• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGARUH HARGA KOMODITAS PANGAN mariaa (2 juni ) (2) (1)

N/A
N/A
Jhon Felix Simorangkir 21530023

Academic year: 2025

Membagikan "ANALISIS PENGARUH HARGA KOMODITAS PANGAN mariaa (2 juni ) (2) (1)"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH HARGA KOMODITAS BERAS, PENGELUARAN RUMAH TANGGA DAN SUBSIDI PEMERINTAH TERHADAP JUMLAH PENDUDUK

MISKIN DI INDONESIA TAHUN 2010-2023 PROPOSAL PENELITIAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Memperoleh gelar sarjana ekonomi (S.E)

Oleh

Nama : Mariawati Simanjuntak Npm : 21530016

Program studi : Ekonomi Pembangunan

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN

MEDAN

2025

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...i

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...8

1.3 Tujuan Penelitian...8

1.4 Manfaat Penelitian...9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...10

2.1 Landasan Teori...10

2.1.1 Kemiskinan...10

2.1.2 Teori Kemiskinan...11

2.1.3 Indikator Kemiskinan...13

2.1.4 Ukuran Kemiskinan...13

2.2 Harga Komoditas Beras...14

2.2.1 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Harga Beras...16

2.1.2 Metode-Metode Penetapan Harga...17

2.3 Pengeluaran Rumah Tangga...18

2.3.1 Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi...19

2.3.2 Indikator Konsumsi...20

2.4 Subsidi Pemerintah...20

2.4.1 Teori Subsidi Pemerintah...21

2.4.2 Dampak Positif dan Negatif Pelaksanaan Subsidi...22

2.5 Hubungan Teoritis Antar Variabel Penelitian...23

2.5.1 Hubungan Variabel Harga Komoditas Beras Terhadap Jumlah Penduduk Miskin...23

2.5.2 Hubungan Variabel Pengeluaran Rumah Tangga Terhadap Jumlah Penduduk Miskin...23

2.5.3 Hubungan Variabel Subsidi Pemerintah Terhadap Jumlah Penduduk Miskin...23

(3)

2.6 Hasil Penelitian Terdahulu...24

2.7 Kerangka Pemikiran...26

2.8 Hipotesis Sementara...27

BAB III METODE PENELITIAN...28

3.1 Ruang Lingkup Penelitian...28

3.2 Jenis dan Sumber Data...28

3.3 Model Analisis Data...28

3.4 Analisis Regresi Linear Berganda...28

3.5 Pengujian Hipotesis...29

3.5.1 Uji Secara Individu (Uji – t)...29

3.5.2 Uji Secara Simultan (Uji F)...30

3.6 Koefisien Determinan (R2)...31

3.7 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik...32

3.7.1 Uji Multikolinearitas...32

3.7.2 Uji Autokorelasi...33

3.8 Definisi Operasional...34

DAFTAR PUSTAKA...36

(4)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kemiskinan merupakan isu kompleks yang menjadi perhatian utama di banyak negara, terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Kemiskinan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam upaya mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Ronauli mengemukakan bahwa tinggi rendahnya tingkat kemiskinan mencerminkan sejauh mana keberhasilan pembangunan ekonomi disuatu wilayah (Simbolon et al., 2024).

Indonesia sebagai negara berkembang, masih menghadapi tantangan dalam upaya mengurangi tingkat kemiskinan. Meskipun telah terjadi penurunan dalam beberapa tahun terakhir, ketimpangan antar daerah dan kelompok masyarakat masih menjadi permasalahan yang perlu diperhatikan. Masalah kemiskinan merupakan cerminan dari ketidakadilan dan ketidaksetaraan dalam masyarakat yang sampai saat ini masih belum terpecahkan secara menyeluruh.

Levitan dan Schiller dalam (Pinontoan, 2020) sepakat mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar dan hidup layak. Levitan menekankan pada kekurangan barang dan jasa, sedangkan Schiller lebih menekankan pada ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sosial. Suripto dan Subayil (2020) meneliti pengaruh faktor-faktor seperti pendidikan, pertumbuhan PDB, pengangguran, dan IPM terhadap kemampuan masyarakat untuk mengatasi kemiskinan.

(5)

pembangunan nasional. (Ardina, 2024) menyatakan bahwa masalah kemiskinan meluas dari pedesaan tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan Sehingga untuk mengatasi kemiskinan secara nasional, utamanya dimulai dari daerah-daerah yang masih tertinggal.

Adisasmita (2005) dalam Gusti Ngurah (2022) indikator kemiskinan meliputi berbagai aspek seperti tingkat upah, pendapatan, konsumsi, kesehatan anak dan ibu, harapan hidup, pendidikan, dan akses terhadap kebutuhan dasar seperti pangan, air bersih, serta distribusi pendapatan. Kemiskinan tidak hanya diukur dari kekurangan pangan dan pendapatan rendah, tetapi juga dari tingkat kesehatan, pendidikan, dan perlakuan adil dalam hukum.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengukur kemiskinan menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs aproach). Pendekatan ini menggunakan sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan berdasarkan pengeluaran.

Kategori penduduk miskin dihitung dari rata-rata pengeluaran per kapita perbulan di bawah garis kemiskinan.

Adapun data jumlah penduduk miskin di indonesia pada tahun 2010-2023 dapat disajikan pada gambar dibawah ini.

(6)

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 0

5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000

31023.4 29890.1

28594.64 28553.93

27727.78 28513.6

27764.32 26582.99

25674.58 24785.87

27549.69

26503.65 25898.55

Tahun

Ribu Jiwa

Sumber: Statistik Indonesia, 2024

Gambar 1.1 Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Tahun 2010-2023

Gambar 1.1 diatas menunjukan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia dari tahun 2010-2023 cendrung menurun dari tahun ketahun. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2010 adalah jumlah penduduk miskin tertinggi selama 14 tahun terakhir yakni mencapai 31023,40 ribu jiwa. Pada tahun 2011 sampai 2023 jumlah penduduk miskin mengalami penurunan menjadi 25898,55 ribu jiwa. Terjadinya kenaikan dan penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti terdapat penurunan angka kelahiran akibat akses yang lebih baik terhadap kontrasepsi dan peningkatan pendidikan, terutama di kalangan wanita. Peningkatan angka kematian, terutama di kalangan populasi lanjut usia, serta ketidakmerataan kualitas layanan kesehatan. Menurut Rosalyne et al., (2023) Sukirno (2011) dalam (Putera, 2018), perkembangan jumlah penduduk dapat mendorong dan menghambat pembangunan. Sebagai faktor pendorong, jumlah penduduk yang semakin meningkat dapat mendorong pertumbuhan ekonomi,

(7)

lebih banyak jumlah angkatan kerja, terdapat kesempatan untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi dalam berbagai sektor. Namun, disisi lain perkembangan jumlah penduduk juga dapat menjadi penghambat pembangunan jika tidak diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja yang memadai. Ketika jumlah tenaga kerja melebihi kesempatan kerja yang tersedia, hal ini dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan angka pengangguran.

Bagi Indonesia, beras merupakan simbol pangan karena merupakan makanan pokok utama. Pengalaman krisis ekonomi 1997/1998 menunjukkan bahwa gangguan ketahanan pangan dapat memicu kerawanan sosial dan mengancam stabilitas ekonomi dan nasional. Oleh karena itu, pemerintah berupaya meningkatkan ketahanan pangan melalui produksi dalam negeri, terutama mengingat jumlah penduduk yang besar dan sebaran geografis yang luas.

