PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Temuan awal yang penulis peroleh yaitu pada saat membaca buku teks pendidikan agama Islam dan karakter untuk kelas SMA, buku teks tersebut juga membantu siswa dalam memahami materi yang akan dipelajarinya dengan cara membaca dan memahaminya. Dimasukkannya perempuan dan laki-laki dalam peran domestik dan publik dalam buku teks juga menunjukkan kesenjangan.
Mengenai analisis isi materi yang berisi konstruksi gender dalam buku teks pendidikan agama Islam dan karakter untuk kelas XI. kelas SMA, salah satunya perempuan digambarkan sedang mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan penulis saat membaca dan menelaah isi buku ajar, terdapat berbagai permasalahan terkait gender yang terdapat dalam buku teks pendidikan agama Islam dan karakter.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Analisis Konstruksi Gender dalam Buku Teks Pendidikan Agama Islam di SMA Kelas XI”.
Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Pengertian gender dalam ilmu-ilmu sosial mengacu pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan tanpa konotasi biologis. Sedangkan gender merupakan karakteristik laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya. Sedangkan gender merupakan perbedaan perilaku yang dikonstruksi secara sosial antara laki-laki dan perempuan.
Dalam hal jumlah pekerjaan perempuan/laki-laki, struktur gender tampak tidak merata karena jumlah laki-laki lebih banyak. Oleh karena itu, untuk menghindari kesenjangan gender pada peran laki-laki dan perempuan pada gambar di bawah ini.
Tujuan Penulisan
Manfaat penelitian
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan konsep gender dalam buku teks pendidikan agama Islam tingkat SMA, sehingga informasi dan pengetahuan yang salah dan salah tentang gender dapat dihindari dalam praktiknya. dari konsep gender. persamaan. Dalam pelaksanaannya, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan pertimbangan bagi penulis buku teks pendidikan agama Islam tingkat SMA dan menjadi masukan revisi bagi penerbit buku teks pendidikan agama Islam pada terbitan berikutnya.
Sistematika penulisan
LANDASAN TEORI
Gender
- Konstruksi gender
- Konsep gender
- Maskulin dan Feminim
- Kesetaraan gender
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan merupakan konstruksi sosial, yaitu perbedaan yang tetap ada meskipun bukan disebabkan oleh perbedaan biologis dalam jenis kelamin. Pemahaman lain mengenai gender dalam Encyclopedia of Women's Studies menjelaskan bahwa gender dipahami sebagai suatu konsep budaya yang berupaya menciptakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat baik dari segi peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional. Sedangkan menurut Kementerian Agama, gender pada hakikatnya adalah konsep yang membedakan laki-laki dan perempuan, bukan berdasarkan biologi, melainkan berkaitan dengan peran, fungsi, hak, atribut, dan perilaku yang dikonstruksi secara sosial.
Ini merupakan proses yang panjang, sehingga lama kelamaan perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan seolah-olah merupakan ketentuan Tuhan atau sifat alamiah yang tidak dapat lagi diubah dan ditukar. Begitu pula sebaliknya, sosialisasi konstruksi sosial gender secara evolusioner pada akhirnya mempengaruhi perkembangan fisik dan biologis masing-masing gender.17 Nugroho berpendapat bahwa gender merupakan reposisi peran sosial laki-laki dan perempuan dalam kehidupan manusia. Women's Studies Encyclopedia menjelaskan bahwa gender merupakan sebuah konsep budaya yang berupaya untuk membedakan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.20.
Perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan merupakan kodrat Tuhan karena tidak berubah secara permanen dan merupakan ketentuan biologis. Dengan demikian, persoalan gender yang diangkat adalah persoalan kesetaraan dan kemitraan yang setara mengenai hakikat dan peran laki-laki dan perempuan, yang dibentuk oleh pandangan dan budaya yang berkembang dalam masyarakat, bangsa, dan negara. Selain itu, gender juga memiliki wawasan yang memihak pada kelompok lemah dan tertindas, baik laki-laki maupun perempuan.
