i
ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN AGAMA KABUPATEN MADIUN TERHADAP PERKARA CERAI GUGAT DARI TAHUN 2018-2022
PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM
SKRIPSI
Oleh:
WINDI RIYANTI 101190175
Pembimbing:
MARTHA ERI SAFIRA, M.H.
NIP.198207292009012011
JURUSAN HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARIAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO
2023
ii ABSTRAK
Riyanti, Windi 2023. Analisis Putusan Pengadilan Agama Kabupaten Madiun Terhadap Perkara Cerai Gugat Dari Tahun 2018-2022 Perspektif Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Skripsi Jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing: Martha Eri Safira, M.H.
Kata Kunci/Keywords: Analisis Putusan Pengadilan Agama, Cerai Gugat.
Dalam perkawinan terdapat hak-hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh suami maupun isteri. Penggugat dalam putusan-putusan ini menggugat cerai Tergugat karena kelalaian Tergugat dalam memenuhi kewajiban rumah tangga.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana pertimbangan hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun dalam memutus perkara-perkara Cerai Gugat dari tahun 2018-2022 perspektif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam? Bagaimana dasar hukum hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun dalam memutus perkara-perkara cerai Gugat dari tahun 2018-2022 perspektif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam?
Adapun skripsi ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian pustaka (library research) dengan pendekatan hukum perundang-undangan (statute approach). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif.
Dari penelitian dalam bentuk analisis putusan yang dilakukan selama skripsi dapat disimpulkan bahwa pertimbangan hukum hakim didasarkan atas fakta-fakta yang ditemukan dan bukti yang dimunculkan. Sedangkan dasar hukum hakim dalam memutus perkara didasarkan pada alasan-alasan perceraian yang mana kemudian hakim bebas dalam menentukan dasar memutus perkara.
Pertimbangan hakim jika dilihat dari perspektif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI sudah sesuai yang dapat dilihat dari fakta-fakta dalam persidangan yang dijadikan pertimbangan hakim dalam memutus perkara merujuk pada Pasal 19 PP Nomor 1975 dan Pasal 116 KHI yang memuat alasan-alasan dapat diajukannya perceraian meskipun ada penambahan-penambahan pasal dalam Undang-Undang lainnya. Dasar hukum yang digunakan sebagai rujukan pengambilan keputusan hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun apabila dilihat dari perspektif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI sudah sesuai dengan aturan yang berlaku, keesesuaian tersebut dilihat dari cara hakim dalam memutuskan sebuah perkara pada dasarnya adalah bebas yaitu sesuai Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yakni hakim memiliki kebebasan dalam memeriksa dan meemutus perkara.
iii
iv
v
vi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Setiap manusia telah ditakdirkan untuk hidup bepasang-pasangan, tujuannya adalah untuk menjalankan ibadah dan membentuk keluarga yang bahagia terdiri dari suami sebagai kepala rumah tangga, istri sebagai ibu rumah tangga dan anak-anak sebagai penerus keluarga tersebut. Akibat dari perkawinan ialah adanya hak dan kewajiban. Menurut Zainul Muttaqin Yussufi, hubungan suami istri adalah hubungan cinta dan kasih saying dan kebutuhan dalam ikatan perkawinan pada dasarnya untuk mencapai ridha Allah SWT.1
Dalam perkawinan terdapat hak-hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh suami maupun isteri. Adapun yang dimaksud dengan hak ialah sesuatu yang diterima oleh seseorang dari oranglain. Sedangkan kewajiban ialah sesuatu yang harus atau dikenai kewajiban untuk dilaksanakan oleh seseorang kepada oranglain. Dalam hubungan rumah tangga seorang suami memiliki hak dan kewajiban begitupun seorang istri.2 Dalam membina rumah tangga, setiap orang ingin membina rumah tangga dengan sebaik mungkin agar tercipta kerukunan rumah tangga yang bahagia dan tujuan perkawinan dapat diwujudkan. Sehingga hak-hak dan kewajiban ini nantinya akan membawa pasangan suami-isteri untuk mencapai tujuan perkawinan.
1Zainul Muttaqin Yusuf, The Power of Sakinah (Jakarta: Fima Rodheta, 2009) 6
2Mardani, Hukum Keluarga Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana,2016), 112
2
Untuk mencapai tujuan perkawinan, tidak sedikit pula perkawinan yang sudah dibina sebaik mungkin itu harus berakhir dengan perceraian. Hal ini dikarenakan oleh berbagai faktor yang terjadi di dalam rumah tangga dan pada akhirnya mereka terpaksa harus berpisah dengan memilih jalan perceraian. Perceraian ini umumnya dilakukan karena merupakan jalan terbaik agar keduanya tidak saling menyakiti lebih dalam lagi.1 Cerai gugat merupakan bentuk permintaan seorang istri kepada suaminya untuk menceraikan dirinya dari ikatan perkawinan yang dianggap sudah tidak ada kemaslahatan jika perkawinan keduanya tetap dipertahankan2
Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam telah mengatur bahwa hak-hak dan kewajiban suami maupun isteri harus saling setia, tolong menolong, dan bantu membantu.
Keduanya berkewajiban untuk saling memelihara, menjaga dan mendidik anak-anak mereka. Suami sebagai kepala rumah tangga harus memimpin rumah tangganya dengan baik dan sebagai isteri wajib untuk patuh dan menaatinya. Suami juga berkewajiban untuk menerima dan memperlakukan isterinya dengan baik. Suami berkewajiban memberikan perlindungan, rasa aman, dan memenuhi kebutuhan isterinya dengan batasan-batasan yang tertuang dalam Syari’at Islam.
Dalam membina rumah tangga, isteri memiliki hak atas nafkah dan memiliki kewajiban untuk taat kepada suami. Hal ini seringkali
1Rosmawati,”Analisis Terhadap Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan Perkara Perceraian Karena Nusyuz Isteri (Studi Kasus Pada Putusan Perkara Nomor 0391/Pdt.G/2014/PA.Bn dan 8/Pdt.G/2015/PTA Bn,” Jurnal IAIN Bengkulu, 1 (2018), 1.
2Rahmat Hakim, Hukum Perkawinan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), 172
memunculkan sebab akibat dari adanya hubungan perkawinan. Sebab akibat yang muncul tersebut akan mempengaruhi hak dan kewajiban antara suami dan isteri. Misalnya, jika suami tidak menjalankan kewajibannya untuk memberikan nafkah kepada isteri maka gugurlah haknya untuk mendapatkan ketaatan dan kepatuhan dari isteri.
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa suami memiliki kewajiban untuk memperlakukan isteri sebaik-baiknya perlakuan.
Sehingga terlihat secara jelas bahwa kewajiban suami adalah berbuat baik kepada isteri dalam situasi dan kondisi apapun dalam rumah tangganya.
Namun, dalam praktiknya masih banyak suami yang mengindahkan atau tidak menjalankan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Berbagai faktor menjadi alasan tidak dilaksanakannya kewajiban suami yang menjadi hak isteri. Akibat dari perbuatannya tersebut banyak isteri yang memilih untuk berpisah dengan jalan peceraian.3
Dari tahun 2018-2022, Pengadilan Agama Kabupaten Madiun telah memutus perkara-perkara perceraian salah satu diantaranya adalah cerai gugat yang disebabkan oleh masalah ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga. Dalam penelitian ini peneliti akan menganalisis beberapa putusan cerai gugat dari tahun 2018-2022
Pertama, putusan cerai gugat Nomor
0876/Pdt.G/2018/PA.Kab.Mn. Dalam putusan tersebut, alasan-alasan penggugat dalam surat gugatannya bertanggal 13 Juli 2018 yang terdaftar
3Sifa Mulya Nurani,”Relasi Hak dan Kewajiban Suami Istri Dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Analitis Relevansi Hak dan Kewajiban Suami Istri Berdasarkan Tafsir Ahkam dan Hadist Ahkam),”Journal of Law and Family Studies,1 (2021), 108.
di Kepaniteraan Pengadilan Agama Kabupaten Madiun yakni terjadi perselisihan dan pertengkaran akibat masalah ekonomi, dimana Tergugat tidak bekerja dan tidak memberi nafkah kepada Penggugat. Tergugat mempunyai sifat temperamental dan melakukan penganiayaan dengan menarik rambut dan mendorong Penggugat. Kemudian pada bulan Januari 2011, Penggugat memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya dan tidak melakukan komunikasi lagi dengan Tergugat.
