• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma."

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

i

BASED BANK RATING

OLEH:

TRI UTARI 20131111103

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Sebagian Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

Program Studi Manajemen

STIE INDONESIA BANKING SCHOOL JAKARTA

Jl. Kemang Raya No. 35, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12730

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(2)

ii

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(3)

iii

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(4)

iv

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(5)
(6)

vi

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur penulis panjatkan atas rahmat dan karunia Allah SWT sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul β€œAnalisis Perbandingan Kinerja Keuangan Bank Konglomerasi dan Non Bank Konglomerasi Periode 2012-2016 dengan Menggunakan Metode Risk-Based Bank Rating” dengan tepat waktu. Penulisan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk mencapai gelar Sarjana (S1) Ekonomi di STIE Indonesia Banking School.

Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ketua STIE Indonesia Banking School Bapak Dr. Subarjo Joyosumarto.

2. Wakil Ketua I Bidang Akademik Bapak Dr. Sparta, Ak., M.E., CA 3. Wakil Ketua II Bidang Administrasi dan Umum Bapak Khairil

Anwar, S.E., M.S.M.

4. Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan Bapak Ir. Mahirsah Emil Akbar, MBA.

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(7)

vii

6. Bapak Hartri dan Ibu Ossi Ferli selaku dosen penguji, atas kritik dan saran yang diberikan terhadap penelitian ini.

7. Seluruh dosen STIE Indonesia Banking School atas ilmu yang diberikan selama ini.

8. Seluruh jajaran staff STIE Indonesia Banking School.

9. Kedua orang tua penulis, Bapak Handi Rumandi dan Ibu Juriati.

Terimakasih atas segala doa dan dukungan yang tidak ada henti- hentinya baik secara materil dan nonmaterial dari dulu hingga nanti.

10. Keluarga penulis, Alm atuk Hasan Basri, Mama Ratih, Om budi, om Bobby, Bang Ai, Bang Okky, Bang Gilang, Kaiin, Edo, Tasya, dan Tania atas segala do’a, dukungan, kasih sayang, dan motivasi yang begitu besar.

11. Teman-teman terbaik penulis, Deane, Yunita Tri, Farah, Astrid, Amanda, Destia, Sak anti, Pamela, dan Rania yang telah menjadi teman terbaik semasa perkuliahan, selalu meluangkan waktu untuk berbagi dalam suka maupun duka.

12. Teman-teman seperjuangan dan sepermainan di manajemen keuangan, Andri, Aryo, Citra, Deya, Gia, Gina, Faiz, Ihsan, Intan, Niken, Nurul, Kinan, Laras dan Ruth yang selalu pusing bareng ketika mau ujian.

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(8)

viii

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(9)

ix

HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI KOMPREHENSIF ... iii

LEMBAR PERNYATAAN KARYA SENDIRI ... iv

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

ABSTRAK... xiii

ABSTRACT ... xiv

BAB I ... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 9

1.3. Pembatasan Masalah ... 10

1.4. Tujuan Penelitian ... 11

1.5. Manfaat Penelitian ... 12

1.6. Sistematika Penulisan Penelitian ... 12

BAB II ... 14

2.1. Landasan Teori ... 14

2.1.1. Definisi Perbankan ... 14

2.1.2. Fungsi Perbankan ... 16

2.1.3. Konglomerasi Keuangan ... 18

2.1.4. Kesehatan Bank ... 20

2.1.5. Risiko Perbankan ... 21

2.2. Kinerja Keuangan ... 22

2.2.1. Profil Risiko ... 23

2.2.2. Corporate Governance ... 26

2.2.3. Rentabilitas ... 29

2.2.4. Capital ... 30

2.3. Penelitian Terdahulu ... 31

2.4. Kerangka Pemikiran ... 34

2.5. Pengembangan Hipotesis ... 35

2.5.1. Profil Risiko dan Kinerja Keuangan ... 35

2.5.2. Corporate Governance dan Kinerja Keuangan ... 37

2.5.3. Rentabilitas dan Kinerja Keuangan ... 38

2.5.4. Capital dan Kinerja Keuangan ... 39

BAB III ... 40

3.1. Objek Penelitian ... 40

3.1.1. Jenis dan Sumber Data ... 41

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(10)

x

3.1.2. Metode Pengambilan Sampel ... 41

3.2. Variabel dan Operasional Variabel ... 43

3.3. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 47

3.3.1. Statistik Deskriptif ... 47

3.3.2. Uji Normalitas ... 48

3.4. Teknik Pengujian Hipotesis ... 48

3.4.1. Uji Beda Independen ... 48

3.4.2. Uji Mann – Whitney ... 50

BAB IV ... 50

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 50

4.2 Analisis dan Pembahasan Hasil Penelitian ... 51

4.2.1. Statistik Deskriptif ... 51

4.2.2. Uji Normalitas ... 57

4.2.3. Pengujian Hipotesis ... 59

4.3. Analisis Hasil Penelitian ... 61

4.3.1 Perbedaan Kinerja Keuangan ... 61

4.4. Implikasi Manajerial ... 66

BAB V ... 70

5.1 Kesimpulan ... 70

5.2. Keterbatasan Dan Saran Penelitian Selanjutnya... 71

DAFTAR PUSTAKA ... 73

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penilaian Sendiri (self assessment) ...28

Tabel 2.2 Peringkat Komposit...29

Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu ...32

Tabel 3.1 Daftar Bank Konglomerasi ...43

Tabel 4.1 Pemilihan Sampel ...47

Tabel 4.2 Statistik Deskriptif Kinerja Keuangan ...51

Tabel 4.3 Hasil Test Uji Normalitas Kinerja Keuangan ...52

Tabel 4.4 Hasil Uji Mann-Whitney Kinerja Keuangan ...59

Tabel 4.5 Ringkasan Hasil Penelitian ...60

Tabel 4.6 Keuntungan dan Kelemahan Bank Konglomerasi ...67

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ...35

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(13)

xiii Indonesia Banking School konglomerasi dan non bank konglomerasi periode 2012-2016 dengan menggunakan

metode Risk Based Bank Rating. Penelitian ini diukur dengan menggunakan indikator NPL, LDR, GCG, ROA, NIM, dan CAR. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling dan sampel dari penelitian ini adalah 60 bank yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan. Data diperoleh dari data sekunder laporan tahunan perbankan pada tahun 2012-2016. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Mann-Whitney. Hasil Penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan kinerja keuangan yang diukur dengan GCG, NIM dan CAR pada bank konglomerasi dan non bank konglomerasi. Sedangkan tidak terdapat perbedaan kinerja keuangan yang diukur dengan NPL, LDR, dan ROA.

Kata kunci: Bank Konglomerasi, Non Bank Konglomerasi, Kinerja keuangan, NPL, LDR, GCG, ROA, NIM, dan CAR.

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(14)

xiv Indonesia Banking School ABSTRACT

This study purpose to determine differences in finance performance of Conglomeration Bank and Non Conglomeration Bank the period 2012-2016 by using Risk Based Bank Rating Methods. Financial performance indicators measured by NPL, LDR, GCG, ROA, NIM, and CAR. Sampling determine by using purposive sampling method which list in Financial Services Authority of Indonesia, it consists 60 banks. Data obtained as secondary data on annual report for bank year 2012-2016. Mann-Whitney test as a analysis technique in this research. The result of this research show that there was difference in financial performance measured by GCG, NIM, and CAR. However, there was no difference in financial performance measured by NPL, LDR, and ROA.

