ANALISIS TUNJANGAN TAMBAHAN PENGHASILAN PEGAWAI (TPP) TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA KANTOR DINAS KEPENDUDUKAN
DAN PENCATATAN SIPIL PROVINSI SULAWESI SELATAN .
Ribkayanti1, Manda HM2, M. Ihsan Malik3
1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar
1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]
ABSTRACT
The research aimed to determine the effect of additional employee income allowances on employee performance at the Office of Population and Civil Registration of South Sulawesi Province. The research methods used quantitative and qualitative, data collection used observation, interviews and questionnaires. The data analysis used Simple Linear Regression. The results showed a positive and significant relationship and influence between Additional Employee Income Allowances (TPP) on Employee Performance at the Office of Population and Civil Registration of South Sulawesi Province of 0.096 or 96%. This shows that there is a positive relationship with the dependent variable, the influence of the independent variable on the dependent variable is 96%, which means that additional employee income allowance (TPP) influenced on employee performance and the remaining was 4%. Based on instrument testing, namely the validity test and reliability test of the Employee Additional Income Allowance (TPP) variable simultaneously affect employee performance. This study provides recommendations to the Office of Population and Civil Registration of South Sulawesi Province to continue to strive to improve employee performance.
Keywords: Additional Employee Income Allowance (TPP), Employee Performance.
PENDAHULUAN
Di era perkembangan global saat ini keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan, tidak dapat lepas dari faktor Sumber daya manusia, mengapa karena sumber daya manusia penentu keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya. Oleh sebab itu diperlukan kinerja sumber daya manusia yang dapat meningkatkan kualitas serta kuantitas organisasi dan menjaga agar keberadaan organisasi tersebut selalui diakui oleh para pegawai. Maka dapat disimpulkan bahwa tanpa sumber daya manusia, suatu organisasi tidak dapat mencapai tujuanya.
Pentingnya sumber daya manusia ini perlu didasari oleh semua tingkatan manajemen perusahaan. Berkembangnya perusahaan tentu diiringi dengan berkembangnya sumber daya manusia tersebut. Setiap sumber daya manusia bisa berkembang apabila perusahaan bisa memanajemen sumber daya tersebut dengan baik. Salah satunya ialah dengan memberikan balas jasa yang seimbang dengan kinerja
sumber daya manusia tersebut. Balas jasa yang diberikan untuk meningkatkan kinerja para tenaga kerja atau para karyawan dapat berupa tunjangan.
Dalam dunia manajemen mengenal konsep 3P yang cukup sering digunakan dalam memberikan tunjangan kepada pegawai.
konsep 3P yang disusun oleh Richard payne, mengkategorikan tunjangan menjadi 3 yaitu : pay for position, pay for person, dan pay for performance, dimana konsep pay for formance dianggap sebagai konsep remunerasi berbasis kinerja akan dapat mendorong pegawai untuk meningkatkan produktivitasnya. Pemberian remunerasi berbasis kinerja termasuk salah satu faktor untuk mewujudkan manajemen yang efektif disuatu organisasi.
Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur utama Sumber Daya Manusia mempunyai peranan dalam menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan yang sangat strategis dalam mengemban tugas Pemerintah. Setiap pegawai dalam suatu instansi mempunyai kepentingan
dan tujuan sendiri ketika pegawai tersebut bergabung pada instansi tersebut, dan tidak dapat disangkal bahwa tujuan dari kebanyakan orang khususnya pegawai pada suatu instansi adalah untuk mencari nafkah dan mendapatkan uang. Berarti apabila seorang pegawai sudah melakukan kinerja yang baik maka pegawai tersebut akan mengharapkan imbalan baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk lainnya, idealnya setiap instansi harus dapat menyeimbangkan pencapaian tujuan para pegawainya.
Tambahan penghasilan pegawai (TPP) adalah tambahan yang diberikan kepada PNS dan CPNS yang dikaitkan dengan penilaian kehadiran dan kinerja. Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 59 tahun 2007 tentang pengelolaan keuangan khususnya yang tercantum pada pasal 39, yang menyebutkan bahwa pemerintah daerahh dapat memberikan tambahan penghasilan kepada PNS berdasarkan pertimbangan yang objektif dengan memperhatikan kemampuan keuangan daearah dan memperoleh persetujuan dari DPRD.
Pada instansi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Sulawesi Selatan tunjangan diberikan untuk meningkatkan kinerja pegawai lembaga yang berupa pemberian pelayanan yang memadai bagi masyarakat luas. Kinerja dikatakan baik apabila instansi tersebut dapat memberikan pelayanan yang memuaskan, sebaliknya kinerja dikatakan buruk apabila instansi tidak mampu memberikan pelayanan yang memadai bagi masyarakat.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui: Apakah Tunjangan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) berpengaruh terhadap kinerja pegawai pada kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Sulawesi Selatan?
Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui pengaruh Tunjangan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Sulawesi Selatan.
TINJAUAN LITERATUR
Menurut Abdurahman Fathoni dalam Satrio Tristiadi (2017) Tunjangan merupakan bagian dari kompensasi. Tunjangan dipandang sebagai sebuah sistem imbalan. Sistem
imbalan terdiri atas dua komponen yaitu kompensasi yang langsung berkaitan dengan prestasi kerja. Edi Sutrisno dalam Satrio Tristiadi (2017) menjelaskan bahwa tunjangan adalah kompensasi yang diberikan perusahaan kepada para karyawan, karena karyawan tersebut telah berpartisipasi dengan baik dalam mencapai tujuan organisasi.
Pemberian tunjangan atau kompensasi menurut Hasibuan dalam Satrio Tristiadi (2017) adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung ataupun tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan oleh perusahaan/instansi.
Kinerja pegawai dari suatu lembaga sangatlah bergantung pada kinerja pegawai- pegawai didalamnya. Seluruh pekerjaan dalam setiap lembaga pemerintahan, para pegawainyalah yang dapat menentukan keberhasilannya. Upaya untuk meningkatkan kinerja suatu lembaga harus dimulai dari perbaikan kinerja pegawainya. Satu diantara cara untuk memperbaiki kinerja pegawai adalah dengan pemberian penghargaan atau dalam hal ini berupa tunjangan. Secara teoritis tunjangan kinerja merupakan salah satu komponen dari kesejahteraan yang diterima oleh pegawai, tunjangan kinerja bisa dijadikan sebagai unsur motivasi bagi pegawai untuk berprestasi. Karena itu setiap organisasi berusaha untuk merancang sistem pemberian kinerja yang tepat agar motivasi dan kinerja pegawai dapat meningkat. Kinerja merupakan singkatan dari kinetika energi kerja yang padanannya dalam bahasa inggris adalah performance. Kinerja adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator- indikator suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu tertentu. Pekerjaan adalah suatu aktivitas menyelesaikan sesuatu yang hanya memerlukan tenaga dan keterampilan tertentu seperti yang dilakukan oleh seorang pegawai.
Konsep kinerja pada dasarnya dapat dilihat dari dua segi, yaitu kinerja pegawai (perindividu) dan kinerja organisasi. Kinerja organisasi adalah hasil kerja perseorangan dalam suatu organisasi, sedangkan kinerja organisasi adalah totalitas hasil kerja yang dicapai suatu organisasi. Kinerja pegawai dan kinerja organisasi memiliki keterkaitan yang sangat erat. Tercapainya tujuan organisasi yang digerakkan atau dijalankan pegawai yang berperan aktif sebagai pelaku dalam upaya mencapai tujuan organisasi (Ulfha, 2018).
Peraturan menteri dalam Negeri Nomor 59 tahun 2007 tentang pengelolaan keuangan daerah khususnya yang tercantum pada pasal 39, yang menyebutkan bahwa pemerintah daerah dapat memberikan tambahan penghasilan kepada pegawai PNS berdasarkan pertimbangan yang objektif dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan memperoleh persetujuan dari DPRD.
Tambahan penghasilan dimaksud dalam rangka peningkatan kesejahteraan PNS berdasarkan beban kerja, tempat bertugas, kondisi kerja, kelangkaan profesi atau prestasi kerja. Selain itu, berdasarkan peraturan pemerintah No.58 Tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan daerah pasal 63 ayat (2) dan peraturan menteri dalam negeri no. 13 tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah yang telah diubah dengan peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 tahun 2007 dan permedagri No. 21 tahun 2011 tentang perubahan ke 2 permendagri No. 13 tahun 2006, menyatakan bahwa PNS dapat diberikan tambahan penghasilan sesuai kemampuan keuangan daerah.
Menurut Donni Juni Priansa (2017) bahwa kinerja adalah sejauh mana seseorang telah melaksanakan strategi perusahaan, baik dalam mencapai sasaran khusus yang berkaitan dengan peran perseorangan dan/
atau dengan memperlihatkan yang dinyatakan relevan bagi perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut, kinerja merupakan perwujudan atas pekerjaan yang telah dihasilkan atau diemban pegawai.
