• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Analisis Penafsiran Surah Ali-‟Imran ayat 14 Dalam

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

B. Hasil Analisis Penafsiran Surah Ali-‟Imran ayat 14 Dalam

1. Penafsiran Surah Ali-’Imran ayat 14

َاسضّفّٰناََ ّباهاسيّنَا َِّّةا اطَٰانامّٰنَّٰيّطااَانّٰناََاٰيَّْااّٰناََّء ٕااسّنَّنَا َِّ ّتٰباااسشّنََباحَّ ااسَقَّّا ّنيُّاز

َّة

َّةاِاسباسامّٰنَّ ٰياٰلْناَ

َّماالٰهثاٰلْناَ

َاهادَّٰعَاٰنللّناََۗاايٰهثَدّنَّةبٰياٰلْنَاعااعاَِاكّّٰكََۗ ّثٰ اٰلْناَ َ

َا ٰساح َ

َّبٰاامّٰن َ

Artinya:Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak,

63 Faqihuddin Abdul Kodir, Qira‟ah Mubadalah, hlm. 198

43

dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.64

Sebelum menganalisa sebuah teks, baik ayat Al-Qur‟an maupun naskah-naskah yang lain terdapat beberapa pertanyaan filologis yang perlu diperhatikan, yaitu: dari mana teks tersebut diperoleh, bagaimana autentitas serta orisinalitas teks tersebut, teks aslinya berasal dari bahasa apa, siapa yang menerjemahkannya, terjemahan dai bahasa asli atau bahasa lain.65

Dalam konteks ayat ini yang menjadi kefokusan yaitu pada Bagian ini secara halus menempatkan "manusia" untuk digambarkan sebagai laki- laki yang secara alami dirancang untuk mencintai perempuan, sesuai dengan pernyataan terkait bahwa "manusia diciptakan untuk mencintai perhiasan dalam bentuk perempuan". Perempuan dijadikan objek (yang dicintai) sedangkan laki-laki dieksploitasi sebagai subyek (yang mencintai). Seperti pada hadis yang diungkapan sebagai berikut “dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita (istri) salihah

dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Amr,

“perempuan dianggap sebagai perhiasan” yang mewarnai serta menghiasi dunia laki-laki. Kemudian seorang perempuan dipersepsikan sebagai sumber pesona yang dapat menggoda dan menggiurkan sehingga laki-laki harus senantiasa waspada terhadap seorang perempuan. Oleh sebab itu

64 Al-Qur‟an Hafalan Terjemahan dan Tajwid Warna, Cordoba: Bandung, 2020, hlm. 51.

65 Nasarudin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur‟an, (Jakarta:

Paramadina, 2001, Cet. II), hlm. 265-266

pada ayat ini memberi peringatan bahwa sesuatu yang ada di sisi Allah swt lebih kekal dari pada semua pesona termasuk pesona perempuan.66

Rosululloh saw pernah mengungkapkan perempuan sebagai sumber fitnah, hal ini Rosul ungkapkan kepada para laki-laki untuk waspada dalam menjalani kehidupan. Akan tetapi ungkapan atau hadis ini menjadi penghambat bagi kaum perempuan untuk tampil di dunia publik dibanding menuntut kaum laki-laki untuk menjaga diri dan pandangan.

Teks hadis yang dimaksud adalah:

َاساأَٰ اع

َاللهَيّضافَودٰيُّازَّ ٰبَاةاِا اامااٰهَاع

َىّدٰلاهبَاتٰرا اهتانَِالاابَا اسقاساََّهٰياقاعَاللهَونقاصَّنّباسَّنَّ اع

َوةاَٰهعّو

َّءااسّنَّنَا َِّّلااعّن ّنَواقاعاس اضاأ

Artinya “Dari Usamah bin Zaid r.a., dari nabi saw bersabda : Tidak aku tinggalkan setelahku suatu fitnah (ujian) yang paling berat bagi laki-laki kecuali (ujian mengenai pesona) perempuan. (Shahih al- Bukhari, kitab al-Nikah, no. 5152)

