalnya belokan dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan.
c) Rambu - rambu lalu lintas
Pengemudi sering tidak memperhatikan rambu- rambu lalu lintas sehingga menyebabkan terjadinya kecelakaan.
d) Geometri jalan kurang sempurna
Perencanaan geometri jalan yang kurang sempurna, misal : superelevasi pada tikungan terlalu curam atau landai, jari-jari tikungan terlalu kecil, pandangan bebas pengemudi terlalu sempit, kombinasi alinemen horizontal dan veertikal kurang sesuai sebagai contoh tikungan yang menanjak yang tidak bisa melihat kendaraan lawan, penurunan atau pendakian jalan yang terlalu curam dapat menyebabkan kecelakaan.
e) Penghalang pemandang
Umumnya penghalang pemandangan pengemudi terdiri dari kendaraan - kendaraan lain yang sedang berjalan maupun berhenti gedung – gedung, pohon - pohon dan penghalang lainnya yang tidak memungkinkan pengemudi mempunyai pandangan yang luas dan bebas atas jalan yang dilaluinya dapat menimbulkan kecelakaan.
f) Keadaan yang mengurangi penglihatan
Cuaca yang buruk atau gelap tidak menutup sama sekali penglihatan akan tetapi setidaknya mengurangi penglihatan dan dapat mengakibatkan kecelakaan.
g) Sinar atau menyilaukan
Benda – benda atau lampu lampu yang menyilaukan penglihatan pengemudi seringkali menyebabkan terjadinya kecelakaan.
Sistem Pelaporan Kecelakaan
Sistem pelaporan kecelakaan dilakukan dengan mengumpulkan data dari pihak yang terlibat dalam kecelakaan ditempat kejadian kecelakaan. Sistem pemprosesan data dengan komputer dapat menunjukkan lokasi kecelakaan dengan tepat yang berhubungan dengan panjang jalan dan yang mengikat dengan tempat kejadian serta diidentifikasi posisi atau jarak dari jalan. Data kecelakaan disatukan dan memisahkan lokasi – lokasi dimana kecelakaan tersebut terjadi dan pada waktu yang sama membuat data yang berhubungan dengan geometri jalan.
Pignataro (1973) menyatakan bahwa sistem laporan kecelakaan lalu lintas sangat penting untuk menganalisa kecelakaan lalu lintas dan pencegahan kecelakaan lalu lintas dari segi rekayasa, pendidikan dan peraturan. Laporan kecelakaan lalu lintas harus dibuat untuk semua jenis yang melibatkan korban meninggal dunia, luka ataupun kerugian material. Informasi tersebut lengkap dalam laporan kecelakaan lalu lintas antara lain : a) waktu kecelakaan lalu lintas, b) lokasi kecelakaan lalu lintas, c) data pengemudi, d) kendaraan yang terlibat, e) jumlah korban, f) kerusakan pada kendaraan, g) lokasi dan penjelasan mengenai rambu lalu lintas, h) peraturan yang ditetapkan, i) keadaan jalan, j) pelanggaran, k) penyebab, l) diagram kecelakaan lalu lintas.
Klasifikasi Korban Kecelakaan Lalu Lintas
Korban kecelakaan lalu lintas merupakan akibat dari terjadinya kecelakaan yang berdampak lansung pada kondisi korban tersebut. Menurut Baker (1986) mendefinisikan bahwa penampilan, korban kecelakaan lalu lintas digolongkan dalam lima kategori, antara lain sebagai berikut :
1. No Injury, yaitu korban pertanda mengalami luka badan dari kecelakaan lalu lintas dimana terlibat kategori mencakup bingung, terkejut, marah dan luka yang tidak diketahui sampai saat meninggalkan lokasi kecelakaan lalu lintas.
2. Fatal Injury, yaitu kecelakaan lau lintas dengan korban meninggal 90 hari (penyelidik) menyatakan korban meninggal apabila didapati ditempat atau telah menerima kabar dari rumah sakit bahwa korban telah meninggal.
3. Incapacitating Injury, yaitu kecelakaan lalu lintas yang membuat orang tidak dapat berjalan, mengemudi atau melakukan aktifitas normal seperti sebelum mengalami musibah, biasanya rawat inap diperlukan lamanya penderitaan tidak mempengaruhi klasifikasi.
4. Non – in Capacitating Envident Injury, yaitu korban selain korban fatal, yang disaksikan lansung oleh penyidik ditempat kejadian.
5. Possible Injury, yaitu korban dilaporkan yang tidak termasuk kategori fatal, Incapacitating atau Non Capacitating kategori ini biasanya pingsan sesaat, luka tidak nampak, pincang, keluhan nyeri dan pusing.
