• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis standar pelaporan keuangan terhadap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "analisis standar pelaporan keuangan terhadap"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

136 Safinatul Huda, Neng Indriyani, Syarifuddin

ANALISIS STANDAR PELAPORAN KEUANGAN TERHADAP KEPATUHAN PEMERINTAH DESA PADA DESA MONGGO KECAMATAN

MADAPANGGA KABUPATEN BIMA Safinatul Huda

1

, Neng

Indriyani2

, Syarifuddin

3

1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar

1[email protected] 2[email protected] 3[email protected]

ABSTRACT

This research aimed to find outthe level of village government obedience towards the financial report standart of monggo village madapangga district bima regency. Techniques of data collection used ware observation, interview and documents. Technique of data analysis used in this research was descriptive qualitative. Baset on data analysis of researth result, it can be concluded that the obedience level of monggo village government on financial report standart was on obedience level as done according to the regulations stated by the home ministry rules (number 113 year 2014). The regulations obeyed were planning, implementation, managemen, report and accaountability. In addition the monggo village government has done the financial report based on the bima regency rules number 10 year 2016 that assigned all the village government to follow the guidance if financial management to be done by the village treasurers are assignet to recort all transactions on income and expenditure regulary.

Keywords: Obedience, report standart of village finance PENDAHULUAN

Otonomi desa dalam Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pemerintah daerah adalah penyelenggara urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otnomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara kesatuan republik Indonesia tahun 1945 Menurut (Wijaya 2018)

Setelah memasuki era reformasi, pola pikir masyarakat indonesia menjadi lebih terbuka dan menginginkan pembangunan yang adil dan berimbang. Oleh karenanya kini indonesia telah menerapkan sistem otonomi daerah, menrut UU No 32 tahun 2004, otonomi daerah merupakan hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan masyarakat setempat sesuai aturan perundangan. Karena itu, kini pemerintah daerah harus mengatur dan mengurus sendiri segala urusan pemerintahnya demi kemajuan daerah, untuk memestikan peningkatan kinerja setiap daerah, perlu di lakukan kontrol atas berbagai kebijakan yang diterapkan. Upanya mewujudkan transparansi dan akuntabilitas

pengelolaan keuangan nengara yaitu dengan menyampaikan laporan keuangan yang mengikuti standar akuntansi pemerintahan secara umum. Oleh karena itu pada tahun 2005, pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah Nomor 24 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah (Setyaningrum 2013)

Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang desa menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pemerintah desa adalah penyelenggaraan urusan Pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah desa ialah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa (Wijaya 2018)

Pemerintahan desa merupakan salah satu bentuk organisasi non profityang bertujuan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat umum, dalam hal inidesa memiliki aspek berbagai lembaga ekonomi dikarenakan memiliki bentuk pengeluaran guna membiayai kegiatan-kegiatan yang di lakukan dalam berbagai hal.

(2)

Sistem Akuntansi PertanggungjaHotel D’Bugis Ocean ACCOUNTING Journal STIE YPUP Makassar Untuk menjamin adanya akuntabilitas

dalam pengelolaan keuangan, maka diperlukan suatu sistem akuntansi keuangan yang tepat untuk di terapkan. Sistem Akuntansi Keuangan merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan dalam pemerintahan desa dikarenakan dapat digunakan sebagai alat pengatur kegiatan keuangan dan melindungi kekayaan milik desa (Yuliansyah 2017)

Standar Pelaporan Keuangan Pemerintah Desa memiliki fungsi sebagai acuan dalam penyusunan laporan keuangan untuk menentukan informasi-informasi yang harus di sajikan kepada seluruh pengguna laporan keuangan. Laporan keuangan juga harus disusun berdasarkan kesesuaian antara Standar Pelaporan Keungan Pemerintah Desa dan kepatuahan terhadap peraturan perundang- undangan. Laporan keuangan dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah desa kepada masyarakat dan dilakukan secara transparansi. Kepatuhan terhadap Standar Pelaporan Keuangan Pemerintah Desa dalam penyusunan laporan keuangan oleh Pemerintah Desa akan menggambarkan tentang sifat perbedaan pada tingkat kepatuhan dan memperlihatkan tentang kondisi pemerintah pada suatu masa pelaporan.

Keberadaan desa dengan didukung dana desa, alokasi dana desa dan dana-dana lain yang diterima desa, maupun yang diperoleh sendiri berupa pendapatan asli desa diharapkan semakin mempercepat pembangunan dan perkembangan desa. Mengingat semakin besarnya dana yang dikelola pemerintah desa, dipandang perlu adanya suatu standar pelaporan keuangan pemerintah desa yang dapat digunakan pemerintah desa sebagai acuan untuk menyusun laporan keuangan desa sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada para stakeholders seperti pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota maupun stake holders yang lain terutama masyarakat itu sendiri.

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP) sebagai Komite Independen yang di tunjuk Undang-Undang sebagai penyusun standar dalam melakukan penyusunan standar melalui proses penyusunan standar yaitu:

Penyusunan kajian awal dari riset terbatas1 Penyususnan draf awal standar2 Limited hearing konsep publikasian awal mengundang pihak-pihak terkait guna mendapat masukan awal atas konsep

publikasian standar pelaporan keuangan pemerintah desa, Penyempurnaan konsep publikasian atas hasil limited hearning Penyebaran draf publikasian mengunggah ke website dan mengirimkan ke pihak-pihak terkait untik meminta masukan dan tanggapan dari publik, Public hearing dengan mengundang pihak-pihak terkait secara lebih luas untuk mendapat masukan dan tanggapan atas konsep publikasi standar pelaporan keuangan desa, Finalisasi draf standar pelaporan keuangan pemerintah desa, Permintaan pertimbangan kepada BPK atas substansi standar pelaporan keuangan pemerintah desa, Penetapan dengan regulasi pemerintah.