Teks hadis ini jika ditelaah dengan umum hanya menyapa kaum laki-laki, dan memintanya untuk waspada terhadap pesona perempuan.67 Namun apabila di analisis secara mubadalah maka akan timbul sebuah pertanyaan yaitu “apakah seorang perempuan juga dapat jadi subjek dari pernyataan surah Ali-‟Imran: 14 tersebut?”, sebab realitasnya seorang perempuan tidak hanya sebagai penggoda akan tetapi perempuan juga dapat tergoda oleh laki-laki. Sehingga apabila ditelisik secara mubadalah perempuan juga diajak bicara pada ayat ini dan menjadi orang yang

66 Faqihuddin Abdul Kodir,Qira‟ah Mubadalah, hlm. 203

67 Faqihuddin Abdul Kodir, Perempuan (BUKAN) Sumber Fitnah!, (Bandung:

Afkaruna.id), 2021, hlm. 103

45

diminta untuk waspada dari kemungkinan tergoda terhadap perhiasan dunia.

Dengan pemaknaan secara mubadalah ini, teks hadis diatas tidak bermaksud memberikan label “fitnah” atau bahkan kodrat penggoda terhadap perempuan. Dalam kehidupan nyata, sebagaimana laki-laki terpesona oleh seorang perempuan. Juga perempuan yang terpesona kepada laki-laki. Relitas juga menyuguhkan pesona yang timbal balik antara laki-laki dan perempuan. Di dalam bahasa Al-Qur‟an makna kata fitnah yaitu kata yang juga memiliki timbal balik. Sedangkan makna fitnah secara umum yaitu berarti sebagai ujian dan cobaan, yang dalam beberapa ungkapan Al-Qur‟an. Hal itu bisa berada dalam relasi timbal balik antara kedua belah pihak beberapa ayat yang menegaskan hal ini sebagai berikut:

َانٰبالاعٰ اهتَااَٰهياّّناََۗوةاَٰهعّوَّٰياٰلْناََّن اسشّّا َٰ ارٰباقٰهااهثاََ ّۗتٰبامّٰنَاةانلَِٕناكَوسٰفاهثََ ار

َ

Artinya: “setiap yang hidup akan mengalami kematian. Dan kami akan menguji kamu sekalian dengan kaburukan dan kebaikan sebagai ujian (fitnah), dan kepada kami lah kamu sekalian akan kembali”

(QS. Al-Anbiya:35)”68

َ م

ٌٰيّ ارَ ٌلٰباسافَ ٰ اهاء ٕااعاََانٰباعٰ ّوَامٰباهبَٰ اااقٰهااهبَااسَاهعاهوَٰداناّاَ

َ

َٰ اماَّٰ ّننّّنَّٰۗنللّنَاداااّعَاسالَّنَنََْٰٓدانَ ٰنان َ.

َمٌٰيِّْانٌَلٰباساف

Artinya “sesungguhnya kami telah menguji (menjadikan fitnah) kepada orang-orang belum mereka, yaitu kaum Fir‟aun, ketika datang kepada mereka seorang rasul yang mulia. (dengan berkata kepada Fir‟aun) „serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil), sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang dapat kamu percaya”(QS. Ad-Dukhan: 17-18)69

68 Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 324.

69 Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 496

ااّبَِٰ اااهَٰهياهبَٰ امٰحنَّناناَ

َ ٍ ٓ

َالازٰهثان

َاٰنللّن َ

َالْاَ َ

َٰعّااسعاهت َ

َٰ اهاء ٕنابٰهان َ

َٰ اهٰفايٰحناَ َ

َٰنان َ

َاكٰباهَّعٰفاسهيُّ َ

َٰ اع َ

َ ٍ ٓ

َّضٰلاهب

َ

ااِ

َ ٍ ٓ

َالازٰهثان

َاٰنللّن َ

َاكٰياّّن َ

َ ٍ ٓ

َٰ ّّبِٰباهثاكَ ّضٰلاهاّبَٰ اااهاٰهيّصَيَُّٰنانَاٰنللّنَادٰيُّّ ايَُّاااسنَّانَٰ اقٰعااوَنٰباسّاباهتَٰنّااو

َاَ ٍ ٓ

ََاسنّن

َانٰبانّسٰفاَّّ ااسَّنَا ّنَِنو ٰهيّىار

Artinya: “Dan putuskanlah perkara di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah terhadap mereka, mungkin mereka akan memperdayakan kamu (membuat fitnah) dari apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang Allah turunkan), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik” (QS. Al- Maidah:49)70