Analisa Kecelakaan Lalu Lintas
Kecelakaan lalu lintas di analisis menggunakan data yang ada dinyatakan dalam kecelakaan lalu lintas kendaraan Km / kendaraan atau data kecelakaan lalu lintas tersebut / kendaraan / pergerakan dituangkan dalam pergerakan peta untuk mengetauhi distribusi kecelakaan dan selanjutnya dilakukan identifikasi tempat - tempat yang sering terjadinya kecelakaan lalu lintas dan mempunyai peluang besar untuk dikelola dengan efektif. Selanjutnya yaitu dilakukan analisis yang lebih mendalam mengenai sebab – sebab kecelakaan lalu lintas yang meliputi peta situasi dan kondisi, pergerakan kondisi lingkungan dan cuaca. Biaya dan manfaat dihitung berdasarkan analogi dengan penanganan yang pernah dilakukan.
Malkamah (1995).
Hobbs (1995) tingkat kecelakaan lalu lintas berdasarkan pada (1) populasi, (2) kendaraan terdaftar, (3) data kecelakaan lalu lintas di kota maupun di luar kota, (4) jumlah kendaraan perkilometer. Kecelakaan per 10.000 orang pertahun, per 10.000 kendaraan, atau per 100.000.000 kendaraan Km umum digunakan.
Pignataro (1973) menyatakan tingkat kecelakaan lalu lintas dianggap sebagai ukuran resiko yang lebih baik dari frekuensi kecelakaan lau lintas itu sendiri dengan persamaan standar untuk menghitung tingkat adalah :
R = N×106
V ... (3.1) Dimana :
R = kecelakaan lalu lintas persejuta kendaraan N = jumlah kecelakaan lalu lintas dalam penelitian V = volume lalu lintas
Hobbs (1995) survey kecelakaan lalu lintas pada analisis dapat dibedakan menjadi dua jenis dasar dalam mendapatkan hasil dan informasi yaitu :
1. Survey mikro, yang memungkinkan ditempat – tempat tertentu yang berbahaya pada sistem jalan raya dapat diidentifikasikan dan penyebab dan dapat dievaluasi, lokasi – lokasi ini disebut titik rawan (Black Spot) dan sering memerlukan studi tempat secara terperinci.
2. Survey makro, dimana menghasilkan informasi kategori – kategori pemakai jalan dengan kendaraan dan lokasi yang dibagi berdasarkan waktu, jenis kendaraan dan pergerakan kendaraan seperti dibandingkan dan biasanya terbesar apabila terdapat lalu lintas campuran, khusus pada jalan – jalan campuran dipemukiman yang sudah tua daerah yang sempit, yang paling rendah pada jalan luar kota serta dirancang dengan baik dengan lampu lalu lintas pada jalan yang bebas hambatan.
Analisa kecelakaan lalu lintas dapat dilakukan dengan mengklasifikasikan dari beberapa aspek pengamatan terjadinya kecelakaan, antara lain :
1. Angka Kecelakaan per Km ( Accident rate per mile )
Kecelakaan lalu lintas ini berbahaya diekspresikan sebagai jumlah kecelakaan lalu lintas semua tipe per km dari setiap jalan.
R = A
L ... (3.2) Dimana :
R = Angka kecelakaan lalu lintas total per km setiap tahun A = Jumlah total dari kecelakaan lalu lintas yang terjadi setahun L = Panjang jalan dari bagian jalan dikontrol dalam km
2. Kecelakaan Lalu Lintas Berdasarkan Populasi
Dalam kehidupan bermasyarakat diekspresikan sebagai jumlah kematian lalu lintas (traffic fatality) per 100.000 populasi, angka ini menggambarkan perolehan kecelakaan lalu lintas semua kawasan.
R = B × 100.000
P ... (3.3) Dimana :
R = Angka kematian per 100000 populasi
B = Jumlah total kematian lalu lintas dalam setahun P = Populasi dari daerah
3. Kecelakaan Berdasarkan Kendaraan Km Perjalanan R = C × 100.000.000
V ... (3.4) Dimana :
R = Angka kecelakaan per 100.000.000
C = Jumlah kecelakaan (kematian atau korban luka) V = Kendaraan – km perjalanan dalam setahun
4. Angka kecelakaan untuk Spot di jalan raya dapat dihitung : Rsp = A ×1.000.000
365 × L × V ... (3.5) Dimana :
Rsp = Angka kecelakaan untuk spot
A = Jumlah kecelakaan selama periode yang dianalisis (dalam kecelakaan persatu juta)
L = Panjang dari bagian jalan raya (dalam Km) V = Volume lalu lintas
365 = Waktu pengamatan dalam setahun
Identifikasi Kecelakaan terhadap Black Spot dan Black Site
Salah satu metode yang dapat digunakan dalam rangka mengurangi jumlah kecelakaan adalah dengan mengidentifikasi lokasi/daerah yang menjadi titik rawan kecelakaan (Blackspot) dan titik rawan kejadian kecelakaan yang ditinjau pada ruas jalan diamati (Black Site). Dengan mengetahui lokasi tersebut, maka dapat dilakukan penanganan khusus yang sesuai dan diharapkan dapat mencegah dan mengurangi tingkat fatalitas kecelakaan yang terjadi. Agar dapat dilakukan upaya penanganan kecelakaan yang sesuai dan tepat sasaran, selain mengidentifikasi titik rawan juga dilakukan analisa terhadap penyebab kecelakaan di titik tersebut.
