ANALISIS PENAFSIRAN (SURAH ALI-’IMRAN AYAT 14) DALAM PERSPEKTIF QIRA’AH MUBADALAH
SKRIPSI
Oleh:
FITRI AYUNI NIM: U20191018
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER
FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN HUMANIORA
JULI 2023
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq jember
Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Agama (S. Ag)
Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora Program Studi Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir
Oleh:
FITRI AYUNI NIM: U20191018
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER
FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN HUMANIORA
JULI 2023
iv
MOTTO
َاسنّنَاَنٰباهوافاالاهعَّّا لَِ ٕااااهباسََوا ٰبالاعَٰ امَٰٰقالاعاََوٰىٰهثاناسََو اراكَٰ ّنَِٰ امَٰٰناقالَاسَّنَا ااسَّنَاااَهيُّ َاٰي
َّٰنللّنَادَّٰعَٰ اماِا ٰران
ٌَ ٰهيّاالٌَ ٰيّقاعَاٰنللّنَاسنّنَٰۗ امىٰنٰهتان
“Wahai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan. Kemudian kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku- suku agar kamu saling mengenal, sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu
di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha teliti” (Q.S. Al-Hujurat: 13)1
1 Al-Qur‟an Hafalan Terjemahan dan Tajwid Warna, Cordoba: Bandung, 2020, hlm. 517.
v
PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan kepada beberapa pihak di antaranya yaitu:
1. Para aktivis gender yang menjunjung tinggi keseimbangan antara laki-laki dan perempuan, yang juga fokus pada penafsiran ayat-ayat misoginis.
Yang telah memberikan sumbangsih tinggi kepada penulis karena beberapa karya nya, penulis dapat menjadikannya sebagai referensi sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Kepada para pembaca umumnya masyarakat luas dan khususnya mahasiswa dan mahasiswi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Semoga skripsi ini dapat menjadi bacaan serta bahan referensi atau menjadi bahan perbandingan dengan karya lain.
3. Teman-teman dari organisasi ICIS (Institute of Culture and Islamic Studies) khususnya dari divisi Tilawah yang telah bersedia memberikan wadah dalam menimba ilmu serta pengalaman selama kuliah.
vi
PEDOMAN TRANSLITERASI
Awal Tengah Akhir Sendiri Latin/Indonesia
ا ﺎ ﺎ ا a/i/u
ﺑ ﺑ ب ب b
ﺗ ﺗ ﺕ ﺕ t
ﺜ ﺜ ث ث th
ﺟ ﺟ ج ج j
ﺣ ﺣ ح ح ḥ
ﺧ ﺧ خ خ kh
د د د د d
ذ ذ ذ ذ dh
ر ر ر ر r
ز ز ز ز z
ﺴ ﺴ س س s
ﺷ ﺷ ش ش sh
ﺻ ﺻ ص ص ṣ
ﻀ ﻀ ض ض ḍ
ط ط ط ط ṭ
ظ ظ ظ ظ ẓ
ﻋ ﻌ ﻊ ع „(ayn)
ﻏ ﻐ ﻎ ﻍ gh
ﻓ ﻔ ﻑ ﻑ f
ﻗ ﻘ ﻕ ﻕ q
ﻛ ﻜ ﻙ ﻙ k
ﻟ ﻟ ﻞ ﻝ l
ﻣ ﻣ م م m
ﻧ ﻨ ﻥ ﻥ
n
ﻫ ﻬ ﻪ,ﺔ ﻩ,ﺓ h
ﻭ ﻭ ﻭ ﻭ w
ﻴ ﻴ ﻱ ﻱ y
vii
ABSTRAK
Fitri Ayuni, 2023: Analisis Penafsiran (Surah Ali-„Imran ayat 14) Dalam Perspektif Qira‟ah Mubadalah
Kata kunci: Penafsiran, Surah Ali-‟Imran:14, Qira‟ah Mubadalah
Penafsiran teks-teks Al-Qur‟an terdapat adanya bias patriarki. Hal ini sudah lama dirasakan oleh para pemikir pembaharu Islam, Banyak dari kalangan ilmuwan Barat yang menggemparkan istilah gender, banyak teks Al-Qur‟an yang dengan istilahnya disebut memarginalkan seorang perempuan. Sebagaimana judul yang penulis angkat bahwa dalam surah Ali-‟Imran ayat 14, disebutkan mengenai perempuan sebagai sumber fitnah, sebab kata An-Nisaa‟ berada diawal setelah kata hubbus syahawaati, sehingga banyak kalangan mufassir yang menafsirkan bahwa perempuan merupakan fitnah utama dan terbesar bagi laki-laki. Hal ini juga berangkat dari hadis nabi yang artinya “aku tidak meninggalkan suatu fitnah yang lebih bahaya bagi kaum laki-laki daripada wanita”, sehingga pada tahun 2019 hadir qira‟ah mubadalah yang diusung oleh Faqihuddin Abdul Kodir yang telah membantu mengatasi ketatnya aturan gender dalam bahasa Arab, yang membuat teks-teks keIslaman sangat maskulin menjadi seimbang. Dengan ini telah memungkinkan lahirnya narasi Islam yang menempatkan laki-laki dan perempuan menjadi seimbang. Dengan adanya keseimbangan ini sehingga laki-laki tidak akan merasa paling daripada seorang perempuan.
Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana cara kerja qira‟ah mubadalah dalam menafsirkan ayat-ayat misoginis?, 2) Bagaimana analisis surah Ali-‟Imran ayat 14 dalam perspektif qiroah mubadalah?. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk menjelaskan cara kerja qira‟ah mubadalah dalam menafsirkan ayat-ayat misoginis, 2) Untuk menganalisa surah Ali-‟Imran ayat 14 dalam perspektif qira‟ah mubadalah. Metode penelitian yang digunakan yaitu, jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan metode deskriptif-analitis yaitu mendeskripsikan penafsiran Faqihuddin Abdul Kodir pada surah Ali-„Imran ayat 14 dengan perspektif qiroah mubadalah.
Penelitian ini telah sampai pada simpulan: 1) Qira‟ah mubadalah memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan beberapa surah yang terdapat didalam Al- Qur‟an yaitu sebagai pengurai dari adanya ketimpangan antara laki-laki dan perempuan yang seringkali ditemukan dalam kehidupan masyarakat yang kemudian disandarkan pada teks Al-Qu‟ran. Oleh karena itu, perlu lebih banyak lagi kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur‟an yang seringkali dipandang secara seksis.
2)Analisis surah Ali-„Imran ayat 14 dalam perspektif qira‟ah mubadalah akan memunculkan pemaknaan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan mengenai fitnah (pesona), bahwa penting bagi laki-laki maupun perempuan menjaga kewaspadaan diri terhadap perhiasan dunia yang dapat menggiurkan manusia. Sebagaimana hal ini juga telah termaktub dalam surah An-Nur ayat 30- 31.
viii
KATA PENGANTAR
Segenap puji syukur penulis sampaikan kepada Allah swr karena atas rahmat dan karunianya, perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana, dapat terselesaikan dengan lancar.
Kesuksesan ini dapat penulis peroleh karena dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyadari dan menyampaikan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu di UIN KHAS Jember.
2. Bapak Prof. Dr. M. Khusna Amal, S.Ag, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora. Yang telah memberikan suri tauladan untuk senantiasa bersabar dalam mencari ilmu.
3. Bapak Dr. Win Usuluddin Bernadien, M.Hum, selaku Ketua Jurusan Studi Islam sekaligus sebagai dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dan tenaga di tengah kesibukannya dalam memberikan bimbingan serta arahan dalam penyusunan skripsi ini.
4. Bapak H. Mawardi Abdullah, Lc., MA, selaku Kaprodi Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir, yang selalu memberikan motivasi kepada penulis tentang pentingnya menimba ilmu agama.
5. Segenap dosen, pegawai, dan civitas dilingkungan Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora yang telah banyak membantu dan memberikan
ix
pengalaman selama proses belajar di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, baik ilmu yang diberikan maupun pelayanan yang baik.
6. Orang tua penulis Bapak H. Anshori dan Ibu Akroma yang telah bekerja keras untuk biaya putrinya selama menempuh pendidikan hingga sampai pada tingkat S-1, dan telah mendoakan, mendukung, serta menyemangati penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Calon suami penulis Mohammad Shofi Alhikami, S. Hum, yang telah rela meluangkan waktunya di tengah proses tugas pengabdiannya, menjadi support system dan membantu penulis ketika dalam kesulitan dalam penulisan skripsi ini.