Standar pelaporan keungan pemerintah desa ini disusun dengan pendekatan peraturan yang telah ada sebelumnya dengan beberapa penyempurnaan yang disesuaikan dengan standar akuntansi pemerintah serta memperhatikan kemampuan/kondisi riil pada pemerintah desa. Dengan adanya standar ini diharapkan dapat mengatur penyajian Laporan Keuangan desa dan meningkatkan transparansi serta akuntabilitas keuangan desa hingga dapat memenuhi tuntutan akuntabilitas dari masyarakat atas pengelolaan keuangan pemerintah desa.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Standar Pelaporan Keuangan terhadap tingkat kepatuhan Pemerintah Desa pada Desa Monggo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima?”

Sesuai dengan rumusan masalah dan latar belakang yang telah di jabarkan diatas, maka penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui bagaimana Standar Pelaporan Keuangan terhadap tingkat kepatuhan Pemerintah Desa pada Desa Monggo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima.

TINJAUAN LITERATUR Kepatuhan adalah bentuk mengikuti dan mentaati suatu spesifikasi, standar, atau hukum yang telah diatur dengan jelas yang biasanya diterbitkan atau diterapkan oleh lembaga atau organisasi yang berwenang dalam suatu

bidang tertentu. Kepatuhan

(3)

138 Safinatul Huda, Neng Indriyani, Syarifuddin merupakan bentuk kesesuaian kriteria yang dimaksud antara yang terjadi dengan ketentuan yang berlaku. Lingkup suatu aturan dapat dibentuk dari suatu hal yang paling besar hingga menyangkut hal-hal terkecil pada suatu perusahaan atau organisasi.

Menurut Habibi (2019) Pemeriksaan kepatuhan adalah pemeriksaan yang tujuannya untuk menentukan apakah aparatur desa menerapkan bentuk kepatuhan dalam penyajian suatu laporan keungan sesuai dengan kondisi atau mengikuti prosedur- prosedur khusus atau peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang.

(Notoadmodjon, 2013) menyatakan bahwa Kepatuhan adalah perilaku sesuai aturan dan disiplin serta merupakan suatu perubahan perilaku dari perilaku yang tidak menaati peraturan ke perilaku yang menaati peraturan. Dalam hal ini penatausahaan dan penyampaian laporan keuangan ke publik, perspektif instrumental menggambarkan bahwa insentif yang diperoleh perusahaan, instansi atau organisasi bila menyampaikan laporan keuangannya dengan tepat waktu yaitu respon baik publik terhadap perusahaan itu sendiri, dan sebaliknya. Sedangkan persepktif yang kedua seorang individu cenderung untuk mematuhi ketentuan dalam hal ini ketepatan waktu laporan keuangan karena dianggap sebagai suatu keharusan (Normative Commitmen Through Morality) dan karena otoritas penyusun ketentuan tersebut untuk mendikte perilaku untuk melaporkan keuangannya tepat pada waktu yang telah ditentukan (Normative Commitmen Through Legitimacy).

Teori kepatuhan dapat mendorong seseorang untuk lebih mematuhi peraturan yang berlaku, sama halnya dengan perusahaan atau instansi yang berusaha untuk menyampaikan kebutuhan daerah mereka sendiri baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan maupun pembangunan daerah yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarakan aspirasi masyarakat (Yuliansyah dan Munandar 2017)

Undang-undang Desa disusun untuk menerapkan amanat konsititusi, yaitu berupa pengakuan pada kesatuan masyarakat hukum adat seperti tertuang di pasal 18B ayuat 2 berbunyi “Negara mengakui dan menghormati

kesatuan-kesatuan masyrakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam Undang-undang” dan ketentuan pasal 18 ayat 7 berbunyi “susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam Undang-undang (Wijaya 2018).

Pemerintahan Desa Pemerintahan desa adalah penyelanggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara kesatuan republik Indonesia. Pemerintah desa adalah kepala desa, atau yang disebut dengan nama lain, dibantu perangkat desa sebagai unsur penyelanggara pemerintahan desa (Komite Standar Akuntansi Pemerintahan, 2016).

Pemerintahan desa merupakan salah satu bentuk organisasi nonprofit yang bertujuan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat umum yang berupa peningkatan keamanan, peningkatan kesehatan, peningkatan pembangunan, dan peningkatan lainnya. Desa memiliki aspesk sebagai lembaga ekonomi dikarenakan memiliki bentuk pengeluaran guna membiayai kegiatan- kegiatan yang dilakukan disatu sisi, dan disisi lain harus meningkatkan berbagai upaya pengahsilan guna menutupi seluruh biaya tersebut (Yuliansyah, 2017).

Pemerintahan desa adalah pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Pemerintah desa mencakup kepala desa dan perangkat desa. Perangkat desa mencakup sekertaris desa, pelaksanaan kewilayahan, dan pelaksanaan teknis. BPD dalah lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintah yang anggotanya adalah wakil dari peduduk desa berdasarkan keterwakilan wilyah dan ditetapakan secara demokratis (Wijaya, 2018).

