• Tidak ada hasil yang ditemukan

(1)ANALISIS RISIKO KEUANGAN DAN PENJUALAN TERHADAP PERTUMBUHAN LABA PADA PT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "(1)ANALISIS RISIKO KEUANGAN DAN PENJUALAN TERHADAP PERTUMBUHAN LABA PADA PT"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS RISIKO KEUANGAN DAN PENJUALAN TERHADAP PERTUMBUHAN LABA PADA PT. MINASA UPA PERSADA MAKASSAR

Reni Kurnia1, Andi Zainal Abidin2, Abdul Sumarlin3

1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar

1[email protected], 2aza,[email protected], 3[email protected]

ABSTRACT

The research aimed to find out the influence of financial risk and selling towards the profit growth at PT.

Minasa Upa Persada Makassar. The research data was qualitative and quantitative. The data source was primary and secondary data. The technique of data analysis used was systematic multiple linear regression. The result of data analysis by using multiple linear regression showed that the financial risk variable did not influence the profit growth. Based on the result and discussion, it shows that there was no significant influence between financial risk and selling towards the profit growth, it means there was no linear correlation between the financial towards the profit growth.

Keywords: Financial risk, Selling, Profit growth.

PENDAHULUAN

Era globalisasi ekonomi ditandai dengan ketatnya persaingan dan semakin menguatnya kecendrungan hubungan perekonomian antar negara. Perusahaan harus senantiasa meningkatkan daya saingnya dengaan cara memperbaharui kualitas sumber daya manusia, kebijakan dan teknologi, serta membangun kerja sama dengan semua pihak agar dapat memenangkan persaingan.

Seiring dengan laju perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi, dunia bisnis mau tidak mau telah mengalami perubahan yaitu era persaingan industri menuju era persaingan informasi. Perusahaan harus dapat beradaptasi dengan bisnis global yang senantiasa berubah dan mampu bersaing dalam pasar internasional.

Persaingan yang kompetitif ini, diperlukan sebuah strategi baru yang dalam pelaksanaannya membutuhkan suatu kinerja, yang berguna untuk melihat berhasil tidaknya strategi baru tersebut. Pengukuran kinerja yang selama ini telah telah digunakan oleh banyak perusahaan hanyalah ditinjau dari aspek keuangannya saja, mengingat data yang dibutuhkan untuk pengukuran tersebut bisa langsung diperoleh melalui laporan keuangan dan bersifat kuantitatif. Tetapi pengukuran kinerja tersebut memiliki keterbatasan karena tidak mampu mengukur harta tidak berwujud

dan harta intelektual, padahal merupakan salah satu faktor penting yang menunjang keberhasilan perusahan dalam lingkungan persaingan bisnis dewasa ini. Mungkin pihak manajemen berhasil memaksimalkan laba atau menghasilkan rasio keuangan perusahaan yang baik, tetapi pengukuran tersebut hanya berguna untuk tujuan jangka pendek saja tanpa memperhatikan bagaimana kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang.

Perusahaan yang baik untuk para investor dan memperlihatkan bawah perusahan memiliki risiko keuangan yang rendah serta memberikan implementasi lebih, seperti kenaikan bonus yang seringkali menjadi alasan manajemen untuk melakukan praktik peralatan laba. Di lain pihak, tuntutan untuk memuaskan kepentingan pemegang saham seperti menaikan nilai perusahan dan meningkatkan kepuasan relasi bisnis serta untuk memberikan estemasi yang positif tentang kemampuan manajemen eksternal untuk mengelola manajemen perusahaan menjadi tujuan manajemen untuk melakukan praktik peralatan laba. Perusahaan pada umumnya adalah memaksimumkan nilai perusahaan (frim value) sehingga dapat menarik investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan tersebut nilai perusahaan dapat diukur dengan market value yaitu harga saham diakhir tahun (Chen et al 2015). Nilai perusahaan adalah harga suatu perusahaan yang bersedia dibayar oleh

(2)

investor apabila dijual.Salah satu aspek finansial yang mempengaruhi nilai perusahaan adalah risiko keuangan.Penjualan dan laba merupakan dua elemen pokok dalam penyusunan laporan laba rugi sebuah perusahaan. Didalam menjalankan operasinya sebuah perusahaan manajemen akan berupaya memperoleh dan mengalokasikan sumber daya dengan cara yang paling murah dari segi biaya dan paling banyak memberikan manfaat dalam pencapaian tujuan perusahaan. Pemahaman mengenai aplikasi konsep penjualan dalam laba dapat digunakan oleh manajemen sebagai dasar untuk merencanakan komposisi tingkat penjualan dan laba yang menguntungkan.