َا ٰيّماٰلْنَازٰهيُّّزالّٰنَاتٰثانَاكاسثّنَ اااَاسهبافَااَاَّٰ ّفٰغناََنَٰا افارَا ٰيُّّياسقّنَّوةاَٰهعّوَااَٰقالٰاتََ الَْااَاسهباف

Artinya “Ya tuhan kami, janganlah engkau jadikan kami sebagai fitnah bagi orang-orang kafir dan ampunilah kami, ya Tuhan kami, sesungguhnya engkau yang maha perkasa lagi maha bijaksana”(QS. Al-Mumtahanah:5)71

َابناياعَٰ االِاََا اسَاااعَابناياعَٰ اااقاهوَنٰباهبٰباهعاهيَُّٰالََاساثَّْتَِّٰٰؤامّٰناََاٰيَِّّْٰؤامّٰنَنباَاهعاهوَا ٰيُّّياسّنَاسنّن

َّۗقٰيُّّ اٰلْن

Artinya: “sesungguhnya orang-orang kafir yang memfitnah orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan neraka yang membara” (QS. Al-Buruj:10)72

َوضٰلاهاّبَٰ اااضٰلاهبَااسَاهعاهوَاكّّٰياراَ

...

Artinya: “Dan demikianlah, telah kami jadikan fitnah, sebagian dari mereka terhadap sebagian yang lain…..”(QS. Al-An‟am:53)73

...

َنو ٰهيّصابَاكَبافَانااراََ ا

انَٰاّبٰصاتانََۗوةاَٰهعّوَوضٰلاهاَّّٰ اماضٰلاهبَااَٰقالاعاَ

َ

۔

70 Al-Qur‟an Hafalan …, hlm. 116.

71 Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 549.

72 Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 590.

73 Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 134.

47

Artinya: “… Dan kami jadikan sebagian kamu sebagai fitnah bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar. Sesungguhnya Tuhanmu itu maha melihat”(QS. Al-Furqaan:20)74

Sebagaimana dengan ayat-ayat Al-Qur‟an diatas yang meganggap bahwa kata fitnah merupakan timbal balik, tidak searah atau datu pihak saja. Mislanya yang tertera pada QS. Al-Anbiya:35 (jika kebaikan fitnah maka keburukan juga fitnah), QS. Ad-Dukhan:49 (jika Rasul merupakan fitnah bagi kaumnya, QS. Al-Maidah:49 maka kaumnya adalah fitnah baginya.), QS. Al-Buruj:10 (orang mukmin merupakn fitnah bagi orang kafir, QS. Al-Mumtahanah:5, dn orang-orang mukmin juga merupakan fitnah bagi orang-orang kafir). Secara jelasnya disebutkan pada QS. Al- An‟am:53 dan QS. Al-Furqan:20 bahwasanya setiap orang merupakan fitnah bagi yang lain atau sebagian orang atas sebagian yang lain.75

Menurut Faqihuddin Abdul Kodir dalam karyanya menjelaskan makna fitnah yaitu pesona atau potensi seseorang yang dapat menggiurkan orang lain, seseorang dapat dikatakan fatin (dalam bahasa Arab) ketika terdapat sesuatu yang dapat memesona orang lain terutama karena kemolekan tubuhnya, dan hal ini sering kali dikaitkan kepada seorang perempuan yang kemudian menjadi penghambat perempuan untuk berada di dunia publik. Kata fitnah memiliki dua makna yang berbeda, dari sisi perempuan kata fitnah dimaknai sebagai pesona darinya kepada orang lain, sementatra dari sisi seorang laki-laki yang tergoda dengan pesona perempuan kata fitnah dimaknai sebagai ujian. Begitu pula sebaliknya,

74 Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 361.

75 Faqihuddin Abdul Kodir,Qira‟ah Mubadalah, hlm. 289-291

yaitu laki-laki juga berpotensi menjadi fitnah yang dapat menggoda orang lain, dari sisi perempuan fitnah yaitu ujian agar tetap teguh pada iman agar tidak terjerumus pada rayuannya.76

Dengan cara pandang relasional ini, substansi fitnah tidak akan selalu melekat pada tubuh perempuan bagi laki-laki. Tetapi, itu juga melekat pada tubuh laki-laki bagi perempuan. Dalam hal ini ungkapan fitnah dalam Al-Qur‟an lebih proporsional bila dibandingkan dengan teks hadis bahwa perempuan adalah fitnah yang paling membahayakan.