8. Sahabat-sahabat penulis Afida Wahyu Nabila, Silvi Izzun Nisa, teman seperjuangan Keluarga IAT 1 2019, keluarga AIQ Nuris 2. Yang telah memberi semangat serta memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Jember, 03 Juli 2023
Penulis
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
PEDOMAN LITERASI ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Konteks Penelitian ... 1
B. Fokus Penelitian ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
E. Definisi Istilah ... 7
F. Sistematika Pembahasan ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 11
A. Penelitian Terdahulu ... 11
B. Kajian Teori ... 16
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 27
A. Jenis Penelitian ... 27
B. Sumber Data ... 27
xi
C. Teknik Pengumpulan Data ... 28
D. Teknik Analisis Data ... 28
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 30
A. Biografi Faqihuddin Abdul Kodir ... 30
B. Hasil Analisis Penafsiran Surah Ali-‟Imran ayat 14 Dalam Perpektif Qiraah Mubadalah ... 42
BAB V PENUTUP ... 61
A. Kesimpulan ... 61
B. Saran ... 61
DAFTAR PUSTAKA ... 63 LAMPIRAN-LAMPIRAN
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian
Al-Qur‟an secara harfiyah memiliki makna mengumpulkan dan menghimpun, berasal dari kata qira‟ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu bacaan yang tersusun rapi. Al- Qur‟an berasal dari lafazh qira‟ah yang merupakan mashdar dari lafazh qara‟ah, qira‟atan, qur‟anan. Hal ini termaktub dalam firman Allah swt Q.S.
Al-Qiyamah: 17-18: “sesungguhnnya atas tanggungan kami lah mengumpulkannya (dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya”. Dalam ayat termaksud tertera lafazh, “Qur‟anah” yang berarti qiro‟atahu (bacaannya atau cara membacanya). Kata itu adalah mashdar menurut wazan “fu‟lan”
dengan vokal “u”. namun dapat disebut dengan lafazh qiro‟atuhu, qur‟an, qira‟atan wa qur‟anan.2 Kata Qur‟an dikhususkan sebagai nama bagi kitab yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, sehingga menjadikannya khas terhadap nama kitab itu. Kata Qur‟an digunakan untuk nama Al-Qur‟an secara keseluruhan, begitu juga dengan penamaan ayat-ayatnya. Sebagian ulama meneyebutkan bahwa penamaan kitab ini dengan nama Qur‟an diantara kitab- kitab Allah sebab kitab ini mencakup inti dari seluruh kitab-kitab Allah yang
2 Manna‟ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur‟an, Terjemah, Mudzakir AS. (Bogor:
P.T. Pustaka Litera AntarNusa, cet. 1, 1992), hlm. 16-17
telah diturunkan kepada para Rasul-nya, bahkan mencakup seluruh inti dari semua ilmu3
Quraish Shihab, seorang pakar tafsir Indonesia, menyatakan bahwa secara harfiyah Al-Qur‟an bermakna bacaan yang sempurna, Al-Qur‟an merupakan nama pilihan dari Allah yang paling tepat, sebab sejak manusia mengenal baca-tulis lima puluh abad yang lalu tidak ada yang dapat menandingi Al-Qur‟an yang merupakan bacaan yang sempurna lagi mulia.4 Sementara menurut Muhammad Ali Al-Subhani dalam karyanya menyebutkan bahwa Al- Qur‟an secara istilah adalah: Artinya: “Al-Qur‟an adalah firman Allah yang mengandung mukjizat (sesuatu yang luar biasa yang melemahkan lawan), diturunkan kepada penutup para nabi dan Rasul, yaitu: nabi Muhammad saw, melalui malaikat Jibril, tertulis pada mushaf, diriwayatkan kepada umat manusia secara mutawatir, membacanya dinilai ibadah, dimulai dari surah Al- Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas”.5
M. Nurdin Zuhdi berpendapat bahwa perempuan selalu menjadi isu yang menarik untuk diperbincangkan. Namun, perbincangan tentang perempuan dalam Islam selalu berujung pada kesimpulan bahwa Islam kurang atau bahkan tidak ramah perempuan. Hal ini terbukti bahwa selama ini posisi perempuan yang lemah dan inferior tergambar jelas dalam fakta empiris di masyarakat Islam maupun dalam lembaran-lembaran historis kisah-kisah ke-Islaman.6
3 Manna‟ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur‟an, hlm. 16-17
4 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur‟an, (Bandung: Mizan, 1996), hlm.3
5 Muhammad Ali al-Subhani, al-Tibyan Fi Ulum Quran, (Bairut: Dar al-Irsyad, 1970), hlm. 10
6 M. Nurdin Zuhdi perempuan dalam Al-Qur‟an dan gerakan organisasi masyarakat islam anti kesetaraan, Jurnal Studi Gender dan Islam, vol. 11, no. 1, hlm. 1-2
3
Penciptaan Hawa menjadi sebagai perempuan pertama yang Allah ciptakan. Satu hal yang telah disepakati oleh para pakar tafsir yaitu Al-Qur‟an tidak menjelaskan secara rinci mengenai mengenai penciptaan perempuan.
Begitupun dengan penamaan “Hawa” yang dianggap sebagai pasangan Adam tidak di temukan di dalam Al-Qur‟an, sebutan “Hawa” sebagai perempuan pertama yang diciptakan Allah swt, terungkap dalam sumber-sumber hadis yang menjelaskan mengenai penciptaan asal-mula manusia. 7
Penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam pun juga tidak ditemui di dalam Al-Qur‟an, akan tetapi diperoleh dari beberapa keterangan hadis yang menjelaskan perihal penciptaan Hawa yang telah menjadi bahan kritikan para kalangan feminis. Terdapat satu syarat dalam Al-Qur‟an yang menjelaskan tentang asal-usul penciptaan perempuan yaitu pada surah an-Nisa ayat:1.
Menurut Imam Ibnu Katsir, makna dari lafazh Nafsin Wahidah pada ayat tersebut di nisbatkan kepada Nabi Adam, dan lafazh zauj dinisbatkan kepada Hawa, perempuan pertama yang menjadi istri Adam. Para pakar tafsir menafsirkan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam yang disebutkan pada ayat tersebut dengan lafazh minha daripadanya.8
Penafsiran teks-teks Al-Qur‟an terdapat adanya bias patriarki. Hal ini sudah lama dirasakan oleh para pemikir pembaharu Islam, sebagaimana halnya Rifa‟ah Rafi al-Tahtawi, Qosim Amin, Muhammad Abduh, dan Thahir Mahmood. Rifa‟ah menjelaskan dalam karyanya yang berjudul Status
7 Kementrian Agama Tahun 2012, Tafsir Tematik “kedudukan dan peran perempuan”, Penerbit Aku Bisa: Jakarta, 2012, hlm 32-33
8 Kementrian Agama Tahun 2012, Tafsir Tematik “kedudukan dan peran perempuan. hlm 33
Perempuan. menyatakan bahwa letak kemuliaan perempuan ada pada pendidikannya, bukan busananya, serta berhijab atau tidak bukanlah jaminan dari kemuliaan seorang perempuan. Menurut Rifa‟ah Islam sangat menjunjung tinggi pendidikan termasuk bagi perempuan, Islam sangat menghargai nalar kritis manusia sehingga Islam menempatkan wahyu setara dengan akal manusia.
Kemudian Rifa‟ah berjuang untuk memajukan pendidikan bagi perempuan.9 Berbeda dengan Qosim Amin yang memperjuangkan keadilan perempuan. Yang menyerukan dalam dua karyanya yang berjudul Al-Mar‟ah al-jadidah dan Tahrir al-mar‟ah yang berisi tentang perlunya untuk memerdekakan perempuan. Sehingga Qasim berpendapat bahwa segala hal pengekangan terhadap perempuan seperti hijab, muhrim, harus dihilangkan.10
Sementara Mohammad Abduh, yang menguraikan ajaran Islam terkait dengan konsep keluarga dan secara tegas ia melarang poligami. Menurutnya ayat Al-Qur‟an yang menjelaskan tentang poligami hanya untuk menjelaskan konteks sosiohistoris budaya jahiliyah, bukan merupakan perintah untuk berpoligami. Sebab ajaran Islam sangat mengedepankan kesetaraan antara suami-istri sehingga keduanya harus menjalani kesalingan untuk menuju rumah tangga yang membahagiakan bagi keduanya.11
Tahrir Mahmood, yang merupakan pakar hukum Islam yang berasal dari Tunisia ia mengatakan bahwa hukum keluarga yang digunakan dalam
9 Musdah Mulia, “Feminisme Islam di Indonesia: Refleksi, Aksi, dan Praxis”, jurnal perempuan,
vol. 27, no. 2, 167-178.