Sebagai komponen yang saling berhubungan, penjualan dan laba harus berada pada titik yang optimal.laba dapat diterapkan dalam hal menentukan harga jual dan menentukan berapa banyak unit produk baru harus di jual agar mencapai penjualan dengan menentukan berapa banyak tambahan yang diperlukan untuk mencapai tingkat laba yang diharapkan.

PT. Minasa Upa Persada Makassar adalah perusahaan yang bergerak dibidang perumahan, melihat banyaknya pesaing dibidang yang sama PT. Minasa Upa Persada Makassar berupaya menerapkan strategi pemasaran yang efektif dengan tujuan merebut pangsa pasar dari para pesaingnya, untuk dapat mencapai laba yang diperkirakan. laba per tahun PT. Minasa Upa Persada Makassar berfluktuasi.

TINJAUAN LITERATUR

Ada banyak defenisi risiko (risik).

Risiko dapat ditafsirkan sebagai bentuk keadaan ketidakpastian tentang suatu keadaan yang akan terjadi nantinya (future) dengan keputusan yang diambil berdasarkan berbagai pertimbangan yang terjadi pada saat ini.

Menurut Fahmi (2015), mendefenisikan risiko pada tiga hal, (a). Keadaan yang mengarahkan kepada kesimpulan hasil khusus, dimana hasinya dapat diperoleh dengan kemungkinan yang telah diketahui oleh pengambilan keputusan, (b). Variasi dalam keuntungan, penjual, atau variabel keuangan lainnya, dan (c). Kemungkinan dari sebuah masalah keuangan yang mempengaruhi kinerja operasi perusahaan atau posisi keuangan, seperti risiko ekonomi ketidak pastian politik, dan masalah industri.Lebih jauh Irham Fahmi (2015), menjelaskan pengetian pengaruh risiko

adalah peroses pengukuran dan penganalisaan risiko disatukan dengan keputusan keuangan dan investasi. Menurut Brigham & Houston, (2006), Risiko keuangan (financial risik) adalah tambahan risiko yang dibebankan kepada pemegang saham biasa sebagai hasil dari keputusan untuk mendapatkan pendanaan melalui hutang. Menurut Sujarweni (2017), Keuangan adalah suatu aktivitas yang dilakukan dengan usaha-usaha untuk memperoleh dana dengan biaya-biaya yang diatur seminimal mungkin dan mengelola dana tersebut secara efektif untuk mencapai tujuan perusahaan. Manajemen keuangan dalam suatau perusahaan memiliki peran penting dalam berbagai kegiatan keuangan, diantaranya: (a). Untuk membuat rencana pemasukan dan pengeluaran serta kegiatan- kegiatan lainnya dalam periode tertentu. (b).

Sebagai tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran dan pemasukan. (c). Sebagai upaya pengelolaan keuangan sehingga dana dapat digunakan secara maksimal dengan berbagai cara. (d). Untuk mencari dan mengeksplotasi sumber dana yang ada untuk operasional kegiatan perusahaan. (e). Untuk mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dana tersebut dengan aman. (f).

Untuk melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada perusahaan. (g). Untuk melakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada agar tidak terjadi penyimpangan manajemen keuangan tak sekedar mencatat akuntansi, akan tetapi ia adalah bagian dari pekerjaan orang keuangan.

Menurut Sina (2017), Risiko keuangan akan diartikan sebagai kondisi ketidak mampuan untuk memenuhi beragam kebutuhan hidup. Berpijak pada defenisi tersebut tanpak bahwa risiko keuangan merupakan suatu hal yang membuat kehidupan orang menjadi tak menentu dan berpeluang mengalami kesulitan keuangan.