1. Black Spot adalah titik rawan kecelakaan lalu lintas yang ditinjau pada lokasi (desa/tempat) terjadinya kecelakaan. Suatu ruas jalan dikatakan Black spot memiliki kriteria nilai dasar Accident rate yang terbesar atau bisa dikatakan tingkat kerawanan kecelakaan lalu lintas tinggi disuatu titik pada ruas jalan yang diamati. (Zaini, A, Kudus. 1995)
2. Black Site adalah daerah rawan kejadian kecelakaan yang ditinjau pada ruas jalan diamati. Suatu ruas jalan dapat dikatakan Black site jika memiliki angka Accident rate lebih dari (0,3). Bila angka Accident rate kurang dari ambang batas, boleh dikatakan tingkat kerawanan kecelakaan kurang.
(Zaini, A, Kudus. 1995).
Volume Lalu Lintas
Volume lalu lintas menyatakan suatu jumlah lalu lintas dalam bentuk satuan mobil penumpang (SMP) yang besarnya menunjukkan jumlah lalu lintas harian rata – rata (LHR) untuk setiap jenis golongan kendaraan yang melewati arus jalan tersebut. Baik itu pada saat tahun maupun pada saat tahun rencana suatu ruas jalan. Klasifikasi jalan terdiri dari kelas jalan, jumlah jalur, kecepatan rencana, lebar perkerasan landai maksimum, bahu jalan dan lain – lain.
(Risdiyanto, 2014).
Manual Kapasitas Jalan Indonesia (Bina Marga, 1997) menyarankan nilai emp yang berbeda-beda berdasarkan jenis kendaraan, jenis jalan, dan volume jam perencanaan (kendaraan/jam). Khusus untuk jalur dua lajur dua arah, lebar jalur lalu lintas juga mempengaruhi besarnya emp. Untuk membilangkan klasifikasi arus lalu lintas adalah dengan menyatakan lalu lintas bukan dalam kendaraan per jam melainkan dalam satuan mobil penumpang (smp) per jam.
Oleh karena itu diperlukan sebuah nilai konversi sehingga arus lalu lintas menjadi lebih tepat jika dinyatakan dalam jenis kendaraan standar, yaitu mobil penumpang (kendaraan ringan), yang dikenal dengan istilah satuan mobil penumpang (smp) dan faktor konversi dari berbagai macam kendaraan tersebut menjadi mobil penumpang dikenal dengan emp (ekivalensi mobil penumpang).
Istilah dalam bahasa inggris, smp menjadi pcu (passenger car unit) sedangkan emp menjadi pce (passenger car equivalent). Satuan Mobil Penumpang (smp) adalah satuan kendaraan di dalam arus lalu lintas yang disetarakan dengan kendaraan ringan/mobil penumpang, besaran smp dipengaruhi oleh tipe/jenis kendaraan, dimensi kendaraan, dan kemampuan olah gerak.
Sedangkan ekuivalensi kendaraan dengan mobil penumpang tergantung besar dan kecepatan kendaraan, semakin besar kendaraan maka nilai emp semakin tinggi, semakin tinggi kecepatan kendaraan maka nilai emp semakin rendah.
Masing-masing ruas jalan memiliki karakteristik lalu lintas dan kondisi geometrik jalan yang berbeda. Kondisi geometrik meliputi lebar jalan, jumlah jalur serta panjang landai. Hal tersebut mempengaruhi nilai emp.
Nilai emp juga berbeda untuk setiap bagian jalannya. Besar nilai emp untuk simpang berbeda dengan nilai emp untuk ruas jalan. Nilai emp mempengaruhi kinerja dari sebuah ruas jalan.
Tabel 3. 1 Koefisien Kendaraan
Tipe Kendaraan Nilai emp
Kendaraan ringan (LV) Kendaraan berat (HV) Sepeda Motor (MC)
1,0 1,3 0,5 Sumber : MKJI 1997
Untuk menghitung arus lalu lintas maka kendaraan yang dihitung berdasarkan jenis kendaraan sebagai berikut.
1. kendaraan ringan (Light Vehicle), indeks untuk kendaraan ini yaitu kendaraan roda empat atau mobil penumpang dan klasifikasi smp yaitu 1,0
2. kendraaan berat (Heavy Veicle), indeks untuk kendaraan ini yaitu kendaraan dengan jarak as lebih dari 3.50 m, biasanya beroda lebih dari empat (termasuk bus, truk 2 as, truk 3 as, truk kombinasi) klasifikasi smp yaitu 1,3
3. sepeda motor (Motor Cycle) indeks untuk kendaraan ini yaitu kendaraan bermotor roda dua atau roda tiga dengan klasifikasi smp yaitu 0,5.