Keywords: Conglomeration Bank, Non Conglomeration Bank, Financial Performance, NPL, LDR, GCG, ROA, NIM, and CAR

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(15)

1 Indonesia Banking School 1.1. Latar Belakang Masalah

Perbankan merupakan salah satu lembaga keuangan yang memiliki peran penting yang sangat mempengaruhi perekonomian di Indonesia baik secara mikro maupun makro (Sudiyatno, 2010). Hal tersebut dikarenakan perbankan merupakan salah satu sistem keuangan yang berfungsi sebagai financial intermediary yaitu yang mempunyai peran untuk mempertemukan antara pemilik dana dengan pengguna dana, sehingga kegiatan bank harus berjalan secara efisien pada skala makro maupun mikro (Setyaningsih dan Utami, 2013). Untuk dapat menjalankan perannya sebagai perantara keuangan, kepercayaan masyarakat merupakan salah satu faktor bagi perbankan untuk dapat menjalankan bisnis perbankan dengan baik.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, masyarakat sudah banyak sekali mendapatkan penawaran yang dilakukan oleh beberapa lembaga jasa keuangan baik melalui telepon, media sosial, hingga keinginan untuk bertemu langsung dengan calon pelanggan untuk dapat mempromosikan produknya. Tawaran berbagai produk perbankan yang relatif cukup agresif tersebut cukup positif, karena masyarakat yang awalnya tidak mengetahui tentang berbagai produk tersebut menjadi tahu dan memikir kemana dana mereka akan di investasikan (beritasatu.com). Produk-produk yang ditawarkan kepada masyarakat inilah yang merupakan hasil dari bisnis konglomerasi keuangan. Sesuai dengan POJK No.

18/POJK.03/2014 Pasal 2 bahwa Konglomerasi Keuangan wajib menerapkan Tata

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(16)

2

Indonesia Banking School Kelola Terintegrasi secara komprehensif dan efektif sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan. Menurut Alamsyah dalam Infobank (2013), Konglomerasi keuangan adalah suatu kelompok usaha yang dalam hal ini parent company dapat berupa bank atau lembaga keuangan lainnya yang memiliki anak- anak perusahaan di bidang lembaga keuangan. Misalnya bank, perusahaan asuransi, multifinance, dan sekuritas. Dengan demikian group juga dapat dikategorikan sebagai konglomerasi keuangan. Beberapa contohnya di Indonesia adalah Panin Group, dalam hal ini Panin Bank dimiliki oleh perusahaan asuransi (Panin Life), lalu Bank Mandiri dimana saat ini telah memiliki 8 anak perusahaan antaralain seperti AXA Mandiri Financial Services, Mandiri AXA General Insurance, Bank Syariah Mandiri, Mandiri Sekuritas, Mandiri Tunas Finance, dan lain-lainnya (http://media.bursadana.co.id/). Sedangkan Non konglomerasi bank adalah bank yang hanya berfokus pada bank saja dan menjalankan unit bisnis bank saja tidak memiiliki unit bisnis lain (Hidayat, 2016).

Konglomerasi keuangan merupakan fenomena atau hal yang baru dalam sektor keuangan. Hal ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenal lebih jauh mengenai bisnis konglomerasi ini (Lubis, 2014). Menurut penjelasan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Rahmat Waluyanto, risiko yang akan timbul dengan adanya konglomerasi keuangan ini adalah apabila konglomerasi keuangan jatuh maka akan menimbulkan krisis yang besar. Misalkan ada satu bank yang jatuh, kemudian akhirnya lembaga non-bank lain akan ikut jatuh (http://economy.okezone.com/). Pemerintah membutuhkan suatu regulasi baru

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(17)

Indonesia Banking School untuk dapat melindungi masyarakat akan risiko yang timbul dari adanya konglomerasi keuangan ini.

Salah satu upaya pemerintah adalah dengan dibentuknya lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 2011. Dengan adanya OJK ini diharapkan bahwa konglomerasi jasa keuangan akan lebih baik dan terpercaya sehingga kepentingan masyarakat bisa terlindungi dengan baik. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 18/POJK.O3/2014 tentang tata kelola terintegrasi bagi Konglomerasi keuangan dirilis untuk dapat mendorong stabilitas sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan daya saing nasional.

Pada tahun 2014, Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK Nelson Tampubolon menjelaskan bahwa OJK telah mendesain sebuah pola pengawasan terhadap konglomerasi perbankan, khususnya pada bank-bank yang memiliki beberapa anak usaha di bidang keuangan (bravaradio.com/). Saat ini di Indonesia terdapat 120 perbankan dan tercatat ada sebanyak 48 konglomerasi keuangan dengan total aset menguasai 67,52% dari total seluruh aset industri jasa keuangan (http://keuangan.kontan.co.id/2017). Sehingga konglomerasi keuangan ini menjadi penting untuk diteliti.

Bank merupakan sektor yang memiliki jumlah perusahaan konglomerasi terbanyak dibandingkan sektor lainnya. Hal tersebut membuat bank memiliki kekuatan keuangan yang kuat karena tidak hanya didapatkan dari pemegang saham, namun juga dari deposan sebagai dana pihak ketiga (DPK). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan, akan melakukan pengawasan terintegrasi, menyusul jumlah industri konglomerasi bank di Indonesia yang sampai 31 industri

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(18)

4

Indonesia Banking School (http://www.antaranews.com/2014). Kepala Departemen Pengawas Perbankan OJK Agus Siregar mengatakan tercatat setidaknya 31 perusahaan konglomerasi sektor perbankan di Indonesia baik perusahaan asing maupun local (http://finansial.bisnis.com/2014).

Kosmidou (2008) menyebutkan bahwa analisis tingkat kesehatan bank memiliki tujuan yaitu untuk menganalisis kekuatan maupun kelemahan suatu bank serta mengevaluasi kinerja bank dan memprediksi kinerja bank kedepannya. Hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap meningkatnya kinerja perbankan. Penilaian kinerja bank sangat penting untuk menilai apakah bank tersebut sehat, cukup sehat, kurang sehat atau tidak sehat.

Sebagai industri yang dalam kegiatan usahanya mengandalkan kepercayaan masyarakat bank dituntut untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kinerjanya (Mewengkang, 2013). Perbankan harus memiliki kinerja yang baik, karena dengan kinerja yang baik bank akan dapat lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari para nasabah.

Sesuai dengan undang-undang BI No.13/1/PBI/2011 yang mengatakan bahwa bank wajib memelihara dan/atau meningkatkan tingkat kesehatan bank dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko dalam melaksanakan kegiatan usaha dan juga bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank secara individual dengan menggunakan pendekatan risiko (Risk- based Bank Rating), yaitu dengan melakukan penilaian terhadap Risk Profile, Good Corporate Governance, Rentability, dan Capital.

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(19)

Indonesia Banking School Manajemen risiko merupakan serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, melakukan mitigasi, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha bank. Manajemen risiko juga merupakan upaya untuk mengelola risiko agar peluang mendapatkan keuntungan dapat diwujudkan secara berkelanjutan (sustainable) karena risiko terhadap aktivitas bank sudah diperhitungkan. Penerapan manajemen risiko merupakan kecukupan dari prosedur dan metodologi pengelolaan risiko agar kegiatan usaha bank akan tetap dapat terkendali pada batas yang dapat diterima, dan juga memberikan keuntungan bagi bank sesuai denga tingkat risiko yang diterima (Otoritas Jasa Keuangan, 2016). Salah satu kebijakan yang ada sebagai pendukung industri perbankan dalam bidang manajemen risiko adalah Otoritas Jasa Keuangan.

Risk Profile merupakan penilaian terhadap risiko inheren dan kualitas penerapan manejemen risiko dalam aktivitas operasiomal bank. Mengacu pada ketentuan Bank Indonesia PBI No. 5/8/PBI/2003 dan perubahannya No.11/25/PBI/2009 tentang penerapan manajemen risiko bagi bank umum, terdapat 8 jenis risiko yang berhubungan dengan operasional perbankan seperti Risiko Kredit (Credit Risk), Risiko Pasar (Market Risk), Risiko Likuiditas (Liquidity Risk), Risiko Operasional (Operational Risk), Risiko Hukum (Legal Risk), Risiko Strategik (Strategic Risk), Risiko Kepatuhan (Compliance Risk), Risiko Reputasi (Reputation Risk).