10 Musdah Mulia, “Feminisme Islam di Indonesia: Refleksi, Aksi, dan Praxis”, 167-178.
11 Musdah Mulia, “Feminisme Islam di Indonesia: Refleksi, Aksi, dan Praxis”, 167-178.
5
lingkungan masyrakat saat ini ada buah dari interpretasi keIslaman yang bias patriarki.12
Banyak dari kalangan ilmuwan Barat yang memaparkan istilah gender, banyak teks Al-Qur‟an yang dengan istilahnya disebut memarginalkan seorang perempuan. Sebagaimana judul yang penulis angkat bahwa dalam surah Ali-
‟Imran ayat 14, disebutkan mengenai perempuan sebagai sumber fitnah, sebab kata an-Nisaa‟ berada diawal setelah kata Hubbus Syahawaati, sehingga banyak kalangan mufassir yang menafsirkan bahwa perempuan merupakan fitnah utama dan terbesar bagi laki-laki. Hal ini juga berangkat dari hadis nabi yang artinya
“Tidaklah aku meninggalkan suatu fitnah yang lebih bahaya bagi kaum laki-laki daripada wanita”.13
Pada tahun 2019 hadir qira‟ah mubadalah yang diusung oleh Faqihuddin Abdul Kodir yang telah membantu mengatasi ketatnya aturan gender dalam bahasa Arab, yang membuat teks-teks keIslaman sangat maskulin menjadi seimbang. Dengan ini telah memungkinkan lahirnya narasi Islam yang menempatkan laki-laki dan perempuan menjadi seimbang. Dengan adanya keseimbangan ini sehingga laki-laki tidak akan merasa paling dari pada seorang perempuan.
12 Musdah Mulia, “Feminisme Islam di Indonesia: Refleksi, Aksi, dan Praxis”, jurnal perempuan, vol. 27, no. 2, 167-178.
13 HR. Bukhari pada pembahasan tentang pernikahan, Bab: apa yang harus di perhatikan dari wanita (3/242). Dan diriwayatkan pula oleh Muslim pada pembahasan tentang peringatan (4/2097-2098, hadis nomor 2740)
B. Fokus Penelitian
1. Bagaimana relevansi qira‟ah mubadalah dalam menafsirkan ayat-ayat misoginis?
2. Bagaimana analisis surah Ali-‟Imran ayat 14 dalam perspektif qiroah mubadalah?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk menjelaskan relevansi qira‟ah mubadalah terhadap ayat misoginis 2. Untuk menganalisa surah Ali-‟Imran ayat 14 dalam perspektif qira‟ah
mubadalah
D.
Manfaat Penelitian1. Manfaat Secara Teoritis
Secara teoritis penulis berharap penlitian ini tidak hanya sebatas menambah pengetahuan baru dalam segi ilmu Al-Qur‟an dan tafsir, tetapi diharapkan dapat memperluas wacana tentang tafsir ayat misoginis dalam Al-Qur‟an dengan salah satu metode yang menyetarakan antara laki-laki dan perempuan yang disebut dengan qira‟ah mubadalah.
2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti
Penulis berharap penelitian ini dapat menambah wawasan bagi peneliti lain dalam kajian ilmu tafsir terutama pada penafsiran ayat misoginis serta metode qiroah mubadalah.
7
b. Bagi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember
Penulis berharap penelitian ini dapat menjadi referensi tambahan bagi kampus terutama dalam kajian tafsir ayat misoginis dan metode qiroah mubadalah. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi studi komparatif untuk mahasiswa yang juga hendak meneliti dengan penelitian yang serupa.
c. Bagi masyarakat luas
Penulis berharap penelitian ini dapat menjadi bahan bacaan bagi masyarakat luas untuk mendalami kajian ilmu tafsir terutama dalam pemahaman tafsir ayat misoginis
E. Definisi Istilah 1. Penafsiran
Kata tafsir menurut bahasa berasal dari kata al-fasr (رﺴﻔﻟا) menjelaskan atau mengetahui maksud suatu kata yang sulit.14 Sedangkan pengertian tafsir menurut istilah yaitu, ilmu yang digunakan untuk memahami kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, dengan tujuan menjelaskan makna-makna teks kitab-nya serta mengeluarkan hukum-hukum dan hikmahnya dengan menggunakan alat bantu berupa ilmu bahasa, nahwu, sharaf, ilmu bayan, ushul fiqh, dan qira‟ah dengan didukung pengetahuan mengenai asbabun nuzul serta nasakh-mansukh.15
14 Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir, (Amzah: Jakarta, 2014), hlm. 9
15 Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir, hlm. 16
Ilmu tafsir digunakan untuk memahami kitab Allah, menjelaskan makna-maknanya, serta mengeluarkan hukum dan hikmahnya melalui berbagai ilmu bahasa, nahwu, sharaf, bayan, ushul fiqih, qiraat, asbabun nuzul, nasakh-mansukh.16 Pembagian tafsir menurut metodologinya terbagi menjadi 4 yaitu:
a. Tafsir al-ijmali (global)
Tafsir yang bersifat umum dan singkat. Mufasir tidak menjelaskan ayat secara mendetail.
b. Tafsir at-tahlili (analitis)
Tafsir yang memaparkan segala aspek yang terkandung dalam ayat.
c. Tafsir al-muqaran (komparatif)
Tafsir yang membandingkan ayat dengan ayat lain atau membandingkan ayat dengan hadis. Hal-hal yang dibandingkan segala segi redaksi dan isi. Di samping itu, mufasir juga membandingkan pendapat mufasir yang satu dengan pendapat muafasir lainnya.
d. Tafsir al-maudhu‟i (tematik)
Tafsir yang mengumpulkan ayat yang memiliki tema yang sama.17
16 Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir, hlm. 26
17 Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir, hlm. 29
9
2. Qiroah Mubadalah
Qira‟ah mubadalah merupakan sebuah perspektif dan pemahaman dalam hubungan tertentu antara dua belah pihak, yang mengandung nilai serta semangat kemitraan, kerja sama, kesalingan, timbal balik, serta prinsip resiprokal. Baik hubungan antar manusia secara global. Negara dan rakyat, majikan dan buruh, orang tua dan anak, guru dan murid, mayoritas dan minoritas. Antara laki-laki dengan laki-laki, atau bahkan antara perempuan dengan perempuan. Bahasan mubadalah disini lebih dominan terfokus pada relasi antar keduanya, diruang kerumahtanggaan maupun di khalayak umum yang didasarkan pada kemitraan dan kerja sama.18
F. Sistematika Pembahasan
Bab I, berisi pendahuluan terdiri atas konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan sistematika pembahasan.
Bab II, berisi kajian pustaka, mencakup bahasan mengenai penelitian terdahulu yang masih ada keterkaitan dan kesamaan maupun perbedaan dengan penelitian ini. Pada Bab ini juga menjelaskan tentang teori yang digunakan dalam penelitian ini.
Bab III, berisi metode penelitian yang menguraikan tentang jenis penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data. Metode penelitian menjadi acuan agar dapat menjawab fokus penelitian.
18 Faqihuddin Abdul Kodir, Qirâ‟ah Mubâdalah: Tafsir Progresif untuk Keadilan Gender dalam Islam (Yogyakarta: IRCiSoD, 2019), hlm. 59-60
Bab IV, berisi pembahasan tentang diskursus perihal mubadalah, yang dimulai dari biografi sang tokoh meliputi: riwayat singkat dan karya utama Faqihuddin Abdul Kodir, tokoh-tokoh yang memengaruhi pemikirannya, dan pokok-pokok pemikirannya. kemudian Tinjauan Umum dari Qira‟ah Mubadalah dan sajian data dari hasil analisis yang diperoleh dari hasil penelitian terhadap penafsiran Faqihuddin Abdul Kodir pada surah Ali-
‟Imran ayat 14.