Sehingga teks hadis ini harus dimaknai secara mubadalah dengan spirit ayat-ayat Al-Qur‟an tentang fitnah tersebut.77

Perspektif mubadalah pada makna ini melalui langkah-langkah metode penafsiran berikut:

Langkah pertama, meletakkan pemaknaan teks Al-Qur‟an maupun hadis pada arus utama ajaran Islam bahwa kehidupan ini merupakan ujian untuk meningkatkan serta untuk menjaga diri dari perbuatan yang buruk hal ini termaktub pada surah al-Mulk:1-2. Maksud dari segenap kehidupan disini mencakup dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Serta dapat merujuk pada ayat yang membicarakan tentang kesamaan iman antara laki-laki dan perempuan, anjuran untuk berbuat baik, dan anjuran untuk waspada tergelincir pada perbuatan yang buruk.

Langkah kedua, menggali gagasan utama dari surah Ali-‟Imran:14 yaitu memberi peringatan kepada manusia agar tidak tergiur kepada

76 Faqihuddin Abdul Kodir, Perempuan (BUKAN) Sumber Fitnah!, hlm. 102

77 Faqihuddin Abdul Kodir,Qira‟ah Mubadalah, hlm. 291-292

49

pesona kehidupan dunia, yang kemudian dapat memalingkan dari jalan Allah swt. Kehidupan dunia memanglah memesona dan menggiurkan oleh sebab itu Allah mengingatkan bahwa yang lebih baik adalah pahala yang dijanjikannya serta yang berada di sisinya, yaitu dengan tetap berada di jalan yang telah Allah ridhai. Surah Ali-‟Imran:14 ini tidak sedang membicarakan bahwa perempuan, harta benda, anak-anak, emas dan perak merupakan perhiasan dunia. Akan tetapi yang menjadi gagasan utama dari ayat ini yaitu kewaspadaan terhadap pesona dunia, pesan dari gagasan ini tentu tertuju kepada seluruh manusia bukan hanya kepada satu pihak.

Mengenai kewaspadaan diri ini juga telah tertera pada surah An-Nur ayat 30-31:

ٌٍَۢ ٰهيّاالَاٰنللّنَاسنّنَ ۗ

ٰ االَِوٰرٰزانَ اكّّٰكَ ۗ

ٰ اااعَٰا اهوَنٰباظافٰايَاََ ٰ ّهّفااصٰبانَ ٰ َِّنٰبَضاغاهيَُّ اٰيَِّّْٰؤامٰقّنَّٰ اب

َااّبَِ

َانٰبالاهَٰصايُّ

َاااهعاهَٰهيُّّزَا ٰيُّّدٰااهيَُّ الْاََاس اااعَٰا اهوَا ٰظافٰايَاََاس ّهّفااصٰبانَٰ َِّا ٰضاضٰغاهيَُّ ّتَِّٰٰؤامٰقّنَّٰ اباَ

َا اااظَااَِ اسلّْنَاس

َٕاا ٰنََٰانَاس ّاّعاّٰبالاهاَّّ اسلّْنَاس اااهعاهَٰهيُّّزَا ٰيُّّدٰااهيَُّ الْاََ ۖ

اس ّّبِٰباهياعَوٰقاعَاس ّهّ اماّبَِا ٰبّ ٰضايّٰاََاااٰهَِّ

َّءٕاا ٰنََٰانَاس ّالَِ

َّّننابٰلّنَ َٰانَاس ّاّعاّٰبالاهبَّءٕااَٰهبانََٰانَاس ّالَِٕااَٰهبانََٰانَاس ّاّعاّٰبالاهب

ََٰانَاس ّّتِٰبالانَّْٰٓنابَ َٰانَاس ّّننابٰلّنَّْٰٓنابَ َٰانَاس

نَ ّ ٰفّنطّنََّانَ ّلااعّن ّنَا َِّّةابٰفّٰلْنَ ّلَِانَّٰياغَاٰيّْلّاٰنعّنََّانَاس اااهثااٰيِانَ ٰتاماقاَِااََِٰانَاس ّالَِ ٕااسّث