Indonesia membutuhkan ketersediaan pangan yang mencukupi dan terdistribusi dengan baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan operasional logistik.

Kenaikan harga beras yang signifikan dapat menyebabkan banyak orang yang sebelumnya tidak miskin menjadi miskin karena besarnya pengaruh harga beras terhadap garis kemiskinan. Harga beras cenderung stabil tanpa gangguan permintaan atau pasokan, namun karena sifatnya yang inelastis, kenaikan harga tidak akan diikuti oleh penurunan volume pembelian yang proporsional oleh konsumen rumah tangga Gapari et al., (2021).

Beras adalah makanan pokok utama bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, dengan lebih dari 95% penduduk mengandalkannya sebagai sumber karbohidrat utama. Hal ini membuat harga beras menjadi indikator penting

(8)

dalam perekonomian, serta menjadi bagian utama dalam perhitungan kebutuhan makanan. oleh BPS fluktuasi harga beras di Indonesia disebabkan oleh banyak hal, antara lain: (1) faktor struktural dan siklus, (2) faktor penawaran dan permintaan, (3) pasar internasional dan domestik (ADB, 2008), (4) iklim, (5) distribusi, (6) nilai tukar, dan lainnya. (Maipita, 2014).

Adapun data harga komoditas beras di indonesia pada tahun 2010-2023 dapat disajikan pada gambar dibawah ini.

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 0

2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000

7.084,29 7.889,84

8.642,52 8.941,02

9.637,88 10.915,13

11.511,34 11.534,93

12.054,48 12.091,09

12.260,73

10.395,00 10.656,00

12.465,72

Tahun

Ribu Rupiah

Sumber: (BPS Indonesia, 2024)

Gambar 1.2 Harga Komoditas Beras di Indonesia

Gambar 1.2 diatas dapat dilihat bahwa harga komoditas Beras pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2020 mengalami kenaikan ini disebabkan oleh beberapa faktor Pertama, perubahan iklim dan fenomena cuaca ekstrem. Kedua, meningkatnya permintaan beras seiring dengan pertumbuhan populasi, sementara produksi tidak selalu dapat memenuhi permintaan tersebut. Selain itu, faktor-

(9)

harga gabah juga berkontribusi terhadap kenaikan harga beras. Tahun 2021 turun kemudian naik Kembali lagi tahun 2022 sampai 2023.

Pengeluaran konsumsi rumah tangga merupakan pembelanjaan rumah tangga untuk barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makanan, pakaian, dan layanan lainnya. Barang konsumsi adalah produk yang dibuat untuk digunakan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan mereka. Jika semua pengeluaran konsumsi individu dalam suatu negara dijumlahkan, hasilnya adalah total pengeluaran konsumsi masyarakat negara tersebut (Darmawan, 2022).

Adapun data pengeluaran rumah tangga di Indonesia pada tahun 2010- 2023 dapat disajikan pada gambar dibawah ini.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000 7000000

3786062.9 3977288.6

4195787.6 4423416.9

4651018.4 4881630.7

5126308 5379628.6

5651453.3

5936399.5 5780223.4

5896706.8 6187190.4 6486253.8

Pengeluaran Rumah Tangga (Juta Rupiah) Sumber: (BPS, Produk Domestik Bruto Menurut Pengeluaran, 2024)

Gambar 1.3 Pengeluaran Rumah Tangga di Indonesia tahun 2010-2023

Gambar 1.3 menunjukan bahwa perkembangan konsumsi rumah tangga selalu naik dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 konsumsi rumah tangga sebesar 3.786.062,9 juta rupiah dan terus meningkat mencapai 5.93.6399,5 juta rupiah

(10)

pada tahun 2019. Penurunan konsumsi rumah tangga hanya terjadi pada tahun 2020 sebesar 5.780.223,4 hal ini dikerenakan oleh adanya pademi Covid-19 dimana pemerintah menerapkan kebijakan dalam bembatasan penggerakan masyarakat. Kemudian kembali naik pada tahun 2021 sebesar 5.896.706,8 juta rupiah dan pada tahun 2023 sebesar 6.486.253,8 juta rupiah.

Subsidi adalah bantuan keuangan dari pemerintah kepada perusahaan atau masyarakat untuk meningkatkan produksi atau konsumsi, serta menurunkan harga. Subsidi ini bertujuan membantu masyarakat miskin dalam kegiatan ekonomi dan tersedia dalam dua bentuk: subsidi uang (cash transfer) yang memberikan kebebasan penggunaan, dan subsidi barang (in kind subsidy) yang menyediakan barang tertentu dengan harga rendah atau gratis (Misdawita & Sari, 2013).

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 0

50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000 400000 450000

192707 295358

346420 355045

391962

185971 174226

166401 216883

201802 196231

242086 252812

269592

Tahun

Miliar Rupiah

Sumber: (Statistik Indonesia, 2024)

Gambar 1.3 Subsidi Pemerintah di Indonesia Tahun 2010-2023

Gambar1.4 menunjukan bahwa subsidi pemerintah, mengalami kenaikan

(11)

dari 192.707 miliar rupiah tahun 2010 pada tahun 2014 sebesar 391.962 miliar rupiah dan mengalami penurunan selama 2 tahun dimulai dari tahun 2015-2017 sebesar 174,226 (Miliar) dan pada tahun 2018 sampai tahun 2023 subsidi pemerintah mengalami fluktuasi, hal ini dapat disebabkan beberapa faktor yaitu perubahan kebijakan pemerintah, kebutuhan sosial, harga komoditas pangan internasional. Berdasarkan dari uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti topik dengan judul “Analisis Pengaruh Harga Komoditas Beras, Pengeluaran Rumah Tangga dan Subsidi Pemerintah Terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Tahun 2010-2023”.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengaruh harga komoditas beras terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023?

2. Bagaimana pengaruh pengeluaran rumah tangga terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023?

3. Bagaimana pengaruh subsidi pemerintah terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh harga komoditas beras terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pengeluaran rumah tangga terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023.

3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh subsidi pemerintah terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023.

(12)

1.4 Manfaat Penelitian

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan.

2. Bagi penulis penelitian ini menambah wawasan dan mengenal lebih tentang faktor- faktor yang mempengaruhi kemiskinan.

3. Bagi Fakultas, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan bacaan dan perbandingan bagi pembaca.

(13)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Kemiskinan

Kemiskinan dapat dipahami dalam dua perspektif. Dalam arti sempit, kemiskinan merujuk pada ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar karena kurangnya sumber daya ekonomi. Namun, dalam arti luas, kemiskinan merupakan fenomena yang kompleks dan multidimensional, mencakup tidak hanya kekurangan materi tetapi juga aspek-aspek seperti ketidakberdayaan, kerentanan terhadap situasi darurat, ketergantungan pada orang lain, dan keterasingan baik secara fisik maupun sosial. Menurut Purba et al.

(2012), pemahaman yang lebih luas tentang kemiskinan sangat penting untuk merancang strategi penanggulangan yang efektif. Kemiskinan dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu kemiskinan alamiah dan kemiskinan buatan (artificial).

