ANALISIS TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN DITINJAU DARI SISTEM
AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Adelia Asensia1,Silvester Saman2,Daryanti3
1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar
1[email protected],2[email protected], 3[email protected]
ABSTRACT
The purpose of this research is to determine the application of the regional financial accounting system in realizing transparency and financial accountability of the Regional Government of South Sulawesi Province.
This research used a qualitative research method that provided an overview of the theories in PSAK and then adjusted the existing practices in the regional Government of South Sulawesi Province. The data collection techniques used were documentation and interview. The data analysis technique used was qualitative descriptive analysis. Based on the data analysis, it can be concluded that the regional financial accounting process generally consisted of the recording, grouping and reporting stages. In every SKPD, especially BPKD of South Sulawesi Province, has used computerized recording assisted by software called SIADINDA, where the recording system was still based on Permendagri CTA No. 64 of 2013. So as the financial statements that were produced following Law No. 71 of 2010 namely the Budget Realization Report (LRA), the Saldo Budget Change Report, the Balance Sheet, the Operational Report (LO), the Cash Flow Report (LAK); Statement of Changes in Equity (LPE) and Notes to Financial Statements (CaLK). The conclusion is the BPKD of South Sulawesi Province has implemented the principle of transparency and accountability in regional finances in accordance with "Law No. 71 of 2010 and Permendagri 64 of 2013 ".
Keywords: Transparency, accountability,government regulation 71 of 2010.
PENDAHULUAN
Sejak terjadinya era reformasi dimana terjadi perombakan besar-besaran dalam sistem pemerintahan yang menuntut proses demokrasi yang bersih, pemerintah daerah sebagai pihak yang bertugas dalam menjalankan pemerintahan dituntut untuk mengelolah dan mempertanggungjawabkan keuangannya secara transparansi dan akuntabilitas untuk setiap dana yang diterima dari masyarakat agar terciptanya Good Governance (tata laksana pemerintah yang baik) yang terbebas dari korupsi,kolusi dan nepotisme. Kunci utama agar terciptanya Good Governance adalah dengan memahami prinsip-prinsipnya yang akan menjadi tolak ukur untuk mengetahui kinerja pemerintahan daerah.
Dalam upaya terciptanya Good Governance, pemerintah mengeluarkan
“Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi Undang- Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah”. Keberhasilan pengelolaan keuangan daerah akan berdampak pada keberhasilan otonomi daerah dan upaya dalam menciptakan Good Governance.
Dalam pelaksanaan otonomi daerah, pemerintah pusat memberikan hak, wewenang, dan kewajiban kepada pemerintah daerah untuk mengurus sendiri urusan pemerintahannya. Pemerintah daerah bebas berekspresi dan berkreasi dalam membangun daerahnya dan mengelolah sumber daya alam yang dimiliki daerah tersebut selama tidak melanggar ketentuan Perundang-Undangan.
Pemerintah daerah juga harus memiliki pertanggungjawaban kepada masyarakat sehingga timbul transparansi dalam pengeloaan pemerintah daerah. Transparansi adalah aspek dimana lembaga pemerintah wajib secara terbuka dalam memaparkan mengenai apa saja yang ada dalam lembaga tersebut kepada masyarakat sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah dalam pengeIolaan sumber daya daerah tersebut.
Menurut Darise (2009), “Dalam konteks birokrasi pemerintahan, akuntabilitas adalah perwujudan kewajiban suatu instansi
STIE YPUP Makassar
pemerintahan untuk
mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi instansi yang bersangkutan. Manajemen suatu organisasi dapat dikatakan akuntabel apabila pelaksaan tujuannya telah sesuai”.
Agar akuntabiIitas sektor publik dapat terlaksana dengan baik diperIukan sistem akuntansi yang memadai, karena sistem akuntansi yang memadai merupakan pendukung terciptanya pengeloaan keuangan daerah yang adiI, transparan, efektif, dan efisien. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Pasal 30, 31, dan Pasal 32 menyatakan bahwa “Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota menyampaikan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD kepada DPR/DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Laporan keuangan setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi APBD, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan Atas Laporan Keuangan”.