Menurut Reni Maralis & Aris Triyono (2019): faktor yang mempengaruhi risiko keuangan (a). Biaya yang berlebihan, Biaya yang tinggi akan menyebabkan harga pokok produk menjadi tinggi yang selanjutnya harga jualpun menjadi tinggi. Harga jual yang tinggi akan menyebabkan konsumen tidak tertarik dan perusahaan akan kalah dengan persaingan harga. Biaya yang tinggi bias terjadi pada berbagai komponen biaya dan bias disebabkan

(3)

oleh berbagai factor, seperti: (1). Perusahaan terlalu kecil sehingga tidak mencapai skala usaha yang ekonomis, sehingga biaya perunit produk mahal. (2). Perusahaan memliki kapasitas yang besar, tetapi tidak beroperasi pada full capacity (tidak beroperasi pada kapasitas.yang optimal), akibatnya, biaya overhead (biaya–biaya) tetap tinggi. (3).

Perusahaan tidak menerapkan perencanaan dan pengendalian persediaan bahan, barang dalam proses maupun produk jadi yang baik, sehingga persedian terlalu besar atau terlalu kecil. Hal ini berarti biaya–biaya yang berkaitan dengan persediaan menjadi tinggi.

(4). System manajemen mutu perusahaan tidak baik, sehingga jumlah produk cacat/produk yang tidak memenuhi standar tinggi, bias juga biaya–biaya pemeriksaan terlalu tinggi (5).

Mesin–mesin sudah tua, sudah melampaui umur ekonomisnya atau system pemeliharaan mesin tidak baik sehingga sering terjadi kerusakan mesin sehingga akibatnya perbaikan tinggi. (6). Adanya kecurangan pada bagian pembelian, dan bagian–bagian lainnya sehingga terjadi kebocoran keuangan. (7).

Biaya distribusi dan promosi terlalu tinggi. (a).

Harga yang tidak menguntungkan Perusahaan menjual produknya dengan harga yang terlalu murah.Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti persyaratan pinjaman dan risiko–risiko bila terjadi masalah dalam pengembalian pinjamannya. Khususnya jika terjadi krisis keuangan ada beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain: (1). Menekan aliran uang keluar dari perusahaan, melalui tindakan:

1. Menghentikan pembelian yang tidak esensial terhadap kelangsungan jangka pendek perusahaan. 2. Tutup kegiatan-kegiatan yang banyak mengeluarkan biaya. 3. Kurangi ongkos–ongkos untuk kegiatan yang tidak produktif. 4. Kumpulkan piutang yang penting.

5. Menjual aset atau devisi yang kurang berproduktif. 6. Kembangkan rencana–rencana mendesak agar perusahaan tetap hidup. 7.

Berkomunikasi dengan bank dan kreditur lainnya.

Pertumbuhan Laba, Menurut Sujarweni (2017), laba merupakan tujuan utama perusahaan yang berorentasi profit. Sehingga akuntansi manajemen perlu melakukan perencanaan laba pada produk yang akan dijual.Untuk merencanakan laba perlu mengadakan pengamatan kemungkinan faktor- faktor yang dapat mempengaruhi laba perusahaan. Ada tiga faktor yang

mempengaruhi laba perusahaan yaitu: a).

Biaya, Biaya dalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang dalam usahanya untuk mendapatkan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu baik yang sudah terjadi dan belum terjadi/baru direncanakan. b). Harga jual, Harga jual adalah harga yang ditentukan oleh pedagang kepada konsumen. c) Penjualan, penjualan merupakan jumlah total yang dihasilkan dari kegiatan penjualan barang.

Semakin besar jumlah penjualan yang dihasilkan perusahaan, maka besar kemungkinan laba yang akan dihasilkan perusahaan.setiap perusahaan skala kecil, menengah atau besar, penting sekali untuk menghasilkan pertumbuhan laba. Karena pertumbuhan laba itulah yang diharapkan oleh pemegang saham.

Apalagi untuk perusahaan publik, investor tidak hanya ingin melihat laba saat ini, tetapi lebih penting lagi pertumbuhan laba.

Menurut Hery (2017), Laba merupakan hasil penandingan antara pendapatan dengan beban.

Manajemen harus bisa memprediksi besarnya pendapatan yang harus diperoleh dan beban yang akan dikeluarkan perusahaan dimasa yang akan datang agar perusahaan tidak menderita kerugian. Laba bermanfaat bagi perusahaan untuk kelangsungan hidupnya serta untuk mengukur keberhasilan perusahaan.

Menurut Prihadi (2014), Laba merupakan indikator utama keberhasilan perusahaan. Tidak heran apabila laporan laba- rugi seringkali mendapatkan perhatian lebih banyak di banding dengan laporan posisi keuangan. Laba adalah ukuran kinerja perusahaan. Laba yang diperoleh dapat diakumulasi menjadi saldo laba (retained earning) atau dibagi sebagai dividen.

