PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian, referensi dan perbandingan, serta untuk menambah pengetahuan di bidang ekonomi dan perbankan. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan awal bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk melakukan penelitian tentang pemikiran ekonomi komparatif Abu Yusuf dan Al-Mawardi tentang haraj. Bagi masyarakat diharapkan melalui tulisan ini dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana membandingkan pemikiran ekonomi Abu Yusuf dan Al-Mawardi tentang haraj.
Penelitian Terdahulu
15Fauzan, M, ''Konsep Perpajakan Menurut Abu Yusuf'', (Skripsi, Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, 2014), h. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan mengkaji kitab al-Kharaj karya Abu Yusuf. Penelitian ini mendeskripsikan perkembangan kajian pemikiran para tokoh ekonomi Islam khususnya yang berkaitan dengan pemikiran Abu Yusuf dan Al-Mawardi tentang persoalan konsep haraj.
Argumen Abu Yusuf menunjukkan bahwa besaran pajak tetap berdasarkan luas tanah (baik yang digarap maupun tidak) hanya dibenarkan jika tanah tersebut subur. Untuk mencapai asas keadilan dalam administrasi perpajakan, Abu Yusuf menyarankan agar para penguasa membedakan antara tanah tandus dan tanah tandus. Argumen Abu Yusuf menunjukkan bahwa jumlah pajak yang tetap berdasarkan tanah (baik yang digarap maupun tidak) hanya dibenarkan jika tanah tersebut subur.
Kesamaan pemikiran antara Abu Yusuf dan Al-Mawardi mengenai penetapan kharaj menyatakan bahwa tujuan pengumpulan kharaj adalah untuk memajukan negara dan meningkatkan pendapatan masyarakat secara keseluruhan. Perbedaan pemikiran ekonomi Abu Yusuf dan Al-Mawardi mengenai konsep kharaj adalah pada sistem pemungutan kharaj, Abu Yusuf sepakat bahwa negara akan memungut kharaj dengan menggunakan sistem muqasamah (pajak proporsional) dengan menentukan persentase dari negara yang tidak membebani petani, sedangkan menurut Al-Mawardi, kharaj dikumpulkan dengan tiga cara, yaitu cara misahah (sesuai luas lahan), sesuai luas lahan tanam itu sendiri, dan musaqoh ( persentase produksi) metode.
Metode Penelitian
Sistematika Penulisan
Dalam hal perpajakan, Abu Yusuf menetapkan prinsip-prinsip yang jelas yang berabad-abad kemudian dikenal oleh para ekonom sebagai kanon. Abu Yusuf prihatin dengan efektifitas administrasi perpajakan dalam menyediakan barang kena pajak. Untuk mencapai asas keadilan dalam administrasi perpajakan, Abu Yusuf menyarankan agar penguasa membedakan antara tanah tandus dan tanah subur.
Abu Yusuf melihat pada masanya ada daerah yang sudah ratusan tahun tidak digarap dan tidak bisa dihidupkan kembali oleh petani. Oleh karena itu, Abu Yusuf tidak merestui jika kharaj yang dikumpulkan menjadi beban tanpa mempertimbangkan tingkat kesuburan tanah, karena akan menjadi beban bagi para petani yang memiliki tanah yang tidak subur. Untuk menghindari kezaliman dan untuk mencapai prinsip keadilan dalam penetapan kharaj, Abu Yusuf dan Al-Mawardi menyarankan agar para penguasa membedakan antara tanah yang dapat ditanami dan tanah yang tandus dan tidak dapat ditanami.
Pemikiran ekonomi Abu Yusuf tentang Kharaj adalah pajak tanah di bawah pendudukan non-Muslim yang muncul setelah penaklukan Muslim. Abu Yusuf menerapkan sistem perpajakan yang jelas yaitu kemampuan membayar, memberikan waktu yang cukup bagi wajib pajak.