1. Kemiskinan Alamiah adalah kemiskinan yang disebabkan oleh langkanya sumber daya alam dan rendahnya produktivitas.

2. Kemiskinan Buatan adalah kemiskinan yang disebabkan oleh modernisasi atau pembangunan yang membatasi masyarakat untuk mengakses sumber daya, sarana, dan fasilitas ekonomi secara merata.

Menurut Camber (1987) dalam Pinontoan (2020), kemiskinan didefinisikan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk memperoleh barang dan jasa yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar dan sosial mereka. Ini menyoroti

(14)

bahwa kemiskinan bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga terkait dengan akses terhadap layanan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk hidup layak.

Menurut Harahap (2020), kemiskinan merupakan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan. Pandangan ini sejalan dengan pendapat The Smeru Research Institute yang mendefinisikan kemiskinan tidak hanya sebagai kekurangan materi, tetapi juga mencakup aspek-aspek penting lainnya seperti kesehatan, pendidikan, dan partisipasi sosial. Supriatna menambahkan bahwa kemiskinan adalah kondisi keterbatasan yang tidak diinginkan dan ditandai oleh rendahnya tingkat pendidikan, produktivitas kerja, pendapatan, kesehatan, dan kesejahteraan hidup, yang semuanya berada dalam lingkaran ketidakberdayaan. Kadji (2004) juga menekankan bahwa kemiskinan seringkali disebabkan oleh kualitas sumber daya manusia yang rendah, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal, yang berdampak pada rendahnya kemampuan dan kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup.

2.1.2 Teori Kemiskinan

Menurut Todaro dan Smith (2006), penduduk miskin umumnya tinggal di daerah pedesaan dengan mata pencaharian terkait ekonomi tradisional. Mereka yang termasuk dalam kategori miskin lebih banyak terdiri dari perempuan dan anak-anak dibandingkan laki-laki dewasa, dan seringkali terkonsentrasi di kalangan masyarakat adat dan kelompok etnis minoritas. Pemahaman tentang kemiskinan umumnya dipengaruhi oleh dua paradigma utama, yaitu paradigma Neo Liberal dan Demokrasi Sosial, yang membentuk pendekatan dan strategi

(15)

penanggulangan kemiskinan. Kedua paradigma ini memiliki perspektif berbeda dalam melihat akar masalah kemiskinan dan solusi yang ditawarkan.

Kedua paradigma ini memiliki perbedaan yang sangat jelas, terutama dalam cara mereka melihat kemiskinan dan solusi yang ditawarkan dalam penanggulangan kemiskinan. Teori neo liberal mengatakan bahwa kemiskinan adalah tentang persoalan individu yang disebabkan oleh kelemahan atas pilihan individu yang bersangkutan berupa lemahnya pendapatan dan lemahnya kepribadian. Pandangan ini menekankan bahwa upaya penanggulangan kemiskinan bersifat residual, melibatkan peran lembaga keluarga, kelompok swadaya, serta lembaga keagamaan, Teori ini berpendapat bahwa kekuatan pasar mempunyai peran yang besar dalam mengentaskan kemiskinan, sedangkan intervensi dari negara hanya dilakukan ketika lembaga-lembaga tersebut tidak mampu mengatasinya. Teori ini menawarkan strategi penanggulangan kemiskinan melalui penyaluran pendapatan secara selektif kepada orang miskin, serta melalui inisiatif masyarakat dan LSM untuk memberikan pelatihan keterampilan pengelolaan keuangan Pinontoan, (2020).

Menurut teori demokrasi sosial, kemiskinan dipandang sebagai masalah struktural yang disebabkan oleh ketidakadilan dan ketimpangan akses terhadap sumber daya masyarakat. Penanggulangan kemiskinan memerlukan peran aktif negara dalam manajemen dan pendanaan untuk menyediakan pelayanan sosial dasar yang merata bagi seluruh masyarakat. Dengan demikian, negara diharapkan dapat mengurangi kesenjangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara lebih adil dan berkelanjutan Pinontoan, (2020).

(16)

2.1.3 Indikator Kemiskinan

Pada tingkat internasional, Bank Dunia menyatakan indikator utama kemiskinan yaitu : (1) Keterbatasan dalam kepemilikan tanah dan modal, (2) Terbatasnya sarana dan prasarana yang memadai, (3) Kesenjangan dalam mengakses kesempatan kerja, (4) Ketidaksetaraan layanan kesehatan yang layak, (5) Kualitas sumber daya manusia yang bervariasi, (6. Budaya hidup yang kurang baik, (7) Penyelenggaraan pemerintah yang buruk, (8) Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, (9) Pembangunan yang berpihak pada kota Hermawati et al., (2015).

2.1.4 Ukuran Kemiskinan

Menentukan ukuran kemiskinan bukanlah hal yang mudah karena kemiskinan mempunyai pengertian yang luas. Oleh karena itu untuk mempermudah mengukurnya, kemiskinan dibagi 4 macam yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan relative, kemiskinan kultural, kemiskinan structural Purba et al., (2012).

1. Kemiskinan absolut adalah suatu konsep pengukuran kemiskinan yang mengacu pada ketidakmampuan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia agar bisa bertahan hidup. Kebutuhan tersebut antara lain sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan.

2. Kemiskinan relatif adalah suatu konsep yang mengacu pada garis kemiskinan (poverty line) yang merupakan ukuran ketimpangan dalam distribusi pendapatan. Kondisi ini disebabkan oleh kebijakan pembangunan yang belum menyeluruh, sehingga menyebabkan ketimpangan pendapatan.

(17)

3. Kemiskinan kultural adalah konsep kemiskinan budaya yang mengacu pada sikap seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh faktor budaya, seperti malas, pemboros, tidak kreatif, dan tidak mau memperbaiki kehidupan meskipun ada bantuan dari pihak luar.

4. Kemiskinan struktural adalah suatu jenis kemiskinan yang disebabkan karena kurangnya akses terhadap sumber daya. Jenis kemiskinan ini terjadi dalam sistem sosial budaya dan sosial politik yang tidak membantu pembebasan kemiskinan, tetapi seringkali menyebabkan kemiskinan menjadi lebih subur. Batas garis kemiskinan yang digunakan setiap negara ternyata berbeda-beda karena faktor perbedaan lokasi dan standar kebutuhan hidup. Badan Pusat statisitik menggunakan batas miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita per bulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan.

2.2 Harga Komoditas Beras

Harga adalah nilai yang disepakati dalam transaksi pembelian sebagai syarat pertukaran, atau sejumlah nilai yang harus dibayar oleh pembeli untuk memperoleh suatu produk. Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Harga beras merupakan indikator penting stabilitas ekonomi nasional dan regional. Fluktuasi harga dipengaruhi oleh keseimbangan antara penawaran dan permintaan. Ketidakseimbangan antara keduanya dapat menyebabkan harga tidak stabil, terutama ketika permintaan meningkat sementara penawaran terbatas. Perubahan harga suatu barang juga dapat memengaruhi harga barang lainnya karena keterkaitan antar barang

(18)

(Ariyanti, 2023). Hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia. Sebagai kebutuhan dasar dan hak asasi manusia, pangan mempunyai arti dan peran yang sangat penting bagi kehidupan suatu bangsa. Ketersediaan pangan yang lebih kecil dibandingkan kebutuhannya dapat menciptakan ketidakstabilan ekonomi. Berbagai gejolak sosial dan politik dapat juga terjadi jika ketahanan pangan terganggu. Kondisi kritis ini bahkan dapat membahayakan stabilisasi nasional yang dapat meruntuhkan pemerintah yang sedang berkuasa. Gapari et al., (2021).