Sebenarnya meskipun saat ini perusahaan masih dalam keadaan rugi, asal dimasa depan bisa menghasilkan laba, investor akan membeli juga, malah untuk perusahaan yang demikian harga sahamnya bisa murah pada saat ini dan baru kemudian akan naik. Harga saham terkait dengan berapa besar perusahaan bisa menghasilkan laba, kusus laba persaham.harga saham perusahan hanya akan naik, kalu laba persahamnya terus menerus naik.Tentu saja ada juga faktor price earning ratio (PER). yaitu harga saham di bagi laba persaham earning per share (eps). Dalam keadaan pasar yang bullish dan sektor bisnisnya di sukai investor, PER bisa tinggi,

(4)

diatas sepuluh kali atau berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk meningkatkan penjualan. Bilamana penjualan bisa meningkat lebih dari peningkatan biaya, maka hasilnya akan terjadi pertumbuhan laba yang lebih dari pada pertumbuhan penjualan. Tidak jarang kita melihat yang sebaliknya bila rasio biaya terhadap penjualan semakin besar, seperti kita lihat di banyak perusahan, maka meskipun penjualan, masih meningkat dengan sekitar sepuluh persen, biaya meningkat lebih besar dari itu, sehingga laba meningkat lebih kecil, baik dari segi persentase, maupun bisa jadi angkat mutlaknya. Ada dua macam laba yang harus menjadi perhatian kita: a). Angka mutlak laba bersih harus terus meningkat b). Laba bersih sebagai persentase terhadap sales atau penjualan, yang lazim di gunakan sebagai net profit margin, harus lebih baik. Laba bersih yang naik karena peningkatan modal tidak menghasilakn kenaikan laba per saham, karena jumlah saham juga meningkat. dalam hal demikian harga saham perusahaan tidak akan meningkat. Pertumbuhan laba per saham atau EPS ini sangat penting. bagaimana perusahaan bisa menghasilkan laba bersih yang lebih besar dari waktu kewaktu, dengan modal setor yang sama.

Menurut Subramanyam & Wild, (2014), Pertumbuhan laba adalah perubahan laba yang dihasilkan oleh perusahaan dari periode ke periode dan dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan untuk suatu perusahaan. (1). Jenis–Jenis Laba a). Laba kotor, yaitu selisih antara hasil penjualan dengan harga pokok penjualan. b). Laba operasional, yaitu merupakan hasil dari aktivitas–aktivitas yang termasuk rencana–

rencana perusahaan kecuali ada perubahan–

perubahan besar dalam perekonomiannya. c).

Laba sebelum dikurangi pajak atau EBIT (Earning Before Tax), adalah laba operasional ditambah hasil dari biaya diluar operasi biaya perusahaan d). Laba setelah pajak atau laba bersih, yaitu laba yang telah dikurangi seluruh pajak yang ada. Ima Andriyani, (2015).

Defenisi Penjualan, Menurut Suryanto (2016), penjualan yang dilakukan adalah alat pemasaran bagi produsen, yang merupakan salah satu dari marketing mix, yaitu place.

Adapun fungsi dari penjualan untuk menjual produk barang/jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen sebagai sumber pendapatan bagi perusahaan.

Menurut Assuari (2004), penjualan ialah sebagai kegiatan manusia yang mengarahkan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.

Menurut Kotler (2006), usaha untuk meningkatkan penjualan adalah: a).

Menjajakan produk dengan sedemikian rupa sehingga konsumen melihatnya b).

Menempatkan dan pengaturan teratur sehingga produk tersebut akan menarik perhatian konsumen c). Mengadakan analisis pasar d).

Menentukan calon pembeli atau konsumen yang potensial e). Mengadakan pameran f).

Mengadakan discount atau potongan harga Penjualan merupakan faktor terpenting yang dapat mempengaruhi besar atau kecilnya modal kerja.Suatu perusahaan menanamkan sebagian dananya dalam bentuk modal kerja, maka dari itu hasil penjualan diperlukan untuk menunjang kegiatan operasional yang bertumpu pada kegiatan penjualan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa penjualmerupakan hasil total yang didapat perusahaan dari kegiatan penjualan barang dagangan. Berdasarkan berbagai defenisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bawah penjualan merupakan jumlah penjualan yang berhasil dilakukan perusahaan. Pengukuran penjualan biasanya ditunjukan dalam bentuk angka-angka atas produk yang sudah terjual kepada pembeli.Kenaikan jumlah penjual berarti kenaikan dari segi pendapatan perusahaan.Dengan demikian, fokus kegiatan perusahaan adalah usaha meningkatkan cara- cara penjualan dan kegiatan promosi yang intensif agar dapat meningkatkan penjualan demi kelangsungan hidup perusahaan untuk tumbuh dan berkembang.