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(20)

6

Indonesia Banking School Oleh karena keterbatasan data yang didapat, dalam penelitian ini, untuk mengukur faktor Risk Profile akan menggunakan 2 indikator, yaitu:

1. Risiko Kredit (Credit Risk) yang merupakan risiko kerugian akibat kegagalan dari pihak lawan (counterparty) untuk memenuhi kewajibannya. Risiko kredit ini mencakup risiko kredit akibat kegagalan debitur membayar kewajiban pada bank.

Risiko kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas fungsional bank, seperti aktivitas perkreditan dan aktivitas fungsional treasury , misalnya bank membeli obligasi korporasi, melakukan investasi dengan membeli surat berharga, melakukan pembiayaan perdagangan (trade finance), baik yang tercatat dalam banking book atau pun dalam trading book.

2. Risiko Likuiditas (Liquidity Risk) merupakan risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas, dan/atau dari asset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan. Rasio keuangan yang digunakan dalam menilai risiko likuiditas adalah rasio Loan to Deposit Ratio (LDR).

Penilaian GCG (Good Corporate Governance) merupakan penilaian yang digunakan oleh manajemen bank untuk menilai dan mengetahui kinerja bank secara keseluruhan (Sulistyowati,et al, 2016). Good Corporate Governance bertujuan untuk memberikan informasi keuangan perusahaan kepada pemegang saham dengan benar, akurat, dan tepat waktu yaitu dengan self-assessment yang dilakukan oleh masing-masing bank (SE BI No. 15/15/DPNP/2013).

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(21)

Indonesia Banking School Rasio rentabilitas untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu. Dalam SE BI No 13/24/DPNP, rentabilitas dapat di nilai dengan menggunakan rasio keuangan Return On Assets (ROA) dan Net Interest Margin (NIM). Return on assets adalah rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan. Return on assets merupakan perbandingan antara laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan total aktiva yang dimiliki perusahaan. Sedangkan, Net Interest Margin (NIM) merupakan kemampuan bank dalam menghasilkan pendapatan bunga bersih dengan penempatan aktiva produktif yang dimiliki perusahaan.

Capital merupakan permodalan yang dimiliki bank didasarkan kepada kewajiban penyediaan modal minimum bank. Penelitian ini akan melakukan pengukuran capital dengan menggunakan rasio Capital Adecuacy Ratio. CAR adalah rasio yang memperhitungkan seberapa jauh kecukupan modal yang dimiliki bank seluruh aktiva bank yang menghasilkan risiko. Berdasarkan SE BI No.

26/2/BPPP mengatur bahwa rasio kecukupan modal minimum atau CAR dari persentase tertentu terhadap ATMR adalah sebesar 8 % (Widyaningrum et al, 2014).

Dilihat dari pengertian Bank konglomerasi adalah lembaga jasa keuangan yang berada dalam satu group atau kelompok karena keterkaitan kepemilikan dan pengendalian yang wajib menerapkan manajemen risiko secara terintegrasi.

sedangkan yang tidak termasuk bank konglomerasi adalah bank yang tidak berada dalam satu group atau kelompok yang tidak memiliki keterkaitan kepemilikan dan

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(22)

8

Indonesia Banking School pengendalian namun juga menerapkan manajemen risiko. Dengan demikian kemungkinan terdapat perbedaan tingkat kesehatannya diantara kedua bank tersebut.

Pada penelitian terdahulu mengenai faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan bank telah banyak dilakukan. hasil penilitian yang dilakukan seperti yang dilakukan oleh Sabir et al (2012) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan Kinerja Keuangan antara Bank Umum Syariah dengan Bank Konvensional di Indonesia.

Berbeda lagi dengan penelitian yang dilakukan oleh Maharany dan Afandy (2014) bahwa kinerja keuangan dari rasio LDR, NPL, ROA, ROE, dan PDN hasilnya menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap kinerja keuangan antara bank pemerintah dan bank swasta meskipun untuk ratio NIM memiliki perbedaan yang signifikan. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Marsuki et al (2012) hasil penelitian menunjukkan bahwa jika diukur dari rasio-rasio CAR, RORA, NPM, ROA dan OR, ternyata tidak terdapat perbedaan kinerja keuangan antara bank pemerintah dan bank swasta nasional. Namun jika dilihat dari LDR dan CM Ratio, ternyata terdapat perbedaan kinerja keuangan antara bank pemerintah dan bank swasta nasional. . Dan terakhir penelitian yang dilakukan Sugari et al (2015) mendapat kan hasil penelitian bahwa tidak semua indikator kinerja memiliki perbedaan kinerja keuangan antara bank konvensional dan bank syariah, penelitian ini menghasilkan terdapat perbedaan kinerja hanya pada indikator Risk Profile dan GCG , namun untuk tingkat kesehatan, indikator earnings dan capital tidak terdapat perbedaan yang signifikan kinerja antara bank konvesional dan bank syariah.

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(23)

Indonesia Banking School Hasil dari beberapa penelitian terdahulu yang telah diuraikan di atas menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Lalu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih lanjut mengenai tingkat kinerja keuangan perbankan dengan menggunakan metode Risk-Based Bank Rating (RBBR) dalam pengaruhnya terhadap tingkat kesehatan bank. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat disimpulkan terjadinya kesenjangan atau perbedaan antara penelitian satu dengan penelitian lainnya (research gap) pada industri perbankan dengan kondisi empiris perusahaan perbankan terhadap kondisi keuangan perbankan.

Kinerja keuangan konglomerasi cukup terkenal baik di mata masyarakat karena merupakan bank yang besar juga memiliki berbagai macam produk serta terintegrasi terhadap anak perusahaannya dan juga merupakan bank Go International memberikan suatu ide untuk membandingkan perbedaan kinerja keuangan bank konglomerasi dan non konglomerasi, Oleh karna itu penulis tertarik untuk memilih penelitian dengan judul β€œAnalisis Perbandingan Kinerja Keuangan antara Bank Konglomerasi dan Non Konglomerasi Periode 2012-2016 dengan menggunakan metode Risk Based Bank Rating”.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah penulis uraikan dalam latar belakang diatas maka penulis memutuskan untuk merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apakah terdapat perbedaan Profil Risiko antara Bank Konglomerasi dan Non Konglomerasi dengan menggunakan indikator Risiko Kredit

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(24)

10

Indonesia Banking School 2. Apakah terdapat perbedaan Profil Risiko antara Bank Konglomerasi dan

Non Konglomerasi dengan menggunakan indikator Risiko Likuiditas 3. Apakah terdapat perbedaan Good Corporate Governance antara Bank

Konglomerasi dan Non Konglomerasi dengan menggunakan self assessment

4. Apakah terdapat perbedaan tingkat Rentability antara Bank Konglomerasi dan Non Konglomerasi dengan menggunakan indikator ROA

5. Apakah terdapat perbedaan tingkat Rentability antara Bank Konglomerasi dan Non Konglomerasi dengan menggunakan indikator NIM

6. Apakah terdapat perbedaan Capital antara Bank Konglomerasi dan Non Konglomerasi dengan menggunakan indikator CAR

1.3. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini penulis akan membatasi masalah yang akan dibahas sebagai berikut :

1. Peneliti fokus membahas perbedaan tingkat kesehatan antara Bank Konglomerasi dan Non Bank Konglomerasi.

2. Membandingkan kinerja keuangan antar bank dengan menggunakan pendekatan (Risk Based Bank Rating) RBBR sesuai dengan peraturan Bank Indonesia NOMOR: 13/ 1 /PBI/2011. Dengan membatasi pengukuran dengan menggunakan variabel rasio Non Performing Loan (NPL), rasio Loan to Deposit Ratio (LDR), pengukuran Good Corporate Governance (GCG) diproksikan dengan Nilai Komposit Self Assesment

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(25)

Indonesia Banking School GCG, rasio Return on Asset (ROA), dan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR).