Permintaan beras bersifat in-elastis, yang mengimplikasikan bahwa fluktuasi harga tidak akan mengakibatkan perubahan yang besar pada permintaan.

Permintaan cenderung konstan antarwaktu. Dalam jangka panjang, permintaan meningkat, terutama karena pertumbuhan populasi. Sementara itu, ketersediaan pangan penuh dengan ketidakpastian. Hal ini mendorong pemerintah melakukan intervensi dengan mewujudkan kebijakan ketahanan pangan. Besarnya sumbangan harga beras dalam garis kemiskinan akan mengakibatkan jumlah individu yang sebelumnya di atas garis kemiskinan menjadi berada di bawah garis kemiskinan apabila terjadi kenaikan harga beras yang cukup tinggi. Harga komoditi beras di pasar tanpa adanya gangguan yang disebabkan oleh kekuatan permintaan (demand) atau kekuatan pasokan (supply) tentunya tidak akan sebegitu fluktuatif. Hal ini beralasan secara teori, mengingat karakter elastisitas harga dari komoditi strategik ini yang inelastis. Artinya seberapapun besar kenaikan tingkat harga beras di pasar, pengaruhnya tidak akan diikuti oleh

(19)

persentase kenaikan yang linier (dalam jumlah yang sama) dari volume pembelian beras yang dilakukan oleh kalangan konsumen rumah tangga Gapari et al., (2021).

Beras merupakan salah satu kebutuhan pokok yang sulit disubstitusi dengan komoditas pokok lainnya bagi masyarakat Indonesia. Konsumsi rumah tangga terhadap beras lebih besar dari komoditas lainnya, sehingga seiring dengan kenaikan jumlah penduduk maka permintaan komoditas beras juga meningkat, maka kenaikan permintaan beras akan mendorong peningkatan harga.

Peningkatan harga didorong oleh peningkatan penduduk di Indonesia terutama di ibukota provinsi. Ketersediaan komoditas makanan juga masih bergantung pada impor beras di ibukota provinsi, pada saat terjadinya gagal panen di daerah ekspor maka harga beras rentan mengalami kenaikan.

2.2.1 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Harga

Beras

Menurut Setianingsih dalam Salmi, (2025) beras adalah salah satu kebutuhan pokok yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia, dengan 98%

penduduk mengonsumsinya sebagai makanan utama. Ketersediaan, distribusi, dan keterjangkauan harga beras menjadi isu krusial dalam kebijakan ekonomi nasional. Faktor-faktor seperti produksi beras, tingkat konsumsi, dan jumlah penduduk dapat memengaruhi harga beras, yang berdampak pada stabilitas sistem pangan. Oleh karena itu, pengelolaan harga dan produksi beras sangat penting untuk menjaga kestabilan pangan nasional seperti berikut ini:

1. Produksi Beras

Untuk menjaga ketersediaan beras, peran aktif masyarakat dan pemerintah daerah sangat penting. Masyarakat dapat meningkatkan

(20)

produksi padi di tingkat pedesaan, sementara pemerintah dapat memastikan ketersediaan bahan pendukung produksi. Ketersediaan beras berdampak langsung pada harga beras, yang juga dipengaruhi oleh harga barang lain dan kebijakan pemerintah. Dengan demikian, kerja sama antara masyarakat dan pemerintah sangat krusial untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan beras di tingkat nasional.

2. Tingkat Konsumsi

Semakin banyak jumlah penduduk, semakin tinggi tingkat konsumsi beras, dan sebaliknya, semakin sedikit jumlah penduduk, semakin rendah tingkat konsumsi beras.

3. Populasi Penduduk

Pertumbuhan populasi penduduk meningkatkan konsumsi beras, sementara penurunan lahan persawahan dan pergeseran ekonomi dari agraris ke non-agraria dapat menurunkan produksi padi, sehingga mempengaruhi ketersediaan beras.

2.1.2 Metode-Metode Penetapan Harga

Menurut Siregar Kasih (2018) metode penetapan harga dapat dikelompokkan menjadi empat kategori utama, yaitu metode penetapan harga berbasis permintaan, berbasis biaya, berbasis laba, dan berbasis persaingan.

1. Metode penetapan harga berbasis permintaan menentukan harga berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi selera dan preferensi pelanggan, bukan hanya biaya, laba, atau persaingan.

(21)

2. Metode penetapan harga berbasis biaya menentukan harga berdasarkan biaya produksi dan pemasaran, ditambah dengan margin tertentu untuk menutupi biaya langsung, overhead, dan laba yang diinginkan.

3. Metode penetapan harga berbasis harga bertujuan menyeimbangkan pendapatan dan biaya dengan menetapkan target laba spesifik atau dalam bentuk persentase tertentu.

2.3 Pengeluaran Rumah Tangga

Menurut Fahmi dalam Afriyal (2022) Konsumsi adalah aktivitas yang bertujuan untuk mengurangi atau menghabiskan nilai guna suatu barang atau jasa guna memenuhi kebutuhan dan kepuasan langsung. Dalam kehidupan sehari-hari, konsumsi dilakukan oleh individu, masyarakat, atau rumah tangga untuk memuaskan kebutuhan mereka. Konsumsi dapat diartikan sebagai proses penggunaan barang atau jasa untuk mengurangi atau menghabiskan nilai gunanya, baik secara langsung maupun bertahap, guna memenuhi kebutuhan hidup.

Indri (2017:97) Konsumsi rumah tangga merupakan pengeluaran untuk membeli barang dan jasa. Barang yang dibeli bisa bersifat tahan lama, seperti kendaraan dan peralatan rumah tangga, atau tidak tahan lama, seperti makanan dan pakaian. Sementara itu, jasa yang dikonsumsi mencakup layanan yang tidak berwujud, seperti layanan kesehatan dan potong rambut. Dengan kata lain, konsumsi rumah tangga mencakup kebutuhan sehari-hari baik berupa barang fisik maupun layanan yang mendukung kehidupan mereka. Pengeluaran konsumsi merujuk pada biaya yang dikeluarkan oleh individu atau rumah tangga untuk memperoleh barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam jangka

(22)

waktu tertentu. Dalam konteks rumah tangga, pengeluaran konsumsi mencakup pembelian berbagai barang dan jasa yang diperlukan untuk menopang kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pengeluaran konsumsi menjadi bagian penting dalam pengelolaan keuangan individu dan rumah tangga.

2.3.1 Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi

Menurut Suedoyono (2019:170) ada beberapa faktor-faktor tentang konsumsi antara lain:

1. Ketersediaan alat-alat likuid seperti tabungan dan uang tunai memungkinkan masyarakat untuk dengan mudah meningkatkan konsumsi mereka dengan menggunakannya secara langsung.

2. Jumlah barang tahan lama yang dimiliki masyarakat, seperti rumah, mobil, dan peralatan elektronik, juga mempengaruhi tingkat pengeluaran konsumsi mereka. Semakin banyak barang tahan lama yang dimiliki, semakin besar kemungkinan pengeluaran konsumsi untuk pemeliharaan atau pembelian lanjutan.