Dalam pertimbangan hukum terhadap keadaan rumah tangga Penggugat dengan Tergugat, Majelis Hakim memandang bahwa rumah tangga tersebut bertentangan dengan tujuan perkawinan dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan jo. Pasal 3 KHI yaitu membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Kedua, putusan cerai gugat Nomor 1718/Pdt.G/2019/PA.Kab.Mn.
Dalam putusan tersebut, alasan-alasan penggugat dalam surat gugatannya bertanggal 26 Desember 2019 yang terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Kabupaten Madiun yakni sejak tahun 2013 rumah tangga keduanya mulai goyah dan terjadi perselisihan dan pertengkaran yang penyebabnya adalah masalah ekonomi, dimana Tergugat kurang bertanggungjawab untuk mencukupi nafkah lahir kepada Penggugat.
Tergugat juga kasar dan ringan tangan serta sering melakukan KDRT bahkan Tergugat sering mengucapkan Talak dan Cerai kepada Penggugat.
Kemudian pertengahan tahun 2017, Penggugat pergi ke Taiwan untuk
bekerja. Tetapi hubungan keduanya semakin memburuk karena Tergugat tidak bisa menjaga hubungan baik dengan Penggugat. Tergugat tidak mencerminkan rasa dan sikap kasih sayangnya terhadap Penggugat dan tidak peduli lagi dengan kehidupan Penggugat.
Dalam pertimbangan hukum terhadap keadaan rumah tangga Penggugat dengan Tergugat, Majelis Hakim memandang bahwa rumah tangga tersebut bertentangan dengan tujuan perkawinan dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 dan Pasal 3 KHI yaitu membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Gugatan Penggugat telah sesuai dan memenuhi alasan perceraian sebagaimana pasal 39 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana terurai dalam penjelasan tersebut pada huruf (f) sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019 jo. 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 dan pasal 116 huruf (f) KHI.
Ketiga, putusan cerai gugat Nomor 363/Pdt.G/2020/PA.Kab.Mn.
Dalam putusan tersebut, alasan-alasan penggugat dalam surat gugatannya bertanggal 26 Desember 2020 yang terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Kabupaten Madiun yakni sejak awal menikah rumah tangga keduanya kurang harmonis karena masalah ekonomi dimana Tergugat tidak menjalankan kewajibannya memberikan nafkah belanja kepada Penggugat. Hal itulah kemudian menjadikan Penggugat meninggalkan
kediaman bersama dan kembali ke rumah Penggugat. Pisah rumah ini berjalan selama 12 tahun 6 bulan.
Dalam pertimbangan hukum terhadap keadaan rumah tangga Penggugat dengan Tergugat, Majelis Hakim memandang bahwa rumah tangga tersebut bertentangan dengan tujuan perkawinan dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 dan Pasal 3 KHI yaitu membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Alasan-alasan Penggugat memenuhi pasal 19 huruf (b) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo pasal 116 huruf (b) KHI serta pendapat ahli hokum Islam yang termuat dalam kitab Ghoyatul Marom halaman 79.
Keempat,putusan cerai gugat Nomor
1064/Pdt.G/2021/PA.Kab.Mn. Dalam putusan tersebut, alasan-alasan penggugat dalam surat gugatannya bertanggal 19 Agustus 2021 yang terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Kabupaten Madiun yakni keduanya berselisih karena suami tidak menafkahi secara materi kepada istri dan anaknya semenjak menikah dan terhitung selama 4 tahun. Bahkan Tergugat pernah melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
Dalam pertimbangan hukum terhadap keadaan rumah tangga Penggugat dengan Tergugat, Majelis Hakim berpendapat gugat tPenggugat didasarkan pada pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo. Pasal 116 huruf (f) KHI. Gugatan Penggugat telah sesuai dan
memenuhi alasan perceraian sebagaimana pasal 5 huruf (d) jo. Pasal 9 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Gugatan Penggugat telah sesuai dan memenuhi alasan perceraian sebagaimana pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jo. Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 dan pasal 116 huruf f KHI.
Kelima, putusan cerai gugat Nomor 238/Pdt.G/2022/PA.Kab.Mn.
Dalam putusan tersebut, alasan-alasan penggugat dalam surat gugatannya bertanggal 30 Desember 2021 yang terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Kabupaten Madiun yakni sejak Februari 2021 rumah tangga keduanya mulai goyah karena faktor ekonomi yang memicu perselisihan dan pertengkaran. Tergugat tidak bertanggungjawab atas nafkah kepada Penggugat. Tergugat tidak jujur dengan hasil kerjanya dan hanya digunakan untuk kepentingan pribadi Tergugat sehingga Penggugat harus dibantu orangtuanya untuk mencukupi kebutuhan Penggugat. Tergugat sering megucapkan kata cerai ketika terjadi pertengkaran.
Dalam pertimbangan hukum terhadap keadaan rumah tangga Penggugat dengan Tergugat, Majelis Hakim berpendapat gugatan Penggugat didasarkan pada pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo. Pasal 116 huruf (f) KHI. Gugatan Penggugat telah sesuai dan memenuhi alasan perceraian sebagaimana pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana terurai dalam penjelasan tersebut pada huruf (f) sebaimana
telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019 jo. 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 dan pasal 116 huruf (f) KHI.
Dari putusan-putusan diatas, peneliti ingin menganalisis pertimbangan hakim dan dasar hukum hakim dalam memutus perkara- perkara tersebut. Oleh karena itu, dalam penyusunan skripsi ini peneliti mengambil judul “Analisis Putusan Pengadilan Agama Kabupaten Madiun Terhadap Perkara Cerai Gugat Perspektif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yatu:
1. Bagaimana pertimbangan hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun dalam memutus perkara cerai gugat dari tahun 2018-2022 perspektif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam?
2. Bagaimana dasar hukum hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun dalam memutus perkara cerai gugat dari tahun 2018-2022 perspektif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pertimbangan hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun dalam memutus perkara cerai gugat dari tahun 2018-2022 perspektif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam.
2. Untuk mengetahui dasar hukum hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun dalam memutus perkara cerai gugat dari tahun 2018-2022 perspektif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Adapun kegunaan atau manfaat hasil dari penelitian ini ditinjau secara teoritik dan praktis. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan manfaat sebagai berikut:
1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan referensi yang bermanfaat khususnya dibidang hukum bagi para pembaca khususnya mahasiswa Fakultas Syariah serta bagi masyarakat pada umumnya.
2. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi dan pengetahuan bagi lembaga pengadilan khususnya bagi para hakim dan pihak-pihak yang berkepentingan atas permasalahan yang telah dirumuskan serta berguna bagi akademisi dan masyarakat secara umum.
E. Telaah Pustaka
Telaah pustaka adalah telaah literatur atau kajian terhadap penelitian terdahulu yang relavan dengan topik dan masalah penelitian.
Telaah pustaka ini dimaksudkan untuk membantu peneliti menyediakan framework teoritis bagi penelitiannya. Telaah pustaka juga dimaksudkan untuk memposisikan sebuah penelitian diantara penelitian-penelitian dalam topik yang sama yakni persamaan dan perbedaan sehingga memberikan orisinalitas sebuah penelitian.