َٰالََا ٰيُّّياسّ

َّ ٰضايَُّ الْاََّۖء ٕااسّنَّنَّتٰفٰباعَوٰقاعَنَٰا ااٰظايُّ

َ الِّنَنْٰٓباهبٰباهتاََ ۗ

اس ّاّعاَٰهيُّّزَٰ َِّاٰيّْفٰايَُااَِا اقٰلاهيَّّاس ّاّقاعٰفاّا َا ٰب

َانٰباحّقٰفاهتَٰ اماسقالاَّانٰباهَِّٰؤامّٰنَاهَيُّانَاولٰهيّاجََّٰنللّن

Artinya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang mereka perbuat”78

Artinya: “Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (bagian tubuhnya), kecuali

78 Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 353.

yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Hendaklah pula mereka tidak menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan (sesama muslim), hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Hendaklah pula mereka tidak mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung”

(Q.S An-Nur:30-31)79

Dalam ayat ini dengan jelas diungkapkan untuk saling menjaga pandangan agar tidak mudah terpesona pada yang lain serta tidak menebar pesona kepada yang lain. Jadi, langkah pertama telah ditemukan prinsip nilai yang menjadi pondasi interpretasi, yaitu laki-laki dan perempuan yaitu subjek perintah keimanan dan larangan tergelincir pada godaan.

Dan langkah yang kedua yaitu telah ditemukan gagasan utama dari surah Ali-‟Imran ayat 14 bahwa pentingnya menjaga kewaspadaan diri terhadap perhiasan dunia yang dapat menggiurkan manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Sehingga dengan langkah ketiga, menegaskan bahwa ungkapan “perempuan sebagai perhiasan bagi laki-laki ini hanyalah makna eksplisit-literal. Kemudian dimaknai secara mubadalah bahwa teks tersebut harus ditujukan juga kepada perempuan maka menjadi “laki-laki adalah salah satu perhiasan dunia bagi perempuan”. Ini adalah makna implisit-resiprokal.

79 Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 353.

51

Qiraah mubadalah dalam penafsiran terhadap ayat-ayat yang masih terkesan misoginis penting untuk mengurai ketimpangan antara laki-laki dan perempuan yang seringkali ditemukan dalam kehidupan masyarakat yang kemudian disandarkan pada teks Al-Qu‟ran. Oleh karena itu, perlu lebih banyak lagi kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur‟an yang seringkali dipandang secara seksis. Dewasa ini, konteks keadilan gender sudah menyebar secara luas dan menjadi landasan pertimbangan.

Pendekatan penafsiran Qiraah mubadalah menjadi sebuah solusi yang tepat guna mengembangkan tafsir progresif yang adil gender.80

2. Penerapan Terhadap Teori Equilibrium

Gender merupakan suatu kategori sosial yang sangat penting dalam proses industrialisasi. Perbedaan seks berarti perbedaan atas dasar ciri-ciri biologis, perbedaan gender adalah perbedaan seks. Namun tidak selalu fokus dengan hal itu, adapun ideologi yang paling kuat yang menyokong perbedaan gender adalah pembagian dunia ke dalam wilayah publik dan privat.81

Islam hadir untuk laki-laki dan perempuan bukan kepada salah satunya, sebagaimana Pada saat wahyu pertama turun kepada nabi Muhammad saw, yaitu surah al-„Alaq aya1 1-5 yang berbunyi:

80 Anisah Dwi Lestari, Qira‟ah Mubadalah dan Arah Kemajuan Tafsir Adil Gender:

Aplikasi Resiprositas Terhadap Surah Ali-„Imran Ayat 14, Muasarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer, Vol. 2, No. 1, 2020, hlm. 53-57.

81 Misbahul Munir, Produktivitas Perempuan Studi Analisis Produktivitas dalam konsep Ekonomi Islam, UIN-MALIKI: Malang, 2010, hlm. 61-62.

