PENDAHULUAN
Latar Belakang
Untuk mengetahui seberapa baik seorang manajer produksi dalam menjalankan tanggung jawabnya, suatu perusahaan memerlukan suatu alat pengukuran kinerja, salah satunya adalah penggunaan sistem akuntabilitas. Pengenalan sistem akuntansi pertanggungjawaban yang baik akan menghasilkan terbentuknya pengendalian dan pengukuran prestasi kerja para manajer. Oleh karena itu, pengenalan sistem akuntansi pertanggungjawaban sangat penting bagi perusahaan untuk mengetahui cara penerapannya.
Sangat penting bagi perusahaan untuk menerapkan metode akuntansi pertanggungjawaban agar kinerja manajer dan pekerja lain di perusahaan dapat meningkat.
Rumusan Masalah
Sedangkan informasi akuntansi pertanggungjawaban berupa informasi masa lalu berguna untuk mengevaluasi pencapaian manajer pusat pertanggungjawaban dan memotivasi manajer. Hipotesis: Diduga analisis Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Sebagai Alat Ukur Kinerja Manajemen pada PABRIK GULA PTPN XIV TAKALAR telah berjalan dengan efisien. Dan peningkatan anggaran penjualan ini dipengaruhi oleh penerapan akuntansi pertanggungjawaban pada PABRIK GULA PTPN XIV TAKALAR.
Penerapan akuntansi pertanggungjawaban dalam pemantauan dan evaluasi kinerja manajemen biaya produksi pada Pabrik Gula Ptpn Xiv Takalar sudah efisien.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Teori
- Akuntansi pertanggungjawaban
- Pengertian dan Tipe-tipe pusat pertanggungjawaban
- Tujuan dan Manfaat Akuntansi pertanggungjawaban
- Syarat-syarat Penerapan Akntansi Pertanggungjawaban
- Laporan Pertanggungjawaban
- Akuntansi Pertanggungjawaban sebagai Alat Pengnedalian
- Pengukuran Kinerja Manajemen
- Laporan Keuangan
Akuntansi pertanggungjawaban menurut Hansen & Mowen, (2009) adalah suatu sistem yang mengukur berbagai hasil yang dicapai oleh setiap pusat pertanggungjawaban sesuai dengan informasi yang dibutuhkan manajer untuk mengoperasikan pusat pertanggungjawabannya. Akuntansi pertanggungjawaban menurut Sjahril, (2012) merupakan suatu sistem yang dapat digunakan sebagai alat untuk menilai kinerja pusat pertanggungjawaban yang disepakati sebagai bagian dari sistem pengendalian manajemen. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa organisasi yang mempunyai pusat pertanggungjawaban yang terbagi secara jelas dan tegas akan mampu menerapkan akuntansi pertanggungjawaban.
Pengumpulan dan pelaporan biaya didasarkan pada masing-masing bidang tanggung jawab pada tingkat organisasi, oleh karena itu harus ditetapkan suatu bidang tanggung jawab untuk setiap tingkat manajemen yang disebut pusat pertanggungjawaban. Dalam organisasi korporasi, penentuan bidang tanggung jawab dan manajer yang bertanggung jawab dilakukan dengan menciptakan pusat tanggung jawab dan standar kinerja. Pusat biaya merupakan pusat pertanggungjawaban yang prestasi manajernya diukur berdasarkan biaya pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya.Pusat biaya juga merupakan pusat yang biayanya diukur berdasarkan nilai moneter.
Biaya tidak terkendali adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi secara langsung oleh manajer pusat pertanggungjawaban atau dengan kata lain biaya tidak terkendali adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi oleh manajer karena tidak dapat menyetujuinya. Pusat pendapatan merupakan pusat pertanggungjawaban dimana pengelolanya diberi wewenang untuk bertanggung jawab atas pendapatan pusat pertanggungjawaban yang dikelolanya. Pusat laba merupakan pusat pertanggungjawaban yang pengelolanya mempunyai kewenangan untuk mengendalikan pendapatan dan biaya pusat pertanggungjawaban.Kinerja pengelola pusat laba diukur dengan selisih antara pendapatan dan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut.
Tujuan akuntansi pertanggungjawaban adalah untuk menyiapkan laporan untuk setiap tingkat manajemen di setiap pusat pertanggungjawaban. Dari pengertian di atas terlihat bahwa konsep penerapan akuntansi pertanggungjawaban pada dasarnya adalah menekankan tugas dan tanggung jawab setiap bagian serta membuat pusat pertanggungjawaban pada setiap bagian. Akuntansi pertanggungjawaban sebagai alat manajemen biaya Akuntansi pertanggungjawaban adalah informasi tentang aset, pendapatan, biaya yang dikaitkan dengan manajer yang bertanggung jawab pada pusat pertanggungjawaban tertentu. Informasi akuntansi pertanggungjawaban dapat berupa informasi masa lalu dan informasi kini.