Sistem Pemerintah Daerah terbagi menjadi dua subsitem, yaitu Satuan Kerja PengeIolah Keuangan Daerah (SKPKD) dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Laporan keuangan SKPD merupakan sumber dalam penyusunan Iaporan keuangan SKPKD.
Laporan keuangan harus disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAP) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) setiap Tahun akan diperiksa oleh Badan Pengawas Keuangan (BPK) dan akan mendapatkan penilaian opini. Penilaian opini BPK yaitu: Opini Wajar Tanpa PengecuaIian (WTP), Opini Wajar Dengan PengecuaIian (WDP), Opini Tidak Wajar (TW), dan penolakan memberi opini atau Tidak Memberi Pendapat (TMP). Dengan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) diharapkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengeloaan keuangan daerah dapat dicapai oleh pemerintah daerah.
Berdasarkan uraian latar belakang penelitian, maka mendorong penulis untuk melakukan penelitian mengenai penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) dengan judul “Analisis Transparansi Dan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Ditinjau Dari Sistem Akuntansi Keuangan Daerah”.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah adalah bagaimana penerapan sistem akuntansi keuangan daerah dalam mewujudkan transparansi dan akuntabiIitas keuangan daerah provinsi sulawesi selatan ?
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan sistem akuntansi keuangan daerah daIam mewujudkan transparansi dan akuntabiIitas keuangan pemerintah daerah provinsi sulawesi selatan.
TINJAUAN LITERATUR
Menurut Siregar (2015), “Sektor publik adalah sektor yang mengelolah dana masyarakat. Akuntansi sektor publik merupakan aktivitas akuntansi yang dilakukan terhadap kejadian dan transaksi keuangan organisasi sektor publik, dimana organisasi sektor publik yang paling utama adalah pemerintahan, maka akuntansi sektor publik adalah aktivitas akuntansi yang diterapkan pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah”.
Menurut Sujarweni (2015), “Sektor publik adalah semua yang berhubungan dengan kepentingan publik dan tentang penyediaan barang dan jasa yang ditujukan untuk publik, dibayarkan melaui pajak dan pendapatan negara lainnya yang sudah diatur dalam hukum”. Contoh organisasi sektor pubIik adalah pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, Badan Usaha MiIik Negara (BUMN), Badan Usaha MiIik Daerah (BUMD), tempat ibadah, dan lebaga sosial lainnya.
Konsep dasar dari fungsi akuntansi sektor pubIik adalah menyusun dan mengembangkan standar akutansi pemerintahan dan acuan daIam menyusun standar, Iaporan keuangan, dan pengguna Iaporan keuangan dimana pemerintah menyajikan informasi keuangan yang akuntabel.
Menurut Halim et al. (2010), “Untuk mewujudkan good government governance diperlukan sistem akuntansi pemerintahan yang handal yaitu sistem akutansi yang mampu menghasilkan laporan keuangan yang akuntabel dan transparan”.
Akuntansi pada sektor publik memiliki peran yang penting dalam pelaksanaan kinerja pemerintah. Dimana hasil yang terpenting
adalah pelayanan kepentingan publik, pertanggungjawaban pengeloaan keuangan publik yang sesuai dengan peraturan yang berlaku sehingga terwujudnya transparansi dan akuntabilitas publik.
Akuntansi yang merupakan bagian dari pemerintahan untuk mengelolah anggaran, kekayaan, dan kewajiban dalam melaksanakan akuntansi dan menyajikan Iaporan keuangan atas dasar akuntansi yang diseIenggarakan.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010, “Pelaporan keuangan adalah catatan informasi tambahan atas laporan keuangan dari suatu entitas pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja entitas tersebut”.
“Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Pelaporan keuangan dapat dikatakan sebagai data juga dapat dikatakan sebagai informasi. Data dapat berubah jika diubah kedalam konteks yang memberikan makna”. (Anonim, 2010) dalam (Dewi Aulia Fatma, 2017).
Menurut Mardiasmo (2018), “Laporan keuangan pemerintah daerah disusun menggunakan basis akrual, meskipun pada beberapa komponennya, seperti laporan realisasi anggaran dan laporan arus kas tetap menggunakan basis kas. Informasi akuntansi yang tersaji dalam laporan keuangan pemerintah daerah akan digunakan oleh para pengguna untuk berbagai tujuan lain”.