Bab V, merupakan bagian akhir atau penutup yang di dalamnya berupa kesimpulan dan saran yang diajukan. Pada bab ini, disajikan hasil penelitian sebagai ringkasan dan saran dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Selanjutnya, penelitian akan diakhiri dengan Daftar Pustaka.
11
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian terdahulu
1. Skripsi Mudrikah Zain yang berjudul “Pesona Perempuan Sebagai Sumber Syahwat (Analisis Metode Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir dalam Q.S Ali-‟Imran [3]:14)”. Karya ini diujikan oleh tim penguji Fakultas Syari‟ah Ushuluddin dan Dakwah Institut Agama Nahdlatul Ulama Kebumen Pada Tahun 2022. Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: 1) bagaimana konsep metode mubadalah sebagai metode pembacaan Al-Qur‟an, 2) apa yang melatarbelakangi Faqihuddin Abdul Kodir menggunakan metode mubadalah. Karya ini menggunakan jenis penelitian library research (kepustakaan) yang bersifat deskriptif analitis.
Yang membedakan dengan penelitian ini dengan penelitian terdahulu tersebut yaitu pada rumusan masalah yang difokuskan oleh Mudrikah.19 2. Skripsi Aris Mujammil yang berjudul “Penafsiran Nafsin Wahidah
Perspektif Faqihuddin Abdul Kodir (Studi Analisis Tafsir Progresif Qira‟ah Mubadalah)”. Karya ini diujikan oleh tim penguji Fakultas Ushuluddin Adab Dan Humaniora Universitas Kiai Haji Achmad Siddiq pada tahun 2022. Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: 1) bagaimana biografi dan pemikiran Faqihuddin Abdul Kodir, 2) bagaimana penafsiran Faqihuddin Abdul Kodir dengan metode mubadalah terhadap makna nafsin wahidah dalam Al-Qur‟an. Skripsi ini menggunakan jenis
19 Mudrikah Zain, 2022, ”Pesona Perempuan Sebagai Sumber Syahwat (Analisis Metode Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir dalam QS. Ali-„Imron [3]:14”
penelitian kepustakaan (library research) dengan metode deskriptif- analitis dan tematik (maudhu‟i).20
3. Skripsi yang ditulis oleh Siti Qurrota„Ayun yang berjudul “Studi Penafsiran Ayat Nusyuz Dalam Qiroah Mubadalah Perspektif Faqihuddin Abdul Kodir”. Karya ini diujikan oleh tim penguji pada Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri KH. Achmad Siddiq Jember pada tahun 2021. Rumusan masalah pada Penelitian ini yaitu: 1) bagaimana yang dimaksud qiro‟ah mubadalah menurut Faqihuddin Abdul Kodir, 2) bagaimana studi penafsiran ayat nusyuz dalam qiro‟ah mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir. Jenis penelitian yang digunakan pada skripsi ini yaitu kepustakaan (library research) dan menerapkan metode deskriptif analitis dan tematik (maudhu‟i).21
4. Karya yang ditulis oleh Faisal Haitomi dan Maula Sari yang berjudul
“Analisa Mubadalah Hadis “Fitnah Perempuan“ dan Implikasinya Terhadap Relasi Gender”. Karya ini diterbitkan oleh Jurnal Ilmu-ilmu Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada bulan April tahun 2021, volume 3, nomor 1. Penelitian ini fokus dalam menganalisis hadis mengenai “Fitnah Perempuan” dengan menggunakan metode mubadalah. Hasil dari penelitian mengungkapkan bahwa teks hadis mengenai fitnah perempuan tidaklah seperti lafazh yang ada, akan
20 Aris Mujammil, 2022, “Penafsiran Nafsin Wahidah Perspektif Faqihuddin Abdul Kodir (Studi Analisis Tafsir Progresif Qira‟ah Mubadalah)
21 Siti Qurrota‟Ayun, 2021 “Studi Penafsiran Ayat Nusyuz Dalam Qiroah Mubadalah Perspektif Faqihuddin Abdul Kodir”
13
tetapi sebagai anjuran antara laki-laki dan perempuan agar lebih waspada terhadap fitnah atau pesona yang dapat di munculkan dari keduanya.22 5. Karya yang ditulis oleh Ahmad Rozihan yang berjudul “Analisis Metode
Mafhum Muabadalah Faqihuddin Abdul Kodir Terhadap Masalah Nusyuz Suami”. Karya ini diterbitkan oleh BudAI: Multidisciplinary Journal of Islamic Studies Hukum Keluarga Universitas Islam Sultan Agung, Semarang pada tahun 2021, volume 1, No. 1. Penelitian terfokus pada kajian konsep Nusyuz bagi seorang suami dengan menggunakan Mafhum Mubadalah dalam menganalisisnya, metode penelitian yang digunakan yaitu kepustakaan (library research). Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa seorang suami juga bias nusyuz terhadap istri seperti: mendiamkan istri, berburuk sangka, tidak mengajakn istri untuk tidur bersama, tidak menggauli istri tanpa adanya uzur syar‟i, menganiaya, dan juga bahkan meninggalkan istri karena penyakit yang dideritanya.
Sedangkan dampak dari mafhum mubadalah terhadap nusyuz suami yaitu seseorang dapat berpotensi berpaling karena memiliki relasi dengan banyak pihak, tidak hanya relasi marital. Solusi yang ditawarkan Al- Qur‟an berdasarkan pemahaman mubadalah yaitu shulhun (berdamai), ihsaanun (berbuat baik), ittiqoo (menjaga diri).23
22 Faisal Haitomi dan Maula Sari, 2021 “Analisa Mubadalah Hadis “Fitnah Perempuan”
dan Implikasinya TerhadapRelasi Gender”. Jurnal Ilmu-ilmu Ushuluddin, Volume 3, nomor 1.
https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/substantia
23 Ahmad Rozihan, 2021“Analisis Metode Mafhum Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir terhadap Masalah Nusyuz Suami”, BudAI: Multidisciplinary Journal of Islamic Studies, volume 1, nomor 1. http://jurnal.unissula.ac.id./idex.php/mjis
6. Karya yang ditulis oleh Hud Leo Perkasa Maki, Nawa Angkasa, Amrina Rosyada, Ibnu Akbar Maliki, Lisa Mualifah dengan judul “Relevansi Ketentuan Kompilasi Hukum Islam Tentang Masa Berkabung Perspektif Mubadalah”. karya ini diterbitkan oleh Istinbath: Jurnal Hukum Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Metro, pada tahun 2021, volume 18, Nomor 2. Pada penelitian ini membahas mengenai masa berkabung bagi suami maupun istri melalui perspektif Mubadalah, metode penelitian yang digunakan yaitu hukum normatif dengan pendekatan content analysis.
Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahawa pada pasal 170 terdapat empat kata yang dapat menimbulkan masalah mengenai berkabung menurut mubadalah empat kata tersebut yaitu wajib, masa iddah, berduka cita, dan fitnah sedangkan laki-laki dalam pasa 170 hanya disapa dengan kata kepatutan. Untuk mengungkapkan kata kepatutan pada pasal 170 ayat (2) digunakan teori „urf, sehingga dapat ditemukan bahwa secara perspektif mubadalah implisit teks pada pasal 170 sudah menyapa keduanya.24
Tabel 2.1
Persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu No Nama, Tahun, dan Judul Persamaan Perbedaan 1. Mudrikah Zain, 2022
“Pesona Perempuan Sebagai Sumber Syahwat (Analisis
Metode Mubadalah
Faqihuddin Abdul Kodir dalam Q.S Ali-‟Imran [3]:14)
Penelitian ini memiliki persamaan
yang cukup
signifikan dari ayat yang dikaji dan
sama sama
Perbedaan nya pada fokus penelitian,
24 Hud Leo Prakasa, Nawa Angkasa, dkk, 2021 “Relevansi Ketentuan Kompilasi Hukum Islam Tentang Masa Berkabung Perspektif Mubadalah”, Istinbath:Jurnal Hukum, volume 18, nomor 2. https://e-journal.metrouniv.ac.id/index.php/istinbath/article/view/4019/2557
15
menganalisis menggunakan
metode mubadalah.
Penelitian ini juga menggunakan
pendekatan llibrary research dengan metode deskriptif analitis
2. Aris Mujammil, 2022
“Penafsiran Nafsin Wahidah Perspektif Faqihuddin Abdul Kodir (Studi Analisis Tafsir
Progresif Qira‟ah
Mubadalah)”.