Biaya dalam sistem akuntansi pertanggungjawaban selalu dibandingkan dengan orang yang mempunyai kewenangan dalam menggunakan sumber daya.Pengendalian biaya dengan akuntansi pertanggungjawaban adalah pelaporan biaya-biaya yang terjadi pada setiap pusat pertanggungjawaban, yang dilaporkan oleh manajer tingkat bawah kepada manajer di atasnya.
Tinjauan Empiris
Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis kualitatif dengan sumber data primer dan data sekunder. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif, dan sumber data penelitian menggunakan data primer dan sekunder yang diperoleh melalui teknik penelitian lapangan dan studi kepustakaan.
Kerangka Konsep
Hipotesis
METODE PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Pemilihan Lokasi Penelitian
- Sumber Data
- Metode Analisis
Pada Tabel 4.2 diatas, anggaran produk gula pada PG Takalar tahun 2016 sebesar Rp. Berdasarkan data anggaran biaya produk yang dikeluarkan perusahaan, selanjutnya anggaran biaya produk dapat direalisasikan pada tahun 2016 hingga tahun 2017, yang dapat dilihat pada tabel berikut. Sedangkan perhitungan varian biaya produk yang dikeluarkan PG Takalar selama tahun 2017 dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Berdasarkan tabel 4.6 mengenai perhitungan varians produk pada PG Takalar selama tahun 2017 terlihat biaya produk yang dianggarkan melebihi biaya yang dianggarkan, terlihat dari biaya pencegahan terdapat selisih sebesar Rp atau 0,86% yang meliputi perawatan mesin. dan biaya pemasangan pabrik sebesar Rp biaya pemeliharaan bahan baku sebesar Rp 6.849.014 dan biaya pemeliharaan alat pertanian sebesar Rp Terdapat selisih melebihi biaya realisasi sehingga efisien. Pada tabel 4.7 diatas terdapat perbandingan besar kecilnya anggaran biaya produk yang terdiri dari biaya pencegahan, biaya penilaian, biaya kegagalan internal, biaya kegagalan eksternal. Berdasarkan rasio anggaran biaya produk tahun 2016 yang diperoleh dengan bantuan rumus yaitu total biaya produk dibagi anggaran penjualan gula pasir dikalikan 100%, maka hasil yang diperoleh adalah 1,43%, sedangkan hasil yang diperoleh pada tahun 2017 adalah pencucian 1,75%. .
Berdasarkan tabel 4.9 yaitu hasil perbandingan anggaran dan realisasi harga pokok produk dengan penjualan gula pasir selama 2 tahun terakhir diperoleh hasil bahwa pada tahun 2016 perbandingan biaya produk terhadap penjualan (anggaran) sebesar 1,43%, sedangkan realisasi beban pokok produk terhadap penjualan sebesar 1,51% terdapat selisih sebesar 0,08%. Sedangkan menurut teori Hansen dan Mowen (2001), biaya produk tidak boleh melebihi 2,5 persen per tahun. Dari data terkait perbandingan perbandingan anggaran dan realisasi harga pokok produk dengan penjualan gula pasir terlihat bahwa anggaran harga pokok produk sudah melebihi realisasi karena lebih besar dari realisasi. biaya produk, sehingga dikatakan efisien.
Hasil perbandingan anggaran dan biaya produk aktual dengan penjualan gula pasir selama dua tahun terakhir menunjukkan bahwa pada tahun 2016 perbandingan biaya produk dengan omzet (anggaran) sebesar 1,43%, sedangkan realisasi biaya produk sebesar 1,43%. waktu pada tahun 2016. Pada tahun 2017 jumlah yang dianggarkan sebesar 1,75%, sedangkan pada saat tercapai 1,88% terdapat selisih sebesar 0,13%. Hal ini terlihat dari hasil perbandingan anggaran dan realisasi biaya produk dengan penjualan gula pasir selama 2 tahun terakhir yang menunjukkan bahwa pada tahun 2016 rasio biaya produk terhadap omzet (anggaran) sebesar 1,43%, sedangkan realisasi biaya produk terhadap omzet (anggaran) sebesar 1,43%. biaya produk dan omzet sebesar 1,51%, terdapat selisih sebesar 0,08%.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Perusahaan
- Sejarah PTPN Xiv Pabrik Gula Takalar
- Visi Misi
- Struktur Organisasi
- Uraian Tugas
PABRIK GULA TAKALAR XIV terletak di Desa Pa'rappunganta, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. PABRIK GULA TAKALAR didirikan dalam rangka melaksanakan kebijakan pemerintah mengenai swasembada gula nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 668/Kpts/Org/8/1981 tanggal 11 Agustus 1981. PABRIK Gula Takalar Pabrik tersebut dibangun dengan kapasitas penggilingan 3000 ton tebu per hari (TTH) yang dapat diperluas dengan mudah hingga 4000 TTH.