Laporan keuangan terdiri atas:
1. Laporan ReaIisasi Anggaran (LRA) 2. Laporan Perubahan SaIdo Anggaran
Lebih 3. Neraca
4. Laporan OperasionaI (LO) 5. Laporan Arus Kas (LAK)
6. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) 7. Catatan Atas Laporan Keuangan (CaLK)
Sistem akuntansi keuangan daerah adaIah proses pencatatan, identifikasi, pengukuran, dan peIaporan transaksi keuangan oleh pemerintah setempat yang digunakan oleh mereka yang berkepentingan untuk membuat keputusan yang diperlukan.
Menurut Rasdianto (2013) dalam Fitrah Akbar (2017), “Sistem akuntansi keuangan daerah adalah sistem akuntansi yang meliputi proses pencatatan, penggolongan, penafsiran, peringkasan transaksi atau kejadian keuangan serta pelaporan keuangan dalam rangka
pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)”.
Menurut Albugis (2016), “Dalam struktur pemerintahan daerah, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) merupakan entitas akuntansi yang mempunyai kewajiban melakukan pencatatan atas transaksi-transaksi pendapatan, belanja, aset, dan selain kas yangterjadi di lingkungan satuan kerja”.
Menurut Peraturan Pemerintah No.71 Th. 2010, “Pengelolaan keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penatausahaanpelaporan, pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah. Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan Perundang-Undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertangggungjawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatuhan, dan manfaat untuk masyarakat”.
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, “Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut”.
Dari pengertian diatas, poin utama yaitu hak dan kewajiban. “Hak adalah hak setiap daerah untuk mencari sumber pendapatan berupa pajak daerah, restribusi, atau sumber pendapatan lain sesuai dengan ketentuan Perundang-Undangan yang berlaku.
Sedangkan kewajiban adalah kewajiban daerah untuk mengeluarkan uang dalam rangka melaksanakan semua urusan pemerintah di daerah”. (Siregar, 2015)
Pengakuan yaitu penentuan kapan suatu transaksi diakui dan dicatat. Pengakuan tersebut akan berpengaruh pada Iaporan keuangan. Jika sebuah transaksi belum mendapat pengakuan, maka transaksi tersebut tidak dicatat dalam laporan keuangan.
Sebaliknya jika sebuah transaksi telah mendapat pengakuan, maka transaksi tersebut akan muncul dalam laporan keuangan.
STIE YPUP Makassar
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010, “Pengakuan dalam akuntansi adalah proses penetapan terpenuhinya kriteria pencatatan suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi sehingga akan menjadi bagian yang melengkapi unsur aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, biaya, belanja, dan beban sebagaimana akan termuat pada laporan keuangan entitas pelaporan keuangan yang bersangkutan” .
Menurut Halim (2012) dalam Anandita (2015), “Pengakuan adalah himpunan dari standar-standar akuntansi yang menetapkan kapan dampak keuangan dari transaksi- transaksi dan peristiwa lainnya harus diakui untuk tujuan pelaporan keuangan. Basis-basis tersebut berkaitan dengan penepatan waktu (timing) atas pengukuran yang dilakukan, terlepas dari sifat pengukuran tersebut”.
Menurut Mahmudi (2010), dalam menghasilkan laporan keuangan, perlu diketahui bagaimana siklus akuntansinya.
Siklus akuntansi dimulai dengan transaksi- transaksi pada pemerintah daerah yang didukung dengan bukti transaksi yang vaIid dan sah, bukti transaksi selanjutnya akan dibukukan dalam jurnal yang kemudian diposting dalam buku besar. Selain pencatatan yang dilakukan pada buku besar, beberapa transaksi dicatat dalam buku pembantu yang berisi data yang lebih rinci dari buku besar dimana saldo dalam buku besar samadengan saldo dalam buku pembantu. Saldo pada setiap rekening akan diringkas dalam neraca saldo atau neraca percobaan (trial balance). Neraca saldo kemudian dilakukan penyesuaian sebelum dihasilkan laporan keuangan yang akan dipublikasikan. Hasil penyesuaian akan menghasilkan laporan keuangan akhir setelah penyesuaian. Tahap terakhir yaitu membuat jurnal penutup rekening penerimaan, pengeluaran, dan pembiayaan dalam Iaporan reaIisasi anggaran ke rekening Surplus/Defisit.