Kesetaraan gender juga mencakup penghapusan diskriminasi dan ketidakadilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan.28. Kesetaraan gender adalah penilaian yang diberikan masyarakat terhadap persamaan dan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, serta perbedaan peran yang mereka miliki.29. Kesetaraan berarti persamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak sebagai manusia, untuk dapat berperan dan berpartisipasi di dalamnya.
Buku Teks
- Pengertian Buku teks
- Tujuan Buku Teks
- Fungsi Buku Teks
- Karakteristik Buku Teks
- Keterbatasan Buku Teks
Siswa tidak perlu lagi mencatat seluruh penjelasan guru karena sudah ada dalam buku pelajaran yang dibawa siswa. Hinduan, Tren Buku Pelajaran Fisika Lama dan Buku Pelajaran Fisika Baru Untuk SMA, Tesis Disajikan dalam Seminar, (Yogyakarta: Program Pascasarjana Pendidikan Fisika UAD, 2009), hal. 3. Buku teks memuat bahan pembelajaran yang dapat membekali siswa dengan keterampilan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum.
Fungsi buku teks ditinjau dari isi dan penyajiannya berfungsi sebagai pedoman panduan bagi siswa dalam belajar. Berdasarkan hal tersebut, buku teks mempunyai fungsi yang sangat penting untuk mengembangkan pendidikan yang bermutu. Secara spesifik, buku ajar juga mempunyai beberapa ciri yang berbeda dengan karya ilmiah pada umumnya.
Buku teks disusun berdasarkan pesan kurikulum pendidikan ditinjau dari landasan, pendekatan, strategi dan struktur program. Buku teks fokus pada tujuan tertentu sesuai dengan rumusan pembelajaran yang terdapat dalam kurikulum GBPP terkait. Buku teks diarahkan pada kegiatan belajar siswa, sehingga diharapkan siswa dapat melakukan berbagai kegiatan belajar.
Gaya penyajian buku teks dapat memunculkan kreativitas siswa dalam belajar, dan gaya penyajian buku teks hendaknya mampu memunculkan kreativitas tersebut. Grenne dan Petty menyebutkan keterbatasan buku teks dalam buku Tarigan, antara lain sebagai berikut. Isi buku teks sebagai alat kegiatan pembelajaran dipadukan secara artifisial untuk kelas-kelas tertentu.
Penelitian Terdahulu
Sedangkan di bidang pendidikan, buku teks merupakan salah satu alat peraga dan bahan ajar yang banyak digunakan dalam pembelajaran. Sementara itu, buku teks pendidikan agama Islam masih menunjukkan bias gender, baik dalam argumentasi yang digunakan, ilustrasi yang ditampilkan, maupun pada isi materi. Namun masih dalam taraf wajar sehingga menurut penulis kedua buku ini masih layak dan layak digunakan oleh siswa sebagai buku ajar.47 Terdapat kesamaan dengan penelitian-penelitian sebelumnya di atas, dimana sama-sama membahas tentang bias gender yang ditemukan. dalam organisasi keagamaan Islam. buku tentang pendidikan dan pendidikan karakter, hanya Nurfhadila ini yang terdapat pada objek penelitian dimana Nurfhadila menggunakan buku pendidikan.
47 Nurfhadila, Bias Gender Dalam Buku Ajar Pendidikan Agama Islam (Analisis Isi Dalam Buku Ajar Pendidikan Agama Islam Kelas Materi ajar yang ada dalam buku yang dipelajari adalah perempuan tidak terlibat dalam kegiatan politik, perempuan disamakan dengan harta benda, perempuan merupakan sosok yang lemah dan hanya berperan di ranah domestik, sehingga berdasarkan temuan tersebut perlu dilakukan revisi terhadap materi yang mengimplementasi pemahaman tentang bias gender.48 Persamaan penelitian Murphy dengan penelitian penulis yang sama-sama membahas tentang gender bias.