Menurut Swastha & Irwan, (2001) tujuan penjualan adalah sebagai berikut: a).

Mencapai penjualan tertentu b). Mendapatkan laba tertentu c). Menunjang pertumbuhan perusahaan

Usaha–usaha untuk mencapai ketiga tujuan tersebut tidak sepenuhnya hanya dilakukan oleh pelaksanaan atau para tenaga penjualan, akan tetapi dalam hal ini perlu adanya kerja sama dari beberapa pihak diantaranya fungsionaris dalam perusahaan seperti bagian dari keuangan yang menyediakan dana, bagian produksi yang membuat prodak, dan bagian personalia yang menyediakan tenaga kerja.

(5)

Umumnya dianggap bahwah semakin besar usaha–usaha yang dikeluarkan dalam marketing mix untuk penawaran yang ada, akan semakin besar pula penjualannya.

Sebagai contoh, semakin banyak biaya periklanan, kunjungan penjualan, semakin rendah tingkat harga, dan semakin tinggi tingkat kualitasnya, maka akan semakin besar penjualannya. Tentu saja ada beberapa batasan yang perluh diketahui. Faktor–faktor pembatas tersebut adalah: (1). Adanya saingan yang dapat menghambat kemajuan perusahaan untuk meningkatkan penjualan. (2). Efektifitas keputusan–keputusan marketing mix, dibandingkan dengan perusahaan saingan, dapat meningkatkan penjualan. swasta&

irwan, (2008).2). Faktor–Faktor Yang Mempengaruhi Penjualan a). Kondisi dan kemampuan penjual b). Kondisi Pasar c).

Modal d). Kondisi organisasi perusahaan e).

Faktor lain

Menurut Hery (2018), Laporan keuangan merupakan (financial statements) produk akhir dari serangkaian proses pencatatan dan pengikhtisaran data transaksi bisnis. Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitas perusahan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Dengan kata lain, laporan keuangan ini berfungsi sebagai alat informasi yang menghubungkan.

Perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan, yang menunjukan kondisi kesehatan keuangan perusahaan dan kinerja perusahaan.

Menurut Kariyoto (2017), Laporan keuangan merupakan dokumen historis.

Laporan tersebut menerangkan apa yang terjadi pada periode masa waktu tertentu.

Padahal, sebagian besar users of financial sestements sangat berkepentingan terhadap sesuatu yang akan terjadi di masa depan.

Tujuan keseluruhan dari laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi yang berguna bagi investor dan kreditor dalam pengambilan keputusan investasi dan kredit.

Jenis keputusan yang dibuat oleh pengambil keputusan sangatlah beragam, begitu juga dengan metode pengambilan keputusan yang mereka gunakan dan kemampuan mereka untuk memproses informasi.Tujuan khusus laporan keuangan adalah menyajikan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan lainya, secara wajar dan sesuai

dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. (3). Jenis-Jenis Laporan Keuangan

Adapun jenis dari laporan keuangan yang lengkap meliputi: (a). Neraca Yaitu laporan yang menggambarkan posisi keuangan dari suatu perusahaan yang meliputi aktiva, kewajiban ekuitas pada suatusaat tertentu.

Neraca mempunyai dua bentuk yaitu: 1).

Neraca bentuk staffel adalah bentuk neraca yang disusun kebawah baik aktiva maupun pasivanya (hutang modal). Pada bagian atas untuk mencatat aktiva dan bagian bawah untuk mencatat hutang dan modal. 2). Neraca bentuk scontro adalah neraca yang bentuk aktiva dan pasiva (hutang modal) sebelah menyebelah.

Untuk aktiva pada sisi kiri dan pasiva disisi kanan.

Menurut Sujarweni (2017), laporan laba rugi yaitu laporan mengenai pendapatan, beban, dan laba atau rugi suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu. Laporan laba rugi adalah laporan yang disusun sistematis, isinya penghasilan yang diperoleh perusahaan dikurangi dengan beban-beban yang terjadi dalam perusahaan selama periode tertentu.