Satuan mobil penumpang (SMP)
Satuan mobil penumpang (SMP) adalah satuan kendaraan yang dipakai untuk memperhitungkan pengaruh setiap jenis kendaraan terhadap keseluruhan arus lalu lintas dengan membandingkan terhadap mobil penumpang, untuk suatu jalan raya yang volumenya terjadi selalu berubah – ubah menurut suatu pola tertentu, sehingga timbul variasi dalam volume.
Variasi volume lalu lintas menurut waktu tersebut mencerminkan meningkatnya ekonomi dan sosial terhadap angkutan. Berdasarkan variasi volume dapat dua ukuran penting yaitu volume rata – rata dan volume pada waktu sibuk (Peak Hour).
Adapun rumus yang digunakan untuk mengetahui volume arus lalu lintas harian rata – rata adalah sebagai berikut :
1. Volume lalu lintas harian rata – rata (LHRT) adalah jumlah lalu lintas kendaraan rata - rata yang melewati satu jalur jalan selama 24 jam dan diperoleh dari selama satu tahun penuh.
LHRT = Jumlah lalu lintas dalam satu tahun
365 ... (3.6) LHRT dinyatakan dalam dalam kendaraan/hari /dua arah untuk jalan dua arah tanpa median, atau Kendaraan/hari/arah untuk jalan dengan median.
2. Volume Lalu Lintas Harian Rata rata (LHR)
Mengingat akan biaya yang dieperlukan dan membandingkan dengan ketelitian yang dicapai serta tidak semua tempat mempunyai data volume lalu lintas selama satu tahun maka untuk kondisi tersebut dapat pula dipergunakan satuan lalu lintas harian rata rata (LHR). Volume lalu lintas harian yang diperoleh dari nilai rata – rata jumlah kendaraan selama beberapa hari pengamatan.
LHR adalah hasil bagi jumlah kendaraan yang diperoleh selama pengamatan dan lamanya pengamatan.
LHR = 4 × senin + Jum'at + Sabtu + Minggu
7 ... (3.7) LHR dinyatakan dalam kendaraan/hari/2 arah untuk jalan dua arah tanpa median atau Kendaraan/hari/arah untuk jalan dengan median. (Sukirman, 1999).
Data dikatakan teliti apabila :
a. Pengamatan dilakukan pada interval waktu yang cukup menggambarkan fluktuasi arus lalu lintas selama satu tahun.
b. Hasil LHR yang dipergunakan adalah harga rata - rata dari beberapa kali pengamatan atau telah melalui kajian lalu lintas (sukirman, 2010)
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Alat Penelitian
Alat penelitian untuk ke lokasi tempat kejadiaan kecelakaan lalu lintas digunakan :
1. Alat pengukur jarak (meteran), untuk mengukur lebar jalan 2. Kamera digital
3. Alat hitung digital (finger tally counter mini)
4.2. Teknik Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kaulitatif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah dengan mengolah data yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek dalam penelitian dapat berupa orang, lembaga, masyarakat dan yang lainnya yang pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau apa adanya.
Ciri-ciri metode penelitian deskriptif antara lain adalah :
1. Memusatkan perhatian pada permasalahan yang ada pada saat penelitian dilakukan atau permasalahan yang bersifat aktual.
2. Menggambarkan fakta tentang permasalahan yang diselidiki sebagaimana adanya
3. Pekerjaan penelitian bukan saja memberikan gambaran terhadap fenomena-fenomena, tetapi juga menerangkan hubungan, menguji hipotesis, membuat prediksi, serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah.
Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini untuk pengumpulan data adalah sebagai berikut :
1) Data Primer
Data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli. pada penelitian ini didapat data lalu lintas kendaraan (LHR) yang melintasi ruas jalan Bangkinang sampai Rantau Berangin dari dua arah
lalu lintas dan geometri jalannya. Data ini didapat dengan cara melakukan survey lansung ke lokasi daerah rawan kecelakaan lalu lintas pada ruas jalan yang diteliti.
2) Data Sekunder
Data sekunder merupakan sumber data yang diperoleh dari instansi terkait dalam permasalahan kecelakaan lalu lintas. Data ini didapat dari Satlantas Polresta Kabupaten Kampar, yaitu data laporan kejadian kecelakaan dari tahun 2014 – 2018.
4.3 Tahapan Penelitian
Tahapan penelitian adalah tahap-tahap yang dilakukan peneliti secara berurutan selama berlangsungnya penelitian. Tahapan-tahapan penelitian ini memberikan gambaran serta langkah-langkah pelaksanaan penelitian yang akan menuntun peneliti agar lebih terarah selama berjalannya penelitian.
