• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis penerapan electronic supply chain management

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "analisis penerapan electronic supply chain management"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dalam rantai pasok terdapat aliran produk (jasa atau barang), aliran pesanan (yang berhubungan dengan pembayaran) dan aliran informasi. Aplikasi ERP untuk manajemen rantai pasokan kini diimplementasikan dan disebut Electronic Supply Chain Management (e-SCM).

Tabel 1.1 Produk Expired
Tabel 1.1 Produk Expired

Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian tersebut, penerapan e-SCM belum maksimal/ada gap antara teori dan kenyataan di lapangan, sehingga peneliti tertarik untuk mengambil judul skripsi.

Maksud dan Tujuan

Kegunaan Penelitian

  • Kegunaan Teoritis
  • Kegunaan Praktisi

Diharapkan hal ini dapat menjadi bahan evaluasi pelaksanaan kegiatan operasional penerapan e-SCM kedepannya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan perbandingan untuk penelitian selanjutnya di bidang yang sama.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Pada tabel tersebut terdapat 5 kegiatan yang dilakukan penulis dalam penelitian ini yaitu penulis mengajukan judul selama 1 bulan, menyelesaikan bab I dengan melakukan wawancara dan observasi langsung kepada pengelola toko mengenai rencana penelitian dan permasalahan apa saja yang terjadi dalam penelitian tersebut. implementasi e-SCM di Yogya Express Borromeus dipimpin oleh beliau. Kegiatan selanjutnya adalah proses penyelesaian bab V yang dilaksanakan selama 1 bulan untuk menjelaskan hasil penelitian, kesimpulan dan saran.

Tabel 1.3 Time Scedule Penelitian TIME SCHEDULE
Tabel 1.3 Time Scedule Penelitian TIME SCHEDULE

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Pustaka

  • Penerapan E-Supply Chain Management

Melalui katalog ini, supplier dapat mengetahui nama dan bentuk produk yang diberikan sesuai gambar. Setelah mengetahui berapa jumlah persediaan produk yang tersedia, sistem dapat merencanakan pembelian produk dari supplier. Mengatur dan mengoptimalkan persediaan produk yang ada, memberikan peringatan untuk melakukan pembelian jika ada produk yang mencapai jumlah persediaan minimum.

Fitur ini memungkinkan perusahaan untuk membuat perencanaan berdasarkan riwayat permintaan produk yang dipesan dari pemasok. Pada fitur ini administrator dapat melihat berbagai pesanan produk yang dilakukan konsumen dan terdapat datelinenya. Kurangnya pengawasan perusahaan menyebabkan produk terus mengalami kerusakan/hilang selama pendistribusian.

Kerangka Pemikiran

Penelitian ini menganalisis implementasi electronic supply chain management (e-SCM) di Yogya Express Borromeus ditinjau dari bagaimana sistem tersebut dapat berkontribusi dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan upstream supply chain dalam hal akurasi pengiriman tepat waktu. dan kuantitas yang dilakukan oleh pemasok dan dari sisi hilir mengenai kondisi konsumen yang tidak menentu yang dapat mempengaruhi hasil penerapan e-SCM. Sumber data yang diperoleh selama penelitian adalah proses wawancara pada perusahaan dan melakukan observasi lapangan pada perusahaan tempat penulis melakukan penelitian, selain itu juga dilakukan studi literatur yang diambil dari buku-buku, literatur dan jurnal yang dapat digunakan. . sebagai referensi selama kegiatan menulis ini. Hasil analisis penerapan e-SCM di Yogya Express Borromeus dapat dijadikan acuan untuk mengevaluasi dan menentukan strategi yang tepat agar penerapan e-SCM dapat terlaksana secara maksimal sehingga terjadi peningkatan efisiensi dan efektivitas. , peningkatan nilai tambah dan keunggulan kompetitif untuk menghadapi persaingan usaha.