Menurut Putong (2015:46) Faktor-faktor tersebut dapat diklarifikasikan menjadi tiga besar di antaranya: faktor-faktor ekonomi, faktor-faktor demografi (kependudukan), faktor-faktor non-ekonomi. Terdapat tiga faktor utama yang menentukan tingkat konsumsi, salah satunya adalah pendapatan rumah tangga.

Pendapatan rumah tangga mencakup semua penerimaan uang dalam jangka waktu tertentu, seperti gaji, pendapatan dari properti, dan transfer pemerintah. Semakin tinggi pendapatan rumah tangga, semakin besar kemampuan untuk membeli

(23)

kebutuhan konsumsi, yang berpotensi meningkatkan tingkat konsumsi dan mungkin juga mengubah pola hidup menjadi lebih konsumtif Hidayat (2017:2)

Kekayaan rumah tangga mencakup aset riil seperti properti dan kendaraan, serta aset finansial seperti deposito dan saham. Kekayaan ini dapat meningkatkan konsumsi dengan menambah pendapatan yang dapat digunakan. Selain itu, jumlah barang konsumsi tahan lama yang dimiliki masyarakat juga mempengaruhi tingkat konsumsi, baik dengan menambah maupun mengurangi pengeluaran konsumsi tergantung pada situasi dan kebutuhan.

2.3.2 Indikator Konsumsi

Indikator konsumsi antara lain, menurut Rachim (2015:68) dan Hidayat (2017:2) indikator dari konsumsi ada dua yaitu:

1. Konsumsi barang seperti makanan atau kebutuhan pokok 2. Konsumsi jasa

Menurut Fahmi (2018:17) indikator dari konsumsi yaitu barang tahan lama/tidak tahan lama, dan jasa.

2.4 Subsidi Pemerintah

Subsidi sering kali dimaksudkan untuk membantu kelompok masyarakat yang rentan atau kurang beruntung secara ekonomi, dengan memberikan bantuan keuangan atau mengurangi biaya suatu barang atau jasa yang penting bagi kehidupan sehari-hari. Ketika pemerintah mengalokasikan dana untuk hibah, mereka secara tidak langsung memberikan bantuan kepada individu atau kelompok yang mungkin berada di ambang kemiskinan, sehingga membantu mereka mengatasi hambatan ekonomi yang mungkin menghambat kemajuan.

(24)

Menurut Spencer & Amos Jr dalam (Dieniah 2025) belanja subsidi merupakan pembayaran yang dilakukan oleh pemerintah, baik kepada perusahaan maupun rumah tangga, dengan tujuan tertentu untuk membantu meringankan beban pihak penerima.

2.4.1 Teori Subsidi Pemerintah

Masalah esensial dari tingkat kemiskinan adalah ketidakmampuan masyarakat miskin dalam mendapatkan bantuan-bantuan untuk kebutuhan hidup mereka, seperti bantuan untuk mendapat pelayanan pendidikan dan kesehatan. Di sinilah peran pemerintah memberikan kemudahan untuk masyarakat miskin dalam memperoleh pelayanan umum melalui pengeluarannya. Keynesian, dalam teorinya terkait subsidi pemerintah memaparkan untuk mengelola perekonomian melalui kebijakan fiskal dan moneter peran pemerintah sangat penting sebagai instrumen utama penentu kebijakan untuk mensejahterakan rakyatnya. Sebagai upaya pencegahan intervensi negara, Keynes (1936) mengemukakan pembenahaan instabilitas perekonomian perlu dilakukan pemerintah. Apabila perekonomian mengalami ekuilibrium di bawah full employment (recessionary gap), maka dilakukan dengan peningkatan permintaan yaitu pengeluaran belanja diperbanyak, pajak diturunkan, atau tingkat suku bunga diturunkan. Apabila perekonomian mengalami ekuilibrium di atas full employment (inflationary gap), maka dilakukan dengan pengurangan permintaan yaitu suku bunga ditingkatkan, pajak ditingkatkan, atau belanja pemerintah diturunkan (Komalasari, 2015).

(25)

2.4.2 Dampak Positif dan Negatif Pelaksanaan Subsidi 1. Dampak Positif

Dalam memberlakukan subsidi, adapun dampak positif atau manfaat yang diperoleh:

a. Subsidi dapat meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat dengan menurunkan harga objek subsidi di bawah atau setara dengan harga keseimbangan, sehingga menjaga daya beli masyarakat.

b. Dengan subsidi, masyarakat kurang mampu dapat lebih mudah memenuhi kebutuhan ekonomi, yang berpotensi meningkatkan kondisi ekonomi mereka secara perlahan.

c. Subsidi bagi pelaku usaha dapat membantu mencegah kebangkrutan dengan menjaga keseimbangan pasar dan meningkatkan daya saing produk domestik terhadap produk luar negeri.

2. Dampak Negatif

Ketika konsumen membayar produk subsidi di bawah harga pasar, mereka cenderung menghabiskan lebih banyak daripada menghemat, sehingga dapat menyebabkan ketidak efisienan dalam distribusi subsidi jika tidak diatur dengan baik.

a. Subsidi dapat menyebabkan distorsi harga jika hanya berfokus pada popularitas tanpa mempertimbangkan efisiensi, sehingga target penerima subsidi yang sebenarnya berhak mungkin tidak dapat menikmatinya.

(26)

b. Subsidi dapat membuat masyarakat atau perusahaan menjadi tergantung pada bantuan pemerintah.

2.5 Hubungan Teoritis Antar Variabel Penelitian

2.5.1 Hubungan Variabel Harga Komoditas Beras Terhadap Jumlah Penduduk Miskin

Studi ini menemukan bahwa harga beras secara positif mempengaruhi tingkat kemiskinan di ibukota provinsi Indonesia, menunjukkan bahwa harga beras yang lebih tinggi berkorelasi dengan peningkatan persentase orang miskin, menekankan perlunya stabilitas harga dan distribusi beras bersubsidi (Deski et al., 2022)

2.5.2 Hubungan Variabel Pengeluaran Rumah Tangga Terhadap Jumlah Penduduk Miskin

Masykur et al., (2015) Dalam penelitiannya menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga berpengaruh positif signifikan terhadap kemiskinan, sehingga konsumsi rumah tangga meningkat maka akan meningkat garis kemiskinan.

Penelitian ini sejalan dengan buku Nicholls (2000) yang menyatakan konsumsi rumah tangga menggambarkan kondisi sosialnya, kesejahteraan masyarakat bisa dilihat dari segi konsumsi mereka, sehingga tinggi rendahnya kemiskinan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya konsumsi rumah tangga.

2.5.3 Hubungan Variabel Subsidi Pemerintah Terhadap Jumlah Penduduk Miskin

Belanja subsidi juga digunakan untuk penurunan angka kemiskinan. Belanja subsidi memiliki dampak negatif terhadap kemiskinan, dengan asumsi bahwa kenaikan belanja subsidi akan mengurangi angka kemiskinan Kristinawati dalam

(27)

menyebutkan bahwa “Pengelolaan energi ditujukan untuk meningkatkan akses masyarakat tidak mampu dan/atau yang tinggal di daerah terpencil terhadap energi, guna mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata (TNPK2, 2022). Kebijakan subsidi dilakukan untuk melindungi daya beli masyarakat miskin dan rentan. Subsidi ini membantu mengurangi beban belanja rumah tangga miskin, terutama dalam hal bahan bakar dan listrik (Kemenkeu Republik Indonesia, 2022).