Tahapan-tahap pelaksaan penelitian pada penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :
1. Mulai
Langkah awal sebelum melakukan persiapan penelitian.
2. Persiapan
Mempersiapkan data yang bersangkutan tentang analisis Black spot dan Black site untuk mempelajari sebagai bahan sumber penulisan dalam menggali teori – teori yang berkembang, metode, serta teknik penelitian baik dalam mengumpulkan atau menganalisa data.
3. Observasi Lapangan/ Survei Lapangan
Observasi dipergunakan untuk memperoleh data yang aktual dari hasil pengamatan langsung di lokasi penelitian. Adapun waktu survey lalu lintas harian rata – rata yaitu dimulai pada hari Jumat tanggal 4 Desember 2020 sampai hari Senin 7 Desember 2020 yang dilakukan pada jam - jam sibuk selama dua jam. Untuk jam puncak pagi yaitu pada pukul 07.00 – 09.00 WIB, untuk jam puncak siang yaitu pukul 12.00 – 14.00 Wib, dan untuk jam sore yaitu pukul 16.00 – 18.00 WIB.
4. Pengumpulan Data
Pengumpulan data terbagi menjadi dua cara yaitu data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer diperoleh dari hasil survey lansung ke lokasi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari pihak instansi Satlantas Polresta Kabupaten Kampar, yaitu data laporan kejadian kecelakaan dari tahun 2014 – 2018 untuk ruas jalan Jalan Bangkinang – Rantau Berangin Km 60 – Km 100 Kabupaten Kampar.
5. Analisis Data
Menghitung dan menganalisa tingkat kecelakaan lalu lintas di ruas jalan Bangkinang – Rantau Berangin berdasarkan data yang telah didapat.
6. Hasil dan Pembahasan
Hasil dan pembahasan yaitu membahas hasil – hasil yang disederhanakan dalam bentuk tabel dan gambar.
7. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan merupakan hasil akhir yang didapati dan saran merupakan masukan yang berguna untuk pihak – pihak yang terkait.
8. Selesai
Untuk lebih jelasnya tahap penelitian ini dapat dilihat pada bagan alir penelitian gambar 4.2
Cara Analisis
Cara analisis data merupakan urutan tahapan pelaksanaan penelitian yang akan dicapai pada sebuah penelitian, adpun cara analisis data yang dilakukan sebagai berikut.
1. Analisis lintas harian rata – rata (LHR) dengan melakukan survey dilapangan.
2. Analisis lokasi rawan kecelakaan dengan menggunakan metode accident rate
3. Analisis penyebab terjadinya kecelakaan.
Gambar 4. 1 Bagan Alir Penelitian Mulai
Pengumpulan Data Persiapan
Analisis Data
Hasil dan Pembahasan
Kesimpulan dan Saran
Selesai Data Primer :
Geometri jalan
Data Lalu Lintas Harian Rata – rata (LHR)
Data Sekunder :
Data Laporan Kejadian Kecelakaan dari Satlantas Polresta Kampar 1. Lokasi Kecelakaan
2. Waktu Kejadian 3. Penyebab Kecelakaan 4. Kendaraan yang terlibat
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang diambil pada penelitian ini adalah di sepanjang Ruas Jalan Bangkinang km 60 sampai Ruas Jalan Rantau Berangin km 100 sepanjang 40 km.
Gambar 4. 2 Lokasi Penelitian
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Umum
Untuk mengetahui masalah masalah kecelakaan lalu lintas berdasarkan data yang telah didapat maka perlu diketahui karakteristik periode selama lima tahun untuk berbagai kategori juga dilakukan untuk kecelakaan yang terlibat yang memungkinkan sebagai penyebab yang berpengaruh.
Pada teknik ini dapat dilihat tingkat kecelakaan lalu lintas pada setiap ruas dalam satuan kecelakaan lalu lintas per sejuta kendaraan kilometer. Tingkat kecelakaan lalu lintas yang tinggi bisa disebabkan oleh berbagai faktor baik faktor berdiri sendiri ataupun faktor penunjang dan biasanya faktor tersebut adalah kesalahan manusia, seperti pelanggaran yang dilakukan pengendara, pejalan kaki, faktor jalan dan lingkungan, kondisi lingkungan lalu lintas perencenaan geometri jalan, cuaca, jarak pandang yang buruk, faktor kendaraan (ban pecah, patah as dan kegagalan rem).
5.2. Analisa Tingkat Kecelakaan Lalu Lintas
Analisa tingkat kecelakaan ditunjukkan lebih lanjut dengan prosedur yang mencakup data laporan kecelakaan lalu lintas untuk masa tertentu, kondisi cuaca, kondisi jalan, jenis lalu lintas (sudut, samping, belakang), jenis kendaraan yang terlibat, tindakan pengemudi, serta informasi lainnya, pola peristiwa kecelakaan lalu lintas data volume lalu lintas harian rata – rata, sifat – sifat lokasi dan mengamati pola arus lalu lintas.