OBJEK DAN METODE PENELITIAN

Objek Penelitian

Metode Penelitian

  • Metode yang Digunakan
  • Operasionalisasi Variabel Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data

Tujuan kedua dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan penerapan e-SCM kurang optimal. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor utama yang dapat mengoptimalkan penerapan e-SCM di Yogya Express Borromeus. Subvariabel kedua dalam penelitian ini menyangkut faktor-faktor yang menyebabkan penerapan e-SCM kurang optimal.Untuk mengetahui faktor mana saja yang menyebabkan penerapan e-SCM kurang optimal, peneliti menggunakan diagram tulang ikan.

Hal ini karena diagram tulang ikan dapat menjadi alat yang efektif untuk menggambarkan faktor-faktor yang menyebabkan kurang optimalnya penerapan e-SCM. Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian mengenai penerapan e-SCM, faktor-faktor yang belum optimal dalam penerapan e-SCM, dan optimalisasi yang telah dilakukan sehingga penerapan e-SCM di Yogya Express Borromeus adalah optimal. . Dari gambaran tersebut terlihat faktor-faktor yang menyebabkan belum optimalnya penerapan e-SCM di Yogya Express Borromeus, yang terdiri dari faktor: metode kerja, manusia, lingkungan, mesin dan budaya.

Gambar 3.1 Rancangan Flowchart Proses e-SCM dalam Purchase Order Sumber: Diadaptasi dari Heizer dkk
Gambar 3.1 Rancangan Flowchart Proses e-SCM dalam Purchase Order Sumber: Diadaptasi dari Heizer dkk

HASIL PENELTIAN DAN PEMBAHASAN

Penerapan e-SCM di Yogya Express Borromeus

Dari gambar ini terlihat metode yang digunakan Yogya Express Borromeus untuk SCM ini dengan menerapkan proses just in time (JIT) pada pusat distribusi (DC) Tujuannya untuk mengefektifkan proses sehingga tidak memerlukan stok di pusat distribusi, jadi ketika pemasok mengirimkan barang hari ini ke . Pemesanan produk dapat dilakukan dengan membuat Purchase Order (PO) yang dibuat oleh Yogya Express Borromeus dan diterima oleh supplier. Sistem e-SCM di Yogya Express Borromeus dapat memberikan data dan informasi yang akurat untuk mendukung proses pengambilan keputusan dalam perencanaan pembelian dan produksi, serta dapat memberikan model.

Dari gambar tersebut kita dapat melihat tampilan di layar komputer untuk mengeluarkan pesanan pembelian dari nomor 1 sampai dengan nomor 3, dan untuk lebih jelasnya anda dapat melihat gambar pada lampiran, dengan penerapan e-SCM maka proses pemesanannya untuk semua supplier dapat dilakukan hanya dengan 1 komputer yang terkoneksi internet dan 1 orang karyawan yang mengelolanya, hal ini jauh lebih sukses dan sukses dibandingkan dengan. Dalam gambar ini kita dapat melihat tampilannya di layar komputer untuk penerimaan. Untuk lebih jelasnya gambar ini tersedia pada lampiran. Penerimaan ini merupakan proses konfirmasi bahwa barang yang dikirim oleh supplier telah diterima oleh perusahaan, sistem e-SCM dapat melakukan konfirmasi dan dengan diperkenalkannya e-SCM maka dapat dengan cepat dan akurat menerima aliran informasi antar supplier. dan perusahaan. Express Borromeus sebagian besar konsisten dengan penelitian sebelumnya oleh Gde et al. 2008) mengenai implementasi e-SCM harus mencakup 4 fungsi yaitu manajemen pelanggan dan layanan, perencanaan produksi dan rantai pasokan, manajemen hubungan pemasok dan manajemen sumber daya logistik, namun dalam implementasi e-SCM di Yogya Express Borromeus belum mencapai konsumen, hal ini dikarenakan pada fungsi manajemen pelanggan dan pelayanan, konsumen tidak dapat memesan secara online, mereka hanya dapat melihat produk yang dijual saja.