Dalam laporan laba rugi menjabarkan elemen- elemen penghasilan dan beban perusahaan sehingga menghasilkan suatu laba (atau rugi).

Untuk perusahaan jasa istilah penghasilan dalam laporan laba rugi adalah pendapatan.

Untuk perusahaan dagang dan manufaktur istilah penghasilan dalam laporan keuangan adalah penjualan. Sumber penghasilan suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu: 1). Dari usaha pokok/utama, yaitu penghasilan berasal dari kegiataan utama perusahaan. 2). Dari kegiatan luar usaha pokok, yaitu penghasilan yang berasal dari kegiatan yang bersifat sampingan.

Menurut Arief & Untung, (2016), Laporan arus kas yaitu laporan yang memperlihatkan aliran kas selama satu periode tertentu. serta memberi informasi terhadap sumber-sumber kas serta penggunaan kas dari setiap kegiatan dari periode yang cakup.

METODE PENELITIAN

Desain penelitian adalah strategi yang dipilih oleh peneliti untuk mengintegrasikan secara menyeluruh komponen riset dengan cara logis dan sistematis untuk membahas dan menganalisisis apa yang menjadi fokus penelitian. Desain penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dan

(6)

kuantitatif.Penelitian kualitatif adalah data yang terbentuk informasi baik secara lisan maupun tulisan yang sifatnya bukan angka dan berperan sebagai pendukung data penelitian.Sedangkan penelitian kuantitatif yaitu jenis data yang dapat diukur atau dihitung secara langsung sebagai variabel angka atau bilangan.

Adapun jenis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: (a). Data kualitatif. jenis data yang berbentuk informasi baik secara lisan maupun tulisan yang sifatnya bukan angka dan dan berperan sebagai pendukung data penelitian. (b). Data Kuantitatif jenis data yang dapat diukur atau dihitung secara langsung sebagai variabel angka atau bilangan.

Sumber data yang diperoleh adalah sebagai berikut: 1). Data Primer. Data informasi tertulis maupun tidak tertulis yang diperoleh langsung dari sumber aslinya, baik melalui wawancara maupun observasi langsung ke lapangan. 2). Data Skunder Data berupa informasi tertulis maupun tidak tertulis yang diperoleh langsung dari sumber-sumber PT Minasa Upa, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif dan mempunyai relevansi dengan objek penelitian, pokok masalah serta materi penulisan. Dalam hal ini sumber yang dimaksud seperti data internet, surat kabar, majalah, laporan penelitian pihak lain dan buku-buku yang ada hubungannya dengan penelitian ini.

Proses pengumpulan data melalui penelitian pustaka (library research) dan penelitian lapangan (field research) guna memecahkan masalah yang timbul dalam penelitian ini, sebagai berikut: 1) Penelitian Pustaka (library research), yaitu penulis mengadakan penelitian dengan peninjauan pada berbagai pustaka dengan membaca atau mempelajari buku-buku literatur lainnya yang erat hubungannya dengan penulisan skripsi ini dan dapat mendukung pokok pembahasan.

Disamping itu penulis mengumpulkan data yang ada kaitannya dengan permasalahaan yang akan dibahas dan dapat mendukung penulis. (2). Penelitian lapangan (field research), adalah penelitian yang bertujuan untuk memperoleh data yang berhubungan dengan penelitian ini dengan meninjau langsung objek penelitian. 3). Dokumentasi, yaitu dokumen yang menyangkut sejarah, struktur organisasi, pembagian tugas, dan visi misi perusahaan.

Menguji hipotesis yang di gunakan dalam penelitian ini, maka teknik analisis data yang di gunakan yaitu:

Regresi linear berganda secara sistematis (Sugiyono: 2012), adalah sebagai berikut:

Y=a + b1X1+b2X2+e Keterangan:

Y : Risiko keuangan a : konstanta X1 : penjualan

X2 : pertumbuhan laba e : eror

b1-b2 : koefisien regresi, merupakan besarnya perubahan variable terkait akibat perubahan tiap–tiap unit variabel bebas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengumpulan, pengolahan serta analisis data yang bersumber dari laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi perusahaan PT Minasa Upa Persada yang terlampir pada bagian lampiran data keuangan perusahaan, guna mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan penerapan tata kelola perusahaan yang baik, maka berikut adalah hasil yang di dapati dari risiko keuangan, penjualan dan pertumbuhan laba yang digunakan yakni:

Statistik deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk memberi informasi mengenai variabel penelitian seperti risiko keuangan, penjualan dan pertumbuhan laba.