Sejauh ini penulis belum menemukan skripsi maupun tesis yang secara khusus menganalisis maupun membahas judul dan permasalahan yang serupa khususnya di Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Ponorogo dan di Fakultas Syariah maupun Hukum Universitas lain.Tetapi ada beberapa karya tulis yang berhubungan dengan judul ini yakni:
Pertama, skripsi yang ditulis oleh Ibnu Izzah (UIN Alauddin Makassar, 2015) dengan judul, “Penyelesaian Kasus Nusyuz Menurut Kompilasi Hukum Islam Ditinjau dari Perspektif Al-Qur’an”, rumusan masalah dalam penelitian tersebut adalah: (1) Bagaimanakah penyelesaian
kasus nusyuz dalam Kompilasi Hukum Islam. (2) Bagaimanakah perspektif Al-Qur’an terhadap penyelesaian kasus nusyuz dalam Kompilasi Hukum Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka. Teori yang digunakan adalah teori Hukum Islam yang ditinjau dari perspektif Al-Qur’an. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa kasus nuyuz istri dalam Kompilasi Hukum Islam ada dua bentuk penyelesaian yakni pengguguran pemberian nafkah dan pengajuan cerai talak. Solusi yang diberikan Al-Qur’an untuk menangani nusyuz istri ada tiga tahapan yakni nasihat, pisah ranjang, dan pukulan.4
Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada fokus penelitian dan teori yang digunakan. Pada penelitian tersebut teori yang digunakan adalah teori Hukum Islam yang ditinjau dari perspektif Al-Qur’an, sedangkan penelitian ini menggunakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Fokus penelitian tersebut adalah penyelesaian nusyuz istri sedangkan fokus penelitian ini adalah analisis pertimbangan hakim pengadilan tentang nusyuz suami.
Kedua, skripsi yang ditulis oleh Hesti Wulandari (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010) dengan judul ”Nusyuz Suami Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif”, rumusan masalah dalam penelitian tersebut adalah: (1) Apakah yang dimaksud dengan nusyuz suami. (2) Apa saja kriteria nusyuz suami dalam perspektif hukum islam.
(3) Apakah faktor penyebab dari nusyuz suami. (4) Apa saja akibat yang
4Ibnu Izzah, Penyelesaian Kasus Nusyuz Menurut Kompilasi Hukum Islam Ditinjau Dari Perspektif Al-Qur’an, Skripsi (Makassar: UIN Alauddin Makassar, 2015), 87
ditimbulkan dari nusyuz suami. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif analitis. Teori yang digunakan adalah Hukum Islam dan Hukum Positif. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa nusyuz secara bahasa adalah sikap tidak patuh dari salah seorang antara suami dan istri. Sedangkan menurut istilah yakni pendurhakaan kepada Allah karena meninggalkan kewajiban suami yang menjadi hak istri. Kriteria nusyuz suami adalah ketidakpedulian, meninggalkan kewajiban, sewenang-wenang, bersikap kasar, bersikap tidak adil, mengusir istri, menuduh istri dan lainnya. Faktor penyebabnya adalah kurangnya pendidikan agama, sifat yang tidak dapat bertanggungjawab, poligami, dan lain sebagainya. Akibat adanya nusyuz suami adalah terlantarnya anak dan istri serta menimbulkan keretakan rumah tangga yang berujung perceraian.5
Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada fokus pembahasan. Fokus pembahasan penelitian diatas adalah analisis nusyuz suami sedangkan fokus penelitian ini adalah analisis pertimbangan pengadilan tentang nusyuz suami. Teori yang digunakan pada penelitian tersebut adalah Hukum Islam dan Hukum Positif. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam.
Ketiga, skripsi yang ditulis oleh Indah Dewi Wulandari (IAIN Jember, 2015) dengan judul, “Rekonsepsi Nusyuz Suami Dalam Hukum
5Hesti Wulandari, Nusyuz Suami Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif, Skripsi (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah,2010) 55
Perkawinan di Indonesia Perspektif Fikih Gender”, rumusan masalah dalam penelitian tersebut adalah: (1) Bagaimana konsep penyelesaian nusyuz dalam fikih klasik. (2) Bagaimana konsep nusyuz berkesetaraan gender dalam fikih kontemporer. (3) Bagaimana penormaan nusyuz suami dalam hukum perkawinan di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian normatif. Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori Fikih Gender. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa dalam fikih klasik upaya untuk menyelesaikan nusyuz adalah dengan beberapa cara yakni menasehati, pisah ranjang, memukul. Jika suami melakukan nusyuz ada dua solusi yang dapat dilakukan isteri yakni mencari pihak ketiga untuk menyelesaikan permasalahan dan atau merelakan haknya.
Dalam fikih kontemporer lebih mempertimbangkan kesetaraan antara suami isteri dalam keluarga. Dalam Undang-Undang No.23 Tahun 2004, fenomena nusyuz suami perlu dimasukkan sebagai norma dalam hukum perkawinan di Indonesia.6
Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada fokus penelitian dan teori penelitian. Penelitian tersebut berfokus pada rekonsepsi nusyuz suami sedangkan penelitian ini berfokus pada analisis putusan mengenai nusyuz suami. Sedangkan teori yang membedakan adalah dalam penelitian tersebut menggunakan Fikih Gender, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI.
6Indah Dewi Wulandari, Rekonsepsi Nusyuz Suami Dalam Hukum Perkawinan di Indonesia Perspektif Fikih Gender, Skripsi (Jember: IAIN Jember, 2015), 91
Keempat, skripsi yang ditulis oleh Astaridha Septi Fenia (Universitas Airlangga, 2007), dengan judul “Nusyuz Sebagai Alasan Perceraian”, rumusan masalah dalam penelitian tersebut adalah: (1) Pengertian nusyuz menurut Hukum Islam dan Hukum Positif Indonesia.
(2) Apa dasar pertimbangan hakim dalam mengabulkan gugatan talak terhadap siteri yang melakukan perbuatan nusyuz. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif. Teori yang digunakan adalah Hukum Islam dan Hukum Positif. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa dalam praktik penyelesaian perkara perkawinan di Pengadilan Agama harus melalui pertimbangan. Sebab nusyuz dikarenakan faktor kesalahan salah satu seorang suami maupun istri dan atau karena ada faktor lain. Jika karena faktor lain maka dapat dikatakan nusyuz. Dalam perbuatan nusyuz isteri yang terbukti dimuka pengadilan maka hak untuk memperoleh mut’ah menjadi gugur.7
Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada fokus analisis. Penelitian tersebut fokus analisisnya terletak pada pertimbangan hakim mengabulkan gugatan talak terhadap isteri yang nusyuz. Sedangkan penelitian ini fokus analisisnya adalah pertimbangan pengadilan terhadap putusan cerai gugat terhadap suami yang nusyuz.
Kelima, skripsi yang ditulis oleh Zulfan (UIN Sumatera Utara, 2017) dengan judul “Konsep Nusyuz Dalam Al-Qur’an (Studi Terhadap Tafsir Al-Ahkam Karya Syaikh Abdul Halim Hasan”, rumusan masalah
7Astaridha Septi Fenia, Nusyuz Sebagai Alasan Perceraian, Skripsi (Surabaya:
Universitas Airlangga, 2007) 43
dalam penelitian tersebut adalah: (1) Apa yang dimaksud dengan nusyuz.
(2) Bagaimana pandangan Syeikh Abdul Halim Hasan tentang nusyuz.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif kepustakaan.
Teori yang digunakan adalah Tafsir Al-Ahkam Karya Syaikh Abdul Halim Hasan. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa nusyuz adalah terangkat atau tertinggi dimana perempuan tidak menjalankan kewajibannya. Penafsiran Abdul Halim Hasan tntang surah An-Nisa Ayat 34 bahwa seorang perempuan yang meninggalkan rumah dan tidak menjalankan kewajibannya terhadap suami berarti ia telah meninggikan dirinya dari suaminya atau ia telah durhaka kepada suaminya.8
Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada fokus penelitian dan teori penelitian, penelitian tersebut berfokus pada konsep nusyuz dalam Al-Qur’an pandangan Syeikh Abdul Halim Hasan sedangkan penelitian ini berfokus pada analisis putusan terhadap nusyuz suami. Sedangkan teori yang membedakan dengan adalah dalam penelitian tersebut menggunakan teori Tafsir Al-Ahkam Karya Syaikh Abdul Halim Hasan. Sedangkan penelitian ini menggunakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam.