Asas-asas pengelolaan keuangan Desa Indrawati (2017) Dana desa sebagai salah satu sumber pendapatan desa, pengelolaannya dilakukan dalam kerangka pengelolaan keuangan desa.

Wijaya (2018) didalam pengelolaan dana desa, akan ada resiko terjadinya kesalahan baik bersifat administratif maupun substansif yang dapat mengakibatkan terjadinya permasalahan hukum mengingat belum memadainya kompetensi kepala desa

(4)

Sistem Akuntansi PertanggungjaHotel D’Bugis Ocean ACCOUNTING Journal STIE YPUP Makassar dan aparat desa dalam penatausahaan,

pelaporan bahkan pertanggungjawaban keuangan desa. Hal itu terjadi karena pemerintah desa yang akan mendapatkan pendanaan program dan kegiatan dari berbagai sumber (APBN dan APBD provinsi atau kabupaten harus mampu mengelola secara: (1).

Transparan yaitu prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat mengetahui dan mendapat akses informasi seluas-luasnya tentang keuangan desa. Asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan pemerintah desa dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perungang-undangan yang berlaku, (2). Akuntabel yaitu perwujudan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Akuntabel menemtukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan penyelenggaraan pemerintah desa harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat desa sesuai dengan ketentuan perauran perundang-undangan, (3). Partisipatif yaitu penyelenggaraan pemerintah desa yang mengikutsertakan kelembagaan desa dan unsur masyarakat desa, (4). Serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran yaitu pengelolaan keuangan desa harus mengacu pada aturan atau pedoman yang melandasinya. Ada tiga disiplin anggaran yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan keuangan desa, antara lain sebagai berikut: (a). Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang mampu dicapai untuk setiap sumber pendapatan, sedangkan belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi pengeluaran belanja. (b). Pengeluaran harus didukung oleh kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup dan tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan yang belum tersedia atau tidak mencukupi kredit anggarannya dalam APBDesa/perubahan APBDesa. (c). Semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam tahun anggaran bersangkutan harus dimasukkan dalam APBDesa dan dilakukan dalam rekening kas Desa.

Menurut Neng Indriyani apabila anggaran tidak disususn secara baik tentu akan menyulitkan manajemen dalam menunjang

tingkat pengendalian turutama yang menyangkut pendapatan, besar atau kecilnya pendapatan yang tersedia sehingga akan mengganggu kelancaran kegiatan perusahaan operasional.

Menurut Prawironegoro dan Purwanti (2008), dalam menyusun anggaran suatu perusahaan dapat berbasis pada waktu, ruang lingkup, dan fleksibilitas.

1) Berdasarkan waktu, anggaran dapat dibedakan menjadi dua yaitu: a. Anggaran jangka pendek (waktunya paling lama satu tahun). b.Anggaran jangka panjang (waktunya lebih dari satu tahun, umumnya lima sampai sepuluh tahun). 2) Berdasarkan ruang lingkup, anggaran dapat dibedakan: a) Anggaran parsial, yaitu anggaran yang ruang lingkupnya terbatas. b) Anggaran komprehensif atau lazim disebut anggaran induk (master budget), yaitu anggaran menyeluruh.

Prosedur Penyusunan Anggaran

Dibawah ini akan diterangkan mengenai prosedur penyusunan anggaran menurut Munandar (1995) pada dasarnya yang berwenang dan bertanggung jawab atas penyusunan anggaran ada di tangan pimpinan tertinggi perusahaan. Hal ini disebabkan karena pimpinan Tertinggi perusahaanlah yang paling berwenang dan paling bertanggung jawab atas kegiatan- kegiatan perusahaan secara keseluruhan.

Fungsi Anggaran

Fungsi anggaran menurut Mulyadi (2001) adalah sebagai berikut: 1) Anggaran merupakan hasil akhir proses penyusunan rencana kerja. 2) Anggaran merupakan cetak biru aktivitas yang akan dilaksanakan perusahaan atau suatu organisasi di masa yang akan datang. 3) Anggaran berfungsi sebagai alat komunikasi intern yang menghubungkan berbagai unit organisasi dalam perusahaan dan yang menghubungkan manajer bawah dengan manajer atas. 4) Anggaran berfungsi sebagai tolok ukur yang dipakai sebagai pembandinghasil operasi sesungguhnya. 5)

(5)

140 Safinatul Huda, Neng Indriyani, Syarifuddin Anggaran berfungsi sebagai alat pengendalian yang memungkinkan manajemen menunjuk bidang yang kuat dan lemah bagi perusahaan.

6) Anggaran berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi dan memotivasi manajer dan karyawan agar senantiasa bertindak secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan organisasi.

Laporan keuangan Pemerintah Desa

Komite Standar Akuntansi Pemerintah (2016) Laporan keuangan desa adalah untuk menyajikan informasi Realisasi Anggaran dan posisi keuangan pemerintah desa yang bermanfaat bagi para pengguna dalam mengevaluasi kebijakan/keputusan lalu dan merencanakan kebijakan dimasa depan.