Pabrik Gula Takalar pertama kali digiling pada tahun 1984 dan diresmikan pada tanggal 23 Desember 1987 oleh Presiden Republik Indonesia. Pada masa giling, bagian ini bertugas melaksanakan seluruh kegiatan operasional produksi yang dipersiapkan di luar masa giling. Divisi ini bertanggung jawab terhadap segala hal yang berkaitan dengan subbagian tata usaha perusahaan, keuangan dan umum.
Departemen ini bertanggung jawab terhadap segala urusan pencatatan, termasuk akuntansi, administrasi keuangan, dan hasil produksi serta administrasi gudang gula. Pabrik Gula Takalar memproduksi gula pasir dengan kualitas SHS IA (Gula Kepala Unggul) atau sering disebut GKB (Gula Kristal Putih). Bahan baku yang digunakan atau diolah dalam proses produksi di Pabrik Gula Takalar adalah tebu.
Berbagai macam varietas tebu ditanam, namun Pabrik Gula Takalar menghasilkan varietas tebu yang unggul, dengan tujuan agar hasil yang diperoleh berkualitas tinggi. Proses pembuatan gula pasir adalah sebagai berikut: tebu digiling hingga menghasilkan sari, kemudian dimurnikan, kemudian diendapkan, diuapkan, direbus (mengkristal), hingga akhirnya menjadi gula pasir (SHS) yang berwarna putih. Pabrik Gula Takalar secara garis besar dibagi menjadi beberapa tahapan, yang digambarkan sebagai berikut: A).
Analisis Hasil Penelitian
- Sistem Akuntansi Manajemen Ptpn Xiv PG Takalar
- Analisis Biaya Kualitas Produk
- Analisis Penerapan Informasi Biaya Kualitas
- Analisis Penilaian Kinerja Biaya Produksi
atau 7,93% yang dapat dijelaskan oleh biaya pemeliharaan dan pemasangan pabrik, terdapat selisih sebesar Rp. Sedangkan untuk biaya evaluasi terdapat selisih Rp atau 2,33% yang merinci biaya pemantauan selama produksi Rp, biaya pemeriksaan gula pasca produksi apabila terdapat penyimpangan Rp, dan biaya kegiatan uji laboratorium Rp. Selain itu selisih biaya kegagalan internal sebesar Rp atau 6,54% dengan biaya kerusakan bahan sisa sebesar Rp atau 15,65% dan biaya pengerjaan ulang sebesar Rp atau 1,29%. Hal ini mencapai realisasi biaya. .Jika sasarannya adalah kegagalan internal dalam perusahaan maka dikatakan efisien.
Sedangkan untuk biaya kegagalan eksternal terdapat selisih sebesar Rp atau 2,51%, rinciannya hanya biaya retur. Sedangkan untuk biaya penilaian terdapat selisih sebesar Rp atau 7,44%, dengan rincian biaya pemantauan selama produksi sebesar Rp, biaya pemeriksaan gula setelah produksi yang terdapat penyimpangan Rp dan biaya kegiatan pengujian laboratorium sebesar Rp. Selanjutnya untuk biaya kegagalan internal terdapat selisih sebesar Rp atau 6,53%, dengan rincian biaya bahan sisa sebesar Rp atau 11,64%, dan biaya pengerjaan ulang sebesar Rp atau 3,72%. Kegagalan internal yang ditargetkan dalam perusahaan dikatakan efektif.
Saat ini terdapat selisih Rp atau 4,29% untuk biaya kegagalan eksternal, rinciannya hanya biaya retur penjualan saja yang Rp.
PENUTUP
Kesimpulan
Struktur organisasi di Ptpn lainnya. Tujuan dari pembentukan struktur organisasi adalah untuk memudahkan dalam melaksanakan tugas yang diberikan dan juga memudahkan pihak manajemen dalam mengawasi setiap bidang yang ada di Pabrik Gula Ptpn Xiv Takalar. Perusahaan telah menetapkan kebijakan untuk memberikan reward dan punishment kepada manajer pusat yang bertanggung jawab atas kemampuannya dalam mencapai tujuan penjualan yang telah ditentukan.
Saran
Analisis Penggunaan Akuntansi Pertanggungjawaban Sebagai Alat Penilaian Kinerja Manajer Revenue Center PT Astra International Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Sumatera Utara. Pegadaian (Persero) Manado. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi Universitas Sam Ratulangi Manado, ISSN 2303-1174 Jurnal Emba Vol.