F. Metode Penelitian
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif pustaka (library research). Dasar untuk mengembangkan pengetahuan
8Zulfan, Konsep Nusyuz Dalam Al-Qur’an (Studi Terhadap Tafsir Al-Ahkam Karya Syaikh Abdul Halim Hasan, Skripsi (Medan: UIN Sumatera Utara, 2017), 70
penelitian ini adalah dihadapkan langsung dengan data atau teks yang disajikan. Dalam hal ini peneliti berhadapan langsung dengan sumber yang sudah atau siap pakai baik data primer maupun sekunder.
Mendes, Wohlin Felizardo & Kalinowski (2020) mengatakan bahwa proses penelitian kepustakaan dilakukan dengan meninjau literatur dan menganalisis topik relavan yang digabungkan. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dimana pendekatan ini berusaha menggali sumber-sumber yang relavan dengan permasalahan yang dikaji secara mendalam untuk menjawab atau mendeskripsikan pertanyaan penelitian. Perolehan data akan dituangkan dalam bentuk deskriptif.9 Dalam penelitian ini perolehan datanya dengan analisis pustaka. Kemudian dalam penelitian ini menggunakan metode pendekatan penelitian hukum. Salah satu metode pendekatan penelitian hukum adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach).
2. Data dan Sumber Data a) Data
Dalam penyusunan proposal ini untuk memecahkan masalah menjadi bahasan pokok, penulis membutuhkan data-data yakni putusan Pengadilan Agama Kabupaten Madiun mengenai nusyuz suami dalam perakara cerai gugat dari tahun 2018-2022.
9Rizaldy Fatha Pringgar, “Bambang Sujatmiko, Penelitian Kepustakaan (Library Research) Modul Pembelajaran Berbasis Augmented Reality Pada Pembelajaran Siswa”, Jurnal IT-EDU, 5 (2020), 319
b) Sumber data
Penelitian normatif untuk mendapatkan data dapat memakai bahan hukum. Dalam penelitian kualitatif bahan hukumnya dari menelaah literature yang berkaitan dengan penelitian. Sumber data dari penelitian ini dapat dikategorikan sebagai berikut:
1) Bahan hukum primer
Bahan hukum primer diperoleh dari aturan aturan yang mengikat. Bahan hukum primer dalam penelitian ini yaitu putusan Pengadilan Agama Kabupaten Madiun mengenai nusyuz suami dari tahun 2018-2022.
2) Bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang dapat menunjang, mendukung dan memberikan informasi yang berhubungan dengan bahan hukum primer yang meliputi peraturan perundang-undangan maupun karya ilmiah yang berkaitan dengan hukum.
Dalam penelitian menggunakan perundang-undangan dan karya tulis ilmiah yang berkaitan dengan cerai gugat.
3. Teknik Pengumpulan Data
Karena penelitian ini merupakan penelitian pustaka, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengumpulan data literer yaitu dengan mengumpulkan bahan-bahan pustaka yang
berkesinambungan dengan objek pembahasan yang diteliti. Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah putusan Pengadilan Agama Kabupaten Madiun mengenai cerai gugat yakni:
a. Putusan Nomor 0876/Pdt.G/2018/PA.Kab.Mn b. Putusan Nomor 1718/Pdt.G/2019/PA.Kab.Mn c. Putusan Nomor 363/Pdt.G/2020/PA.Kab.Mn d. Putusan Nomor 1064/Pdt.G/2021/PA.Kab.Mn e. Putusan Nomor 238/Pdt.G/2022/PA.Kab.Mn 4. Analisis Data
Teknik analisis data dalam library research merupakan teknik dalam penelitian setelah semua data sudah lengkap. Dalam penelitian ini dilakukan melalui empat tahap yaitu:
a) Data Collection (Pengumpulan Data)
Data yang diperoleh peneliti melalui studi kepustakaan yang sudah lengkap selanjutnya dikumpulkan. Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan putusan Pengadilan Agama Kabupaten Madiun mengenai cerai gugat dari tahun 2018-2022 dan mengumpulkan data pendukung yakni perundang-undangan dan karya tulis ilmiah.
b) Data Reduction (Merangkum)
Seluruh data yang diperoleh dan dikumpulkan dirangkum secara teliti dan rinci. Dalam penelitian ini peneliti merangkum pertimbangan hakim dan dasar hakim dalam putusan cerai gugat.
c) Data Display (Penyajian Data)
Setelah data direduksi, kemudian diuraikan secara singkat. Dalam penelitian ini adalah dengan menguraikan pertimbangan hakim dan dasar hukum hakim dalam putusan cerai gugat. Penyajian data ini akan memudahkan peneliti memahami apa yang terjadi.
d) Conclusion Drawing/Verification
Kemudian langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal tetapi mungkin juga tidak karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah adanya penelitian.10 Dalam penelitian ini, penarikan kesimpulan berdasarkan analisis data putusan serta mengecek ulang kebenaran yang telah ditemukan sehingga dapat diverivikasi valid tidaknya suatu data.
5. Pengecekan Keabsahan Data
Pengecekan keabsahan data untuk menghindari kesalahan dan kekeliruan data yang diperoleh maka dalam penelitian ini pengecekan keabsahan data melalui teknik triangulasi yakni mengonfirmasi kepada kepaniteraan Pengadilan Agama Kabupaten Madiun bahwa sumber
10Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2019) 322
data yang digunakan berasal dari Pengadilan Agama Kabupaten Madiun.
G. Sistematika Pembahasan
Untuk memudahkan pembahasan dalam penelitian, maka peneliti menyusun penelitian ini dengan terarah dan tersusun secara runtut menjadi lima bab dengan sistematika penyusunan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN, dalam bab ini membahas mengenai gambaran secara umum dari seluruh isi yakni meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, studi penelitian terdahulu, kajian teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan penelitian yang diangkat.
BAB II TEORI DAN KONSEP, dalam bab ini membahas mengenai teori yang digunakan. Dimana dalam bab ini akan berbicara mengenai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam sebagai landasan teoritis untuk menganalisis permasalahan yang diangkat dalam penelitian.
BAB III DATA DAN ANALISIS, dalam bab ini membahas mengenai data dan analisis putusan. Data yang digunakan adalah pertimbangan dan dasar hukum hakim dalam memutus perkara-perkara cerai gugat di Pengadilan Agama Kabupaten Madiun dari tahun 2018- 2022. Kemudian, menganalisis pertimbangan dan dasar hukum hakim dalam memutus perkara-perkara cerai di Pengadilan Agama Kabupaten
Madiun dari tahun 2018-2022 perspektif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam.
BAB IV PENUTUP, dalam ini dibahas mengenai kesimpulan yang merupakan jawaban dari rumusan masalah yang telah ditetapkan.
Pada bab ini juga dicantumkan saran peneliti.
22 BAB II
KONSEP UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM
A. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan adalah undang-undang perkawinan pertama di Indonesia dengan asas monogami.
Tujuan pengesahan undang-undang perkawinan ini adalah untuk kodifikasi dan unifikasi hukum perkawinan yang berlaku bagi masyarakat Indonesia, sehingga mempermudah masyarakat dan praktisi hukum dalam menerapkan hukum. Secara umum tujuan pembaharuan hukum keluarga Islam dapat dikelompokkan menjadi tiga yakni unifikasi hukum perkawinan, peningkatan status wanita, dan respon terhadap pembaruan hukum dan menyesuaikan perkembangan zaman.