Komponen Laporan Keuangan Desa adalah:

(1). Laporan Realisasi Anggaran (LRA) yaitu menyediakan informasi mengenai apakah Sumber daya Ekonomi telah diperoleh dan dipergunakan sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan. Laporan realisasi anggaran desa memuat anggaran dan realisasi selama periode pelaporan. (2). Neraca Desa memberikan informasi mengenai asset (kekayaan) dan kewajiban entitas pemerintah desa pada tanggal pelaporan dan perubahan kekayaan selama periode berjalan. Informasi ini digunakan pengguna untuk melakukan penilaian terhadap kemampuan entitas pemerintah desa dalam menyelenggarakan kegiatan pemerintah desa dimasa mendatang.

(3). Catatan Atas Laporan Keuangan(CALK).

Dalam hal ini pemerintah desa menyusun catatan atas laporan keuangan desa agar dapat dipahami dan dibandingkan dengan laporan keuangan entitas lainnya.

Standar Pelaporan Keuangan Pemerintah Desa

Dalam Standar Pelaporan Keuangan Pemerintah Desa ada beberapa pernyataan yaitu: (1), Narasi tentang Komite Standar Akuntansi Pemerintah(KSAP) yang sampai saat ini belum menghasilkan standar. (2).

BPKP pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan desa. (3). Saat ini yang menjadi acuan pelaporan pengelolaan keuangan desa adalah permendagri Nomor 113 tahun 2014.

Standar Peleporan Keuangan Pemerintah Desa, dalam hal ini belum ada standar yang baku mengenai hal tersebut maka dari itu pihak pemerintah Desa Monggo untuk saat ini mengacu atau berpedoman pada

Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 113 Tahun 2014, menurut Permendagri Nomor 113 tahun 2014 terdapat beberapa tahapan pengelolaan dana desa yang meliputi: 1. Perencanaan yaitu pemerintah desa menyusun perencanaan pembangunan desa sesuai dengan kewenangannya dengan mengacu pada perencanaan pembangunan kabupaten dan kota. Mekanisme perencanaan menurut permendagri Nomor 113 tahun 2014 adalah sebagai berikut: (a). Sekretaris desa menyusun rancangan peraturan desa tentang APBDesa berdasarkan RKPDesa. Kemudian sekretaris desa menyampaikan kepada kepala desa. (b).

Rancangan peraturan desa tentang APBDesa disampaikan kepala desa kepada badan permusyawaratan desa untuk pembahasan lebih lanjut. (c). Rancangan tersebut kemudian disepakati bersama, dan kesepakatan tersebut paling lambat bulan oktober tahun berjalan.

(d). Rancangan peraturan desa tentang APBDesa yang telah disepakati bersama, kemudian disampaikan oleh kepala desa kepada bupati/walikota melalui camat paling lambat 3 hari sejak disepakati untuk dievaluasi. (e). Bupati/walikota menetapkan hasil evaluasi rancangan APBDesa paling lambat 20 hari kerja sejak diterimanya rancangan peraturan desa tentang APBDesa.

(f). Kepala desa melakukan penyempurnaan paling lama 7 hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. 2. Pelaksanaan yaitu dalam pelaksanaan anggaran desa yang sudah ditetapkan sebelumnya timbul transaksi penerimaan dan pengeluaran desa. Semua penerimaan dan pengeluaran desa dalam rangka pelaksanaan kewenangan desa dilaksanakan melalui rekening kas desa.

Beberapa aturan dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan desa: (a). Pemerintah desa dilarang melakukan pungutan sebagai penerimaan desa selain yang ditetapkan dalam peraturan desa. (b). Bendahara dapat menyimpan uang dalam kas desa pada jumlah tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan operasional desa. (c). Pengaturan jumlah uang dalam kas desa ditetapkan dalam peraturan bupati/walikota. (d). Pengeluaran desa yang mengakibatkan beban pada APBDesa tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan desa tentang APBDesa ditetapkan menjadi peraturan desa. (e). Pengeluaran desa tidak termasuk untuk belanja pegawai yang bersifat mengikat dan operasional perkantoran yang

(6)

Sistem Akuntansi PertanggungjaHotel D’Bugis Ocean ACCOUNTING Journal STIE YPUP Makassar ditetapkan dalam peraturan kepala desa.

(f).Penggunaan biaya tak terduga terlebih dulu harus dibuat rincian anggaran biaya yang telah disahkan oleh kepala desa. (g). Pelaksanaan kegiatan yang mengajukan pendanaan untuk melaksanakan kegiatan harus disertai dengan dokumen antara lain rencana anggaran biaya.

(h). Rencana anggaran biaya diverifikasi oleh sekretaris desa dan disahkan oleh kepala desa.

3. Penatausahaan merupakana rangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis (teratur dan masuk akal/logis)Tahapan ini merupakan proses pencatatan seluruh transaksi keuangan yang terjadi dalam satu tahun anggaran. penatausahaan keuangan mempunyai fungsi pengendalian terhadap pelaksanaan APBDesa. Hasil dari penatausahaan adalah laporan yang dapat digunakan untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan itu sendiri. (a).

Penatausahan dilakukan oleh bendahara desa.

(b). Bendahara desa wajib melakukan pencatatan setiap penerimaan dan pengeluaran serta melakukan tutup buku setiap akhir bulan secara tertib. (c). Bendahara desa wajib mempertanggungjawabkan uang melalui laporan pertanggungjawaban. (d). Laporan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan setiap bulan kepada kepala desa dan paling lambat 10 bulan berikutnya. 3. Pelaporan adalah bentuk penyajian data dan informasi mengenai sesuatu kegiatanyang berkenaan dengan adanya suatu tanggungjawab yang ditugaskan.