Menggunakan perspektif Qira‟ah Mubadalah,
menggunakan jenis penelitian library research dan dengan metode deskriptif- analitis
Fokus kajian yaitu penafsiran Nafsin Wahidah
3. Siti Qurrota„Ayun, 2021
“Studi Penafsiran Ayat Nusyuz Dalam Qira‟ah Mubadalah Perspektif Faqihuddin Abdul Kodir”
Menggunakan
perspektif Qira‟ah Mubadalah dan
dengan jenis
penelitian kualitatif pustaka dengan metode deskriptif- analitis
Kajian utamanya terfokus pada ayat Nusyuz
4. Faisal Haitomi dan Maula Sari, 2021,“Analisa Mubadalah Hadis “Fitnah Perempuan “dan Implikasinya Terhadap Relasi Gender”
Kajian tentang fitnah perempuan dengan analisis Mubadalah
Pada jurnal ini hadis yang dijadikan sebagai objek
5. Ahmad Rozihan, 2021
“Analisis Metode Mafhum Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir Terhadap Masalah Nusyuz Suami”
menggunakan Qiroah Mubadalah untuk mengkaji fokus kajian peneliti
menggunakan
metode penelitian library research
Fokus kajian yaitu Nusyuz pada suami
6. Hud Leo Perkasa Maki, Nawa Angkasa, Amrina Rosyada, Ibnu Akbar Maliki, Lisa Mualifah, 2021 “Relevansi Ketentuan Kompilasi Hukum Islam Tentang Masa Berkabung Perspektif Mubadalah”
Menggunakan perspektif
Mubadalah dalam penelitiannya
Fokus kajian, dan metode
penelitian
B. Kajian teori
1. Teori Equilibrium
Teori equilibrium yaitu suatu teori yang menjelaskan secara nyata mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan secara seimbang yang merupakan paham kesepakatan yang dikenal dengan keseimbangan, teori ini menekankan pada konsep kemitraan serta keharmonisan relasi antara laki-laki dan perempuan. Teori equilibrium secara konseptual ada sebagai berikut:25
Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa teori equilibrium ini melahirkan kesetaraan dan keadilan gender yang harus memperhatikan masalah-masalah gender secara kontekstual serta bersifat situasional, bukan sekedar perhitungan matematis semata dan tidak bersifat universal, melainkan kondisional.26
25 Alifiulahtin Utaminingsih, Gender dan Wanita Karir, (Malang: UB Press, 2017, cet. 1), hlm. 22-25
26 Alifiulahtin Utaminingsih, Gender dan Wanita Karir, (Malang: UB Press, 2017, cet. 1), hlm. 26
17
2. Tinjauan Umum terhadap Qira’ah Mubadalah A. Pengertian Qira’ah Mubadalah
Mubadalah berasal dari suku kata “ba-da-la” yang memiliki arti mengganti, mengubah, dan menukar. Sementara kata Mubadalah memiliki arti kesalingan dan kerja sama antara kedua belah pihak. yang berarti saling mengganti, saling menukar, dan saling mengubah satu sama lain.
Secara istilah Mubadalah merupakan sebuah perspektif serta pemahaman antara dua belah pihak dalam relasi tertentu, yang mengandung nilai dan semangat kemitraan, kerja sama, kesalingan, timbal balik, dan prinsip resiprokal. Baik relasi antara manusia secara umum, Negara dengan rakyat, majikan dengan buruh, orang tua dengan anak, guru dengan murid, mayoritas dengan minoritas, laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Antara individu dengan individu atau dengan masyarakat secara umum. Namun pembahasan mubadalah di fokuskan antara laki-laki dan perempuan dalam ruang domestik dan publik.27
Istilah Mubadalah juga digunakan sebagai metode interpretasi terhadap teks-teks sumber Islam yang meniscayakan laki-laki dan perempuan sebagai subjek yang setara, yang keduanya harus disapa oleh teks tersebut dan harus tercakup dalam makna yang terkandung di dalam teks tersebut. 28
Qira‟ah mubadalah muncul karena adanya kegelisahan- kegelisahan dari adanya fakta sebuah relasi yang timpang, untuk
27 Faqihuddin Abdul Kodir, Qira‟ah Mubadalah, hlm. 59-60
28 Faqihuddin Abdul Kodir,Qira‟ah Mubadalah, hlm. 60
mentransformasikannya menjadi sebuah relasi yang adil dan membahagiakan.
Terdapat dua faktor yang melatar belakangi dari munculnya perspektif mubadalah, yaitu factor sosial dan bahasa. Faktor sosial terkait perspektif masyarakat yang lebih dominan menggunakan pengalaman laki- laki dalam memahami agama, tafsir kagamaan juga lebih dominan menyuarakan dengan perspektif laki-laki. Sehingga perempuan seolah- olah menjadi pelengkap saja, sebagaimana pada penafsiran mengenai bidadari bagi laki-laki yang saleh, hal ini lebih cenderung hanya menjawab kegelisahan laki-laki dan memenuhi harapan-harapan laki-laki, sementara menyampingkan harapan-harapan daripada perempuan.29
Sedangkan faktor bahasa yaitu Sebagaimana yang dapat diketahui bahwa bahasa Al-Qur‟an menggunakan bahasa Arab, yang membedakan laki-laki dan perempuan baik pada kata benda, kata kerja, bahkan kata ganti, dan dalam bentuk mufrad atau jama‟. Redaksi bahasa Arab yang diperuntukkan perempuan harus berbeda dari redaksi yang di peruntukkan laki-laki. Sekalipun itu suatu benda yang tidak memiliki jenis kelamin, seperti kursi dan meja maka harus tetap diimajinasikan dan diredaksikan sebagaimana laki-laki (mudhakar) atau perempuan (muannath). Akan tetapi kenyatannya redaksi yang terdapat didalam Al-Qur‟an lebih dominan menggunakan bentuk dan redaksi laki-laki (mudhakar). yang diajak berbicara oleh Al-Qur‟an, secara struktur bahasa adalah laki-laki
29 Faqihuddin Abdul Kodir,Qira‟ah Mubadalah, hlm. 104
19
mengenai perintah sholat, puasa, haji, hijrah, zakat, berbuat baik terhadap orang lain, menjaga diri dari adanya fitnah dunia, mendidik keluarga dalam mencari ilmu, dan menikmati segala yang ada di surga serta menikmati segala yang ada didalamnya. Sebagian besar dari teks-teks ini menggunakan bentuk redaksi laki-laki (mudhakar). Dalam penjelelasan ulama klasik teks Al-Qur‟an yang menggunakan redaksi laki-laki dianggap sudah mencakup perempuan. Pendekatan pemahaman akan hal ini disebut tahglib, atau pencakupan perempuan ke dalam redaksi laki-laki.
Penjelasan mengenai hal ini telah diungkapkan oleh Faqih dalam karya yang mnegutip dari penjelasan Ibnu Qayyim al-Juziyah “Syariah telah menetapkan aturan yang menyatakan bahwa peraturan yang tercantum dalam redaksi laki-laki ditujukan untuk laki-laki dan perempuan jika sama sekali tidak menyebut perempuan”. Sementara itu berbeda dengan pendapat ulama terkait cakupan redaksi laki-laki dan perempuan. Sebab kaidah pencakupan redaksi laki-laki terhadap perempuan ini sering kali tidak dapat dipahami demikian, terutama mengenai ayat-ayat yang dianggap maskulin. Menurut pengalaman hijrah dan jihad para sahabat perempuan, yang tidak disebutkan dalam ayat-ayat tentang hijrah dan jihad, yang secara eksklusif dibahas menggunakan redaksi laki-laki.
Kenyataannya, sudah ada ayat yang membahas mengenai hijrah dan jihad dengan redaktur laki-laki, yang seharusnya secara taghlib bisa mencakup perempuan didalamnya. Akan tetapi faktanya tidak demikian, sebab perempuan pun menuntut, dan ayat-ayat Al-Qur‟an diturunkan dengan
jelas dan tegas menyebutkan perempuan (untha) dan laki-laki (dhakar) sebagai subjek yang sama dalam isu hijrah dan jihad. Untuk mempermudah pemahaman terdapat dua ayat yang membahas mengenai hijrah dan jihad yang termaktub pada surah Al-Baqarah:218 dan pada surah Ali-„Imran:195. Ayat pada surah Al-Baqarah:218 yang menggunakan redaksi laki-laki (tanpa menyebut perempuan) yang seharusnya dengan metode taghlib sudah mencakup perempuan.