َاقاقالَٰ ّياسّنَ اكّنبافَ ّ ٰسّا َٰأا ٰهبّن

َ, ٍ ٓ

َاقاقال

َانااسٰثّٰلْن َ

َٰ ِّ َ

َوقاقاع َ

َ, ٍ ٓ

َٰأا ٰهبّن

َاكَبافاَ َ

َاما ٰراٰلْن َ

َ, ٍ ٓ

َٰ ّياسّن

َ

َا اسقاع

َّ اقانّّٰا َ

َ, ٍ ٓ

َا اسقاع

َانااسٰثّٰلْن َ

َااِ َ

َٰ اقٰلاهيَُّٰالَ

82

ٍ ٓ

َ

َ

Ayat diatas jika dimaknai secara bahasa maka akan terkesan dimaknai dengan jenis kelamin laki-laki, namun berbeda pada prakteknya nabi Muhammad menyampaikan ayat ini kepada istrinya yaitu Khadijah r.a yang merupakan orang pertama yang beriman kepada nabi dan meyakinkan Nabi Muhammad saw. Maka dapat disimpulkan bahwa Islam hadir menyapa serta menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai subjek yang keduanya sama-sama memperoleh visi dan misi Islam rahmatal lil

„alamin.83

Semua ajakan serta perintah yang terdapat di dalam Al-Qur‟an yang apabila dibaca secara literal maka hanya memanggil laki-laki maka perempuan juga di panggil secara bathiniyah. Terdapat banyak ayat ajakan untuk melakukan perbuatan baik seperti mendirikan shalat, zakat, haji, puasa, bersyukur, bersabar, dan lain sebagainya. Semua ayat ini ditujukan kepada laki-laki dan perempuan tanpa membedakan sama sekali, Islam mengajak keduanya, memanggil keduanya, dan meminta komitmen dari keduanya, oleh sebab itu pahala yang dijanjikan juga untuk keduanya.84 Terdapat beberapa variable yang dapat digunakan sebagai standar dalam menganalisis prinsip-prinsip kesetaraan gender didalam Al-Qur‟an yaitu:

82 Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 597.

83 https://youtu.be/g020e5iLcOY diakses pada tanggal 24 Mei 2023

84 Faqihuddin Abdul Kodir, Qira‟ah Mubadalah…, hlm. 309

53

a. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba

Sebagaimana hal nya telah tertera didalam ayat Al-Qur‟an bahwa tujuan utama dari penciptaan manusia adalah menyembah tuhannya yang disebutkan pada surah al-Zariyat:56

َّنَٰادااٰلاهيَّّ اسلّْنَاسٰثّٰلْناََاس ّٰلْنَاتٰناقالَااِ َاَ

Artinya: “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku”85

Dalam kapasitas manusia tidak ada perbedaan laki-laki maupun perempuan sehingga keduanya memiliki peluang untuk menjadi hamba yang ideal menurut Al-Qur‟an. Al-Qur‟an menyebutkan bahwa hamba ideal yaitu orang-orang yang bertaqwa kepada Allah swt dan untuk mencapainya tidak dikenal perbedaan dari segi jenis kelamin, suku banga dan kelompok tertentu. Hal ini juga dipertegaskan.86

didalam Al-Qur‟an surah Al-Hujurat:13

َاسنّنَاَنٰباهوافاالاهعَّّا لَِ ٕااااهباسََ وا ٰبالاعَٰ امَٰٰقالاعاََوٰىٰهثاناسََو اراكَٰ ّنَِٰ امَٰٰناقالَ اسَّنَا ااسَّنَاااَهيُّ َاٰي

ٌَ ٰهيّاالٌَ ٰيّقاعَاٰنللّنَاسنّنَٰۗ امىٰنٰهتانَّٰنللّنَادَّٰعَٰ اماِا ٰران

Artinya: “Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kaliab di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”87

85 Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 253

86 Nasarudin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur‟an, (Jakarta:

Paramadina, 2001, Cet. II), hlm. 248

87 Usman el-Qurthuby, Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 517

b. Laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di Bumi

Selain tujuan penciptaan manusia sebagai hamba yang patuh terdapat tujuan yang kedua yaitu sebagai khalifah dibumi. Hal ini telah disebutkan dalam Al-Qur‟an surah Al-Baqarah: 30

َادّسٰفَهيَُّ ٰ اَِاااٰهيّوَا الٰاتَانَنْٰٓباّاابََۗوةافٰهيّقالَ ّضٰفاٰلْنَ ّفٌَِ ّعااعَٰ ّننّّنَّةاملَى ٕ