Penelitian ini dilakukan untuk menunjukkan bias gender yang terdapat dalam buku pelajaran sekolah. 48 A Murfi, Bias Gender dalam Buku Ajar Pendidikan Agama Islam dan Kristen, Jurnal Pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan buku teks kelas X sebagai objek penelitian karena kelas
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang mengkaji buku teks bahasa Indonesia untuk kelas. Sementara itu, penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bias gender dalam buku teks bahasa Indonesia dan menjadi bahan referensi untuk meminimalisir wacana bias gender serta digunakan sebagai bahan pertimbangan penyusunan buku teks kesetaraan gender. 49 Persamaan penelitian di atas dengan penulis adalah minimnya wacana bias gender. untuk dijadikan bahan pertimbangan penyusunan buku teks kesetaraan gender. 49 Dewi Ulfa, Idawati, Sultan, Bias Gender dalam Buku Pedoman Bahasa Indonesia SMA, RHETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran, Volume 12, Nomor 2, Agustus 2019, Hal.
Kerangka Berpikir
METODE PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Objek Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Data dan Sumber Data
- Instrumen Penelitian
- Teknik Analisis Data
Dari tabel di atas, jumlah gambar perempuan yang penulis temukan sebanyak 17 buah, sedangkan jumlah gambar laki-laki sebanyak 44 buah. Dalam hal ini, jumlah laki-laki mendominasi jumlah perempuan, dimana jumlah total laki-laki yang disajikan adalah 2 sedangkan jumlah perempuan tidak ada. Oleh karena itu, gambaran peran laki-laki yang memberikan bantuan sama dengan gambar di sebelahnya.
Melihat kalimat redaksi, selain itu sebagai pembaca khususnya mahasiswa mungkin terdapat salah tafsir mengapa laki-laki lebih baik atau lebih baik dari perempuan. Sebagai gambarannya, terdapat gambaran beberapa laki-laki yang sedang bertanding dalam suatu permainan akan menimbulkan persepsi bahwa hanya laki-laki yang mampu bersaing dan unggul di bidang tersebut atau berkompetisi di bidang lain. Membaca isi materi ini mungkin akan membawa siswa pada kesan atau persepsi bahwa laki-laki adalah satu-satunya aktor dalam reformasi dunia Islam.
Buku teks yang baik adalah yang setara gender dan memiliki 6 aspek yang disebutkan Logdson, antara lain jumlah gambar perempuan/laki-laki, jumlah perempuan/laki-laki yang disebutkan, jumlah pekerjaan yang dimiliki perempuan/laki-laki, jumlah perempuan /men sports/games , jumlah jenis pekerjaan perempuan/laki-laki dan pola penyebutan perempuan/laki-laki. Laki-laki mendominasi dalam segala hal yaitu jumlah foto perempuan/laki-laki, jumlah perempuan atau laki-laki yang disebutkan, jumlah peran/pekerjaan perempuan atau laki-laki, jumlah olah raga/permainan perempuan/laki-laki, jumlah panutan/ pekerjaan perempuan atau laki-laki, pola penyebutan perempuan/laki-laki, sedangkan perempuan tidak ditemukan sama sekali.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Pembahasan
Berdasarkan temuan penulis di atas, buku berjudul Pendidikan Agama Islam dan Karakter Kelas XI menunjukkan bahwa gender ditemukan tidak setara. Peneliti selanjutnya diharapkan mengkaji konstruksi gender dalam buku teks pendidikan agama Islam dan pendidikan karakter dengan disertai analisis. Peraturan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007, (https://kestitutan.ristekdikti.go.id/wpcontent/uploads/2016/08/PP_55_2 007-Pendidikan-Agama-Keagamaan.pdf.
Contoh aplikasi evaluasi program : Pengembangan Sumber Daya Manusia, Program Nasional, Pemberdayaan Masyarakat (Pnpm) Perdesaan Mandiri, Kurikulum, Perpustakaan dan Buku Pelajaran.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
Cara mudah menulis proposal dan laporan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, tesis, tesis dan disertasi.