Jurnal penutup diperlukan untuk pisah batas antara periode akuntansi tahun laporan dengan periode akuntansi tahun berikutnya
Menurut peraturan pemerintah Nomor 71 Tahun 2010, “Laporan keuangan pokok pemerintah daerah adalah:
1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih 3. Neraca
4. Laporan Operasional (LO)
5. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) 6. Laporan Arus Kas (LAK)
7. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)”.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tetang standar akuntansi pemerintahan, “Transparansi adalah memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya peda peraturan Perundang-Undangan”.
Menurut Saputra (2016), “Badan publik wajib menyediakan informasi publik yang akurat, benar, dan tidak menyesatkan dengan memanfaatkan sarana atau media elektronik dan non elektronik mengenai laporan keuangan, laporan keuangan disusun berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas”.
Menurut coryanata (2012),
“Transparansi merupakan salah satu prinsip dariGood Governance. Transparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas, seluruh proses pemerintah, lembaga-lembaga dan informasi perlu diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau”.
Menurut Mardiasmo (2009) dalam Nabila Ayu Indira (2018), “Transparansi berarti keterbukaan pemerintah dalam memberikan informasi yang terkait dengan aktivitas pengelolaan sumber daya publik kepada pihak-pihak yang membutuhkan”.
Menurut Tahir (2011), “Transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan dapat memberikan makna yang sangat berarti disamping sebagai salah satu wujud pertanggungjawaban pemerintah kepada rakyat, transparansi juga menciptakan penyelenggaraan pemerintah yang baik dan uga mengurangi kesempatan praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme
Menurut Modul Khusus Komunitas (2019), “Tujuan transparansi terhadap pengeloaan keuangan yang dapat dirasakan oleh stakeholders dan lembaga adalah: 1) Mencegah seawal mungkin terjadinya penyimpangan-penyimpangan melalui tumbuhnya kesadaran masyarakat melalui
kontrol sosial. 2)
Menghindarkan kesalahan komunikasi ataupun salah persepsi. 3) Mendorong proses masyarakat belajar dan melembagakan sikap bertanggung jawab serta bertanggung gugat terhadap pilihan keputusan dan kegiatan yang dilaksanakan.
4) Membangun kepercayaan semua pihak terhadap pelaksanaan kegiatan secara keseluruhan.
Menurut Peraturan Pemerintah nomor 71 Tahun 2010, “Akuntabilitas adalah mempertanggungjawabkan pengeloaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik”.
Menurut Ulum (2010) dalam Merialsa (2017), “Tiga komponen yang menjadi indikator dari akuntabilitas keuangan, yaitu: 1)
Integritas keuangan yaitu menyediakan laporan keuangan yang menampilkan kondisi yang sebenarnya tanpa ada informasi yang disembunyikan untuk digunakan sebagai ukuran sejauh mana laporan keuangan yang disajikan menunjukan informasi yang jujur dan benar agar tidak membuat pengguna salah arah. Oleh karena itu informasi yang digunakan harus menggunakan istilah yang dapat dimengerti dan juga andal, dan laporan keuangan disajikan secara terbuka dan digambarkan secara jujur.
2)Pengungkapan diwajibkan agar laporan keuangan yang disusun dan disajikan menjadi gambaran keadaan kejadian ekonomi yang terjadi dipemerintahan.
Pengungkapan merupakan bagian dari prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan.
3)
Ketaatan terhadap peraturan Perundang- Undangan”.
Menurut Kusumastuti (2014),
“Akuntabilitas sektor publik adalah bentuk kewajiban penyelenggaraan kegiatan publik untuk dapat menjelaskan dan menjawab segala hal menyangkut langkah dari seluruh keputusan dan proses yang dilakukan, serta pertanggungjawaban terhadap hasil kinerjanya”.