Analisis dilakukan dengan cara mengevaluasi tingkat kecelakaan lalu lintas setiap ruas jalan selama periode lima tahun untuk ruas jalan Bangkinang – Rantau Berangin Kabupaten Kampar Propinsi Riau. Untuk kecelakaan lalu lintas, penyebab kecelakaan lalu lintas serta mendapatkan suatu gambaran tentang tingkat kecelakaan lalu lintas yang dilakukan dalam penelitian.
Tabel 5. 1 Jumlah Frekuensi Kecelakaan Lalu Lintas Ruas Jalan Bangkinang – Rantau Berangin Kabupaten Kampar.
Sumber: Polres Kampar
Dari tabel 5.1 dapat dilihat frekuensi kecelakaan tertinggi dari 66 kejadian kecelakaan selama lima tahun terdapat pada desa Pulau Gadang - Tanjung Alai dan juga desa Tanjung Alai – Batu Bersurat dengan 16 kejadian kecelakaan, disusul desa Kuok – desa Lereng dengan 13 kejadian kecelakaan, kemudian desa Salo – desa Kuok dengan 8 kejadian kecelakaan. Hal ini menunjukkan bahwa masih tingginya jumlah kecelakaan lalu lintas pada ruas jalan Bangkinang – Rantau Berangin Kabupaten Kampar.
No Desa KM
Tahun
Jumlah Kecelakaan 2014 2015 2016 2017 2018
1 Bangkinang – Salo 60 – 63 3 2 0 0 0 5
2 D. Salo – D. Kuok 63 – 69 0 3 2 1 2 8
3 Kuok – D. Lereng 69 – 76 2 3 1 1 6 13
4 Lereng – Merangin 76 – 80 0 2 1 0 1 4
5 Merangin – Pulau gadang 80 – 85 0 3 0 1 0 4
6 Pulau gadang – Tanjung alai 85 – 93 0 6 4 5 1 16
7 Tanjung alai – Batu bersurat 93 – 100 1 6 3 4 2 16
Jumlah 6 25 11 12 12 66
5.3. Volume Lalu Lintas
Volume lalu lintas digunakan sebagai pengukur jumlah dari arus lalu lintas dengan menunjukkan jumlah kendaraan yang melintasi satu titik pengamatan dalam satu satuan (hari, jam, menit). Pengamatan dilakukan di ruas jalan Bangkinang – Rantau Berangin diambil dari data survei lansung dilapangan selama 4 hari dimulai pada hari Jumat tanggal 4 Desember 2020 sampai hari Senin 7 Desember 2020 yang dilakukan pada jam - jam puncak selama dua jam.
Untuk jam puncak pada pagi hari yaitu pada pukul 07.00 – 09.00 WIB, untuk jam puncak siang yaitu pada pukul 12.00 – 14.00 Wib, selanjutnya untuk jam sore yaitu dari pukul 16.00 – 18.00 WIB. Arus lalu lintas yang diamati adalah lalu lintas kendaraan dengan klasifikasi kendaraan seperti sepeda motor, kendaraan ringan meliputi mobil penumpang dan kendaraan berat meliputi bus besar, bus kecil truk sedang dan truk besar.
Pengolahan data dilakukan dengan cara mengkoversikan setiap jenis kendaraan (kend/jam) dengan ekivalen mobil penumpang (emp) berdasarkan MKJI (1997) dengan nilai antara lain untuk sepeda Motor Cycle/MC (0,5) kendaraan ringan/Light Vehide (LV) (1), dan kendaraan berat/Heavy Vehide (HV) (1,3) sehingga di dapat volume lalu lintas dalam satuan mobil penumpang pada jalan tersebut.
selanjutnya Data perhitungan LHR yang didapat pada tabel 5.2
Uraian untuk perhitungan LHR untuk jenis kendaran sepeda motor,sekuter, kendaraan roda tiga sebagai berikut :
LHR = Jum'at + Sabtu + Minggu + (4 × senin ) 7
LHR = 3293 + 4207 + 3942 + (4 × 3519)
7 = 3645
= 3645 × 0,5 = 1823 smp
Dari perhitungan LHR diatas bahwa jumlah kendaraan yang melintasi ruas jalan Bangkinang – Rantau Berangin dimana jumlah kendaraan yang melintas pada hari senin dikalikan dengan 4 karena diasumsikan mewakili hari kerja (senin, selasa rabu, kamis) kemudian jumlah kendaraan yang melintas jumat, sabtu, dan minggu kemudian dibagikan jumlah hari dalam seminggu. selanjutnya barulah dikali dengan faktor koefisien dari jenis kendaraan masing – masing.