2.6 Hasil Penelitian Terdahulu

N

o Nama Judul Metode Penelitian Hasil

1 Gapari (2021)

Pengaruh kenaikan harga beras,terhadap kesejahteraan petani di desa sukaraja

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan Wawancara, Observasi dan Dokumentasi

hasil yang diperoleh,61,3% atau 46 petani sebelum adanya kenaikan harga beras keadaan perekonomiannya cukup, tetapi ketika terjadi kenaikan harga beras keadaan perekonomian petani beras menjadi kurang baik yaitu dengan presentase 66,6% atau 50 orang. Kedua, adanya kenaikan harga beras, juga berpengaruh terhadap tingkat pendapatan petani.

Sebagian petani penggarap lahan menyatakan bahwa pendapatan mereka

2 Mayasari (2018)

Analisis pola konsumsi pangan rumah tangga miskin di jawa timur

Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik ana lisis statistik deskriptif dan ekonometrika

Karakteristik sosial ekonomi me miliki relatif memiliki pengaruh yang signifikan dalam menentu kan pola konsumsi pangan rumah tangga miskin di Jawa Timur, di mana jenis kelamin kepala rumah tangga merupakan variabel sosio demografi yang memiliki penga ruh paling kuat dalam mempenga ruhi budget share komoditas pa ngan rumahtangga miskin.

(28)

3. Dieniah Pengaruh

Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Subsidi terhadap

Kemiskinan di Provinsi Sumatera Utara

Metode analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda.

Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa belanja bantuan sosial memiliki pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap kemiskinan, sedangkan Belanja subsidi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan.

kebijakan belanja pemerintah dalam bentuk subsidi dan

bantuan sosial masih

memerlukan evaluasi untuk meningkatkan efektivitasnya dalam menurunkan kemiskinan.

4.

5.

Handayani (2023)

Pengaruh Pendapatan Jumlah Anggota Keluarga dan Pendidikan Terhadap Konsumsi Rumah Tangga di Kabupaten Bayuwangi

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif

Secara parsial, variabel pendapatan dan jumlah anggota keluarga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga miskin di Kabupaten Banyuwangi, dan variabel pendidikan tidak

berpengaruh terhadap

pengeluaran konsumsi rumah tangga miskin di Kabupaten Banyuwangi.

5. Maipita Indra (2016

Analisis Dampak Perubahan Harga Beras Terhdap Tingkat Kemiskinan di Indonesia

Data yang digunakan dalam penelitian ini sebagian besar

merupakan data sekunder, terdiri dari data

Susenas, Tabel I-O, dan data indikator makroekonomi, yang bersumber dari Badan

Hasil regresi menunjukkan bahwa perubahan produksi beras di Indonesia tidak mampu mempengaruhi perubahan harga beras domestik. Hal ini disebabkan panen raya (padi)

tidak seara langsung

mempengaruhi jumlah stok beras di pasaran. Meskipun dari hasil regresi diperoleh bahwa ketika roduksi beras naik satu persen, akan tmengakibatkan penurunan harga beras sebesar 0,98 persen, namun secara statistik hal ini

(29)

Subsidi Pemerintah (X3)

Penduduk Miskin (Y)

Indonesia, Bank Indonesia dan sumber lain yang relevan.

tidak signifikan pada taraf alpha sebesar 10 persen.

2.7 Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran adalah model konseptual yang digunakan dalam penelitian untuk menjelaskan hubungan antara berbagai variabel yang diteliti.

Pola penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Harga Komoditas Beras (X1)

Pengeluaran Rumah Tangga (X2)

(+) (+) (-)

(30)

2.8 Hipotesis Sementara

Hipotesis adalah dugaan sementara masalah penelitian sebagai titik awal pengujian dan analisis lebih lanjut. Berdasarkan kerangka pemikiran, hipotesis penelitian disusun sebagai berikut:

1. Harga Komoditas Beras berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023.

2. Pengeluaran Rumah Tangga berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023.

3. Subsidi Pemerintah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023.

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini dilakukan di Indonesia, dengan tujuan untuk melihat bagaimana pengaruh harga komoditas pangan, pengeluaran rumah tangga dan subsidi pemerintah terhadap jumlah penduduk miskinan di Indonesia

3.2 Jenis dan Sumber Data

(31)

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder tahun 2010- 2023 berdasarkan runtut waktu (time series), yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS).

3.3 Model Analisis Data

Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linear berganda sebagai metode utama untuk memodelkan hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Analisis ini akan dilengkapi dengan berbagai uji statistik untuk menguji signifikansi model dan kontribusi masing-masing variabel independen.

3.4 Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis regresi linear berganda menganalisis hubungan antara dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen secara linear. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen bersifat positif atau negatif. Untuk melakukan pengujian analisis regresi berganda, akan diolah menggunakan Eviews 12.

Adapun persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

Y = β0 + β1Χ1 + β2Χ2 + β3Χ3 + εi: I = 1, 2, 3, …, n., Dimana:

Y = Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia (Ribu Jiwa) X1 = Harga Komoditas Pangan (Ribu Rupiah / Kg) X2 =Pengeluaran Rumah Tangga (Juta Rupiah) X3 = Subsidi Pemerintah (Miliar Rupiah)

(32)

β0 = Konstanta

β1, β2, β3, = Koefisien Regresi

εi = galat (Error Term)

3.5 Pengujian Hipotesis

3.5.1 Uji Secara Individu (Uji – t)

Uji t adalah alat statistik yang digunakan untuk mengetahui apakah suatu variabel (variabel independen) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel lain (variabel dependen) (Suliyanto, 2011). Pengujian uji t dengan signifikansi 0,05 atau α = 5%.

1. Harga Komoditas Beras (X1)

H0: β1 = Harga Komoditas Beras tidak berpengaruh terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023.

H1: β2 > 0 artinya Harga Komoditas Beras berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023.

2. Pengeluaran Rumah Tangga (X2)

H0: β2 = Pengeluaran Rumah Tangga tidak berpengaruh terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023

H1: β2 > 0 artinya PengeluaranRumah Tangga berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023.

3. Subsidi Pemerintah (X3)

H0: β3 = Subsidi Pemerintah tidak berpengaruh terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia 2010-2023.

(33)

H1: β3 < 0 artinya Subsidi Pemerintah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010-2023.

Pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen dapat dihitung dengan menggunakan koefisien regresi. Untuk melakukan uji t, nilai probabilitas harus dibandingkan dengan taraf signifikannya. Pengujian hasil regresi dilakukan dengan uji t pada 95% atau α = 50% dengan ketentuan:

a. Jika nilai probabiliti t-statistik < 0,05% maka H0 ditolak dan H1 diterima b. Jika nilai probabiliti t-statistik > 0,05% maka H0 diterima dan H1 ditolak.

3.5.2 Uji Secara Simultan (Uji F)

Uji F digunakan untuk menguji pengaruh semua variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama-sama, apakah model regresi yang digunakan masuk dalam kriteria cocok atau tidak (Suliyanto, 2011). Pengujian uji F dilakukan sebagai berikut:

a. Menentukan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (H1)

H0: β1 = β2 = β3 = 0 artinya variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

H1: β1 tidak semua nol, i = 1, 2, 3, artinya variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

b. Mencari nilai F hitung atau nilai kritis F statistik dari tabel F. Nilai kritis f berdasarkan α dan df untuk numerator (k-1) dan df untuk denomerator (n-k).