3. Kemudian dari segi sample, penelitian ini hanya menggunakan sampel penelitian berdasarkan Bank Umum yang listing di Otoritas Jas Keuangan.

Dan kemudian juga sampel yang diteliti hanya bank yang telah melakukan listing dari tahun 2012-2016

1.4. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan diatas maka penelitian bertujuan untuk:

1. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan Profil Risiko antara Bank Konglomerasi dan Non Konglomerasi dengan menggunakan indikator Risiko Kredit

2. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan Profil Risiko antara Bank Konglomerasi dan Non Konglomerasi dengan menggunakan indikator Risiko Likuiditas

3. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan Good Corporate Governance antara Bank Konglomerasi dan Non Konglomerasi dengan menggunakan self assessment

4. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan tingkat rentability antara Bank Konglomerasi dan Non Konglomerasi dengan menggunakan indikator ROA 5. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan tingkat rentability antara Bank Konglomerasi dan Non Konglomerasi dengan menggunakan indikator NIM 6. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan Capital antara Bank Konglomerasi dan Non Konglomerasi dengan menggunakan indikator CAR

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(26)

12

Indonesia Banking School 1.5. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Bagi Penulis

Penelitian dilakukan dengan harapan dapat menambah pengetahuan bagi peneliti, khususnya mengenai penilaian terhadap kinerja keuangan perbankan

2. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bank untuk dapat meningkatkan kinerja keuangan dan menjaga kesehatan bank.

3. Bagi Investor

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi investor dalam menentukan kebijakan investasi dengan menilai perbankan yang memiliki kesehatan bank yang baik.

4. Bagi Akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru bagi akademisi mengenai penilaian terhadap kinerja perbankan.

1.6. Sistematika Penulisan Penelitian

Penulisan penelitian ini terdiri dari lima bab, dengan sistematika sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(27)

Indonesia Banking School BAB II : LANDASAN TEORI

Bab ini berisi tinjauan pustaka yang digunakan sebagai dasar untuk membahas masalah dalam penelitian ini. Bab ini juga mencakup teori-teori dan peneliti terdahulu yang mendukung perumusan hipotesis serta analisis hasil penelitian lainnya.

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini berisi tentang bagaimana penelitian ini akan dilaksanakan secara operasional. Menguraikan definisi variabel, populasi dan sampel penelitian, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data dan metode analisis.

BAB IV : ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang pengujian hipotesis dan penyajian hasil dari pengujian tersebut, serta pembahasan dengan analisis yang dikaitkan dengan teori yang berlaku.

BAB V : PENUTUPAN

Bab ini berisi kesimpulan dari hasil analisis yang dilakukan pada bab sebelumnya, keterbatasan penelitian serta saran bagi peneliti selanjutnya dengan penelitian sejenis dan juga implikasi penelitian terhadap praktik yang ada.

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(28)

14 Indonesia Banking School BAB II

LANDASAN TEORI 2.1. Landasan Teori

2.1.1. Definisi Perbankan

Pengertian bank menurut Hasibuan (2011) bahwa bank berasal dari kata Italia β€œbanca” yang artinya β€œbangku” dimana bangku tersebut dipergunakan oleh bankir untuk melayani kegiatan operasionalnya kepada para nasabah lalu istilah tersebut menjadi familiar dan populer menjadi Bank. Dalam konteks sederhana, bank dapat diartikan sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan dana tersebut kembali ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya. Adapun lembaga keuangan adalah perusajan yang melakukan penghimpunan dana, pernyaluran dana, ataupun keduanya (Kasmir, 2012).

Menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Hasibuan, menjelaskan bahwa bank adalah :

1. Badan usaha kekayaan terutama dalam bentuk aset keuangan (financial assets) dan juga bermotifkan profit serta sosial.

2. Pencipta dan juga pengedar uang kartal dan uang giral. Pencipta serta pengedar uang kartal (uang kertas dan juga logam) merupakan otoritas

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(29)

Indonesia Banking School tunggal dari bank sentral (Bank Indonesia), sedangkan uang giral dapat diciptakan dengan bank umum.

3. Pengumpul dana dan juga penyalur kredit

4. Pelaksana lalu lintas pembayaran (LLP) yaitu melakukan penyelesaian pembayaran transaksi komersial ataupun finansial dari pembayar kepada penerima.

5. Stabilisator moneter yang mempunyai suatu kewajiban yang ikut serta menstabilkan nilai tukar uang, nilai kurs, ataupun harga barang-barang relatif stabil, baik itu secara langsung ataupun dengan melalui mekanisme Giro Wajib Minimum (GWM) Bank, Operasi Pasar Terbuka, maupun kebijakan diskonto.

Berdasarkan pengertian-pengertian bank tersebut, dapat disimpulkan bahwa bank merupakan badan intermediasi yang diberikan kepercayan oleh nasabah untuk dapat menyimpan dana nya dan menyalurkan dana tersebut melalui pemberian kredit kepada nasabah yang membutuhkan serta mempermudah nasabahnya dalam bertransaksi melalui penawaran jasa bank.

2.1.2. Fungsi Perbankan

Berdasarkan Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 pengertian bank dapat disimpulkan bahwa usaha perbankan memiliki kegiatan pokok, yaitu menghimpun dana, menyalurkan dana, dan memberikan kegiatan pendukung yaitu jasa bank lainnya. Kegiatan menghimpun dana, berupa mengumpulkan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan giro, tabungan, dan

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(30)

16

Indonesia Banking School deposito. Seiring dengan memberikan balas jasa seperti memberikan bunga dan hadiah sebagai insentif bagi masyarakat agar lebih termotivasi untuk menggunakan produk bank. Kegiatan menyalurkan dana, berupa pemberian pinjaman kepada masyarakat. Sedangkan jasa-jasa perbankan lainnya diberikan untuk mendukung kelancaran kegiatan utama tersebut.

Martono (2003) membagi fungsi Bank menjadi tiga, yaitu: menerima berbagai bentuk simpanan dari masyarakat; memberikan kredit, baik bersumber dari dana yang diterima dari masyarakat maupun berdasarkan atas kemampuannya untuk menciptakan tenaga beli baru; dan memberikan jasa – jasa lalu lintas pembayaran dan peredaran uang.

Fungsi yang berkaitan dengan penerimaan simpanan dari masyarakat diartikan lebih dalam oleh Kuncoro dan Suhardjono (2012), bahwa dana masyarakat tersebut merupakan mayoritas dari seluruh dana yang dihimpun oleh Bank dan merupakan sumber dana utama yang diandalkan oleh Bank dalam kegiatan usaha sehari – hari, yaitu dalam simpanan yang terdiri dari giro, tabungan dan deposito.

Pengertian menyalurkan kembali dana yang diterima kepada masyarakat Kasmir (2000) menjelaskan lebih rinci bahwa pengertian bank yang menyalurkan kembali dana yang diterima kepada masyrakat, bahwa kegiatan penyaluran kembali dana yang diperoleh (giro, tabungan, deposito) dalam bentuk kredit atau pinjaman.

Dengan kegiatan inilah bank memperoleh keuntungan dari selisih bunga simpanan yang diberikan kepada penyimpan dengan bunga pinjaman atau kredit yang disalurkan.

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(31)

Indonesia Banking School Menurut Kuncoro dan Suhardjono (2012) bahwa fungsi Bank dalam melancarkan pembayaran transaksi perdagangan dapat terlaksana karena Bank mempunyai jasa – jasa Bank. Kasmir (2000) menambahkan, jasa – jasa Bank yang diberikan untuk mendukung kelancaran kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana, baik yang berhubungan langsung dengan kegiatan simpanan dan kredit maupun tidak langsung.

