• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis pertimbangan hakim dalam menolak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "analisis pertimbangan hakim dalam menolak"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

Pertanyaan yang dikaji dalam tesis ini adalah: Bagaimana pendapat hakim ketika menolak izin poligami dalam putusan Pengadilan Agama Brebes no. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui, memahami dan menganalisis bagaimana pemikiran hakim ketika menolak izin poligami dalam putusan Pengadilan Agama Brebes no. Analisis Pertimbangan Hakim Menolak Izin Poligami di Pengadilan Agama Brebes pada Putusan No. 2400/Pdt.G/PA.Bbs.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pertimbangan hakim dalam menolak izin poligami dalam putusan Pengadilan Agama Brebes nomor 2400/Pdt.G/2020/PA.Bbs. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pertimbangan hakim dalam menolak izin poligami dalam putusan Pengadilan Agama Brebes Nomor. Secara teoritis penelitian ini mempunyai manfaat yaitu memperdalam analisis dan wawasan keilmuan mengenai pertimbangan hakim dalam menolak izin poligami dalam putusan Pengadilan Agama Brebes Nomor 2400/Pdt.G/2020/PA.Bbs.

Setelah mendengarkan dan mempelajari pertimbangan hakim dalam menolak izin poligami dalam putusan Pengadilan Agama Brebes no. 1 Tahun 1974, (2) Bagaimana analisis teori Maslahah Murlah mengenai Pasal 4-5 tentang izin poligami dalam UU No. 1 Tahun 1974. Melalui penelitian ini kita akan mengetahui bagaimana pertimbangan hakim dalam menolak izin poligami dalam Putusan Pengadilan Agama Brebes Nomor 2400/Pdt.G/2020/PA.Bbs.

Dengan demikian peneliti akan menganalisis pertimbangan hakim dalam menolak izin poligami dalam putusan Pengadilan Agama Brebes no.

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

Penelitian Terdahulu

Metode Penelitian

Sistematika Penulisan

LANDASAN TEORI

Poligami

Menurut KBBI, poligami adalah sistem perkawinan yang memperbolehkan seseorang mempunyai istri atau suami lebih dari satu.28 Kata poligami merupakan bagian dari kata polus atau poli yang berarti banyak, dan kata gamos atau gamein yang berarti perkawinan. atau , jika dua kata ini bersatu berarti banyak pernikahan. Perubahan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan perubahan norma mengenai batas usia untuk melangsungkan perkawinan. Perubahan ini diharapkan dapat menaikkan usia minimum legal bagi perempuan. UU No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas UU No. 1 Tahun 1974 mengacu pada Pasal 7, sehingga berbunyi: 30.

Dalam pasal 3 ayat 1 dan 2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 disebutkan “Pada prinsipnya seorang laki-laki hanya boleh mempunyai satu isteri dalam satu perkawinan. beristri lebih dari satu jika pihak-pihak yang bersangkutan menghendakinya”.31 Hal menjelaskan bahwa Indonesia menganut konsep perkawinan monogami, namun dapat memperbolehkan terjadinya perkawinan poligami dengan mengajukan permohonan izin poligami ke Pengadilan Agama. Dalam melangsungkan perkawinan poligami, suami atau pemohon harus memenuhi alternatif alasan dan syarat kumulatif perkawinan poligami.

Apalagi, syarat kumulatif untuk melakukan perkawinan poligami mengacu pada Pasal 5 UU No. 1 Tahun 1974 yaitu : 33. Maksud dari alasan dan syarat di atas sebelum melangsungkan perkawinan poligami adalah untuk kemaslahatan, yaitu agar perkawinan itu sah dan diakui oleh negara. Poligami yang terjadi adalah perkawinan yang juga harus dicatatkan oleh petugas pencatatan perkawinan yang berwenang, apabila perkawinan tersebut tidak dicatatkan di KUA dan tidak dicatatkan maka akan mendapat sanksi sebagaimana dijelaskan dalam Bab IX Pasal 45 PP Nomor 9 Tahun 1974.