Pada tahap ini Pemerintah Desa menyusun laporan realisasi pelaksanaan APBDesa setiap semester yang disampaikan kepada Bupati/walikota. (a). Kepala desa menyampaikan laporan realisasi pelaksanaan APBDesa kepada bupati/walikota berupa laporan semester pertama dan laporan semester akhir tahun, adapun beberapa tahapan pelaporan yang dilakukan oleh pihak pemerintah desa dalam setiap semesternya adalah sebagai berikut: (1). Laporan semester pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa laporan Realisasi APBDesa. (2).

Laporan realisasi pekaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat pada akhir bulan juli tahun berjalan. (3). Laporan semester akhir tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat akhir tahun berikutnya. 5. Pertanggungjawaban yaitu

bentuk dari suatu kewajiban yang dilakukan oleh pemerintah desa dalam melaporkan suatu pelaporan dalam periode tertentu. Pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 tahun 2014 pertanggungjawaban terdiri dari:

(a). Kepala desa menyampaikan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa kepada bupati/walikota melalui camat setiap akhir tahun anggaran. Laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa terdiri dari pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Laporan ini ditetapkan peraturan desa yang dilampiri: (1). Format laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa tahun anggaran berkenaan. (2).

Format laporan kekayaan milik desa per 31 Desember tahun anggaran berkenaan. (3).

Format laporan program pemerintah dan pemerintah daerah yang masuk ke desa. (b).

Laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2), disampaikan paling lambat 1 (satu) bulan setelah akhir tahun anggaran berkenaan.

METODE PENELITIAN

Berdasarkan permasalahan yang ada, penelitian ini menggunakan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. metode ini yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan maknadari pada generalisasi.Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti yang merupakan suatu nilai di balik data yang tampak.

Penelian kualitatif (qualitative research) adalah suatu penelitian yang ditunjukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.

Penelitian kualitatif digunakan karena adanya beberapa pertimbangan Pertama, metode kualitatif lebuh mudah. Kedua, metode

(7)

ACCOUNTING. Vol. 01, No.04, Desember 2020, pp 136-145 142 ini menyajikan secara langsung hubungan

anatara peneliti dan informan. (Elni, 2017) Adapun yang menjadi objek penelitian adalah kantor Desa Monggo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima yang beralamat di Jl. Lintas Sumbawa. Waktu penelitian yang direncanakan dua (2) bulan.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang digali dalam penelitian ini meliputi: Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama), dalam hal ini data yang dianalis yang diperoleh dari hasil wawancara ataupun observasi langsung pada objek penelitian.

Data-data tersebut seperti hasil wawancara dengan Kepala desa atau pihak Keuangan Desa Monggo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima dan laporan keuangan pemerintahan Desa. Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada, seperti gambaran umum desa, struktur organisasi, catatan, buku, dan majalah berupa laporan keuangan publikasi perusahaan, laporan pemerintah, artikel, buku-buku, sebagai teori, majalah, dan lain sebagainya. Serta data yang diperoleh dari literatur-literatur yang berkaitan dengan masalah penelitian seperti buku teks kepatuhan, laporan keuangan pemerintahan Desa.

Dalam penelitian ini teknik atau cara- cara yang digunakan yaitu: Metode Observasi sebagai teknik pengumpulan data yang spesifik. Dalam teknik ini, peniliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Obsevasi dilakukan oleh penulis dengan mengamati secara langsung kegiatan yang berhubungan dengan kepatuhan Desa Monggo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima. Metode Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respodennya sedikit/kecil, wawancara yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dengan kepala Desa Monggo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima. Metode Dokumentasi merupakan cacatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumensi ini bisa berbentuk gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang,

teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data-data tentang kepatuhan Desa Monggo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis deskriptif kualitatif.

Dalam penelitian kualitatif, data yang diperoleh dari berbagai sumber dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi), dan dilakukan secara terus-menerus. Dalam penelitian kualitatif, karena permasalahan yang diteliti sudah jelas, realitas dianggap tunggal dan tetap teramati. Jadi data yang dikumpulkan dianalisis adalah untuk mengetahui apakah kepatu han berpengaruh terhadap laporan keuangan pemerintah Desa pada Desa Monggo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima.

Kepatuhan adalah mengikuti dan menta’ati suatu spesifikasi, standar, atau hukum yang telah diatur dengan jelas yang biasanya diterbitkan atau diterapkan oleh lembaga atau organisasi yang berwenang dalam suatu bidang tertentu. Lingkup suatu aturan dapat dibentuk dari suatu hal yang paling besar hingga menyangkut hal-hal terkecil pada suatu perusahaan atau organisasi.

Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut, Pemerintah desa adalah penyelanggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa, atau yang disebut dengan nama lain, dibantu perangkat desa sebagai unsure penyelanggara pemerintahan de sa. Dana desa adalah suatu anggaran yang dikeluarkan oleh Negara untuk suatu daerah atau desa yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pemberdayaan masyarakat dan kemasyarakatan.

HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk pelaporan keuangan desa belum ada standar yang baku, akan tetapi Standar Pelaporan Keuangan Pemerintah Desa Monggo saat ini mengacu atau berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 113 Tahun 2014.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa adalah rencana keuangan tahunan desa yang

(8)

Sistem Akuntansi PertanggungjaHotel D’Bugis Ocean ACCOUNTING Journal STIE YPUP Makassar diselenggarakan oleh pemerintah desa yang

dibahas dan disepakati bersama antara pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) serta ditetapkan dengan perturan desa. Berdasarkan hal tersebut, para pihak telah menyepakati peraturan yang telah ditetapkan oleh desa mengenai RAPBDesa untuk disahkan oleh pemerintah desa menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) berikut adalah laporan APBDesa selama tiga (3) tahun yang diperoleh dari Desa Monggo Kecamataan Madapaangga Kabupaten Bima.

Nomor

Urut Uraian Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018

1 2 3 4 5

1 PENDAPATAN

1,1 Pendapatan Asli Desa 6.000.000,00 6.000.000,00 6.250.000,00 1.1.1 Hasil Usaha Desa - - - 1.1.2 Hasil Pengelolaan Kekayaan/Aset Desa - - - 1.1.3 Lain-lain Pendapatan Asli Desa Yang Sah 6.000.000,00 6.000.000,00 6.250.000,00

1,2 Pendapatan Transfer 1.205.966.187,00 1.372.690.967,00 1.245.359.335,00

1.2.1 Dana Desa Dari APBN 657.314.080,00 844.869.020,00 746.819.636,00

1.2.2 Alokasi Dana Desa 496.032.013,00 509.056.415,00 474.447.501,00

1.2.3 Bagian Desa Dari Pajak Dan Retribusi Daerah Kabupaten 19.456.594,00 18.765.532,00 24.092.198,00 1.2.4 Bantuan Keuangan Dari Pemerintah Pusat - - - 1.2.5 Bantuan Keuangan Dari Pemerintah Propinsi - - - 1.2.6 Bantuan Keuanagan Dari Pemerintah Kabupaten 33.163.500,00 - - 1,3 Pendapatan Lain-lain - - - 1.3.1 Hibah Dan Sumbangan Dari Pihak Lain - - - 1.3.2 Lain-lain Pendaapatan Desa - - - Jumlah Pendapatan 1.211.966.187,00 1.378.690.967,00 1.251.609.335,00

2 BELANJA DESA

2,1 Belanja Bidang Penyelenggaraan Pemerintah Desa 570.708.107,00 531.321.947,00 498.389.699,00

2,2 Belanja Bidang Pelaksanaan Pembangunan 560.414.080,00 689.836.720,00 489.450.000,00

2,3 Belanja Bidang Pembinaan Kemasyarakatan Desa 38.800.000,00 229.000.000,00 - 2,4 Belanja Bidang Pemberdayaan Kemasyarakatan Desa 42.800.000,00 - 252.069.636,00

2,5 Belanja Bidang Tidak Terduga -

Jumlah Belanja Desa 1.212.722.187,00 1.450.158.667,00 1.239.909.335,00

Surplus (Defisit) 0

3 PEMBIAYAAN DESA

3,1 Penerimaan Pembiayaan

3.1.1 Sisah Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya (SILPA) 765.000,00 - - 3.1.2 Pencaran Dana Cadangan - - - 3.1.3 Hasil Penjualan Kekayaan Desa Yang Disispkan - - - Jumlah Penerimaan Pembiayaan 765.000,00 - -

3,2 Pengeluaran Pembiayaan - -

3.2.1 Pembentukan Dana Caadangan - - - 3.2.2 Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Desa - - 11.700.000,00

Jumlah Pengeluaran Pembiayaan - - 11.700.000,00

Pembiayaan Netto 765.000,00 - 11.700.000,00

3,3 Sisah Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan (SILPA-TB) - - - Tabel 1

DESA MONGGO KECAMATAN MADAPANGGA RINGKASAN APBDESA TAHUN ANGGARAN 2016-2018

Sumber: Data Diolah

Berdasarkan Tabel 1 Tentang Ringkasan APBDesa Tahun Anggaran 2016 pada Desa Monggo Kecamatan Madapangga, jumlahpendapatan yang anggaran sebesar Rp.

1.211.966.187. dan jumlah belanja yang dianggarkan sebesar Rp. 1. 212.722.187 jika dilihat dari pendapatan dan pengeluaran pada tahun Anggaran 2016 jumlah pengeluaran lebih besar dari pada jumlah pendapatan sehingga terdapat defisit sebesar Rp. 756.000.

Ringkasan APBDesa Tahun Anggaran 2017 jumlah pendapatan yang dianggarkan sebesar Rp. 1.378.690.967 dan jumlah belanja yang dianggarkan sebesar Rp. 1.450.158.667

pada tahun anggaran 2017 terdapat defisit sebesar Rp. 71.467.700.

Laporan realisasi pelaksanaan APBDesa pada Tahun Anggaran 2018 jumlah pendapatan yang dianggarkan sebesar Rp.

1.251.609.335 dana tersebut digunakan untuk belanja Desa sebesar Rp. 1.239.909.335 dan terdapat defisit sebesar Rp. 11.700.000 dimana dana tersebut akan digunakan untuk tahun anggaran selanjutnya.