Tambahan penghasilan pegawai (TPP) merupakan salah satu unsur klassifikasi ekonomi untuk belanja yaitu termasuk ke dalam belanja pegawai. Penerapan pemberian tambahan penghasilan Pegawai Negeri Sipil merupakan salah satu elemen penting dalam hubungan kerja dan pencapaian pembangunan.
Dalam hal ini tambahan penghasilan Pegawai Negeri Sipil (TPPNS) yang ditetapkan dalam peraturan pemerintah Nomor 14 Tahun 1980 Tanggal penghasilan bagi pegawai negeri dan pejabat Negara dalam rangka meningkatkan mutu, prestasi kerja serta untuk mencapai daya guna yang sebesar-besarnya, maka dipandang perlu untuk memberikan tambahan penghasilan Pegawai Negeri Sipil. Dalam kamus besar bahasa indonesia pengertian tunjangan disesuaikan dengan topik bahasa indonesia adalah “tambahan pendapatan diluar gaji sebagai sogokan bantuan”.
Menurut Teori para ahli yaitu simamora (1997) dalam buku M. Kadarisman (2016) mengemukakan bahwa tunjangan karyawan (employee benefit) adalah pembayaran- pembayaran (payments) dan jasa-jasa (services) yang melindungi dan melengkapi gaji pokok, dan perusahaan membayar semua atau sebagian dari tunjangan ini. Sedangkan wungu dan brotoharsojo menyatakan Tunjangan atau fringe and benefit adalah komponen imbalan jasa atau penghasilan yang tidak terkait langsung dengan berat ringannya tugas jabatan dan prestasi kerja pegawai atau merupakan indirect compensation.
Terkait dengan tujuan tunjangan, dikemukakan teori konsep maupun defenisi serta pendapat dari para ahli serta analisisnya.
Simamora (1997) mengemukakan sebagai berikut :
a. Meningkatkan moral karyawan b. Memotivasi karyawan
c. Meningkatkan kepuasan kerja d. Mengikat karyawan baru
e. Mengurangi perputaran karyawan
f. Menjaga agar serikat pekerja tidak campur tangan
g. Menggunakan kompensasi/tunjangan secara lebih baik
h. Meningkatkan keamanan karyawan.
Pemberian tunjangan kinerja bagi pegawai negeri sipil merupakan amanat yang disampaikan melalui peraturan Presiden yakni pada pasal 2 peraturan Presiden Nomor 139 tahun 2015 yang kemudian diubah menjadi peraturan Presiden No 85 Tahun 2016, menyebutkan bahwa pegawai yang mempunyai jabatan tertentu di lingkungan kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, selain diberikan penghasilan sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan. Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukankan, maka hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) berpengaruh terhadap Kinerja Kegawai pada kantor Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Provinsi Sulawesi Selatan.
Pada instansi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Sulawesi Selatan tunjangan diberikan untuk meningkatkan kinerja pegawai lembaga yang berupa pemberian pelayanan yang memadai bagi masyarakat luas. Kinerja dikatakan baik
apabila instansi tersebut dapat memberikan pelayanan yang memuaskan, sebaliknya kinerja dikatakan buruk apabila instansi tidak mampu memberikan pelayanan yang memadai bagi masyarakat. Dari uraian diatas akhirnya penulis tertarik melakukan penelitian pada kantor Dinas Kependudukan dan PencatatanSipil Provinsi Sulawesi Selatan dengan Judul Pengaruh Tunjangan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Provinsi Sulawesi Selatan.
Gambar 1.Model penelitian
Sumber: Ribkayanti (2020).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu data yang berupa keterangan, penjelasan dari hasil interview, wawancara, kuesioner atau observasi dilapangan yang tidak berupa angka-angka dan diolah untuk mendukung penjelasan dalam analis, jenis data ini diperoleh dari sumber primer. Dan kuantitatif yaitu data yang berupa angka-angka yang diperoleh dari sumber data sekunder, baik berupa dokumen, laporan- laporan ilmiah atau terbitan berkala yang relephan dengan permasalahan yang dibahas.
Dengan metode ini diharapkan dapat mempermudah penelitian dalam mengukur dan mengelolah data mengenai Pengaruh Tujangan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) Terhadap Kinerja Pegawai.
Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Provinsi Sulawesi Selatan.yang berlokasi di
jalan Jendral Urip Sumoharjo Nomor 269 Makassar 90231, selama 2 Bulan.
Penelitian ini menggunakan jenis data kuantitatif dan jenis data kualitatif dan data penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) observasi Adalah penelitian secara langsung pada objek penelitian, dimana data yang diperoleh berdasarkan hasil servei dilapangan untuk memperoleh data yang lebih akurat.