Adanya unifikasi hukum perkawinan dapat membantu para hakim dalam menyelesaikan perkara dan meminimalisir adanya perbedaan sumber hukum dan putusan dalam kasus yang sama. Adanya peningkatan status wanita adalah untuk lebih memperhatikan kedudukan perempuan dalam keluarga. Adanya respon atas perkembangan zaman adalah dikarenakan konsep fikih yang digunakan sebelum adanya undang-undang perkawinan kurang mampu menjawab permasalahan keluarga sehingga
adanya undang-undang perkawinan ini diharapkan mampu menjawab semua permasalahan keluarga masyarakat Indonesia.1
Perkawinan dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan adalah ikatan lahir batin seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.2 Dalam perkawinan terdapat hak dan kewajiban suami istri yang harus dilaksanakan. Hal ini seringkali menjadi permasalahan dalam rumah tangga yang disebabkan karena kurangnya pemahaman mengenai hak dan kewajiban suami istri. Dalam UU Nomor 1 Tahun 1974, hak dan kewajiban suami istri diatur dalam Bab VI. Dalam pasal 30 dinyatakan bahwa suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.
Sehingga dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 hak dan kewajiban suami istri adalah sebagai berikut:
a. Kewajiban bersama suami istri
Pertama, suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Kedua, suami istri memiliki kewajiban untuk saling mencintai, menghormati, setia dan memberi bantuan lahir dan batin antara satu dengan yang lain. Ketiga, suami istri memikul kewajiban
1Khiyaroh,”Alasan dan Tujuan Lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan”, Al-Qadha, 7 (2020), 11
2Santoso, “Hakekat Perkawinan Menurut Undang-Undang Perkawinan, Hukum Islam dan Hukum Adat”, Jurnal Yudisia, 7 (2016), 413
untuk mengasuh dan memelihara anak-anaknya. Keempat, suami istri wajib memelihara kehormatannya. Kelima, jika suami atau istri lalai terhadap kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatannya kepada pengadilan.
b. Kewajiban suami 1) Membimbing istri;
2) Suami memiliki kewajiban melindungi istrinya dan memberikan segala keperluan rumah tangga sesuai kemampuan:
3) Suami memiliki kewajiban dalam memberikan pendidikan agama kepada istrinya:
4) Suami memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah, kiswah, tempat kediaman bagi istri dan segala biaya dalam rumah tangga.3
Kemudian penjabaran lebih lanjut dipaparkan dalam Bab VI Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 tentang Hak dan Kewajiban Suami-Istri. Dalam Undang-Undang tersebut hak dan kewajiban suami-istri dimuat pada pasal 30 sampai dengan pasal 34.
Penjelasan dari pasal-pasal tersebut adalah sebagai berikut:
Pada Pasal 30, dijelaskan bahwa suami-suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar susunan masyarakat. Dalam hal ini, suami-istri memiliki
3Syaiful Anwar, “Hak dan Kewajiban Suami Istri Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974”, Jurnal Kajian Islam Al Kamal, 1 (2021), 96
kewajiban yang harus dilaksanakan agar dapat menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.
Dalam Pasal 31 dijelaskan bahwa hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat. Kemudian masing-masing pihak baik istri maupun suami berhak untuk melakukan perbuatan hukum. Pasal ini menjelaskan pula bahwa dalam kehidupan rumah tangga suami adalah kepala keluarga yang beranggungjawab atas keluarganya dan istri adalah ibu rumah tangga yang mengelola urusan rumah tangganya.
Dalam Undang ini pada Pasal 32 dijelaskan bahwa suami-istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap. Kediaman yang tetap adalah kediaman atau tempat tinggal yang ditentukan oleh suami-istri untuk ditinggali bersama.
Pada Pasal 33 dijelaskan bahwa suami istri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain. Suami-istri adalah pasangan hidup yang dibina dari adanya perkawinan sehingga suami-istri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin agar mencapai tujuan perkawinan yang bahagia.
Pada pasal 34 dijelaskan bahwa suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya sedangkan istri wajib mengatur urusan rumah
tangga sebaik-baiknya. Dalam hal ini istri harus bisa mengelola dengan baik urusan rumah tangganya. Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan.4
Pertimbangan hakim merupakan rumusan konstruksi berpikir system dari hakim dalam menerapkan hukum in abstracto dalam perkara in concreto dan putusan Pengadilan harus sesuai dengan Pasal 50 ayat (1) Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 yang dinyatakan bahwa: “Putusan Pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar hukum putusan, juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk menjatuhkan putusan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan maka pelaksanaannya harus tunduk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang merupakan unifikasi dibidang hukum perkawinan yang mana perundang-undangan tersebut berlaku bagi setiap warga Negara Indonesia. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dijelaskan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin atara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengna tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pasal 38 dijelaskan perceraian dapat terjadi karena kematian, perceraian, dan karena putusan
4 Ibid, 91
pengadilan. Sedangkan dalam pasal 39 ayat (2) dijelaskan bahwa untuk melakukan perceraian harus ada cukup alsan bahwa antara suami istri itu tidak dapat dirukunkan kembali. Pasal 39 ayat (2) ini dijabarkan lebih lanjut dalam Pasal 19 PP No.9 Tahun 1975 yakni perceraian dapat terjadi dengan alasan:
a. Salah satu pihak melakukan zina, pemabuk, pemadat, penjudi, dan lainnya yang sulit untuk disembuhkan;
b. Meninggalkan salah satu pihak tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kempuannya;
c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;
e. Salah satu pihak cacat badan atau penyakit yang berakibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami istri;
f. Terjadinya perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus dan tidak dapat dirukunkan
Sehingga perceraian hanya dapat diputus jika memenuhi alasan- alasan pereceraian diatas. Alasan-alasan tersebut akan dijadikan sebagai pertimbangan didepan sidang pengadilan guna mewujudkan kepastian hukum yang adil agar hak suami atau istri yang sudah ditentukan dalam
undang-undang dapat terlindungi dan kemudian dijadikan dasar hukum hakim dalam memutus perkara.5
Dasar hukum hakim dalam memutus perkara tidak tercantum dalam Undang-Undang Perkawinan maupun Kompilasi Hukum Islam. Prinsip kebebasan hakim dalam menjalankan tugasnya sebagai pihak yang mengadili suatu perkara dapat dimaknasi bahwa hakim dalam menjalankan amanat dari pasal 24 ayat (1) UUD 1975 yakni sebagai pelaku penyelenggara kekuasaan kehakiman tidak boleh terikat dengan apapun.
Dalam menangani atau memutus suatu perkara, hakim bersifat bebas dalam memeriksa, mengadili dan memutus perkara. Kebebasan hakim ialah kebebasan dalam konteks kebebasan lembaga peradilan. Tetapi karena dalam penelitian ini berkaitan dengan perceraian dalam perkawinan maka hakim dalam mengambil dasar hukum didasarkan pada nilai-nilai keadilan. Nilai-nilai keadilan ini dapat ditemukan dalam fakta-fakta dalam persidangan sehingga hakim dapat menyimpulkan perkara tersebut dapat dikabulkan atau ditolak berdasarkan Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam.