Formula untuk mencari fhitung adalah:

Fhitung

Dimana:

(34)

JKR = Jumlah Kuadrat Regresi JKG = Jumlah Kuadrat galat k = Banyak Koefisien Regresi n = Banyak Sampel

Pengujian simultan menggunakan tingkat kepercayaan 5% dengan dasar keputusan sebagai berikut:

a. Jika Probabilitas > 0,05 atau Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak dan H1 diterima b. Jika Probabilitas < 0,05 atau Fhitung < Ftabel maka H0 diterima dan H1 ditolak

3.6 Koefisien Determinan (R

2

)

Dalam model regresi terdapat sebuah pengukuran yang disebut dengan Koefisien determinasi yang dinotasikan dengan R2. Secara statistik, R2 ini dapat menunjukkan seberapa baik regresi yang dibuat atau dengan kata lain seberapa dekat garis regresi yang dibuat dengan data aktualnya. Sementara itu secara substansi, R2 ini dapat menunjukkan sejauh manakah permasalahan yang dapat diselesaikan dengan mengintervensi variabel bebas.

Nilai R2 berkisar antara nol sampai satu atau 0%-100%. Jika R2 bernilai 100%, maka secara statistik dapat dinyatakan bahwa semua titik-titik data aktual tepat berada di garis regresi. Adapun secara substansi dapat dinyatakan

bahwa permasalahan dapat diselesaikan secara tuntas jika mengintervensi variabel bebas yang digunakan.

Formulasi matematis penghitungan R2 adalah:

R2 = 𝑆𝑆𝑅 = ∑(Ŷ𝑖 − Ῡ)² 𝑆𝑆𝑇 ∑( 𝛾𝑖 − Ῡ)²

(35)

dimana:

Ŷi: nilai Y prediksi Ῡi: rata-rata nilai Y Yi: nilai Y

Perhitungan secara manual tidak akan dibicarakan pada bagian ini, karena penghitungan akan dilakukan menggunakan Eviews.

3

.7 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik 3.7.1 Uji Multikolinearitas

(Firdaus

, 2019) menyatakan bahwa:

Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik multikolinearitas, yaitu adanya hubungan linear antarvariabel independen dalam model regresi. Dalam pembahasan ini akan dilakukan uji multikolinearitas dengan melihat nilai inflation factor (VIF) pada model regresi dan membandingkan nilai koefisien determinasi individual (r) dengan nilai determinasi secara serentak (R²).

Nilai VIF dan tolerance merupakan indikasi kuat yang sering dipakai oleh para peneliti untuk menyimpulkan fenomena terjadinya multikolinearitas. Apabila nilai VIF > 10 dan atau nilai tolerance lebih dari 0,01 maka terjadi multikolinieritas. Sebaliknya, jika VIF < 10 dan atau nilai tolerance kurang dari 0,01 maka tidak terjadi multikolinearitas. Jadi, nilai VIF dan tolerance sejalan (Firdaus, 2019: 237)

3.7.2 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui apakah ada korelasi antara tahun t dengan tahun t-1 atau korelasi antara sejumlah data observasi yang diuraikan menurut waktu (Suliyanto, 2011). Ada beberapa cara untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi sebagai berikut:

1. Uji Durbin Watson (Uji D-W)

(36)

Uji Durbin-Watson digunakan untuk autokorelasi tingkat satu dengan beberapa asumsi yang harus dipenuhi yaitu: (1) adanya konstanta dalam model regresi, (2) model regresi tidak ada lag dari variabel independen (Suliyanto, 2011).

Tabel 3.1 Kriteria Pengujian Autokorelasi dengan Uji D-W

DW Kesimpulan

<dL Ada Autokorelasi (+)

dL s.d. dU Tanpa Kesimpulan

dU s.d. 4 – dU Tidak ada Autokorelasi 4 – dU s.d. 4 – dL Tanpa Kesimpulan

> 4 – dL Ada Autokorelasi (-)

2. Uji Run

Uji Run merupakan salah satu analisis non-parametrik yang dapat digunakan untuk menguji apakah antar galat terdapat korelasi yang tinggi.

Jika tidak terdapat korelasi antara galat, maka nilai galat dianggap acak atau random. Uji Run digunakan untuk melihat apakah data residual muncul secara random atau tidak.

Metode yang digunakan dalam uji Run sebagai berikut (Suliyanto, 2011):

H0: Galat (res_1) acak (random) H1: Galat (res-1) tidak acak

3.8 Definisi Operasional

(37)

Definisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Jumlah Penduduk Miskin (Y)

Jumlah penduduk miskin adalah jumlah penduduk di Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, yang diukur berdasarkan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, sandang, dan papan.

Data yang digunakan adalah data jumlah penduduk miskin di Indonesia yang dinyatakan dalam Ribu Jiwa pertahun.

2. Harga Komoditas Beras (X1)

Harga Komoditas Beras adalah nilai tukar yang diberikan untuk membeli atau menjual beras dalam suatu periode dan tempat tertentu, dinyatakan dalam Ribu Rupiah / Kg.

3. Pengeluaran Rumah Tangga (X2)

Pengeluaran Rumah Tangga adalah jumlah uang yang dikeluarkan oleh rumah tangga di Indonesia untuk membeli barang dan jasa dalam jangka waktu tertentu Dalam satuan Juta Rupiah.

4. Subsidi Pemerintah (X3)

Subsidi Pemerintah adalah bantuan keuangan yang diberikan oleh pemerintah kepada individu, rumah tangga, atau perusahaan untuk mengurangi biaya produksi atau konsumsi barang dan jasa. Dihitung dalam satuan Miliar Rupiah.

(38)

DAFTAR PUSTAKA

Afriyal (2022) Analisis Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Di Kota Banda Aceh

Ardina, T. (2024). Analisis Pengaruh Jumlah Penduduk, IPM dan Tingkat Pengangguran Terbuka Terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi Jawa Timur. ECONOMIE, 06(1), 60–73. https://journal.uwks.ac.id/index.php/

economie/article/download/3582/1787

Ariyanti, F. (2023). Pengaruh rasio profitabilitas dan rasio solvabilitas terhadap harga saham dengan inflasi sebagai variabel moderasi pada sektor barang dan konsumsi di periode 2017–2021 (Skripsi, Universitas Putra Indonesia

"YPTK" Padang).

B2P3KS Press. B2P3KS Press.

Darmawan, I. G. N. G. A. I. (2022). Pengaruh Tingkat Pengangguran, Konsumsi Rumah Tangga, dan Tenaga Kerja terhadap Kemiskinan di Indonesia. E- Journal EP Unud, 10(12), 4893–4921.

Deski, S. W., Sartiyah, S., & Seftarita, C. (2022). Investigating the Effect of Rice Commodity Price Volatility on Provincial Capital Poverty: An Evidence from Indonesia. International Journal of Global Optimization and Its

(39)

Dieniah Pengaruh Belanja Bantuan Sosial dan Belanja Subsidi terhadap Kemiskinan di Provinsi Sumatera Utara Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Volume. 3, Nomor. 1, Tahun 2025

Fahmi Medias (2018). Ekonomi Makro Islam. Magelang: Unimma Press.