Mengenai Ringkasan APBDesa yang terdapat di Desa Monggo Kecamatan Madapagga Kabupaten Bima dapat dilihat bahwa Pemerintah Desa Monggo mengelola dan melaporkan realisasi pelaksanaan APBDesa dengan baik. Dalam melaporkan suatu anggaran desa aparat desa harus melakukannya secara transparansi supaya masyarakat setempat dapat mengetahui lapoaran realisasi pelaksanaan APBDesa yang ada pada Desa Monggo tersebeut. Ringkasan APBDesa Mulai dari Tahun Anggaran 2016 hingga tahun 2018 dapat di simpulkan bahwa pemerintah Desa Monggo patuh terhadap Standar Pelaporan Keuangan Pemerintah Desa.

kenaikan dan penurunan suatu Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa pada tahun Anggaran 2016 hingga tahun 2018. Pada tahun 2016 jumlah pendapatan sebesar Rp.

1.211.966.187, jumlah pendapatan pada tahun 2017 mengalami kenaikan mencapai angka sebesar Rp. 1.378.690.967,57 sedangkan pada tahun 2018 pendapatan mengalami penurunan jumlah pendapatan sebesar Rp. 1.251.609.335 akan tetapi jika dibandingkan antara pendapatan tahun 2016 dan 2018 lebih rendah jumlah pendapatan pada tahun Anggaran 2016.

Pembahasan

Pengelolaan Dana Desa merupakan bagian dari pengelolaan keuangan desa yang terdapat didalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) yang merupakan rencana keuangan tahunan Pemerintah Desa yang dibahas dan disetujui oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan ditetapkan dalam peraturan Desa, yang meliputi tahap Perencanaan, Pelaksanaan, Penatausahaan, Pelaporan dan Pertanggungjawaban. Semua proses ini dijalankan oleh Pemerintah Desa Monggo didampingi oleh tim pendamping dari

(9)

144 Safinatul Huda, Neng Indriyani, Syarifuddin Pemerintah serta adanya partisispasi dari masyarakat dalam pengawasan dana desa karna dana desa sangat penting bagi pembangunan desa.

Pengelolaan dana desa di Desa Monggo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima memiliki aturan atau pedoman yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang pengelolaan keuangan desa dan peraturan Bupati Kabupaten Bima Nomor 9 Tahun 2018 tentang tata cara pembagian dan penetapan Rincian dana desa setiap desa di Kabupaten Bima Tahun Anggaran 2018.

Sumber pendapatan yang diperoleh dari desa yaitu dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berupa dana desa dari kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah desa melalui Undang-Undang Desa. Tahapan pengelolaan dana desa, pengelolaan dana desa yang dilakukan oleh Desa Monggo Kecamatan Madapangga Kabupateb Bima meliputi:

1.Perencanaan merupakan indikator keberhasilan dalam suatu kegiatan bidang penyelenggaraan pemerintah desa, bidang pembangunan, bidang pembinaan kemasyarakatan, bidang pemberdayaan masyarakat. Untuk itu masyarakat diharapkan ikutserta dan bekerjasama dengan semua perangkat yang ada didesa.

2. Pelaksanaan Pengelolaan Keuangan Desa didesa Monggo dimulai dari kepala seksi, mengajukan surat perintah pembayaran terus dilampiri Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang akan ditujukan kepada kepala desa melalui sekretaris desa. Tugas sekretaris desa setelah menerima SPP dan RAB tersebut adalah melakukan verifikasi Surat Permintaan Pembayaran (SPP) dan Rencana Anggaran Biaya tersebut. Selanjutnya SPP tersebut akan disahkan oleh kepala desa. Setelah mendapatkan pengesahan dari kepala desa masing-masing mengajukan ke bendahara desa untuk mendapatkan dana, lalu bendahara desa mencatatnya sebagai pengeluaran desa.

Pelaksanaan pada Desa Monggo sesuai dengan peraturab Permendagri Nomor 113 tahun 2014.

3. Penatausahaan pada Desa Monggo dilakukan atau dilaksanakan oleh Bendahara Desa, Bendahara Desa Monggo menerima, menyimpan, menyetorkan, menatausahakan, membayar dan mempertanggungjawabkan keuangan desa dalam pelaksanaan APBDesa.

Bendahara desa juga wajib mempertanggungja

wabkan uang desa dengan melalui laporan pertanggungjawaban. Laporan pertannggungja waban tersebut akan diserahakan atau disampaikan kepada kepala desa paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya.

4. Pelaporan Kepala Desa Monggo Menyampaikan laporan realisasi pelaksanaan APBDesa kepada bupati/walikota, Penyampaian laporan realisasi dana desa dilakukan paling lambat minggu ketiga bulan Juli tahun anggaran berjalan untuk semester satu dan paling lambat minggu keempat bulan Januari tahun anggaran berikutnya untuk semester dua. Proses pengelolaan dana desa yang dimulai dari perencanaan sampai dengan pelaporan, adapun peleporan yang dimaksud adalah: (a). Laporan Realisasi Anggaran (LRA) Pada Laporan Realisasi Anggaran terdapat pendapatan dan belanja desa, pendapatan yang meliputi pendapatan asli desa, pendapatan transfer, dana desa, alokasi dana desa, bagian desa dari hasil pajak dan restribusi daerah kabupaten dan bantuan keuangan dari pemerintah kabupaten.