0,5 adalah faktor koefisien atau angka ekivalen dari Jenis kendaran sepeda motor,sekuter, kendaraan roda tiga.
Tabel 5. 2 Volume Lalu Lintas Harian Rata – rata (LHR) Ruas Jalan Bangkinang – Rantau Berangin Kabupaten Kampar
No Jenis Kendaraan LHR (SMP)
1 Sepeda motor, sekuter, kendaraan roda tiga 1823
2 Sedan , jeep dan mobil penumpang 1501
3 Oplet, pick-up, sub urban dan mini bus 317
4 micro truck, dan mobil hantaran 441
5 Bus kecil 40
6 Bus besar 23
7 Truk 2 sumbu 62
8 Truk 3 sumbu 20
9 Truk semi trailer 10
Jumlah 4237
Dari tabel 5.2 maka diperoleh LHR rata-rata adalah = 4237 SMP/hari untuk 1 lajur/2 arah tidak terbagai (2/2 UD). Untuk data LHR lebih lanjut dapat dilihat pada lampiran A - 1
5.4. Identifikasi Black Spot Berdasarkan Accident Rate.
Black Spot adalah titik rawan kecelakaan lalu lintas yang ditinjau pada lokasi (desa/tempat) terjadinya kecelakaan. Suatu ruas jalan dikatakan Black spot memiliki kriteria nilai dasar Accident rate yang terbesar atau bisa dikatakan tingkat kerawanan kecelakaan lalu lintas tinggi disuatu titik pada ruas jalan yang diamati. (Zaini, A, Kudus. 1995)
Untuk angka kecelakaan Per Km selama periode lima tahun maka penelitian ini mengambil suatu prosedur dengan menggunakan :
1. Penjumlahan frekuensi kecelakaan rata - rata pertahun dari lokasi (5/5=1)
2. Data LHR (4237 SMP/hari) 3. Accident Rate :
Rsp = A×1000000
V× 365
= 1×1000000
4237 × 365 = 0,646(Bangkinang-salo)
Dari perhitungan analisa diatas didapat hasil Accident rate yaitu sebesar 0,646 untuk daerah Bangkinang – Desa Salo. Hal ini menunjukkan daerah Bangkinang – desa Salo dengan nilai 0,646 merupakan indikasi angka kecelakaan untuk spot (dalam kecelakaan per satu juta kendaraan yang memasuki spot).
Untuk Acident rate daerah lain dapat dihitung dengan cara menggunakan rumus yang sama. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran A - 2.
Tabel 5. 3 Hasil Perhitungan Accident Rate dengan Black Spot Ruas Jalan Bangkinang – Rantau Berangin Kabupaten Kampar.
Sumber : Hasil Analisis
Dari tabel 5.3 dapat dilihat nilai Accident Rate tertinggi untuk daerah Black Spot adalah desa Pulau Gadang –Tanjung Alai dengan accident rate sebesar 2,069
selanjutnya desa Tanjung Alai – Batu Bersurat dengan nilai accident rate sebesar
2,069 disusul desa Kuok – desa Lereng dengan accident rate 1,681 dan desa Salo – desa Kuok dengan accident rate sebesar 1,034.
Maka bisa dikatakan bahwa Black Spot yaitu desa Salo – Kuok pada kilometer 63 – 69 dan desa Kuok – desa Lereng pada kilometer 69 – kilometer 76 disusul desa Pulau Gadang – Tanjung Alai tepatnya dikilometer 85 – kilometer 93 dan diikuti desa Tanjung Alai – Batu Bersurat kilometer 93 – kilometer 100.
No KM RUAS
JUMLAH
KECELAKAAN LHR (SMP)
Accident Rate Jumlah Rata-Rata
1 60 – 63 Bangkinang – Salo 5 1 4237 0,646
2 63 – 69 D. Salo – D. Kuok 8 1,6 4237 1,034
3 69 – 76 D. Kuok – D. Lereng 13 2,6 4237 1,681
4 76 – 80 D. Lereng – D. Merangin 4 0,8 4237 0,517
5 80 – 85 D. Merangin – Pulau Gadang 4 0,8 4237 0,517 6 85 – 93 Pulau Gadang – Tanjung Alai 16 3,2 4237 2,069 7 93 – 100 Tanjung Alai – Batu Besurat 16 3,2 4237 2,069
5.5. Identifikasi Black Site Berdasarkan Accident Rate
Black Site adalah daerah rawan kejadian kecelakaan yang ditinjau pada ruas jalan diamati. Suatu ruas jalan dapat dikatakan Black site memiliki kriteria angka Accident rate lebih dari (0,3). Bila angka Accident rate kurang dari ambang batas, boleh dikatakan tingkat kerawanan kecelakaan kurang. (Zaini, A, Kudus.
1995).
