Nama : Ni Nyoman Neelam Puspita Dewi Fakultas : Kedokteran
Gugus/Absen : 12/097
MENCEGAH DENGAN TIDAK MERUSAK (Analisis Sekitarmu)
Masker adalah perlindungan pernafasan yang digunakan sebagai metode untuk melindungi individu dari menghirup zat-zat bahaya atau kontaminan yang berada di udara.
Awal tahun 2020, dunia dikagetkan dengan penemuan sebuah virus yang menyebar dengan cepat di Wuhan, China. Virus corona atau Novel 2019 Corona virus (nCov) menyerang sistem pernapasan atas dan dapat menimbulkan pneumonia atau bronkitis. Jika tidak segera ditangani, virus ini dapat menyebabkan kematian.Bulan Juni 2020, Indonesia menjadi posisi pertama dengan kasus positif virus corona tertinggi di Asia Tenggara. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia mulai memberikan arahan pencegahan virus corona kepada masyarakat dengan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan membawa handsanitizer saat berpergian.
Masker memiliki banyak jenis salah satunya adalah masker kain dan masker sekali pakai.
Masker sekali pakai sangat jarang didapat karena stok yang sedikit dan harga yang begitu melonjak semenjak pandemi ini hadir, sehingga masyarakat mulai untuk memakai masker kain, tetapi tak sedikit pula masyarakat yang memilih memakai masker sekali pakai karena lebih simple dan lebih bersih dibandingkan masker kain yang harus dicuci dan dijemur.
Selama periode Covid-19 penggunaan masker dan sarung tangan sekali pakai semakin meningkat karena masyarakat menggunakannya untuk mencegah penularan covid-19 dan menjadikannya sebagai kebutuhan wajib selama masa pandemi ini. Meningkatnya kepatuhan masyarakat menggunakan masker sejalan dengan upaya untuk membangun rasa aman bagi masyarakat. Hal ini merupakan kunci utama dalam upaya pemulihan ekonomi nasional.
Meningkatnya kebutuhan masker dan sarung tangan sekali pakai dalam jumlah besar ini akan menghasilkan limbah medis dengan jumlah besar pula dan bisa saja menjadi ancaman terhadap lingkungan. Apalagi limbah masker yang dibuang secara sembarangan bisa menjadi permasalahan karena sulit untuk dibedakan penggunaan masker oleh orang sehat yang sekedar menggunakan masker untuk berjaga-jaga dan penggunaan masker oleh orang orang yang
merasa sakit atau bahkan yang berpenyakit memiliki potensi penularan Covid-19 melalui penggunaan masker yang ia pakai. Ancaman limbah masker ini juga menjadi kekhawatiran bagi daerah Bali khususnya Kota Denpasar. Kota Denpasar adalah ibu kota Provinsi Bali, Indonesia. Denpasar merupakan kota terbesar di Kepulauan Nusa Tenggara dan kota terbesar kedua di wilayah Indonesia Timur setelah Makassar. Jumlah penduduk kota Denpasar mencapai 900.000 orang lebih sehingga ancaman limbah masker sekali pakai sangat dikhawatirkan bagi lingkungan dan masyarakat.
Berdasarkan analisa diagram fishbone di atas, maka kita dapat mengetahui bahwa penyebab dari meningkatnya limbah masker sekali pakai di daerah Bali, khususnya Kota Denpasar berasal dari tiga faktor utama yaitu manusia, edukasi, dan material. Poin pertama, banyak masyarakat yang belum memahaminya, dengan cukup membuangnya begitu saja, sama seperti membuang sampah biasa, bahkan tak jarang dibuang secara sembarangan. Sampah masker yang dibuang secara sembarangan akan berdampak pada lingkungan dan kesehatan, terlebih jika sampah masker tersebut sebelumnya digunakan oleh penderita Covid-19.Yang lebih parahnya lagi ialah sempat terjadi penyalahgunaan limbah masker bekas untuk dipakai ulang dan dijual kembali oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Poin kedua, masker sekali pakai tidak dapat digunakan secara berulang dan durasinya tergantung dengan kondisi pemakaian. Dan poin terakhir, kurangnya edukasi mengenai masker sekali pakai dan pemerintah belum siap dalam menyediakan sarana pengolahan limbah medis yang memadai, misalnya dengan menyediakan teknologi pembakaran limbah yang efektif dan efisien.di sekitar Kota Denpasar.
Terlepas dari meningkatnya limbah masker sekali pakai di Kota Denpasar dapat disimpulkan bahwa seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di Kota Denpasar, Bali agar lebih sadar terhadap kebersihan lingkungan demi kesehatan diri sendiri dan masyarakat lainnya,
mengumpulkan masker sekali pakai dengan memisahkan limbah lainnya, penyemprotan disinfektan sederhana pada bekas masker, lebih memilih menggunakan masker kain yang sesuai standar daripada menggunakan masker medis sekali pakai, dan pemerintah mampu menyiapkan insinerator dengan suhu di atas 1.000 derajat celcius untuk memusnahkan limbah medis. Jika pemerintah tidak mampu menyediakan, pemerintah dapat bekerja sama dengan industri yang menggunakan alat tersebut.
“Pelajari alam, cintai alam, tetap dengan alam. Itu tidak akan pernah mengecewakan anda”
-Frank Lloyd Wright-