Sedangkan pada belanja desa terdapat belanja pegawai, belanja barang dan jasa dan belanja modal. (b). Laporan Kekayaan Milik Desa Pada ringkasan laporan Kekayaan Milik Desa terdapat aset dan kewajiban, aset meliputi, aset lancer, investasi, aset tetap, dana cadangan dan aset tidak lancer lainnya. Sedangkan lewajiban meliputi, kewajiban jangka pendek dan ekuitas. Laporan kekayaan milik desa dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

TAHUN 2016 (Rp)

TAHUN 2017 (Rp)

TAHUN 2018 (RP) ASET

Aset Lancar 6.000.000,00 6.000.000,00 6.250.000,00 Investasi - - - Aset Tetap 1.205.966.187,00 1.372.690.967,00 1.245.359.335,00 Dana Cadangan - - - Aset Tidak Lancar

Lainnya - - - JUMLAH ASET 1.211.966.187,00 1.378.690.967,00 1.251.609.335,00 KEWAJIBAN

Kewajiban Jangka

pendek 6.000.000,00 6.000.000,00 6.250.000,00 EKUITAS

Ekuitas 1.205.966.187,00 1.372.690.967,00 1.245.359.335,00 JUMLAH

KEWAJIBAN DAN EKUITAS

1.211.966.187,00

1.378.690.967,00 1.251.609.335,00 Tabel 2

RINGKASAN LAPORAN KEKAYAAN MILIK DESA

KODE URAIAN

Pertanggungjawaban Pengelolaan Keuangan Desa di Desa Monggo sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014). Laporan Pertanggungjawaban ada 2 yaitu: (a). Vertical adalah Laporan pertanggungjawaban secara vertical yaitu laporan pengelolaan dana desa yang disampaikan oleh kepala desa kepada

(10)

Sistem Akuntansi PertanggungjaHotel D’Bugis Ocean ACCOUNTING Journal STIE YPUP Makassar bupati melalui camat berupa

pertanggungjawaban penggunaan dana untuk satu tahun anggaran. (b). Horizontal Adanya kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi tentang pengelolaan dana desa melalui website, papan informasi yang terdapat di kantor desa dll.

PENUTUP

Berdasarkan analisis data dari hasil penelitian yang telah dilakukan tentang Analisis Kepatuhan Terhadap Standar Pelaporan Keuangan Pemerintah Desa Pada Desa Monggo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

Tingkat Kepatuhan Pemerintah Desa Monggo Kecamatan Madapangga Terhadap Standar Pelaporan Keuangan Pemerintah Desa berada pada tingkat patuh dan telah sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014) yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban, dan peraturan Bupati Bima Nomor 10 Tahun 2016 tentang pedoman pengelolaan keuangan desa dimana penatausahaan dilakukan oleh bendahara desa dan bendahara desa wajib melakukan pencatatan setiap transaksi penerimaan dan pengeluaran secara tertib dan patuh pada aturan yg ada.

DAFTAR PUSTAKA

Habibi, M. (2019). Analisis Kepatuhan Dana Kampanye Pilkada 2018 perspektif PKPU No 5 Tahun 2017 (Studi Khusus Hasil Audit Kap Ras Terhadap Paslon No 3 Calon Bupati Sukamara). Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Indriyani, N. (2013). Penerapan Anggaran Sebagai Alat Bantu Manajemen Pada PT. Pos Indonesia Kantor Area x Makassar

Komite Standar Akuntansi Pemerintah. (2016).

Standar Pelaporan Keuangan Pemerintah Desa (Konsep Publikasi).

Jakarta

Peraturan Bupati Bima Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa.

Peraturan Bupati Kabupaten Bima Nomor 9 Tahun 2018 2018 Tentang Tata Cara Pembagian Dan Penetapan Rincian Dana Desa

Peraturan Bupati Bima Nomor 26 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Bima Nomor 4 Tahun 2016 Tentang Tata Cara Pembagian dan Penetapan Besaran Dana Desa dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Besaran Alokasi Dana Desa, dan Besaran Bagian Desa dari Pajak dan Retribusi Daerag Kabupaten Bima Tahun Anggaran 2016.

Prawironegoro, Darsono dan Purwanti, Ari.

2008. Penganggaran Perusahaan (Edisi Pertama). Jakarta: Mitra Wacana Media.

Mulyadi. (2001). Akuntansi Manajemen, Konsep, Manfaat, dan Rekayasa, Edisi Ketiga, STIE YKPN.

Munandar. (1995). Budgeting: Perencanaan Kerja, Pengkoordinasian Kerja, Pengawasan Kerja, Edisi Pertama, Yogyakarta: BPFE.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014.

Septyaningrum D. D. P. (2013). Analisis kepatuahan pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah kota/kabupaten di Indonesia terhadap PP 24 tahun anggaran 2006-2010.

Skripsi Fakultas Ekonomi UI (Universitas Indonesia).

STIE-YPUP. (2019) Pedoman Penulisan Skripsi. Makassar: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Pendidikan Ujung Pandang.

Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.

Wijaya, D. (2018). Akuntansi Desa.

Yogyakarta: Gava Media

Yuliansyah. M. (2017). Kepatuhan Aparatur Desa dalam Penatausahaan Pengelolaan Keuangan Desa berdasarkan Peraturan Mentri dalam Negeri Nomor 113 di Wilayah Keacamatan Sambas Kabupaten Sambas. Jurnal Akuntansi, Ekonomi dan Manajemen Bisnis, vol 5, no.2, hal 181-192

Referensi

Dokumen terkait

 Parking; 13 My evidence will include the following:  Relocation of the pocket park  The creation of the ‘crow’s nest’  Provide comment on the height of the consent and proposed