Gambar 4.2 Layar Utama Sistem e-SCM Yogya Express Borromeus Sumber: Yogya Group Dokumen Panduan Penggunaan Sistem ERP
Gambar 4.2 Layar Utama Sistem e-SCM Yogya Express Borromeus Sumber: Yogya Group Dokumen Panduan Penggunaan Sistem ERP

Faktor-Faktor Penyebab Belum Optimalnya Penerapan e-SCM

  • Metode Kerja
  • Manusia
  • Lingkungan Kerja
  • Mesin
  • Budaya Kerja

Melakukan hal yang kurang terpuji yaitu mencuri produk yang dibawanya. Kurangnya pelatihan yang tepat. dilakukan oleh manajemen perusahaan. Hasil wawancara dengan salah satu supplier mengenai mengapa masih terdapat ketidaksesuaian antara barang yang diminta dengan yang dikirim ke toko disebabkan karena pemeriksaan dan pengawasan yang kurang ketat serta tidak berulang pada setiap proses yang dilakukan saat memenuhi permintaan toko. , proses penyiapan produk yang diminta oleh supplier toko adalah sebagai berikut : . Dalam pengoperasian e-SCM diperlukan spesifikasi komputer yang harus dipenuhi oleh perusahaan, agar kinerja sistem ini dapat berjalan maksimal dan tidak terjadi crash pada saat aplikasi dijalankan, Yogya Express Borromeus menggunakan aplikasi G.O.L.D dalam sistem e-SCM mereka, berikut perbandingan spesifikasi minimum dan penggunaan :.

Dari tabel tersebut terlihat bahwa hardware yang digunakan Yogya Express Borromeus berada dibawah spesifikasi minimal yang akan digunakan, ditandai dengan warna merah, hal ini menyebabkan sistem tidak bekerja maksimal dan sering mengalami error saat digunakan. Borromeus sehingga Yogya Express ikut serta dalam jaringan dalam pengoperasian e-SCM nya, oleh karena itu sering terjadi buffering pada saat pengoperasian sistem karena jaringan terbagi atas kegiatan yang dilakukan oleh RS Borromeus. Hal ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Alianto dan Wijaya (2014), hanya satu pengalaman yang dialami yaitu dari segi budaya kerja.

Gambar 4.6 Fishbone Diagram Penyebab Belum Optimalnya Penerapan e-SCM
Gambar 4.6 Fishbone Diagram Penyebab Belum Optimalnya Penerapan e-SCM

Optimalisasi Penerapan e-SCM di Yogya Express

Dengan memperbanyak pegawai yang membantu saat pendistribusian, diharapkan ada yang dapat mengingatkan pengemudi untuk lebih berhati-hati dalam mengemudikan kendaraannya agar produk tetap utuh dan tidak rusak. Selain itu, pendampingan dan pengawasan pada saat pendistribusian dapat mencegah terjadinya pencurian yang dilakukan oleh oknum pengemudi distribusi. Dengan meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan ketelitian serta pembinaan pegawai, serta dengan mengubah proses pelatihan dengan tidak menganggap bahwa kemampuan semua peserta sama dan dilakukan tidak hanya di luar pekerjaan tetapi juga di tempat kerja, diharapkan pada saat pegawai menyelesaikan pelatihan. , mereka dapat menguasai pengoperasian sistem. Tidak hanya itu pada saat proses on the job training, pihak perusahaan juga melakukan asesmen dan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan peserta diklat, sehingga ketika seluruh proses pelatihan selesai, tidak hanya sedikit peserta diklat yang memahaminya, namun mereka juga semua memahami dan dapat mengoperasikan sistem ini dengan baik dan diharapkan karyawan lebih menguasai pengoperasian sistem e-SCM dan meminimalisir kesalahan pengetikan pada saat membuat pesanan pembelian. Dengan memberikan peringatan dan sanksi kepada siapapun yang tidak mengikuti prosedur yang telah ditetapkan, diharapkan dalam setiap proses pengoperasian e-SCM, karyawan akan mengikuti prosedur tersebut untuk meminimalisir kesalahan dalam pengoperasian sistem.