Menurut Tanjung (2014), “Akuntabilitas yaitu mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kegiatan suatu entitas pelaporan yang dipercayakan kepada
entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik”.
Pertanggungjawaban aparatur pemerintah terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi yang diberikan. Pertanggungjawaban kebijaksanaan, program, dan kegiatan yang dilakukan yang terkait dengan kelebagaann (organisasi), ketataIaksanaan, dan sumber daya manusia.
Menurut Kadmasasmita (2019),
“Konsep akuntabilitas mengisyaratkan adanya perhitungan cost and benefits analisys (tidak tebatas dari segi ekonomi, tetapi juga sosial, dan sebagainya tergantung bidang kebijaksanaan atau kegiatannya) dalam berbagai kebijaksanaan dan tindakan aparatur pemerintah. Selain itu, akuntabilitas juga berkaitan erat dengan pertanggungjawaban terhadap efektivitas kegiatan dalam pencapaian sasaran atau target kebijaksanaan atau program. Dengan demikian, tidak ada satu kebijaksanaan, program, dan keguatan yang dilaksanakan oleh aparatur pemerintahan yang dapat lepas dari prinsip ini”.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yakni anaIisis data berbentuk uraian kalimat atau laporan yang dikumpulkan kemudian di analisis. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menggambarkan mengenai Sistem Akuntansi Keuangan Daerah di Badan PengeloIaan Keuangan Daerah (BPKD) Provinsi SuIawesi Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada Badan PengeloIaan Keuangan Daerah (BPKD) Provinsi SuIawesi Selatan.
Adapun data yang akan diolah berupa hasiI wawancara Iangsung dengan beberapa peIaksana di kantor Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) kantor Gubernur Provinsi SuIawesi, sejarah singkat, struktur organisasi, dan sistem penerapan Akuntansi Keuangan Daerah pada kantor Provinsi SuIawesi SeIatan. Waktu penelitian selama kurang lebih dua bulan.
Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah Teknik pengumpulan data melalui teknik dokumentasi dengan mengambil laporan keuangan dan teknik wawancara, yakni melakukan sesi tanya-jawab dengan staf yang berkaitan.
Adapun teknik analisis data yang deskriptif kualitatif, yaitu teknik analisis yang
STIE YPUP Makassar
dilakukan dengan mengikuti analisis teori Miles dan Huberman, seperti reduksi data, penyajian data dan pengambilan kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penyusunan Laporan Keuangan BPKD PEMPROV SULSEL mulai tahun 2012 telah menggunakan aplikasi Sistem lnformasi Akuntansi Kantor Daerah (SIADINDA) yang merupakan sistm infrmasi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan manajemen keuangan pemerintah daerah di tingkat organisasi pemerintah daerah di provinsi, kabupaten dan kota dengan mengikuti aturan hukum dan peraturan. SIADINDA dirancang untuk menerapkan standar akuntansi pemerintah sesuai dengan “Permendagri No.
64 tahun 2013” terkait dengan penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual kepada Pemerintah Daerah yang berspesialisasi daIam identifikasi, pencatatan, pengukuran, klasifikasi, ringkasan transaksi dan peristiwa keuangan, pelaporan dan interpretasi hasil laporan keuangan.
Komponen laporan keuangan baik dari Neraca, Laporan OperasionaI, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan ReaIisasi Anggaran dan Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih disusun menjadi satu dalam aplikasi SIADINDA.
Berdasarkan laporan keuangan BPKD PEMPROV SULSEL tahun 2018, apabila dibandingkan dengan pelaporan keuangan menurut Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) terdapat sudah menyesuaikan dengan undang- undang yang terkait.
PEMPROV SULSEL sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di wilayah Pemprov Sul-Sel adalah suatu lembaga akuntansi yang diwajibkan untuk mengorganisasi laporan akuntansi dan menyusun Iaporan keuangan untuk ditambahkan ke badan peIaporan. Penyusunan Laporan Keuangan PEMPROV SULSEL berdasarkan ”PP Nomor 71 Tahun 2010 mengenai Standar Akuntansi Pemerintah (SAP)”.
Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) mengakui pendapatan, beban, aset, utang dan pembiayaan daIam peIaporan peIaksanaan anggaran berdasarkan basis yang ditetapkan APBN/APBD (PP 71/2010, Pasal 1 angka 8).
Transparansi adalah tentang menyediakan bagi publik informasi keuangan
yang terbuka dan jujur atas dasar bahwa masyarakat memiIiki hak untuk mengetahui secara terbuka dan sepenuhnya tentang akuntabilitas pemerintah daIam mengelola dan mematuhi undang-undang. Di bawah
“Peraturan Pemerintah No 58 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, ia menyatakan bahwa keuangan wilayah tersebut harus ditangani dengan tertib, sesuai dengan peraturan, aman, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggung jawab untuk memperhatikan prinsip-prinsip keadilan, penegakan dan keuntungan sosial”.
Indikator transparansi adalah prinsip yang memastikan bahwa setiap orang memiliki akses atau kebebasan untuk memperoleh informasi tentang pengaturan pemerintah, yaitu, informasi tentang kebijakan, manufaktur, implementasi, dan hasil.
Definisi transparansi didapatkan dalam
“Peraturan Pemerintah yang mengatur Standar Akuntansi Pemerintahan yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 (PP24/2004) yang telah diganti melalui PP71/2010”. Kedua peraturan ini juga memerlukan batasan transparansi untuk informasi keuangan yang terbuka dan jujur bagi masyarakat berdasarkan asumsi bahwa masyarakat memiIiki hak untuk mengetahui secara terbuka dan sepenuhnya mengenai akuntabilitas pemerintah daIam pengeloIaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan kepatuhannya terhadap peraturan konstitusional.
Berdasarkan hasil analisis dari metode wawancara yang sudah peneliti lakukan pada BPKD Prov. Sulsel bahwasanya:
Dari segi komunikasi publik pemerintah sudah transparan karena pihak BPKD sudah memberikan pelayanan komunikasi yang baik bagi stakeholders, dalam hal ini masyarakat.
Hak masyarakat terhadap akses informasi telah dilakukan secara transparansi, hal tersebut dibuktikan dengan data yang diberikan oleh staff BPKD terkait sistem akuntansi pengelolaan keuangan seperti jurnal setiap pencatatan akuntansi, dan lain-lain..
Penyediaan informasi yang jelas tentang tanggungjawab sudah transparan, karena BPKD menggunakan aplikasi yang mudah diakses oleh staff maupun publik. Kemudahan diakses melalui website belum sepenuhnya transparan karena sulitnya melihat laporan keuangan mellaui websit resmi.
Laporan keuangan dan pencatatan yang dibuat oleh BPKD PEMPROV SULSEL merupakan salah satu cara untuk memperkuat opini dalam pengelolaan keuangan desa sehingga dapat menghapus kecurigaan- kecurigaan yang berakibat pada turunnya kredibilitas masyarakat. Sesuai dengan Permendagri No. 64 Tahun 2013, PEMPROV SULSEL juga telah melakukan pengelolaan keuangan daerah secara akuntabilitas dan transparan, hal tersebut dapat terlihat dari adanya Laporan Keuangan.
Pertanggungjawaban BPKD Sulsel yaitu Laporan Keuangan dilakukan secara periodik persemester dan setiap tahun dengan menggunakan aplikasi SIADINDA yang khusus memberikan kemudahan dalam membuat laporan keuangan sebagai bentuk akuntabilitas.
Untuk menindaklanjuti “UU No. 14 Tahun 2008 dan Inpres No.17/2011, Kementerian dalam Negeri telah mengeluarkan Instruksi Mendagri No.
188.52/1797/SC/2012 tentang Transparansi Pengelolaan Anggaran Daerah (TPAD)”.
Pemerintah provinsi dan kabupaten / kota diberi mandat oleh Menteri Dalam Negeri untuk menyiapkan konten yang disebut Transparansi dalam Pengelolaan Anggaran Daerah di situs web resmi pemerintah dan menerbitkan data menu konten terbaru.