Namun ada syarat tambahan di luar yang dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang harus dipenuhi oleh suami yang ingin melakukan perkawinan poligami, sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 55 Kompilasi Hukum Islam, yaitu: 35. Jadi jika laki-laki hendak mengawini lebih dari seorang isteri, maka ia harus memenuhi syarat-syarat yang telah dijelaskan di atas. Artinya, seorang laki-laki boleh mengawini lebih dari satu perempuan dalam satu waktu, asalkan ia mampu memperlakukan isterinya dengan adil baik lahir maupun batin seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Jadi dengan poligami diperbolehkan mengawini janda dan mengawini lebih dari satu isteri namun dibatasi hanya empat isteri saja.37. Kemampuan perempuan untuk melahirkan keturunan juga terbatas pada masa menopause, yaitu antara usia 45-50 tahun, sedangkan laki-laki mampu bahkan setelah 60 tahun. Maka dalam hal ini poligami juga menjadi solusinya karena demi mendapatkan keturunan dan mempunyai istri yang mampu mencukupi kebutuhannya tanpa harus menceraikan istri pertamanya.39.

Pertimbangan Hakim

Pertimbangan hakim merupakan salah satu aspek terpenting dalam menentukan nilai putusan hakim, yang mengandung keadilan (ex aequo et bono) dan mengandung keamanan hukum, serta mengandung kemanfaatan bagi pihak-pihak yang terlibat, sehingga pertimbangan hakim harus diperhatikan. akun. diperlakukan dengan hati-hati, baik dan hati-hati. Apabila pertimbangan hakim tidak teliti, sehat dan teliti, maka putusan hakim yang dihasilkan dari pertimbangan hakim itu akan dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung.45. Pertimbangan hakim atau rasio memutuskan adalah dalil-dalil atau alasan-alasan yang dijadikan pertimbangan hakim sebagai landasan sebelum memutus suatu perkara.

48 Tahun 2009 yaitu “Hakim wajib mendalami, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang ada dalam masyarakat”. 47. Menurut Hakim Zuhri Imansyah, S.HI., M.HI, pertimbangan hakim dalam perkara perdata pada umumnya mencakup beberapa aspek, yaitu kesanggupan hukum pihak yang mengajukan, dasar hukum gugatan/permohonan, fakta persidangan dan fakta hukum, yang memuat kelebihan, dan pemecahan masalahnya.49. Menguntungkan (mengandung nilai-nilai dalam masyarakat) Artinya pertimbangan hakim harus mempunyai nilai kemanfaatan yang baik dalam kehidupan masyarakat.

Pertimbangan hukum adalah pertimbangan hakim yang didasarkan pada fakta-fakta hukum yang terungkap dalam persidangan dan ditetapkan dengan undang-undang sebagai faktor yang dimasukkan dalam putusan. Pertimbangan hukum biasanya memuat pasal-pasal atau undang-undang yang menjadi dasar pertimbangan hakim. Dasar pertimbangan hakim dalam mengambil putusan pengadilan harus didasarkan pada teori dan hasil penelitian yang saling berkaitan, sehingga tercapai hasil penelitian yang maksimal dan seimbang baik teori maupun praktek.

Dasar pertimbangan hakim dalam mengambil putusan pengadilan harus didasarkan pada teori dan hasil penelitian yang saling berkaitan sehingga diperoleh hasil penelitian yang maksimal dan seimbang dalam tataran teoritis dan praktis. Dasar kekuasaan kehakiman diatur dalam UUD 1945 Bab 9 Pasal 24 dan Pasal 25 serta dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009. Kebebasan hakim juga harus dijelaskan dengan kedudukan hakim yang tidak memihak (Impartial judge) Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 2099.

Lebih tepatnya, bunyi UU Nomor 48 Tahun 2009, Pasal 4 ayat 1 “Pengadilan mengadili menurut hukum tanpa membeda-bedakan orang”.56. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 yaitu: Pengadilan tidak boleh menolak untuk menyelidiki dan mengadili suatu perkara yang diajukan.57. Teori Raito Decisionndi merupakan teori yang dilandasi landasan filosofis yang didasarkan pada mempertimbangkan segala aspek yang berkaitan dengan pokok perkara yang disengketakan kemudian mencari peraturan perundang-undangan yang relevan dengan pokok perkara yang disengketakan tersebut sebagai dasar hukum pengambilan keputusan. dan pertimbangan hakim harus didasarkan pada motivasi yang jelas untuk menegakkan hukum dan memberikan keadilan bagi pihak-pihak yang berperkara.

PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENOLAK

Dalil Permohonan

Alasan permohonan izin poligami dalam putusan Pengadilan Agama Brebes no. 2400/Pdt.G/2020/PA.Bbs sebagai berikut: Pertimbangan hakim dalam menolak izin poligami di Pengadilan Agama Brebes dalam putusan no. 2400/Pdt.G/2020/PA.Bbs. Analisis pertimbangan hakim saat menolak izin poligami di Pengadilan Agama Brebes pada putusan no. 2400/Pdt.G/2020/PA.Bbs.

Pertimbangan hukum dalam putusan Pengadilan Agama Brebes Nomor 2400/Pdt.G/2020/PA.Bbs adalah seluruh pertimbangan terkait dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Karena poligami tidak dilarang, namun menurut peraturan perundang-undangan, poligami harus memenuhi beberapa alternatif alasan yang diatur dalam undang-undang no. Secara tekstual dalil-dalil yang digunakan pemohon izin poligami tidak memenuhi kriteria syarat alternatif sebagaimana dijelaskan dalam undang-undang di atas, karena jarak antara pemohon dan termohon secara tekstual tidak termasuk dalam syarat alternatif poligami.

Oleh karena itu, Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kehakiman menyatakan: “Dalam memutus perkara a quo, hakim wajib menelaah nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang ada dalam masyarakat, mengikuti dan memahaminya.” 67. Majelis Hakim dalam pertimbangannya menggunakan metode Interpretasi Hukum, yaitu metode yang memberikan penjelasan secara jelas terhadap teks hukum. Pertimbangan hakim dengan cara penafsiran hukum di atas terlihat dari pertimbangan hakim yang mengacu pada suatu aturan yaitu Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menjelaskan tentang alternatif alasan bagi pemohon untuk melakukan perkawinan poligami. berbunyi “a.

Teori raito decisi dalam pertimbangan hakim dalam putusan Pengadilan Agama Brebes Nomor 2400/Pdt.G/PA.Bbs dibuktikan dengan Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang memberikan alternatif alasan adalah menjelaskan. Pertimbangan hakim di atas mengacu pada konteks tekstual, maksudnya dalil permohonan dalam undang-undang ini tidak dapat menjadi alasan utama dilakukannya poligami. Majelis hakim membebankan biaya permohonan kepada pemohon karena hal ini dijelaskan dalam Pasal 89 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 bahwa “biaya perkara di bidang ​​Perkawinan itu ditanggung oleh penggugat atau pemohon.” Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Perubahan Kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009.73.

73 Data tersebut disimpulkan berdasarkan pertimbangan hukum dalam putusan Pengadilan Agama Brebes nomor 2400/Pdt.G/2020/PA.Bbs. Alasan hakim menolak memberikan izin poligami kepada pemohon karena menurut majelis hakim dalil permohonan pemohon tidak mendukung permohonan; alasan yang dikemukakan pemohon tidak dapat dicantumkan dalam alternatif alasan permohonan yang pertama. poligami sebagaimana tercantum dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 4 dan 5, secara tekstual dalil yang diajukan pemohon tidak sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, dan tidak dapat dijadikan alternatif alasan “perempuan tidak mampu memenuhi kewajibannya”. kewajiban sebagai seorang istri'.

Apalagi, pertimbangan non-yuridis terkait dengan dalil-dalil permohonan pemohon yang dijelaskan dalam Putusan Pengadilan Agama Brebe Nomor 2400/Pdt.G/2020/PA.Bbs. Izzudin, Fu'ad, “Analisis Pasal 4-5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Izin Poligami Direvisi Berdasarkan Teori Maslahah Murlah.”

Referensi

Dokumen terkait

ZiZa disputed that its defective application was a nullity, since it notified the Department of ZiZa’s intention to convert its unused old-order right to a new-order prospecting right

Trans Makassar Utama, selaku subjek hukum tersendiri ;” Selanjutnya, alasan pertimbangan dari hakim dalam perkara ini atas pernyataan tersebut, yaitu: “Menimbang, bahwa pengertian “