Menururt Kent Matthews dan John Thompson (2008), financial intermediation is a process that involves surplus unts depositing funds with financial instituitons that in turn lend to deficit units yang berarti bank dapat menerima dana dari berbagai sumber yang memiliki dana lebih untuk menggunakan dana tersebut sebagai pinjaman atau investasi lain baik untuk individu maupun korporasi yang membutuhkan. Menurut Deborah K. Dilley (2010), selain sebagai lembaga intermediasi bank juga mempunyai peranan sebagai berikut:

1. creating financial products and services that benefit business and consumers

2. facilitating the creation of money 3. being involved in the transfer of funds 4. reinventing the financial future

2.1.3. Konglomerasi Keuangan

Sesuai dengan surat edaran dari Otoritas Jasa Keuangan mengatakan bahwa saat ini perkembangan globalisasi, teknologi informasi, dan inovasi produk serta aktivitas, lembaga jasa keuangan telah menciptakan system keuangan yang sangat kompleks, dinamis, dan saling terkait antar masing-masing sektor jasa keuangan

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(32)

18

Indonesia Banking School baik dalam produk dan kelembagaan, maupun kepemilikan dalam suatu Konglomerasi Keuangan sehingga menyebabkan peningkatan eksposur risiko industri jasa keuangan di Indonesia, khususnya Konglomerasi Keuangan yang heterogen dan berpengaruh signifikan terhadap stabilitas system keuangan.

Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.18/POJK.03/2014 konglomerasi keuangan adalah lembaga jasa keuangan yang berada dalam satu grup atau kelompok karena keterkaitan kepemilikan dan atau pengendalian. Lembaga jasa keuangan yang dimaksud adalah bank, perusahaan asuransi dan reasuransi, perusahaan efek, dan perusahaan pembiayaan. Otoritas Jasa Keuangan mengkonfirmasi ada 3 (tiga) jenis konglomerasi keuangan yang ada di Indonesia.

Adapun jenis konglomerasi keuangan ini adalah konglomerasi keuangan yang bersifat horizontal, vertikal, dan campuran. Konglomerasi keuangan yang bersifat horizontal adalah konglomerasi keuangan yang tidak memiliki hubungan langsung antara lembaga jasa keuangan yang berada dalam kelompok tersebut, tetapi dimiliki atau dikendalikan oleh pemegang saham pengendali yang sama. Konglomerasi keuangan yang bersifat vertikal adalah konglomerasi keuangan dengan hubungan langsung perusahaan induk dan perusahaan anak secara jelas dan keduanya merupakan lembaga jasa keuangan. Konglomerasi keuangan yang bersifat campuran adalah konglomerasi keuangan yang memiliki struktur kelompok usaha yang bersifat horizontal dan vertikal.

Penelitian mengenai konglomerasi yang dilakukan oleh Nicolo, dkk (2002) yang meneliti hubungan antara konsolidasi perbankan dan konglomerasi lembaga keuangan dan dampaknya terhadap risiko mendapatkan kesimpulan bahwa

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(33)

Indonesia Banking School konglomerasi perbankan di negara berkembang akan meningkatkan risiko pendanaan karena sumber pendanaannya sangat tidak stabil, konglomerat bank memiliki risiko operasional lebih besar daripada bank-bank kecil, karena faktor risiko struktur pasar perbankan manajerial dan konservatif akan menyebabkan risiko sistematis yang lebih tinggi. Penerapan konglomerasi perbankan harus dipantau terus menerus kinerja nya agar tercipta tingkat kesehatan bank yang baik bagi bank dan pemegang saham.

2.1.4. Kesehatan Bank

Dalam konteks yang sederhana bank yang sehat adalah bank yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan masyarakat dalam menjalankan fungsi intermediasi, dapat menjaga dan memelihara lalu lintas pembayaran, serta dapat mendukung aktivitas kegiatan moneter. Dalam menjalankan fungsinya dengan baik, bank harus mempunyai modal yang cukup, menjaga kualitas asset nya dengan baik, mengelola dan mengoperasikan aktivitas bank berdasarkan prinsip kehati- hatian, menghasilkan keuntungan yang cukup untuk menjaga kelangsungan usahanya, dan memelihara likuiditas sehingga dapat memenuhi kewajibannya setiap saat.

Tingkat Kesehatan Bank adalah hasil penilaian kondisi kesehatan Bank yang dilakukan terhadap risiko dan kinerja Bank. Peringkat Komposit adalah peringkat akhir hasil penilaian Tingkat Kesehatan Bank. Sedangkan anak perusahaan adalah perusahaan yang dimiliki dan/atau dikendalikan oleh Bank baik secara langsung maupun tidak langsung, baik di dalam negeri maupun di luar

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(34)

20

Indonesia Banking School negeri, yang memenuhi kriteria sesuai dengan dimaksud dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai penerapan manajemen risiko secara konsolidasi bagi Bank yang melakukan pengendalian terhadap anak perusahaan. Pengendalian yang dimaksud adalah pengendalian yang telah diatur dalam ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai transparansi kondisi keuangan bank.

2.1.5. Risiko Perbankan

Manajemen Risiko adalah proses yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha Bank. Risiko adalah potensi kerugian sebagai akibat dari suatu peristiwa tertentu baik yang dapat diprediksi (expected) maupun yang tidak dapat diprediksi (unexpected) yang akan dapat berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan bank. Risiko yang telah diprediksi atau expected loss sudah diperhitungkan sebagai bagian dari biaya untuk menjalankan bisnis. Yang disebut risiko yang memerlukan modal untuk menutup risiko tersebut apabila kerugian yang terjadi melebihi atau menyimpang ekspetasi tersebut, yaitu risiko yang tidak dapat diprediksi atau unexpected loss. Risiko juga dianggap sebagai kendala/penghambat pencapaian suatu tujuan. Terdapat 8 jenis Risiko Perbankan, yaitu:

a. Risiko Kredit adalah Risiko akibat kegagalan pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Bank, termasuk Risiko Kredit akibat kegagalan debitur, Risiko konsentrasi kredit, counterparty credit risk, dan settlement risk.

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(35)

Indonesia Banking School b. Risiko Pasar adalah Risiko pada posisi neraca dan rekening administratif, termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk Risiko perubahan harga option

c. Risiko Likuiditas adalah Risiko akibat ketidakmampuan Bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Bank.

d. Risiko Operasional adalah Risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Bank

e. Risiko Kepatuhan adalah Risiko akibat Bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan

f. Risiko Hukum adalah Risiko akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis.

g. Risiko Reputasi adalah Risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan pemangku kepentingan (stakeholder) yang bersumber dari persepsi negatif terhadap Bank

h. Risiko Stratejik adalah Risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.

2.2. Kinerja Keuangan

Kinerja merupakan cerminan dari kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya (Febryani & Zulfadin, 2003). Penilaian

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(36)

22

Indonesia Banking School kinerja perusahaan oleh manajemen perusahaan dapat diartikan sebagai penilaian terhadap prestasi yang dapat dicapai. Dalam hal ini laba dapat digunakan sebagai ukuran dari prestasi yang dicapai dalam suatu perusahaan. Penilaian kinerja perusahaan dilakukan, baik oleh manajemen, pemegang saham, pemerintah, maupun pihak lain yang berkepentingan dan terkait dengan distribusi kesejahteraan di antara mereka, tidak terkecuali perbankan (Merkusiwati, 2007).