Jaringan internet yang digunakan Yogya Express Borromeus merupakan jaringan internet yang disediakan oleh RS Borromeus. Oleh karena itu dalam penggunaan sistem sering terjadi buffering karena jaringan ini terbagi dalam seluruh aktivitas yang dilakukan oleh RS Borromeo, oleh karena itu penulis mengusulkan untuk memiliki jaringan internet sendiri agar aktivitas operasional sistem tidak terganggu akibat hal tersebut. buffering. Untuk mengimplementasikan sistem e-SCM, penulis mengusulkan untuk memberikan bantuan pada saat pengoperasiannya, sehingga ketika salah satu karyawan melakukan kesalahan, rekan kerja yang lain dapat mengingatkan dan menginformasikannya, dan untuk mengimplementasikan stabilisasi sistem e-SCM, gunakan jaringan. khusus digunakan oleh Yogya. Cepat. Borromeus tidak bergabung dengan jaringan rumah sakit. Dilihat dari hasil analisis menggunakan diagram tulang ikan, terdapat 3 faktor permasalahan terkuat yang menghambat penerapan e-SCM secara optimal yaitu metode kerja, manusia dan mesin. Faktor cara kerja khususnya pengawasan dapat diminimalkan dengan memberikan pendampingan dan pemeriksaan berkala (PCS) pada setiap proses yang dilakukan, faktor manusia dapat diminimalkan dengan meningkatkan pengetahuan, ketelitian dan pendampingan dalam pengoperasian sistem e-SCM, dan faktor mesin dapat diminimalisir. diminimalkan dengan meningkatkan spesifikasi komputer yang digunakan terutama perangkat keras yang digunakan sehingga memenuhi spesifikasi minimal yang harus dipenuhi dan meningkatkan jaringan yang digunakan. apa yang telah dijelaskan dapat segera direalisasikan untuk menyempurnakan dan meningkatkan kualitas sistem e-SCM. 2014), Peran sistem ERP dan perubahan pola kerja sebagai upaya meningkatkan kinerja bisnis, Jurnal Sistem Informasi, Vol.

Gambar 4.8 Fishbone Diagram Optimalisasi Penerpan e-SCM Sumber: Hasil diskusi store manager dan pihak supplierLingkungan
Gambar 4.8 Fishbone Diagram Optimalisasi Penerpan e-SCM Sumber: Hasil diskusi store manager dan pihak supplierLingkungan

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan indikator penelitian yaitu penerapan e-SCM di Yogya Express Borromeus, kualitas sistem e-SCM dapat diandalkan dan lebih efisien dibandingkan dengan metode kerja konvensional, namun stabilitasnya belum stabil dan kualitas informasi yang disajikan tepat, bermanfaat dan mudah dipahami, serta dilihat dari fungsi yang diterapkan e-SCM sebagian besar sudah sesuai dengan teori yang dikemukakan para ahli. Setelah dilakukan analisa faktor-faktor penyebab penerapan e-SCM kurang optimal di Yogya Express Borromeus dengan menggunakan diagram tulang ikan, maka dapat diketahui bahwa faktor penyebab penerapan e-SCM kurang optimal adalah metode kerja yang diterapkan. , orang yang menggunakannya, dan faktor penggunaan mesin yang masih dibawah spek. Berdasarkan hasil analisis optimasi yang dilakukan terhadap metode kerja, faktor manusia dan budaya, terjadi penurunan kehancuran produk.

Saran

2014), Model Supply Chain Management en E-SCM Design bij PT Indofood Sukses Makmur TBK Bogasari Flour Mills Division, The Winners Journal, Vol. Efisiensi Pemasaran Rantai Pasokan Daging Sapi di Kabupaten Banyuwangi, Jurnal Ilmiah Bisnis, Pasar Modal dan UMKM, Vol. 2016), Implementasi Manajemen Waktu ERP SAP HCM Positif Menggunakan Metodologi Accelerated SAP (ASAP), Jurnal Teknik Informatika, Vol. 2015), Implementasi dari E-Supply Chain Management di industri OV.

Gambar

Tabel 1.1 Produk Expired
Tabel 1.2 Faktur Datang Barang
Tabel 1.3 Time Scedule Penelitian TIME SCHEDULE
Gambar 3.1 Rancangan Flowchart Proses e-SCM dalam Purchase Order Sumber: Diadaptasi dari Heizer dkk
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam proses jual beli pada toko online EMSTORE tentu tidak akan lepas dengan proses supply Chain Management, mulai dari proses penerimaan barang dari supplier,