Dalam hal ini peneliti melakukan penjelajahan secara menyeluruh. 2) Wawancara, Adalah bentuk penelitian yang dilakukan dengan mengadakan wawancara atau tanya jawab secara langsung dengan pimpinan instansi dan sejumlah pegawai yang ada hubungannya dengan pembahasan ini. 3) Kuesioner, Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Didalam penelitian ini penulis mengumpulkan data dengan membagikan kuesioner/angket tertutup dimana responden hanya memilih jawaban yang telah disediakan dengan menggunakan skor 1 (sangat tidak setuju) sampai dengan 5 (sangat setuju). Selanjutnya hasil yang diperoleh untuk masing-masing variabel akan dihitung dengan skala likert.
Menurut Istijanto dalam meriana madjid (2016) Populasi merupakan jumlah keseluruhan yang diteliti. Sehingga populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Pegawai Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Sulawesi Selatan yang berjumlah sebanyak 51 orang.
Sampel adalah bagian dari populasi (sebagian atau populasi yang diteliti). Adapun sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling jenuh yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Satrio Tristiady (2016) sehingga dari jumlah populasi dan sampel/responden sebanyak 51 orang.
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu: 1) Variabel independen (variabel bebas) adalah variabel yang mempengaruhi atau sebab timbulnya variabel terikat (Dependen). Variabel independen dalam penelitian ini adalah (X) Tunjangan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) Variabel dependen (variabel terikat) yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi
Tambahan penghasilan pegawai
Berdasarkan kinerja Berdasarkan lama bekerja
Berdasarkan pengalaman kerja.
Berdasarkan golongan jabatan
Berdasarkan potensi yang dimiliki
Berdasarkan kebutuhan yang harus dipenuhi
kinerj a
sebab akibat adanya variabel bebas. Variabel dependen dalam penelitian ini (Y) Kinerja Pegawai.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Teknik Analisis Deskriptif. Teknik analisis deskriptif adalah metode yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran tentang data yang telah terkumpul tanpa melakukan generalisasi.
Analisis Regresi linear sederhana dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten, jika dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala dengan gejala yang sama. Regresi Linear Sederhana adalah hubungan secara linear dengan variabel dependen (Y) antara variabel independen (X). Menganalisis dengan menggunakan program SPSS.
Persamaan Linear dirumus Sederhana sebagai berikut:
Y = a + bX Keterangan:
Y= Variabel dependen (kinerja Pegawai) X = Variabel bebas (TPP)
a = Konstanta b = Koefisien regresi
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil antara lain: 1) Uji Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan bahwa variabel yang diikut memang benar benar variabel data yang hendak di teliti oleh peneliti . untuk mengetahui apakah korelasi dalam penelitian ini valid atau tidak, maka hasil uji R hitung dibandingkan dengan R tabel
dengan taraf signifikansi 0,05. Bila R hitung >
R tabel berarti item pertanyaan dapat dikatakan valid/signifikan.
Namun, bila R hitung < R tabel berarti korelasi tidak valid, ini berarti pertanyaan tersebut harus dikelurkan dari data semula dan selanjutnya perlu dihitung kembali uji korelasinya untuk mengetahui validitasnya. 2) Uji realibilitas digunakan untuk mengetahui apkah variabel yang merupakan gabungan dari peryataan dinyatakan reliabel atau tidak.
tingkat kehandalan kuesioner apabila digunakan kembali sebagai alat ukur variabel.
Pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai cronbach’s Alpha variabel standar 0,6, jika nilai alpha melebihi 0,6 kuesioner dinyatakan reliabel.
Tabel 1. Uji Regresi Linier Sederhana
coefficients
Standardiz ed
Model
Unstandardized Coefficients
Coefficient s
t Sig.
B Std.
Error Beta
1 (Constant)32,584 4,565 7,138,000
TPP ,261 ,114 ,310 2,284,027
Sumber: data primer diolah SPSS (2020).
Berdasarkan hasil olah data primer menggunakan SPSS pada tabel 1 diatas, maka persamaan regesi linear sederhana adalah sebagai berikut:
Y= = 32,584 + 0,261 Persamaan regresi diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Konstanta (a) = 32,584 menyatakan bahwa jika TPP yang diberikan kepada pegawai semakin meningkat, maka kinerja pegawai baik serta meningkat yaitu sebesar = 32,584. Dan dapat dikatakan bahwa kinerja pegawai sangat berpengaruh pada TPP (Tambahan Penghasilan Pegawai) sebaliknya jika TPP yang diberikan kepada pegawai masih kurang maka kinerja pegawaipun akan menurun.