B. Kompilasi Hukum Islam
Kompilasi Hukum Islam secara etimologi berasal dari bahasa Inggris “compilation” yang bermakna karangan tersusun dari kutipan- kutipan buku-buku lain. Kemudian dalam bahasa latin adalah “compilare”
yang artinya mengumpulkan bersama-sama, misalnya mengumpulkan
5 Muhammad Syarifuddin, Hukum Perceraian, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), 211
berbagai peraturan yang berserakan. Kompilasi Hukum Islam menurut Wahyu Widiana adalah sekumpulan materi hukum Islam yang ditulis pasal demi pasal yang berjumlah 229 pasal yang terdiri dari hukum perkawinan, hukum kewarisan, dan hukum perwakafan. Kompilasi Hukum Islam merupakan sumber hukum pendukung utama dalam memeriksa dan memutuskan setiap perkara di Pengadilan Agama sehingga Kompilasi Hukum Islam dapat dijadikan sebagai pedoman, landasan, dan pegangan hakim-hakim di Pengadilan Agama.6 Dalam Kompilasi Hukum Islam hak dan kewajiban suami istri terdapat dalam Bab XII KHI yang mana penjabarannya adalah sebagai berikut:
Pada Pasal 77 suami-istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah yang menjadi dasar dari susunan masyarakat. Hal ini sesuai dengan tujuan perkawinan yakni membentuk keluarga yang bahagia lahir batin. Dalam membentuk keluarga yang bahgia tersebut, suami-istri juga wajib saling cinta-mencintai, hormat-menghormati, setia, dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain. Suami-istri harus saling mengasihi satu sama lain dalam kehidupan berumah tangga. Suami-istri juga mempunyai kewajiban untuk mengasuh dan memelihara anak-anak mereka dengan baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani, maupun kecerdasannya dan pendidikan agamanya. Sehingga suami-istri harus memberikan pola asuh dan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Dalam pasal 77 ini
6Dadang Hermawan dan Sumardjo, Kompilasi Hukum Islam Sebagai Hukum Materiil Pada Peradilan Agama, Jurnal Yudisia, 6 (2015), 27
suami-istri berkewajiban untuk memelihara kehormatannya dari perbuatan-perbuatan dosa yang menyebabkan kehancuran dalam rumah tangga. Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya, masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama.
Suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap. Rumah kediaman yang tetap tersebut ditentukan bersama oleh suami-istri. Tempat kediaman yang dimaksud bisa dengan bertempat tinggal di kediaman orangtua suami, di kediaman orangtua istri, atau dengan membangun tempat kediaman bersama sesuai dengan Pasal 78.
Kemudian Pasal 79 dijelaskan bahwa dalam kehidupan berumah tangga suami adalah kepala keluarga yang bertanggungjawab penuh atas keluarganya dan istri adalah ibu rumah tangga yang mengelola rumah tangganya dan bertanggungjawab dalam mendidik anak-anaknya. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.
Kedua pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.
Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangganya, akan tetapi mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh suami-istri bersama sesuai Pasal 80. Suami juga memiliki kewajiban untuk melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangganya sesuai dengan kemampuannya. Suami wajib memberikan pendidikan agama kepada istrinya dan memberi
kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsanya.
Suami berkewajiban menanggung hal-hal tersebut ketika istri mulai menetap dan tinggal bersama suaminya. Maksudnya, suami berkewajiban memberikan nafkah, kiswah atau pakaian, tempat kediaman, pembiayaan setelah istri tinggal menetap bersama suaminya usai akad nikah. Meskipun begitu, istri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban terhadap dirinya dan kewajiban suami dapat gugur apabila istri nusyuz.
Pasal 81 dijelaskan bahwa suami wajib menyediakan tempat kediaman bagi istri dan anak-anaknya atau bekas istri yang masih dalam iddah. Tempat kediaman tersebut adalah tempat tinggal yang layak untuk istri selama dalam ikatan perkawinan, atau dalam iddah talak atau iddah wafat. Tempat kediaman disediakan untuk melindungi istri dan anak- anaknya dari gangguan pihak lain, sehingga mereka merasa aman dan tenteram. Tempat kediaman juga berfungsi sebagai tempat menyimpan harta kekayaan, sebagai tempat menata dan mengatur alat-alat rumah tangganya. Suami wajib melengkapi tempat kediaman sesuai dengan kemampuannya serta sesuai dengan keadaan lingkungan tempat tinggalnya, baik berupa alat perlengkapan rumah tangga maupun sarana penunjang lainnya.
Untuk suami yang mempunyai istri lebih seorang sesuai dengan pasal 82 berkewajiban memberikan tempat tinggal dan biaya hidup kepada masing-masing istri secara berimbang menurut besar kecilnya jumlah
keluarga yang ditanggung masing-masing istri, kecuali jika ada perjanjian perkawinan. Sehingga ketika dalam perkawinan tidak ada perjanjian perkawinan, suami yang berpoligami wajib memberikan tempat tinggal dan biaya hidup kepada masing-masing istri secara adil. Tetapi jika para istri rela dan ikhlas, suami dapat menempatkan istrinya dalam satu tempat kediaman.
Kewajiban utama bagi seorang istri ialah berbakti lahir dan batin kepada suami di dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum Islam.
Istri harus dapat mengelola dan mengatur keperluan rumah tangga sehari- hari dengan sebaik-baiknya sesuai Pasal 83 KHI.
Pada Pasal 84 istri dapat dianggap nusyuz jika ia tidak mau melaksanakan kewajiban-kewajiban yakni berbakti lahir dan batin kepada suami kecuali dengan alasan yang sah. Selama istri dalam nusyuz, kewajiban suami terhadap istrinya dalam memberikan nafkah, kiswah, tempat kediaman, biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri tidak berlaku kecuali hal-hal untuk kepentingan anaknya. Kewajiban suami berlaku kembali sesudah istri tidak nusyuz.
Akan tetapi letentuan tentang ada atau tidaknya nusyuz dari istri harus didasarkan atas bukti yang sah.7
Dalam Kompilasi Hukum Islam pertimbangan hakim dalam memutus perkara didasarkan pada pasal 116 Kompilasi Hukum Islam yakni:
7 Mahkamah Agung RI, “Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Yang Berkaitan Dengan Kompilasi Hukum Islam Serta Pengertian Dalam Pembahasannya, 2011, 82.
a. Salah satu pihak melakukan zina, pemabuk, pemadat, penjudi, dan lainnya yang sulit untuk disembuhkan;
b. Meninggalkan salah satu pihak tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kempuannya;
c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;
e. Salah satu pihak cacat badan atau penyakit yang berakibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami istri;
f. Terjadinya perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus dan tidak dapat dirukunkan
g. Suami melanggar taklik talak dan karena peralihan agama atau murtad.
34 BAB III
DATA DAN ANALISIS TERHADAP PUTUSAN HAKIM TENTANG CERAI GUGAT DI PENGADILAN AGAMA KABUPATEN MADIUN
TAHUN 2018-2022
A. Pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun Dalam Memutus Perkara Cerai Gugat Dari Tahun 2018-2022
1. Pertimbangan Hakim Dalam Putusan
a. Putusan Perkara Nomor 0876/Pdt.G/2018/PA.Kab.Mn
Dalam putusan ini memuat perkara Cerai Gugat yang diajukan Penggugat berumur 30 tahun yang bekerja sebagai Guru GTT dan bertempat tinggal di Kabupaten Madiun untuk melawan Tergugat yang berumur 34 tahun yang bekerja sebagai Pedagang dan bertempat tinggal di Kabupaten Madiun. Dalam perkara ini, pertimbangan hakim adalah melalui fakta-fakta yang terungkap selama proses persidangan yakni Penggugat dan Tergugat adalah suami istri yang menikah pada tanggal 28 Februari 2009 dan telah dikaruniai seorang anak. Awalnya keadaan rumah tangga keduanya berjalan harmonis tetapi sekarang Penggugat dan Tergugat telah pisah rumah selama 7 tahun 6 bulan. Penggugat memilih untuk kembali ke rumah orangtuanya. Pisah rumah ini dikarenakan adanya masalah ekonomi yang mana Tergugat tidak memberikan nafkah kepada Penggugat. Tergugat mempunyai sifat temperamental dan sering marah-marah hingga melakukan
kekerasan. Selama pisah rumah para saksi telah berupaya merukunkan keduanya tetapi tidak berhasil. Sehingga hakim menilai bahwa rumah tangga Penggugat dan Tergugat sudah retak dan sulit jika disatukan kembali yang terbukti keduanya telah pisah rumah selama 7 tahun 6 bulan tanpa danya nafkah akibat sering terjadi pertengkaran dan selama itu keduanya telah diupayakan untuk kembali rukun tetapi tidak berhasil.