Sedangkan pada surah Ali-„Imran: 195 yang secara khusus turun dengan redaksi laki-laki dan perempuan dalam isu hijrah dan jihad. Kedua jenis kelamin ini disebutkan dalam surah Ali-„Imran:195 30
B. Penjelasan Mengenai Mubadalah dalam Al-Qur’an
Al-Qur‟an telah menyebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 30
َادّسٰفَهيَُّٰ اَِاااٰهيّوَا الٰاتَانَنْٰٓباّاابََۗوةافٰهيّقالَ ّضٰفاٰلْنَ ّفٌَِ ّعااعَٰ ّننّّنَّةاملَى ٕ
ٰقامٰقَّّ اكَبافَ الاابَٰكّناَ
َاااٰهيّو
َانٰباماقٰلاهتَ الَْااَِا اقٰعانَّْٰٓننّّنَالاابََۗاكاَّا ّنداناهثاََاكّدٰماّبَِاحّنااساثَا ٰانَاََااء ٕااِّندّنَاكّفٰسايُّاَ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,
“Aku hendak menjadikan khalifah13) di bumi.” Mereka berkata,
“Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji- Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”31
Pada ayat diatas telah menjelaskan bahwasanya seluruh manusia merupakan khalifah di muka bumi ini yang berguna untuk menjaga serta melestarikan segala isinya. Amanah kekhalifahan ini ada pada pundak seluruh manusia laki-laki dan perempuan bukan salah satunya sehingga
30 Faqihuddin Abdul Kodir, Qira‟ah Mubadalah, hlm. 111-113
31 Al-Qur‟an Hafalan Terjemahan dan Tajwid Warna, Cordoba: Bandung, 2020, hlm. 6.
21
harus ada kesalingan antar keduanya. Terutama kesalingan untuk tidak berbuat kezhaliman atau salah satu kelamin mendominasi atau menghegemoni yang lain. Sebab hal demikian sangat bertentangan dengan amanah kekhalifahan yang seharusnya diemban bersama baik laki-laki maupun perempuan.
Berikut ini adalah ayat-ayat yang secara umum mengapresiasi kesalingan serta kerja sama dalam relasi antara laki-laki dan perempuan.
Surah Al-Hujurat: 13
َاسنّنَاَنٰباهوافاالاهعَّّا لَِٕااااهباسََوا ٰبالاعَٰ امَٰٰقالاعاََوٰىٰهثاناسََو اراكَٰ ّنَِٰ امَٰٰناقالَاسَّنَا ااسَّنَاااَهيُّ َاٰي
َٰ اماِا ٰران
َٰيّاالٌَ ٰيّقاعَاٰنللّنَاسنّنَٰۗ امىٰنٰهتانَّٰنللّنَادَّٰع
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”32 Surah Al-Maidah: 2
َاٰنللّنَاسنّنَۗاٰنللّنَنباناسهتناََّۖنناَٰدالّٰناََ ّٰثّْٰلْنَواقاعَنٰباهثاَاالاهتَ الْاََ ۖىٰبٰناسهعّناََّنّبّٰنَواقاعَنٰباهثاَاالاهتاَ
َادٰيُّّداعَ
َّباانّلّٰن
Artinya: “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”33
Surah An-Nisa‟: 1
َٰ ّنَِٰ اماناقالَٰ ّياسّنَا اماسبافَنٰباناسهتنَا ااسَّنَاااَهيُّ َاٰي
ٍ سْفَّن
َاامااٰهََِّاسثاباََااااعَٰازَاااٰهََِّاقاقالاسََوةادّحناسَ َ
َٰباّاء ٕااساتَٰ ّياسّنَاٰنللّنَنباناسهتناََاَوءٕااسّثاسََنو ٰهيّىارَ ولْااعّف
َهّبَان
َامااحٰفاٰلْناَ
َ
َۗۗ
َ
َاسنّن
َاٰنللّن َ
َاناار َ
َٰ امٰياقاع َ اواٰهيّباف َ
32 Al-Qur‟an Hafalan Terjemahan dan Tajwid Warna, Cordoba: Bandung, 2020, hlm.
517.
33 Al-Qur‟an Hafalan Terjemahan dan Tajwid Warna, Cordoba: Bandung, 2020, hlm. 106
Artinya “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”34
Surah Al-Anfal: 72
ََٰا اعااهاََنٰباهَاِٰنَا ٰيُّّياسّنَاسنّن
َنَْٰٓا اصاثاسََنَٰاَٰنَا ٰيُّّياسّناََّٰنللّنَ ّ ٰيّااسَّٰفَِٰ ّاّسافٰهثاناََٰ ّّلِنابِٰاّا َنَٰاداهااعاََن
َ ٰ ّنَِٰ ّاّعايُّ الْاسََ ٰ ّنَِٰ اماَّااَِنَٰا ّعااااهيَُّٰالَاََنٰباهَاِٰنَا ٰيُّّياسّناََ ۗوضٰلاهبَاء ٕاايَّّٰانَٰ اااضٰلاهبَ اكلَى ٕ
َّٰان
َوءٰياع
َ انَٰا ّعااااهيَُّ ٰنتّاح
َٰ اااهَٰهياهباََٰ اماَٰهياهبَ ٍۢومٰباهبَوٰقاعَ اسلّْنَا ٰصاسَّنَا امٰياقالاهوَّ ٰيُّّندّنَ ّفَِٰ ارَٰا اصَٰاهعٰسنَّنّناَ
ٌَ ٰهيّصابَانٰباقامٰلاهتَااّبَِاٰنللّناََ ۗ
ٌقااىٰهيّنِ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah, serta orang- orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu sebagiannya merupakan pelindung bagi sebagian yang lain. Orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atas kamu untuk melindungi mereka sehingga mereka berhijrah. (Akan tetapi,) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama (Islam), wajib atas kamu memberikan pertolongan, kecuali dalam menghadapi kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”35
Keempat ayat tersebut merupakan contoh dari relasi kesalingan, kemitraan, serta kerja sama yang dianjurkan dan masih banyak ayat-ayat yang serupa. Dalam ayat pertama yaitu pada surah Al-Hujurat:13 dalam ayat tersebut terdapat lafazh “ta‟arafu” yang merupakan sebuah kata kesalingan (mufa‟ala) dan kerja sama (musyarakah). Lafazh “Ta‟arafuu”
berasal dari kata „arafa yang berarti saling mengenal antara satu dengan yang lain. Ayat yang kedua yaitu surah Al-Maidah:2 dalam ayat ini juga
34 Al-Qur‟an Hafalan Terjemahan dan Tajwid Warna, Cordoba: Bandung, 2020, hlm. 77
35 Al-Qur‟an Hafalan Terjemahan dan Tajwid Warna, Cordoba: Bandung, 2020, hlm. 186
23
menggunakan kata dalam bentuk kesalingan yaitu pada lafazh “ta‟awanu”
yang memiliki makna “saling tolong-menolonglah kalian semua”, pada ayat ketiga surah An-Nisa:1 terdapat lafazh “tasa‟alun” yang dalam ilmu sharaf disebut “musyarakah baina itsnain” atau kerja sama antara kedua belah pihak yang bermakna saling meminta satu sama lain. Pada ayat keempat surah Al-Anfal:72 memiliki lafazh “ba‟duhum awliya‟ ba‟d”
(satu sama lain adalah penolong) yang juga merupakan makna kesalingan.
Dari keempat ayat tersebut telah memberikan inspirasi yang jelas mengenasi relasi antara sesama manusia. termasuk relasi antara laki-laki dan perempuan.36
Dalam ayat-ayat tersebut Al-Qur‟an secara jelas (qat‟iy) menyebut laki-laki dan perempuan dalam pesannya dalam struktur yang membedakan laki-laki dari perempuan, dan dominan menggunakan struktur bahasa maskulin (mudhakkar), memasukkan perempuan secara jelas termasuk hal yang penting. Pendekatan baru yang digagas oleh Al- Qur‟an ini, karena menyebutkan kedua jenis kelamin secara eksplisit, dapet dikategorikan dalam pendekatan tashrih dan tanshih atau yang masyhur disebut dengan pendekatan gender.