Tabel diatas menjelaskan deskripsi variable seperti rata-rata (mean), standar deviasi dan jumlah data. (N). Nilai rata-rata variable risiko keuangan adalah 88,28 t/ha dengan rata-rata penyimpangan (devisiasi mencapai 0,32) dengan jumlah data 5.

Demikian pula pada penjualan dan

(7)

pertumbuhan laba, mempunyai nilai rata-rata 71,55 dan 173,34 cm dengan penyimpangan 99,95 dan 34,27 dengan jumlah data 5.

Tabel diatas menunjukan bahwa koefisien atau R simultanya adalah 0,794.

Kisaran nilai R adalah 0 hingga 1.Semakin nilai R mendekati 1, maka semakin kuat variable-variabel bebas memprediksi variable terikat. Karena angka 0,794 mendekati 1, maka variable-variabel bebas yakni risiko keuangan dan volume penjualan dapat memprediksi pertumbuhan laba dengan sangat kuat. Sedangkan R Square adalah 0,631 yaitu hasil kuadrat dari koefisien korelasi (0,794 x 0,794= 0,631). Seperti halnya R simultan, kisaran nilai adjusted R square adalah 0 hingga 1. Dari tabel diatas diketahui nilai adjusted R square adalah 0,794 mendekati nilai 1.

Sehingga ketepatan mencari jawaban dari suatu populasi berdasarkan sampel yang ada cukup tinggi. Standar Error of Estimate adalah 2759904857, 39211. Karena 2759904857, 39211 maka model di terima.

Dari tabel Anova diatas dapat diketahui nilai F hitung adalah sebesar 1, 707 dengan angka signifikan sebesar 0,369. Dengan tingkat signifikan 25% (α= 0,05). Angka signifikansi sebesar 0,369 > 0,005.Atas dasar perbandingan tersebut, maka H0 diterima dan menolak Ha artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara risiko keuangan dan volume penjualan terhadap pertumbuhan laba. Dengan persamaan sebagai berikut:

Y= 2775465038,607 + 198+ 756.

Berdasarkan table diatas dapat diperoleh rumus sebagai berikut:

Y= (0,2775465038,607)+0,198x + 0,756 x Konstanta (α) sebesar 0,2775465038,607, artinya resiko keuangan, volume penjualan nilainya sama dengan 0, maka pertumbuhan laba nilainya sebesar 0, 2775465038,607.

Koefisien regresi resiko keuangan (x1) sebesar 0,198 artinya apabila risiko keuangan 1 satuan, maka pertumbuhan laba mengalami kenaikan yaitu sebesar 0,198 satuan.Koefisien bernilai positif artinya ada hubungna yang linear antara risiko keuangan dan pertumbuhan laba.

(8)

Koefisien regresi volume penjualan (x2) sebesar 0,756 artinya apabila volume penjualan di tingkatkan 1 satuan, maka pertumbuhan laba akan mengalami kenaikan sebesar 0,756 satuan. Koefisien bernilai positif. Artinya terdapat hubungan yang searah antara volume penjualan dengan pertumbuhan laba.

Hipotesis yanga diajukan dalam penelitian ini adalah Risiko keuangan dan volume penjualan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba pada Pt Minasa Upa Persada Makassar. Hasil pengujian analisis regresi linear berganda menunjukan bahwa variabel risiko keuangan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Hal tersebut ditunjukan dengan hasil analisis korelasi sebesar 0,794 dengan koefisien determinan 63,1%. Dari hasil uji t diketahui bahwa tidak terdapat pengaruh risiko keuangan terhadap pertumbuhan laba.

Hal ini dibuktikan dengan hasil uji t sebesar 1,40 sedangkan f tabel sebesar 2,571 pada taraf signifikan 5% yang berarti tidak ada hubungan yang linear antara risiko keuangan terhadap pertumbuhan laba. Hasil uji t dari variabel volume penjualan menunjukan angka 1,823 sedangkan f tabel menunjukan angka sebesar 2,571 yang berarti tidak ada pengaruh volume penjualan terhadap pertumbuhan laba pada Pt Minasa Upa Prsada Makassar.