Proses akuntansi keuangan daerah umumnya terdiri dari tahap pencatatan, penggoIongan dan tahap peIaporan. Di setiap SKPD khususnya BPKD Pemprov SULSEL teIah menggunakan pencatatan terkomputerisasi yang dibantu oleh software yang disebut SIADINDA dimana sistem pencatatannya masih berbasis CTA Permendagri No. 64 Tahun 2013. Begitu puIa dengan Iaporan keuangan yang dihasiIkan mengikuti UU No. 71 tahun 2010 yakni Laporan reaIisasi anggaran (LRA), Laporan perubahan saIdo anggaran Iebih, Neraca, Laporan operasionaI (LO), Laporan arus kas (LAK); Leporan perubahan ekuitas (LPE) dan Catatan atas Iaporan keuangan (CaLK)
PENUTUP
Berdasarkan hasil analisis analisis dan pembahasan diatas terkait sistem akuntansi keuangan daerah yang transparan dan akuntabeI telah dipaparkan sebelumnya dapat diperoleh kesimpulan bahwa BPKD SULSEL
telah melaksanakan prinsip transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah sesuai dengan
“UU No. 71 tahun 2010 dan Permendagri 64 tahun 2013”
Berdasarkan hasiI anaIisis peneIitian, maka peneIiti memberi saran sebagai berikut:
1) Tetap mempertahankan prinsip-prinsip good government governance yaitu transparansi dan akuntabilitas, partisipatif, responsif dalam melakukan pengelolaan keuangan daerah sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada stakeholdersatas dana yang dipercayakan kepada BPKD Sulsel sebagai SPKD Pemprov. 2) Sebagai lembaga pemerintah yang bertugas memberikan pelyanan dan pengelolaan keuangan, maka sudah seharusnya layanan media informasi (website) dibuat lebih praktis agar semua pengguna dapat setiap saat mengawasi dan mengontrol pengelolaan keuangan daerah.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, F. (2017). Pengaruh Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Dan Sistem Pengendalian Interen Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintahan Kota Bandung. Skripsi.
Bandung: Universitas Pasundan.
Anandita, D. T. (2015). Pengaruh Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (Sakd) Terhadap AkuntabiIitas Laporan Keuangan. Skripsi. Bandung:
Universitas Widyatama.
Astuti, Y. L (2017) Evaluasi Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Pada Pemerintah Kabupaten Kranganyar. Skripsi.
Surakrta: Institut Agama Islam Negeri Surakarta.
Darise, D. N. (2009). Pengelolaan Keuangan Daerah. Edisi ke-2. Jakarta: Indeks.
Elsye, D. R,. Suwanda, D & Muchidin, U.
(2016). Dasar-Dasar Akuntansi
STIE YPUP Makassar
Akrual Pemerintah Daerah. Cetakan Pertama. Bogor: Ghalia Indonesia.
Fatma, D. A. (2017). Laporan Keuangan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah (Studi Kasus pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Serdang Bedagai). Skripsi. Medan: Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
Fitrawansyah (2015). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi KuaIitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Skripsi.
Makassar: Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Halim, A. (2010). Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta: Salemba Empat.
Hasti, A. (2015). Analisis laporan keuangan dalam mengukur tingkat profitabilitas pada PT. PLN (persero) area Makassar. Jurnal AKMEN,Vol. 12(3).
Makassar: STIE YPUP. Diakses pada tanggal 16 Oktober 2019 melalui website https://e-jurnal.stienobel- indonesia.ac.id/index.php/akmen/articl e/view/456/453iew/37
Mardiasmo. (2018). Otonomi & Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta: Andi Ratmono, D. & Sholihin, D. (2011). Akuntansi
Keuangan Daerah Berbasis AkruaI.
Yogyakarta : UPP STIM YKPN.
Sujarweni, V. W. (2015). Akuntansi Sektor Publik. Pustaka Baru Press:
Yogyakarta.
STIE YPUP. (2019). Pedoman Penulisan Proposal Skripsi. Makassar: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Pendidikan Ujung Pandang
Tanjung, A. H (2014). Akuntansi, Tranparansi dan Akuntabilitas Keuangan Publik.
Yogyakarta: BPFE UGM.
Zulfikar, M. F (2017). Pengaruh Transparansi Dan Akuntabilitas Terhadap Kualitas Laporan Keuangan. Skripsi. Subang:
Universitas Widyatama.