Koefisien regresi (b) = 0,261 menunjukkan bahwa setiap adanya peningkatan TPP kepada pegawai sebesar 1 maka hal itu akan meningkatkan kinerja pegawai sebesar 261%.
Tabel 2. Analisa Koefisien kolerasi
Model summary
Model R R Square
Adjuste
d R
Square Std.
Error of the Estimate 1 ,310a ,096 ,078 4,268
Sumber: data primer diolah SPSS (2020).
Berdasarkan hasil hasil pengelolahan data yang ditunjukkan pada tabel 2 antara variabel X (TPP) dan variabel Y (kinerja pegawai) menunjukkan bahwa besarnya nilai R = 0,310. Artinya kolerasi atau hubungan variabel TPP terhadap variabel kinerja pegawai mempunyai hubungan yang erat dan positif sebab nilai koefisien kolerasi mendekati +1. Sedangkan pengaruh yang diberikan variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y) yang ditunjukkan oleh R square pada tabel 2 sebesar 0,096 artinya 96% kinerja
pegawai dipengaruhi oleh TPP dan sisanya sebesar 4% dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak diteliti.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan rumusan masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian ini , maka penulis dapat simpulkan sebagai berikut:
Pemberian TPP berupa gaji, bonus maupun tunjangan kesehatan lainnya kepada para pegawai memiliki dampak atau pengaruh terhadap kinerja pegawai pada kantor Dinas Kependudukan Pencatatan Sipil Provinsi Sulawesi Selatan dan Variabel TPP memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap variabel kenerja pegawai. Hal ini didasarkan analisa koefisien kolerasi dimana rhitung > rtabel
yaitu 0,096 > 0,060.
DAFTAR PUSTAKA
Arof. (2018). Kinerja dan Pengembangan Kompetensi SDM. Cetakan ke-4.
Pustaka Belajar. Yogyakarta.
Badriah,M. (2015). Manajemen sumber daya
manusia. Cetakan 1. Pustaka Setia. Bandung.
.Edison dan anwar. (2018), manajemen sumber daya manusia. Cetakan ke tiga.
Alvabeta cv. Bandung .
Gunawan F. (2017). Pengaruh insentif terhadap kinerja karyawan dengan keadilan sebagai variabel moderasi pada PT Lautan Teduh Interniaga.
Peneliti terdahulu. Bandar lampung Kadarisman. (2016). Manajemen kompensasi
cetakan ke tiga. PT rajagrafindo persada.
Mangkunegara, A. P. (2017). Manajemen sumber daya manusia perusahaan.
Cetakan ke 14. PT Remaja Rosdokarya. Bandung
Meriana,M. (2016). Analisis pengaruh tambahan penghasilan pegawai (TPP) dan kemampuan kerja terhadap kinerja pegawai pada badan perencanaa, penelitian dan pembangunan daerah (Bapeda).
Universitas Taduloka. Diakses pada tanggal 31/8/2020 melalui website.
Mukarom,Z. Dan Laksono, M.W. (2015).
Manajemen Pelayanan Publik.
Cetakan
Pertama. CV Pustaka Belajar. Jawa Barat
Priansa.D. J. (2017). Manajemen kinerja kepegawaian. Cetakan pertama. Cv Pustaka Setia. Bandung.
Piani, H, R. (2015). Pengaruh tambahan penghasilan pegawai Negeri Sipil (TP PNS) terhadap kinerja pegawai eleson III dan IV di Dinas kesehatan Kota Serang. Universitas Ageng Tirtayasa Serang. Diakses Pada tanggal 31/8/2020 melalui website
Satriani. (2018). Analisis produktivitas terhadap kinerja pegawai pada Tristiady,s. 2017. Pengaruh tambahan penghasilan pegawai (TPP) terhadap kinerja pegawai pada bagian pembangunan sekretariat. Daerah Kabupaten Berau. Universitas negeri bandung. Diakses pada tanggal 31/8/2020 melalui website.
Suryadana, L. ( 2015). Pengelola SDM berbasis kinerja. Cetakan ke 2.
Alvabeta CV. Bandung.
Suwatno dan Yuniarsih T. (2016). Manajemen sumber daya manusia. Cetakan ke lima. Alvabeta cv. Bandung
Suhendi, H. Dan Anggara,S. (2018). Perilaku Organisasi. Cetakan ke-3. CV Pustaka Setia. Bandung.
Hardiyansyah. (2018). Kualitas pelayanan publik. Cetakan ke-1. Gova media.
Yogyakarta.
Feriyanto. (2015). Pengantar manajemen (3 in 1) untuk mahasiswa dan umum.
Meditera