Koefisien regresi resiko keuangan (x₁) sebesar 0, 198 artinya apabila risiko keuangan 1 satuan, maka pertumbuhan laba mengalami kenaikan yaitu sebesar 0, 198 satuan.Koefisien bernilai positif artinya ada hubungna yang linear antara risiko keuangan dan pertumbuhan laba.

Koefisien regresi volume penjualan (x₂) sebesar 0,756 artinya apabila volume penjualan di tingkatkan 1 satuan, maka pertumbuhan laba akan mengalami kenaikan sebesar 0,756 satuan. Koefisien bernilai positif. Artinya terdapat hubungan yang searah antara volume penjualan dengan pertumbuhan laba.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada BAB V penulis dapat menarik kesimpulan mengenai pengaruh risiko keuangan dan volume penjualan terhadap pertumbuhan laba pada PT Minasa Upa Persada Makassar yaitu: 1. Setelah dilakukan uji analisis menggunakan SPSS, menunjukan

tidak pengaruh yang signifikan antara risiko keuangan dan volume penjualan terhadap pertumbuhan laba Hal tersebut dapat diketahui dari hasil uji hipotesis yang dilakukan menggunakan program spss, dimanadi peroleh t.hitung sebesar x₁ 1,40 dan x₂ 1,823. 2). dan tingkat probabilitas 3,69 jika dibandingkan pada t. Tabel pada 0,05 berarti t. Hitung < t tabel dan sig 0,05 >(1,40,1,8231,< 2,571 dan 0,005 < 3,69) hal ini menunjukan bahwa hipotesis yang diajukan penulis ditolak. 3).

Berdasarkan pengujian Anova diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan yang linear antara risiko keuangan dan volume penjualan terhadap pertumbuhan laba pada Pt Minasa Upa Persada Makassar. 4). Dari hasil pengujian koefisien determinasi diperoleh nilai R Square (R²) sebesar 63,1%, hal ini menunjukan bahwa efektivitas belanja operasional 63,1% di pengaruhi oleh risiko keuangan dan volume penjualan sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.

Berdasarkan kesimpulan di atas, saran yang diharapkan dapat menjadi masukan yang berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan yaitu sebagai berikut: (1). Lebih memperhatikan risiko keuangan untuk meningkatkan pertumbuhan laba, (2).

Disarankan untuk meningkatkan volume penjualan untuk mencapa tingkat pertumbuhan laba yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, & Edi Untung. (2016). Analisi Laporan Keuangan, Cetakan pertama. Jakarta: PT Grasindo.

Brigham & Houston. (2006). Dasar–Dasar Manajemen Keuangan, south western publishing: cengange Learning.

Hery. (2017). Analisis Laporan Keuangan, Cetakan ketiga. Jakarta: PT. Grasindo.

Kotler P. (2006). Manajemen Pemasaran.

Cetakan kesebelas. Jakarta: PT. Indeks Gramedia.

Kariyoto (2017). Analisis Laporan Keuangan, Cetakan pertama. Malang: Universitas Brawijaya Malang.

Mardiyanto H, Inti Sari. (2009). Manajemen Keuangan, Jakarta: Grasindo.

Maralis R, Aris Triyono. (2019), Manajemen Risiko, Cetakan pertama. Jl Rajawali. CV Budi Utama.

Prihadi T. (2014). Laporan Keuangan, Jakarta Pusat: PPM.

(9)

Sina G. P. (2017). Financial Part 1 Contemplation, Guepedia.

Suryanto H.M. (2016). Sistem Operasional Manajemen Distribusi, Jakarta: PT Grasindo.

Swasta & irwan. (2008). Manajemen pemasaran Modern, Yogyakarta: Liberty Sujarweni W. V. (2017). Manajemen

Keuangan, yogyakarta: pustaka baru press.

Swastha. B. (2003). Manajemen Pemasaran Modern, Yogyakarta: BPFE.

Subramanyam, Wild. (2014). Analisis Laporan Keuangan, Jakarta: Salemba Empat.

Sugiyono (2012), Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung:

Alfabeta.

Referensi

Dokumen terkait

Dari data perusahaan berupa laporan keuangan komersial yaitu laporan Laba – Rugi, maka dilakukan rekonsiliasi koreksi atas laporan laba-rugi komersial menjadi laporan laba-rugi menurut