KAJIAN TEORI
Pajak
Akan tetapi, haraj berbeda dengan dhariba, karena haraj adalah pajak yang objeknya (diduduki) tanah dan subjeknya non muslim. Pajak (dharibe) hanya dapat dikumpulkan untuk pembiayaan yang wajib bagi umat Islam dan terbatas pada jumlah yang diperlukan untuk pembiayaan wajib, tidak lebih. Objek dharibnya adalah harta selain zakat dan subjeknya adalah seorang muslim, sedangkan objek jizyah dan harajnya adalah jiwa dan tanah yang telah ditaklukkan, dan subjeknya adalah non muslim.
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007, Pasal 1, pajak adalah iuran wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak menerima imbalan secara langsung dan digunakan untuk sebesar-besarnya kebutuhan negara. kemungkinan kemakmuran penduduk. Definisi pajak dalam The Economics of Taxation adalah pungutan wajib oleh otoritas publik yang tidak menerima imbalan apa pun secara langsung.9. Sedangkan menurut Rochmat Soemitro, pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) tanpa imbalan (kontra prestasi), yang dapat diperlihatkan secara langsung dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum (investasi umum).
Pajak adalah pengalihan sumber daya dari sektor swasta ke sektor negara, artinya yang berhak memungut pajak adalah negara, baik pemerintah pusat maupun daerah (Pemda). Oleh karena itu, tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan secara adil dan benar merupakan syarat mutlak untuk mencapai fungsi tersebut.
Kharaj
- Definisi Kharaj
- Sejarah kharaj
Dalam kaitan ini, Abu Yusuf menyarankan agar negara mengangkat pejabat yang jujur dan amanah dalam berbagai tugas. Di sisi lain, Abu Yusuf melihat pada masanya ada daerah yang sudah ratusan tahun tidak digarap dan para petani tidak memiliki kemampuan untuk menghidupkannya kembali. Terhadap administrasi fiskal, Abu Yusuf memiliki pandangan berdasarkan pengalaman praktis tentang administrasi perpajakan dan dampaknya terhadap perekonomian.
Penolakan Abu Yusuf karena sistem qobalah bertentangan dengan prinsip keadilan dan mengabaikan kemampuan membayar. Jika terjadi ketidakstabilan harga pangan, Abu Yusuf menyarankan agar pangan dijual dengan harga yang terdistribusi secara proporsional, agar tidak berdampak negatif terhadap wajib pajak dan kas masyarakat. Mengenai perpajakan, Abu Yusuf menetapkan prinsip-prinsip yang jelas yang berabad-abad kemudian dikenal oleh para ekonom sebagai kanon perpajakan.
Abu Yusuf berpendapat bahwa kondisi lahan pertanian pada masa Harun Ar-Rasyid berbeda dengan kondisi lahan pertanian pada masa Umar bin Khattab. Abu Yusuf mengusulkan sistem yang lebih baik, yaitu negara sendiri yang harus mengatur pengumpulan kharaj dari para petani. Dalam bukunya Al-Kharaj, Abu Yusuf menjelaskan sistem pengumpulan kharaj dengan ukuran yang jelas dengan membaginya menjadi kelompok-kelompok tertentu.
Terkait pembagian pendapatan negara, Abu Yusuf mengingatkan harus ditunjukkan demi terwujudnya kesejahteraan rakyat. Sedangkan persamaan pemikiran Abu Yusuf dan Al-Mawardi mengenai konsep kharaj adalah pada penilaian penentuan jumlah pungutan kharaj, yang harus bervariasi sesuai dengan kemampuan tanah yang akan dijadikan objek kharaj dengan satuan yang sebanding. hingga 1/10 dikumpulkan saat panen. Pemikiran-pemikiran Abu Yusuf dan Al-Mawardi perlu dikaji lebih dalam, khususnya mengenai konsep kumpulan resensi Kharaj yang konon merupakan pemikiran mereka.