Dalam peraturan Bank Indonesia NO.13/ 1 /PBI/2011 tentang Bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan dengan menggunakan pendekatan risiko (Risk-based Bank Rating) baik secara individual maupun secara konsolidasi, dengan cakupan penilaian terhadap faktor-faktor seperti, profil risiko (risk profile), good corporate governance (gcg), rentabilitas (earnings), dan permodalan (capital). Penilaian terhadap faktor profil risiko merupakan penilaian terhadap risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam operasional Bank yang dilakukan. Penilaian terhadap faktor GCG merupakan penilaian terhadap manajemen Bank atas pelaksanaan prinsip-prinsip GCG. Penilaian terhadap faktor rentabilitas (earnings) meliputi penilaian terhadap kinerja earnings, sumber-sumber earnings, dan sustainability earnings Bank. Penilaian terhadap faktor permodalan (capital) meliputi penilaian terhadap tingkat kecukupan permodalan dan pengelolaan permodalan

2.2.1. Profil Risiko

Pada peraturan Bank Indonesia No.13/1/PBI/2011 Pasal 7 ayat 1 yaitu tentang penilaian terhadap faktor profil risiko dimana penilaian terhadap risiko

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(37)

Indonesia Banking School inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam operasional Bank yang dilakukan terhadap 8 (delapan) risiko yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan, risiko reputasi. Oleh karena keterbatasan data, pada penelitian ini akan mengukur faktor Risk Profile dengan menggunakan 2 indikator yaitu faktor risiko kredit dengan menggunakan rumus Non Performing Loan (NPL), dan risiko likuiditas dengan menggunakan rumus Loan to Deposit Ratio (LDR). Alasannya karena kedua indikator yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan (Margaretha dan Zai,2013).

a) Risiko Kredit

Risiko kredit adalah risiko yang dihadapi bank dari kegiatan penyaluran dana dalam bentuk pinjaman kepada masyarakat yang disebabkan karena berbagai hal seperti kredit bermasalah dimana debitur yang tidak dapat memenuhi untuk membayar kewajibannya kepada bank, tidak mampu melakukan pembayaran bunga dan lain-lain. Tidak terpenuhinya kewajiban tersebut dapat menyebabkan bank mengalami kerugian karena akan timbul kredit bermasalah dan kredit macet, serta dapat mengurangi PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif), modal bank, dan juga mengurangi pendapatan bank. Bank dapat menggunakan rasio Non Performing Loan (NPL) sebagai indikator yang dapat memprediksi kinerja kuangan bank. NPL adalah rasio yang dapat menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah dari keseluruhan kredit yang diberikan oleh bank yang kolektibilitasnya kurang lancar, diragukan dan macet dari total kredit yang diberikan secara keseluruhan (Jumingan, 2011). Alasan saya

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(38)

24

Indonesia Banking School menggunakan rasio NPL karena dengan menggunakan rasio NPL kita dapat mengetahui berapa besar risiko kredit yang ada pada usaha bisnis diperbankan.

Rasio NPL dapat dihitung dengan menggunakan rasio:

𝑁𝑃𝐿 =Kredit Bermasalah

Total Kredit π‘₯100%

b) Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendek maupun kewajiban yang sudah jatuh tempo.

Bank akan dianggap likuid jika bank memiliki cukup uang cash atau aset likuid lainnya, memiliki kemampuan meningkatkan dana secara cepat dari sumber lainnya, dan memiliki penyangga likuiditas yang memadai untuk memungkinkan bank tersebut dapat memenuhi kewajiban pembayaran dan kebutuhan uang tunai secara accidently atau mendadak (Darmawi, 2012). Indikator yang digunakan untuk mengukur risiko likuiditas dengan menggunakan pengukuran Loan to Deposit Ratio (LDR). Tujuan perhitungan Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah untuk mengetahui serta menilai sampai seberapa jauh suatu bank memiliki kondisi sehat dalam menjalankan kegiatan operasinya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa LDR sebagai suatu indikator untuk mengetahui tingkat kerawanan suatu bank. LDR menggambarkan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana oleh masyarakat dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Semakin tinggi LDR menunjukkan bahwa semakin rendah likuiditas bank karena jumlah dana masyarakat yang dialokasikan ke kredit terlalu besar dan

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(39)

Indonesia Banking School laba bank juga akan meningkat. Dan juga dengan menggunakanl LDR dapat membandingkan besar kredit yang diberikan dengan dana yang diperoleh oleh nasabah. LDR dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

𝐿𝐷𝑅 = π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ πΎπ‘Ÿπ‘’π‘‘π‘–π‘‘

π·π‘Žπ‘›π‘Ž π‘ƒπ‘–β„Žπ‘Žπ‘˜ πΎπ‘’π‘‘π‘–π‘”π‘Žπ‘₯100%

2.2.2. Corporate Governance

Peraturan Bank Indonesia nomor 13/1/PBI/2011 mengatur tentang penilaian kesehatan bank umum di Indonesia. Bank umum diwajibkan oleh Bank Indonesia untuk melakukan penilaian sendiri (self assessment) terhadap Tingkat Kesehatan Bank dengan menggunakan metode Risk-based Bank Rating. Penilaian terhadap faktor GCG dengan pendekatan RGEC didasarkan ke dalam tiga aspek utama yaitu, governance structure, governance process, dan governance output.

Berdasarkan ketetapan Bank Indonesia yang disajikan dalam Laporan Pengawasan Bank (2012) menyatakan bahwa β€œgovernance structure mencakup pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris dan Dewan Direksi serta kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite. Governance process mencakup fungsi kepatuhan bank, penanganan benturan kepentingan, penerapan fungsi audit intern dan ekstern, penerapan manajemen risiko termasuk sistem pengendalian intern, penyediaan dana kepada pihak terkait dan dana besar, serta rencana strategis bank.

Dan Governance Output merupakan hasil dari pelaksanaan GCG baik dari aspek hasil kinerja maupun cara-cara/praktek-praktek yang digunakan untuk mencapai hasil kinerja tersebut.

Dalam Surat Edaran No.15/15/DPNP Tahun 2013 pelaksanaan GCG pada

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(40)

26

Indonesia Banking School industri perbankan harus senantiasa berlandaskan pada 5 (lima) prinsip dasar sebagai berikut:

1. Transparansi (transparency), yaitu keterbukaan dalam mengemukakan informasi yang material dan relevan serta keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan;

2. Akuntabilitas (accountability), yaitu kejelasan fungsi dan pelaksanaan pertanggungjawaban organ bank sehingga pengelolaannya berjalan secara efektif;

3. Pertanggungjawaban (responsibility), yaitu kesesuaian pengelolaan bank dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip pengelolaan bank yang sehat;

4. Independensi (independency), yaitu pengelolaan bank secara profesional tanpa pengaruh/tekanan dari pihak manapun; dan

5. Kewajaran (fairness) yaitu keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

Sejak dikeluarkannya surat edaran tersebut, Bank Indonesia menyempurnakan metode penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum yaitu dengan menggunakan pendekatan risiko (Risk Based Bank Rating/RBBR) baik secara individual maupun secara konsolidasi yang antara lain mencakup penilaian faktor GCG. Pembobotan faktor-faktor GCG oleh Bank Indonesia adalah sebagai berikut:

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(41)

Indonesia Banking School Tabel 2.1

Penilaian Sendiri (self assessment)

No. Faktor Bobot (%)

1 Tugas dan tanggung jawab yang dilaksanakan oleh Dewan Komisaris

10,00 2 Tugas dan tanggung jawab yang dilaksanakan oleh

Direksi

20,00 3 Kelengkapan dan pelaksanaan tugas Komite 10,00 4 Penanganan benturan kepentingan 10,00 5 Fungsi kepatuhan yang diterapkan oleh Bank 5,00 6 Fungsi audit intern yang diterapkan oleh bank 5,00 7 Fungsi audit ekstern yang diterapkan oleh bank 5,00 8 Fungsi manajemen risiko termasuk sistem

pengendalian intern

7,50 9 Penyediaan dana kepada pihak terkait (related

party) dan debitur besar (large exposures)

7,50 10 Kondisi keuangan dan non keuangan, laporan

pelaksanaan Good Corporate Governance dan pelaporan internal yang transparan

15,00

11 Rencana strategis Bank 5,00

Sumber: Bank Indonesia

Setelah mendapatkan hasil dari pembobotan yang telah dilakukan terhadap seluruh faktor kemudian dijumlahkan dan diperingkatkan berdasarkan nilai komposit yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia. Alasan saya menggunakan self assessment adalah karena berdasarkan SE BI NO.15/15/DPNP bahwa tahun 2013 bank diharuskan melakukan penilian sendiri (self assessment) secara berkala meliputi sebelas aspek penilaian pelaksanaan GCG seperti table 2.1.