Untuk menganalisis digunakan periode lima tahun dengan frekuensi kecelakaan lalu lintas sedangkan kriteria diketahui adalah :
1. Rata – rata jumlah kecelakaan lalu lintas 2. Panjang ruas jalan yang diteliti
3. Volume lalu lintas harian rata – rata Maka nilai accident rate :
Rsc
=
V× L × 365 A×1000000= 1 × 1000000
4237 × 3 × 365 =0,215 (Bangkinang – Salo) Dimana :
Rsc = Angka kecelakaan pada bagian jalan raya (dalam kecelakaan persatu juta kendaraan)
L = Panjang ruas jalan dalam penelitian V = Volume lalu lintas (LHR)
A = Angka rata rata kejadian kecelakaan 365 = Jumlah hari dalam setahun
Dari hasil perhitungan diatas didapat Accident Rate sebesar 0,215 untuk daerah Bangkinang – Salo untuk Accident rate daerah lain dapat dicari dengan menggunakan rumus perhitungan yang sama. Untuk lebih jelasnya perhitungan dapat dilihat pada lampiran A - 3
Tabel 5. 4 Hasil Perhitungan Accident Rate dengan Black Site pada Ruas Jalan Bangkinang – Rantau Berangin Kabupaten Kampar (2014 – 2018)
Sumber : Hasil Perhitungan analisa
Pada Tabel 5.4 menujukkan bahwa Black site atau daerah Rawan Kecelakaan Lalu Lintas dengan Accident rate tertinggi terdapat pada ruas jalan Tanjung Alai – Batu bersurat dengan Accident rate 0,295 disusul desa Pulau gadang – Tanjung Alai adalah sebesar 0,258 dan Desa Kuok – desa Lereng dengan Accident rate 0,240.
No RUAS
JUMLAH
KECELAKAAN LHR (SMP)
Panjang Jalan (KM)
ACCIDENT RATE JUMLAH RATA
RATA
1 Bangkinang – D. Salo 5 1 4237 3 0,215
2 D. Salo – D. Kuok 8 1,6 4237 6 0,172
3 D. Kuok – D. Lereng 13 2,6 4237 7 0,240
4 D. Lereng – Merangin 4 0,8 4237 4 0,129
5 D. Merangin – Pulau gadang 4 0,8 4237 5 0,103
6 Pulau gadang – Tanjung Alai 16 3,2 4237 8 0,258
7 Tanjung Alai – Batu Besurat 16 3,2 4237 7 0,295
5.6. Kecelakaan Berdasarkan Waktu Kejadian
Distribusi kecelakaan lalu lintas pada ruas jalan Bangkinang – Rantau Berangin selama lima tahun yang didasarkan pada saat berlansung yaitu variasi jam dalam satu hari (24 jam). Variasi waktu ditunjukkan dalam diagram.
Gambar 5. 1 Pola Waktu Kecelakaan Lalu Lintas Ruas Jalan Bangkinang – Rantau Berangin.
Dari grafik diatas jumlah frekuensi kecelakaan lalu lintas selama lima tahun periode (2014 - 2018) berdasarkan waktu kejadian dilihat dari variasi jam dalam satu hari (24 jam). terlihat bahwa jumlah kecelakaan lalu lintas yang tertinggi terjadi pada pagi hari (06.00 – 10.00 wib) dengan 15 kejadian kecelakaan dan siang hari (10.00 – 14.00 wib) adalah sebesar 15 kejadian kecelakaan dan disusul pukul 14.00 – 18.00 wib (sore hari) dengan 13 kejadian kecelakaan, karena pada waktu pagi menjelang siang hari kegiatan pendidikan, angkutan barang dan jasa tergolong tinggi. Selain itu pada waktu sore menjelang malam aktifitas volume lalu lintas sangat tinggi dibandingkan pada waktu subuh kejadian kecelakaan menurun karena pada waktu subuh volume lalu lintas cenderung berkurang.
15 15
13
12
5
6
0 2 4 6 8 10 12 14 16
06.00 - 10.00
10.00 - 14.00
14.00 - 18.00
18.00 - 22.00
22.00 - 02.00
02.00 - 06.00
Waktu Kejadian
diagram waktu kejadian kecelakaan
5.7. Kecelakaan Berdasarkan Jenis Kendaraan
Kecelakaan berdasarkan jenis kendaraan diklasifikasikan untuk menentukan frekuensi kecelakaan yang terjadi pada ruas jalan yang diamati sedangkan untuk pejalan kaki juga diklasifikasikan sebagai satu jenis kendaraan karena dianggap sebagai pemakai jalan. Pada jenis kendaraan yang akan dianalisis ini meliputi :
a. Mobil penumpang b. Mobil berat truk c. Mobil bus d. Sepeda motor e. Pejalan kaki
Untuk klasifikasi frekuensi kecelakaan yang melalui ruas jalan Bangkinang - Rantau Berangin ditinjau dari jenis kendaraan yang berbenturan dapat dilihat pada tabel 5.5