b. Putusan Perkara Nomor 1718/Pdt/G/2019/PA.Kab.Mn
Dalam putusan ini memuat perkara cerai gugat yang diajukan Penggugat berumur 26 tahun yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita dan bertempat tinggal di Kabupaten Madiun untuk melawan Tergugat berumur 30 tahun yang bekerja sebagai wiraswasta dan bertempat tinggal di Kabupaten Madiun. Dari perkara ini, pertimbangan hakim adalah berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam proses persidangan yakni Penggugat dan Tergugat adalah suami istri yang menikah pada tanggal 07 April 2012 di Kantor Urusan Agama Kecamatan Kare Kabupaten Madiun. Setelah menikah Penggugat dan Tergugat tinggal bersama di rumah orangtua Penggugat dan telah dikaruniai seorang anak perempuan. Sejak tahun 2013 rumah tangga Penggugat dan Tergugat sering terjadi perselisihan dan pertengkaran terus menerus yang penyebabnya adalah masalah ekonomi. Tergugat tidak memberikan nafkah kepada Penggugat. Disamping itu,
Tergugat kasar, ringan tangan, dan sering melakukan tindakan KDRT dan sering mengucap cerai kepada Penggugat. Dari pertengkaran tersebut Penggugat dan Tergugat pisah rumah sejak tahun 2017 (2 tahun 6 bulan). Pihak keluarga telah berupaya merukunkan keduanya tetapi tidak berhasi Tergugat yang berakibat terjadinya pisah rumah selama 2 tahun 6 bulan disertai putusnya komunikasi. Hal ini membuktikan bahwa keadaan rumah tangga Penggugat dan Tergugat sudah retak dan tidak dapat dirukunkan kembali sehingga tujuan perkawinan dalam Pasal 1 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 dan Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam tidak mungkin lagi dapat terwujud.
c. Putusan Perkara Nomor 363/Pdt.G/2020/PA.Kab.Mn.
Dalam putusan ini memuat perkara cerai gugat yang diajukan Penggugat berumur 58 tahun yang bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga dan bertempat tinggal di Kabupaten Madiun untuk melawan Tergugat berumur 72 tahun yang bekerja sebagai petani dan bertempat tinggal di Kabupaten Madiun. Dari perkara ini, pertimbangan hakim adalah berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam proses persidangan yakni Penggugat dan Tergugat adalah suami istri yang menikah pada tanggal 31 Juli 1997 yang tercatat di KUA Kecamatan Dagangan Madiun. Sejak
awal menkah rumah tangga keduanya kurang harmonis karena antara Penggugat dan Tergugat sering terjadi perselisihan yang penyebabnya adalah masalah ekonomi dimana Tergugat tidak menjalankan kewajibannya memberikan nafkah kepada Penggugat.
Puncak dari perselisihan tersebut mengakibatkan terjadinya pisah tempat tinggal selama 13 tahun. Para saksi telah berupaya mendamaikan keduanya tetapi tidak berhasil. Dari uraian fakta- fakta tersebut hakim menilai bahwa rumah tangga Penggugat dan Tergugat sudah retak dan sulit untuk disatukan kembali bahkan Penggugat telah menampakkan kebulatan tekadnya untuk bercerai dengan tergugat.
d. Putusan Perkara Nomor 1064/Pdt.G/2021/PA.Kab.Mn
Dalam putusan ini memuat perkara cerai gugat yang diajukan Penggugat berumur 24 tahun yang bekerja sebagai Karyawati Swasta dan bertempat tinggal di Kabupaten Madiun untuk melawan Tergugat berumur 30 tahun yang bekerja sebagai Karyawan Swasta dan bertempat tinggal di Kabupaten Madiun.
Dari perkara ini, pertimbangan hakim adalah berdasarkan fakta- fakta yang terungkap dalam proses persidangan yakni Penggugat dan Tergugat adalah suami istri yang menikah pada tanggal 26 Agustus 2014 dan dikaruniai 2 orang anak. Sejak Penggugat Desember 2017 sering terjadi perselisihan dan pertengkaran secara terus menerus karena masalah ekonomi keluarga dimana Tergugat
lalai akan kewajibannya menafkahi keluarga, uang hasil kerja Tergugat hanya digunakan Tergugat sendiri tanpa mau mendahulukan kebutuhan keluarganya dan Tergugat telah melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sehingga hakim menilai adanya disharmonisasi dalam rumah tangga. Puncak perselisihan antara Penggugat dan Tergugat mengakibatkan terjadinya pisah tempat tinggal selama 4 tahun 9 bulan dan tidak terbangun komunikasi yang baik bahkan Tergugat sudah tidak pernah menghiraukan dan memperdulikan Penggugat sehingga hakim menilai bahwa rumah tangga keduanya tidak dapat dirukunkan kembali. Pengadilan telah berupaya mendamaikan suami istri tetapi tidak berhasil. Hal ini ditunjukkan dengan Majelis Hakim berupaya memberikan nasehat kepada Penggugat agar rukun kembali dengan Tergugat pada setiap persidangan sesuai ketentuan Pasal 31 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan tidak berhasil begitupun upaya mediasi. Dari pertimbangan- pertimbangan hakim tersebut diketahui bahwa gugatan Penggugat beserta alasan-alasan dan bukti yang diberikan bahwa rumah tangga Penggugat dan Tergugat sudah hancur berantakan jika dipertahankan akan menimbulkan kesusahan dan kesengsaraan terus menerus sehingga memutuskan ikatan perkawinan akan diperoleh maslahah bagi kedua belah pihak.
e. Putusan Perkara Nomor 238/Pdt.G/2022/PA.Kab.Mn.
Dalam putusan ini memuat perkara cerai gugat yang diajukan Penggugat berumur 23 tahun yang bekerja sebagai Karyawati Swasta dan bertempat tinggal di Kabupaten Madiun untuk melawan Tergugat berumur 25 tahun yang bekerja sebagai Buruh Pabrik dan bertempat tinggal di Kabupaten Madiun. Dari perkara ini, pertimbangan hakim adalah berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam proses persidangan yakni Penggugat dan Tergugat adalah suami istri yang menikah pada tanggal 01 Januari 2021 yang tercatat di KUA Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun.
Sejak Februari 2021 mulai goyah dan sering terjadi perselisihan dan pertengakaran yang penyebabnya adalah masalah ekonomi.
Tergugat tidak bertanggubgjawab atas nafkah kepada Penggugat, Tergugat tidak jujur dengan hasil kerjanya, hasil kerja Tergugat hanya dipergunakan untuk kepentingan pribadi Tergugat sehingga Penggugat harus dibantu orangtua Penggugat dalam mencukupi kebutuhan Penggugat. Tergugat seringkali mengucapkan kata cerai kepada Penggugat pada saat terjadi perselisihan, kerena itu hakim menilai adanya disharminisasi dalam rumah tangga keduanya.