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(42)

28

Indonesia Banking School Berikut adalah nilai komposit hasil self assessment pelaksanaan good corporate governance bank berdasarkan Surat Edaran BI No. 9/12/DPNP tanggal 30 Mei 2007:

Tabel 2.2 Peringkat Komposit

Nilai Komposit Predikat Komposit

Nilai Komposit < 1.5 Sangat Baik 1.5 < Nilai Komposit < 2.5 Baik

2.5 < Nilai Komposit < 3.5 Cukup Baik 3.5 < Nilai Komposit < 4.5 Kurang Baik 4.5 < Nilai Komposit < 5 Tidak Baik

Sumber : SE BI No. 9/12/DPNP 2.2.3. Rentabilitas

Rentabilitas merupakan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang akan menunjukan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Munawir, 2010). Dalam Peraturan Bank Indonesia NOMOR:

13/1/PBI/2011 Pasal 7 ayat 2 meliputi penilaian terhadap kinerja earnings, dan sustainbility earnings bank, penilaian terhadap faktor earnings didasarkan pada dua rasio yaitu ROA dan NIM.

a) Return on Asset (ROA)

ROA merupakan pengukuran kemampuan perusahaan secara keseluruhan di dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia di dalam perusahaan (Syamsuddin, 2011). Alasan saya menggunakan

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(43)

Indonesia Banking School rasion ROA karena dengan menggunakan ROA kita bisa mengetahui laba bersih untuk ukuran bank tersebut. ROA untuk bank dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

𝑅𝑂𝐴 = πΏπ‘Žπ‘π‘Ž π‘†π‘’π‘π‘’π‘™π‘’π‘š π‘ƒπ‘Žπ‘—π‘Žπ‘˜

π‘…π‘Žπ‘‘π‘Ž βˆ’ π‘…π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑠𝑒𝑑π‘₯100%

b) Net Interest Margin (NIM)

Rasio Net Interest Margin (NIM) mengukur kemampuan aktiva produktif dalam menghasilkan pendapatan berupa bunga.Pendapatan bunga bersih merupakan pendapatan bunga dikurangi beban bunga yang ditanggung oleh bank.

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga bersih.

Aktiva produktif merupakan seluruh aktiva yang menghasilkan pendapatan baik dalam bentuk penyaluran kredit, surat berharga, penyertaan dan penanaman lainnya. Alasan saya menggunakan rasion NIM karena seluruh kegiatan manajemen seluruh bank akan berpengaruh pada perolehan pendapatan bunga. NIM dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

𝑡𝑰𝑴 = 𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏 π‘©π’–π’π’ˆπ’‚ π‘©π’†π’“π’”π’Šπ’‰

𝑹𝒂𝒕𝒂 βˆ’ 𝒓𝒂𝒕𝒂 π‘¨π’Œπ’•π’Šπ’—π’‚ π‘·π’“π’π’…π’–π’Œπ’•π’Šπ’‡π’™πŸπŸŽπŸŽ%

2.2.4. Capital

Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 Pasal 7 ayat 2 dimana Capital merupakan tingkat kecukupan permodalan dan pengelolaan permodalan. Kegiatan operasional sangat bergantung pada kecukupan modal yang dimiliki oleh bank (Permatasari et al, 2015). Capital Adequacy Ratio adalah rasio kinerja bank untuk

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(44)

30

Indonesia Banking School mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko (Kasmir, 2009). CAR minimum yang harus dimiliki oleh bank adalah sebesar 8% dari total aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). Alasan saya menggunakan CAR karena sebagian besar penelitian yang saya temukan menggunakan CAR dan untuk mempermudah penelitian saya.

Rumus yang digunakan dalam menghitung CAR adalah sebagai berikut:

𝐢𝐴𝑅 = π‘€π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™

π΄π‘˜π‘‘π‘–π‘£π‘Ž π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘–π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘” π‘€π‘’π‘›π‘’π‘Ÿπ‘’π‘‘ π‘…π‘–π‘ π‘–π‘˜π‘œ(𝐴𝑇𝑀𝑅)π‘₯100%

2.3. Penelitian Terdahulu

Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu

No Nama Peneliti/ Judul

Penelitian Periode Variabel Hasil Penitian 1. Mewengkang β€œAnalisis

Perbandingan Kinerja

Keuangan Bank

Pemerintah dan Bank Umum Swasta Nasional yang Tercatat di BEI”

(2013)

2008- 2012

QR,ATLR,

LDR, DAR,

DER, CAR,

ROA, ROE dan NPM

Tidak dapat perbedaan pada QR,ATLR, LDR, DAR, DER, CAR, ROA, ROE dan NPM antara bank pemerintah dan bank umum swasta nasional 2. Rumondor β€œ Perbandingan

Kinerja Keuangan Bank Mandiri, BRI, dan BNI yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia” (2013)

2008- 2012

CAMEL 1.PT Bank Mandiri

(Persero) Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk pada periode 2008- 2011 berada pada predikat cukuÍp sehat dengan peringkat komposit PK-3 2. periode 2012 berada pada predikat sehat dengan peringkat komposit PK- 1, sedangkan untuk PT Bank

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(45)

Indonesia Banking School No Nama Peneliti/ Judul

Penelitian Periode Variabel Hasil Penitian

Negara Indonesia (Persero) Tbk periode 2008-2012 berada pada predikat cukup sehat dengan peringkat komposit PK-3.

3. Setyaningsih dan Utami β€œ Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Perbankan Syariah dnegan Perbankan Konvensional”

(2013)

2009- 2011

CAR,NPL, ROA, BOPO

1.Rasio CAR di PT Bank BRI Tbk terlihat lebih baik daripada PT Bank Syariah Muamalat Indonesia Tbk 2. Rasio NPL di PT Bank Syariah Muamalat Indonesia Tbk lebih baik dari PT Bank BRI Tbk.

3. rasio ROA pada PT Bank BRI Tbk terlihat lebih baik daripada PT Bank Syariah Muamalat Indonesia Tbk 4. rasio BOPO pada PT Bank BRI Tbk lebih baik dari PT Bank Syariah Muamalat Indonesia Tbk 5. PT Bank BRI Tbk lebih baik dari kinerja keuangan dibandingkan dengan PT Bank Syariah Muamalat Indonesia Tbk

4 Tan Sau Eng β€œPengaruh Nim, Bopo, Ldr, Npl & Car Terhadap Roa Bank Internasional dan Bank Nasional Go Public Periode 2007 – 2011”

(2013)

2007- 2011

ROA,CAR, BOPO,NIM, NPLdan LDR

1.semua variabel secara simultan berpengaruh signifikan terhadap ROA, 2. secara parsial hanya NIM, LDR dan NPL memiliki pengaruh yang signifikan.

3. selanjutnya, hasilnya juga menunjukkan bahwa variabel dengan pengaruh yang paling dominan adalah NIM.

5. Marsuki, Pahlevi,dan Pono

β€œPerbandingan Kinerja

Keuangan Bank

2006- 2011

CAR, RORA, NPM, ROA

1. CAR, RORA, NPM, ROA dan OR, ternyata tidak terdapat perbedaan

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(46)

32

Indonesia Banking School No Nama Peneliti/ Judul

Penelitian Periode Variabel Hasil Penitian Pemerintah Dan Bank

Swasta Nasional” (2013)

kinerja keuangan antara bank pemerintah dan bank swasta nasional.

2. Namun jika dilihat dari LDR dan CM Ratio, ternyata terdapat perbedaan kinerja keuangan antara bank pemerintah dan bank swasta nasional.