Firdaus, M. (2019). Ekonometrika Suatu Pendekatan Aplikatif. Edisi 3. Jakarta:

Bumi Aksara, 236-237.

Gapari (2021) Pengaruh Kenaikan Harga Beras Terhadap Kesejahteraan Petani Di Desa Sukaraja Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 1, April 2021; 14-26 https://ejournal.stitpn.ac.id/ index.php/pensa

Hafizah Dian, (2019) Analisis Damfak Kebijakan Beras Sejahtera dan Kebijakan Program Bantuan Non Tunai Terhadap Titik Ekuilibrium Rumah Tangga Mskin Di Indonesia Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (JEPA) Handayani (2023) Pengaruh Pendapatan Jumlah Anggota Keluarga dan

Pendidikan Terhadap Konsumsi Rumah Tangga di Kabupaten Bayuwangi, Volume 12, No.1, Juni 2023

Harahap, T. L. A. (2020). Analisis Pengaruh Jumlah Penduduk, PDRB, IPM, Dan Tingkat Pengangguran Terbuka Terhadap Tingkat Kemiskinan Di Provinsi Hermawati, I., & Dkk. (2015). Pengkajian Konsep Dan Indikator Kemiskinan. In Hidayat, Wahyu. (2017) Perencanaan Pembangunan Daerah. Malang: UMM Press Idri. (2017). Hadis Ekonomi. Jakarta: Kencana

Kadji, Y. (2004). Kemiskinan Dan Konsep Teoritisnya. Fakultas Ekonomi Dan Bisnis UNG. https://repository.ung.ac.id

Komalasari, P., 2015. Keynes and The Classical Economists "The Early Debate on Policy Activism". [Online]

Maipita, I. 2014. Mengukur Kemiskinan dan Distribusi Pendapatan. Yogyakarta:

UPP STIM YKPN

Mayasari (2018) Analisis Pola Konsumsi Pangan Rumah Tangga Miskin di Jawa Timur JIEP-Vol. 18, No 1, Maret 2018

Medias Fahmi. (2018). Ekonoi Makro Islam. Magelang: Unimma Press.

Misdawita, & Sari, A. A. P. (2013). Analisis Dampak Pengeluaran

Misdawita, & Sari, A. A. P. (2013). Analisis Dampak Pengeluaran Pemerintah Di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Dan Pengeluaran Subsidi Terhadap

Kemiskinan Di Indonesia. Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, 4, 147–161.

Mohammad, F. (2019). ekonometrika suatu pendekatan aplikatif. (ptbuumi Aksara (ed.); edisi 3). bumi aksara.

Pinontoan, M. (2020). Konsep Dasar Kemiskinan dan Strategi Pemberdayaan Masyarakat. In PT Nasya Expanding Management. PT Nasya Expanding Management.

Pinontoan, M. (2020). Konsep Dasar Kemiskinan dan Strategi Pemberdayaan Masyarakat. In PT Nasya Expanding Management. PT Nasya Expanding Management. http://repository.unima.ac.id

Purba, E. F., Tobing, J. L., & Hutabarat, D. E. (2012). Ekonomi Indonesia (Kedua). Universitas HKBP Nommensen.

Putera, R. A. (2018). Analisis Pengaruh PDRB, Tingkat Pengangguran, dan IPM Terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah. Skripsi UNDIP. http://eprints.undip.ac.id/62025/1/07_PUTERA.pdf

(40)

Putong, Sloan. (2015). Ilmu Mikro Ekonomi. Edisi 17. Jakarta: PT. Media Global Edukasi.

Rosalyne, S. S., Hidayah, S. B., Khoiroh, A. Z., & Wijaya, C. R. (2023). Pengaruh Inflasi, PDRB, Dan Konsumsi Rumah Tangga Terhadap Tingkat Kemiskinan Di Indonesia Periode 2019-2022. SANTRI : Jurnal Ekonomi Dan Keuangan Islam, 2(1 SE-Articles), 34–48.

https://journal.areai.or.id/index.php/SANTRI/article/view/193

Rosalyne, S. S., Hidayah, S. B., Khoiroh, A. Z., & Wijaya, C. R. (2023). Pengaruh Inflasi, PDRB, Dan Konsumsi Rumah Tangga Terhadap Tingkat Kemiskinan Di Indonesia Periode 2019-2022. SANTRI : Jurnal Ekonomi Dan Keuangan Islam, 2(1 SE-Articles), 34–48.

Simbolon, R., Rotinsulu, T. O., & Sumual, J. I. (2024). Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto, Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan Manusia, Dan Tingkat Pengangguran Terbuka Terhadap Tingkat Kemiskinan Di Kabupaten Tapanuli Utara. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, 24(4), 16–28. https://ejournal.unsrat.ac.id

Siregar Kasih (2018) Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Impor Beras Di Indonesia

Suedoyono. (2019). Ekonomi. Jakarta: Salemba Empat.

Suliyanto. (2011). EKONOMETRIKA TERAPAN: Teori & Aplikasi dengan SPSS.

ANDI OFFSET.

Suripto, S., & Subayil, L. (2020). Pengaruh tingkat pendidkan, pengangguran pertumbuhan ekonomi dan indeks pembangunan manusia terhadap kemiskinan di Yogyakarta priode 2010-2017. GROWTH Jurnal Ilmiah Ekonomi Pembangunan, 1(2), 127-143

Todaro, M. P., & Smith, S. C. (2006). Pembangunan Ekonomi (Edisi 1). Erlangga.

Yani Salmi, 2025 Program Studi ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Dan Biasnis Islam Universitas Islam Negri Ar-Ranry Banda Aceh

Gambar

Gambar 1.1 Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Tahun 2010-2023
Gambar 1.2 Harga Komoditas Beras di Indonesia
Gambar 1.3 Pengeluaran Rumah Tangga di Indonesia tahun 2010-2023
Gambar 1.3 Subsidi Pemerintah di Indonesia Tahun 2010-2023
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel makro ekonomi yaitu jumlah uang beredar, inflasi, BI rate serta harga komoditas yaitu harga minyak

Komoditas pangan yang mendapat perhatian khusus adalah beras, dengan alasan : (1) lebih 50 persen sumber kalori dikonsumsi rata-rata penduduk Indonesia berasal dari beras,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh harga komoditas pangan terhadap inflasi dengan studi kasus harga komoditas bawang merah dan cabe rawit di

Menganalisis pengaruh variabel harga komoditas pelengkap (harga cabai merah dan harga bawang merah) terhadap variabel harga beras di Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun

Jika dilihat dari hasil uji variance decomposition pada variabel harga bawang putih dapat dilihat bahwa saat harga bawang putih mengalami guncangan atau shock ,

Pengambilan data primer dilakukan untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai dampak gejolak harga komoditas pangan internasional, tingkat produktivitas, serta penggunaan

Hasil dari pengujian kausalitas granger ialah terdapat hubungan kausalitas pada variabel cabai rawit dengan inflasi umum, akan tetapi pada variabel harga pangan lain yaitu beras dan

Hasil dari pengujian kausalitas granger ialah terdapat hubungan kausalitas pada variabel cabai rawit dengan inflasi umum, akan tetapi pada variabel harga pangan lain yaitu beras dan