Puncak perselisihan dan pertengkaran antara Penggugat dan Tergugat menyebabkan pada bulan Februari 2021 antara Penggugat dan Tergugat pisah tempat tinggal selama 1 tahun dan selama itu Tergugat sudah tidak pernah menjalankan kewajibannya atas
nafkah lahir maupun batin kepada Penggugat dan tidak terbangun komunikasi yang baik bahkan Tergugat sudah tidak pernah memperdulikan Penggugat. Sehingga hakim berpendapat bahwa rumah tangga antara Penggugat dan Tergugat tidak dapat dirukunkan kembali. Pengadilan telah berupaya mendamaikan suami istri tetapi tidak berhasil. Hal ini ditunjukkan dengan Majelis Hakim berupaya memberikan nasehat kepada Penggugat agar rukun kembali dengan Tergugat pada setiap persidangan sesuai ketentuan Pasal 31 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan tidak berhasil begitupun upaya mediasi. Dari pertimbangan- pertimbangan hakim tersebut diketahui bahwa gugatan Penggugat beserta alasan-alasan dan bukti yang diberikan bahwa rumah tangga Penggugat dan Tergugat sudah hancur berantakan jika dipertahankan akan menimbulkan kesusahan dan kesengsaraan terus menerus sehingga memutuskan ikatan perkawinan akan diperoleh maslahah bagi kedua belah pihak
2. Analisis Terhadap Pertimbangan Hakim Ditinjau Dari Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam
a) Analisis Putusan Nomor 0876/Pdt.G/2018/PA.Kab.Mn
Analisa putusan Pengadilan Agama Negeri Madiun Nomor 0876/Pdt.G/2018/PA.Kab.Mn Penggugat dan Tergugat yang merupakan suami istri sah yang menikah pada tanggal 28 Februari 2009. Dalam perkara ini pertimbangan hakim merujuk pada fakta-
fakta yang ditemukan dalam persidangan bahwa Tergugat tidak pernah memberi nafkah kepada Penggugat sedangkan memberikan nafkah kepada istri merupakan kewajiban suami sehingga dengan tidak memberikan nafkah kepada istri, suami sudah menelantarkan istri beserta anaknya. Tergugat mempunyai sifat temperamental dan sering marah-marah kepada Penggugat padahal masalah yang timbul tidak besar dan Tergugat pernah melakukan penganiayaan dengan menarik rambut dan mendorong Penggugat. Tergugat tidak dapat mencontohkan hal-hal baik kepada keluarganya, sedangkan suami adalah kepala rumah tangga yang harus membimbing, mendidik, dan mengajarkan kebaikan kepada keluarganya. Suami juga menjadi panutan utama dalam rumah tangganya. Hal-hal tersebut menyebabkan Penggugat sudah tidak sanggup lagi untuk mempertahankan rumah tangganya dan memilih untuk mengajukan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama Negeri Madiun, sehingga dalam kasus ini penulis menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Penggugat adalah solusi akhir untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangganya.
Dalam perkara ini penulis menganalisis bahwa penilaian hakim yang menyatakan rumah tangga Penggugat dan Tergugat sudah retak dan sulit untuk bersatu kembali adalah benar sebab Penggugat dan Tergugat sudah pisah rumah selama kurang lebih 7 tahun 6 bulan tanpa adanya nafkah dari Tergugat dan sering terjadi
perselisihan dalam rumah tangganya yang sulit untuk dirukunkan.
Pertimbangan hakim dalam perkara ini mengacu pada Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jo.
Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam yakni membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, yang mana rumah tangga antara Penggugat dan Tergugat telah bertentangan dengan tujuan perkawinan tersebut. Tujuan perkawinan adalah untuk menyempurnakan perkawinan itu sendiri, sehingga terbentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.
Jika dalam rumah tangga terjadi perselisihan secara terus menerus maka tujuan dari adanya perkawinan tersebut tidak tercapai. Dalam putusan hakim mengabulkan gugatan Penggugat secara verstek.
Analisis penulis dalam perkara ini bahwa pertimbangan hakim berdasarkan fakta-fakta yang ditemui dalam persidangan.
Ada banyak hal yang menyebabkan hakim mengabulkan gugatan Penggugat yakni adanya perselisihan secara terus menerus yang menjadi fakta tersendiri sesuai dengan huruf (f) Undang-Undang Perkawinan dan pasal 116 KHI mengenai alasan-alasan dapat diajukannya gugatan perceraian. Fakta selanjutnya adalah adanya kekerasan dalam rumah tangga yang kemudian dijadikan sebagai alasan perceraian huruf (d) Undang-Undang Perkawinan tetapi dalam perkara ini tidak dicantumkan huruf (d) yang menjadi alasan perceraian. Hakim juga sudah menasehati Tergugat sesuai dengan
ketentuan pasal 82 UU Nomor 50 Tahun 2009 namun tidak berhasil. Dari pasal yang digunakan dalam sidang perdamaian dapat diketahui jika tidak merujuk pada pasal 39 ayat (1) dan (2) PP Nomor 9 tahun 1975 dan pasal 115 KHI. Dalam perkara ini hakim melihat bahwa rumah tangga anatara Penggugat tidak dapat disatukan kembali sehingga tujuan perkawinan dalam Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan tidak terpenuhi maka hakim mengabulkan gugatan ini.
b) Analisis Putusan Nomor 1718/Pdt.G/2019/PA.Kab.Mn
Analisis penulis terhadap Putusan Pengadilan Agama Negeri Madiun Nomor 1718/Pdt.G/2019/PA.Kab.Mn adalah permasalahan terjadi dikarenakan faktor nusyuz dari suami yakni Tergugat kurang mencukupi nafkah lahir kepada Penggugat, Tergugat kurang merasa tanggungjawab kepada Penggugat untuk menafkahi istrinya, Tergugat sering kasar, ringan tangan serta sering melakukan tindakan KDRT, Tergugat sering mengucapkan kata talak dan cerai kepada Penggugat, Tergugat juga tidak dapat menjaga hubungan baik dengan Penggugat dan tidak bisa mencerminkan rasa dan sikap kasih sayangnya kepada Penggugat selama Penggugat diluar negeri. Tergugat tidak peduli lagi dengan kehidupan Penggugat. Hal-hal tersebut menyebabkan Penggugat menderita lahir batin dan sudah tidak sanggup lagi untuk mempertahankan rumah tangganya dan memilih untuk mengajukan
gugatan perceraian ke Pengadilan Agama Negeri Madiun, sehingga dalam kasus ini penulis menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Penggugat adalah solusi dan jalan terbaik untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangganya dan untuk menghindarkan diri dari kesulitan-kesulitan yang lebih besar.
Gugatan cerai yang diajukan Penggugat telah memenuhi alasan perceraian sebagiamana Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. PP Nomor 9 Tahun 1975 Pasal 19 huruf (f) jo. Kompilasi Hukum Islam Pasal 116 huruf (f). Sehingga perkara ini dapat diperiksa, diadili dan diputuskan. Pada sidang-sidang yang telah ditentukan Penggugat diwakili oleh kuasa hukumnya hadir di muka siding sedangkan Tergugat hanya pernah hadir dalam siding perdamaian dan tidak lag hadir dalam sidang-sidang berikutnya.
Dalam sidang perdamaian, upaya damai yang dilakukan oleh Majelis Hakim untuk mendamaikan antara Penggugat dan Tergugat tidak berhasil.Bahkan Penggugat dan Tergugat telah menempuh pula mediasi (upaya perdamaian di luar sidang) sesuai dengan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan namun juga tidak berhasil.
Pertimbangan hakim berdasarkan gugatan Penggugat adalah adanya perselisihan dan pertengkaran dalam rumah tangga Penggugat dan Tergugat yang terjadi secara terus menerus dan tidak dapat didamaikan karena faktor ekonomi yang mana
Tergugat jarang memberi nafkah kepada istri dan anaknya karena Tergugat tidak bekerja. Hal ini berakibat terjadinya pisah rumah antara Penggugat dan Tergugat selama kurang lebih 2 tahun 6 bulan dan disertai putusnya komunikasi. Sehingga dalam hal hakim menimbang bahwa perceraian dipandang lebih membawa maslahah bagi kedua belah pihak dan untuk melepaskan penderitaan yang dialami oleh keduanya. Sehingga dapat disimpulkan:
a. Duduk perkara atau alasan Penggugat mengajukan perceraian adalah:
1) Tergugat kurang mencukupi nafkah lahir kepada Penggugat;
2) Tergugat kurang memiliki rasa tanggungjawab untuk menafkahi Penggugat;
3) Tergugat melakukan perbuatan kasar, ringan tangan, serta sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga;
4) Tergugat sering mengucapkan talak dan cerai kepada Penggugat.
b. Putusan hakim dalam perkara ini adalah bahwa Penggugat dan Tergugat adalah suami istri sah yang menikah pada tanggal 07 April 2012.
Dalam putusan hakim atau petitum yaitu:
1) Mengabulkan gugatan Penggugat secara verstek;