6. Maharani dan Afandy β€œ Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Bank Pemerintah dan Bank Swasta di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2008-2012” (2014)

2008- 2012

Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings, Capital

kinerja keuangan Bank Bukopin dari tahun 2010 sampai dengan 2014 yang

diukur dengan

menggunakan metode RGEC secara keseluruhan dapat dikatakan bank yang sehat.

7. Hamta β€œ Analisa Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning dan Capital sebagai Alat untuk Mengukur Tingkat Kesehatan Bank: Studi Kasus pada Bank Pemerintah yang Terdaftar di BEI Tahun 2011-2013”

(2014)

2011- 2014

LDR, NPL,

ROE, NPM,

ROA, NIM,

CAR

Bahwa keseluruhan penelitian selama 2011- 2013 untuk Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN memiliki tingkat kesehatan bank yang sehat

8. Sugari, Sunarko, dan Giyatno β€œAnalisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank Syariah dan Konvensional dengan menggunakan Metode RGEC ( Risk Profile, Good Corporate, Governance, Earnings, dan Capital)”.

(2015)

2012- 2014

Bank Rating Performance, Risk, GCG, Earnings,

Capital

1.penelitian ini menunjukan tidak ada perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional berdasarkan Bank Rating Performance 2.risk profile dan good corporate governance memilik pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesehatan bank

3. Capital dan Earning tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesehatan bank

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(47)

Indonesia Banking School No Nama Peneliti/ Judul

Penelitian Periode Variabel Hasil Penitian 9. Sari dan Dahar β€œ Analisis

Tingkat Kesehatan Bank dengan Menggunakan Model Risk-Based Bank Rating (RBBR) (Studi Pada Perbankan yang Listing di Bursa Efek Indonesia P (2016)

2011- 2014

NPL, LDR,

ROA, NIM,

CAR

Tingkat kesehatan pada bank Syariah dan Konvensional termasuk dalam predikat sangat sehat untuk semua ratio pada periode 2011-2012.

10. Yacheva, Saifi, dan Z.A β€œ Analisis Tingkat Kesehatan Bank dengan Metode RBBR (Risk- Based Bank Rating) (Studi pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2012- 2014)”. (2016)

2012- 2014

NPL,LDR,

ROA, NIM,

CAR

1.BUSN Devisa memiliki perkembangan yang kurang baik dari sisi kredit.

2. tingkat kesehatan BUSN Devisa tahun 2012-2014 berdasarkan rasio NPL, LDR, ROA, NIM, dan CAR menunjukan bahwa seluruh bank dapat dikategorikan sangat sehat meskipun ada beberapa bank yang dapat dikategorikan sehat.

Sumber: Olahan penulis 2.4. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Sumber: Olahan penulis Kinerja Keuangan

Bank Konglomerasi 1. Profil risiko

2. Corporate governance 3. Rentabilitas

4. Capital

Kinerja Keuangan Bank NonKonglomerasi

1. Profil risiko

2. Corporate governance 3. Rentabilitas

4. Capital

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(48)

34

Indonesia Banking School 2.5. Pengembangan Hipotesis

2.5.1. Profil Risiko dan Kinerja Keuangan

Profil risiko pada bank merupakan sebuah gambaran yang berhubungan dengan risiko yang ada dalam kegiatan bank. Profil risiko adalah hasil dari penilaian atas risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko seperti risiko kredit dan risiko likuiditas. Penilaian risiko adalah sebuah proses dari identifikasi dan evaluasi dari risiko yang dihadapi bank.

Damayanti dan Chaniago (2014) membuktikan bahwa terdapat pengaruh signifikan pada Risiko Kredit dan Risiko Likuiditas terhadap penentuan nilai kesehatan bank.

Penelitian yang dilakukan Yacheva et al., (2016) membuktikan bahwa rasio NPL dan LDR menunjukkan bahwa seluruh bank dapat dikategorikan sangat sehat meskipun ada beberapa bank yang juga dapat dikategorikan sehat, yang berarti rasio NPL dan LDR berpengaruh terhadap penilaian kesehatan bank.

Menurut Yessi et al. (2015), resiko kredit merupakan penyokong kestabilan keuangan bank yang bergantung dari kinerja pihak lawan. Resiko kredit berkaitan dengan strategi penyediaan dana dan sumber timbulnya dana yang berasal dari pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank. Menurut Damayanti dan Chaniago (2014) dengan menurunnya risiko likuiditas maka akan meningkatkan skor kesehatan bank dari aspek likuiditas dengan asumsi tidak ada dampak dari aspek lain yang digunakan dalam info bank maka secara keseluruhan skor

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(49)

Indonesia Banking School kesehatan meningkat.

Mengacu pada penelitian sebelumnya, penelitian ini mencoba untuk membandingkatan risiko yang diukur melalui standar deviasi return on asset antara bank konglomerasi dan bank non konglomerasi. Oleh karena itu, penelitian ini menduga terdapat perbedaan profil risiko antara bank konglomerasi dan bank non konglomerasi.

Berdasarkan uraian diatas dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

Ho1a: Tidak terdapat perbedaan profil risiko yaitu risiko kredit yang di ukur melalui rasio NPL antara bank konglomerasi dan bank non konglomerasi

Ha1a: Terdapat perbedaan profil risiko yaitu risiko kredit yang diukur melalui rasio NPL antara bank konglomerasi dan bank non konglomerasi

Ho1b: Tidak terdapat perbedaan profil risiko yaitu risiko likuiditas yang diukur melalui rasio LDR antara bank konglomerasi dan bank non konglomerasi

Ha1b: Terdapat perbedaan profil risiko yaitu risiko likuiditas yang diukur melalui rasio LDR antara bank konglomerasi dan bank non konglomerasi.

2.5.2. Corporate Governance dan Kinerja Keuangan

Good corporate Governance di Indonesia menjadi sesuatu hal yang diperlukan di perusahaan. Menurut Hastuti (2005) Good Corporate Governance mensyaratkan suatu pengelolaan yang baik dalam sebuah organisasi dan merupakan system yang mampu memberikan perlindungan dan jaminan hak kepada stakeholders, termasuk di dalamnya adalah shareholders, lenders, employees, executives, government, customers dan stakeholders yang lain, serta aspek GCG

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

(50)

36

Indonesia Banking School diharapkan dapat menjadi dasar untuk melihat baik tidaknya kinerja perusahaan.

Menurut Wati (2012) Semakin baik corporate governance yang dimiliki suatu perusahaan maka diharapkan kinerja dari suatu perusahaan tersebut semakin baik. Pada penelitiannya menunjukan bahwa Good Corporate Governance (CGPI) mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan.

Berdasarkan uraian diatas dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

Ho2: Tidak terdapat perbedaan Good Corporate Governance yang diukur melalui Self-assesment antara bank konglomerasi dan bank non konglomerasi Ha2: Terdapat perbedaan Good Corporate Governanceyang diukur melalui Self- assesment antara bank konglomerasi dan bank non konglomerasi.

2.5.3. Rentabilitas dan Kinerja Keuangan

Menurut Surat Edaran Bank Indonesia No 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004, Net Interest Margin (NIM) adalah perbandingan antara pendapatan bunga bersih terhadap rata-rata aktiva produktifnya. Tingginya nilai Net Interest Margin berkaitan dengan tingkat efisiensi dan kondisi pasar yang kurang kompetitif. ROA adalah salah satu dari bentuk rasio profitabilitas untuk dapat melihat kemampuan perusahaan dalam mengelola setiap nilai aset yang mereka miliki untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak.

Peneliti Lasta et al., (2014) mengatakan bahwa, Rentabilitas (Earning) merupakan pengukuran kemampuan bank dalam menghasilkan laba dengan menggunakan rasio Return on Aseets (ROA). Hasil penelitian Sari dan Dahar (2016) dengan menggunakan rasio ROA dan NIM membuktikan bahwa kinerja

Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan..., Tri Utari, Ma.-IBS, 2017

Referensi

Dokumen terkait