C. Cara Kerja Qira’ah Mubadalah
Cara kerja metode pemaknaan mubadalah terhadap teks-teks sumber Islam yaitu Al-Qur‟an dan Hadis, terdiri dari tiga langkah yang
36 Faqihuddin Abdul Kodir,Qira‟ah Mubadalah, hlm. 62-63
perlu dilalui, langkah-langkah ini bersifat kronologis. Tetapi ketika kesadaran pengetahuan terhadap langkah pertama yang telah menguat dan melekat, bagi sebagian orang biasanya bias langsung menuju ke langkah kedua bahkan ke langkah yang ketiga.37
Langkah pertama, yaitu menemukan dan menegaskan prinsip- prinsip ajaran Islam dari teks-teks yang bersifat menyeluruh sebagai awal dari proses pemaknaan. baik prinsip yang bersifat umum yaitu melampaui seluruh tema (al-mabadi‟) maupun yang bersifat khusus terhadap tema tertentu (al-qawa‟id) prinsip-prinsip inilah yang menjadi landasan inspirasi terhadap pemaknaan seluruh rangkai metode mubadalah. Yang dimaksud prinsip adalah ajaran yang melampaui perbedaan jenis kelamin, seperti halnya ajaran mengenai keimanan yang menjadi pondasi setiap amal, bahwa amal kebaikan akan dibalas tanpa pandang jenis kelamin.
Prinsip inilah yang harus dijadikan kesadaran awal sebelum memasuki praktik interpretasi ayat-ayat lain yang bersifat parsial. Kandungan dan pesan utama dari teks prinsip harus dipastikan menjadi dasar utama dalam proses pemaknaan teks-teks parsial. Untuk pemaknaan ayat-ayat prinsip hanya berhenti pada langkah pertama yaitu menemukan gagasan prinsip dalam teks yang menjadi dasar dari keseimbangan.38
Langkah kedua, yaitu menemukan gagasan-gagasan utama yang terekam dalam teks-teks yang akan di interpretasikan. Maksudnya yaitu teks-teks relasional yang telah menyebutkan peran laki-laki dan
37 Faqihuddin Abdul Kodir,Qira‟ah Mubadalah, hlm. 200
38 Faqihuddin Abdul Kodir,Qira‟ah Mubadalah, hlm. 200-201
25
perempuan, teks relasional bersifat parsial-implementatif, maka perlu ditemukan makna yang bisa kohesif serta korelatif dengan prinsip-prinsip yang ditegaskan oleh ayat-ayat yang telah ditemukan pada langkah pertama. Sederahananya pada langkah kedua ini dilakukan dengan menghilangkan subjek dan objek yang ada dalam teks . lalu, predikat teks menjadi makna yang akan di mubadalah-kan antara dua jenis kelamin.
Makna yang lahiir dari proses langkah kedua inilah yang dibawa pada proses pemaknaan yang bersifat mubadalah. Jika teks ini sudah diperlakukan taghlib dan mengandung mubadalah oleh para ulama klasi, maka hanya perlu penegasan mengenai kesalingan dan keadilan relasi antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi jika belum, atau masih samar- samar, terutama pada teks-teks perempuan maka dilakukan langkah yang ketiga.39
Langkah ketiga, yaitu menurunkan gagasan yang ditemukan dari teks yang muncul dari proses langkah yang kedua kepada jenis kelamin yang tidak disebutkan di dalam teks. Sehingga suatu teks tidak berhenti pada satu kelamin saja, tetapi juga mencakup jenis kelamin lainnya.
Metode mubadalah ini menegaskan bahwa teks untuk laki-laki juga untuk perempuan dan begitupun teks perempuan juga untuk laki-laki, selama telah ditemukan makna atau gagasan utama dari teks yang dapat mengaitkan dan berlaku untuk keduanya (laki-laki dan perempuan).
39 Faqihuddin Abdul Kodir,Qira‟ah Mubadalah, hlm. 201-202
Makna utama ini harus selalu dihubungkan dengan ide-ide mendasar yang terkandung dalam teks yang digunakan dalam proses langkah pertama.40
Diagram Alur Kerja Interpretasi Mubadalah
40 Faqihuddin Abdul Kodir,Qira‟ah Mubadalah, hlm. 202
27
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat kepustakaan (library research), dengan metode deskriptif- analitis. penulis menggunakan jenis penelitian ini karena data penelitiannya bersifat deskriptif sehingga tidak melibatkan angka atau statistik. Dengan kata lain, metode yang penulis gunakan berusaha mengkaji atau menggambarkan secara mendalam dengan objek yang dikaji, yaitu: mendeskripsikan penafsiran Faqihuddin Abdul Kodir pada surah Ali-‟Imran ayat 14 dengan perspektif Qiroah Mubadalah.
B. Sumber Data
Data yang digunakan pada penelitian ini yaitu berupa data yang tertulis baik berupa buku, jurnal, artikel serta skripsi yang memiliki pembahasan serupa dan berkaitan dengan penelitian ini. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data tersebut dikarenakan pada penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan.
1. Data primer
Sumber data primer pada penelitian ini adalah Al-Qur‟an, karena pada penelitian ini penulis terfokus untuk mengkaji surah Ali-„Imran ayat 14.
2. Data sekunder
Sumber data sekunder pada penelitian ini, yaitu: buku, jurnal, skripsi, artikel yang memuat pembahasan yang berkaitan dengan penelitian ini.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan yaitu deskriptif- analitis, teknik yang digunakan penulis untuk mengumpulkan data, yaitu:
1. Membaca penafsiran surah Ali-„Imran ayat 14
2. Mengumpulkan beberapa literatur yang membahas tentang perempuan seperti buku-buku yang membahas seputar gender
3. Membaca cara kerja dari qira‟ah mubadalah dalam menafsirkan ayat- ayat yang terkesan misoginis, dari buku qira‟ah mubadalah
4. Menulis penafsiran surah ali-„Imran dalam perspektif qira‟ah mubadalah
D. Teknik Analisis Data
Penulis menggunakan strategi interpretatif untuk menilai data yang tersedia, yaitu menjelaskan analisis penafsiran Faqihuddin terhadap surah Ali-
‟Imran ayat 14. Dengan pendekatan tersebut penulis dapat menemukan pemikiran tokoh dalam menafsirkan kajian fokus penulis.
Perlu mengikuti berbagai tahapan logis sebagai panduan dalam menyajikan data selain menemukan hasil yang diinginkan penulis, antara lain:
1. Mengumpulkan informasi baik lisan maupun tulisan tentang tafsir Faqihuddin Abdul Kodir terhadap surat Ali Imran ayat 14.