ٰقامٰقَّّ اكَبافَ الاابَٰكّن

َا ٰانَاََااء ٕااِّندّنَاكّفٰسايُّاََاااٰهيّو

َالَْااَِا اقٰعانَّْٰٓننّّنَالاابََۗاكاَّا ّنداناهثاََاكّدٰماّبَِاحّنااساث

َانٰباماقٰلاهت َ

Artinya: “ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat:

“sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka Bumi” mereka bertanya: “mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di Bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dan memuji engkau dan mensucikan engkau?” Allah berfirman:”sesungguhnya aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui”88

Dalam ayat lain juga disebutkan pada surah Al-An‟am:165

َاعَٰ ّياسّنَاباهاَ

َْٓااَِّٰفَِٰ اراباقٰهااهيّنَّ وتٰعافادَوضٰلاهبَاقٰباهوَٰ اماضٰلاهبَاعاوافاََّضٰفاٰلْنَافلَى ٕ

ٰقالَٰ اماقال

َ اكاسبافَاسنّنَ ۗ

ٰ امىٰتٰن

َاعٰيُّّ اس هاسثّناََ ّۖباانّلّٰن

َ ٍ ٓ

ٌَفٰبافاغاّ

ٌَ ٰيّحاسف َ

َ

Artinya: “dan dialah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebagian kalian atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikannya kepada kalian. Sesungguhnya Tuhan kalian amat cepat siksaannya, dan sesungguhnya Dia maha pengampun lagi maha penyayang”89

Kata khalifah pada kedua ayat diatas tidak ada kecondongan terhadap salah satu jenis kelamin atau kelompok etnis tertentu. Laki- laki maupun perempuan memiliki fungsi yang sama sebagai khalifah, yang akan dipertanggung jawabkan tugas-tugas kekhalifahannya di

88 Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 6

89 Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 150

55

muka bumi. Sebagaimana mempertanggungjawabkan dihadapan Allah swt.90

c. Laki-laki dan perempuan meneriman perjanjian primodial

Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki amanah dan menerima perjanjian primordial dengan Tuhan. Seagaimana yang telah diketahui bahwa menjelang seorang anak manusia keluar dari Rahim ibunya, sebelumnya akan melakukan perjanjian dengan Tuhannya.91 Segaimana yang telah termaktub dalam surah Al-A‟raf:172

َٰ َِّاكَبافَايالانَٰكّناَ

َ ٍ ٓ

َّٰناب

َ ٍ ٓ

َامادٰن

َٰ ِّ َ

َٰ ّهّفٰباااظ َ

َٰ اااهعاسهيُّّنفاك َ

َٰ اهادااٰعاناَ َ

َٰ اع َ ى ٍ ٓ

َٰ ّاّسافٰهثان َ

َ ٍ ٓ

َاتٰساّان

َٰ امّنبا ّب َ

َ ٍ ٓ نٰباّااب وٰقاهب َ

َ ٍ ٓ

َاَٰدّااع

َ

َٰنان ٍ ٓ

َامٰباهيُّنٰباّٰباناهت َ

َّةامٰيّنّٰن َ

َ

َاسَّن ااسَار َ

َٰ اع َ نايٰه َ

َ

َاٰيّْقّفٰغ

ٍ ٓ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):

“Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab:”Betul (engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami melakukannya) agar pada hari kiamat kami (tidak) mengatakan, “sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini”92 Menurut Nasaruddin Umar dengan mengutip pendapat Fakhru ar-Razi, setiap orang yang lahir di planet ini bersumpah di hadapan Allah, dan para malaikat hadir untuk menyaksikannya. Tidak ada juga yang ragu untuk menolak. Dalam Islam, setiap orang memiliki tanggung jawab dan kemandirian yang melekat sejak ia masih dalam kandungan. Sejak awal, Islam tidak pernah dikenal mempraktekkan

90 Nasarudin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur‟an, (Jakarta:

Paramadina, 2001, Cet. II), hlm. 253

91 Nasarudin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur‟an, (Jakarta:

Paramadina, 2001, Cet. II), hlm. 253-254

92 Al-Qur‟an Hafalan …., hlm. 173

Dokumen terkait