29
2. Menganalisis data yang berkaitan dengan tema serta membaca hasil data yang telah ditemukan.
3. Membuat kesimpulan berdasarkan fokus penelitian.
30
A. Latar Belakang dan Pokok-pokok Pemikiran 1. Biografi Faqihuddin Abdul Kodir
Faqihuddin Abdul Kodir merupakan putra kedua dari pasangan almarhum H. Abdul Kodir dan almarhumah Hj. Kuriyah, yang lahir pada tanggal 31 Desember 1971, Faqih merupakan suami dari Albi Mimin Mu‟mina41 dari pernikahannya dengan Albi Mimin Mu‟minah telah dikaruniai tiga orang anak yaitu Dhiya Silmi Hasif, Isyqi bin Nabiy Hanif, dan Muhammad Mujtaba Ghiats.42 Faqih memiliki keseharian mengajar di beberapa kampus yaitu di IAIN Syekh Nurjati di Cirebon, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) di Cirebon, dan Ma‟had Aly Pesantren Kebon Jambu, Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Faqih juga merupakan aktivis jaringan KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia).43
Faqih memulai awal pendidikannya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kedongdong, dan Madrasah Ibtidaiyah Wathoniyah, Gintung Lor, Susukan, Cirebon dan lulus pada tahun 1983. Kemudian Faqih melanjutkan pendidikan tingkat SLTP di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Arjawinangun, Cirebon dan lulus pada tahun 1986. Lalu melanjutkan
41 Faqihuddin Abdul Kodir, Qirâ‟ah Mubâdalah: Tafsir Progresif untuk Keadilan Gender dalam Islam (Yogyakarta: IRCiSoD, 2019), hlm. 21
42 Ajat Sudrajat, 2020, “Kesetaraan Gender dalam Penyelesaian Nusyuz Perspektif Teori Mubadalah”, hlm. 39
43 Faqihuddin Abdul Kodir, Perempuan (Bukan) Sumber Fitnah!, 2021, (Bandung:
Afkaruna.id), hlm. 237
31
pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) Nusantara Arjawinangun, Cirebon, lulus pada tahun 1989.44 Selama menempuh pendidikan menengah Faqih juga mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren Dar al-Tauhid, Arjawinangun, dibawah asuhan K.H. Ibnu Ubaidillah dan K.H. Husein Muhammad.45
Faqih melanjutkan S1 di Damaskus-Syria, dengan mengambil double degree, Fakultas Dakwah Abu Nur (1990-1996). Selama berada di Damaskus Faqih belajar pada Syekh Ramadhan al-Buthi, Syekh Wahbah, dan Muhammad Zuhaili, dan hampir setiap Jum‟at Faqih mengikuti dzikir dan pengajian khalifah Naqsabandiyah , Syekh Ahmad Kaftaro.46
Belajar fiqh ushul fiqh pada master di Universitas Khortoum-Cabang Damaskus, namun belum sempat menulis tesis Faqih pindah ke Malaysia, sehingga jenjang S2 secara resmi diambil dari International Islamic University Malaysia, di Fakultas Islamic Revealed Knowledge and Human Science, pada bidang pengembangan fiqih zakat (1996-1999). Setelah sepuluh tahun aktif di kerja-kerja keIslaman untuk pengembangan masyarakat, terutama pada pemberdayaan perempuan, kemudian Faqih mendaftar S3 di Indonesian Consortium for Religius Studies (ICRS) UGM Yogyakarta, lulus pada tahun 2015.47
Faqih saat Di Damaskus aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dan Ikatan Cedekiawan Muslim Indonesia (ICMI) orsat Damaskus. Di
44 Ajat Sudrajat, 2020, “Kesetaraan Gender dalam Penyelesaian Nusyuz Perspektif Teori Mubadalah”, hlm. 39
45 Faqihuddin Abdul Kodir, Qirâ‟ah Mubâdalah, hlm. 613
46Faqihuddin Abdul Kodir, Qirâ‟ah Mubâdalah, hlm. 613
47Faihuddin Abdul Kodir, Qira‟ah Mubadalah , hlm. 613-614
Kuala Lumpur beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCI NU). Sepulang dari Malasyia, Pada awal tahun 2000 Faqih bergabung dengan Rahima Jakarta dan Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) Ciganjur. Di Cirebon, bersama Buya Husein, Kang Fandi, dan Zeky, Faqih mendirikan Fahmina Institute, serta memimpin pada sepuluh tahun pertama (2000-2009). Selain bergabung di tiga lembaga ini, saat ini Faqih juga bergabung di Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK NU) Pusat, serta dipercaya sebagai Sekretaris Nasional Alimat (Gerakan Nasional untuk Keadilan Keluarga dalam Perspektif Islam).48 Aktif juga mengajar di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, di jenjang Sarjana dan Pascasarjana, di ISIF Cirebon, Faqih juga mengajar di Pon-Pes Kebon Jambu al-Islami Babakan Ciwaringin. Selain itu Faqih juga menjabat sebagai Wakil Direktur Ma‟had Aly Kebon Jambu, takhashshush fiqh ushul fiqh, dengan konsentrasi pada perspektif keadilan relasi laki-laki dan perempuan.49
Sejak tahun 2000, Faqih menulis rubric “Dirasah Hadis” di Swara Rahima, majalah yang diterbitkan oleh Rahima Jakarta untuk isu-isu pendidikan dan hak-hak perempuan dalam Islam. Terdapat 39 tulisan Faqih dengan berbagai tema pemberdayaan perempuan dalam Islam, dari 53 nomor yang sudah Rahima Jakarta terbitkan. Sejak tahun 2016, Faqih menjadi anggota tim, contributor konsep dan buku, instruktur dan fasilitator
“Bimbingan Perkawinan” yang digagas oleh Kementrian Agama Republik Indonesia. Pada bulan puasa tahun 2016 Faqih memiliki inisiatif untuk
48Faihuddin Abdul Kodir, Qira‟ah Mubadalah , hlm. 614
49Faihuddin Abdul Kodir, Qira‟ah Mubadalah, hlm. 614
33
memulai membuat blog untuk tulisan tentang hak-hak perempuan dalam Islam, di alamat www.mubadalah.com dan www.mubadalahnews.com. Dan saat ini Faqih menjadi platform media bersama bagi gerakan penulisan dan penyebaran narasi keIslaman untuk perdamaian dan kemanusiaan, terutama pada kesalingan relasi antara laki-laki dan perempuan.50
Karya utama yang berupa beberapa buku yang ditulisnya Faqih diantaranya yaitu:
Qira‟ah Mubadalah (Tafsir Progresif untuk Keadilan Gender dalam Islam) (Yogyakarta: IRCiSoD, 2019), Shalawat Keadilan: Relasi Laki-laki dan Perempuan dalam Teladan Nabi (Cirebon: Fahmina, 2003), Bangga Menjadi Perempuan: Perbincangan dari Sisi Kodrat dalam Islam (Jakarta:
Gramedia, 2004), Memilih Monogami; Pembacaan atas Al-Qur‟an dan Hadis, Bergerak menuju Keadilan; Pembelaan Nabi Terhadap Perempuan (Yogyakarta: LKiS, 2005), Hadis dan Gender Justice: Undrstanding the Prophetic Traditions (Cirebon: Fahmina, 2007), Manba‟ al-Sa‟ada fi Usus Husn al-Mu‟ashara fi Hayat al-Zawjiyah (Cirebon: ISIF, 2012), Nabiyy ar Rahmah (Cirebon: ISIF dan RMS, 2013), As-Sittin al-Adliyah, (Cirebon:
RMS, 2013), 60 Hadis tentang Hak-hak Perempuan dalam Islam: Teks Interpretasi (Yogyakarta: Graha Cendekia, 2017), Pertautan Teks dan Konteks dalam Fiqih Mu‟amalah: Isu Keluarga, Ekonomi, dan Sosial (Yogyakarta: Graha Cendekia, 2017), Menguatkan Peran dan Eksistensi Ulama Perempuan Indonesia: Rencana Strategis Gerakan Keulamaan
50Faihuddin Abdul Kodir, Qira‟ah Mubadalah, hlm. 615
Perempuan Pasca KUPI (Cirebon: Fahmina, 2018)51 Perempuan (BUKAN) Sumber Fitnah! (Bandung: 2021)
Buku-buku yang ditulis bersama penulis lainnya:
Reinterpretasi Penggunaan ZIS (Jakarta: Pirad, 2004), Bukan Kota Wali;
Relasi Rakyat dan Negara dalam Pemerintahan Kota (Cirebon: Fahmina, 2005), Dawrah Fiqh Concering Women; A Manual on Islam and Gender (Cirebon: Fahmina, 2006), Referensi Bagi Hakim Pengadilan Agama Mengenai Kekerasan dalam Rumah Tangga (Jakarta: Komnas Perempuan, 2008), Fiqh HIV and AIDS, Pedulikah Kita (Jakarta:PKBI, 2009), Ragam Kajian mengenai Kekerasan dalam Rumah Tangga (Cirebon: ISIF, 2012), Gender and Equality in Muslim Family Law: Justice and Ethics in the Islamic Legal Proces (London: I. B. Tuaris, 2013), Modul Lokakarya:
Perspektif Keadilan dalam Hukum Keluarga Islam bagi Penguatan Perempuan Kepala Rumah Tangga (Jakarta: Pekka dan Alimat, 2015), Modul Bimbingan Perkawinan untuk Calon Pengantin (Jakarta: Kementrian Agama RI. 2016), Pondasi Keluarga Sakinah (Jakarta: Kementrian Agama RI. 2016), Interfaith Dialogue in Indonesia and Beyond (Geneva:
Globalethics, 2017), Menggagas Fiqh Ikhtilaf: Potret dan Prakarsa Cirebon (Cirebon: ISIF dan Fahmina Institute, 2018)52
Selain sebagai penulis Faqih juga menjadi editor, beberapa buku yang materi dan kontennya diedit oleh Faqih:
51 Faqihuddin Abdul Kodir, Qira‟ah Mubadalah….hlm. 615
52 Faqihuddin Abdul Kodir, Qira‟ah Mubadalah….hlm. 615-616